Bali 12 Jam
Juni 11, 2013 § 3 Komentar
Seumur-umur, saya belum pernah ke Bali. Iya, beneran belom pernah ke pulau dewata itu. Hal terdekat antara saya dan Bali kayanya cuman pia legong yang sering dibawakan teman yang ke Bali, serta udeng — ikat kepala khas Bali yang juga merupakan oleh-oleh.
Rencana demi rencana dibuat agar bisa segera ke Bali. Tapi ya mungkin emang belom rezekinya, jadi tinggal rencana aja. Sampai, suatu ketika ada sebuah perjalanan ke negerinya Russell Crowe mengharuskan saya transit di Bali.
Oh well, cuma transit. Malam pula. Berdasar itinerary perjalanan, transit tak lebih dari 2 jam karena ada flight lanjutan. Sebentar memang, tapi ya disyukuri saja. Yang penting pernah menjejakkan kaki — sama seperti Makassar yang pernah jadi tempat saya menjejakkan kaki beberapa kali untuk transit. Lagipula toh, mau ngapain juga saya bela-belain keluar bandara untuk sekitar 1 jam kurang di malam hari? Gelap.
Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain. Flight lanjutan yang direncanakan berangkat ternyata ditunda 12 jam ke pagi hari esoknya. Alasannya ada pertimbangan teknis berupa cuaca buruk di tujuan sehingga flight ditunda. Oh well, antara bingung sekaligus senang muncul di diri saya. Tapi ya, ambil positifnya saja. Setidaknya berarti di Bali ga bakal cuman menjejakkan kaki di bandara, melainkan juga (mungkin sempat) ke dalam kota.
Setelah dapet pengumuman bahwa penerbangan ditunda 12 jam, langsung aja diarahkan sama petugas-petugas terkait keluar bandara dan menunggu transportasi menuju hotel. Iya, flight-nya ngasih “compliment” berupa penginapan semalam di Bali, yang ternyata penginapannya adalah Inna Grand Bali di Sanur — tentunya setelah transportasi tiba dan mengantar ke sana.
Check in, lalu supper, dan kemudian tidur. Rencana sementara adalah, menyetel alarm agar menyala pada jam 5 pagi WITA sehingga bisa keliling-keliling untuk liat sunrise. Kenapa? Karena saat liat dari balkon kamar, lokasi penginapannya deket dengan pantai.
Tapi ya.. rencana tinggallah rencana. Alarm jelas menyala pada jam 5 pagi WITA, tapi mungkin karena terlalu lelah dan entah gimana, jadinya BARU KEBANGUN SEKITARAN JAM 7 WITA!
Yasudahlah.. bangun pagi langsung bersih-bersih dan menuju resto. Setelah makan — yang ternyata crowded banget seperti pasar pagi *tapi ga sempet poto*, langsung aja check out karena transportasi menuju bandara sudah menunggu. Jam 9an pun sudah tiba kembali di bandara dan siap untuk naik flight lanjutan yang ditunda itu.
Oh well, 12 jam di Bali yang ternyata memang sebentar. Hanya sempat menjejakkan kaki di bandara dan penginapan, serta liat pantai Sanur di balik penginapan dan juga pemandangan sepanjang jalan menuju bandara. Tapi ya.. lebih baik 12 jam daripada tidak sama sekali bukan? Siapa tahu kelak saat rencana dan kesempatan berikutnya menjumpai, bukannya 12 jam melainkan 12 hari. AMIN!
Kamu udah pernah ke Bali, belum?
Nonton di Indonesia, atau (Kelak) di Inggris…
Juni 3, 2013 § 12 Komentar
Liverpool & Arsenal. Dua klub besar dari Liga Primer Inggris itu bakal “mampir” dan bertanding lawan tim sepakbola Indonesia dengan pemain-pemain pilihan. Seperti waktu tim LA Galaxy (dan David Beckham) ke Indonesia dulu. Salah satu momen yang saya ingat adalah saat Andik ditekel oleh Beckham.
