Menanggulangi Erosi Sungai dengan Geocell

November 11, 2013 § 3 Komentar

Indonesia adalah sebuah negara yang akrab dengan air. Laut, danau, dan sungai, adalah berbagai bentukan air yang berada di wilayah Indonesia. Keberadaan bentukan air tersebut berkaitan dengan kehidupan manusia, karena air adalah salah satu kebutuhan pokok manusia sehari-hari.

Banyaknya bentukan air yang ada tersebut tak lepas dari potensi-potensi yang dapat merugikan manusia. Abrasi ataupun erosi dapat terjadi akibat kehendak alam, maupun juga akibat dari perilaku manusia yang tak bertanggungjawab. Saya pribadi merasa sebal sekaligus prihatin, ketika tahu bahwa tanah di sekitar sungai di Indonesia mengalami erosi yang dapat menimbulkan bahaya bagi penduduk sekitar.

Sebagai makhluk yang memiliki akal dan budi, manusia kemudian mencari cara untuk menanggulangi potensi kerugian tersebut sambil tetap menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan. Ilmu pengetahuan pun diberdayakan melalui penelitian, serta metode trial-error untuk menghasilkan sebuah produk dan cara penanggulangan terbaik. Salah satunya adalah dengan menggunakan Geocell, solusi bagi erosi sungai.

Berdasarkan artikel yang saya baca di webnya Balitbang PU di sini,

Geocell merupakan salah satu jenis bahan geosintetis yang terbuat dari HDPE (High Density PolyEthylene) atau salah satu senyawa plastik. Secara fisik, Geocell memiliki bentuk seperti sarang tawon – hexagon (segi enam) yang saling bertumpuk. Penampang tersebut diperkirakan cukup efektif untuk bangunan pelindung tebing terhadap adanya erosi.

 

Contoh Penerapan Geocell

Contoh Penerapan Geocell. Klik pada gambar untuk mengetahui sumber.

Ketika kemudian saya iseng googling untuk Geocell, saya pun menemukan berbagai informasi bahwa di luar negeri teknologi tersebut sudah cukup banyak diterapkan. Salah satunya diterapkan oleh Terram dengan produk Geocell-nya, yang berfungsi untuk meng-stabil-kan tanah dan pengendalian erosi. Selidik punya selidik di artikel awal yang saya baca tadi, ternyata sudah disebutkan pula beberapa produsen Geocell, yakni Presto Products Company, serta US Products Inc.

Beberapa keunggulan Geocell sebagai solusi bagi erosi antara lain,

  • Usia pakai yang lama di lereng yang stabil
  • Mudah dibawa dan dipasang di lokasi
  • Pemasangan cepat dan sederhana
  • Mudah dibongkar dan dapat digunakan kembali
  • Tahan terhadap unsur biologis dan kimiawi dari tanah

Keunggulan-keunggulan tersebut tentunya sesuai dengan kebutuhan untuk menanggulangi erosi, serta menahan laju hilangnya lahan/tanah akibat gerusan air. Selain itu, juga sesuai dengan concern akan produk yang awet dan ramah lingkungan. Walau begitu, Geocell masih harus diimpor dari luar negeri karena belum ada pabrik yang memproduksi di Indonesia. Sehingga sudah hampir pasti harganya ya mahal.

Oiya, sebagai pembuktian Geocell sebagai solusi bagi erosi, Balitbang PU (sesuai artikel yang saya baca tadi), udah ngelakuin pemasangan Geocell  di K. Mungkung yaitu di Desa Patihan Kelurahan Karang Tengah Kabupaten Sragen. Penelitian ini adalah penerapan pertama geocell sebagai pelindung tebing terhadap erosi, karena sebelumnya geocell lebih sering digunakan sebagai lapisan jalan raya.

Dari penelitian Balitbang PU yang kemudian dipublikasi ini, saya jadi belajar kalo ilmu pengetahuan yang ditelaah oleh manusia bisa memberikan solusi bagi berbagai permasalahan masyarakat – atau pekerjaan umum. Mudah-mudahan sih, hasil penelitian ini kelak diterapkan juga secara menyeluruh. Amin!

Menurut kamu gimana?

NB: Blogpost ini tengah saya ikutsertakan pada Sayembara Penulisan Blog Balitbang PU, Kementerian Pekerjaan Umum, Republik Indonesia.

Identitas Indonesia

November 1, 2013 § 5 Komentar

Rumah Gadang Sumatera Barat, oleh Aziz Fauzi Rahmat di Potret Mahakarya Indonesia

Rumah Gadang Sumatera Barat, oleh Aziz Fauzi Rahmat di Potret Mahakarya Indonesia (https://www.djisamsoe.com/pmi2013/photos/detail/5705)

“Where do you come from?” Yan Ling, salah satu kenalan saya bertanya di sebuah sore pada tahun 2007, di China.

