Review: Pioneer VSX-923-K AV Receiver

April 14, 2014 § 1 Komentar

Kalau kemarin ada penghuni baru di rumah saya, sekarang ada penghuni tambahan lagi nih! Kali ini adalah Pioneer VSX-923-K AV Receiver. Wah makin lengkap aja nih penghuni rumah saya. :mrgreen:

Pas banget Pioneer X-CM51V-K jadi ada temannya. Berikut review saya mengenai Pioneer VSX-923 AV Receiver.

Pioneer VSX-923-K

Bentuk fisik:

Seperti bentuk AV Receiver pada umumnya, Pioneer VSX-923-K  AV Receiver memiliki desain minimalis dan seperti biasa, berwarna hitam.

Pioneer VSX-923-K

Pioneer VSX-923-K

Pioneer VSX-923-K AV Receiver dilengkapi dengan remote kontrol yang mempermudah pengaturan. Di bagian depan terdapat input HDMI, USB, hingga AUX. Selain itu ada tuning untuk volume, tombol-tombok untuk Auto Surround/ALC/Stream Direct, Standar Surround, Advance Surround, Eco, dan iPod iPhone iPad direct control.

Cara menggunakan:

Untuk pemasangan Pioneer VSX-923-K menurut saya harus teliti. Salah satunya, adalah dengan mempelajari buku petunjuk yang ada sepaket, dan memberikan penjelasan yang lengkap bagaimana cara memasang kabel untuk perangkat yang berbeda, seperti DVD, TV, speaker, hingga gadget.

This slideshow requires JavaScript.

Kualitas audio:

Untuk kualitas audio, Pioneer memang tidak perlu diragukan. Dengan menggunakan Pioneer VSX-923 AV Receiver, saya dapat mendengar suara-suara detail dalam film maupun lagu.

Sebagai orang cukup peka dengan kualitas suara dan pendengaran, saya suka dengan munculnya detail-detail suara yang tidak saya temukan apabila menggunakan speaker biasa. Gemericik air, hembusan angin, hingga berbagai detail suara lainnya yang bisa jadi “tertimbun” oleh noise.

Singkat kata, audio/suara yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Secara nilai dalam skala 10, saya kasih nilai 8.5.

Input dari Pioneer VSX-923-K AV

Keunggulan dari Pioneer VSX-923-K AV adalah bisa langsung connect ke gadget produk Apple seperti iPod, iPhone dan iPad. Bahkan kompatibel dengan iPhone 5 dan iPad mini. Selain itu ada input untuk LAN, HDMI, dan pastinya bisa mendengarkan suara langsung pakai earphone. Suara yang dihasilkan adalah 4K. Menonton film jadi berasa di bioskop banget.

Selain itu Pioneer VSX-923-K AV disebut smartphone friendly karena kompatibel dengan smartphone iOs, hingga Android. Apdet banget nih sama perkembangan jaman. Tinggal nunggu kemampuan mereka buat bisa terhubung dengan smartphone berbasis OS lainnya — Windows Phone dan BBOS.

Oiya, Pioneer VSX-923-K AV juga memiliki adaptor untuk bluetooth dan wireless LAN. Dengan ini saya bisa mendengarkan internet radio juga, jadi kita bisa mendengarkan radio-radio di seluruh dunia. Untuk menyambungkan Pioneer VSX-923-K AV harus dilengkapi dengan LAN converter (AS-WL300) yang dijual terpisah.

This slideshow requires JavaScript.

Pada perangkat Pioneer VSX-923-K AV juga ada ECO mode untuk menghemat energi. ECO mode ini dapat menganalisis daya listrik secara real time, menyesuaikan konsumsi daya sesuai untuk memenuhi kebutuhan sehingga dapat membuat lebih hemat energi. Lumayan nih, jadi tetap bisa menikmati hiburan dengan kualitas mumpuni dengan daya listrik yang hemat!

Aplikasi kontrol 

Pioneer memiliki aplikasi Pioneer ControlApp saya bisa mengontrol perangkat ini tanpa menggunakan remote. Aplikasi ini tidak hanya dapat mengontrol tetapi juga mudah digunakan. Aplikasi ini gratis untuk diunduh baik untuk pengguna iOS maupun Android.

apps control

Overall, Pioneer VSX-923-K ini nilainya 9 dari skala 10. Selain hasil review di atas, dengan adanya perangkat ini membuat saya semakin menikmati lagu-lagu dan film yang diputar.

