Once Upon a Time at Changi Airport, Singapore

April 12, 2012 § 12 Komentar

Alkisah, ada seorang pemuda yang baru beberapa bulan lulus dari kuliahnya, dan baru beberapa minggu hari wisuda dari tempat kuliahnya. Pemuda itu juga baru beberapa bulan kerja di sebuah perusahaan PMA dengan field yang masih sejalan dengan bidang kuliahnya (lulus kuliah, langsung kerja meski belum wisuda). Dan, pemuda itu kini tengah di perjalanan dari Balikpapan menuju Beijing, namun transit terlebih dahulu (beberapa jam) di Changi Airport, Singapore.

Ga perlu cerita detail banget ya soal perjalanan dari Balikpapan menuju Changi, yang pasti pemuda itu dan satu teman seperjalanannya sudah landing di Changi Airport di malam hari. Pemuda dan temannya itu pun sudah daftar untuk ganti pesawat, dan kini hendak berkeliling-keliling di Changi Airport sambil menunggu jadwal pesawat berikutnya (yang baru akan boarding sekitar 6-7 jam kemudian).

Tanpa pernah punya pengalaman pergi ke luar negeri sebelumnya, pemuda dan temannya itu kini tengah celingak-celinguk di Terminal 2 Changi Airport.

“Cari makan, yuk! Laper nih..” kata pemuda itu.

“Tapi makan apa? Pasti susah mau cari makanan halal.. Tapi mendingan shalat dulu deh. Cari mushola aja.. nanti ketemu orang di sana, baru tanya dan cari makanan.” jawab temannya.

Walau perutnya sudah menolak karena kelaparan yang menjadi-jadi, tapi iman dan hatinya mengingatkan untuk lebih dahulu mengingat Sang Pencipta. Alhasil, pemuda dan temannya itu mencari-cari mushola di sekitar Terminal 2. Susah sih, tapi tetap ditemukan juga di salah satu sudut Terminal 2.

Selesai shalat, pemuda dan temannya itu pun langsung berkeliling mencari tempat makan. Sedikit usaha tanya beberapa petugas bandara dengan bahasa Inggris kaku (karena belum pernah bercakap-cakap dengan lafal), akhirnya ditemukanlah jejeran food court – yang katanya sih on budget di salah satu sudut Changi Airport (yang luas itu). Kenapa milih dan cari yang on budget? Karena meskipun sama-sama kerja di perusahaan oilfield, tapi pemuda dan temannya itu sama-sama “bijak” (baca: pas-pasan) dalam hal menggunakan uang. Karena meskipun penghasilan bulanan mereka masing-masing cukup “memuaskan”, namun jika dibawa ke kurs mata uang asing, tentunya menjadi lebih “sedikit”.

Anyway, balik lagi ke soal foodcourt. Pilihan pun jatuhlah ke sebuah rumah makan Padang. Iya, jauh-jauh ke Changi, makanan yang pertama kali dimakan adalah masakan Padang! :lol: Ingin rasanya si pemuda itu untuk mencoba pilihan makanan lain di foodcourt itu, atau paling banter makan fast food, dengan pertimbangan harganya lebih murah disbanding rumah makan Padang, tapi temannya sekali lagi mengingatkan bahwa akan lebih baik apabila makan makanan yang udah “dikenali” oleh perut. Lagi-lagi, pemuda itu pun mengalah.

