Ramadan Sebentar Lagi…

Mei 20, 2015 § 1 Komentar

Kalo ngikut perkiraan awal Ramadan dari Muhammadiyah, maka 1 Ramadan bakal dimulai di 18 Juni, dan Idul Fitri di 17 Juli 2015. Kalo ngikut NU, belum ada karena menunggu hilal di sekitar tanggal tersebut. Saya ikut yang mana? Saya sih ikut yang ditetapkan pemerintah aja, dan juga perihal solat Id-nya mengikuti masjid tempat saya domisili/berada di saat itu.

Bukan soal saya ga ikutan kelompok atau ga punya prinsip, tapi saya sih lebih mengutamakan kualitas dari bulan Ramadan itu aja. Daripada ribut-ribut ga jelas karena sibuk nentuin tanggal kapannya, mending saya fokus ke hal-hal yang harus ditingkatkan selama periode Ramadan itu. Iya, maksud saya ibadah. Tapi FYI terusan blogpost ini ga bakal ngomongin ibadah secara spesifik. :)

Buat saya Ramadan itu kesempatan buat bangun pagi dan tidur secara tertib. Iyes, kalo bukan Ramadan saya bisa tidur larut bener dan bangun bisa dinihari. Itu ga rutin setiap hari, jadinya ga tertib. Sementara kalo Ramadan, jelas jadi lebih tertib karena kalo tidurnya terlalu larut bisa-bisa keburu sahur. Kalo bangunnya kesiangan, juga ga keburu sahur.

Tertib di bulan Ramadan juga maksudnya jadi lebih memperhatikan makanan dan minuman. Waktu makan dan minum jadi lebih tertib di jam-jam sahur dan jam buka puasa. Kalo lagi ga Ramadan, makan dan minumnya ga tertib jamnya karena ada range waktu aja. Bahkan kadang kelewat — sarapan tuh paling sering kelewat.

Oiya, tertib juga soal ibadahnya ya. Dan, beneran lho Ramadan sebentar lagi, sekitar sebulan setengah. :)

Kalo kamu, Ramadan bakal ngapain aja?

Mahakarya Indonesia – Jiwa Indonesia: Borobudur

Mei 13, 2015 § 2 Komentar

Borobudur.

Sulit bagi saya untuk tidak selalu teringat akan Borobudur. Candi yang dibangun pada tahun 700-800an Masehi dan terletak di Jawa Tengah — berdekatan dengan Yogyakarta ini begitu magis dan selalu dapat mempesona saya. Sebuah bangunan yang mulanya dibangun untuk tujuan keagamaan Budha oleh tangan dan pemikiran lokal Indonesia, pada jaman kerajaan Syailendra, yang di kemudian hari menjadi warisan sejarah dunia dan salah satu ciri khas Indonesia.

Borobudur, image courtesy of borobudurpark.co.id

Borobudur, image courtesy of borobudurpark.co.id

Detail berupa relief yang berada pada bebatuan dinding penyusun candi serta rupa petapa pada stupa, adalah hal yang menarik untuk diikuti. Jika dibandingkan pada jaman modern saja, pembuatan relief dengan cara memahat satu persatu bagian, atau membuat patung yang menyerupai manusia petapa dengan ukuran dan bentuk yang sama secara mendetail, jangka waktu pengerjaannya akan lama dan membutuhkan banyak tenaga. Bukan hitungan minggu atau bulan, melainkan juga bisa tahunan. Pengerjaan yang lama namun menghasilkan karya yang begitu mendetail dan sempurna ini cerminan nilai luhur kesabaran pada para pembangun Borobudur.

Pada Borobudur juga tercermin nilai luhur lainnya yakni kegigihan. Sesuai cerita yang beredar — dan sebagian legenda, perancang Borobudur adalah Gunadharma. Dengan tata cara yang terbaik pada jamannya tanpa kemudahan modern, Gunadharma tekun dan gigih untuk merancang sebuah bangunan yang tak hanya menjadi tempat beribadah, melainkan juga salah satu mahakarya yakni Borobudur. Kegigihan tampak dari rancangan yang memperhitungkan tempat bukit serta pemilihan rancangan yang menyerupai segitiga dengan landasan yang kuat.