NB: Kalo Pioneer VSX-923-K ini didukung juga oleh soundsystem yang lengkap macam home-theater di rumah dengan super surround, mungkin bakal bikin penilaian saya jadi 10, SEMPURNA. Secara, sound system di rumah saya ya… secukupnya aja. :mrgreen:

Hello 2 to 30

Maret 1, 2014 § 4 Komentar

Screenshot 2014-03-01 21.57.43

Ada yang bilang, semakin bertambahnya umur, maka orang tersebut akan semakin bijak. Entah benar ataupun tidak, saya sih berharap hal itu terjadi pada saya.

Iya, saya berharap bertambah bijak. Iya, saya bertambah umurnya. :) Alhamdulillah.

Dulu-dulu, jelang pertambahan umur saya berharap untuk memiliki sesuatu yang baru. Bahkan, sejak jauh-jauh hari atau bahkan bulanan, saya menargetkan untuk memiliki sesuatu – berupa barang untuk bisa saya miliki di hari pertambahan umur saya. Banyak cara yang saya harap untuk mendapatkannya, mulai dari menabung sendiri, hingga dengan berharap ada yang memberikannya. Tapi semakin ke sini, harapan tersebut makin jarang – kalo ga disebut memudar.

Kini, harapan saya makin sederhana namun mungkin agak sulit untuk diwujudkan. Harapan saya di hari pertambahan umur ini adalah… semoga kesehatan saya tetap terjaga baik hingga seterusnya, hingga lebih tua dari saat ini. Semoga saya diberikan kesehatan dan kesempatan untuk terus menikmati hidup, membahagiakan keluarga saya, serta berbahagia dengan pasangan serta anak-cucu saya kelak.

Amin.

Amin.

Amin.

Untuk urusan rezeki dan kematian, saya serahkan kepada Tuhan. Karena saya percaya semuanya sudah dituliskan oleh-Nya. Tinggal sayanya aja yang perlu berusaha untuk semakin baik, semakin maju, setiap harinya.

Terima kasih untuk istri saya, yang pertama kali memberikan ucapan pada awal hari sesuai dengan domisili (sementara) saya saat ini – di Jepang. Terima kasih juga untuk orangtua, saudara kandung, rekan-rekan kantor, teman-teman sejawat, sekampus, dan masih banyak lagi yang telah memberikan ucapan untuk saya di hari ini. Terima kasih telah mengingatnya.

NB: Postingan ini diterbitkan pada jam 10:34 PM pada GMT+9 – Waktu Osaka.

Badai Salju di Tokyo

Februari 21, 2014 § 2 Komentar

Badai Salju di Tokyo

Sejak akhir November lalu mendapat penugasan keluar negeri mulai dari Seoul, Korea serta kali ini ke Tokyo, Jepang, saya sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi winter atau musim dingin. Salju, angina kencang, suhu mendekati nol derajat atau bahkan di bawah nol, hingga rendahnya kelembapan adalah hal-hal yang harus diatasi sepanjang penugasan tersebut.

Syukurnya, kali ini akses informasi serta jaringan keuangan internasional sudah lebih baik dibanding saat saya pertama kalinya menghadapi musim dingin bersalju di negeri orang – 2007 lalu. Jadi, cara-cara untuk mengantisipasi musim dingin di Seoul, Korea dan Tokyo, Jepang pun sudah cukup siap. Mulai dari pakaian, sepatu, hingga makanan. Tapi, ada satu hal yang belum bisa diatasi, yaitu badai salju atau snowstorm.

Sebagai makhluk tropis, “bertemu” dengan salju itu adalah hal yang amat sangat disyukuri. Tapi, bagaimana dengan badai salju? Tentu sebagai makhluk yang terbiasa dengan suhu hangat, kelembapan tinggi, badai salju adalah hal terakhir yang saya harapkan akan saya temui dalam penugasan keluar negeri ini. Dan, “beruntungnya” hal terakhir yang saya harapkan tersebut menjadi kenyataan.

Pada periode penugasan ke Tokyo pada pertengahan Januari hingga awal Februari lalu, sekali dan mungkin pertama kalinya dalam hidup, saya “menghadapi” badai salju atau snowstorm. Untungnya, berbekal prakiraan cuaca yang bisa diikuti via internet dan juga TV lokal (walau berbahasa Jepang), saya sudah bisa memperkirakan kapan badai salju akan datang. Dan, tepat sehari sebelumnya sudah mulai mengumpulkan beberapa bahan makanan dan minuman di penginapan.

Jumat malam hari, 7 Februari, saya baru saja pulang dari membeli beberapa bahan makanan di Ameyoko, Ueno-Okachimachi bersama rekan-rekan setim dalam penugasan. Langit cerah. Angin bertiup lemah. Bahkan bulan pun terlihat jelas. Cuaca tidak menunjukkan bahwa keesokan harinya badai salju akan menghantam Tokyo.

