Vakum (Pengennya Sementara aja)

September 9, 2014 Komentar Dimatikan

Saya lupa terakhir kali saya ngeblog dengan semangat dan berapi-api untuk menceritakan begitu banyak mengenai topik yang saya suka. Benar-benar lupa. Sepertinya sudah berlembar-lembar waktu yang lalu, bagian dari sejarah.

Saya juga lupa terakhir kali saya menikmati menulis cerita (fiksi) – cerpen, cerbung, dan novel. Jikalau memang di blog saya yang satu lagi (sudah mendapatkan URL cantik pula) terkesan selalu apdet tiap minggu, tak lain karena saya sedang menjaga konsistensi. Tapi ya susah.

Iya, susah. Sesusah menulis sepenuh hati. Sesusah menjaga konsistensi.

Jadi, sebenarnya saya tak enak hati untuk membuat blogpost seperti ini, seakan-akan saya meninggalkan blog saya (mudah-mudahan hanya untuk sementara). Tapi, daripada begitu banyak kenalan yang saya dapat via blog bertanya-tanya, saya memutuskan ada baiknya untuk membuat blogpost ini, yang memberitahukan bahwa saya akan vakum – mudah-mudahan untuk sementara.

Bukan karena tak ada topik untuk ditulis, bukan pula karena tak ada dorongan finansial untuk menulis. Pilihan ini dibuat lebih karena saya sampai pada sebuah titik di mana saya tak memiliki keinginan untuk menulis dan menyebarkannya di blog ini maupun itu. Saya tetap menulis, namun untuk saya sendiri, untuk hal yang berkaitan dengan pekerjaan saya, maupun juga menulis yang tak perlu saya publikasikan.

Faktor lainnya, saya belakangan ini memang cukup sibuk dengan berbagai aktivitas. Antara lain kuliah (iya saya kuliah lagi, mengejar ekstensi dari D3 menjadi S1), bekerja, dan lain-lain.

Mungkin kelak ketika waktu tersedia serta terdapat dorongan untuk menulis yang dipublikasikan, saya mengakhiri masa vakum ini. Mungkin juga kelak ketika saya kembali menulis, dengan gaya yang berbeda. Mungkin juga tidak. Tapi yang pasti, vakum ini berlaku untuk waktu yang tak terbatas. Bisa jadi, vakumnya hanya satu hari. Satu minggu. Atau bahkan satu bulan, dan seterusnya.

Berhenti menulis di blog tak lantas menghentikan aktivitas saya di media sosial. Biar bagaimanapun, saya mendapatkan pengalaman, teman, relasi, dan banyak lagi dari blog dan media sosial. Saya hanya vakum sementara di blog, tapi tidak yang lain. Bisa digugling aja, saya aktif dan punya akun di mana aja. Atau bisa liat rangkumannya di sini.

Saya kira cukup sekian.

Terima kasih untuk yang membaca, telah membaca, dan tetap membaca tulisan-tulisan saya. Terima kasih.

Jakarta-Tasik: 15+2 jam di H-2 Lebaran

Juli 27, 2014 § 1 Komentar

Setelah 3 taun kemarin lebaran di Jakarta, maka taun ini saya akan lebaran di Tasik. Bukan sekadar lebaran, karena juga sekalian ziarah ke makam Ayah saya.

Bersama istri, anak, ibu, dan kedua adik saya berangkat dari Jakarta menggunakan mobil pinjaman dari seorang kenalan. Untuk perjalanan langsung Jakarta-Tasik, ini pertama kalinya untuk saya. Tapi kalo Jakarta-Bandung sudah sering, Bandung-Tasik pun sudah beberapa kali.

Perjalanan dimulai jam 9:30 pagi, dan sampai di tempat tujian jam 12:30 dini hari. Kurang lebih 15 jam perjalanan sudah termasuk 1 jam berhenti istirahat siang, 30 menit istirahat sore, & 1 jam istirahat makan malam. Belum termasuk 2 jam persiapan sejak mengambil mobil sampai dengan menjemput semua yang akan ikut mudik. Total 15+2 jam – 2x waktu durasi perjalanan biasa Jakarta-Tasik jika tidak saat periode Hari Raya.