Walaupun dirancang sebaik mungkin, sebuah mahakarya takkan dapat dibangun sendirian. Sesuai dengan kepribadian serta nilai luhur Indonesia, maka Borobudur pun dibangun dengan kerjasama atau gotong royong. Sebuah batu penyusun Borobudur dapat memiliki berat berkilo-kilogram. Tanpa menggunakan alat bantu seperti traktor atau excavator modern, transportasi bebatuan penyusun candi baik yang memiliki detail pahatan ataupun bebatuan fondasi, takkan bisa dilakukan sendirian. Transportasi serta penyusunan bebatuan candi Borobudur tentunya membutuhkan puluhan atau bahkan bisa jadi ratusan tenaga kerja yang bersama-sama mewujudkan sebuah tujuan, yakni mahakarya.

Ada satu lagi nilai luhur Indonesia yang tercemin pada Borobudur, yakni kerendahan hati. Sebaik-baiknya manusia menciptakan sesuatu, takkan mendekati kesempurnaan Sang Pencipta. Hal ini nampaknya disadari jelas oleh para pembangun Borobudur, bahwa semegah apapun bangunan yang mereka bangun, takkan boleh menjadikan mereka sombong. Oleh karenanya Borobudur pun dibangun dengan tujuan utama untuk peribadatan, terlihat jelas dari relief berupa cerita-cerita yang mengajarkan kebajikan, hingga stupa dan patung Budha. Borobudur bukanlah sebuah monumen yang membuat manusia menjadi congkak dan lupa bahwa ada kekuatan yang lebih agung. Sebuah kerendahan hati terhadap Sang Pencipta.

Dengan kenyataan bahwa Borobudur telah bertahan lebih dari 10 abad sejak dibangun, serta mencerminkan berbagai nilai luhur Indonesia — antara lain kesabaran, kegigihan, gotong royong, dan kerendahan hati, tak salah jika Borobudur disebut sebagai Mahakarya Indonesia. Sebuah masterpiece yang tak hanya mencerminkan keragaman Indonesia, juga dibangun asli oleh leluhur Indonesia.

Semoga mahakarya Borobudur dapat bertahan selama-lamanya, serta membuat orang menyadari nilai-nilai luhur yang tersimpan kemudian menyebarkannya.

NB:
1. Postingan ini sedang saya sertakan kepada writing competition Mahakarya Indonesia – Jiwa Indonesia 2015 (#MahakaryaIndonesia2015).
2. Informasi dan sebagian foto tentang Borobudur didapatkan dari wikipedia dan juga website resminya.
3. Lokasi Borobudur bisa dilihat melalui google maps di sini.

“Your mission, should you choose to accept it…” #TryLGG4

Mei 6, 2015 § 2 Komentar

Berawal dari iseng ngeklik konten dari akun/channel LG di aplikasi LINE yang kemudian mengarah masuk ke sini (dulu isinya bukan begitu), saya pun terpilih buat jadi sebagian orang yang berhak untuk ngetes/ngerasain gadget terbaru dari LG yakni G4 sebelom rilis resmi. Yep, LG G4.

Setelah nunggu sekitar beberapa hari, kemudian ditelepon oleh perwakilannya. Dan walla! Semalam gadget-nya sampai ke tangan saya.

Sekotak item yang isinya cuma gadget LG G4 dengan pre-installed  aplikasi kampanyenya, dengan charger. Udah. Gitu aja. Ga ada buku petunjuk penggunaan gadget, atau apapun lainnya. Udah beneran kaya’ kiriman paket Mission Impossible — makanya saya ngetwit dengan quotes itu, juga buat judul blogpost ini.

Intinya sih, kalo sesuai promo di channel LINE-nya — dan juga di twitternya LG, diberitahu kalo kampanye #TryLGG4 ini buat ngetes gadget dengan cara submit foto-foto ke dalam 5 kategori. Masing-masing kategori harus submit 5 foto, jadinya total harus submit 25 foto. Mudah-mudahan saya cukup kuat dan berhasil submit 25 foto dengan masing-masing 5 foto per kategorinya dalam waktu yang telah ditentukan!

Mau tahu gimana hasil foto-foto penggunaan LG G4? Ikutin aja di twitter saya, atau instagram saya, cari postingan yang dilengkapi dengan hashtag #TryLGG4 ya. :)

Kamu pernah ngalamin juga dapet kiriman yang serba misterius ga?

Musik itu universal

April 29, 2015 § 2 Komentar

Musik itu universal.

Walau begitu, musik yang dirilis sama grupnya Sony, Aquarius, sampai dengan indie juga laku kok.

