Hoax, Berita Palsu(?)

Juli 13, 2017 § 2 Komentar

Berita palsu atau salah (karena bukan memberitakan fakta), belakangan makin banyak muncul dan tersebar. Konon karena kemudahan penyebaran melalui ponsel dan atau saluran digital/internet. Sehingga tak jarang berita tersebut seakan-akan menjadi fakta, padahal bukan.

Hoax. Demikian berita palsu atau salah tersebut disebut. Kalo kata salah satu kamus (dictionary), hoax diartikan sebagai berikut,

to trick into believing or accepting as genuine something false and often preposterous – Merriam-Webster

Nyambung kan sama paragraf pertama blogpost ini?

Dulu-dulu, hoax muncul dalam skala yang kecil meski penyebarannya bisa jadi luas juga. Bingung? Oke, maksudnya adalah beritanya terkait keseharian tapi ga langsung berdampak, lalu nyebar ke beberapa circle atau lingkungan, tapi tidak sekaligus, melainkan bertahap. Nah, karena itu dulu-dulu hoax gampang buat ditanggulangi, karena bagi yang skeptis (anggap aja begitu), pasti akan langsung mencari fakta terkait lalu di-counter. Tapi sekarang? karena adanya ponsel dan digital, kadangkala hoax lebih langsung menyebar dan penanggulangannya baru lama kemudian.

Kenapa hoax bisa nyebar? Ya itu tadi: karena terkait keseharian. Dan anehnya, fakta yang merupakan penanggulangan hoax, justru lebih sulit diterima karena ga mutlak ada di keseharian.

Contoh hoax yang pernah terjadi — sejauh pengalaman saya: penyanyi cilik meninggal karena kesetrum. Hoax ini terjadi jaman 90an dulu, sebelum internet mudah diakses dan ponsel hanya dimiliki segelintir orang mampu. Masuk akal karena nyambung dengan keseharian — kesetrum dan siapa penyanyi ciliknya. Tapi ketika fakta disodorkan bahwa penyanyi cilik itu masih hidup dan sehat wal afiat, kadang sulit diterima karena kita ga liat secara langsung penyanyi cilik tersebut di keseharian — kecuali melalui media TV, itu juga kalo dia manggung atau video klipnya aja.

Hoax juga belakangan ini mudah menyebar karena diperhalus dengan istilah “kenyataan alternatif” — seperti yang digaung-gaungkan oleh presiden negara adikuasa. Bahkan dia terang-terangan mengambil sikap berseberangan dengan beberapa media besar — meski di sisi lain, dia juga memiliki grup media yang menjadi saingan media besar tersebut. Terkait hal ini, saya masih melihatnya dari sisi bisnis, bahwa media dan konten memang ada persaingan terkait produksi konten.

Hal yang cukup fatal dari hoax (mengabaikan sisi bisnisnya) adalah terkait kepercayaan. Media-media besar yang mengedepankan jurnalisme berimbang dan memiliki tradisi yang kuat tentang netralitas bisa jadi mulai kehilangan kepercayaan karena lebih banyak media-media kecil dengan framing dan sudut pandang tertentu yang menyebarkan berita palsu atau salah yang lebih dipercaya oleh banyak orang.

Terkait hoax ini sikap terbaik memang balik lagi ke pengguna atau konsumen: mau baca berita yang seperti apa, kapan, dan gimana menyikapinya. Tapi bukan berarti berdiam diri ketika menemukan hoax, apalagi di jejaring yang lebih kecil seperti grup whatsapp, facebook post, dan lain-lain.

Pernah nemu hoax apa?

T-Shirt: Karakter vs Teks

Juli 3, 2017 § Tinggalkan komentar

Belakangan saya punya interest untuk beli dan kemudian pakai T-Shirt dengan karakter komik, kartun, serial TV, sampai dengan film layar lebar. Selain karena emang udah mampu beli sendiri, juga cara buat ngedapetinnya makin banyak dan gampang. Semua karena e-commerce yang ngasih pilihan banyak banget, mulai dari yang official product sampai dengan unofficial/fanmade. Dan, kebanyakan ukuran karakternya besar-besar atau berada di area yang cukup besar pada T-Shirt.