Pada dasarnya, kemacetan yang terjadi sudah sesuai dugaan di ruas-ruas jalur selatan Jawa yang memang macet. Keluar tol Cikampek dan belokan ke Purbaleunyi, Rancaekek – sejak keluar tol Cileunyi, Nagreg, Limbangan, hingga Malangbong dan Ciawi. Selain itu juga terjadi di perjalanan menuju kota Tasik karena pengalihan arus menuju Ciamis yang tak bisa melewati Cihaurbeuti karena jembatan amblas sehingga harus melewati kota Tasik. Tak terbayang jika jembatan Comal di jalur pantura masih rusak, bisa-bisa kendaraan lebih padat dan akan macet sepanjang perjalanan saya.

Mudah-mudahan Lebaran besok (kalo jatuhnya di 1 Syawal di 28 Jul), memberikan kebaikan dan ketulusan bagi semua. Amin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 H.
Mohon maaf lahir dan batin.

Kamu mudik, ga?

Puasa Kali ini…

Juli 16, 2014 § Tinggalkan komentar

Hari ini, puasa sudah masuk hari ke-18 di Ramadan kali ini, udah setengah bulan lebih, dan sekitar 2 minggu lagi pun lebaran – Idul Fitri 1 Syawal 1435 H. Alhamdulillah, ga gitu berasa jumlah harinya, walau puasanya sendiri tetap berasa. Bukan, bukan lagi soal rasa lapar dan haus, melainkan sulitnya menahan untuk melakukan yang biasa dilakukan saat tidak puasa.

Tenang, hal-hal yang biasa aja kok, bukan yang ngeres-ngeres *nyapu*. :mrgreen:

Personally, hal-hal yang sulit ditahan untuk dilakukan pada saat bulan puasa kali ini itu…

1. Minum kopi. Kalo lagi ga bulan puasa, kadang pagi hari setiba di kantor saya nyeduh segelas kopi, entah itu instan ataupun engga. Ga mutlak selalu ada setiap hari sih, tapi ya kadang enak aja gitu ngopi pagi hari.

2. Minum air putih segera setelah bangun tidur pagi. Iyes, saya termasuk orang yang rutin minum segelas air putih setelah bangun tidur di pagi hari. Di bulan puasa kali ini, ada kalanya saya udah keburu megang gelas dan ngisi air minum, baru tersadar sedang puasa. Iya, ga sempet sampe diminum. :P

3. Tidur larut. Yep, sejak berlangganan TV kabel, saya terkadang tidur larut karena tertarik untuk menonton acara-acara atau bahkan film-film menarik. Tapi ya.. karena lagi puasa, mau gam au tidur harus lebih cepat karena jika tidak bisa-bisa terlambat untuk sahur – walau memang sih, konon lebih baik melambatkan sahur.

Well, yang paling berasa ya 3 hal itu. Sulit banget buat ditahan untuk dilakukan di puasa kali ini. *sambil mikir siapa tau ada lagi yang lainnya*

Kalo kamu ada ga hal yang sulit ditahan untuk dilakukan di puasa kali ini?

Pilihan Untuk Indonesia

Mei 29, 2014 § 1 Komentar

Sekali-sekali, ikutan arus ah nulis soal politik. :P

Jadi, tahun 2014 ini banyak yang bilang sebagai tahun politik. Ga lain, karena ada rangkaian pemilihan umum-pemilihan presiden yang diselenggarakan dengan jeda beberapa bulan saja. Tentunya, rangkaian pemilihan tersebut juga dimaksudkan untuk mengganti para wakil rakyat yang duduk di dewan, serta pemimpin negeri.

Buat saya pribadi, tahun 2014 ini (kalo ga salah itung) keikutsertaan saya yang ketiga kalinya dalam rangkaian pemilihan tersebut. Pertama terjadi di 2004, kedua di 2009, ketiganya ya di 2014 ini. Dari 3x ikut serta di ajang demokrasi terbesar di negeri ini, baru tahun 2014 ini saya melihat dengan nyata betapa terjadi “pembelahan” antara satu pihak dan pihak yang lainnya.

