Warna Pilihan
Januari 20th, 2012 § 4 Komentar
Apa warna yang kamu suka? Saya sendiri, sebenernya suka semua warna. Tapi, kalo ditanya apa warna spesifik yang paling disuka, saya pasti jawab warna biru.
Kenapa warna biru? Well, buat saya warna biru itu kalem, tenang, dan bisa dibilang jauh dari riak. Warna biru itu juga bisa punya kesan tenang dan menghanyutkan. Kurang lebih, saya suka dengan ‘identitas’ yang terpancar dari warna biru itu. Karena kurang lebih sudah mewakili saya pribadi. Iya, saya aslinya tenang, pendiam, dan kalem — terlepas dari betapa seringnya saya berkicau di twitter, dan atau social media lainnya. Plus, terlepas juga dari kesenangan saya untuk bercerita.
Oke, mungkin lama-kelamaan jadi semacam kontradiktif dan saya cuma mengucapkan penyangkalan — denial, tapi ya.. intinya, saya suka warna biru. Atau mungkin jangan-jangan, saya suka warna biru karena saya memang “ribut”, jadinya warna biru itulah yang bisa menenangkan saya.
Anyway, meskipun saya suka warna biru, tapi lucunya pakaian saya jarang sekali yang berwarna biru. Atau mungkin bukan jarang, tapi tidak dominan. Alias, hampir seluruh warna ada di koleksi pakaian saya. Sebut saja, mulai dari warna kelam seperti hitam, hingga warna yang kontras seperti putih dan kuning pun ada. Dan lucunya, beberapa baju saya berwarna cerah dan cukup feminin! Tau kan warna apa yang dimaksud? Iya, itu warna pink!
Okay, tak hanya pakaian, tapi juga beberapa gadget saya berwarna pink. Dan, supaya saya ga dibilang hoax, di bawah ini penampakannya seperti pernah ditwit oleh Chika.
Peringatan: Jangan terkejut ya. Oiya, kacamatanya bukan punya saya.
Ketika Bayi di Kandungan Diajak “Mengobrol”
Desember 28th, 2011 § 17 Komentar
Bulan Desember ini, bayi dalam kandungan istri saya sudah masuk lima bulan. Dan, minggu ini kurang lebih usia bayi dalam kandungan tersebut adalah 23-24 minggu. Tepatnya, saya kurang tahu. Tapi kalau menghitung dari terakhir kali menstruasi, ya kurang lebih sebegitu itulah angkanya.
Anyway, yang mau saya tulis di blogpost ini bukan soal usia kandungan tersebut – meski mungkin ada kaitannya. Melainkan, tentang “kebiasaan” baru saya dengan bayi dalam kandungan tersebut. J
Yah, bisa dibilang sejak masuk usia kandungan 18 minggu pada bulan November lalu, istri saya mulai merasakan denyutan-denyutan di perutnya, di sekitar kandungannya. Dan, ketika kontrol kandungan ke dokter, baru diketahui bahwa denyutan-denyutan itu adalah tanda bahwa sang bayi mulai aktif, dengan cara “menendang” perut ibunya (yang tentunya istri saya) dari dalam kandungan.
Tendangan-tendangan bayi dari dalam perut, sudah berkali-kali saya baca dan ketahui dari berbagai tulisan, bacaan, hingga cerita dari teman, keluarga besar, serta orangtua saya sendiri. Tapi, mengalaminya sendiri sebagai seorang Ayah, baru sekarang. Dan, rasanya benar-benar luar biasa, menakjubkan, ajaib, dan terkadang membuat dada saya sesak karena terharu.
Oke, silakan sebut saya lebay, tapi kalo ada yang menjadi Ayah, pasti tahu rasanya. Kalo belum, jangan mudah tertawa, rasakan saja sensasinya sendiri saat nanti. J
Lanjut cerita ke tendangan dari sang bayi, entah kenapa rasa excited itu selalu muncul kalo sang bayi nendang di saat saya lagi megang perutnya. Iya, senang rasanya “ditendang” sama sang bayi saat kebetulan kita memegang perut ibunya, dan atau tahu saat sang bayi nendang. Dan yang lebih seru lagi adalah, ketika sang bayi nendang setelah kita bicara. Entah itu karena dia mengerti dari ucapan kita, atau dia merespon secara acak.
