setelah (hampir) 3 tahun
Mei 30th, 2011 § 12 Komentar
Akhirnya, postingan ini saya buat juga. Salah satu postingan yang cukup susah dan berat saya buat, tapi mau ga mau, harus saya buat dan post di sini. Bukan, ini bukan soal saya bakal berenti ngeblog
siapa loe, Bil? , tapi soal ke kegiatan saya sehari-hari.
Hari ini, 30 Mei 2011, sudah hampir 3 tahun sejak saya menjadi bagian dari tempat saya bekerja. Kalo dihitung secara tepat, sudah sekitar 2 tahun 10 bulan 30 hari, sejak 1 Juli 2008 saat saya pertama kali menjadi bagian dari Tabloid RUMAH, di Kelompok Kompas Gramedia.
Selama hampir 3 tahun itu, banyak sekali hal yang terjadi pada saya. Mulai dari berkantor di Palmerah, kisaran Senayan hingga kemudian pindah ke Jalan Panjang, Kebon Jeruk. Mulai dari staf redaksi dengan usia karir termuda, hingga terakhir menjadi Editor di iDEA Online – sambil masih tetap menjadi redaksi dan officer untuk digital strategies di Tabloid RUMAH yang melingkupi migrasi data dan modifikasi tampilan website Tabloid RUMAH, serta aktivasi twitter @tabloidrumah, aktivasi fanpage & group Tabloid RUMAH di facebook, hingga aktivasi produk turunannya seperti Serial RUMAH & Space Magazine.
Saya masih teringat ketika pertama kali bergabung dengan Tabloid RUMAH. Hari pertama saya bekerja, saya menggunakan kemeja cokelat muda, dan celana panjang cokelat tua berbahan katun. Setiba di kantor redaksi Tabloid RUMAH, saya langsung diperlihatkan tempat kerja oleh mbak Dian Evitani (sekretariat redaksi), dan kemudian ujug-ujug diajak rapat persiapan Sayembara Desain Rumah 2008 “Rumah Urban” bersama redaksi yang lainnya. Selesai rapat, saya pun diberi pengarahan singkat oleh Mbak Sisca (kala itu menjadi wakasie untuk Tabloid RUMAH), mengenai produk Tabloid RUMAH, apa saja materi & cirinya, hingga diberikan job desc yang cukup singkat, namun harus segera saya pelajari dan kerjakan.
Bekerja sebagai staf redaksi Tabloid RUMAH, yang notabene merupakan media cetak dengan oplah yang besar, menuntut setiap redaksinya mampu melaksanakan liputan. Pertama kali liputan, saya nebeng dengan Mbak Rahma, memotret salah satu rumah untuk rubrik renovasi, di kisaran BSD. Fotografernya kala itu, Tan Rahardian, yang akrab dipanggil Papah — sampai sekarang, beliau masih menjadi fotografer di Tabloid RUMAH lho..
Kemudian, kesempatan saya untuk membuat tulisan pertama saya sebagai staf redaksi Tabloid RUMAH pun tiba. Pada Tabloid RUMAH edisi 141, saya mendapat penugasan rubrik Arsitektur. Kala itu, saya menulis mengenai Rumah Menteng, sebuah bangunan yang memiliki ciri khas Mediterania, dan sering disewa untuk berbagai event, hingga shooting film. Penulisan Rumah Menteng untuk rubrik Arsitektur di Tabloid RUMAH pun dibarengi dengan menulis untuk Serial RUMAH yang akan terbit dengan tema Rumah Etnik.
Sejak penerbitan tulisan pertama itu pula, saya pun mendapat penugasan untuk rubrik-rubrik lainnya di Tabloid RUMAH. Mulai dari Rumah Kita, Renovasi, Eksterior, Sudut, Peranti, Properti, hingga Interior. Dari berbagai rubrik tersebut, saya paling gemar menulis rubrik Properti, karena saya berkesempatan untuk bertemu dengan para pengembang perumahan, mendapatkan insight tentang perumahan yang sedang dibangun, hingga bertemu dengan para pemegang peranan penting di dunia properti Indonesia, seperti Menteri Negara Perumahan Rakyat, dan Ketua Real Estat Indonesia.
Selama berada di Tabloid RUMAH, dan terakhir juga ikut mengurus iDEA Online, banyak hal-hal baru yang saya pelajari. Mulai dari pengembangan material bangunan, jenis dan bentuk bangunan, hingga cara berbicara dan bercakap-cakap dengan orang lain. Menjadi seorang staf redaksi Tabloid RUMAH, yang notabene merupakan pekerja media (baca: wartawan), haruslah memiliki sifat dan sikap yang cair, lugas, gesit, ulet, dan aktual.