Mohon diperhatikan, kata pembelahan saya tulis dalam tanda kutip. Tak lain karena mungkin hal tersebut tak terlihat oleh mereka yang tenggelam di salah satu pihak, dan atau mungkin dulu saya abai dengan kondisi ini. :mrgreen:

Oiya, saya ga nulis siapa yang bakal saya dukung atau siapa yang saya ga dukung di postingan ini. Saya nulis postingan ini lebih karena saya gemas sekaligus tergelitik dengan mereka yang begitu gencarnya menyebarluaskan (kalo ga mau disebut ‘fanatik’) mengenai calon yang mereka pilih. Dan saya menemukannya hampir di seluruh jejaring (baik online maupun offline) yang saya ikuti. Iya, jejaring online maupun offline. Kalo pinjem bahasanya Pak Pres 2004-2014 mungkin bisa disebut sebagai keprihatinan.

Gemas rasanya mendapatkan linimasa jejaring sosial online saya penuh dengan isu-isu kekuranglayakan dari lawan calon yang didukung. Gemasnya karena saya mikir “kok ya sempet-sempetnya aja nyari kuranglayak-nya lawan calonnya”. Gemas karena kenapa ga effort yang digunakan tersebut sebenarnya bisa untuk menyebarluaskan kelayakan dari calonnya?

Saya tergelitik juga dengan berita-berita yang saya ikuti, betapa kampanye kejelekan (kalo ga disebut sebagai kampanye hitam) bermunculan di sana-sini. Menyerang calon yang sana, dan juga calon yang sini. Tergelitik karena sesungguhnya kreativitas untuk kampanye kejelekan tersebut sebenarnya bisa diberdayakan untuk kampanye kebaikan. Praktik riilnya, tentunya banyak yang lebih tahu dan lebih baik daripada saya.

Jadi, daripada sibuk mencari-cari kekurangan dari lawan, alangkah eloknya apabila kita bisa melihat pada kebaikan yang kemudian bisa saling mengisi dan melengkapi untuk membuat negeri ini jadi lebih baik.

Personally, siapapun yang saya pilih untuk Indonesia kelak, didasarkan dengan keyakinan dan harapan saya bahwa yang bersangkutan dapat memimpin negeri ini jadi lebih baik. Saya juga yakin dan berharap, siapapun yang terpilih kelak, akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik, dengan bermartabat, dan dijauhkan dari segala keburukan.

NB: blogpost ini bukan pesanan dari KPU, timses, dan atau dari salah satu capres/cawapres atau simpatisannya, melainkan murni opini saya pribadi. :)

Review: Pioneer VSX-923-K AV Receiver

April 14, 2014 § 10 Komentar

Kalau kemarin ada penghuni baru di rumah saya, sekarang ada penghuni tambahan lagi nih! Kali ini adalah Pioneer VSX-923-K AV Receiver. Wah makin lengkap aja nih penghuni rumah saya. :mrgreen:

Pas banget Pioneer X-CM51V-K jadi ada temannya. Berikut review saya mengenai Pioneer VSX-923 AV Receiver.

Pioneer VSX-923-K

Bentuk fisik:

Seperti bentuk AV Receiver pada umumnya, Pioneer VSX-923-K  AV Receiver memiliki desain minimalis dan seperti biasa, berwarna hitam.

Pioneer VSX-923-K

Pioneer VSX-923-K

Pioneer VSX-923-K AV Receiver dilengkapi dengan remote kontrol yang mempermudah pengaturan. Di bagian depan terdapat input HDMI, USB, hingga AUX. Selain itu ada tuning untuk volume, tombol-tombok untuk Auto Surround/ALC/Stream Direct, Standar Surround, Advance Surround, Eco, dan iPod iPhone iPad direct control.

