Badai Salju di Tokyo

Februari 21, 2014 § 6 Komentar

Badai Salju di Tokyo

Sejak akhir November lalu mendapat penugasan keluar negeri mulai dari Seoul, Korea serta kali ini ke Tokyo, Jepang, saya sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi winter atau musim dingin. Salju, angina kencang, suhu mendekati nol derajat atau bahkan di bawah nol, hingga rendahnya kelembapan adalah hal-hal yang harus diatasi sepanjang penugasan tersebut.

Syukurnya, kali ini akses informasi serta jaringan keuangan internasional sudah lebih baik dibanding saat saya pertama kalinya menghadapi musim dingin bersalju di negeri orang – 2007 lalu. Jadi, cara-cara untuk mengantisipasi musim dingin di Seoul, Korea dan Tokyo, Jepang pun sudah cukup siap. Mulai dari pakaian, sepatu, hingga makanan. Tapi, ada satu hal yang belum bisa diatasi, yaitu badai salju atau snowstorm.

Sebagai makhluk tropis, “bertemu” dengan salju itu adalah hal yang amat sangat disyukuri. Tapi, bagaimana dengan badai salju? Tentu sebagai makhluk yang terbiasa dengan suhu hangat, kelembapan tinggi, badai salju adalah hal terakhir yang saya harapkan akan saya temui dalam penugasan keluar negeri ini. Dan, “beruntungnya” hal terakhir yang saya harapkan tersebut menjadi kenyataan.

Pada periode penugasan ke Tokyo pada pertengahan Januari hingga awal Februari lalu, sekali dan mungkin pertama kalinya dalam hidup, saya “menghadapi” badai salju atau snowstorm. Untungnya, berbekal prakiraan cuaca yang bisa diikuti via internet dan juga TV lokal (walau berbahasa Jepang), saya sudah bisa memperkirakan kapan badai salju akan datang. Dan, tepat sehari sebelumnya sudah mulai mengumpulkan beberapa bahan makanan dan minuman di penginapan.

Jumat malam hari, 7 Februari, saya baru saja pulang dari membeli beberapa bahan makanan di Ameyoko, Ueno-Okachimachi bersama rekan-rekan setim dalam penugasan. Langit cerah. Angin bertiup lemah. Bahkan bulan pun terlihat jelas. Cuaca tidak menunjukkan bahwa keesokan harinya badai salju akan menghantam Tokyo.

Sekitar jam 2 dini hari Sabtu 8 Februari ketika saya tidur, saya masih sempat mengecek suasana luar melalui jendela di penginapan, dan semuanya masih sama seperti ketika saya pulang tadi. Ketika akhirnya terlelap jam 3 dini hari dan terbangun sekitar 5 jam kemudian, pemandangan di luar jendela sudah silau karena penuh dengan warna-warna putih. Salju sudah datang, dan hampir seluruh bangunan yang terlihat melalui jendela penginapan sudah diliputi salju.

Iseng, saya buka jendela dan kemudian memeriksa apa benar salju tersebut turun dan selesai atau memang ada badai seperti prakiraan cuaca. Hasilnya? Angin bertiup kencang. Dan iya, badai salju atau snowstorm datang sesuai prakiraan cuaca.

Pertanda lain bahwa badai salju datang adalah jalan kecil yang biasanya digunakan untuk akses depan penginapan dan bisa dilintasi oleh kendaraan roda 4, mendadak seakan-akan ditimbun oleh salju tebal. Beberapa warga sekitar penginapan bekerja gotong royong membersihkan tumpukan salju tersebut.

Jam 10, jam 11, jam 12, jam 1, hingga akhirnya jam menunjukkan sekitar jam 2 siang, saya pun memutuskan untuk keluar dari penginapan. Tujuannya: hendak mengambil refund uang tur yang sudah dibayarkan untuk jadwal hari Sabtu tersebut, namun dibatalkan karena cuaca. Cukup besar juga perjuangan untuk keluar dari penginapan hingga ke stasiun subway terdekat, karena benar saja salju tebal hampir di mana-mana, sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak terpleset. Belum lagi terpaan angin kencang dan juga salju yang masih turun deras.

Sekitar 30 menit perjalanan dengan kereta, uang tur pun sudah bisa di-refund. Setelahnya? Karena sudah berada di pusat kota, sekalian saja cari makanan jadi dulu sebelum pulang ke penginapan yang terletak di lokasi residensial. Hasilnya? “Mendapatkan” pemandangan badai salju di mana-mana. Walau angin kencang, salju yang turun begitu banyak, namun masih banyak penduduk Tokyo yang pulang pergi entah itu ke pusat perbelanjaan, bekerja, dan lain-lain.

Sekitar 3 jam kemudian, setelah selesai makan dan juga mencaritahu sebesar apa dampak dari badai saljunya, pulang pun menjadi pilihan utama. Karena dikabarkan bahwa beberapa line subway dibatalkan karena relnya tertutup salju, serta ada isu bahwa subway di hari tersebut akan tutup lebih awal – biasa last track jam 12an lewat, tapi karena badai salju maka jam 7an malam beberapa line akan mengakhiri layanan di hari tersebut.

