Gita Wirjawan itu…

November 18, 2013 § 19 Komentar

Gita Wirjawan

Gita Wirjawan

Saya pertama kali dengar nama Gita Wirjawan itu di tahun 2009. Jujur, pengetahuan saya soal bapak ini bisa dikatakan NOL saat itu. Yang saya tau di 2009 itu adalah, Pak Gita menjadi salah satu kandidat pejabat di kabinet Presiden SBY-Boediono periode 2009-2014. Posisinya apa, masih belum diketahui karena menunggu pengumuman resmi.

Tatkala kemudian diketahui bahwa Pak Gita akan menduduki posisi Kepala BKPM – Badan Koordinasi Penanaman Modal, mulailah rasa penasaran saya timbul. Siapa sih sebenarnya Gita Wirjawan ini? Apa saja kompetensi dia sehingga dipercaya menjadi pemimpin lembaga yang erat kaitannya dengan investasi dan perekonomian Indonesia? Apa yang pernah dia lakukan sehingga memiliki kemampuan seperti itu?

Berbekal liat sana-sini – gugling, baca koran, sampai dengan ngobrol dengan berbagai kenalan, akhirnya saya tahu kalo Pak Gita itu track record-nya keren banget. Salah satunya adalah Ancora Capital, yang juga berkaitan sama jabatannya sebagai Kepala BKPM. Pak Gita adalah pendiri dari Ancora Capital, perusahaan investasi yang dalam hitungan bulan aja bisa ambil alih sebagian saham perusahaan besar seperti PT Apexindo Pratama Duta Tbk, PT Bumi Resources Tbk, PT Multi Nitrat Kimia, perusahaan properti di Jakarta, dan sebuah perusahaan properti di Bali (info dari Wikipedia). Kejawab kan kenapa dia terpilih sebagai Kepala BKPM?

Masih dengan rasa penasaran yang sama, saya pun cari info lebih jauh soal Pak Gita. Salah satunya, saya dan dia punya selera musik yang sama, yaitu jazz. *penting* :mrgreen: Kesukaannya akan musik jazz, membuat dia punya inisiatif bikin rumah produksi Omega Pacific Production, yang banyak produksi album jazz. Niatannya buat bikin rumah produksi itu, kaya’nya juga dilandasi dari masa kecilnya yang udah suka sama musik sampe akhirnya dapet beasiswa buat kuliah musik.

Pak Gita juga dikenal punya semangat tinggi buat mencapai cita-cita. Salah satunya ketika ia kuliah di Amerika Serikat, dan harus bekerja sambil kuliah sampai lulus. Saat itu, Pak Gita terinspirasi oleh kata-kata Winnie the Pooh, “You’re bigger than what you think you are”, yang dalam arti lain, pada kenyataannya KITA lebih baik, lebih berani, lebih kuat, daripada yang kita kira. Berani Lebih Baik, maka semua tantangan akan bisa dihadapi.

Sekarang, Pak Gita menjabat Menteri Perdagangan Republik Indonesia, dan juga Ketua Umum PBSI. Mudah-mudahan, semangatnya terus berkobar untuk memberi andil penting bagi kemajuan negeri.

Oiya, kalo kebanyakan orang mungkin akan bermimpi untuk menjadi seperti Pak Gita, kalo saya sih.. yang lebih simple aja. Yaitu, mimpi saya suatu saat kelak dapat berjumpa dan audiensi langsung dengan beliau, Pak Gita Wirjawan.

Yuk, ketemu Pak Gita, yuk!

Geocell: Si Tangguh Penahan Beban

November 17, 2013 § 1 Komentar

Minggu yang lalu saya melakukan kurang lebih 4 kali perjalanan jarak jauh dari Jakarta. Bandung dan Tasikmalaya, adalah kota-kota yang saya kunjungi. Mau tak mau, karena saya bukan konglomerat yang punya pesawat pribadi, alhasil saya pun menggunakan jalan darat melalui jalan raya dan jalan tol, karena mau naik kereta api, agak khawatir sama jadwalnya yang bisa mendadak ngaret.