Cara menggunakan:

Untuk pemasangan Pioneer VSX-923-K menurut saya harus teliti. Salah satunya, adalah dengan mempelajari buku petunjuk yang ada sepaket, dan memberikan penjelasan yang lengkap bagaimana cara memasang kabel untuk perangkat yang berbeda, seperti DVD, TV, speaker, hingga gadget.

This slideshow requires JavaScript.

Kualitas audio:

Untuk kualitas audio, Pioneer memang tidak perlu diragukan. Dengan menggunakan Pioneer VSX-923 AV Receiver, saya dapat mendengar suara-suara detail dalam film maupun lagu.

Sebagai orang cukup peka dengan kualitas suara dan pendengaran, saya suka dengan munculnya detail-detail suara yang tidak saya temukan apabila menggunakan speaker biasa. Gemericik air, hembusan angin, hingga berbagai detail suara lainnya yang bisa jadi “tertimbun” oleh noise.

Singkat kata, audio/suara yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Secara nilai dalam skala 10, saya kasih nilai 8.5.

Input dari Pioneer VSX-923-K AV

Keunggulan dari Pioneer VSX-923-K AV adalah bisa langsung connect ke gadget produk Apple seperti iPod, iPhone dan iPad. Bahkan kompatibel dengan iPhone 5 dan iPad mini. Selain itu ada input untuk LAN, HDMI, dan pastinya bisa mendengarkan suara langsung pakai earphone. Suara yang dihasilkan adalah 4K. Menonton film jadi berasa di bioskop banget.

Selain itu Pioneer VSX-923-K AV disebut smartphone friendly karena kompatibel dengan smartphone iOs, hingga Android. Apdet banget nih sama perkembangan jaman. Tinggal nunggu kemampuan mereka buat bisa terhubung dengan smartphone berbasis OS lainnya — Windows Phone dan BBOS.

Oiya, Pioneer VSX-923-K AV juga memiliki adaptor untuk bluetooth dan wireless LAN. Dengan ini saya bisa mendengarkan internet radio juga, jadi kita bisa mendengarkan radio-radio di seluruh dunia. Untuk menyambungkan Pioneer VSX-923-K AV harus dilengkapi dengan LAN converter (AS-WL300) yang dijual terpisah.

This slideshow requires JavaScript.

Pada perangkat Pioneer VSX-923-K AV juga ada ECO mode untuk menghemat energi. ECO mode ini dapat menganalisis daya listrik secara real time, menyesuaikan konsumsi daya sesuai untuk memenuhi kebutuhan sehingga dapat membuat lebih hemat energi. Lumayan nih, jadi tetap bisa menikmati hiburan dengan kualitas mumpuni dengan daya listrik yang hemat!

Aplikasi kontrol 

Pioneer memiliki aplikasi Pioneer ControlApp saya bisa mengontrol perangkat ini tanpa menggunakan remote. Aplikasi ini tidak hanya dapat mengontrol tetapi juga mudah digunakan. Aplikasi ini gratis untuk diunduh baik untuk pengguna iOS maupun Android.

apps control

Overall, Pioneer VSX-923-K ini nilainya 9 dari skala 10. Selain hasil review di atas, dengan adanya perangkat ini membuat saya semakin menikmati lagu-lagu dan film yang diputar.

NB: Kalo Pioneer VSX-923-K ini didukung juga oleh soundsystem yang lengkap macam home-theater di rumah dengan super surround, mungkin bakal bikin penilaian saya jadi 10, SEMPURNA. Secara, sound system di rumah saya ya… secukupnya aja. :mrgreen:

Hello 2 to 30

Maret 1, 2014 § 13 Komentar

Screenshot 2014-03-01 21.57.43

Ada yang bilang, semakin bertambahnya umur, maka orang tersebut akan semakin bijak. Entah benar ataupun tidak, saya sih berharap hal itu terjadi pada saya.

Iya, saya berharap bertambah bijak. Iya, saya bertambah umurnya. :) Alhamdulillah.