Trus, pengen nonton pertandingan Liverpool & Arsenal di Indonesia? Jelas saya pengen. Bukan sebagai fans dari kedua klub itu – meski saya ngefans ke Luis Suarez (Liverpool) dan juga Lukas Podolski (Arsenal), melainkan sebagai fans dari tim sepakbola Indonesia. Juga sebagai fans dari pertandingan sepakbola. Dan tak kalah penting sebagai fans peristiwa sejarah. Iya, ini sejarah bagi Indonesia, dan saya ingin jadi bagian dari sejarah itu – supaya kelak bisa jadi cerita buat anak-cucu. *halah*
Tapi, sampe kepengen banget buat nonton? Engga juga. Buat pertandingan kali ini, saya termasuk yang kalo sempet dan bisa nonton ya jelaslah bersyukur, tapi kalopun ga bisa nonton ya.. gapapa. Masih ada hari esok, di mana mungkin saya bakal dateng langsung ke Inggris buat nonton langsung Liverpool vs Arsenal, entah itu di Anfield atau di Emirates Stadium. AMIN!
#positivity #berpikirpositif
Eiya, yang dimaksud nonton di postingan ini adalah nonton langsung di stadion ya, bukan nonton via televise atau nonton bareng di café atau sejenisnya.
Anyway… kalo ada yang nanya (pedenya sih) saya udah punya tiketnya apa belom? Jawabannya: saya belom punya tiketnya. Entah itu beli sendiri, dibeliin, atau dapet gratisan. Iya, saya belom punya tiketnya. Lebih karena, saya emang masih tentatif juga sih bakal bisa nonton langsung apa engga. Tapi ya.. kalo emang udah punya tiketnya beneran, saya pasti bakal bela-belain/usahain beneran biar bisa nonton langsung ke stadion.
PS: kalo ada yang punya tiket lebihan atau mau bagi-bagi tiket, boleh lho hubungin saya.
Kalo kamu, pengen nonton sepakbola tim mana, di mana?
Ciwidey, tahun lalu
Mei 27, 2013 § 2 Komentar
Eiya, karena ngepost ini minggu lalu, trus keingetan kalo belom sempet cerita soal Ciwidey, kawah putih di Bandung itu.
Iya, tahun lalu sempat ke sana. Sama anak dan istri. Cuman kebetulan yang difoto bareng di sini ya sama istri aja, soalnya anak masih kecil banget waktu itu. Dan, ga dibawa ke dekat kawah — dan nunggu aja di parkiran sama mertua. Soalnya, bau belerangnya amat sangat menyengat.
Beberapa catatan penting kalo mau ke Ciwidey itu sbb:
- Usahakan di musim kering/kemarau. Soalnya supaya bisa masuk ke dalam kawah dan ga usah takut kehujanan. Kalo sampe hujan, tanah/wilayah sekitar kawahnya ga bisa/ga enak buat dikunjungi.
- Perjalanan dari tengah kota Bandung ataupun dari jalan tol sampe ke sini, cukup sulit dan lewat jalan pelosok-pelosok/non jalan besar. Kategori jalannya: jalan provinsi, dipadu jalan kabupaten, dan jalan desa. Jadi ya, siap-siap agak mabok darat kalo ga biasa.
- Siapin hape dengan sinyal kuat dan ada aplikasi google maps buat dukungan petunjuk arah. Soalnya petunjuk jalan dari tengah kota menuju ke sana agak minim. Tapi, akan lebih afdol kalo selalu siaga buat tanya arah sama penduduk/orang di warung/pinggir jalan menuju ke sana. Mereka cenderung tahu arahnya, dan helpful.
- Kalo naik mobil pribadi, ada baiknya ajak orang Bandung atau driver yang tahu daerah Bandung. Jadi, kalo lebih hapal sama kondisi jalanan.
- Bawa jaket tebal — di Ciwidey itu walaupun dia kawah dan sampe sana siang dengan sinar matahari terik, tapi anginnya DINGIN! bukan adem lagi ya, melainkan DINGIN! itu saya di foto kebetulan cuacanya agak hangat aja, tapi anginnya tetep DINGIN dan kencang pula.
- Jangan berlama-lama di dalam kawah — walau sekadar berfoto-foto. Di sekitar kawah itu masih ada beberapa sumber belerang yang aktif. Kalo kelamaan, bisa keracunan yang diawali dengan perasaan pusing dan lemas. Kategori 20 menit sekalipun, hitungannya udah lama lho.
- Ikuti seluruh peraturan keamanan dan petunjuk yang tertera yang disediakan oleh pengelola Ciwidey.
Soal harga tiket sendiri, lupa. Soalnya udah tahun lalu.
Trus, kalo ada kesempatan lagi, ya jelas mau ke sana lagi lah..
Tangkuban Parahu, the experience
Mei 20, 2013 § 16 Komentar
Akhirnya seumur-umur sempet juga dateng ke Tangkuban Parahu di Bandung. Ternyata kalo dari tengah kota, perjalanan darat pake mobil kalo masih pagi banget berangkatnya, ditempuh sekitar 1 jam perjalanan — padahal pas wiken. Entahlah kalo udah siang atau pas wiken siang.