Padahal, kalo ditengok beberapa tahun yang lalu kaya’nya saya ga gitu suka dengan T-Shirt seperti itu. Saya lebih suka yang minim dengan karakter atau logo, tapi ada beberapa kata/ungkapan yang bisa mewakili prinsip atau ketertarikan saya akan sesuatu. Pake T-Shirt dengan karakter itu kaya’nya susah pakenya, karena sablonannya cenderung bikin gerah, lengket, perawatan juga susah. Pun kalo sablonannya jelek/ga rapi, setelah dicuci beberapa kali pasti bakal rusak. Beda sama teks yang cenderung lebih awet.

Mungkin perubahan ini disertai dengan sablon yang mulai membaik. Pun juga bahan T-Shirt yang mendingan, makanya saya mulai suka dengan yang ada karakternya. Tapi ini bukan berarti T-Shirt teks otomatis saya tinggalin juga. Kurleb, komposisinya udah 50:50 lah.

Oiya, kesukaan ini ga dipengaruhi atau mempengaruhi kesukaan saya akan jersey bola sih. Terutama jersey bola klub kesukaan atau yang ada nilai sejarahnya — meski kemudian susah dicarinya karena justru jadi lebih mahal. 😆

Kamu suka T-Shirt yang seperti apa?

Buka Puasa Bersama Adaro Energy

Juni 10, 2017 § 2 Komentar

Selain identik dengan puasa, Ramadan juga identik dengan kebersamaan. Terutama, ibadah yang dilakukan bersama-sama. Salah satu bentuk ibadah yang bisa dilakukan bersama-sama kala Ramadan antara lain ibadah solat, makan sahur dan juga berbuka. Semua terasa lebih nikmat ketika dilakukan bersama-sama, apalagi jika dilakukan dengan orang-orang yang berkekurangan, contohnya anak yatim.

Dan hal itu pula yang dilakukan oleh Adaro Energy, Jumat (9 Juni 2017) lalu.

Saya pribadi dapat kesempatan untuk ikut menghadiri Buka Puasa Bersama Adaro Energy setelah diundang melalui Mbok Venus. Singkat cerita, saya iyakan undangan tersebut karena memang kebetulan jadwal saya memungkinkan, serta sudah lama sekali sejak saya buka puasa bersama — buka puasa bersama terakhir sepertinya tahun lalu. *yaiyalah 😛 .

Sepulang jam kerja kantor saya usai, saya pun langsung menuju lokasi buka puasa di Kuningan City. Cukup jadi perjuangan karena lalu lintas yang ramai ya Jakarta ga ramai cuma pas pagi hari Lebaran doang. Sekitar jam 5an sore pun saya tiba di lokasi.

Lazimnya buka puasa bersama, pesertanya pasti banyak. Apalagi sebuah perusahaan besar seperti Adaro Energy dengan karyawan yang tersebar di berbagai unit usaha. Tapi sore itu yang bikin pesertanya jadi lebih banyak lagi dan juga spesial adalah peserta dari anak-anak yatim yang jumlahnya 1000 orang. Kesemua anak yatim tersebut diundang dari berbagai lembaga dan yayasan. Seperti yang sedikit saya ungkap di awal tulisan ini.

Saya mengikuti rangkaian buka puasa bersama Adaro Energy yang memasuki tahun ke-7 ini tepat sebelum tausiyah dimulai yang dibawakan oleh Ustad atau tepatnya Dai cilik Megi. Saya pribadi kurang tahu, tapi para undangan anak yatim ini sepertinya sudah hapal. Karena ballroom Kuningan City sore itu terdengar ramai oleh teriakan senang dari anak-anak yatim itu. Setelah saya ikuti tausiyah-nya pun, saya merasa dai cilik ini layak untuk dikenal oleh anak-anak. Tausiyah-nya ringan, mudah diikuti, dan tidak terkesan menggurui. Cocok untuk usianya.

Selesai doa bersama, adzan Maghrib pun berkumandang dan saatnya untuk buka puasa. Alhamdulillah, masing-masing peserta dapat sekotak ta’jil yang langsung bisa dinikmati. Ga lama, saya pun langsung ambil wudlu untuk kemudian menunaikan ibadah solat Maghrib bersama-sama di ballroom tersebut. Baru kemudian porsi makan berat dibagikan untuk dinikmati dengan penampilan live musik akustik.

Hal yang lebih nikmat dari menikmati makanan saat buka puasa bersama tersebut adalah melihat anak-anak yatim makan dengan lahap diselingi dengan bercanda dengan sesamanya.

