8 jam sehari

Januari 30th, 2011 § 14 Komentar

Kegiatan apa yang kamu lakukan selama 8 jam setiap harinya? Makan, mandi, duduk, maen game, bersih-bersih, tidur, atau apa? Yep, jawaban yang bener adalah tidur. Etapi, meski begitu buat beberapa orang yang kerjanya adalah supir atau seneng travelling setiap harinya, bisa jadi 8 jam sehari dihabisin buat di jalanan atau buat di balik kemudi. Dan, bisa jadi orang2 yang tinggal di Jakarta justru lebih lama berada di jalanan ketimbang tidurnya gegara macet pol.. :mrgreen:

Well, back again to the topic itself, yang mau saya bahas di postingan ini adalah tidur. Iya, tidur. Kan, katanya kalo tidur yang ideal itu adalah sekitar 8 jam sehari. Jumlah itu kurang lebih sama dengan sepertiga dari jumlah waktu yang kita miliki selama satu hari — 24 jam. Keren, cuma buat tubuh biar tetep waktu istirahat yang ideal, sepertiga dari waktu kita sehari dihabiskan buat tidur. Kalo diakumulasi seumur hidup, berarti sekurang-kurangnya sepertiga dari umur kita di dunia dihabiskan buat tidur. Wew..

Well, oke.. lanjut. Setelah tau 8 jam adalah jumlah ideal buat tidur selama sehari, trus biasanya muncul pertanyaan. Kapan tidurnya? Berdasar gugling, banyak banget jawaban yang bisa diambil. Ada yang bilang kapanpun, asal jumlahnya tetep 8 jam sehari. Jadi, dicicil gitu — 4 jam malem, 2 jam pagi, dan 2 jam sore. Ada juga yang bilang, 8 jam sehari itu buat tidur malemnya aja. Kalo misal pagi atau siang dapet waktu buat tidur, ya juga gapapa. Saya sendiri, lebih setuju sama pendapat yang kedua — yang tidur malem selama 8 jam. Kenapa? Coz, biasanya sih pada saat malam hari kondisi manusia juga ga lebih fit dan produktif dibanding siang hari. Jadi, mending tidur 8 jam ya malem hari, sementara waktu pagi-siangnya dipake buat produktivitas. *sok jadi konsultan HRD* :lol:

Trus, gimana orang2 semacam pekerja malam? Tenang, buat orang-orang seperti itu bukan berarti ga boleh kerja malem dan harus produktif juga pas siang hari, buat mereka tentunya udah ada penyesuaian dalam jam biologisnya. Tau kan jam biologis? Singkatnya, jam biologis itu semacam ritme tubuh kita buat aktivitas dan istirahat setiap harinya. Nah, tentunya kalo pekerja malam jam biologisnya bergeser dibanding orang2 umum. Jadi, jam dia aktif dan produktif pindah ke malam hari, sementara jam istirahatnya pindah ke pagi dan siang hari. Nocturnal gitu deh.. — tiba2 keinget kelelawar, dan vampir “Edward Cullen” *eh*

Saya sendiri, selama ini belom berhasil menerapkan jam tidur yang ideal itu. 8 jam sehari buat tidur itu rasanya susaaaaahh banget buat dilakukan. Ada aja yang harus dilakukan setiap harinya, dan mau ga mau akhirnya jam tidurlah yang harus dipangkas. Paling banter nih, saya dalam sehari itu sering2nya tidur ‘cuma’ 4-5 jam aja. Itu jam tidur malamnya. Kalo ditambah curi-curi tidur pas pagi-siang-sore hari, mungkin jumlahnya jadi 6 jam sehari. Masih kurang 2 jam lagi buat tidur yang ideal, atau biar tampil cantik. *lha* :P

Biasanya, kalo jam tidur setiap harinya kurang, suka pada balas dendam dengan tidur yang lebih lama pada saat wiken — Sabtu & Minggu. Jadi, mumpung libur dan ada waktu luang, jadilah Sabtu dan Minggu itu dipake buat tidur seharian. Buat nambah-nambahin jam tidur Senin-Jum’at, yang kalo diambil rata-rata per minggu dapet 8 jam sehari. Padahal, perilaku seperti itu ga sepenuhnya bener. Coz, yang dibutuhkan istirahat kan setiap harinya, bukan diakumulasi per minggu. Apalagi, kalo sampai berlebihan bisa jadi berakibat pada kematian! Hii.. sereeemmm….