Ucapan di atas pertama kali saya dengar waktu sempet join jadi announcer saat SMA di kota kelahiran saya dulu. Kalimat pertama seringkali diucapkan oleh banyak orang — musisi, penikmat musik (seperti saya), pemerhati musik, pebisnis, dan orang awam. Walau begitu, saking seringnya diucapkan banyak orang jadinya kalimat pertama itu jadi membosankan, padahal maknanya dalam. Jadinya, sering diikuti kalimat kedua — berupa kenyataan bahwa musik itu kadang bergantung pada label rekamannya.

Anyway, back to judul dan juga kalimat pertama di awal postingan ini, salah satu bukti musik itu universal adalah betapa sering dan mudahnya menemukan lagu-lagu populer di-cover bukan penyanyi aslinya dan kemudian diberi aransemen yang berbeda sehingga terdengar lebih menarik. Bahkan kadang, jadi beda banget dibanding aslinya. Salah satu cover lagu populer yang menarik buat saya antara lain yang dilakukan oleh Postmodern Jukebox (PMJ).

Saya lupa persis dulu denger/tau pertama kali dari mana-karena apa-lagu yang mana. Yang pasti sih, saya liat pertama kalinya di youtube. Selain lagu populernya jadi kedenger berbeda, lagu-lagunya juga dibawakan dalam video yang menarik. Jadinya unik. Bisa diliat langsung di channel youtube-nya mereka.

Berdasar list di channel itu, beberapa lagu populer yang udah di-cover antara lain Creep – Radiohead, Shake it Off – Taylor Swift, sampai dengan beberapa lagu populer dari acara TV seperti Powerpuff Girls! Unik, lucu, dan juga kadang menggelikan kalo ngeliat aksi dari para musisi yang terlibat di videonya.

Btw, sebagai penikmat musik, salah satu yang jadi favorit saya itu saat mereka cover lagu “Love Me Harder”-nya Ariana Grande. Buat saya, aransemen di cover-nya bikin lagunya jadi “naik kelas” dan cocok jadi lagu theme song James Bond. Seperti yang ditulis di keterangan lagunya. Penasaran? Nih, di bawah ini ya.

Menurut kamu gimana? Cocok ga lagu-lagunya di-cover ulang jadi seperti yang dilakukan oleh Postmodern Jukebox ini? Kalo cocok, yang jadi favorit kamu yang mana?

Mudah-mudahan Postmodern Jukebox sempet diundang buat tampil di Java Jazz di penyelenggaraan berikutnya, atau ya showcase di tempat yang saya sempet nonton langsung!

Living Smart & Enjoying Pure Sound

April 25, 2015 § Meninggalkan komentar

Dulu, definisi hidup yang cerdas buat saya adalah yang bisa bedain antara kerjaan dan bukan kerjaan. Iya, jadi udah disekat masing-masing. Kerjaan ada waktu dan tempatnya, bukan kerjaan — keluarga, kuliah atau hobi, ya ada waktu dan tempatnya juga. Masing-masing. Spesifik.

Tapi seiring perkembangan jaman, hidup cerdas kayanya ga lagi soal bagi-bagi dan punya sekat masing-masing. Karena justru hidup kerjaan dan bukan kerjaan makin melebur. Ga lain ga bukan karena hadirnya teknologi. Salah satunya lewat smartphone android.

Smartphone android atau android smartphone kurang lebih membantu meleburkan batasan antara kerjaan dan bukan kerjaa. Bahkan, meleburkan setiap aspek kehidupan. Lagi di rumah, bisa aja ngurusin kerjaan atau hobi. Lagi di hobi, bisa jadi menjalin komunikasi dengan teman lama. Dan banyak lagi contohnya. Makanya, saya butuh smartphone yang mumpuni. Dan kaya’nya vivo X3S bisa menjawab kebutuhan itu.

Dengan layar yang lebar dan FuntouchOS — pengembangan khusus dari OS android, vivo X3S saya yakin dapat membantu saya dalam mengelola hidup saya yang makin melebur batasan-batasannya. Yang paling keliatan dari fitur utamanya dulu: yakni Hi-Fi audio. Dengan fitur itu, sambil kerja atau di jalan menuju pekerjaan, saya bisa menikmati musik yang saya setel dari device dengan kualitas yang keren. Hi-Fi sendiri adalah singkatan dari High Fidelity yang kurang lebih berarti kualitas audionya mendekati sempurna. Para audiophile mungkin lebih paham soal Hi-Fi ini.