Sekitar jam 2 dini hari Sabtu 8 Februari ketika saya tidur, saya masih sempat mengecek suasana luar melalui jendela di penginapan, dan semuanya masih sama seperti ketika saya pulang tadi. Ketika akhirnya terlelap jam 3 dini hari dan terbangun sekitar 5 jam kemudian, pemandangan di luar jendela sudah silau karena penuh dengan warna-warna putih. Salju sudah datang, dan hampir seluruh bangunan yang terlihat melalui jendela penginapan sudah diliputi salju.

Iseng, saya buka jendela dan kemudian memeriksa apa benar salju tersebut turun dan selesai atau memang ada badai seperti prakiraan cuaca. Hasilnya? Angin bertiup kencang. Dan iya, badai salju atau snowstorm datang sesuai prakiraan cuaca.

Pertanda lain bahwa badai salju datang adalah jalan kecil yang biasanya digunakan untuk akses depan penginapan dan bisa dilintasi oleh kendaraan roda 4, mendadak seakan-akan ditimbun oleh salju tebal. Beberapa warga sekitar penginapan bekerja gotong royong membersihkan tumpukan salju tersebut.

Jam 10, jam 11, jam 12, jam 1, hingga akhirnya jam menunjukkan sekitar jam 2 siang, saya pun memutuskan untuk keluar dari penginapan. Tujuannya: hendak mengambil refund uang tur yang sudah dibayarkan untuk jadwal hari Sabtu tersebut, namun dibatalkan karena cuaca. Cukup besar juga perjuangan untuk keluar dari penginapan hingga ke stasiun subway terdekat, karena benar saja salju tebal hampir di mana-mana, sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak terpleset. Belum lagi terpaan angin kencang dan juga salju yang masih turun deras.

Sekitar 30 menit perjalanan dengan kereta, uang tur pun sudah bisa di-refund. Setelahnya? Karena sudah berada di pusat kota, sekalian saja cari makanan jadi dulu sebelum pulang ke penginapan yang terletak di lokasi residensial. Hasilnya? “Mendapatkan” pemandangan badai salju di mana-mana. Walau angin kencang, salju yang turun begitu banyak, namun masih banyak penduduk Tokyo yang pulang pergi entah itu ke pusat perbelanjaan, bekerja, dan lain-lain.

Sekitar 3 jam kemudian, setelah selesai makan dan juga mencaritahu sebesar apa dampak dari badai saljunya, pulang pun menjadi pilihan utama. Karena dikabarkan bahwa beberapa line subway dibatalkan karena relnya tertutup salju, serta ada isu bahwa subway di hari tersebut akan tutup lebih awal – biasa last track jam 12an lewat, tapi karena badai salju maka jam 7an malam beberapa line akan mengakhiri layanan di hari tersebut.

Beruntung, subway line ke arah penginapan masih tetap beroperasi walau memang jam-jam 6an sore itu begitu banyak orang-orang yang mengantri di berbagai stasiun subway. Kalau di hari biasa, jam-jam ramai dengan antrian orang di subway station itu sekitar jam 7 malam lewat.

Alhamdulillah, walau menghadapi berbagai jalanan licin, angin kencang, salju turun yang begitu deras, akhirnya sampai dengan selamat di penginapan. Dan, setelah membaca beberapa berita, ternyata badai salju di hari Sabtu 8 Februari tersebut adalah salah satu badai salju terparah sepanjang sejarah Tokyo dengan beberapa korban yang jatuh dan subway banyak yang delay. Penerbangan di Tokyo pun terganggu di hari tersebut, dengan begitu banyak penerbangan yang delay dan penumpang menumpuk di bandara karena tak bisa terbang, namun juga kesulitan akses untuk pulang/keluar dari bandara. Beritanya bisa diliat di sini, di sini, atau di sini.

Alhamdulillah, saya selamat dari badai tersebut.

NB: Foto ilustrasi adalah milik AFP dan yang aslinya dimuat di artikel di sini.

Review: Pioneer X-CM51V-K

Januari 29, 2014 § 8 Komentar

Masih inget postingan saya sebelumnya soal penghuni baru di rumah saya? Yep, itulah Pioneer X-CM51V-K, perangkat audio yang bisa digunakan untuk beragam keperluan – yang berkaitan sama audio tentunya. :mrgreen:

Nah.. kalo kemaren saya cuman sempet nulis sekilas aja, kali ini Pioneer X-CM51V-K bakal saya review. Ya, mulai dari bentuk fisik, cara menggunakan, kualitas audio, dan lain-lainnya. Oiya, review ini berdasarkan hasil penggunaan dan pengamatan oleh saya pribadi sejak barang diterima di bulan Desember 2013 lalu, hingga mid-Januari 2014 – beberapa saat sebelum saya melakukan perjalanan ke luar negeri (lagi).