Setelah makan berat, Presiden Direktur/CEO Adaro Energy Pak Boy Garibaldi Thohir pun menyampaikan sambutannya. Setelah sekian lama hanya tahu nama beliau dari berita-berita, saya senang bisa melihat langsung sosoknya. Dan kemudian ada tamu yang tak diduga hadir, yakni Sandiaga Uno, wakil gubernur DKI terpilih untuk masa jabatan 2017-2022.

Saya pikir setelah sambutan dan juga charity session, maka acara tersebut berakhir. Tapi ternyata tidak. Karena kemudian ada penampilan dari JKT48! 😆 Personally, meski saya mengikuti rilis lagu dan juga video klip serta cerita penampilan teater dari beberapa kenalan, saya belum pernah melihat langsung penampilan JKT48 di manapun. Dan yang lebih bikin surprise lagi, ternyata anak-anak yatim itu juga ngefans dan hapal dengan personel dan lagu-lagu JKT48, terbukti ketika mereka perform langsung merangsek hingga barisan depan.

Tak sedikit hadirin yang ikut berjoget dan mengabadikan performance — termasuk para orang dewasanya. Iya, saya juga mengabadikan, tapi ga joget. *sadar umur dan status*

Semoga kesenangan yang terjadi pada acara buka puasa bersama Adaro Energy tersebut berbekas dan membuat para hadirin jadi manusia yang lebih baik. Terutama para anak-anak yatim yang dimuliakan.

Terima kasih atas undangannya Adaro Energy.

Serial TV Favorit

Juni 6, 2017 § 1 Komentar

Sejak kenal nonton TV itu asyik 😛 — kaya’nya sejak kecil ya, saya udah ngikutin berbagai serial TV. Mulai dari kartun, anime (kartun Jepang), miniseri, sampai dengan serial live-action dengan genre beragam. Beberapa serial TV yang berkesan sejak kecil itu pun, belakangan masih suka saya cari link streaming dan atau pinjam file untuk kemudian ditonton.

Beberapa jenis serial TV yang masih suka saya cari dan tonton ulang antara lain:

  • Anime Doraemon. Udah jelas kaya’nya kenapa anime ini asyik buat ditonton berulang kali. Berbagai alat dan inovasi yang ditampilkan di serial ini seperti ga pernah habis. Animenya sendiri berbasis komik yang sudah dimulai dari tahun 1970. Udah puluhan tahun, dan ide alat-alatnya ga pernah habis.
  • Anime Saint Seiya. Meteor Pegasus emang ga pernah bisa ilang dari ingatan. Terutama sejak ceritanya mulai dari Seiya sendiri, ketemu teman-temannya, sampai dengan ngelawan Ksatria Emas dan Ksatria Hitam. Sayang serial anime ini kemudian ga saya ikutin lagi di TV, dan tau-tau udah ga tayang lagi.
  • Ksatria Baja Hitam. Ini bukan anime, melainkan live action dari Jepang berupa jagoan bernama Kotaro Minami. Aslinya di Jepang Ksatria Baja Hitam ini banyak jenis dan namanya, tapi di Indonesia yang paling dikenal banyak orang ya versi ini karena ini paling awal tayang & juga paling awal booming. Setelah itu ada Ksatria Baja Hitam RX, dan seterusnya. Saya sempat ngikutin lagi versi Kuuga, tapi kemudian ya berhenti aja karena emang ga sempet.
  • Ultra-Man. Nah serial dari Jepang ini juga bukan anime tapi live action berupa jagoan dari ranah kosmik. Kalo di Hollywood setara dengan Green Lantern lah, karena jagoan kosmik ini menjelma jadi manusia biasa di planet bumi dan ada banyaaaaaakk banget versinya tapi masih bisa ditarik benang merahnya. Salah satu yang saya masih ingat antara lain Ultra-7 dan juga Ultra-Man Leo. Serial ini cukup unik karena manusia bisa jadi gede banget buat lawan monster seukuran gedung-gedung tinggi.
  • Voltus, Goggle V, dan Power Rangers. Anime dan live action ini serupa tapi tak sama. Sama-sama beranggotakan sekitar 5 orang dan memiliki robot-robot (zord) yang bisa menjadi robot raksasa ketika digabung (megazord). Serial ini cukup seru karena terdiri dari beberapa orang yang berbeda jadi bisa main peranan di (saat masih) sekolah dulu. Siapa jadi ranger apa, dan seterusnya.
  • Selain itu juga ada Silver Hawk, Thunder Cats, dan masih banyak lagi.