Selain itu, kameranya yang ada 2: depan 5 MP dan belakang 13 MP juga bakal ngebantu saya jalanin hobi buat ambil foto snapshot atau foto candid gitu setiap saat. Anti lemot juga pastinya, karena prosesornya udah 1.7GHz octa core. Jadi selain gampang ambil foto dan proses foto pake aplikasi yang didownload dari google playstore, pastinya kekuatan prosesor segitu bisa bantu saya juga buat ngecek kerjaan. Baik itu pake aplikasi tambahan ataupun online.

Kalo mau tau lebih jauh soal produknya, bisa dicek aja ke sini. Keren ya? Kalo punya pasti saya bisa living smart karena dibantu gadget yang cerdas juga bisa lebih menikmati keseharian ditemani musik dan audio yang mumpuni.

*mudah-mudahan bisa punya suatu saat nanti*

NB: Kalo mau tau lebih banyak soal vivo, mereka lagi bikin lomba blog berhadiah vivo X3S lho. Cara ikutannya bikin blogpost seperti yang saya buat ini. Cek infonya lebih lengkap di sini.

Nyeduh Kopi: Air dulu atau Kopi dulu?

April 22, 2015 § 2 Komentar

Tergantung.

Iya, saya kalo nyeduh kopi ya tergantung pengennya saat itu air dulu atau kopi dulu. Kadang saya siapin dulu kopinya ke gelas, baru dituang air panas. Bisa juga sebaliknya, air panasnya dulu baru kemudian masukin kopinya lalu gula.

Saya pernah ngobrol sama salah satu kenalan yang cinta banget sama ngopi/nyeduh kopi, buat dia air dulu baru kemudian kopi dan gula itu penting. Katanya, nyeduh kopi itu ibarat memasak. Jadi penting harus siapin dulu air panas (atau mendidih) baru kemudian masukin kopinya, tunggu sampai beraroma, baru kemudian masukan tambahan berupa gula. Bener ‘kan, seperti memasak?

Di lain waktu, saya juga pernah ngobrol sama penikmat kopi. Buat dia lebih penting kopi dulu siap ke dalam gelas. Mau itu kopinya aja, atau sekalian campur sama gula atau bubuk krim/susu, baru kemudian air panas (atau mendidih). Buat dia, kenapa kopi dan semuanya duluan baru kemudian air, karena supaya seluruh bahan dasarnya udah siap dan air panas (atau mendidih) sebagai penyempurna.

Sempet gugling juga apa kata orang lain di internet, trus nemu link ini. Kurleb (kurang lebih) dari link itu cara nyeduh kopi yang paling dipilih sbb:

1. Sediakan dahulu kopi hitamnya.
2. Gunakan cangkir atau mug dari keramik, bukan dari kaca. Alasannya lebih bisa menyimpan panas lebih lama. Jangan lupa tutupnya sekalian.
3. Gunakan air yang mendidih ya…Sebelum cangkir di beri kopi, tuang sedikit air panas ke dalam cangkir, lalu buang air panasnya. Tujuannya agar cangkirnya panas terlebih dahulu sehingga panas air untuk menyeduh kopi tidak terbagi juga untuk memanaskan cangkir.
4. Tuang kopi bubuk item ke dalam cangkir yang telah panas tadi sesuai selera. Kalau aku 2 sendok teh dah pas bagi lidahku.
5. Tuangkan air panas agak jauh dari atas cangkir, kira-kira sejengkal dari atas cangkir. Tujuannya agar kopi tidak usah diaduk lagi sudah tercampur dengan air. Jangan sampai kepenuhan ya…
6. Jangan diaduk, dan segera tutup rapat.
7. Biarkan sekira 5 menitan agar kopi jadi dahulu, sampai bagian yang mengambang sudah tenggelam sendiri.
8. Nikmati kopi anda sesuai selera, mau tambah gula juga boleh, gula plus susu juga tidak ada yang ngelarang.
Kalau aku, kopi paling nikmat dinikmati tanpa tambahan apapun…khasiatnya dapat dan juga katanya mencegah diabetes serta memperkuat jantung.

Jadi, yang paling bener airnya dulu baru kopinya?

Omong-omong, pertanyaan ini sebenernya — menurut saya, bergantung sama persepsi dan selera masing-masing sih. Sama seperti pertanyaan makan bubur: diaduk atau ga diaduk?