Hal-hal baru lainnya yang juga saya pelajari kemudian, adalah mengenai konsep strategi digital untuk brand, yang dalam hal ini adalah media cetak yang ikut aktif di dunia digital atau online. Mulai dari pengurusan dan pemilihan nama akun, alamat URL, pemilihan kata, hingga kalimat status yang tepat dan mampu mengundang komentar adalah beberapa hal yang harus dicermati. Belum lagi harus sedia setiap saat – hampir 24/7 untuk menjawab dan merespon komentar-komentar yang masuk, hingga mengawasi traffic dan perilaku para pembaca dan “pelanggan”.
Singkat kata, selama hampir 3 tahun itu adalah proses yang begitu panjang, baik bagi hidup maupun karir saya. Apalagi, salah satu passion hidup saya adalah menulis, dan semasa kecil dulu saya sempat bercita-cita untuk menjadi wartawan! Well, it means a lot for me.. Yeah, it does..
Kalau pada bingung apa maksud postingan saya ini, oke.. Saya kasih kalimat singkatnya saja,,
Saya mengundurkan diri dari staf Redaksi Tabloid RUMAH, sekaligus dari penjabat Editor iDEA Online. Hal ini akan sekaligus juga diikuti dengan pengunduran diri saya sebagai karyawan Kelompok Kompas Gramedia.
Pengunduran diri saya akan berlaku efektif sejak bulan Juni 2011 besok. Tanggal tepatnya, ga perlulah saya ungkapkan di sini. Yang pasti, pertengahan Mei 2011 kemarin saya mengajukan surat resign-nya.
Pertanyaan lanjutan pun akan muncul, yakni kenapa dan ke mana? Mari saya jawab secara sederhana saja, Saya ingin lebih dekat dengan istri saya. Demikian. Beberapa teman dan pembaca blog saya, mungkin sudah bisa menerka apa maksudnya. Beberapa lain, mungkin tidak. Tapi ya, kurang lebihnya begitu, walau mungkin ambigu.
*dijitak karena sok misterius*
Dan, walau tak lagi bergabung dengan Tabloid RUMAH ataupun iDEA Online, saya tetap akan ngeblog dan tentu saja menulis. Walau hasil tulisan saya akan berada dalam bentuk lain, sementara ngeblog salah satunya akan tetap berada di sini.
Terima kasih tak terhingga saya ucapkan pada tim Redaksi Tabloid RUMAH: Mas Wisnu, (Mamah) Dian Kardha, Mas Alfa, Jaclyn, Mbak Sisca, Mbak Rahma, Iron, Tya, Iko (yang sudah lebih dulu berkarya di tempat lain), Kang Fatur, Ilham, (Oma) Erly, Bang Hotmian, Mbak Dewi, Irfan, Mbak Dian Evitani, Amy, Mbak Putri, hingga (Papah) Tan Rahardian, Mas Endhy, Mbak Ade, Mbak Enie, Mas Adi, Mbak Shinta (yang juga sudah lebih dulu berkarya di tempat lain), dan Dhiska.
Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih pada teman-teman redaksi iDEA Grup: Teh Reni, Anissa, Achi, Kang Zaka, Agah, Tigor, Fredi, Devi, Mbak Dewi Kartini, Mas Indra, Kiki, Pak Ato, Nanda, Mbak Annur, hingga Melo, Mas Richard, Mbak Tri, Geta, Mbak Luis, dan Mas Denny Subchan.
Dan, masih ada keluarga besar Prima Info dan para ‘alumni’-nya yang tak mungkin saya tuliskan satu persatu.
It such a journey, and so happy to have a history with all of you. Thank you.
Jadi, ke manakah saya akan ‘berlabuh’ setelah pengunduran diri? *pake gaya Feni Rose – Silet* *siap terima sponsor buat hadiah, kalo-kalo ada yang anggap ini kuis*
(minimal) 3 jam sehari
Mei 23rd, 2011 § 23 Komentar
Dulu, saya pernah nulis tentang jam tidur yang ideal per harinya. Iya, yang 8 jam sehari itu lho. Trus, saya juga pernah nulis soal jumlah jam seharinya. Yang 24 jam itu lho.. Nah, kali ini saya juga mau nulis yang ada hitungan jamnya. Soalnya, entah kenapa sekarang ini, atau tepatnya mulai masuk taun 2011 ini, setiap jamnya, atau waktu semakin berharga buat saya.
Seperti postingan sebelumnya, saya mau tanya dulu. Apa yang kalian lakukan (minimal) 3 jam setiap harinya? Yah, seperti yang saya tulis jadi judul postingan ini deh..
Jawabnya pasti bervariasi, tapi saya tebak-tebak dikit ya.. Yang dilakukan (minimal) 3 jam sehari itu:
- Jalan-jalan di mal.