“Indonesia.” jawab saya.

“Indonesia? Which country is it?”

“Do you know South East Asia regiom? Now, there is my country.”

“I know only Malaysia and Singapore from the South East Asia region.” Yan Ling menjawab.

“Well.. my country is famous with Orangutan, big islands such as Sumatra, Borneo, and so.”

“Really? I thought Borneo was Malaysian.”

“Borneo divided into two countries, Malaysia and Indonesia. My country had the biggest area of it.”

Yan Ling tak menjawab. Raut bingung masih tampak di mukanya. Sepertinya jawaban saya lebih berupa informasi baru baginya, dan masih harus ia buktikan secara sendiri.

Bukan sekali-dua kali ketika saya memberitahu bahwa saya berasal dari Indonesia, saya harus menjelaskan dengan beberapa contoh seperti hal-hal lain yang orang lain belum tahu bahwa berasal atau merupakan bagian dari Indonesia. Orang utan, Pulau Kalimantan atau Borneo, atau bahkan Bali adalah beberapa hal yang seringkali saya ucap untuk menerangkan Indonesia.

Negeri tempat saya lahir dan bernaung ini – Indonesia, hingga saat ini memiliki begitu banyak potensi yang secara individu sudah dikenali dunia, sudah dikenali orang asing. Tapi ya gitu itu, dikenali sebagai satu entity tersendiri, dan bukan menjadi bagian dari Indonesia – kalo ga mau dikatakan terkait dengan negeri lain. Gemas rasanya. Tapi ya, mau gimana lagi?

Begitu banyak budaya hingga spesies satwa unik adalah bagian yang pantas menjadi identitas dari Indonesia. Semua terbentang dari Sabang hingga Merauke, dan yang paling diperlukan adalah mengemasnya dengan menarik agar bisa menjadi sebuah identitas yang menjadi jiwa dari Indonesia. Sehingga, ketika disebutkan “Rumah Gadang” misalnya, maka orang akan langsung mengenalnya sebagai Indonesia.

Menggali dan mengenali bagian dari Indonesia yang bisa menjadi identitas Indonesia bisa dilakukan oleh semua warga negara. Hak yang patut dilakukan – kalo ga mau disebut wajib. Kenapa? Karena dari sekian banyak hal-hal tersebut, telah tertanam kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur yang tentunya menjadi mahakarya. Setuju ‘kan kalo itu pantas jadi identitas Indonesia? Harusnya setuju juga buat membangunnya sebagai identitas Indonesia.

Saya pribadi punya mimpi, ketika bertemu orang asing di negeri mereka, ketika saya menyebutkan contoh tempat seperti “Masjid Raya Baiturrahman”, akan langsung dikenali sebagai bagian dari Indonesia.

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, saat malam. Foto by Yulian Anita, taken October 2013.

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, saat malam. Foto by Yulian Anita, taken October 2013.

NB: Blogpost ini sedang diikutsertakan pada live blogging competition di Blogger Gathering Potret Mahakarya Indonesia, Jumat 1 November 2013.

Ayah

Oktober 22, 2013 § 5 Komentar

“Sesulit apapun kondisi kamu, jangan pernah minta-minta pada orang lain…” – Ayah.

Begitu yang diingatkan Ayah pada saya. Kalimat itu ia sampaikan secara langsung pada saya, bulan lalu – September 2013.

Ayah atau Papa, begitulah anak-anaknya memanggilnya, adalah seorang yang menjadi role model dan telah mengajarkan pada saya banyak hal. Mulai dari bagaimana bertanggungjawab sebagai pria, tentang prinsip-prinsip keluarga, pentingnya berbagi, hingga sifat lembut yang harus dimiliki.

Ayah mengajari saya pentingnya bangga untuk menjadi seorang warga dari Indonesia. Ayah mungkin tak pernah berkecimpung secara langsung dalam dunia politik praktis, tapi darinya-lah saya belajar mengenai sikap kritis, berpartisipasi pada pembangunan negeri, hingga kepekaan sosial.

Ayah juga mendidik anak-anaknya mengenai pentingnya pendidikan, pemahaman dari materi yang diajarkan di lembaga pendidikan, formal ataupun non-formal. Ayah mungkin tak pernah memiliki gelar sarjana apapun, tapi ia beserta Mama selalu menyemangati semua anak-anaknya agar tak hanya berhasil meraih gelar akademis, melainkan juga memiliki pemahaman baik akan ilmu yang dipelajari.

Ayah pun menanamkan pada anak-anaknya pentingnya beribadah, beriman pada Tuhan Yang Maha Esa. Bersedekah, berinfak, mengaji, berkurban (saat mampu), hingga bersikap sabar dan ikhlas adalah hal yang tak jarang ia ajarkan – baik melalui ucapan, maupun contoh perilaku.