Beruntung, subway line ke arah penginapan masih tetap beroperasi walau memang jam-jam 6an sore itu begitu banyak orang-orang yang mengantri di berbagai stasiun subway. Kalau di hari biasa, jam-jam ramai dengan antrian orang di subway station itu sekitar jam 7 malam lewat.

Alhamdulillah, walau menghadapi berbagai jalanan licin, angin kencang, salju turun yang begitu deras, akhirnya sampai dengan selamat di penginapan. Dan, setelah membaca beberapa berita, ternyata badai salju di hari Sabtu 8 Februari tersebut adalah salah satu badai salju terparah sepanjang sejarah Tokyo dengan beberapa korban yang jatuh dan subway banyak yang delay. Penerbangan di Tokyo pun terganggu di hari tersebut, dengan begitu banyak penerbangan yang delay dan penumpang menumpuk di bandara karena tak bisa terbang, namun juga kesulitan akses untuk pulang/keluar dari bandara. Beritanya bisa diliat di sini, di sini, atau di sini.

Alhamdulillah, saya selamat dari badai tersebut.

NB: Foto ilustrasi adalah milik AFP dan yang aslinya dimuat di artikel di sini.

#InKorea week 2 and 3: Rekap

Januari 24, 2014 § 7 Komentar

Jadi, disebabkan oleh satu dan lain hal, postingan #InKorea week 1 yang pernah saya buat, akhirnya ga nyambung ke week 2 dan selanjutnya di periode yang berdekatan. Tapi ya, karena udah pernah buat week 1 dan saya paling ga suka situasi yang gantung begitu, di postingan ini saya rekap ajah week 2 dan week 3 — yang berakhir di 23 Desember 2013, tanggal kepulangan saya ke Indonesia.

Sebenernya di week 2 dan week 3 ga begitu banyak yang bisa saya ceritain karena hari-harinya sibuk dengan kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan. Iya, perjalanan ke Korea kemarin itu karena pekerjaan, bukan liburan lho ya.. :mrgreen: Tapi tetep ada beberapa highlight dan juga perjalanan wiken yang bakal saya share di bawah ini…

  1. N Seoul Tower & cable car
    Salah satu tujuan wisata di Seoul adalah N Seoul Tower – N kemungkinan besar singkatan dari Namsan, bukit/area yang jadi wilayah tempat berdirinya Seoul Tower. Dulu, Seoul Tower ini dipake buat jadi stasiun transmisi, sekarang jadi tempat wisata. Oiya, berhubung di sekitar N Seoul Tower ini masih ada lingkungan yang asli, jadi… akses ke sana ga bisa sembarangan. Mobil-mobil pribadi/bus pun parkirnya lumayan jauh. Cara terbaik buat ke sana, selain jalan kaki dari kaki bukit dengan jalan menanjak, adalah pake cable car. Ada kok stasiun cable carnya, bisa diakses jalan kaki (menanjak) dari persimpangan depan Myeongdong. Oiya, “kunjungan” saya ke N Seoul Tower juga ternyata menahbiskan (halah) ciri khas saya ke setiap kota, yakni ke salah satu landmark/menara dari kota tersebut! :mrgreen:
  2. Nami Island!
    Ngaku drama Korea tapi sampe ga tau Nami Island sih, kebangetan namanya.. secara, booming drama Korea di Indonesia salah satunya ya karena serial yang berkaitan dengan Nami Island ini. Yep, Winter Sonata adalah serial yang dimaksud. Tenang, saya ga bakal mbahas serial itu, melainkan Nami Island ini aja.. Pulau yang terletak di tengah lintasan sungai ini – iya, di tengah sungai bukannya danau atau laut, konon dulunya dipake buat tempat buang jin sampah. Trus, gara-gara serial Winter Sonata itulah, jadi dibenerin dan jadi salah satu kawasan wisata. Apa aja yang bisa diliat? Banyak. Salah satu keunikan dari Nami Island ini adalah “diakui” sebagai republik dalam republik. Oiya, akses ke sini agak susah.. jadi, kalo berharap bisa naik subway trus sambung-menyambung, bakal ribet deh. Mendingan pake tour aja.
  3. Digital Media City
    Amrik punya Silicon Valley, Indonesia punya Bandung dan Jogja Digital Valley, Korea atau Seoul pun punya Digital Media City. Di kawasan ini banyak perusahaan-perusahaan modern Korea bermarkas, dan juga ditengarai jadi salah satu kawasan penggerak industri konten kreatif Korea.
  4. Gyeongbok
    Kalo yang pernah nonton serial drama Princess Hours (Goong) atau Jang Geum (CMIIW) pasti tau kalo Korea pernah berbentuk kerajaan/kekaisaran. Nah, salah satu warisan sejarah kerajaan masa lampau adalah Gyeongbok, yang jadi istana raja. Cerita lengkapnya, ada di sini.
  5. Insadong, Myeongdong, Dongdaemun, dan Namdaemun
    Setiap negara atau kota tujuan wisata, pasti memiliki kawasan yang jadi pusat belanja. Iya, ini pusat belanja yang berupa kawasan ya, bukan yang emang toko gede di gedung gitu.. Di Seoul, sendiri, ada beberapa antara lain Insadong, Myeongdong, Dongdaemun, dan Namdaemun. 2 nama kawasan di belakang, konon sudah terbentuk sejak masa lampau sejak awal-awal Korea ada. Dongdaemun sendiri, dikenal sebagai pasar untuk kain, baju, dan garmen – sesuai pengamatan saya. Kalo Namdaemun, dikenal sebagai kawasan serba ada – mulai dari souvenir, baju, kaos, ginseng, semuanya ada di sini. Kalo cari oleh-oleh, mending ke sini. Nah, kalo Myeongdong beda, dia merupakan kawasan pasar modern, merek-merek branded bisa dicari dan didapetin di sini. Mirip pasar baru tapi dengan merek yang upclass banget. Kalo Insadong sendiri, dia sebenernya kawasan belanja barang-barang pecah belah, dan lain-lain.