- Sekolah/belajar.
- Kerja.
- Ngelakuin pekerjaan rumah: nyapu, ngepel, nyetrika, masak, dll.
- Makan. — terutama buat yang “penggila” makan.
Ada yang nyangkut? Gimana kalo saya tambahin satu lagi yang cukup vital buat kegiatan sehari-hari, dan ga bisa dielakkan. Yaitu, di jalan alias selama berada di transportasi dari dan ke suatu tempat. Vital, dan cukup sering kita lakukan. Tanpa disadari, bisa-bisa 3 jam lho secara total setiap harinya, kita habiskan “cuma” buat berada di jalan atau berada di perjalanan.
Belakangan ini, saya jadi mikir sendiri. 3 jam “cuma” buat berada di perjalanan dari dan ke suatu tempat. Kena panas, dingin, angin, asap knalpot, keringetan, bau, dan capek juga tenaganya plus kudu waspada terhadap segala macem, mulai dari pengendara kendaraan laen, peraturan lalu lintas, sampe para oportunis macam jambret atau copet.
Yah, ini lebih karena saya tinggal dan kerja di Jakarta sih, kalo di kota laen mungkin beda cerita. Tapi tetep aja, 3 jam “cuma” buat berada di perjalanan. Rasanya ya.. gimannaaaa gituh.. *mikir*
Kalo pengen tau (minimal) 3 jam sehari di perjalanan saya itu ngapain aja, jadi gini: pagi hari dari rumah di sekitaran lenteng agung, saya nganter istri ke kantornya di sekitaran pulomas dan kemudian lanjut ke kantor saya di sekitaran kebon jeruk. Kalo diliat di peta, ujung ke ujung Jakarta lho.. *bangga*
Dan, itu kurang lebih udah habis sekitar 2-2,5 jam setiap kalinya. Dan, baru deh pulang kerja setiap harinya, kurang lebih 1 jam setiap sore/malemnya. Total, (minimal) 3 jam sehari kan?
Trus, pasti muncul pertanyaan: Kenapa istri ga berangkat sendiri aja? Well, jawaban saya sederhana aja sih. Karena saya ga mau kehilangan waktu bersama istri saya cukup banyak setiap harinya. Macam lagunya Aerosmith lah, yang “I Don’t Wanna Miss A Thing”. *lebay*
Anyway, balik lagi ke soal di jalan tersebut, lama-lama saya ga nyaman juga. Saya pengen protes, sekeras-kerasnya. Ke siapa lagi, selaen ke sesama pengguna jalan yang bikin perjalanan jadi lebih lama. Tapi ya, nanti bisa jadi pisau bermata dua. Berbalik lagi ke saya, karena saya juga pengguna jalan, yang (bisa jadi) bikin perjalanan orang lain jadi lebih lama. Intinya sih, saya mencoba buat ikhlas sambil nyari jalan keluar terbaik.
Dan, sepertinya sih.. saya sudah cukup mendapat petunjuk apa jalan keluar terbaiknya. Bismillah, mudah-mudahan ini jadi berkah.
Kalo mau tau apaan, tunggu aja tanggal mainnya yaa..
Tebak-tebakan yuk, kira-kira apa hayooo??
*mikirin hadiahnya apaan buat yang nebak bener*
Food Tasting Panel @ SushiGroove!
Mei 5th, 2011 § 15 Komentar
Sushigroove!
Sushi! Semenjak kenal dengan cara makan pertama kali sushi sejak 2010 lalu, saya jatuh cinta dengan makanan sushi. Sebenernya, udah lama sih saya kepengen banget makan sushi, apalagi saya termasuk penyuka makanan laut, tapi baru kesampean makan sushi pertama kali ya 2010 lalu itu..
Anyway, semenjak saya tau kalo sushi itu enak, jadilah saya suka hunting resto-resto sushi di mana-mana. Kebetulan, istri saya juga suka makanan laut, jadilah resto sushi jadi semacam resto wajib kunjung gitu.. :mrgeen:
Dan, kebetulan pula, bermula dari ajakan di milis @KopdarJakarta dari Ina, saya pun bisa dapet undangan buat jadi salah satu member food testing panel di SushiGroove di CityWalk! Salah satu resto sushi favorit saya dan istri buat makan sushi. Kejadian food testing panel sendiri, kurang lebih seminggu yang lalu. Tepatnya, Rabu 27 April 2011 lalu.
Ada sekitar 12 menu baru di SushiGroove yang jadi menu buat dites. Hmm.. biar ga lama, langsung saya kasih tau aja ya apa aja menunya, dan apa pendapat saya soal menu-menu tersebut. Oiya, peringatan dulu nih.. Siapin tisu atau lap sebelum nerusin baca yaa.. Nanti kalian bisa ngiler liat fotonya.. Hihihi..
1. Angry Birds