Jadi, kini sebisa mungkin setiap malam sepulang kerja setiba di rumah, setelah cuci tangan-kaki-muka dan mungkin ganti baju, pokoknya sebersih dan senyaman mungkin, saya mengajak sang bayi yang masih di perut istri saya untuk mengobrol. Mulai dari bertanya apa saja yang sudah ia “alami” bersama istri saya di hari itu, apakah ia lapar atau tidak, sudah belajar apa saja, dan masih banyak lagi. Pokoknya, apapun yang bisa saya tanyakan. Dan responnya juga seru, mulai dari tentangan-tendangan kencang-kecil, teratur-tak teratur, hingga bergerak-gerak di dalam perut istri saya. Menakjubkan.
Oiya, selain “mengobrol” sepulang kerja di malam hari, pagi harinya pun kadang saya “menyapa”-nya untuk bangun pagi, mengajaknya solat (sekaligus juga mengajak istri saya tentunya), hingga mengajaknya bangun pagi. Saat wiken pun demikian adanya, bahkan bisa jadi lebih sering karena saya lebih sering bersama istri saya ketimbang hari kerja.
Senang ya rasanya menjadi seorang suami-dan sekaligus calon Ayah. Mudah-mudahan, istri dan bayi di dalam kandungannya sehat dan normal, persalinannya nanti lancar,serta selamat. Amiin..
I may not the best man ever, but I’m doing the best as a man for my wife and the baby, at the moment.
Percaya ga percaya, mata saya berkaca-kaca lho pas nulis blogpost ini.
Nonton Bola Gratis: LA Galaxy vs. Indonesia Selections
Desember 1st, 2011 § 6 Komentar
Meski saya ga punya klub lokal Indonesia yang saya idolain banget, tapi seenggaknya kalo ada pertandingan sepakbola tim nasional Indonesia, atau ada negara lain dan atau klub dari negara lain yang tanding di Indonesia, sebisa mungkin saya nonton. Kalo emang ga sempet nonton langsung, ya nonton lewat TV aja.
Dan, kebetulan banget.. pas LA Galaxy mau mampir ke Indonesia di Asia Pacific 2011 Tour mereka, saya Alhamdulillah BISA NONTON! Semua berkat tiket gratis dari kuis yang dibuat sama bistip.
Proses dapet tiketnya singkat aja ya saya ceritanya, pokoknya saya lagi ngeliat update dari @infosuporter, ngasih link soal kuis dari @bistip, dan isi form deh. Beberapa hari kemudian, diumumin dan ternyata saya diumumin jadi salah satu orang yang dapet free ticketsnya! Alhamdulillah.
Setelah dikirimin e-mail, dan juga petunjuk buat ngambil tiketnya di hari H pertandingan tanggal 30 November 2011 kemarin, saya pun ketemu CP dari bistip di Plasa Senayan. Di situlah, ketemu Willy dan juga Panggi (yang selama ini cuma “ketemuan” lewat googleplus dan koprol).
Anyway, dari meeting point, lanjutlah ke Stadion Utama Gelora Bung Karno jalan kaki. Sempet susah juga nyari pintu masuk buat kategori 2, tapi ya.. dinikmati aja. Kapan lagi bisa nonton David Beckham, Robbie Keane, Landon Donovan, dkk versus tim Indonesia Selections, yang antara lain ada bintang-bintang dari timnas Indonesia U-23 macam Andik Virmansyah, Diego Michiels, dipadu sama Firman Utina dan juga Bambang Pamungkas, dkk?

tiket LA Galaxy vs Indonesia Selections dari bistip
berlatar belakang SUGBK
Masuk stadion, duduk di kategori 2, dan nonton. Oiya, pas Andik ditekel keras sama David Beckham itu, saya liat langsung dari bangku kategori 2 lho. Kebetulan, kategori 2-nya ada di belakang gawang LA Galaxy pas babak 1. ^^
Seru juga nonton pertandingannya. Coz, terlepas dari gol yang jadi skor akhir pertandingan, di babak pertama itu, tim Indonesia Selections cukup bisa ngasih perlawanan ke gawang tim LA Galaxy. Jual beli serangan gitu deh.. *ala pengamat bola*
Daaaann… sayangnya saya ga bisa nonton sampe kelar 2 x 45 menit pertandingan itu. Ga lain, karena saya harus jemput istri pulang kuliah. Jadilah, kelar babak pertama sekitar jam 8 malem gitu, saya pun pulang duluan.
Anyway, thanks buat @bistip! YOU ROCKS!
NB: foto beckham itu dari situsnya ESPN.
Kapan ya, kira-kira Beckham ke Indonesia lagi?
tinggal di jakarta itu, harus “berani”
November 1st, 2011 § 20 Komentar
Keberanian itu perlu, apalagi kalo mau tinggal di Jakarta, dan menjadi warga Jakarta.