Bentuk fisik:

Pioneer X-CM51V-K

Pioneer X-CM51V-K

Pioneer X-CM51V-K keliatan mengedepankan desain minimalis. Bentuk menyerupai kotak mendominasi namun diperhalus dengan sudut-sudut yang tidak kaku. Warnanya juga dominan hitam, hampir di seluruh bagiannya. Kalo lagi ga nyala dan lampu ruangan mati, keliatannya jadi kaya’ box gitu aja. :P

Anyway, masih dengan konsep minimalisnya pula, tombol-tombol operasional utama di Pioneer X-CM51V-K ini dipusatkan di bagian atas. Di bagian depan cukup display aja dan juga tuning buat volume. Kalo udah begitu, menurut saya sih jadinya perangkatnya ga bisa diletakkan terlalu atas. Soalnya nanti kalo batre remote control abis, rada repot ya kalo mau operasional. Ada baiknya, disimpen maksimal sejangkauan tangan paling nyaman, mungkin di ketinggian sekitar pinggang orang dewasa.

Bagian atas Pioneer X-CM51V-K

Bagian atas Pioneer X-CM51V-K

Masih soal bagian atas, ada alasan lain kenapa Pioneer X-CM51V-K ini ga disimpen terlalu atas. Yaitu, di bagian atas dari perangkatnya ada deck buat nyimpen ipod/ipad dengan nyaman. Jadi, kalo punya koleksi lagu banyak di ipod/ipad, bisa lho disetel di perangkat ini tanpa harus cari-cari kabel data, atau USB. Tapi, ipod yang bisa dipake adalah ipod touch yang sampe generasi keempat, sementara ipad masih bisa sampe ipad terbaru – atau semua perangkat apple yang ada output berupa 30 pin dock.

Cara menggunakan:
Sebagai perangkat audio yang ada di generasi digital sekarang, Pioneer X-CM51V-K ini cukup apdet dengan gaya hidup/kebiasaan saat ini. Keliatan dari beragam input yang bisa dipilih buat menikmati audio-nya, mulai dari radio, CD, DVD, USB flash disk, sampai dengan ipod/ipad. Selain itu, ada jack buat konektor kabel HDMI, audio in, kabel video – kalo setel DVD dan sambungin ke TV. Lengkap kan opsinya?

Oiya, desain minimalis juga ngebuat perangkat ini cukup nyaman digunakan karena tombol-tombolnya terpusat di bagian atas, dan tuning di bagian depan. Remote control yang jadi sepaket juga responsif – kalo batrenya full ya, ga lowbat. :mrgreen:

Layar display di bagian depan juga cukup jelas dan terang buat ngasitau info input apa yang lagi dipake, stasiun radio apa yang lagi nyala, sampai dengan frekuensi radio yang lagi jalan. Komplit. Kalo kebetulan dipake di ruangan yang gelap atau lampu redup, masih keliatan kok sama mata.

Pioneer X-CM51V-K

Pioneer X-CM51V-K

Kualitas audio:
Nah… sekarang yang paling penting yaitu kualitas audionya. :) Sebagai perangkat audio yang “multifungsi”, Pioneex X-CM51V-K tetaplah sebuah perangkat audio. Iya, perangkat yang taji sebenernya adalah di kualitas suara yang bisa dihasilkan dari speakernya – itu menurut saya ya.  Dan, sebenernya beberapa orang yang tau, Pioneer cukup dikenal sebagai perangkat audio yang mumpuni buat di mobil. Lalu gimana dengan perangkat audio yang dipake di rumah seperti Pioneer X-CM51V-K ini?

Singkat kata, audio/suara yang dihasilkan oke. Secara nilai dalam skala 10, saya kasih nilai 8.5 sampai dengan 9 (10 adalah nilai terbaik).

Pioneer X-CM51V-K ini menurut saya cukup berhasil dalam menghasilkan suara yang oke punya buat dinikmati di rumah. Ketika digunakan untuk menikmati musik, oke. Buat menikmati radio juga oke. Yang paling penting buat saya adalah – ga ada bunyi “kresek-kresek” seperti yang biasa dihasilkan perangkat audio yang lain, terutama jika salah menyambungkan speaker. Dalam kata lain, hardware untuk audio dari Pioneer X-CM51V-K ini sudah dirancang agar memanjakan telinga pendengarnya.