- Ukurannya besar, bikin lama di mulut kalo dikunyah dalam sekali suap. Iya, saya paling suka makan sushi dalam sekali suap dan dirasain sepenuhnya dalam mulut. *maruk*
- Nasinya kurang padet nih, jadi sebagiannya sedikit bersisa dan nempel di gigi setelah ngunyah.
- Sesuai namanya “Angry” sepertinya konsep menu ini maksudnya pengen pedes. Karena saya suka pedes, jadinya perlu ditambah pedes kali yaa..
2. Aligator Roll

- Saya pertama denger namanya takjub, apa iya ini sushi dari daging buaya? Ga taunya, bukan! Tapi lebih ke konsep sajiannya gitu. Unik!
- Sushi ini ada alpukatnya lho, jadi pas dimakan di mulut ada sensasi manis gitu. Sweet!
- Setiap slice-nya kurang padet, jadi gampang ancur pas dijepit pake sumpit.
3. Salmon Mentai Roll

- Sebelom pendapat lebih jauh, saya mau kasitau kalo daging ikan salmon itu enak lho.. Jadi, saya berharap banyak sama sushi ini. Dan, emang ga salah harapan saya, karena emang ternyata sushi ini enaaaakkk!!
- Saus mayonnaise yang dicampur sama saus mentai-nya oke banget, lumer dalem mulut setelah disuap.
- Dan, yang paling saya pengen adalah ukuran daging salmonnya ditambah besar yaaa.. biar lebih berasaaaa.. *maniak salmon*
4. Shibuya Roll

- Nah kalo yang ini pas denger namanya, entah kenapa jadi keingetan sama nama kereta. Aneh
tapi, walau begitu sushi ini enak juga lho. Salah satu komponennya adalah unagi, atau belut! Dagingnya enak dikunyah, dan bikin betah lamaan dikit di mulut.
- Rasanya juga mixed antara gurih dan seger dari timunnya. Yummy!
5. Pirates Roll

- Meski namanya “Bajak Laut” (Pirates), tapi dia ga berbentuk tengkorak. *apasih* Anyway, sushi roll yang satu ini sepertinya dinamain Pirates karena dia punya rasa spicy! Tapi, buat saya sih, yang juga cukup suka rasa pedes, kurang nih rasa spicy-nya. Kurang nendang gitu.. kudu ditambah cabe bubuk dikit, biar lebih sreg.
- Sementara itu, ukurannya udah pas koooqq..
6. Unamon Roll