Sepertinya, cuma orang-orang yang punya cukup nyali yang mau pergi ke Jakarta, dan tinggal di Jakarta. Anggapan itu udah jamak, dan biasa diucapkan kalo ada orang yang mau ke Jakarta selalu bilang, “mau mengadu nasib”. Berarti butuh keberanian, kan? Dan, ternyata kalo tinggal di Jakarta pun harus berani. Termasuk, berani menegur kalo ada yang salah dan membahayakan.
Sekadar pemberitahuan dan pengingat, saya pernah kerja di bidang oilfield services, background saya juga diploma teknik. Dua hal itu menurut saya cukup membuat saya peduli dengan masalah keselamatan dan juga kesehatan. Safety itu penting. Bahkan, ada salah satu semboyan salah satu perusahaan teknik yang begitu mengutamakan keselamatan — First, Safety First. Kepedulian akan keselamatan dan juga kesehatan itulah, yang kemudian terbawa ke kehidupan sehari-hari. Seenggaknya, saya begitu, dan berusaha untuk begitu. Berusaha untuk tetap selamat dan sehat (mengutamakan safety) itu jadi salah satu perhatian yang cukup penting bagi saya, kalo saya melakukan aktivitas, apapun bentuknya.
Dan, semalam (Senin, 31 Oktober 2011), kejadian yang berkaitan dengan safety ini saya alami lagi. Tepatnya, di jalan raya. Di kisaran jalan raya antara kalibata dan pasar minggu, Jakarta.
Singkat cerita, saya punya kebiasaan yang cukup “ngeselin”, yakni ngingetin orang yang menurut saya bisa membahayakan dirinya, dan atau orang lain saat di jalan raya, atau tempat-tempat umum lainnya. Dan, kali ini di jalan raya. Perilaku yang bisa membahayakan di jalan raya antara lain menelepon/SMS-an sambil mengendarai motor. Menurut saya, perilaku itu sangat berisiko untuk membahayakan dirinya dan juga orang lain. Kenapa? Karena menelepon/SMS-an sambil mengendarai motor, perhatiannya tentu akan terpecah, dan respon dari tangannya akan kurang dalam mengendarai motor tersebut.
Dan, semalam saat arah pulang setelah menjemput istri, saya menuju rumah melalui jalan raya pasar minggu. Selepas lampu merah kalibata, saya mengendarai motor saya bersama istri di boncengan. Dan, sekitar di depan Carrefour Pasar Minggu, saya sedang berada di sisi kiri jalan dan hendak lurus terus, di sisi kanan jalan sedang ada beberapa kendaraan lain. Di depan saya persis, ada seorang pria, mengendarai motor, tanpa jaket, tanpa helm, tanpa sepatu. Alias, “hanya” mengenakan kaos oblong, celana pendek, sandal jepit, dan “lucunya” adalah tangan kirinya memegang handphone yang sedang menyala, sementara tangan kanannya memegang stang motor yang sedang dikendarainya sambil melaju.
Biasanya, kalo si pengendara “hanya” ga pake helm/jaket/sepatu, saya masih oke dan bisa cuek. Tapi, semalam itu pengendara itu juga memegang handphone sambil matanya beberapa kali tertuju ke handphone tersebut, dan bukannya jalan raya di depannya. Sambil melaju pula. Rasa “kebiasaan ngeselin” saya pun timbul. Sambil terus melaju, saya ikuti pengendara tersebut, sambil menunggu sisi kanan jalan agak lowong. Begitu agak lowong, saya pun sedikit menyusul pria tersebut lewat sisi kanan, dan menegurnya (mungkin dengan sedikit berteriak), “Mas, kalo pake handphone nepi dulu.” Dalam sekelebat pandangan mata, saya bisa lihat bahwa pria tersebut sedikit kaget karena saya tegur. Dan, karena saya merasa maksud saya adalah baik, saya pun melaju meninggalkan pria itu — yang saya kira menepi.
Ternyata, sekitar 50 meter ke depan, dari kaca spion saya lihat ada sebuah motor yang mengikuti saya, dan menyalakan lampu sorotnya. Saat itu, saya sudah ke sisi kiri jalan kembali. Dan, saya pikir motor tersebut mau buru-buru dengan mengambil jalan saya. Jadi, saya pun lebih ke kiri dan memelankan motor. Eh, ga taunya pria tadi -yang ga pake helm/jaket/sepatu dan megang handphone itu- tiba-tiba muncul di sisi kanan saya sambil berkata (mungkin sedikit berteriak juga), “Terus kenapa, Mas?”
Secara cepat, saya langsung berpikir kalau pria ini tidak terima saya tegur. Ya oke, saya ladeni saja pertanyaannya. Saya pun jawab, “Kalo pegang handphone sambil bawa motor, nepi dulu Mas.”