Dulu-dulu, jelang pertambahan umur saya berharap untuk memiliki sesuatu yang baru. Bahkan, sejak jauh-jauh hari atau bahkan bulanan, saya menargetkan untuk memiliki sesuatu – berupa barang untuk bisa saya miliki di hari pertambahan umur saya. Banyak cara yang saya harap untuk mendapatkannya, mulai dari menabung sendiri, hingga dengan berharap ada yang memberikannya. Tapi semakin ke sini, harapan tersebut makin jarang – kalo ga disebut memudar.

Kini, harapan saya makin sederhana namun mungkin agak sulit untuk diwujudkan. Harapan saya di hari pertambahan umur ini adalah… semoga kesehatan saya tetap terjaga baik hingga seterusnya, hingga lebih tua dari saat ini. Semoga saya diberikan kesehatan dan kesempatan untuk terus menikmati hidup, membahagiakan keluarga saya, serta berbahagia dengan pasangan serta anak-cucu saya kelak.

Amin.

Amin.

Amin.

Untuk urusan rezeki dan kematian, saya serahkan kepada Tuhan. Karena saya percaya semuanya sudah dituliskan oleh-Nya. Tinggal sayanya aja yang perlu berusaha untuk semakin baik, semakin maju, setiap harinya.

Terima kasih untuk istri saya, yang pertama kali memberikan ucapan pada awal hari sesuai dengan domisili (sementara) saya saat ini – di Jepang. Terima kasih juga untuk orangtua, saudara kandung, rekan-rekan kantor, teman-teman sejawat, sekampus, dan masih banyak lagi yang telah memberikan ucapan untuk saya di hari ini. Terima kasih telah mengingatnya.

NB: Postingan ini diterbitkan pada jam 10:34 PM pada GMT+9 – Waktu Osaka.

Badai Salju di Tokyo

Februari 21, 2014 § 6 Komentar

Badai Salju di Tokyo

Sejak akhir November lalu mendapat penugasan keluar negeri mulai dari Seoul, Korea serta kali ini ke Tokyo, Jepang, saya sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi winter atau musim dingin. Salju, angina kencang, suhu mendekati nol derajat atau bahkan di bawah nol, hingga rendahnya kelembapan adalah hal-hal yang harus diatasi sepanjang penugasan tersebut.

Syukurnya, kali ini akses informasi serta jaringan keuangan internasional sudah lebih baik dibanding saat saya pertama kalinya menghadapi musim dingin bersalju di negeri orang – 2007 lalu. Jadi, cara-cara untuk mengantisipasi musim dingin di Seoul, Korea dan Tokyo, Jepang pun sudah cukup siap. Mulai dari pakaian, sepatu, hingga makanan. Tapi, ada satu hal yang belum bisa diatasi, yaitu badai salju atau snowstorm.

Sebagai makhluk tropis, “bertemu” dengan salju itu adalah hal yang amat sangat disyukuri. Tapi, bagaimana dengan badai salju? Tentu sebagai makhluk yang terbiasa dengan suhu hangat, kelembapan tinggi, badai salju adalah hal terakhir yang saya harapkan akan saya temui dalam penugasan keluar negeri ini. Dan, “beruntungnya” hal terakhir yang saya harapkan tersebut menjadi kenyataan.

Pada periode penugasan ke Tokyo pada pertengahan Januari hingga awal Februari lalu, sekali dan mungkin pertama kalinya dalam hidup, saya “menghadapi” badai salju atau snowstorm. Untungnya, berbekal prakiraan cuaca yang bisa diikuti via internet dan juga TV lokal (walau berbahasa Jepang), saya sudah bisa memperkirakan kapan badai salju akan datang. Dan, tepat sehari sebelumnya sudah mulai mengumpulkan beberapa bahan makanan dan minuman di penginapan.

Jumat malam hari, 7 Februari, saya baru saja pulang dari membeli beberapa bahan makanan di Ameyoko, Ueno-Okachimachi bersama rekan-rekan setim dalam penugasan. Langit cerah. Angin bertiup lemah. Bahkan bulan pun terlihat jelas. Cuaca tidak menunjukkan bahwa keesokan harinya badai salju akan menghantam Tokyo.