Benar seperti yang pernah dibilang dr. Nino – seorang dokter yang pernah saya temui di RS Tebet, “Seorang Ayah lebih baik dari puluhan, bahkan ratusan guru atau pengajar bagi anaknya.” Dan, itulah gambaran yang tepat untuk Ayah.

“Ga ada yang namanya bekas atau mantan dalam hubungan keluarga. Ga ada yang namanya mantan ayah, mantan ibu, mantan anak, atau mantan saudara. Berikan perhatian utama untuk keluargamu (pasanganmu), anak-anakmu, orangtuamu (dibandingkan kepentinganmu yang lain).” – Ayah.

Foto keluarga yang diambil pada 2 Desember 2007 lalu.

Foto keluarga yang diambil pada 2 Desember 2007 lalu.
atas (ki-ka): saya-Non (adik saya)-Aa
bawah (ki-ka): Mama-Non Lisa (adik saya terkecil)-Ayah

Selamat jalan Ayah…

In memoriam: Yulius Hiongko Koesoemadinata, 2 Juli 1955 – 5 Oktober 2013.

Totalitas Dimulai Sejak Awal

Oktober 1, 2013 § 11 Komentar

Jelang Pentas oleh Albertus Widi di Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. klik untuk info lebih lanjut

Jelang Pentas oleh Albertus Widi di Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. klik untuk info lebih lanjut

Salah satu ajaran yang cukup saya ingat dari Ayah saya adalah, perlunya totalitas dalam melakukan sesuatu. Singkatnya, jangan tanggung. Kalo sudah niat buat melakukan sesuatu, ya lakukan sepenuh hati dari awal sampe akhir.

Salah satu hal yang perlu dilakukan dengan totalitas adalah persiapan yang mencakup perencanaan. Perencanaan yang baik, tentu akan membuat kita lebih yakin dan sepenuh hati – total dalam menjalankan sesuatu, sehingga tak ada keraguan.

Gagal dalam perencanaan sama artinya dengan berencana untuk gagal.

Sebagian orang mungkin akan memandang skeptis tentang totalitas, terutama sejak awal. Buat apa total sejak awal, toh nanti pada pelaksanaan pasti ada faktor X yang mempengaruhi. Yep, pendapat seperti itu tak jarang saya temui.

Totalitas sejak awal buat saya sama artinya dengan membangun fondasi yang kuat untuk melakukan sesuatu. Ibarat sebuah rumah, fondasi yang terencana dengan baik karena totalitas, akan membuat rumah tersebut tahan lama. Kelak, jika diperlukan beberapa penyesuaian terhadap rumah tersebut, maka fondasi tersebut takkan perlu diubah banyak karena sudah tentu menjadi penyokong yang kuat.

Lain lagi jika diibaratkan sebuah pertunjukan, maka totalitas sejak awal dapat dicontohkan pada memperhatikan detail hingga membuat beberapa pilihan skenario jalannya acara. Pada pertunjukan seperti wayang orang dan juga teater, totalitas sejak awal dapat dilihat secara jelas pada persiapan kostum, make up, hingga konfirmasi ulang mengenai susunan kemunculan seorang tokoh atau pergantian babak.

Mungkin susah untuk memulai totalitas sejak awal, namun itu bukan berarti hal yang mustahil dilakukan. Apabila dilatih untuk dijalankan berkali-kali, maka kelak sikap tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan. Sebuah sikap yang menunjang proses pembangunan karakter untuk menjadi lebih baik.

Menurut kamu gimana?

NB: Blogpost ini tengah saya ikutsertakan pada Blogging Competition Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

Menikmati Hening

September 25, 2013 § 8 Komentar

“The Stupas of Borobudur” photo by Prihanda Muhardika di website Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. – klik foto buat info lebih lanjut

Suara, sebuah objek yang bisa dirasakan oleh indra pendengar manusia. Sebuah objek yang lazimnya diciptakan oleh benda-benda yang beradu, ataupun mengisi kekosongan. Sebuah objek yang bisa menjadi sebuah kerinduan di dalam kesepian, maupun juga sebuah pengganggu jika terlalu banyak yang didengarkan.

Lazimnya, manusia hidup dengan selalu dikelilingi suara, karena fitrahnya manusia adalah untuk mendengar, sebagai salah satu bagian dalam menggunakan panca indra. Namun, ada beberapa waktu yang justru butuh kondisi di mana suara-suara dikesampingkan. Hening. Untuk kemudian dinikmati. Atau mungkin juga, menjalani hening agar dapat berpikir lebih jernih. Tentang hidup, tentang sehari-hari, tentang ciptaan Tuhan, tentang bersyukur.

Buat saya pribadi, konsep menikmati hening perlu diterapkan dalam sehari-hari. Setidaknya, sebagai penyeimbang. Tujuannya? Sudah jelas, supaya dapat berpikir lebih jernih, supaya lebih cermat terhadap sebuah perihal, supaya lebih fokus. Pelaksanaannya sendiri, bisa setiap saat dan tak perlu lama. Walau begitu, waktu yang paling pas buat menikmati hening bagi saya adalah ketika malam menjelang pagi.

Ketika sebagian besar makhluk hidup masih beristirahat, dan sebagian lagi sedang bersiap-siap untuk menyongsong hari dengan kesibukan di tempat masing-masing, saat itulah – bagi saya – keheningan yang paling nikmat. Saat itu pula sepertinya tepat bagi saya untuk mencari pemecahan berbagai tantangan yang sedang saya jalani, membuat beberapa rencana, hingga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dan, bagi saya pribadi pula, konsep menikmati hening ternyata telah mengakar di dalam sejarah dan budaya Indonesia – terlepas dari agama, kepercayaan, dan atau sikap politik. Menikmati hening yang juga bisa diartikan sebagai bentukan meditasi, telah tercermin melalui patung dalam stupa-stupa di Candi Borobudur di Jawa Tengah, Indonesia. Dengan posisi mengelilingi candi di setiap lantai, patung-patung tersebut menghadap ke lingkungan sekitar, dalam posisi duduk yang bisa dianggap sebagai meditasi. Yang ketika dipikirkan lebih jauh, patung tersebut sedang dalam posisi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dalam hening, dengan mengamati lingkungan sekitar.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, foto diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Dari Candi Borobudur itulah, saya belajar bahwa pencapaian terbesar bagi seorang manusia bukanlah tentang memiliki kekuatan yang mendekati atau lebih besar daripada Penciptanya. Pencapaian terbesar manusia, adalah tentang mengakui kebesaran Sang Pencipta yang salah satu perwujudannya adalah membuat mahakarya yang mencerminkan keagungan Tuhan.

Menurut kamu, gimana?

NB: Tanpa mengurangi kandungan isi, blogpost ini tengah diikutsertakan dalam blogging competition yang menjadi bagian dari Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

5 Hal yang Sulit Saya Temukan di Jakarta (dan sekitarnya)

September 10, 2013 § 12 Komentar

Sebagai seorang warga Negara Indonesia yang berasal dari keluarga multikultur (ayah saya keturunan Jawa, ibu saya keturunan Sunda), dan sempat tinggal di beberapa tempat berbeda (paling lama tinggal di tanah Sunda, kini tinggal di Jakarta, tapi sempat “jalan-jalan” ke Kalimantan dan Papua), ada beberapa hal yang sulit saya temukan di Jakarta (dan sekitarnya).

Hal-hal yang sulit itu bervariasi, mulai dari makanan, tempat, hingga kebiasaan. Kebanyakan, tentunya yang saya temukan di kota/tempat lain, tapi tidak saya temukan di Jakarta (dan sekitarnya). Apa aja? Ini dia..

      1. Nasi Tutug Oncom – Nasi TO
        Buat kebanyakan orang Sunda – atau lama tinggal di ranah Sunda, tentu (harusnya) tahu apa itu nasi TO. Nasi bercampur oncom yang dibuat tutug (saya belum nemu padanan katanya di bahasa Indonesia), dengan rasa yang sedikit gurih, asin, dan pedas yang bukan pedas seperti sambal. Sampai saat ini, saya belum nemu tempat atau orang yang jualan itu. Jadi, kalo lagi kangen dan pengen, paling minta tolong sama ibu saya untuk bikin, atau minta tolong kenalan yang lagi pulang kampung ke Tasikmalaya (salah satu kota di Jawa Barat), agar pada saat balik lagi ke Jakarta bawa seporsi nasi TO. Tentunya, nasi TO yang dibawakan harus langsung dimakan setelah tiba, agar tidak basi.

        Nasi TO. Foto dari laman InfoTasik. Klik foto buat laman lengkap.

        Nasi TO. Foto dari laman InfoTasik. Klik foto buat laman lengkap.

      2. Sambal terasi – di warung makanan kecil
        Walau di Jakarta begitu mudah terasi bisa dijumpai di pasar, tapi jarang dan sulit rasanya nemuin sambal terasi di warung makanan kecil. Entah, apa karena ga doyan terasi atau malas “ditempeli” aroma terasi, tapi yang pasti sulit menemukan sambal terasi. Padahal, sambal terasi itu enak dimakan sama nasi putih panas, sama nasi TO juga enak, atau dimakan dengan gorengan panas. YUM!
      3. Pantai yang bersih, dengan akses mudah dan gratis
        Coba, di Jakarta (dan sekitarnya) ada ga pantai yang bersih dan mudah diakses plus gratis pula? Kaya’nya ga ada ya. Ke tepi laut aja harus bayar minimal retribusi, ke pasar ikan juga gitu.
      4. Mie ayam (yamin) dan bakso plus daging giling/cincang
        Rata-rata, mie ayam atau mie bakso di Jakarta ya pasti berkuah. Kalopun ga berkuah, bisa diyamin gitu, pasti macam mie ayam. Dan, kalo ada tambahan daging, itu bukan daging giling atau cincang, melainkan daging ala mie ayam. Kenapa saya pengen mie ayam (yamin) dan bakso plus daging giling/cincang? Karena rasanya enaaaakkk.. Coba itu para penjual di Tasikmalaya buka cabang di Jakarta ya, pasti enak deh.. :mrgreen:

        Mie Bakso Laksana, Tasikmalaya

        Mie Bakso Laksana, Tasikmalaya. Foto dari flickr-nya “nitrorexic”. Klik foto buat laman flickr-nya.

      5. Bubur ayam lengkap dengan cakwe!
        Nah, di Jakarta kaya’nya belom nemu deh bubur ayam yang dilengkapi dengan cakwe. Jangankan cakwe, kadang kerupuk aja ga dikasih. Udah gitu kecap manis pun perlu minta dulu. Haduh, padahal kan bubur ayam campur cakwe, tambah emping, plus kecap manis itu ENAAAAKKK… *jadi laper*

Kadang suka mikir, kalo bikin/buka usaha makanan yang saya sebutin di atas di Jakarta, laku kali ya? Secara, yang pengen pasti ga cuman saya.. *tapi bingung mau buka di mana, dan belum tau modalnya harus berapa*

Kalo kamu, apa sih yang kamu pengen banget tapi sulit ditemukan di Jakarta?

#NekadTraveler: One Day Trip to Beijing

Agustus 28, 2013 § 15 Komentar

Pepatah bilang, “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China.” Buat saya pribadi, tampaknya pepatah tersebut lebih sesuai “Jalan-jalanlah (kalo perlu nekad) hingga ke negeri China.” Sebuah pengalaman pribadi yang mengesankan – kalo ga dibilang NEKAD, dan terjadi pada periode Desember 2007 hingga Januari 2008 lalu. :mrgreen:

Singkat cerita, awal Desember 2007 saya berangkat ke China karena penugasan dari tempat bekerja saya sebelumnya dari Balikpapan, Indonesia buat kerja. Jadi semacam TKI gitu deh.. *eh* Jam kerja dan hari kerja dijalani dengan beraktivitas di kantor operasional di Tanggu, Tianjin – sekitar 2-3 jam perjalanan dari Beijing. Tapi, kalo di luar jam kerja dan hari kerja? Tentu saja, melakukan eksplorasi (baca: jalan-jalan) di negeri tirai bambu tersebut, kebetulan emang menginap di Golden Sail Hotel, yang berlokasi di Tanggu, Tianjin juga. Minimal eksplorasinya di sekeliling Tanggu & TEDA, distrik di dalam Tianjin. Padahal, pada saat itu lagi winter alias musim dingin dan bersalju di sana.

Hotel tempat menginap di Tanggu, Tianjin

Hotel tempat menginap di Tanggu, Tianjin

Ga Dingin? Udah pasti dingin, dong. Dingin banget, malah. Udah pake jaket tebal khusus winter yang dibeli di sana, pake apparel panjang & celana panjang, ditambah lagi pake longjohn – daleman ngepres yang (katanya) bisa nahan panas supaya ga keluar tubuh, tetep aja dinginnya berasa sampe ke tulang. Apalagi saya berasal dari Indonesia, negeri tropis yang terbiasa dengan hangat (kalo ga disebut panas). Tapi ya, kondisi cuaca yang kadang bersalju, waktu siang yang pendek, dan suhu harian yang ga pernah lebih dari 10 derajat Celcius – dan bahkan sempet minus, ga menghalangi saya buat jalan-jalan. :) Nekad lah, demi pengalaman sekali seumur hidup! *lebay dikit*

Cukup 2 minggu – kurang lebih 4 hari full yang efektif buat jalan-jalan, Tanggu-TEDA udah khatam dikelilingi –ke wilayah-wilayah utamanya macam pusat perbelanjaan, pusat olahraga, beberapa rumah orang Indonesia, hingga pusat bisnis. Padahal, ga semua orang China yang saya temui di sana fasih berbahasa Inggris – bahkan di kantor operasional, dan ga semua marka jalan ataupun tulisan reklame ditulis dalam huruf latin. Namanya udah niat, ya jelas lah jalan-jalan.

This slideshow requires JavaScript.

Pencapaian paling keren selama jalan-jalan di Tanggu-TEDA? Jelas dong, dapetin restoran makanan halal, yang pengelolanya Muslim setelah ditunjukkin sama beberapa rekan kerja. Caranya bisa tau kalo itu halal? Pertama kali dateng, samperin ke area belakang kasir, kebetulan ada salah satu juru masaknya. Beliau ga bisa berbahasa Inggris sih, tapi begitu bilang kata “Muslim”, “halal”, dan juga peragaan gerakan solat, baru deh dijawab dengan anggukan. Trus, buat lebih yakin lagi, ngajakin salah satu rekan kerja dari Singapore yang fasih bahasa Inggris, Melayu, dan Chinese buat makan di situ. Rekan kerja itu ngobrol dan nanya-nanya dalam bahasa China ke crew dari restoran itu soal halal apa enggaknya makanan, dan dijawab IYA. Senengnya bukan main. Soalnya konon, jarang-jarang ada yang nanya soal halal apa engga-nya makanan. :mrgreen:

Makan malam di restoran Muslim di Tanggu, Tianjin

Makan malam di restoran Muslim di Tanggu, Tianjin

Cukup di situ aja? Engga dong. Saking penasarannya sama negeri tirai bambu, direncanakanlah sebuah perjalanan yang lebih nekad ketimbang sekadar jalan-jalan di sekitar kota Tanggu-TEDA doang. Yakni, jalan-jalan ke lain kota, yang lebih besar, dan lebih banyak objek buat dikunjunginya. Target utamanya? Beijing. Yep, Beijing yang terkenal dengan Forbidden City, Lapangan Tiananmen, dan lain-lain itu. Beijing, the City of Emperors *semena-mena bikin julukan nama kota*. :)

Pada sebuah hari Minggu, di awal bulan Januari 2008, saya berangkat dari hotel tempat menginap di kawasan Tanggu, Tianjin. Tadinya, perjalanan ke Beijing itu direncanain bareng dua-tiga rekan kerja. Tapi ya, mungkin udah suratan takdir *halah*, jadilah berangkat ke Beijing-nya SENDIRIAN. Yes, you get that right. Nekad jalan-jalan sendirian ke Beijing, buat one day trip.

Waktu itu, social media belom ngehits seperti sekarang. Dan, koneksi internet di hotel juga ga gitu bebas – kalo ga mau disebut dibatasin sih. Jadilah, perjalanan ke Beijing diawali dengan selembar kertas bertuliskan Beijing, Forbidden City, Train Station, Taxi, Tianjin, TEDA dalam huruf latin dan juga huruf China. Lembaran kertas itu hasil minta tolong sama resepsionis hotel tempat menginap sebelom berangkat. Jam 7 lewat berangkat dari lobby hotel naik taksi menuju stasiun kereta Tanggu.

tulisan china

Dagdigdug? Jelas. Perjalanan yang semula direncanain bertiga-berempat, nyatanya dilakuin sendirian. Solo travelling istilah kerennya. Takut nyasar? Jelas. Takut terasing? Tentu. Dan masih banyak lagi ketakutan-ketakutan lain yang dirasain selama perjalanan naik taksi dari hotel menuju stasiun kereta Tianjin. Tapi ya, kadang kalo udah di negeri asing, kemudian menyelami negeri itu dengan mengasingkan diri, harusnya sih jadi lebih mengenal negeri itu. Well, I said that based on this experience.

Sampe di stasiun kereta Tanggu (Tanggu Railway Station) sekitar jam 8 kurang, trus sedikit bengong karena ternyata di sana sepi. Pas ngirain belom buka dan udah mau minta balik lagi ke hotel, si sopir taksi yang nganterin justru bilang “Go. Go. They open.” Kaya’nya dia bisa baca raut muka saya yang kebingungan pengen nanya, tapi ga tau mau nanya ke siapa. :lol: Alhasil, nekadlah masuk ke stasiun kereta. Dan ternyata loketnya emang buka, cuman kebetulan aja itu hari Minggu dan musim dingin, jadilah keliatannya sepi.

Sampe di loket, sedikit amazed karena bersih banget. Percobaan pertama buat beli tiket kereta dengan nyebutin tujuan “Beijing”, berakhir gagal. Kemungkinan besar, penjaga loketnya ga nangkep maksud saya. Jadilah, kertas bertuliskan Beijing dalam huruf latin dan huruf China pun diunjukkin. Sambil angguk-angguk, dapetlah satu tiket single trip Tanggu ke Beijing. Dan syukurnya, walau penjaga loketnya sepertinya ga ngerti bahasa Inggris, tapi tulisan di tiketnya ada huruf latinnya! Yay, jadinya ga nyasar buat nyari peron, keretanya, dan gerbongnya. Ternyata, pada saat saya ke peron dan kemudian naik ke kereta, ternyata kereta itu UDAH MAU BERANGKAT! Pantesan aja stasiunnya sepi, batin saya.

Harga tiket single tripnya? Saya lupa-lupa ingat, tapi sepertinya di kisaran 20-30 RMB (Ren Min Bi, mata uang China yang kadang disebut juga Yuan) – kurs pada saat itu 1 RMB = Rp 1.300.

Keretanya sendiri ga spesial-spesial amat. Kalo di Indonesia, mungkin bisa dikategorikan sebagai kereta ekonomi jarak jauh. Yes, kursi keras, lantai logam, ga ada AC/penghangat, plus kaca jendela yang standar. Yang spesial dari kereta dan perjalanan Tianjin-Beijing? Petugas keretanya. Yang di gerbong saya sih, petugas kondektur dan juga petugas kebersihannya adalah perempuan. DAN SEMUANYA BERSERAGAM saat melakukan tugas mereka. Saya sempet minta foto, tapi dengan bahasa Inggris yang sederhana, mereka bilang bahwa hal itu tidak boleh walau untuk turis.

Sekitar 2-3 jam perjalanan dilalui dengan kedinginan – walau ga membeku. Tapi, begitu keliatan beberapa gedung dan juga instalasi kereta yang begitu ramai, perasaan saya mulai bersemangat! Hasil nanya penumpang segerbong yang kursinya berdekatan, saya jadi tau kalo sebentar lagi sampe di Beijing.

Sampe di stasiun kereta Beijing, jam udah nunjukin jam 10:30an. Udah cukup siang dan matahari udah naik, tapi tetep aja dingin. Hal pertama yang dilakukan begitu keluar dari gerbong dan peron sebelom keluar stasiun kereta? Cari peta. Di salah satu eskalator naik dari peron, dapetlah peta kota Beijing yang ada tulisan China dan latinnya dalam bahasa Inggris. Setelahnya? Cari tempat makan! LAPER CUY! Kedai fastfood jadi pilihan utama.

Setelah makan di kedai fastfood terdekat dan sambil liat-liat situasi, naiklah taksi menuju Forbidden City, tempat pertama yang dituju. Forbidden City ini, dulunya jadi komplek kediaman kaisar China. Kalo di Indonesia, mungkin bisa disebut sebagai Keraton.

Sesampainya di belokan deket Forbidden City, rasanya lemes. Bukan lemes ga ada tenaga, melainkan lemes karena takjub dan juga ngerasain “AKHIRNYA!” :mrgreen: Biasanya “cuman” bisa liat Forbidden City dari film-film kung fu atau film Mandarin, sementara pada saat itu bisa langsung liat dengan mata sendiri. Mau masuk pula! Yay!

Gerbang Masuk Forbidden City - Imperial Palace

Gerbang Masuk Forbidden City – Imperial Palace

Sambil berjalan di trotoar yang lebar banget – pokoknya asik deh buat pedestrian, mendekatlah ke pintu gerbang utama. Foto Mao Tse Dong – pemimpin revolusi China terlihat jelas. Walau berusaha sebisa mungkin buat ga keliatan seperti turis (yang kebingungan), tetep aja ada gitu yang nyamperin dan nawarin jasa guide Forbidden City begitu masuk ke gerbang utama. Pengen sih dipandu, apalagi bahasa Inggris dari yang nawarin juga fasih, tapi… karena budget terbatas – dan takut harus bayar mahal guide itu, jadinya nolak deh.

Dugaan pertama saya, begitu masuk ke dalam gerbang utama, bakal langsung keliatan seperti apa bangunan tempat tinggal kaisar China. Nyatanya, dugaan saya meleset! Hampir sama seperti kompleks Keraton Yogyakarta, ternyata Forbidden City punya tahapan-tahapan sampai bisa masuk ke Istana Utama – Main Palace. Dan, gerbang utama itu cuman satu dari sekitar 7 gerbang yang harus dilewati!

Karena udah kadung masuk gerbang utama, jadilah jalan lebih ke dalam lagi. Niatnya tentu saja ke Main Palace. Tapi, setelah ngelewatin 3 gerbang, akhirnya mengurungkan niat. Soalnya buat masuk ke Main Palace itu harus bayar tiket. Pengen sih beli dan masuk, tapi.. lagi-lagi, budget terbatas, jadilah ga beli tiketnya. Takut ga bisa pulang, soalnya. :lol:

Liat sana-sini di dalam 3 gerbang komplek, lama-lama bikin capek juga. Akhirnya ke deket gerbang pertama, dan liat-liat kios cenderamata. Ada beberapa gelang giok bagus dan juga hiasan giok. Nanya harganya, ternyata mulai dari 5 RMB. Cara taunya? As before, nanya pake bahasa Inggris dan dijawab dengan ngeliatin angka pake sejumlah jari di tangan, atau unjukin kalkulator. :mrgreen:

Selesai beli beberapa gelang giok buat dibawa pulang kembali ke Indonesia, saya pun menuju keluar dari kompleks Forbidden City. Sambil jalan kaki agak cepat karena ternyata udah jam 1 siang lewat, trus mampir bentar di lapangan Tiananamen yang legendaris itu. Di situ ada Mauseloum Mao Tse Dong, dan juga berbagai monumen penting bagi sejarah RRC.

Salah satu sudut Lapangan Tiananmen

Salah satu sudut Lapangan Tiananmen

Kelar di situ, langsung cari stasiun subway terdekat. Naiklah subway yang jurusan ke Temple of Heaven. Pede aja naik subway, soalnya beda sama Tanggu-Tianjin, stasiun subway atau keretanya ada huruf latin dan tulisan bahasa Inggris juga. Tiketnya? Murah. Waktu itu sekitar 2,5-3,5 RMB sekali jalan. Bisa sih sebenernya buat naik bus dalam kota, yang harga tiketnya lebih murah – 2 RMB, tapi ya, ga pede soalnya takut ga ada ketemu orang yang bisa berbahasa Inggris, secara tulisan di bisnya tulisan China gitu.

Setelah sampe di stasiun subway terdekat sama Temple of Heaven, naik ke atas dan masuk Temple of Heaven lalu beli tiket. Pas masuk ke dalam, adem rasanya ngeliat pemandangan lingkungan yang dijaga baik. Di salah satu sisi komplek, bahkan ada yang lagi main dansa dan musik tradisional China. Foto-foto bentar, lalu menuju Temple of Heaven itu deh. BAGUS banget tempatnya.

Ga berasa, ternyata setelah keliling komplek Temple of Heaven, waktu udah nunjukin jam 3.30an sore. Sekitar sejam setengah lagi, matahari bakal tenggelam. Alhasil, langsung balik lagi naik subway menuju Beijing Railway Station.

Hampir jam 4 sampailah di Beijing Railway Station. Di situ, langsung beli tiket menuju Tianjin Railway Station – dan bukannya Tanggu Railway Station, karena rute menuju ke sana udah ga ada yang sore ataupun malam. Ya gapapalah ya, masih di satu kota, dan nanti bisa naik taksi pula dari Tianjin ke Tanggu. Keretanya juga agak bagusan, beda sama yang pagi tadi. Harga tiketnya sekitar 50-60 RMB.

Kelar beli tiket, menuju peron sambil desek-desekan. Iya, rame banget. Paspor, dompet, dan uang tunai dijaga baik-baik supaya ga kena copet. Sambil ngantri menuju peron gitu, ketemu deh satu pemuda China yang bisa bahasa Inggris. Seneng deh, jadi ada yang bisa ditanya-tanya dan jawab. :mrgreen: Kebetulan juga, pemuda itu bakal naik kereta yang sama dengan saya ke Tianjin. HORE!

Nunggu kereta dari Beijing menuju Tianjin, ngobrol-ngobrollah sama pemuda itu. Dia ternyata kerja di salah satu  perusahaan klien dari kantor operasional yang saya kunjungi di Tanggu, makanya cukup fasih berbahasa Inggris. Ngobrolnya bukan yang banyak dan sering ya, tapi ada jeda-jeda gitu. Gapapa deh, yang penting ada temen ngobrol. :)

Sekitar jam 6an sore – yang udah gelap karena matahari udah tenggelam, kereta pun berangkat dari Beijing Railway Station. Perjalanan sekitar 2 jam berasa lamaaaaa banget soalnya di gerbong kereta itu berdiri. Emang sih, keretanya setara eksekutif, tapi ya saking penuhnya, jadi ga berasa eksekutif. Tau naik kereta kalo pas musim mudik di Indonesia? Nah, kurang lebih sama. Ada yang berdiri di lorong, duduk-duduk di tangan kursi, bersandar di lorong, duduk di lantai, dan lain-lain. POKOKNYA SESAK banget. Demi sampai kembali ke hotel dan beristirahat, nekad aja deh lanjut terus.

Perjalanan yang ditempuh dari Beijing menuju Tianjin sekitar sejam. Tapi, karena penuh banget, rasanya dua atau tiga jam. :( Sesampainya di Tianjin Railway Station, langsung aja keluar stasiun dan naik ke taksi. Berbekal kartu nama hotel sebagai penunjuk alamat, diantarlah dengan selamat ke hotel lalu istirahat. Fiuh.. Sebuah perjalanan nekad di negeri asing. Untungnya selamat.. :mrgreen:

Eiya, sekarang pun lagi ada yang ngelakuin perjalanan nekad lho. Yaitu, duo NEKAD Traveler – @pergijauh dan @nilatanzil menuju pulau Komodo. Kalo mau tau info lengkapnya bisa diliat di http://telkomsel.com/nekadtraveler . Bisa support mereka juga lho di website itu. Yang penasaran senekad apa mereka? Cek juga videonya di tsel.me/TVCNekadTraveler atau liat di bawah ini,

Nah, kalo kamu pernah ngelakuin traveling senekad apa?

Tanpa mengurangi nilai dan maksud dari isi, blogpost ini tengah diikutsertakan dalam NEKAD blog competition by Telkomsel Flash.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.109 pengikut lainnya.