Yang masih kurang dapat dinikmati oleh saya adalah, jangkauan suaranya. Sebagai perangkat audio yang disimpan di rumah dan bersifat compact, Pioneer X-CM51V-K ini menurut saya sih jangkauan suaranya kurang jauh. Saya sempat menguji dengan meningkatkan volume dan coba mendengarkan dari jarak 10 meter, suaranya kurang asik dibandingkan dengan mendengarkan dari jarak yang lebih dekat. Tapi ya, mungkin itu cuman saya sih. Faktor lainnya bisa jadi karena rumah saya tidak memiliki ruangan dengan ukuran yang masif – layaknya aula atau semacamnya. Jadi, jangkauan suaranya terpantul atau terhalang beberapa dinding/sekat.

Kelengkapan
Lazimnya perangkat elektronik audio yang diperjualbelikan dengan bebas di jaman sekarang, Pioneer X-CM51V-K ini dalam 1 set box-nya terdiri dari 1 bagian utama dan 2 speaker. Selain itu juga dilengkapi dengan aksesoris seperti remote control, kabel antenna, kabel video, kabel power, buku petunjuk, kartu garansi, hingga batre dan juga stiker alas buat speaker. Oiya, semuanya juga mudah digunakan dan mudah dipasang.

Kelengkapan Pioneer X-CM51V-K

Kelengkapan Pioneer X-CM51V-K

Overall, Pioneer X-CM51V-K ini nilainya 9 dari skala 10. Selain hasil review di atas, perangkat ini juga beratnya cukup ringan serta ada garansi dan kantor perwakilan resmi di Indonesia. Kalo mau tau lebih lanjut soal produknya, bisa langsung klik di sini.

This slideshow requires JavaScript.

Kalo ada Pioneer X-CM51V-K di rumah kamu, mau dipake buat apa aja?

#InKorea week 2 and 3: Rekap

Januari 24, 2014 § 7 Komentar

Jadi, disebabkan oleh satu dan lain hal, postingan #InKorea week 1 yang pernah saya buat, akhirnya ga nyambung ke week 2 dan selanjutnya di periode yang berdekatan. Tapi ya, karena udah pernah buat week 1 dan saya paling ga suka situasi yang gantung begitu, di postingan ini saya rekap ajah week 2 dan week 3 — yang berakhir di 23 Desember 2013, tanggal kepulangan saya ke Indonesia.

Sebenernya di week 2 dan week 3 ga begitu banyak yang bisa saya ceritain karena hari-harinya sibuk dengan kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan. Iya, perjalanan ke Korea kemarin itu karena pekerjaan, bukan liburan lho ya.. :mrgreen: Tapi tetep ada beberapa highlight dan juga perjalanan wiken yang bakal saya share di bawah ini…