Sampe sana masih sepi, kebanyakan kios-kios juga belom buka, tapi itulah serunya. Jadi bisa lebih menikmati pemandangan di Tangkuban Parahu, salah satu gunung di Jawa Barat yang punya beberapa legenda — salah satunya legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi.
Waktu ke sana kemaren pas lagi 2 minggu di Bandung itu, dan sekalian sama Dean & Danielle. Tiketnya juga hitungannya murah, 10ribu buat mobil, 13ribu buat turis lokal, dan 50ribu buat turis mancanegara. Murah, banget.
Oiya, di sana ada beberapa objek buat dikunjungin mulai dari Kawah Ratu — yang paling besar dan utama, trus ada Kawah Upas — kemaren pas ke sana sayangnya masih tutup karena kepagian, trus ada Mata Air Cikahuripan (CMIIW namanya) dan gua peninggalan (entah jaman kapan) — yang lagi-lagi masih tutup karena kepagian.
Kapan-kapan ke sana lagi ah, sama istri dan juga anak.
Paskal Food Market: Good Food, Good Place, Good Price
Mei 3, 2013 § 3 Komentar
Semua berawal dari permintaan Dean & Danielle – dua orang Australia yang sedang bekerjasama dengan saya di sebuah proyek di Bandung, meminta untuk ditunjukkan sebuah tempat yang banyak memiliki makanan/jajanan. Semacam street food, atau kawasan yang dipenuhi dengan food stall – tukang jualan makanan. Tentunya di Bandung, karena memang sekaligus untuk mencari makan malam setelah bekerja seharian.
Sempet nanya sana-sini via SMS dan juga googling, akhirnya ketemulah tempatnya. Tempat di mana banyak pilihan makanan berkumpul, dengan suasana (ambience) yang oke punya, plus harga yang (masih) masuk akal: Paskal Food Market, yang jadi bagian dari Paskal Hyper Square.
Engga, saya ga dibayar atau diminta secara khusus buat ngepromosiin Paskal. Ini lebih ke saya berbagi pengalaman aja.
Satu kata utama yang bisa mewakili pengalaman saya di Paskal adalah… SUKA! Iya, saya suka suasananya, saya suka banyak opsi dari makanannya, saya suka tempatnya, pokoknya SUKA! Open space, variatif, dan kursinya banyak!
Ada makanan yang dibakar, sop, digoreng, sate, dan masih banyak lagi. Pempek, sate, otak-otak, nasi goreng, sampai dengan bebek dan juga konro! It’s like a heaven of food..
Tapi saya ga sempet foto-foto ya, soalnya saya beneran enjoy banget sama tempat dan makan di sananya. Semua foto yang ada di sini, pinjem sana-sini.
Oiya, Dean & Danielle sendiri berkomentar kalo tempat Paskal Food Market ini oke punya. Menakjubkan soalnya banyak variasi makanan di sana, dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada kali sekitar 5-6 menu yang mereka pesan, dan dimakan bareng-bareng.
Oiya, satu-satunya foto yang saya buat adalah foto kolam buat mengabulkan keinginan di bawah ini:

Paskal
Jadi, katanya kalo kepengen keinginannya dikabulkan, lempar koin ke arah lingkaran yang dipegang patungnya. Soal koinnya, itu sih terserah. Trus, saya baru berhasil masukin koinnya ke lingkaran pas lemparan yang kedua. Hihihi.. seru juga tempatnya ini.
Kalo kamu, udah pernah ke Paskal Food Market belum?
Bukan (Sekadar) Cerita yang Diceritakan
April 29, 2013 § 3 Komentar
Saya suka cerita. Sebut aja: dongeng, fabel, legenda, mitos, sage, dan masih banyak lagi jenisnya. Saya suka. Beneran suka. Minimal, saya suka denger orang nyerita soal itu. Kenapa? Mereka bukan (sekadar) cerita yang diceritakan, karena cerita tersebut memiliki bermacam-macam hal terkait – dalam maksud positif. Salah satunya adalah, cerita-cerita itu membangun daya imajinasi saya. Senang rasanya membayangkan ada sebuah dunia yang dibangun/terbangun di dalam cerita tersebut.