- Ini baru unik. Sushi roll ini paduan antara unagi (belut) dan salmon! Tampilannya sih seru gitu.
- Campuran alpukatnya bikin rasanya tambah unik, tapi sepertinya harus dikurangin jumlahnya atau ukurannya. Coz, ngilangin rasa unaginya.
- Slice/potongan salmonnya udah oke, dan rasanya pas!
- Saya sih kemaren makan ini ditambah mayonnaise, dan rasanya jadi lebih dahsyat!
7. Devil Tuna Roll

- Oke, seperti udah saya bilang sebelomnya kalo saya suka makan makanan laut. Dan ikan tuna kan termasuk. Jadi sushi roll ini udah langsung masuk target saya makan di laen kali saya ke SushiGroove.
- Rasa pedesnya seru, bikin bertahan di lidah. Nempel gitu.. kalo yang ga suka pedes, ada baiknya jangan makan sih.
- Rasa tunanya sendiri udah oke banget. Mantap!
8. Saboro Chicken Roll

- Khusus sushi roll yang ini, ada rasa ayamnya. Rasanya paduan antara manis dan gurih gitu. Ditambah kecap asin, bakal lebih nikmat lho..
- Sushi roll ini juga diliputi Saboro, atau daging giling ayam di sekitarnya. Pas dimakan, bikin nempel di lidah dan rasanya jadi lebih oke.
- Trus, dari tampilannya sih dia sedikit dipanggang gitu. Bikin enak diliat dan penasaran!
9. Black Pearl Roll

- Bukan, ini bukan kapalnya Jack Sparrow meski namanya mirip. Sepertinya sih, disebut Black Pearl karena dia pake daging asap (smoke beef) dan juga rasanya spicy.
- Jujur, saya pas makan sushi roll ini penasaran lho buat nambah lagi, dan lagi. Semacam ketagihan gitu. Mungkin karena paduan smoke beef dan rasa spicy-nya itu kali yaa..
- Singkat kata, sushi roll ini enaaakkk!!
10. Firefly Roll

- Sushi roll kali ini bukan terbuat dari daging kunang-kunang (firefly) melainkan dari udang. Pas digigit, paling berasa nih udangnya lho..
- Tapi makan sushi roll ini kudu ati2, kan ada potongan cabe di atasnya. Nah, jangan sampe kegigit terakhir! Karena pedesssss.. kalo mau nikmat, gigit cabenya sekalian pas sushi rollnya masih banyak.
11. Deep Forest

- Ini juga sushi roll yang unik. Dia sushi roll yang dibuat dari sayur-sayuran. Unik! Rasanya juga segeeerrrr… tapi, kudu ditambah bumbu lain nih, biar ga tawar.
12. Mango Megumi Roll