Kalo kata kamu gimana?

Pajak dan Segala yang Terkait

April 15, 2015 § 2 Komentar

Pertama kali saya “kenal” pajak secara mendetail itu di sekitar tahun 2008-2009. Waktu itu pertama kalinya saya punya NPWP karena waktu itu kalo ga salah lagi ada sunset policy, dan kebetulan tempat bekerja saya di periode itu menganjurkan (dengan sedikit nada wajib) seluruh pekerjanya untuk melaporkan NPWP (nomer pokok wajib pajak). Alhasil, sejak periode 2008-2009 saya terdaftar sebagai wajib pajak yang sah dan tercatat di keuangan negara. *halah*

Omong-0mong soal wajib pajak sendiri, pertama kalinya saya denger istilah ini periode akhir 1990-an. Waktu itu saya masih tinggal di Tasikmalaya, dan tau istilah itu karena (alm.) Ayah saya pertama kalinya punya NPWP dan coba membuat usaha sendiri untuk menghidupi keluarga. Waktu itu saya liat kartu NPWP yang dimiliki olehnya, merasa kagum sekaligus bangga bahwa beliau menjadi warga negara yang baik — yang di kemudian hari, saya sadar kalo jadi warga negara yang baik itu banyak caranya, ga cuman taat peraturan dan pajak aja.

Balik ke kejadian yang dialami (alm.) Ayah, saya pikir juga dengan terdaftar udah cukup. Nyatanya engga, karena beberapa tahun kemudian, beliau dipanggil untuk menghadap ke kantor pajak terdekat untuk mengurus laporan dan lain-lain. Detailnya saya kurang tau persis, tapi singkat cerita akhirnya selesai dan itu jadi salah satu pengalaman yang kurang nyaman bagi beliau.

Makanya, pada saat tahun 2008-2009 saat saya bilang hendak daftar NPWP dan lain-lain, beliau sempat melarang. Alasan persisnya saya kurang ingat, tapi sepertinya sih karena pengalaman beliau itu. Tapi ya karena dorongan agar potongan bulanan dari penghasilan tidak lebih besar dari rata-rata, dan juga terdorong untuk menjadi warga negara yang baik, singkat cerita saya pun punya NPWP.

Repot atau engga, untung atau engga, punya NPWP setidaknya cukup membuat saya nyaman di kebanyakan hari-hari sepanjang tahun. Ga nyamannya cukup 1-10 hari aja dalam setahun. Itupun ga nyamannya karena harus mengumpulkan bukti potong pajak penghasilan/pendapatan (atau bukti potong pajak sesuai peraturan) lalu dilaporkan ke kantor pajak terdekat. Iya, proses ngumpulin dan mengisi SPT itu kurang nyaman, karena jika salah mengisi bisa jadi wajib pajak yang semula tagihan pajaknya nihil — karena sudah dibayarkan otomatis secara bulanan karena dipotong dari penghasilan, bisa muncul tiba-tiba karena salah perhitungan.

Bukan, saya bukan ga setuju atau ngajarin untuk mengakali potongan pajak, melainkan sekadar himbauan untuk lebih berhati-hati saat mengisi SPT dan melaporkan pajak yang sudah dibayarkan/dipotong. Dan tentunya, pengisian SPT juga disesuaikan dengan jenis pajak yang dibayar — sebagai pemilik usaha kah, penghasilan lebih dari 1 pemberi kerja kah, dan lain-lain.

Dan karena postingan ini topiknya soal pajak, sama seperti pembayar pajak (dengan NPWP atau tidak) lainnya yang mayoritas warga negara Indonesia, saya penasaran aja sih total pengumpulan pajaknya itu disalurkan ke mana aja ya? Ke pembangunannya sih jelas, yang saya maksud itu transparansi biaya pembangunan dan juga pajak yang dibayarkan. Selama ini kan masyarakat (dan juga saya) disodorinnya berita atau kabar soal kondisi makro aja — total pajak, tapi detailnya ke mana aja ga tau. Atau mungkin, sebenarnya udah ada laporannya cuman bukan buat konsumsi publik.

Well.. manapun, saya sih berharapnya pajak dan juga laporan pajak yang dilakukan secara rutin itu benar-benar digunakan untuk kemaslahatan umat. :mrgreen:

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.657 pengikut lainnya.