Masih banyak lagi sebenernya yang pengen saya share, tapi ya.. mending liat sendiri deh koleksi foto di bawah ini ya.. :mrgreen:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Satu hal yang pasti, banyak hal yang bisa dilakuin di Korea. Di Seoul-nya aja banyak banget objek yang bisa dikunjungi, apalagi di Korea-nya? Oiya, kalo ke Korea dan mau dapetin pengalaman liburan yang oke dan cukup buat diceritain, coba spend minimal 4-5 hari di luar waktu perjalanan pesawat yang per sekali terbangnya sekitar 6-7 jam. Jadi, ya.. total perjalanan termasuk pesawat bisa seminggu deh biar lebih afdol. Perihal layak apa engga? SUDAH PASTI LAYAK! :mrgreen:

Kalo kamu kelak ke Korea, apa sih yang bakal kamu lakuin pertama kali?

#FiksiBlogfam Week 1: Outline

Januari 17, 2014 § 4 Komentar

Outline “Februa”

1: Februa atau biasa dipanggil Febi, cewek remaja kelas 2 SMA ini paling rempong di keluarganya. Selain karena dia anak cewek satu-satunya, juga karena dia anak tengah. Tapi sebenernya yang paling bikin dia rempong adalah, kenyataan bahwa dia lahir di 13 Februari, beberapa menit sebelom tengah malam. Kenyataan itu yang selalu bikin dia keki tiap kali ketemu orang, baik itu kenalan baru, maupun juga kenalan lama soalnya suka nebak-nebak/becanda soal “nanggung bener lahirnya udah deket banget sama Valentine’s Day”.

2: Februa punya beberapa temen deket cewek, yaitu Laura dan Jessy. Walaupun temen deket, mereka bedua juga suka ngebecandain waktu lahir Februa yang “nanggung banget” itu. Walau begitu, Laura dan Jessy juga paling vokal ngebela/ngejawab becandaan orang lain ke Februa. That’s what friends are for – adalah frasa yang paling sering diucap mereka betiga.

Selain jadi temennya Februa dengan segala kerempongannya, Laura dan Jessy juga punya kesibukan masing-masing. Laura sibuk dengan ngelakuin semua keinginan orangtuanya – mulai dari les balet, les piano, dan masih banyak lagi – walau sebenernya Laura lama-lama bosen dan pengen coba hal-hal yang beneran dia pengen seperti pencinta alam gitu. Sementara itu, Jessy sibuk dengan belajar dan belajar karena dia ngincer buat dapetin beasiswa. Maklum, Jessy berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi pas-pasan, sementara Jessy pengen banget buat bisa lanjut sekolah sampe sarjana.

3: Suatu ketika, Februa, Jessy, dan Laura lagi ngumpul betiga dan ngomongin hal-hal yang masing-masing pengen banget. Februa pun ngomong kalo dia kepengen tanggal 13 Februari ga pernah ada, jadi dia bakal lahir di tanggal 14 Februari – pas Hari Kasih Sayang seluruh dunia. Sementara itu, Laura bilang kalo dia pengen keluarganya stop ngasih dia les macem-macem dan ngebebasin dia buat ngelakuin yang dia mau, dan Jessy ngarep supaya dia berasal keluarga yang ekonominya mampu banget.

Kelar ngomongin impian masing-masing, Februa pun keingetan kalo dia pernah baca di sebuah buku tua di perpus sekolahan kalo ada cara-cara tertentu gimana caranya bisa ngejalanin impian di kehidupan nyata sekarang. Salah satunya, bedoa sungguh-sungguh di saat bintang jatuh/komet lewat malam hari, sampe kemudian ketiduran. Dan, dalam waktu dekat kebetulan banget diramalin kalo bakal ada hujan meteor/komet lewat.

4: Di hari yang udah ditentuin kalo komet bakal lewat/meteor bakal rame bikin meriah langit malam, Februa, Laura, dan Jessy ngumpul bareng di rumahnya Februa. Mereka udah nyiapin buat bedoa sungguh-sungguh.

Lama nunggu sampe jam 11an, meteor/kometnya ga kejadian juga. Pas banget udah desperate dan mau tidur, eh… meteor/kometnya kejadian. Buru-buru deh Februa, Jessy, dan Laura bedoa sungguh-sungguh. Minta hal-hal yang jadi impian masing-masing, sampe kemudian lelah dan ketiduran.