Sepanjang 4 kali perjalanan jarak jauh itu, mau tak mau saya merasakan berbagai macam kondisi jalanan. Dari jalan lurus, berkelok, mulus, hingga berlubang-lubang, dan perbaikan! Bayangkan, di saat musim hujan seperti ini, masih saja ada perbaikan jalan yang memakan beberapa ruas jalan sehingga mengakibatkan perjalanan sedikit terhambat. Belum lagi, jalan berlubang yang cukup berbahaya apabila dalam atau pengemudi kendaraan kurang lihai sehingga terjerembap yang bisa menyebabkan kerusakan minor pada kendaraan.

Perbaikan pada jalan raya, maupun juga jalan bebas hambatan (jalan tol) menurut saya pribadi bisa dikurangi frekuensinya atau bahkan dihindari sama sekali. Nah, salah satunya pasti dengan menggunakan produk teknologi terkini. Salah satunya adalah geocell – seperti yang pernah saya sebutkan di blogpost saya sebelumnya.

Yups, di salah satu paragraf saya sebutkan bahwa Geocell lebih sering digunakan dalam pembuatan lapisan jalan raya. Berhubung saya penasaran, maka saya pun cari tahu lebih banyak soal ini. Berdasar info dari salah satu kenalan saya – David Mulyono, Geocell ini bisa nambah dan bikin stabil daya dukung pada struktur tanah yang lemah, secara efektif dan long term. Selain itu, Geocell juga bisa mendistribusikan beban lateral secara merata pada tanah yang daya dukungnya rendah. Sederhananya, beban terbagi rata, sehingga tidak ada potensi amblas pada salah satu titik. Kebayang dong, jalan raya atau jalan tol dilewatin mobil truk angkut, trus macet. Kalo udah gitu dan sering, titik-titik tertentu di jalan raya bisa amblas atau rusak. Atau lapangan parkir terbuka tuh, kadang suka ketemu kan titik-titik yang mulai amblas ke dalam tanah karena keseringan jadi tumpuan ban mobil. Nah, kalo pake Geocell tentunya areal parkir lebih rata dan ga bakal amblas.

This slideshow requires JavaScript.

Lebih lanjut, saya kemudian jadi tahu kalo Geocell juga bisa ngejaga pergerakan tanah secara horizontal maupun juga vertikal. Hal ini tentu berguna banget pada aplikasi Geocell di pembuatan lapisan jalan raya, maupun juga buat dinding sungai penahan erosi seperti yang udah saya tulis di blogpost sebelumnya. Dipikir-pikir, seru juga teknologi Geocell ini kalo diterapkan di seluruh aspek pekerjaan umum seperti pembangunan jalan raya – terutama pembangunan jalan raya baru, jalan tol baru, atau perbaikan jalan yang sudah rusak. Tentunya, bikin sekali bagus di awal dan kemudian awet, bakal lebih mempermudah pekerjaan selanjutnya kan karena maintenance untuk merawat agar tetap berfungsi baik tentunya lebih murah ketimbang tambal sulam – berkali-kali secara berkala. (perbaikan jalan rutin itu ya aneh menurut saya sih)

Geocell sebagai salah satu inovasi ilmu pengetahuan teknologi terkini, sudah seharusnya jadi jalan keluar bagi perihal pekerjaan umum. Bukan cuman pekerjaan perbaikan, melainkan juga permulaan untuk pekerjaan umum yang baru. Karena aplikasi dari Geocell ini tak hanya bisa diterapkan pada jalan raya, tapi juga bisa diterapkan pada pondasi jalur kereta api, pondasi jalur pipa, dan lain-lain. Ga salah kan kalo kemudian Geocell ini disebut sebagai si tangguh yang dapat menahan beban.

Kalo penasaran sama Geocell ini, selain bisa ditanya-tanya lebih jauh sama Litbang Kementerian PU, juga bisa sama David Mulyono ini lho..

Jadi penasaran, Geocell ini bisa diterapkan buat pekerjaan pembangunan kompleks hunian gitu juga ga ya?

NB: Blogpost ini tengah saya ikutsertakan pada Sayembara Penulisan Blog 2013 Balitbang PU, Kementerian Pekerjaan Umum, Republik Indonesia.

Menanggulangi Erosi Sungai dengan Geocell

November 11, 2013 § 3 Komentar

Indonesia adalah sebuah negara yang akrab dengan air. Laut, danau, dan sungai, adalah berbagai bentukan air yang berada di wilayah Indonesia. Keberadaan bentukan air tersebut berkaitan dengan kehidupan manusia, karena air adalah salah satu kebutuhan pokok manusia sehari-hari.

Banyaknya bentukan air yang ada tersebut tak lepas dari potensi-potensi yang dapat merugikan manusia. Abrasi ataupun erosi dapat terjadi akibat kehendak alam, maupun juga akibat dari perilaku manusia yang tak bertanggungjawab. Saya pribadi merasa sebal sekaligus prihatin, ketika tahu bahwa tanah di sekitar sungai di Indonesia mengalami erosi yang dapat menimbulkan bahaya bagi penduduk sekitar.

Sebagai makhluk yang memiliki akal dan budi, manusia kemudian mencari cara untuk menanggulangi potensi kerugian tersebut sambil tetap menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan. Ilmu pengetahuan pun diberdayakan melalui penelitian, serta metode trial-error untuk menghasilkan sebuah produk dan cara penanggulangan terbaik. Salah satunya adalah dengan menggunakan Geocell, solusi bagi erosi sungai.

Berdasarkan artikel yang saya baca di webnya Balitbang PU di sini,

Geocell merupakan salah satu jenis bahan geosintetis yang terbuat dari HDPE (High Density PolyEthylene) atau salah satu senyawa plastik. Secara fisik, Geocell memiliki bentuk seperti sarang tawon – hexagon (segi enam) yang saling bertumpuk. Penampang tersebut diperkirakan cukup efektif untuk bangunan pelindung tebing terhadap adanya erosi.

 

Contoh Penerapan Geocell

Contoh Penerapan Geocell. Klik pada gambar untuk mengetahui sumber.

Ketika kemudian saya iseng googling untuk Geocell, saya pun menemukan berbagai informasi bahwa di luar negeri teknologi tersebut sudah cukup banyak diterapkan. Salah satunya diterapkan oleh Terram dengan produk Geocell-nya, yang berfungsi untuk meng-stabil-kan tanah dan pengendalian erosi. Selidik punya selidik di artikel awal yang saya baca tadi, ternyata sudah disebutkan pula beberapa produsen Geocell, yakni Presto Products Company, serta US Products Inc.

Beberapa keunggulan Geocell sebagai solusi bagi erosi antara lain,

  • Usia pakai yang lama di lereng yang stabil
  • Mudah dibawa dan dipasang di lokasi
  • Pemasangan cepat dan sederhana
  • Mudah dibongkar dan dapat digunakan kembali
  • Tahan terhadap unsur biologis dan kimiawi dari tanah

Keunggulan-keunggulan tersebut tentunya sesuai dengan kebutuhan untuk menanggulangi erosi, serta menahan laju hilangnya lahan/tanah akibat gerusan air. Selain itu, juga sesuai dengan concern akan produk yang awet dan ramah lingkungan. Walau begitu, Geocell masih harus diimpor dari luar negeri karena belum ada pabrik yang memproduksi di Indonesia. Sehingga sudah hampir pasti harganya ya mahal.

Oiya, sebagai pembuktian Geocell sebagai solusi bagi erosi, Balitbang PU (sesuai artikel yang saya baca tadi), udah ngelakuin pemasangan Geocell  di K. Mungkung yaitu di Desa Patihan Kelurahan Karang Tengah Kabupaten Sragen. Penelitian ini adalah penerapan pertama geocell sebagai pelindung tebing terhadap erosi, karena sebelumnya geocell lebih sering digunakan sebagai lapisan jalan raya.

Dari penelitian Balitbang PU yang kemudian dipublikasi ini, saya jadi belajar kalo ilmu pengetahuan yang ditelaah oleh manusia bisa memberikan solusi bagi berbagai permasalahan masyarakat – atau pekerjaan umum. Mudah-mudahan sih, hasil penelitian ini kelak diterapkan juga secara menyeluruh. Amin!

Menurut kamu gimana?

NB: Blogpost ini tengah saya ikutsertakan pada Sayembara Penulisan Blog Balitbang PU, Kementerian Pekerjaan Umum, Republik Indonesia.

Identitas Indonesia

November 1, 2013 § 5 Komentar

Rumah Gadang Sumatera Barat, oleh Aziz Fauzi Rahmat di Potret Mahakarya Indonesia

Rumah Gadang Sumatera Barat, oleh Aziz Fauzi Rahmat di Potret Mahakarya Indonesia (https://www.djisamsoe.com/pmi2013/photos/detail/5705)

“Where do you come from?” Yan Ling, salah satu kenalan saya bertanya di sebuah sore pada tahun 2007, di China.

“Indonesia.” jawab saya.

“Indonesia? Which country is it?”

“Do you know South East Asia regiom? Now, there is my country.”

“I know only Malaysia and Singapore from the South East Asia region.” Yan Ling menjawab.

“Well.. my country is famous with Orangutan, big islands such as Sumatra, Borneo, and so.”

“Really? I thought Borneo was Malaysian.”

“Borneo divided into two countries, Malaysia and Indonesia. My country had the biggest area of it.”

Yan Ling tak menjawab. Raut bingung masih tampak di mukanya. Sepertinya jawaban saya lebih berupa informasi baru baginya, dan masih harus ia buktikan secara sendiri.

Bukan sekali-dua kali ketika saya memberitahu bahwa saya berasal dari Indonesia, saya harus menjelaskan dengan beberapa contoh seperti hal-hal lain yang orang lain belum tahu bahwa berasal atau merupakan bagian dari Indonesia. Orang utan, Pulau Kalimantan atau Borneo, atau bahkan Bali adalah beberapa hal yang seringkali saya ucap untuk menerangkan Indonesia.

Negeri tempat saya lahir dan bernaung ini – Indonesia, hingga saat ini memiliki begitu banyak potensi yang secara individu sudah dikenali dunia, sudah dikenali orang asing. Tapi ya gitu itu, dikenali sebagai satu entity tersendiri, dan bukan menjadi bagian dari Indonesia – kalo ga mau dikatakan terkait dengan negeri lain. Gemas rasanya. Tapi ya, mau gimana lagi?

Begitu banyak budaya hingga spesies satwa unik adalah bagian yang pantas menjadi identitas dari Indonesia. Semua terbentang dari Sabang hingga Merauke, dan yang paling diperlukan adalah mengemasnya dengan menarik agar bisa menjadi sebuah identitas yang menjadi jiwa dari Indonesia. Sehingga, ketika disebutkan “Rumah Gadang” misalnya, maka orang akan langsung mengenalnya sebagai Indonesia.

Menggali dan mengenali bagian dari Indonesia yang bisa menjadi identitas Indonesia bisa dilakukan oleh semua warga negara. Hak yang patut dilakukan – kalo ga mau disebut wajib. Kenapa? Karena dari sekian banyak hal-hal tersebut, telah tertanam kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur yang tentunya menjadi mahakarya. Setuju ‘kan kalo itu pantas jadi identitas Indonesia? Harusnya setuju juga buat membangunnya sebagai identitas Indonesia.

Saya pribadi punya mimpi, ketika bertemu orang asing di negeri mereka, ketika saya menyebutkan contoh tempat seperti “Masjid Raya Baiturrahman”, akan langsung dikenali sebagai bagian dari Indonesia.

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, saat malam. Foto by Yulian Anita, taken October 2013.

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, saat malam. Foto by Yulian Anita, taken October 2013.

NB: Blogpost ini sedang diikutsertakan pada live blogging competition di Blogger Gathering Potret Mahakarya Indonesia, Jumat 1 November 2013.

Ayah

Oktober 22, 2013 § 5 Komentar

“Sesulit apapun kondisi kamu, jangan pernah minta-minta pada orang lain…” – Ayah.

Begitu yang diingatkan Ayah pada saya. Kalimat itu ia sampaikan secara langsung pada saya, bulan lalu – September 2013.

Ayah atau Papa, begitulah anak-anaknya memanggilnya, adalah seorang yang menjadi role model dan telah mengajarkan pada saya banyak hal. Mulai dari bagaimana bertanggungjawab sebagai pria, tentang prinsip-prinsip keluarga, pentingnya berbagi, hingga sifat lembut yang harus dimiliki.

Ayah mengajari saya pentingnya bangga untuk menjadi seorang warga dari Indonesia. Ayah mungkin tak pernah berkecimpung secara langsung dalam dunia politik praktis, tapi darinya-lah saya belajar mengenai sikap kritis, berpartisipasi pada pembangunan negeri, hingga kepekaan sosial.

Ayah juga mendidik anak-anaknya mengenai pentingnya pendidikan, pemahaman dari materi yang diajarkan di lembaga pendidikan, formal ataupun non-formal. Ayah mungkin tak pernah memiliki gelar sarjana apapun, tapi ia beserta Mama selalu menyemangati semua anak-anaknya agar tak hanya berhasil meraih gelar akademis, melainkan juga memiliki pemahaman baik akan ilmu yang dipelajari.

Ayah pun menanamkan pada anak-anaknya pentingnya beribadah, beriman pada Tuhan Yang Maha Esa. Bersedekah, berinfak, mengaji, berkurban (saat mampu), hingga bersikap sabar dan ikhlas adalah hal yang tak jarang ia ajarkan – baik melalui ucapan, maupun contoh perilaku.

Benar seperti yang pernah dibilang dr. Nino – seorang dokter yang pernah saya temui di RS Tebet, “Seorang Ayah lebih baik dari puluhan, bahkan ratusan guru atau pengajar bagi anaknya.” Dan, itulah gambaran yang tepat untuk Ayah.

“Ga ada yang namanya bekas atau mantan dalam hubungan keluarga. Ga ada yang namanya mantan ayah, mantan ibu, mantan anak, atau mantan saudara. Berikan perhatian utama untuk keluargamu (pasanganmu), anak-anakmu, orangtuamu (dibandingkan kepentinganmu yang lain).” – Ayah.

Foto keluarga yang diambil pada 2 Desember 2007 lalu.

Foto keluarga yang diambil pada 2 Desember 2007 lalu.
atas (ki-ka): saya-Non (adik saya)-Aa
bawah (ki-ka): Mama-Non Lisa (adik saya terkecil)-Ayah

Selamat jalan Ayah…

In memoriam: Yulius Hiongko Koesoemadinata, 2 Juli 1955 – 5 Oktober 2013.

Totalitas Dimulai Sejak Awal

Oktober 1, 2013 § 11 Komentar

Jelang Pentas oleh Albertus Widi di Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. klik untuk info lebih lanjut

Jelang Pentas oleh Albertus Widi di Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. klik untuk info lebih lanjut

Salah satu ajaran yang cukup saya ingat dari Ayah saya adalah, perlunya totalitas dalam melakukan sesuatu. Singkatnya, jangan tanggung. Kalo sudah niat buat melakukan sesuatu, ya lakukan sepenuh hati dari awal sampe akhir.

Salah satu hal yang perlu dilakukan dengan totalitas adalah persiapan yang mencakup perencanaan. Perencanaan yang baik, tentu akan membuat kita lebih yakin dan sepenuh hati – total dalam menjalankan sesuatu, sehingga tak ada keraguan.

Gagal dalam perencanaan sama artinya dengan berencana untuk gagal.

Sebagian orang mungkin akan memandang skeptis tentang totalitas, terutama sejak awal. Buat apa total sejak awal, toh nanti pada pelaksanaan pasti ada faktor X yang mempengaruhi. Yep, pendapat seperti itu tak jarang saya temui.

Totalitas sejak awal buat saya sama artinya dengan membangun fondasi yang kuat untuk melakukan sesuatu. Ibarat sebuah rumah, fondasi yang terencana dengan baik karena totalitas, akan membuat rumah tersebut tahan lama. Kelak, jika diperlukan beberapa penyesuaian terhadap rumah tersebut, maka fondasi tersebut takkan perlu diubah banyak karena sudah tentu menjadi penyokong yang kuat.

Lain lagi jika diibaratkan sebuah pertunjukan, maka totalitas sejak awal dapat dicontohkan pada memperhatikan detail hingga membuat beberapa pilihan skenario jalannya acara. Pada pertunjukan seperti wayang orang dan juga teater, totalitas sejak awal dapat dilihat secara jelas pada persiapan kostum, make up, hingga konfirmasi ulang mengenai susunan kemunculan seorang tokoh atau pergantian babak.

Mungkin susah untuk memulai totalitas sejak awal, namun itu bukan berarti hal yang mustahil dilakukan. Apabila dilatih untuk dijalankan berkali-kali, maka kelak sikap tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan. Sebuah sikap yang menunjang proses pembangunan karakter untuk menjadi lebih baik.

Menurut kamu gimana?

NB: Blogpost ini tengah saya ikutsertakan pada Blogging Competition Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

Menikmati Hening

September 25, 2013 § 8 Komentar

“The Stupas of Borobudur” photo by Prihanda Muhardika di website Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. – klik foto buat info lebih lanjut

Suara, sebuah objek yang bisa dirasakan oleh indra pendengar manusia. Sebuah objek yang lazimnya diciptakan oleh benda-benda yang beradu, ataupun mengisi kekosongan. Sebuah objek yang bisa menjadi sebuah kerinduan di dalam kesepian, maupun juga sebuah pengganggu jika terlalu banyak yang didengarkan.

Lazimnya, manusia hidup dengan selalu dikelilingi suara, karena fitrahnya manusia adalah untuk mendengar, sebagai salah satu bagian dalam menggunakan panca indra. Namun, ada beberapa waktu yang justru butuh kondisi di mana suara-suara dikesampingkan. Hening. Untuk kemudian dinikmati. Atau mungkin juga, menjalani hening agar dapat berpikir lebih jernih. Tentang hidup, tentang sehari-hari, tentang ciptaan Tuhan, tentang bersyukur.

Buat saya pribadi, konsep menikmati hening perlu diterapkan dalam sehari-hari. Setidaknya, sebagai penyeimbang. Tujuannya? Sudah jelas, supaya dapat berpikir lebih jernih, supaya lebih cermat terhadap sebuah perihal, supaya lebih fokus. Pelaksanaannya sendiri, bisa setiap saat dan tak perlu lama. Walau begitu, waktu yang paling pas buat menikmati hening bagi saya adalah ketika malam menjelang pagi.

Ketika sebagian besar makhluk hidup masih beristirahat, dan sebagian lagi sedang bersiap-siap untuk menyongsong hari dengan kesibukan di tempat masing-masing, saat itulah – bagi saya – keheningan yang paling nikmat. Saat itu pula sepertinya tepat bagi saya untuk mencari pemecahan berbagai tantangan yang sedang saya jalani, membuat beberapa rencana, hingga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dan, bagi saya pribadi pula, konsep menikmati hening ternyata telah mengakar di dalam sejarah dan budaya Indonesia – terlepas dari agama, kepercayaan, dan atau sikap politik. Menikmati hening yang juga bisa diartikan sebagai bentukan meditasi, telah tercermin melalui patung dalam stupa-stupa di Candi Borobudur di Jawa Tengah, Indonesia. Dengan posisi mengelilingi candi di setiap lantai, patung-patung tersebut menghadap ke lingkungan sekitar, dalam posisi duduk yang bisa dianggap sebagai meditasi. Yang ketika dipikirkan lebih jauh, patung tersebut sedang dalam posisi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dalam hening, dengan mengamati lingkungan sekitar.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, foto diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Dari Candi Borobudur itulah, saya belajar bahwa pencapaian terbesar bagi seorang manusia bukanlah tentang memiliki kekuatan yang mendekati atau lebih besar daripada Penciptanya. Pencapaian terbesar manusia, adalah tentang mengakui kebesaran Sang Pencipta yang salah satu perwujudannya adalah membuat mahakarya yang mencerminkan keagungan Tuhan.

Menurut kamu, gimana?

NB: Tanpa mengurangi kandungan isi, blogpost ini tengah diikutsertakan dalam blogging competition yang menjadi bagian dari Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.091 pengikut lainnya.