Phew.. jadi bener kudu bikin taktik bin strategi yang alus nih biar bisa dapet istirahat cukup, tidur ideal, dan ga kecapean. Coz, orang kurang tidur, pasti akan ditandai dengan gampang marah, mudah emosi, konsentrasi berkurang, dan gampang capek. Yeah, been there and sometimes still doing it. :P

NB: gambar diambil semena-mena dari sini.

Kamu sendiri tidur berapa jam seharinya? Gimana kalo kita bikin gerakan tidur ideal aja? :P

Equilibrium

Januari 25th, 2011 § 3 Komentar

Sesungguhnya, hidup itu benar-benar dalam keadaan kesetimbangan.

Iya, setimbang. Saya dengan kesadaran penuh menulis kata setimbang, yang dalam bahasa Inggris juga ditulis sebagai equilibrate. Dan, kesetimbangan ini sendiri, bernama asli dalam bahasa Inggris, equilibrium.

Konsep dan juga kata kesetimbangan atau equilibrium itu, muncul dalam benak saya untuk kemudian dibuat ke dalam sebuah blog post, tak lain karena percakapan dengan seorang teman melalui YM. Kurang lebih diawali dengan sebuah informasi standar, kemudian curhat, dan kemudian muncul beberapa petuah dan nasihat. Dan, salah satunya adalah mengenai sebuah kesetimbangan. Mengapa bisa? Karena hidup, butuh kesetimbangan. Apa yang kita terima, butuh kita keluarkan kembali, baik itu dalam bentuk yang sama, atau berbeda. Baik itu dalam cara yang sama, ataupun berbeda. Intinya, harus terjadi sebuah proses yang saling timbal-balik, aksi-reaksi.

Dalam percakapan yang terselenggara melalui YM tersebut, konsep kesetimbangan yang muncul tak lain terjadi dalam konteks dunia kerja. Iya, saya akui saya bukan seorang konsultan Sumber Daya Manusia (SDM), bukan pula seorang lulusan sarjana Psikologi atau Antropologi, bukan pula seorang pemerhati SDM. Saya hanya kebetulan saja, senang untuk memperhatikan konsep pekerjaan sebagai sebuah proses dan sekaligus juga sebuah produk. Bingung? Oke, secara sederhana sebagai berikut.

Untuk saya, proses pekerjaan itu merupakan salah satu anugerah dari Tuhan kepada manusia, untuk mempelajari kehidupan. Bekerja merupakan salah satu alternatif pembelajaran hidup. Dan, bekerja itu sendiri buat saya terbagi menjadi 4 bagian, yakni: Merencanakan (Planning), Melaksanakan (Eksekusi), Mengulas (Evaluasi), dan Membagi (Sharing).

Berencana merupakan tahapan yang paling penting sebagai awal bekerja. Dengan perencanaan yang baik dan bagus, sudah hampir dapat dipastikan, pekerjaan yang dilakukan akan sukses. Karena, gagal berencana, berarti berencana untuk gagal. Tapi, berencana pun haruslah jeli dan lihai. Kita harus membuat beberapa rencana yang saling mendukung, saling terkait, dan saling mengenai. Sehingga, dikenallah plan A, plan B, dll. Sesungguhnya, menurut saya itu bukanlah pilihan darurat, melainkan seharusnya menjadi rencana pendukung. Demikian.

Pada prosesnya, rencana itu sendiri juga boleh untuk berubah. Tapi, bukan berarti diganti secara total. Rencana haruslah tetap berjalan, sesuai tujuan semula. Sehingga, proses pelaksanaan (eksekusi) dapat berlangsung. Karena eksekusi itu penting adanya, agar kita bisa mengetahui bagaimana kualitas dari rencana kita. Dengan eksekusi, kita dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya praktik dari rencana itu.

Selesai? Belum! Masih ada pengulasan atau review, atau evaluasi. Selesai mengeksekusi, jangan langsung lari dan menyatakan diri bebas. Justru, pekerjaan tersebut memasuki tahapan yang cukup berat. Dengan evaluasi, atau mengulas, kita harus bisa lebih teliti dalam melihat kilasan-kilasan kejadian eksekusi. Kita harus tahu detil, dan juga kekurangan dan kelebihan dari eksekusi yang sudah kita rencanakan di awal. Fungsi dari ulasan atau evaluasi ini, untuk menentukan rencana selanjutnya dan juga untuk membuat sebuah analisa dan strategi. Intinya sih, sebuah pembelajaran atau ilmu baru.