Dan, dia dengan cepat menjawab lagi, “Iya, terus kenapa kalo saya pegang handphone, Mas?” — suaranya mungkin sedikit naik volumenya, tapi ya bisa jadi itu hanya perasaan saya saja.
Sambil masih terus berkendara dan hati-hati, saya jawab lagi. “Pegang handphone sambil bawa motor itu bahaya, Mas. Bisa celaka. Di belakang Mas bisa celaka.”
Setelah saya jawab begitu, saya masih tetap berkendara maju menuju jalan pulang. Dan, pria itu entah bagaimana, tiba-tiba sudah tidak ada lagi di sisi kanan saya. Mungkin menepi, mungkin melambat. Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya benar menegur pria itu. Dan, syukurnya saya cukup berani untuk menegurnya dan juga meladeni pertanyaan pria itu.
Beneran, tinggal di Jakarta itu harus “berani”.
Jangan tanya gimana caranya saya bisa tau pria itu lagi megang handphone sambil bawa motor, yak! Yang pasti, jawabannya bukan karena saya pernah seperti itu.
Micro-Sleeping, Musuh Utama Pengendara
Oktober 25th, 2011 § 11 Komentar
Ngantuk lagi bawa kendaraan, pasti semua orang pernah. Tapi ketiduran saat bawa kendaraan? Jawaban mayoritas, pasti belom pernah. Padahal mungkin, ketiduran saat bawa kendaraan itu mungkin saja terjadi.
Yep, ketiduran saat bawa kendaraan itu namanya micro-sleeping. Lagi-lagi, istilah ini saya dapet waktu pelatihan soal safety (keselamatan dan kesehatan kerja) waktu masih kerja di migas dulu. Dan, hal ini walaupun normal terjadi pada setiap orang, tapi sangat berbahaya apabila terjadi pada orang-orang yang sedang mengemudi, apapun bentuk kendaraannya — mau itu mobil, motor, dll.
Penasaran gimana itu micro-sleeping? Singkat kata, begini — Pernah ga lagi bawa kendaraan (mobil/motor, baik nyetir sendiri atau sama orang lain), dan tiba-tiba ngerasa ngantuk banget. Udah kucek-kucek mata, tapi karena ngerasa masih kuat dan segar jadinya maksa buat terus jalan. Tapi di suatu titik, ada semacam perasaan “blank” dan begitu sadar lagi, kondisi jalanan yang dilalui sudah berbeda? Nah, itulah micro-sleeping. Bukan salah satu scene atau kejadian inception yak.
Fatalnya, kejadian micro-sleeping itu bisa menyebabkan hilangnya konsentrasi saat berkendara. Dan, ya.. namanya juga hilang konsentrasi, tentunya kendali atas kendaraan pun akan goyah. Dan udah bisa ditebak, ujung-ujungnya bisa jadi akan celaka.
Faktor-faktor micro-sleeping sendiri sudah jamak diketahui sebenarnya. Yang paling utama adalah, kondisi badan yang tidak fit. Maksud tidak fit di sini adalah, tidak bisa berkendara dengan penuh konsentrasi. Micro-sleeping itu bisa muncul akibat lelah beraktivitas, kurang tidur, sampai terlalu lama berkendara. Dan, munculnya agak sulit untuk ditebak, karena micro-sleeping itu bisa dibilang “hanya” pikiran kita yang meminta tidur, akan tetapi badan kita masih menjalankan fungsi berkendara. Bingung, ‘kan?
Oke. Ringkasnya gini aja. Kalo lagi berkendara, dan tiba-tiba ngerasa rasa lelah yang begitu hebat — ga perlu sampe lemes, dan mata sudah mulai perih — tapi bukan karena kelilipan/kena angin, rasa ngantuk mulai terasa, ada baiknya menepilah sejenak. Bagi pengendara motor, lepaskan helm, turun dari motor, dan duduk-duduk sejenak di pinggir jalan sambil menikmati hembusan angin. Nikmati saja lelahnya. Bagi pengendara mobil, cukup menepi, matikan mesin kendaraan, dan buka jendela. Nikmati hembusan angin. Nikmati saja lelahnya.
Oiya, sepertinya micro-sleeping juga merupakan pertanda bahwa kepala kita butuh istirahat. Karena terkadang otak-kepala-pikiran kita sudah lelah dan butuh istirahat, akan tetapi karena energi kita masih banyak maka tubuh pun tak hendak menurut. Jadi ya, kalo lagi berkendara, ingat saja.. micro-sleeping itu berbahaya. Dialah musuh utama saat berkendara.
Safety riding, ya!