5: Next day, Februa kebangun di kamarnya sendirian. Tidur di atas kasurnya, hampir ga ada yang berbeda di dalam kamarnya dengan beberapa hari sebelumnya kecuali Jessy dan Laura ga ada di sana. Dia pun mikir kalo Jessy dan Laura udah pulang duluan di pagi harinya. Ga pake mikir macem-macem, Februa pun keluar kamar dan langsung ke dapur ketemu Mama-nya. All things went as usual. Februa masih belom nyadar atau belom tau ada perubahan atau engga sampai kemudian… ada telepon dari Jessy.

Telepon dari Jessy langsung diangkat Februa dan Jessy bilang kalo dia bangun pagi ini dengan perubahan tertentu. Dia ga tinggal lagi di rumah sederhana, melainkan di kamar yang cukup besar dan rumah yang gedongan! Keluarganya ternyata jadi mampu banget secara ekonomi, dan Jessy pun langsung percaya kalo yang semalem dia minta dengan sungguh-sungguh kejadian.

Setengah ga percaya, Februa pun nelepon ke Laura buat mastiin apakah ada perbedaan. Lama ga diangkat-angkat, Februa pun mikir kalo Jessy boong. Taunya, Laura emang lagi ga bisa ditelepon karena dia lagi di perjalanan naik gunung. SMS pun Laura kirim ke Februa, ngasitau kalo dia lagi diajakin naik gunung dan udah berangkat sejak pagi-pagi banget!

Masih ga percaya, Februa pun nanya ke Mama-nya kapan dia lahir. Surprisingly, Mama-nya bilang kalo dia lahir di 14 Februari. Girang dong Februa.

6: Karena itu hari libur, Februa pun ga ke sekolah, tapi dia jalan-jalan bareng Jessy. Dan bener aja, Jessy berubah – dari tampilan aja langsung keliatan kalo dia jadi keluarga gedongan dan bukan lagi keluarga pas-pasan. Sambil becanda, Februa pun bilang “kalo tau yang semalem kita lakuin bakal berhasil, mungkin impian gue ga sekadar 13 Februari itu ilang. Tapi juga perdamaian dunia.”

Jessy pun jawab kalo Februa udah mulai kaya’ peserta putri kecantikan. Pemikirannya lebih dewasa ketimbang penampilan aslinya.

7: Laura yang lagi berpetualang di alam pun ngerasa asik banget bisa ngelakuin yang dia pengen. Kemping, bawa ransel, hiking, sampe rafting! Semua hal-hal yang ga pernah dia lakuin sebelomnya. Walau begitu, beberapa kali orangtuanya ngelakuin itu ga barengan sama dia. Kalo ga papanya doang, ya mamanya doang sama dia.

8: Buat ngebuktiin apakah keinginannya bener-bener terkabul, Februa pun ngecek kalender di rumahnya setelah ketemu Jessy. Dia nyari tau apakah tanggal 13 Februari masih ada, atau ilang beneran. Dan, dia kaget banget begitu tau setelah tanggal 12 Februari ya 14 Februari. Ga ada tanggal 13 Februari.

Masih dengan rasa penasaran, Februa pun nanya ke Mama-nya, sejak kapan tanggal 13 Februari itu ga ada. Mama-nya bilang kalo dia ga inget, yang pasti sejak Mama-nya kecil emang tanggal itu ga ada. Trus, Februa pun nanya lagi ke Mama-nya, kapan waktu persis dia dilahirin, Mama-nya pun bilang kalo dia lahir di 14 Februari pagi hari. Dalam hatinya, Februa pun mulai bingung kenapa jam lahirnya berbeda seperti sebelumnya, walau keinginan dia “cuman” minta 13 Februari ilang.

9: Jessy yang udah mulai ngerasa nyaman dengan kondisi ekonomi keluarganya yang lebih mampu, ternyata mulai ngerasa ada yang aneh di rumahnya itu. Orangtuanya yang sebelumnya sering banget dia temuin, sekarang jadi makin jarang ketemu. Trus, saudara kandungnya yang semula ada 3 orang, jadi tinggal 1. Itupun, dia ga kenal – berbeda dengan saudara kandungnya sebelumnya.

10: Laura yang lagi di alam liar, juga mulai ngerasa aneh sama gelagat orangtuanya yang ngajak dia jalan. Serba misah terus – ya makan, ya tidur, ya ngobrol. Hampir semuanya. Pada saat Laura nanya ke Papa-nya, dijawablah kalo Papa-Mama-nya Laura mau pisah – cerai. Beda sama kondisi sebelumnya, Papa-Mama-nya Laura itu nempel banget. Ga ada indikasi bakal cerai.

11: Laura, Februa, dan Jessy pun akhirnya mutusin buat ketemu lagi. Mereka ngungkapin keanehan-keanehan yang ditemuin masing-masing trus dibahas. Sambil masih ketakutan bakal ada kejadian apa selanjutnya, ketiganya kembali ke rumah masing-masing dan kemudian nunggu info pertemuan selanjutnya.

12: Februa, Laura, dan Jessy kemudian sadar kalo mereka ga cocok sama kehidupan yang dijalanin setelah ada hujan meteor/komet lewat itu. Ga bebas, kata mereka. Akhirnya, setelah cari-cari informasi soal hujan meteor/komet lewat lagi, yaitu beberapa hari lagi. Mereka pun akhirnya bikin janjian lagi buat jadi seperti semula.

13: Hujan meteor/komet datang lagi, kesempatan buat berdoa sungguh-sungguh pun butuh cepet buat dilaksanain. Berbekal perlengkapan/peralatan sederhana, Februa, Laura, dan Jessy bedoa sungguh-sungguh lagi. Kali ini di rumah Februa lagi, dan kemudian mereka ketiduran lagi. Besok harinya, semuanya balik seperti semula dan Februa, Laura, Jessy ga lagi-lagi berusaha buat ngewujudin impian mereka pake cara yang aneh-aneh lagi.

Penghuni Baru di Rumah

Desember 30, 2013 § 8 Komentar

Kalo rumah kedatangan penghuni baru, pasti ada rasa “excitement” yang susah dijelasin. Apalagi, kalo penghuni itu punya fungsi dan kegunaan yang bener-bener diperluin di rumah. :mrgreen:

Bukan, bukan orang kok. Penghuni baru ini perangkat elektronik, tepatnya Pioneer X-CM51V-K. Perangkat elektronik yang serba-bisa, karena bisa buat “muter” DVD Video, DVD R/RW, CD Audio, CD R/RW, USB, lewat jaringan, sampai dengan iPod dan iPhone!

Pioneer X-CM51V-K

Pioneer X-CM51V-K

Ga sabar buat cepetan pasang dan cobain segala macam fiturnya.. :) Apalagi jelang taun baru gini, pas banget rasanya buat test drive kemampuan suaranya pas malam taun baru nanti.. :mrgreen:

Jelang taun baru, ada penghuni baru juga ga di rumah kamu?

Akhir Tahun, Saatnya Belanja?

Desember 16, 2013 § 11 Komentar

SALE!

Keramaian di Myeongdong, kawasan Hyper-Shopping di Seoul, Korea Selatan. Foto diambil pada 15 Des 2013 malam hari.

Keramaian di Myeongdong, kawasan Hyper-Shopping di Seoul, Korea Selatan. Foto diambil pada 15 Des 2013 malam hari.

Begitu tulisan di berbagai tempat yang saya temui belakangan ini. Sale alias jual barang dengan potongan harga atau bisa juga disebut dengan obral, sepertinya lazim ditemui di berbagai toko. Apalagi akhir tahun begini – sepertinya karena mau ganti stok barang baru atau apalah alasan pastinya saya kurang tahu.

Anyway, walau riilnya ada sale bukan berarti semua barang bakal dijual dengan potongan harga. Ada juga kok yang tetap dijual tanpa potongan harga. On budget atau engga, itu yang tergantung si pembeli. Yang harus dipastiin adalah, kita membeli yang kita perlu – atau, kelak kita perlukan. Iya, saya masukin kata “kelak” karena bisa jadi saat ini “kita beli yang kita inginkan” yang suatu waktu nanti jadi “kita butuhkan”.

Bingung? Ya.. intinya sih kalo mau belanja ya tinggal belanja aja. Apalagi akhir tahun begini. Kenapa? Begini…

  1. Seperti yang udah saya bilang sebelomnya tadi, saat akhir tahun itu kebanyakan toko/penjual bakal ngasih sale ke barang-barang dagangannya. Nah, kalo beberapa waktu sebelumnya udah bikin daftar incaran barang yang mau dibeli, sekaranglah saatnya buat beli siapa tau dapet potongan harga kan?
  2. Toko/penjual mau ngapdet stok barangnya buat tahun mendatang, jadi stok barang yang sekarang diabisin dulu. Engga, belom tentu stok barang yang sekarang bakal ketinggalan mode/jaman di taun depan, bisa jadi malah barang yang ada sekarang lebih ngehits atau ngetren ketimbang yang taun depan. Ini lebih ke soal pertimbangan toko/penjual yang pengen selalu ngapdet stoknya, supaya ga berlama-lama di gudang/penyimpanan. Soalnya, semakin lama berada di penyimpanan, semakin bertambah juga biayanya atau peluang kerusakannya. – Yang pernah belajar production planning pasti ngerti perihal ini. *lirik kartu mahasiswa Teknik Industri*
  3. Nah, di nomer 2 kan saya udah bilang kalo bakal ada stok baru ya. Biasanya juga di periode akhir tahun gini, stok baru itu ada yang muncul duluan dengan harga promo. Nah, ini kesempatan juga buat beli barang baru dengan harga yang masih “bersahabat” sebelom orang lain. Apalagi, kalo lagi di luar negeri (kaya’ saya beberapa hari terakhir). :mrgreen:

Trus, kalo udah dapet alesan sebenernya buat belanja – apapun itu, ya.. rencanain dengan matang. Jangan sampe out of budget yang bikin kepala pusing di bulan depan. :mrgreen: Apalagi, kalo harus belinya di toko yang letaknya jauh dari rumah, sementara ada juga toko online macam Zalora yang barangnya bisa diantar dan bayar di rumah. Emang sih experience-nya beda, tapi ga ada salahnya kan? :)

Jadi, udah siap belanja akhir tahun?

#InKorea: Week 1, 4-10 Des 2013

Desember 12, 2013 § 12 Komentar

Nyambung postingan sebelomnya soal berangkat ke Korea, berikut ini recap seminggu pertama di Korea. Ya, aslinya panjang-panjang sih – alias banyak yang terjadi di setiap harinya. tapi ya, dirangkum aja biar lebih hemat waktu ngetiknya. :mrgreen:

Day 1 – 4 Des: Rahang Nyut-Nyutan
Keimigrasian di Korea Selatan kemaren pas saya dateng itu lumayan cepet & friendly. Sesuai beberapa review. Beda sama waktu di Sydney kemaren. – it will be another story to be told (kalo ga lupa). Trus setelah ketemu jemputan, langsung menuju penginapan yang udah di-book. Namanya? Nanti aja ya, kalo saya udah pulang. Yang pasti ajib punya.

Kelar beberes, makan brunch atas kebaikan tawaran dari pengurus penginapan, trus saya ketiduran gitu di tengah-tengah diskusi. :lol: harap maklum, semalemnya saya kan susah tidur. #pembenaran. Anyway, setelah dirasa agak fit, sorenya pun jalan-jalan bentar ke sekeliling dan nemu TrickEye Museum yang ternyata sekomplek sama Ice Museum. 15.000 Won udah dapet 1 tiket terusan buat masuk ke dua tempat itu. Mau tau apa aja yang ada di TrickEye Museum & Ice Museum? Review lengkapnya dibikin ntar lagi, atau di tempat lain aja ah :P

#LevitasiHore level TrickEye Museum

#LevitasiHore level TrickEye Museum

Kelar dari situ, gathering lagi semuanya dan kita cari makan malam. Sepulangnya, sebagian dari kekhawatiran saya sebelom berangkat terjadi juga. RAHANG SAYA NYUT-NYUTAN! (sebelom berangkat saya khawatirnya gigi saya yang nyut-nyutan). Mungkin karena dingin, mungkin karena gigi bolongnya berulah, dan lain-lain. Yang pasti, selama 1-2 jam di malam itu saya sibuk nyari info soal dokter gigi, minum pereda sakit dll sampe akhirnya terlelap.

Day 2 – 5 Des: Team Prep
Setelah hari pertama yang diselimuti rasa dingin di mana-mana, hari kedua ini diisi meeting setim. Intinya, hari ini bahas kerjaan. Apa aja yang dibahas, itu ga saya share di sini ah. Rahasia perusahaan. :mrgreen:

Anyway, di hari kedua ini juga mulai masak-masak sendiri di guesthouse yang disewa. Selain biar hemat, juga biar tau apa aja lauk yang dimakan. Kalo makan di luar kan, rada sulit buat ngenalin lauknya – kecuali kalo ada tulisan bahasa Inggrisnya. Bahan makanannya? Udah dibeli di hari pertama kemaren kelar dari cari makan malam.

Day 3 – 6 Des: Jumatan
Salah satu pencapaian di hari ini adalah datang ke Seoul Central Masjid di Itaewon buat Jumatan. Perasaan begitu seneng banget bisa ketemu masjid & Jumatan, walau letaknya lumayan jauh dari penginapan. Pada saat berangkat, udah sempet pesimis bakal dapet Jumatan karena waktunya udah mepet. Alhamdulillah, karena udah ada yang pernah ke sana serta khutbahnya 3 bahasa, jadilah masih keburu buat Jumatan!

Seoul Central Masjid, Itaewon

Seoul Central Masjid, Itaewon

Sepulangnya dari Masjid, sambil nikmatin suasana Seoul, juga mampir bentar ke kawasan N Seoul Tower. Salah satu “menara” tertinggi di Asia, yang juga jadi landmark kota Seoul. Oiya, di kawasan N Seoul Tower ini jadi satu sama salah satu lokasi “terkenal” soal cinta lho. Yaitu, lokasinya gembok cinta. Konon katanya, kalo pasangan yang pasang gembok di sini, hubungannya bakal bertahan sepanjang masa (gemboknya belom lepas *eh*).

Gembok Cinta N Seoul Tower

Gembok Cinta N Seoul Tower

Day 4 – 7 Des: “Ibadah” ke Stadion
Sempet ngobrol sama beberapa temen, katanya tiap orang kalo ke kota atau negara lain punya ciri tersendiri yang dilakonin. Saya pun mikir, apa ya ciri yang saya lakuin? Ternyata hampir ga ada. Kalopun ada, sepertinya adalah kesukaan saya buat jalan sendiri aja – solo trip menyusuri jalanan kota atau ngunjungi apa yang ada di situ, tapi ga ada di Indonesia. Tapi, kaya’nya itu udah mainstream ya, banyak orang yang ngelakuin. Akhirnya, per kali ini saya pun mencoba sesuatu yang baru. Yaitu, mengunjungi stadion sepakbola!

Yups, di hari keempat ini saya sempetin diri buat “ibadah” ke stadion sepakbola di Seoul – Seoul World Cup Stadium. Konon, stadion ini terbesar di Asia – saat ini. Stadion ini juga yang dipake buat pembukaan World Cup 2002 lalu (kalo ga salah sih). Komentarnya? MEGAH! Trus yang bikin lebih tercengang lagi adalah… ternyata selain jadi stadion, juga ada mall hypermarket & bioskop gitu. :lol: Jadi komplek belanja gitu – mungkin supaya kalo stadion lagi sepi (ga ada pertandingan) kawasannya tetep hidup kali ya. Secara deket-deket situ ada komplek rusun.

Nampang dikit depan Stadion Seoul World Cup

Nampang dikit depan Stadion Seoul World Cup

Day 5 – 8 Des: DMZ & Makanan Indonesia!
Korea – 2 negeri yang terletak di semenanjung antara China dan Jepang ini sebenernya adalah sebuah negara yang terbagi 2. Utara dan Selatan. Singkat cerita, kedua negara ini masih dalam kondisi berperang, karena sejak konfrontasi terbuka terakhir pada era 1950an, kondisi “damai”-nya tercapai dalam gencatan bersenjata. Ga ada sama sekali kesepakatan mengenai perdamaian. Makanya kadang-kadang kedengeran aja gitu berita soal Korea Utara yang “usil” ke Korea Selatan, ataupun Korea Selatan yang dianggap melanggar kedaulatan Korea Utara.

Eh.. itu pengantarnya kepanjangan. Intinya sih, di hari ini saya ikutan tur ke DMZ – De Militarized Zone (CMIIW). Yaitu kawasan perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Secara resmi, kawasan ini dijaga kedua belah pihak supaya ga ada pelanggaran perbatasan/kedaulatan. Katanya pula, kawasan ini terjaga alami selama 50 tahun terakhir karena ga ada aktivitas apapun. Lengkapnya, gugling aja yak.. :P

Salah satu spot DMZ

Salah satu spot DMZ

Eiya, kalo mau ikutan tur DMZ ini, ada 3 macem (AFAIK), yaitu tur pagi jam 08-14, tur sore 12-18, dan tur seharian. Kalo tur pagi dan tur sore, itu bisa jadi tujuan yang dicapainya sama, yakni: Imjin, DMZ, 3rd tunnel. Kalo seharian, bisa jadi lebih banyak yang dikunjunginya – saya ga tau soalnya kemaren ikut yang tur pagi doang. Eiya, kalo mau ikutan tur DMZ yang ada agenda mengunjungi 3rd tunnel, pastiin aja bawa minum botolan, dan siapin fisik yang cukup kuat. Soalnya, nanti bakal naik turun ke terowongan bawah tanah – yang dulunya (katanya) disiapin Korea Utara buat nyerang ke Korea Selatan. Naik turunnya lumayan jauh, 350 meter secara jarak – 75 meter ke dalam tanah. Trus udah gitu, lebih dalem lagi sekitar 250an meter di dalam terowongannya.

Eh.. eh.. di hari yang ini juga, kelar tur DMZ, turun di Itaewon (kawasan yang deket sama pangkalan tentara US) trus banyak penduduk muslim juga. Berhubung siang, jadinya cari makan siang di sekitar situ TRUS NEMU RUMAH MAKAN INDONESIA, dong! *joget pisang* Namanya Siti Hajar, letaknya di Itaewon mengarah ke Seoul Central Masjid. Kemaren pun (akhirnya) makan rawon plus tahu isi. NIKMAT!

Kelar dari situ, sambil jalan pulang menuju penginapan lagi ngelewatin aja ke War Memorial of Korea yang jadi tempat “penyimpanan” dari perang Korea di 1950-an.

Day 6 – 9 Des: “Mampir” KBRI
Dulu, saya pernah punya cita-cita buat kerja di luar negeri. Maksudnya, jadi tenaga ekspat di negeri asing gitu – TKI terlatih gitu deh. Kalopun ga bisa jadi TKI, ya… minimal jadi staf di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Tapi ya, mungkin cita-cita itu belum (saatnya) terwujud. Yang terwujud justru “mampir” di KBRI. Tadinya mau lapor diri – konon katanya harus lapor diri, tapi ternyata ga harus dan jadilah hari ini ketemuan sama beberapa staf/atase untuk keperluan pekerjaan.

Future Indonesia's Ambassador for Korea

Future Indonesia’s Ambassador for Korea (amin! amin! amin!)

Eiya, ada cerita unik dikit dari perjalanan hari ini. Jadi, sebelum naik kereta menuju halte terdekat ke KBRI, ketemu sama seorang WN Korea buat nanya arah. Ternyata, dari situ malah dapet info soal acara di salah satu gedung di Seoul yang berkaitan sama pekerjaan. Jadi, setelah kelar dari KBRI dan gagal makan siang masakan Indonesia (di Café Terima Kasih deket KBRI), jadilah menuju ke acara itu. Dan… rencana itu bisa dibilang SUKSES! (ga dibahas di sini karena itu keperluan pekerjaan)

Day 7 – 10 Des: Team Prep 2 & Namdaemun
Berkaitan dengan pekerjaan, hari ini juga dipenuhi dengan meeting setim. Ngebahas rencana dan juga goals. Singkatnya, sibuk dari pagi sampe sorean. Agak malamnya, baru deh nyempetin jalan ke luar penginapan. Ya.. semacam survei tempat gitu deh. Baik untuk sekadar tau, ataupun buat balik lagi. :mrgreen:

Eiya, di hari ini survey tempat ke Namdaemun. Di situ ada salah satu pasar/market tertua yang ada di Seoul. tapi, berhubung udah agak sore dan jelang malam ke sananya, jadinya kebanyakan toko udah tutup. Ada stall di pinggir jalan, juga udah mulai tutup sebagian karena makin malem makin dingin. Anyway, sempet bingung juga mau ke Namdaemun itu lewat mana, karena ga ada petunjuk yang bilang kalo itu Namdaemun Market. Tapi… setelah nanya ke para petugas (baik hati) yang pake jubah khusus bertuliskan “tourist information” jadilah ga nyasar. Survey sukses!