Satu porsi nasi rendang dengan sayur mentah dan sambal  tanpa minum akhirnya dipesan dan dibeli. Saat akan dibayar, ternyata harganya mencapai 2,6 S$ (Singapore Dollar). Pada saat itu, 1 S$ “masih” di kisaran 6800 rupiah. Silakan konversikan saja harganya berapa si seporsi nasi rendang itu. Begitupun saat membeli minuman, sebotol kecil (ukuran sekitar 330 ml) air mineral (dengan merek yang dijual di Singapore), pun akhirnya dibeli seharga 1 S$. Total pengeluaran untuk makan (pertama) di Changi Airport sudah 3,6 S$. Bayangkan jika dikurskan dalam rupiah, bisa beli makanan apa seharga itu? :mrgreen:

Beberapa belas menit kemudian, seporsi nasi rendang (yang rasanya berbeda dengan nasi rendang yang dibeli di Indonesia), sudah tandas. Air minum pun sudah diminum sedikit. Dan, kedua pemuda itu pun memiliki pikiran yang sama yakni air minum yang sudah dibeli harus dihemat-hemat hingga beberapa jam ke depan.  Sehingga, air mineral yang sudah dibeli itu, disisakan sepertiganya dan dimasukkan ke dalam tas backpack masing-masing.

Setelah makan selesai, pemuda dan temannya itu pun hendak berkeliling Changi Airport yang terus-menerus terlihat sibuk meski malam mulai larut. Dan, karena sama-sama baru pertama kali menginjakkan kaki ke Changi Airport, keduanya pun memutuskan untuk berkeliling di area yang “dikenali” saja – yakni Terminal 2, karena dari area itu pula nantinya mereka akan boarding lagi untuk pesawat lanjutan ke Beijing, China.

Pertama-tama, tentu yang dikelilingi adalah jalan dan arah menuju gate untuk boarding. Setelah ditemukan, maka kedua pemuda itu pun memutuskan untuk melihat-lihat seputar Terminal 2 Changi. Mulai dari toko-toko yang masih buka dan memajang banyak produk menarik, pusat game, hingga projector sensorik yang bisa menggerakkan gambar-gambar yang diproyeksikan ke lantai apabila dilewati oleh pengunjung Changi Airport. Iya, udik memang kedua pemuda itu.. :lol:

Dari semula terasa kagum, lama-lama kedua pemuda itu pun merasa bosan setelah 1 jam mengelilingi tempat yang sama di Terminal 2. Ujung-ujungnya, lelah pun mulai menerpa, serta rasa haus pun timbul. Tak terasa, air minum yang dihemat-hemat sejak awal itu.. sudah mulai diminum sedikit demi sedikit, dan tinggal tersisa sedikit sekali. Alhasil, bingunglah kedua pemuda itu. Hendak membeli minum, tapi uang yang tengah dipegang masih dalam bentuk rupiah atau US$. Bisa saja sih ditukarkan ke dalam bentuk S$, tapi tarif di penukaran uang di Changi Airport kurang bagus! Jadilah, keduanya pun memilih untuk tidak minum (lagi), hingga dekat-dekat saat boarding.

Untuk menjaga agar tidak perlu minum (lagi) hingga dekat-dekat saat boarding, pemuda itu menyiasati dengan tidak terlalu sering bergerak. Sementara temannya, menyiasati dengan mengurangi membuka mulut (baik itu berbicara, tertawa, dll). Walau berbeda cara (dan berbeda prinsip juga), tapi cara keduanya berhasil untuk mengurangi keinginan untuk minum.

And so.. the time keeps ticking…

Kurang lebih 2 jam kemudian (dan masih menunggu boarding flight berikutnya), pemuda yang baru diwisuda itu iseng berkeliling menyusuri dinding. Di satu tempat seperti wastafel bebas, terdapat tombol-tombol, yang wastafel itu sendiri banyak dihampiri orang. Penasaran, pemuda itu pun akhirnya melihat dan ternyata wastafel tersebut adalah tempat untuk minum! AIRNYA BISA DIMINUM!

Sambil mengeluarkan botol minum yang sudah kosong, pemuda itu pun ngedumel dalam hatinya…

“Kalo tau air minum keran bisa diminum gini, ga bakal deh nahan-nahan haus sampe berjam-jam gini…”

Tagged: , , , ,

§ 12 Responses to Once Upon a Time at Changi Airport, Singapore

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Once Upon a Time at Changi Airport, Singapore at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.428 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: