#SerenaBestMPV: Kemewahan yang Terjangkau

Maret 17, 2015 § Meninggalkan komentar

Beli sesuatu kalo butuh, jangan hanya karena pengen.

Petuah itu lebih kurang sering saya coba terapkan ke diri saya pribadi. Sebisa mungkin, hal-hal yang saya punya dan saya beli, adalah yang benar-benar saya perluin. Bukan sekadar pengen punya atau pengen pake aja, tapi harus bener-bener menunjang keperluan/kebutuhan saya. Mulai dari kebutuhan primer – sandang pangan papan, sampai dengan sekunder, tersier, ataupun kebutuhan mewah.

Iya sih, kadang beli/punya sesuatu yang dilandasi rasa pengen itu sebenernya salah satu bentuk aktualisasi diri, atau pemenuhan kebutuhan diri sendiri untuk membuktikan sesuatu atau supaya ga penasaran. Tapi ya, ada kalanya kita pribadi juga harus tahu diri, tahu batasan dan kemampuan. Sejauh, setinggi, atau semampu apa yang bisa dijangkau.

Salah satu kebutuhan yang berkaitan erat dengan kemampuan adalah kendaraan. Personally, saya berpendapat untuk di Jakarta ini, sudah cukuplah saya ditunjang dengan kendaraan roda dua untuk transportasi pribadi. Selain karena perawatan lebih hemat, harga yang bersahabat, juga konsumsi BBM lebih sedikit. Perihal risiko keujanan atau kepanasan, kurang lebih prinsipnya sama seperti berikut,

Naik motor itu, kalo panas ga keujanan, kalo ujan ga kepanasan.

Tapi prinsip itu cuma berlaku buat saya pribadi. Sendiri. Ga berlaku kalo lagi sama istri, apalagi kalo jalan-jalan bareng anak atau keluarga lainnya. Karena naik motor itu idealnya buat sendirian, yang ga gitu ribet. Lain halnya kalo udah berkeluarga, atau punya anak, atau mau ajak keluarga besar.

Maka pencarian untuk kendaraan yang bisa memenuhi kebutuhan untuk bisa digunakan bersama istri, anak, dan juga keluarga lainnya. Daftar kebutuhan dan penggunaan pun dibuat, jangan sampe dipake karena sekadar pengen, tapi juga karena butuh atau perlu. Singkat cerita, pilihan kendaraan pun jatuh kepada roda 4 atau mobil.

Berbagai merek dan juga tipe kendaraan roda 4 pun disaring lalu ditimbang baik-buruknya. Mulai dari faktor eksternal seperti bengkel dan juga spare part, sampai dengan internalnya seperti spek kendaraan dan juga merek. Yang keseluruhannya kemudian diperbandingkan terhadap harganya dan kemudahan proses pembeliannya (kredit angsuran, jangka waktu, DP, dll). Ya… value for money gitu deh.

Salah satu yang menarik perhatian adalah merek Nissan. Beberapa tipe yang available di Indonesia antara lain March dan juga Serena. Sehubungan saya suka tipe kendaraan roda 4 yang besar — karena biar bisa muat banyak, maka Serena sepertinya lebih layak dipilih. Kebetulan, hari Jumat minggu lalu (13 Maret 2015) saya berkesempatan buat hadir ke press conference-nya Nissan di bilangan Pondok Indah, Jaksel.

Nissan New Serena, on the road

Nissan New Serena, on the road

Di press conference itu, Nissan nge-launch Serena baru (New Nissan Serena) yang antara lain refreshment di eksterior maupun juga interior. Berdasar rilis yang saya terima, penyegaran itu bertujuan untuk memberikan sentuhan lebih merah, elegan dan prestise untuk menjawab kebutuhan keluarga Indonesia yang mendambakan kendaraan MPV yang merefleksikan kesuksesan dan gaya pribadi miliknya. Trus, saya juga baru tau dari rilis itu kalo ternyata Nissan Serena udah jadi market leader di segmen High MPV di Indonesia sejak taun 2007. Pantes lah kalo disebut sebagai Best MPV — #SerenaBestMPV. Keren juga ya.

Overall, penyegaran di Nissan New Serena antara lain bemper depan, grille, desain hood (atap), pelek (wheel), lampu utama LED (headlamp) yang dilengkapi day time running light dan juga fog lamp finisher, lampu belakang (rear lamp), sampai aero side guard. Itu buat eksterior-nya yang langsung keliatan dari luar. Nah, kalo masuk ke interior, yang baru antara lain Audio Steering Switch, panel instrumen dengan warna baru dan juga motif yang keliatan lebih mewah pada kursi.

interior Nissan New Serena

interior Nissan New Serena

Ada banyak warna yang dirilis di Nissan New Serena ini, antara lain scarlet red, floral white, diamond silver metallic, smokey grey metallic, light steel blue, dan phantom black. Personally, saya lebih suka warna hitam. Kesannya lebih berkelas gitu deh. Selain itu, perawatannya saya anggap lebih mudah, jadi kalo ada apa-apa sama bodi, bisa lebih tersamarkan dibanding warna-warna yang lebih terang. Ke-6 pilihan warna itu juga dibagi ke 3 tipe antara lain Type X, Type Highway Star, dan Type Autech.

Nah, sekarang soal harga: Nissan New Serena ini dibandrol mulai dari 364juta sampai dengan 441juta. Saya belum liat detail harga tersebut kalo dipecah ke skema kredit mobil, DP dan cicilannya jadi berapa. Tapi buat bayangan aja ya, merek mobil lainnya dengan tipe di harga serupa, kurang lebih DP-nya variatif mulai dari 70an juta sampai dengan 100an juta dengan cicilan-nya sekitar 3-4 jutaan/bulan selama 4-5 taun. Buat saya pribadi, skema cicilan tersebut masih bisa dijangkau (kalo ga dibilang terjangkau). Kenapa? Karena saya berpendapat, target pasar dari Nissan New Serena adalah diutamakan untuk yang sudah berkeluarga. Dan yang sudah berkeluarga tersebut, tentunya penghasilannya diperkirakan di level 10an juta ke atas, dengan daya beli yang sudah cukup kuat. Intinya, profiling dari target untuk Nissan New Serena ini seharusnya mampu untuk menjangkau harga beli Nissan New Serena untuk mendapatkan kelebihan dan fitur sesuai kebutuhan — dan juga kemewahannya. :)

Itulah alasan kenapa saya membuat postingan ini dengan judul demikian. Untuk target kelas pembelinya, kemewahan yang ditawarkan dari Nissan New Serena ini bukanlah mimpi, bukanlah sesuatu yang tidak bisa diraih, melainkan mampu dijangkau — dan juga kelak mampu ditunjukkan sebagai bagian dari aktualisasi diri. *halah*

Oiya, jangan lupa kalo mau beli mobil, pertimbangkan juga di mana nanti nyimpennya ya. Jangan sampe, beli mobilnya bisa, bisa pakenya juga, tapi bingung mau simpen di mana mobilnya. :P

Kira-kira, kamu termasuk target pembeli Nissan New Serena ga?

NB: images saya ambil dari website-nya Nissan Indonesia.
NB lagi: saat ini saya udah ada kendaraan roda 4 — Alhamdulillah.

Lalu-Lalang di Jakarta

Maret 10, 2015 § 4 Komentar

Being mobile in Jakarta

Kalo di-English-kan, begitu maksudnya judul postingan ini. Keliatannya memang lebih keren pake bahasa Inggris sih, tapi karena saya orang Indonesia & berusaha supaya bisa menggunakan bahasa Indonesia yang kosakata-nya (sebenernya amat sangat) kaya, jadilah judulnya seperti itu.

Back to topic sesuai judul lah malah ga konsisten pake bahasa Indonesia :mrgreen: , berlalu-lalang di Jakarta itu butuh tekad yang kuat. Bayangin aja, kondisi macet pada jam sibuk (rush hour) yang dulu maksimal bikin perjalanan molor jadi 1 jam, sekarang bisa jadi berjam-jam. Contohnya gampang aja: beberapa tahun yang lalu, dari seputaran Tanjung Barat Jaksel ke arah Prapanca Jaksel, kalo naik angkutan umum maksimal 1 jam — itu 30 menit perjalanannya, dan 30 menit rata-rata waktu menunggu angkutannya. Sekarang? Perjalanannya sendiri bisa 1 jam, menunggunya bisa 1 jam juga. Padahal, Prapanca dan Tanjung Barat itu hitungannya deket dalam jarak.

Kebayang kan kalo perjalanannya dari ujung ke ujung seperti Tangerang ke Jakarta Timur, atau Depok ke Jakarta Utara, dan lain-lain. 2 jam itu bisa perjalanannya sendiri. Waktu menunggu angkutan umumnya bisa lebih lama lagi.

Sebagai solusi, jadilah banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. Mobil, ataupun motor. Mobil jelas, bisa pake jalan tol pinggir kota dan dalam kota. Motor juga jelas, untuk urusan selip-menyelip di antara keramaian lalu lintas ibukota lebih mudah digunakan. Tapi, solusi tersebut jadi mandeg kadang-kadang ketika mobil harus lewat jalan protokol/biasa non-tol, dan gunakan motor kemudian hujan.

Personally, sejak bulan Desember lalu saya jadi lebih banyak lalu-lalang di Jakarta. Anter-jemput & meeting, jadi alasan utama kenapa saya jadi lebih banyak lalu-lalang (mobile). Dan rata-rata waktu yang saya habiskan di jalanan ketika hari kerja, 5-6 jam sehari. Sekitar 1/4 bagian dalam waktu hari kerja saya sudah habis buat di perjalanan. Walau kesal, sebal, dan kadang-kadang bikin penampilan jadi lusuh, ya mau ga mau itu harus saya terima, sih karena tinggal dan bekerja di Jakarta.

Kalo kamu, rata-rata berapa jam sehari yang kamu habiskan di perjalanan untuk lalu-lalang (mobile) di Jakarta?

Angka Prima

Maret 1, 2015 § 1 Komentar

Waktu kecil, saya ga gitu suka dengan matematika. Tapi bukan berarti benci ya. Ga suka aja. Cukup.

Buat saya — dulu, angka itu ya sudah angka. Ga perlu lah dihitung dengan berbagai rumus dan lain-lainnya. Bangun ruang, bangun datar, pecahan, nominal, integral, matriks, dan lain-lain itu cukup menyiksa saya yang kurang begitu kuat dengan hapalan rumus apa yang harus digunakan, dan bagaimana cara mengerjakannya.

Tapi bedanya, ketika saya menghadapi mata pelajaran/kuliah lain yang menggunakan dasar-dasar matematika, saya justru lebih mudah memahami. Fisika contohnya. Optimasi (Operation Research) contohnya. Dan masih banyak lagi. — Oiya, please exclude Kimia.

Hubungan saya dengan matematika jadi seperti hubungan cinta tapi benci — atau benci tapi cinta. Ya dibolak-balik yang penting artinya sama gitu deh.

Dan, walaupun ga gitu suka serta terkadang membingungkan, ada beberapa komponen pelajaran matematika yang teramat sangat membekas dalam pikiran saya. Salah satunya angka prima — angka yang hanya habis dibagi angka tersebut dan angka 1. Contohnya: 2, 3, 5, 7, 11, 13, dst.

Hubungannya dengan judul postingan ini apa? Well, singkat cerita persis hari ini saya mendapat angka prima. Tepatnya, angka prima kedua di 20-an.

Buat yang bisa nebak, selamat. Tapi saya ga ada reward apa-apa. Buat yang ga bisa nebak, silakan dipikir-pikir sendiri apa kaitannya angka prima di 20-an dengan diri saya. :)

Chinese New Year 2015

Februari 19, 2015 § 4 Komentar

2015: Year of the Goat

2015: Year of the Goat

Tahun baru berdasarkan penanggalan Tiongkok atau biasa juga disebut Imlek, tahun 2015 ini jatuh pada tanggal 19 Februari 2015. Dari tahun ke tahun, tahun baruan ini cenderung berubah tanggal. Saya pribadi, ga gitu ngerti kenapa bisa beda-beda tanggalnya — beda sama Hijriah yang kurang lebih tiap tahunnya maju 11 hari.

Anyway, saya ga mau bahas soal penanggalan atau kapan tanggalnya sih. Personally, saya senang dengan adanya hari libur pada Imlek. Kalo ga salah, sejak jaman pemerintahan Gus Dur, maka tahun baru ini jadi tanggal merah. Sebelumnya, tahun baru Imlek ga merah — cmiiw. Apalagi, libur di tahun ini ngepas banget deket-deket wiken, jadinya kalo satu hari kejepitnya cuti/libur juga, bisa long wiken sejak hari Kamis.

Sebagai seorang individu yang masih punya garis keturunan China (Tiongkok) dari pihak Ayah, sejauh yang saya ingat memang di tahun baru Imlek ini keluarga besar pasti berkumpul. Family gathering kalo bahasa kerennya. Kegiatannya sederhana aja, makan bareng, ketemu sodara sepupu-om tante yang jarang ketemu, dan juga lain-lainnya.

Oiya, masih berkaitan dengan Imlek juga, ada berbagai images dan juga ucapan berseliweran sana-sini. Tapi satu yang jadi favorit saya yang dibuat oleh @kapkap ini.

 

 

Lucu nan menggemaskan.

Happy Chinese New Year 2015 buat kalian yang merayakan!

Permainan Tradisional (?)

Februari 11, 2015 § Meninggalkan komentar

Congklak

Congklak

Dari sekian banyak permainan tradisional (?), mana yang paling jadi favorit? Saya sih congklak — yang ada di gambar itu. Iya, beda daerah beda juga nama dan pengucapannya.

Ada sekitar 7 lubang, dengan 1 yang paling besar di ujung. Ada 2 baris, jadi total 14 lubang. Yang harus diisi, tentunya lubang paling ujung, dengan setiap kali lewat dijatuhkan 1 biji dari lubang tempat bermulai. Agak ribet memang kalo dijelaskan via kata-kata (ironis karena saya pribadi gemar bermain kata-kata :mrgreen: ), tapi tentu bakal lebih asyik ketika bisa dimainkan dan langsung dicontohkan.

Oiya, ini permainan untuk 2 orang.

Seingat saya, ibu saya dulu yang mengajarkan saya bermain permainan tradisional (?) congklak ini. Pengennya juga sih, kelak ketika anak saya sudah cukup besar dan mengerti, mau saya ajarkan dan ajak main ini juga — kalo perlengkapannya masih mudah dicari.

Walau tampaknya sederhana dan cenderung untuk menghabiskan waktu, permainan tradisional (?) congklak ini juga membutuhkan strategi dan konsistensi, lho. Gimana caranya supaya bisa mengumpulkan biji terbanyak dibandingkan lawan kita. Walau kadang, faktor luck juga berperan. :lol:

Anyway, perihal judul post yang saya kasih tanda tanya di belakangnya, itu lebih karena apakah layak permainan ini disebut tradisional? Karena, dulu saat card board (monopoli, ular tangga, dll) booming aja, congklak sudah disebut tradisional. Nah, jaman sekarang di mana game/permainan banyak yang digital berbasis multilayar, bisa-bisa cardboard disebut tradisional, dan sejenis congklak disebut mainan nenek moyang — kalo ga disebut tradisional kuadrat. *halah*

Personally, saya pernah ada ide sedikit ngawur sih, gimana kalo permainan yang biasa dimainkan orang-orang Indonesia ini secara turun-temurun dipromosikan atau dipertandingkan di sebuah ajang resmi macam PON/SEA Games gitu. Pasti lucu dan seru. Jadi, nasibnya ga kaya’ balap karung yang “hanya” dipertandingkan kala tujuhbelasan atau event camping aja.

kalo kamu, suka permainan tradisional apa?

NB: foto dari sini –> photo credit: Picking Up The Pieces via photopin (license)

Pesan Tersembunyi di Lagu Indonesia Pusaka

Februari 3, 2015 § 5 Komentar

Old school. (Oldskul)

Begitu mungkin istilah jaman sekarang (atau pada jamannya) buat yang suka hal-hal berbau jaman dulu atau jadul. Dulu, saya pernah ngerasa istilah itu sebagai salah satu bentuk merendahkan, atau meremehkan karena ga apdet atau ga kekinian. *halah* Lama kemudian baru saya sadari, ga ada masalahnya juga kalo ga apdet. Biarin aja dibilang ga muvon, yang penting saya tau identitas saya sendiri.

Oke, daripada ngawur lebih jauh perihal identitas dan lain-lain, balik lagi ke topiknya yang terkait old school, adalah mengenai lagu-lagu ciptaan masa-masa perang kemerdekaan atau awal-awal kemerdekaan. Dari berbagai lagu wajib dan juga lagu nasional, ada salah satu lagu yang belakangan ini terngiang-ngiang di benak saya. Yakni, Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki (cmiiw).

Hasil embed dari soundcloud itu hasil iseng saya yang lagi nyari gubahan lagu tersebut versi kekinian. Dan itu salah satu contoh yang menurut saya enak didengar. Ada juga versi lainnya seperti paduan suara dan lain-lain.

Lirik lagunya sendiri sbb:

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Dipikirin sekilas dari liriknya, selain mengedepankan betapa Indonesia sebagai sebuah negeri yang indah dan juga menjadi kebanggaan yang harus dibanggakan setiap warga/penduduknya, juga ada pesan tersembunyi di lagu tersebut. Udah bisa nebak?

Yep, pesan tersembunyi berupa untuk berkarya di masa produktif tidak di tanah air Indonesia. Diaspora — mungkin itu istilah yang paling dekat kaitannya. Bisa saja berada di penjuru dunia manapun, bisa saja sudah menjadi warga negara manapun dan berkarya di bidang atau bagian apapun, namun Indonesia tetaplah menjadi negeri yang menjadi awal dan juga akhir dari perjalanan hidup. Atau mungkin hanya tempat lahir saja, atau tempat menikmati masa tua saja.

Saya bisa bilang begitu, karena di liriknya tertera jelas mengenai Indonesia sebagai tempat lahir dan juga tempat masa tua. Ga ada sama sekali perihal masa berkarya — yang berarti bisa dan boleh atau didorong untuk melakukan di mana saja selain di Indonesia.

Ya mungkin itu hanya anggapan saya aja sih, bisa jadi memang Ismail Marzuki ketika menciptakan lagu tersebut dulu memang menyisipkan pesan itu karena di masa-masa perang dan awal kemerdekaan anak-anak negeri haruslah berbaur dan menjadi bagian dari masyarakat internasional sebagai bagian dari negeri yang masih sangat muda. Mungkin ya. Mungkin.

Jadi penasaran, di lagu-lagu wajib/nasional lain ada pesan tersembunyi juga ga ya?

Obat Terbaik untuk Ngantuk?

Januari 27, 2015 § 4 Komentar

diambil dari shutterstock – tanpa direkayasa

Kopi?

Buat saya pribadi, obat terbaik buat ngantuk bukanlah ngopi atau ngeteh. Bukan konsumsi minuman/makanan dengan kafein. Tapi ya.. tidur. Bener-bener istirahat. Mau itu sekejap atau sampai berjam-jam, yang pasti ya tidur itu harus kalo emang udah ngantuk. Apalagi kalo udah banget-banget.

Saya pernah baca di mana gitu, ngantuk itu selain sebagai tanda kurang oksigen atau apalah, juga berarti tubuh sudah lelah. Ngantuk itu salah satu tanda alami bahwa badan kita butuh istirahat. Dan, tidur adalah solusinya.

Tapi ga bisa juga sih sembarangan tidur. Ga mungkin juga lagi bawa kendaraan dan ngantuk, ndadak harus langsung tidur. Menepi dulu, trus cari posisi yang aman — ga bakal kena kecelakaan/ditilang, dan beneran tidur. Buat pemotor, mungkin pernah juga ngalamin lagi di jalan, panas banget, dan ngantuk banget trus akhirnya menepi ke bawah yang rindang dan tidur di atas setang. 5-10 menit saja mungkin, tapi powerful buat ngilangin ngantuk dan bisa bantu buat lanjutin perjalanan.

Konsep tidur sejenak itu juga yang (mungkin) dikenal sebagai powernap. Apa artinya, coba digugling aja ya. *males jelasin* :P

Nah, kalo buat kamu, obat mujarab ngilangin ngantuk apaan?

NB: foto diambil dari shutterstock tanpa direkayasa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.290 pengikut lainnya.