Christmas is coming to Namdaemun.

Christmas is coming to Namdaemun.

Kamu pernah ke salah satu tempat yang disebutin di atas ga?

#InKorea, the beginning

Desember 5, 2013 § 16 Komentar

Tae Kwon Do, seni bela diri itu yang pertama kali mengenalkan saya terhadap negara Korea Selatan. Begini-begini, saya sempat menyandang ban (sabuk) biru Tae Kwon Do, setara dengan level 4 di seni bela diri yang lain. Saya sebut sempat, karena sudah lama saya tak berlatih, dan gerakan-gerakannya pun banyak yang lupa. Anyway, balik lagi ke negeri Korea Selatan itu sendiri, akhirnya saat ini saya punya kesempatan buat mengunjunginya. Tak hanya mengunjungi, bahkan stay beberapa minggu untuk urusan pekerjaan.

Kunjungan ke Korea Selatan kali ini, adalah kunjungan pertama saya. Tapi, kalo dibilang kunjungan ke negeri Asia Timur, atau kunjungan ke negeri dengan tulisan simbol (bukan tulisan latin) adalah kunjungan kedua saya – sebelumnya, saya kunjungan ke China. Trus, kalo kunjungan ke negeri saat winter, ini berarti ketiga kalinya – kedua kalinya dalam setahun terakhir #penting.

Bintang Korea, musik Korea (K-Pop), hingga serial drama Korea belakangan ini memang booming. Artis-artis Korea pun sudah cukup sering yang kunjungan atau menggelar konser di Indonesia. Bagi yang tidak terlalu memperhatikan, mungkin mengira artis-artis Korea itu sama saja dengan artis Mandarin. Padahal beda. Tapi ya, blogpost saya ga bakal ngebahas itu sih. :mrgreen: Melainkan, ngebahas perjalanan saya.

Sejak mid-November saya sudah tahu bakal ke Korea untuk beberapa minggu. Sejak itu pula saya mulai bikin list apa aja yang harus disiapin, karena di periode kunjungan saya kali ini bertepatan dengan winter. Iya, winter alias musim dingin. Lagi-lagi dalam setaun ini saya bakal ke negara yang lagi winter. Pakaian dalam yang bisa menahan tetap hangat, jaket winter, dan lain-lain sudah saya siapin dalam list. Trus, berkat info & juga meminjam sana-sini, akhirnya didapatlah semuanya. Alhamdulillah, senangnya punya banyak teman yang membantu.

Selain list, juga nyiapin uang buat selama di sini. Setelah nyari ke beberapa money changer & liat kurs sana-sini, ternyata susah juga nyari Won di Indonesia. Setelah cari-cari tahu dan juga berkat informasi rekan setim yang berangkat bersama, akhirnya dapatlah Won dengan kurs yang acceptable di Ayu Masagung, lokasinya di Toko Gunung Agung Kwitang.

Setelahnya nyiapin obat-obatan pribadi, keperluan pribadi, dan beberapa hal kecil seperti dokumen perjalanan dll. All set, all packed, and here I go!

Berangkaaaaaatttt!

Night Flight to Korea

Night Flight to Korea

Berangkat dari Soekarno-Hatta International Airport itu malam hari Selasa kemarin. Maskapai Korean Air jadi pilihan buat terbang dari Soekarno-Hatta menuju Incheon. Kenapa Korean Air & penerbangan malam? Karena Korean Air tarif totalnya saat dibandingkan dengan maskapai lain lebih murah, dan penerbangan malam karena itu direct flight – ga ada transit. Penerbangan malam untuk jarak jauh itu ada untung dan risikonya buat saya, untungnya ga perlu capek-capek turun-naik pesawat, risikonya bisa bosen kalo ga bisa tidur sementara film-film yang disediain di pesawatnya lagi ga menarik perhatian. Dan, risiko itu terjadi kemarin! *doh*

Oiya, sebelum-sebelumnya saya sempet mikir kalo naik maskapai penerbangan asing dari Jakarta-Indonesia menuju tujuan, pasti semua pramugarinya ga ada yang bisa ngomong bahasa Indonesia. Paling banter, ngomongnya ya bahasa Inggris. Tapi ternyata, di Korean Air kemaren ada seenggaknya 2 orang pramugari yang bisa ngomong bahasa Indonesia. Kaya’nya, ada aturan internal gitu kali ya buat menarik penumpang Indonesia ga takut naik maskapainya. Kalo maskapai lain ke tempat tujuan lain macam Belanda/Jerman gitu, gimana ya? *siap-siap bikin itinerary project ke sana* *eh*

Trus… trus… trus… nanti aja ya diapdet lagi. :mrgreen:

Kamu pernah ke Korea ga? Pengen ke Korea juga?

Where Am I?

You are currently browsing the harian category at i don't drink coffee but cappuccino.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.037 pengikut lainnya.