Mungkin, itu sebabnya saya juga suka bercerita. Buktinya? Seperti cerita-cerita pendek saya di sini. Bukti lain juga bisa dilihat dari karya saya selama sempat berkarir sebagai jurnalis/editor. Selain itu, saya juga suka bercerita kepada anak saya. Tentunya, tidak semua hal saya ceritakan – tapi saya menceritakan apa yang saya tahu.
Cerita rakyat seperti Sangkurang (Legenda Tangkuban Parahu), Loro Jonggrang (Prambanan), hingga Pasir Kujang. Itu adalah beberapa cerita yang saya ingat sebagian besar detailnya, sesuai dengan cerita yang pernah saya dapatkan. Selain itu? Ada Jaka Tarub (dan 7 bidadari) – CMIIW, Banyuwangi, Danau Telaga Warna, dan beberapa lainnya.
Dari mana saya dapat cerita-cerita rakyat tersebut? Banyak sumbernya. Selain dari cerita-cerita masa kecil yang disampaikan oleh kedua orangtua dan juga kakek-nenek saya, juga didapatkan dari cerita-cerita di buku pelajaran sekolah, buku cerita rakyat, sandiwara radio – iya, dulu saya dengerin radio, hingga serial televisi tentang cerita rakyat.
Saya pun kini sedang berusaha kembali mengingat-ingat setiap cerita rakyat yang pernah saya dapatkan tersebut. Kalo misalnya samar-samar teringatnya, untung aja ada internet. Jadinya saya bisa googling sana-sini buat cari cerita-cerita tersebut. Kenapa saya berusaha buat mengingat-ingat? Karena saya hendak menceritakannya kembali untuk anak saya.
Iya, selain suka mendapatkan cerita, saya juga suka bercerita.
Nah, salah satu hal yang belum kesampaian perihal cerita ini adalah… punya buku cerita rakyat nusantara yang ada di sini. Kan keren tuh, setiap hari bisa kasih cerita baru yang asalnya dari seluruh Indonesia. Belum lagi kalo ditambah cerita dongeng dari barat seperti Cinderella, Gadis Penjual Korek Api, dan masih banyak lagi.
Kalo misal ada yang mau nyebut saya tukang dongeng? Silakan.. yang pasti, saya suka cerita dan bercerita.
Kalo kamu, paling inget sama cerita dongeng apa?
Sadar (Diri) Menghargai Bumi
April 22, 2013 § 3 Komentar
Hari Bumi – lagi-lagi – diperingati seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni pada 22 April 2013. Kalo dulu pada saat jaman kuliah saya termasuk yang cukup rewel tentang pentingnya peringatan Hari Bumi di kampus saya – terutama karena sering ikut kegiatan terkait, belakangan ini saya ga gitu rewel. Kenapa? Apa ga peduli lagi sama bumi? Bukan.. bukan gitu.. tapi lebih karena saya tahu (diri) gimana seharusnya saya pribadi menghargai bumi.
Ga usah yang ekstrim atau repot-repot bin rewel seperti kurangi penggunaan kertas, hemat air, hemat listrik sambil berkoar-koar. Cukup lakukan oleh diri sendiri, tanpa harus bersuara kalo perlu, dan lakukan secara rutin dan dijadikan sebuah kebiasaan. Iya, kalo dulu saya rewel untuk ngingetin orang lain, belakangan ini saya jadi lebih sering ngingetin diri sendiri dan tetap melakukan untuk diri sendiri. Egois? Engga. Lebih karena saya sadar (diri).
Saya juga masih pake kertas. Saya juga masih pake listrik. Saya juga masih pake air (tanah). Saya juga masih pake angkutan pribadi. Tapi saya juga sadar (diri) untuk mematikan lampu dan alat elektronik yang tersambung ke listrik apabila tidak digunakan. Saya juga sadar (diri) untuk tidak begitu sering membuang sampah sembarangan. Saya juga sadar (diri) untuk sebisa mungkin menutup keran air jika tidak begitu diperlukan. Iya, saya sadar (diri).
Kenapa saya mulai mengurangi berkoar-koar untuk mengingatkan orang lain? Kenapa saya mulai mengurangi rewel terhadap orang lain akan pentingnya menghargai bumi? Karena saya tahu, lebih mudah untuk memberi contoh perilaku yang baik, daripada saya menghabiskan energy lebih banyak untuk terus-menerus memberikan wejangan atau memberitahu orang lain (dengan suara). Lebih mudah mengawali dan melakukan semuanya dari diri sendiri, dengan harapan orang lain akan meniru (yang baik-baiknya) lalu bisa mereka sesuaikan dengan kebiasaan masing-masing.
Selamat Hari Bumi 2013.