  1. N Seoul Tower & cable car
    Salah satu tujuan wisata di Seoul adalah N Seoul Tower – N kemungkinan besar singkatan dari Namsan, bukit/area yang jadi wilayah tempat berdirinya Seoul Tower. Dulu, Seoul Tower ini dipake buat jadi stasiun transmisi, sekarang jadi tempat wisata. Oiya, berhubung di sekitar N Seoul Tower ini masih ada lingkungan yang asli, jadi… akses ke sana ga bisa sembarangan. Mobil-mobil pribadi/bus pun parkirnya lumayan jauh. Cara terbaik buat ke sana, selain jalan kaki dari kaki bukit dengan jalan menanjak, adalah pake cable car. Ada kok stasiun cable carnya, bisa diakses jalan kaki (menanjak) dari persimpangan depan Myeongdong. Oiya, “kunjungan” saya ke N Seoul Tower juga ternyata menahbiskan (halah) ciri khas saya ke setiap kota, yakni ke salah satu landmark/menara dari kota tersebut! :mrgreen:
  2. Nami Island!
    Ngaku drama Korea tapi sampe ga tau Nami Island sih, kebangetan namanya.. secara, booming drama Korea di Indonesia salah satunya ya karena serial yang berkaitan dengan Nami Island ini. Yep, Winter Sonata adalah serial yang dimaksud. Tenang, saya ga bakal mbahas serial itu, melainkan Nami Island ini aja.. Pulau yang terletak di tengah lintasan sungai ini – iya, di tengah sungai bukannya danau atau laut, konon dulunya dipake buat tempat buang jin sampah. Trus, gara-gara serial Winter Sonata itulah, jadi dibenerin dan jadi salah satu kawasan wisata. Apa aja yang bisa diliat? Banyak. Salah satu keunikan dari Nami Island ini adalah “diakui” sebagai republik dalam republik. Oiya, akses ke sini agak susah.. jadi, kalo berharap bisa naik subway trus sambung-menyambung, bakal ribet deh. Mendingan pake tour aja.
  3. Digital Media City
    Amrik punya Silicon Valley, Indonesia punya Bandung dan Jogja Digital Valley, Korea atau Seoul pun punya Digital Media City. Di kawasan ini banyak perusahaan-perusahaan modern Korea bermarkas, dan juga ditengarai jadi salah satu kawasan penggerak industri konten kreatif Korea.
  4. Gyeongbok
    Kalo yang pernah nonton serial drama Princess Hours (Goong) atau Jang Geum (CMIIW) pasti tau kalo Korea pernah berbentuk kerajaan/kekaisaran. Nah, salah satu warisan sejarah kerajaan masa lampau adalah Gyeongbok, yang jadi istana raja. Cerita lengkapnya, ada di sini.
  5. Insadong, Myeongdong, Dongdaemun, dan Namdaemun
    Setiap negara atau kota tujuan wisata, pasti memiliki kawasan yang jadi pusat belanja. Iya, ini pusat belanja yang berupa kawasan ya, bukan yang emang toko gede di gedung gitu.. Di Seoul, sendiri, ada beberapa antara lain Insadong, Myeongdong, Dongdaemun, dan Namdaemun. 2 nama kawasan di belakang, konon sudah terbentuk sejak masa lampau sejak awal-awal Korea ada. Dongdaemun sendiri, dikenal sebagai pasar untuk kain, baju, dan garmen – sesuai pengamatan saya. Kalo Namdaemun, dikenal sebagai kawasan serba ada – mulai dari souvenir, baju, kaos, ginseng, semuanya ada di sini. Kalo cari oleh-oleh, mending ke sini. Nah, kalo Myeongdong beda, dia merupakan kawasan pasar modern, merek-merek branded bisa dicari dan didapetin di sini. Mirip pasar baru tapi dengan merek yang upclass banget. Kalo Insadong sendiri, dia sebenernya kawasan belanja barang-barang pecah belah, dan lain-lain.

Masih banyak lagi sebenernya yang pengen saya share, tapi ya.. mending liat sendiri deh koleksi foto di bawah ini ya.. :mrgreen:

This slideshow requires JavaScript.

Satu hal yang pasti, banyak hal yang bisa dilakuin di Korea. Di Seoul-nya aja banyak banget objek yang bisa dikunjungi, apalagi di Korea-nya? Oiya, kalo ke Korea dan mau dapetin pengalaman liburan yang oke dan cukup buat diceritain, coba spend minimal 4-5 hari di luar waktu perjalanan pesawat yang per sekali terbangnya sekitar 6-7 jam. Jadi, ya.. total perjalanan termasuk pesawat bisa seminggu deh biar lebih afdol. Perihal layak apa engga? SUDAH PASTI LAYAK! :mrgreen:

Kalo kamu kelak ke Korea, apa sih yang bakal kamu lakuin pertama kali?

#FiksiBlogfam Week 1: Outline

Januari 17, 2014 § 4 Komentar

Outline “Februa”

1: Februa atau biasa dipanggil Febi, cewek remaja kelas 2 SMA ini paling rempong di keluarganya. Selain karena dia anak cewek satu-satunya, juga karena dia anak tengah. Tapi sebenernya yang paling bikin dia rempong adalah, kenyataan bahwa dia lahir di 13 Februari, beberapa menit sebelom tengah malam. Kenyataan itu yang selalu bikin dia keki tiap kali ketemu orang, baik itu kenalan baru, maupun juga kenalan lama soalnya suka nebak-nebak/becanda soal “nanggung bener lahirnya udah deket banget sama Valentine’s Day”.

2: Februa punya beberapa temen deket cewek, yaitu Laura dan Jessy. Walaupun temen deket, mereka bedua juga suka ngebecandain waktu lahir Februa yang “nanggung banget” itu. Walau begitu, Laura dan Jessy juga paling vokal ngebela/ngejawab becandaan orang lain ke Februa. That’s what friends are for – adalah frasa yang paling sering diucap mereka betiga.