Nah, untuk melengkapinya, perlulah dibuat sebuah proses berbagi tentang pekerjaan tersebut, yang dimulai dari rencana-eksekusi-evaluasi. Kenapa? Karena sadar atau tidak, dari 3 tahapan itu saja, sudah begitu banyak ilmu yang kita dapatkan. Jeli atau tidak, detil atau tidak, begitu banyak ilmu yang kita serap dan atau ingat. Nah, ilmu itulah yang harus kita bagikan kepada khalayak ramai. Bagaimanapun caranya, siapapun penerimanya, seperti apapun durasinya, ilmu tersebut harus kita bagi. Karena dengan berbagi, gelas yang ada di dalam diri kita takkan terlalu penuh, dan dalam kondisi yang ideal. Karena sebagian isinya sudah kita tumpahkan sebagian pada mereka yang (siapa tahu) memerlukan.

Dan, sebenarnya berbagi itu juga bisa memberikan kita ilmu yang baru. Yakni, ilmu berbagi. Dalam berbagi, kita dituntut untuk bisa berkomunikasi yang baik, bisa menyampaikan dengan tepat, dan tidak menyebabkan kesalahpahaman (misleading). Sehingga, lebih banyak keahlian (skill) yang akan kita asah, dan kembali ilmu tersebut akan kembali terisi kembali.

Konsep ini yang sedikit-sedikit, saya  coba untuk laksanakan. Memang, belum sebanyak teman-teman di sini, tapi setidaknya saya berharap di akun twit saya, ada beberapa ilmu yang bisa saya bagikan. Dan, mudah-mudahan ketika saya sudah selesai membagi ilmu tersebut, saya juga ingat untuk kemudian mengumpulkannya dan membuatnya menjadi sebuah dokumentasi yang tertata, dan kalau bisa jadi sebuah blog post. :mrgreen:

Secara ga langsung, dengan berbagi itulah hidup dapat menjadi setimbang. Karena, kita mendapatkan dari sebuah sumber, kemudian kita proses sesuai kebutuhan, menikmati hasilnya, dan kemudian berbagi sebagian dengan orang lain. Sungguh, hidup akan sangat indah jika begitu banyak orang mau berbagi, dan jadilah dunia ini setimbang!

Hidup kamu udah setimbang, belum?

Masih Banyak Orang Baik di Indonesia

Januari 19th, 2011 § 13 Komentar

Hujan. Pagi ini Jakarta diguyur hujan. Jalanan licin dan udara dingin praktis jadi sarapan pagi. Tapi, buat beberapa orang yang harus dan terbiasa untuk berangkat pagi ke kantor, bahkan hujan pun harus ditembus. Sambil tetap berharap, ga ada kemacetan luar biasa yang bisa terjadi. Ga ada kemacetan yang sampe bikin stuck dan bahkan parkir. Mau itu kendaraan dengan jumlah roda apapun.

Hujan. Mengendarai kendaraan harus ekstra hati-hati. Perlu mata yang awas, dan tangan plus kaki yang lincah. Salah-salah, bisa terjadi kecelakaan, baik itu ditabrak, menabrak, atau terjatuh karena jalanan yang licin, kondisi jalanan yang padat, sampai angin yang bertiup kencang.

Seperti yang terjadi pagi tadi, sambil saya berangkat ke kantor naik sepeda motor, di kisaran fly over Simprug-Permata Hijau terjadi sebuah kecelakaan kecil. Seorang pengendara sepeda motor terjatuh, dan motornya guling. Sendiri memang, bisa jadi karena jalanan yang licin, seharusnya tak jadi soal, tetapi ada yang lain dari pengendara motor ini. Ia membawa muatan beberapa kotak donat buatan rumah untuk dikirimkan ke berbagai tujuan. Sontak, motor yang guling membuat kotak-kotak berisi donat tersebut menghambur di jalanan, dan bahkan beberapa donat tercecer di jalanan pagi yang basah.

Kasihan. Hanya karena sedikit kurang hati-hati, perjalanan paginya mengantar donat yang akan bisa jadi sumber penghasilannya hari ini, terganggu. Dan, bukan tidak mungkin penghasilannya hari ini akan terpotong, atau bahkan hilang sama sekali.

Walau begitu, masih ada yang bisa dilihat secara perspektif lain. Yakni, beberapa pengendara motor yang kebetulan lewat di jalanan yang sama langsung menepi dan sigap membantu pengantar donat tersebut. Mereka tak saling mengenal, tak pernah tahu ke mana donat tersebut akan dikirim, dan masing-masing belum sampai di tujuan. Tapi, mereka bersatu, bahu-membahu menolong pengantar donat tersebut. Ada yang membantu mengangkat motor sehingga tegak kembali, ada yang memegangi sang pengantar donat, hingga ada yang memunguti dan merapikan donat-donat yang harus diantar sambil memisahkan antara donat yang terlihat masih baik dan donat yang sudah jatuh dan tercecer di jalan raya.