Sekitar jam 2 dini hari Sabtu 8 Februari ketika saya tidur, saya masih sempat mengecek suasana luar melalui jendela di penginapan, dan semuanya masih sama seperti ketika saya pulang tadi. Ketika akhirnya terlelap jam 3 dini hari dan terbangun sekitar 5 jam kemudian, pemandangan di luar jendela sudah silau karena penuh dengan warna-warna putih. Salju sudah datang, dan hampir seluruh bangunan yang terlihat melalui jendela penginapan sudah diliputi salju.

Iseng, saya buka jendela dan kemudian memeriksa apa benar salju tersebut turun dan selesai atau memang ada badai seperti prakiraan cuaca. Hasilnya? Angin bertiup kencang. Dan iya, badai salju atau snowstorm datang sesuai prakiraan cuaca.

Pertanda lain bahwa badai salju datang adalah jalan kecil yang biasanya digunakan untuk akses depan penginapan dan bisa dilintasi oleh kendaraan roda 4, mendadak seakan-akan ditimbun oleh salju tebal. Beberapa warga sekitar penginapan bekerja gotong royong membersihkan tumpukan salju tersebut.

Jam 10, jam 11, jam 12, jam 1, hingga akhirnya jam menunjukkan sekitar jam 2 siang, saya pun memutuskan untuk keluar dari penginapan. Tujuannya: hendak mengambil refund uang tur yang sudah dibayarkan untuk jadwal hari Sabtu tersebut, namun dibatalkan karena cuaca. Cukup besar juga perjuangan untuk keluar dari penginapan hingga ke stasiun subway terdekat, karena benar saja salju tebal hampir di mana-mana, sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak terpleset. Belum lagi terpaan angin kencang dan juga salju yang masih turun deras.

Sekitar 30 menit perjalanan dengan kereta, uang tur pun sudah bisa di-refund. Setelahnya? Karena sudah berada di pusat kota, sekalian saja cari makanan jadi dulu sebelum pulang ke penginapan yang terletak di lokasi residensial. Hasilnya? “Mendapatkan” pemandangan badai salju di mana-mana. Walau angin kencang, salju yang turun begitu banyak, namun masih banyak penduduk Tokyo yang pulang pergi entah itu ke pusat perbelanjaan, bekerja, dan lain-lain.

Sekitar 3 jam kemudian, setelah selesai makan dan juga mencaritahu sebesar apa dampak dari badai saljunya, pulang pun menjadi pilihan utama. Karena dikabarkan bahwa beberapa line subway dibatalkan karena relnya tertutup salju, serta ada isu bahwa subway di hari tersebut akan tutup lebih awal – biasa last track jam 12an lewat, tapi karena badai salju maka jam 7an malam beberapa line akan mengakhiri layanan di hari tersebut.

Beruntung, subway line ke arah penginapan masih tetap beroperasi walau memang jam-jam 6an sore itu begitu banyak orang-orang yang mengantri di berbagai stasiun subway. Kalau di hari biasa, jam-jam ramai dengan antrian orang di subway station itu sekitar jam 7 malam lewat.

Alhamdulillah, walau menghadapi berbagai jalanan licin, angin kencang, salju turun yang begitu deras, akhirnya sampai dengan selamat di penginapan. Dan, setelah membaca beberapa berita, ternyata badai salju di hari Sabtu 8 Februari tersebut adalah salah satu badai salju terparah sepanjang sejarah Tokyo dengan beberapa korban yang jatuh dan subway banyak yang delay. Penerbangan di Tokyo pun terganggu di hari tersebut, dengan begitu banyak penerbangan yang delay dan penumpang menumpuk di bandara karena tak bisa terbang, namun juga kesulitan akses untuk pulang/keluar dari bandara. Beritanya bisa diliat di sini, di sini, atau di sini.

Alhamdulillah, saya selamat dari badai tersebut.

NB: Foto ilustrasi adalah milik AFP dan yang aslinya dimuat di artikel di sini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.426 pengikut lainnya.