Selain jadi temennya Februa dengan segala kerempongannya, Laura dan Jessy juga punya kesibukan masing-masing. Laura sibuk dengan ngelakuin semua keinginan orangtuanya – mulai dari les balet, les piano, dan masih banyak lagi – walau sebenernya Laura lama-lama bosen dan pengen coba hal-hal yang beneran dia pengen seperti pencinta alam gitu. Sementara itu, Jessy sibuk dengan belajar dan belajar karena dia ngincer buat dapetin beasiswa. Maklum, Jessy berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi pas-pasan, sementara Jessy pengen banget buat bisa lanjut sekolah sampe sarjana.

3: Suatu ketika, Februa, Jessy, dan Laura lagi ngumpul betiga dan ngomongin hal-hal yang masing-masing pengen banget. Februa pun ngomong kalo dia kepengen tanggal 13 Februari ga pernah ada, jadi dia bakal lahir di tanggal 14 Februari – pas Hari Kasih Sayang seluruh dunia. Sementara itu, Laura bilang kalo dia pengen keluarganya stop ngasih dia les macem-macem dan ngebebasin dia buat ngelakuin yang dia mau, dan Jessy ngarep supaya dia berasal keluarga yang ekonominya mampu banget.

Kelar ngomongin impian masing-masing, Februa pun keingetan kalo dia pernah baca di sebuah buku tua di perpus sekolahan kalo ada cara-cara tertentu gimana caranya bisa ngejalanin impian di kehidupan nyata sekarang. Salah satunya, bedoa sungguh-sungguh di saat bintang jatuh/komet lewat malam hari, sampe kemudian ketiduran. Dan, dalam waktu dekat kebetulan banget diramalin kalo bakal ada hujan meteor/komet lewat.

4: Di hari yang udah ditentuin kalo komet bakal lewat/meteor bakal rame bikin meriah langit malam, Februa, Laura, dan Jessy ngumpul bareng di rumahnya Februa. Mereka udah nyiapin buat bedoa sungguh-sungguh.

Lama nunggu sampe jam 11an, meteor/kometnya ga kejadian juga. Pas banget udah desperate dan mau tidur, eh… meteor/kometnya kejadian. Buru-buru deh Februa, Jessy, dan Laura bedoa sungguh-sungguh. Minta hal-hal yang jadi impian masing-masing, sampe kemudian lelah dan ketiduran.

5: Next day, Februa kebangun di kamarnya sendirian. Tidur di atas kasurnya, hampir ga ada yang berbeda di dalam kamarnya dengan beberapa hari sebelumnya kecuali Jessy dan Laura ga ada di sana. Dia pun mikir kalo Jessy dan Laura udah pulang duluan di pagi harinya. Ga pake mikir macem-macem, Februa pun keluar kamar dan langsung ke dapur ketemu Mama-nya. All things went as usual. Februa masih belom nyadar atau belom tau ada perubahan atau engga sampai kemudian… ada telepon dari Jessy.

Telepon dari Jessy langsung diangkat Februa dan Jessy bilang kalo dia bangun pagi ini dengan perubahan tertentu. Dia ga tinggal lagi di rumah sederhana, melainkan di kamar yang cukup besar dan rumah yang gedongan! Keluarganya ternyata jadi mampu banget secara ekonomi, dan Jessy pun langsung percaya kalo yang semalem dia minta dengan sungguh-sungguh kejadian.

Setengah ga percaya, Februa pun nelepon ke Laura buat mastiin apakah ada perbedaan. Lama ga diangkat-angkat, Februa pun mikir kalo Jessy boong. Taunya, Laura emang lagi ga bisa ditelepon karena dia lagi di perjalanan naik gunung. SMS pun Laura kirim ke Februa, ngasitau kalo dia lagi diajakin naik gunung dan udah berangkat sejak pagi-pagi banget!

Masih ga percaya, Februa pun nanya ke Mama-nya kapan dia lahir. Surprisingly, Mama-nya bilang kalo dia lahir di 14 Februari. Girang dong Februa.

6: Karena itu hari libur, Februa pun ga ke sekolah, tapi dia jalan-jalan bareng Jessy. Dan bener aja, Jessy berubah – dari tampilan aja langsung keliatan kalo dia jadi keluarga gedongan dan bukan lagi keluarga pas-pasan. Sambil becanda, Februa pun bilang “kalo tau yang semalem kita lakuin bakal berhasil, mungkin impian gue ga sekadar 13 Februari itu ilang. Tapi juga perdamaian dunia.”

Jessy pun jawab kalo Februa udah mulai kaya’ peserta putri kecantikan. Pemikirannya lebih dewasa ketimbang penampilan aslinya.

7: Laura yang lagi berpetualang di alam pun ngerasa asik banget bisa ngelakuin yang dia pengen. Kemping, bawa ransel, hiking, sampe rafting! Semua hal-hal yang ga pernah dia lakuin sebelomnya. Walau begitu, beberapa kali orangtuanya ngelakuin itu ga barengan sama dia. Kalo ga papanya doang, ya mamanya doang sama dia.

8: Buat ngebuktiin apakah keinginannya bener-bener terkabul, Februa pun ngecek kalender di rumahnya setelah ketemu Jessy. Dia nyari tau apakah tanggal 13 Februari masih ada, atau ilang beneran. Dan, dia kaget banget begitu tau setelah tanggal 12 Februari ya 14 Februari. Ga ada tanggal 13 Februari.

Masih dengan rasa penasaran, Februa pun nanya ke Mama-nya, sejak kapan tanggal 13 Februari itu ga ada. Mama-nya bilang kalo dia ga inget, yang pasti sejak Mama-nya kecil emang tanggal itu ga ada. Trus, Februa pun nanya lagi ke Mama-nya, kapan waktu persis dia dilahirin, Mama-nya pun bilang kalo dia lahir di 14 Februari pagi hari. Dalam hatinya, Februa pun mulai bingung kenapa jam lahirnya berbeda seperti sebelumnya, walau keinginan dia “cuman” minta 13 Februari ilang.

9: Jessy yang udah mulai ngerasa nyaman dengan kondisi ekonomi keluarganya yang lebih mampu, ternyata mulai ngerasa ada yang aneh di rumahnya itu. Orangtuanya yang sebelumnya sering banget dia temuin, sekarang jadi makin jarang ketemu. Trus, saudara kandungnya yang semula ada 3 orang, jadi tinggal 1. Itupun, dia ga kenal – berbeda dengan saudara kandungnya sebelumnya.

10: Laura yang lagi di alam liar, juga mulai ngerasa aneh sama gelagat orangtuanya yang ngajak dia jalan. Serba misah terus – ya makan, ya tidur, ya ngobrol. Hampir semuanya. Pada saat Laura nanya ke Papa-nya, dijawablah kalo Papa-Mama-nya Laura mau pisah – cerai. Beda sama kondisi sebelumnya, Papa-Mama-nya Laura itu nempel banget. Ga ada indikasi bakal cerai.

11: Laura, Februa, dan Jessy pun akhirnya mutusin buat ketemu lagi. Mereka ngungkapin keanehan-keanehan yang ditemuin masing-masing trus dibahas. Sambil masih ketakutan bakal ada kejadian apa selanjutnya, ketiganya kembali ke rumah masing-masing dan kemudian nunggu info pertemuan selanjutnya.

12: Februa, Laura, dan Jessy kemudian sadar kalo mereka ga cocok sama kehidupan yang dijalanin setelah ada hujan meteor/komet lewat itu. Ga bebas, kata mereka. Akhirnya, setelah cari-cari informasi soal hujan meteor/komet lewat lagi, yaitu beberapa hari lagi. Mereka pun akhirnya bikin janjian lagi buat jadi seperti semula.

13: Hujan meteor/komet datang lagi, kesempatan buat berdoa sungguh-sungguh pun butuh cepet buat dilaksanain. Berbekal perlengkapan/peralatan sederhana, Februa, Laura, dan Jessy bedoa sungguh-sungguh lagi. Kali ini di rumah Februa lagi, dan kemudian mereka ketiduran lagi. Besok harinya, semuanya balik seperti semula dan Februa, Laura, Jessy ga lagi-lagi berusaha buat ngewujudin impian mereka pake cara yang aneh-aneh lagi.

Penghuni Baru di Rumah

Desember 30, 2013 § 8 Komentar

Kalo rumah kedatangan penghuni baru, pasti ada rasa “excitement” yang susah dijelasin. Apalagi, kalo penghuni itu punya fungsi dan kegunaan yang bener-bener diperluin di rumah. :mrgreen:

Bukan, bukan orang kok. Penghuni baru ini perangkat elektronik, tepatnya Pioneer X-CM51V-K. Perangkat elektronik yang serba-bisa, karena bisa buat “muter” DVD Video, DVD R/RW, CD Audio, CD R/RW, USB, lewat jaringan, sampai dengan iPod dan iPhone!

Pioneer X-CM51V-K

Pioneer X-CM51V-K

Ga sabar buat cepetan pasang dan cobain segala macam fiturnya.. :) Apalagi jelang taun baru gini, pas banget rasanya buat test drive kemampuan suaranya pas malam taun baru nanti.. :mrgreen:

Jelang taun baru, ada penghuni baru juga ga di rumah kamu?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.109 pengikut lainnya.