Perilaku tersebut walau kecil dan belum tentu diketahui banyak orang, tentu merupakan cerminan bangsa ini. Di tengah-tengah situasi sosial dan politik yang terdapat kesenjangan, masih ada orang-orang yang saling memerhatikan dan membantu walau tak mengenal satu sama lainnya. Mereka saling menolong, tanpa mengharapkan imbalan. Mereka langsung berhenti dan membantu pengendara motor walau mereka sendiri memiliki kepentingan masing-masing di pagi hari ini. Mereka merupakan keluarga, yang tidak sedarah namun seperjalanan.

Prinsip kekeluargaan itulah yang membuat orang-orang menolong pengantar donat tersebut. Sebuah prinsip yang sepertinya sudah lama tidak terdengar, dan hanya menjadi bayang-bayang ingatan akan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila / Pendidikan Pancasila dan KewargaNegaraan saat sekolah dulu. Prinsip, yang seharusnya membuat bangsa dan negara ini menjadi lebih baik. Karena ternyata masih banyak orang baik di Indonesia.

Iya, masih banyak orang baik di Indonesia. Orang-orang yang tak memikirkan perbedaan agama, kepentingan, pandangan, atau bahkan latar belakang. Orang-orang yang sedia dan sigap untuk langsung menepi dan menolong. Seperti para penolong pengantar donat tersebut. Seperti beberapa teman-teman, yang bisa berbagi ilmu dan keahlian. Salah satunya, adalah mereka yang berada di Akademi Berbagi.

Ah, mudah-mudahan saya termasuk orang yang bisa berbagi kebaikan tersebut, walau tidak tergabung dalam Akademi Berbagi. Amiiin…

NB: ini bukan postingan berbayar.

Apa kebaikan yang sudah kamu lakukan hari ini?

Billy Bercerita…

Januari 14th, 2011 § 13 Komentar

Pada hakikatnya, setiap orang itu adalah pencerita (storyteller). Kenapa? Karena begitu manusia bisa bicara, maka dia pun bercerita. Apapun bisa jadi cerita. Mau itu cerita bohong, khayalan, peristiwa, sampai cerita yang fantastis. Semua adalah cerita.

Saya juga senang bercerita. Mau itu lewat bicara, ataupun menulis. Mau itu lewat ucapan, ataupun tulisan. Intinya, saya senang buat bercerita. Cerita khayalan, buatan, atau fiksi, sampai cerita yang bukan buatan, laporan, atau artikel untuk media massa. Yah, saya senang bercerita banyak faktornya, tapi yang pasti sudah sejak lama saya senang bercerita.

Seperti yang bisa dilihat di sini, salah satu bahan cerita saya sudah pernah dibukukan dan terbit dalam bentuk novel. Selebihnya? Bisa juga disimak di sini, sebagai rangkaian cerita yang sambung-menyambung — meski belakangan ini saya sedang kehabisan cerita bersambung.

Dan, agar tetap bisa bercerita, maka kita harus berlatih. Caranya gampang saja, yakni seringlah mengingat, menuliskan kembali, atau menceritakan kembali. Kalo menceritakan kembali, gapapa dibilang sedikit sinting karena belum tentu ada orang lain yang mau mendengarkan. Tapi, justru itulah seninya pencerita (storyteller), karena dia harus bisa menarik orang banyak untuk mau mendengarkan ceritanya. Beda halnya, dengan bercerita melalui tulisan, karena kita harus bisa mempertahankan pembaca untuk tetap menyimak cerita kita dari awal, tengah, hingga akhir.

Ada kalanya bercerita pun tak harus panjang-panjang. Ini juga sebagai bentuk latihan. Dan, jujur saja, belakangan ini saya sedang gemar sekali bercerita dalam bentuk pendek, alias singkat. Iya, cerita singkat. Mungkin sebagian akan menyebutnya sebagai cerita pendek, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai cerita singkat, karena alurnya tidak detil seperti lazimnya cerita. Begitu..

Bingung? Oke, kalau begitu tak perlu menunggu lama, dan langsung saja menuju blog saya yang lain, yang judulnya sama seperti postingan ini, Billy Bercerita, atau ketik alamat ini — http://billykei.posterous.com.

Yuk, nikmati cerita saya, dan mari kita bercerita!

Di mana saya?

You are currently viewing the archives for Januari, 2011 at i don't drink coffee but cappuccino.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.