- Aroma mangganya langsung kecium bahkan sebelom dimakan. Pas disuap, lebih mak nyess lagi ke idung. Mangga seger yang manis dan warnanya kuning! Empuk pula pas digigit!
- Overall, rasanya fresh lho..
Dan, dari sekian 12 sushi roll baru dari SushiGroove, favorit saya adalaaaahh… Salmon Mentai Roll! Recommended banget deh pokoknyaa..
Yuk, makan sushi yuk! Bayarin saya makan yaaa..
NB: Foto-foto keren ini dibuat oleh @umenumen.
Pada ngiler ga?
get a blog will ya!
Mei 3rd, 2011 § 22 Komentar
Get a blog will ya!
Saya kurang tau persis nulisnya gimana, tapi kurang lebih emang seperti itu bukannya kalo kita pengen nyuruh seseorang buat ngelakuin sesuatu, tapi dalam bahasa Inggris, dan sifatnya suruhan tersebut semacam “paksaan” gitu deh..
Bukan tanpa alasan saya nulis hal itu, dan juga bukan tanpa alasan kenapa “suruhan” itu jadi judul postingan saya kali ini. Saya gatel aja sih sebenernya, sama perilaku beberapa orang yang saking aktifnya di dunia daring (online) sampe-sampe bikin postingan bersambung berpanjang-panjang. Iya, yang saya bicarain ini adalah kultwit atau “kuliah di twitter” yang belakangan ini makin menjamur karena kegiatan berbagai orang.
Dulu, saya “cuma” nemuin beberapa orang (baca: akun twitter) yang bikin kultwit berpanjang-panjang. Biasanya sih, pas lagi mau ngebahas sesuatu hal yang diketahui dan pengen dishare ke orang laen, secara cepat pula. Pas lagi ada event atau kejadian tertentu aja tu kultwit terjadi. Ada juga sebagian yang emang dijadwal gitu, jadi pas hari dan jam tertentu ada kultwit yang bahas soal tertentu. Tapi, belakangan ini perilaku kultwit itu makin menjamur!
Ga liat waktu, ga liat hari, ga liat event apa, tiba2 aja kultwit sampe berpuluh2 twit dengan periode waktu yang kontinyu. Kalo misal cerita soal kejadian pribadi, atau personal daily activity, ya saya mungkin bisa maklum karena bisa jadi yang punya akun tersebut pengen bagi2 cerita dan pengalaman. Tapi kalo sampe ngebagi pengetahuan — yang sebenernya cukup umum, melalui kultwit sampe berpanjang-panjang segala? OMG! Mengganggu!
Kemaren – Senin 2 Mei 2011 tuh, sekitar jam 3an sore, ada 3 akun twitter yang secara “sukacita” bikin kultwit. Entah karena teman-teman yang saya follow lagi kurang aktif, atau emang 3 akun twitter yang kultwit itu sangat aktif, jadilah timeline twitter saya banjir! Sempet saya kira akun twitter saya lagi bermasalah gitu, eh tapi ga koq. Dan, karena saya pikir ganggu kestabilan timeline saya, jadilah ada yang saya unfollow. Iya, saya unfollow. Ga pake ngasitau ke yang bersangkutan pula. Buat apa? Toh, itu hak saya koq buat unfollow. Setidaknya sementara aja sih, sampe itu kultwit yang banjir kelar.
Sekitar 1 jam kemudian, saya iseng ngecek profil yang bersangkutan, dan ternyata masih aja kultwit lho! Dalam hati, saya kagum setengah mati. Tapi saya jadinya males buat follow lagi, karena kultwit yang masih jalan itu pastinya bakal kejadian lagi suatu saat nanti dan bakal banjirin timeline saya.
Saking gatelnya, saya pun sampe ngetwit begini,
Dan, langsung direspon dengan Retweet, mention, sampe ada yang bilang kalo bikin kultwit itu buat naekin skor klout — buat bikin profil yang makin oke, dan bisa dianggap sebagai influencer. Yah, kurang lebih gitu deh maksudnya skor klout itu.
Tapi tetep aja sih, menurut saya sia-sia aja gitu kalo udah capek2 bikin kultwit cuma buat naekin skor klout. Kenapa? Karena informasi yang dibikin di kultwit itu nantinya akan hilang karena ga semua twit di twitter disimpen. Database twitter kan terbatas, lagipula, kalopun masih disimpen pasti bakal susah dicari udah pernah ngetwit apa aja. Mending ditulis aja dalam bentuk blog, udah jelas2 longlasting, dan bisa unjukin kemampuan secara tertulis atau tercetak malah.
Dan, kenapa saya ngetwit begitu ga pake mention? Sengaja.. Karena saya tau yang bikin kultwit juga ngefollow saya, dan juga biar bisa dibaca juga sama followers saya yang lainnya. Lagipula, saya ga mau ngemention akun yang dimaksud, biar ga ada adu debat berkepanjangan. Lah saya ngetwit soal “get a blog will ya” aja udah banyak yang mention dan ngedebat..
Intinya gini, saya ga ngelarang ya buat kultwit. Silakan saja. Tapi, akan lebih baik kalo itu kultwit dibikin postingan blog karena lebih tahan lama. Ga usah mikirin faktor skor dan skala deh.. Yang penting itu gimana kita bisa dikenal dengan lebih lama..
No offense yaa..
*mendadak keingetan blog post request yang belom dibikin*