Beranjak remaja kemudian dewasa, ada beberapa serial yang kemudian saya tonton selain karena ceritanya yang bisa diterjemahkan ke sehari-hari, maupun juga acting dan juga action yang terjadi di dalamnya. Antara lain,

  • Party of Five. Cerita 4+1 bersaudara keluarga Salinger yang ditinggalkan orangtuanya karena kecelakaan. Dari paling sulung sampai dengan yang sebelum bungsu. Oiya, yang paling bungsu masih bayi di awal-awal serial ini.
  • Buffy the Vampire Slayer. Udah jelas kenapa serial ini ditonton: anak SMA (kemudian kuliah) bisa lawan vampire itu keren. Apalagi ternyata cewek yang ngelakuinnya. Dan serial ini ada film layar lebarnya dulu sih.
  • CSI. Semua kota, semua versi. Serial ini cukup saya ikutin karena setiap episode memunculkan cara-cara penyelidikan yang keren untuk mengungkap kejahatan. Mulai dari menggunakan metode konvensional berupa investigasi tanya-jawab, sampai dengan menggunakan alat-alat canggih.
  • Game of Thrones. Cukup 1 kalimat aja untuk menerangkan kenapa serial ini wajib diikuti: Valar Morghulis.
  • Madam Secretary. Serial politik rekaan di negara Amerika Serikat ini enak diikuti karena cukup relevan dengan kondisi sosial-politik saat ini dan bisa dilihat cerminannya di keseharian. Selain itu ada juga sisi manusia dari seorang menteri yang punya peranan penting dalam kondisi global. Sebelum serial ini, juga ada serial The West Wing yang memotret keseharian staf presiden.
  • Suits. Kalo suka Law & Order, mendingan jangan nonton serial ini. Meski sama-sama bertemakan hukum dan peradilan, tapi serial Suits ini lebih pop dan sentralnya di firma hukum, bukannya di ranah kejaksaan/kepolisian.

Trus, apalagi ya? *inget-inget*

Anyway, dari sekian banyak serial yang saya ikutin emang kebanyakan dari luar negeri sih. Selain karena emang ceritanya unik, juga karena pemerannya ga itu-itu aja. Selain itu juga ga kejar tayang kaya’ sinetron lokal. Pemahaman saya, kalo serial udah kejar tayang biasanya idenya bakal mandeg dan kurang kreatif. Meski begitu, ada beberapa serial lawas yang sepertinya tema ceritanya oke seperti Jalan (Makin) Membara-nya Dede Yusuf dan Perjalanan (judulnya bener ga ya?) yang aktornya Ari Wibowo & gank.

Kalo kamu suka serial TV apa?

#SekolahLagi

Mei 22, 2017 § Tinggalkan komentar

Belajar adalah proses yang (sebisa mungkin) ga boleh berhenti.

Formal atau non-formal, belajar harus jalan terus. Bahkan, kalo perlu ya tuntutlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok — sesuai pepatah atau hadits(?).

Dan, itu yang sedang saya coba lakukan. 🙂

Singkat cerita, setelah #sahjadiST dari #menujugelarST, keinginan untuk belajar lagi ternyata ga berhenti. Malah semakin kepengen. :mrgreen: Dan kurang lebih 2 tahun sejak lulus itu, Insya ALLAH tahun 2017 ini jadi awalan baru untuk sekolah lagi ke jenjang berikutnya, S2.

Ga perlu saya tulis dulu ya apa bidang yang jadi pilihan untuk lanjut S2-nya. Yang pasti di universitas negeri di Jakarta (dan sekitarnya).

Urusan sekolah lagi ini sebenernya udah dimulai sejak lulus jadi insinyur di 2015 lalu itu. Beneran. Mulai dari cari program studinya, pilihan kampusnya, sampai dengan pilihan pembiayaan — dana sendiri atau daftar beasiswa. Tahun 2016 lalu juga udah hampir banget daftar untuk ikutan tes sekolah lagi, tapi ya… Tuhan berencana lain, sehingga ditunda setaun ke 2017 ini.

Dari awal-awal tahun 2017 ini, pilihan untuk sekolah lagi udah mengerucut ke 3 pilihan. Kesemuanya di Jakarta (dan sekitarnya). Ada 1-2 tambahan alternatif di luar negeri, itu pun dengan syarat harus dapat beasiswa. Dan karena akhirnya 2 aplikasi beasiswa gagal semua (yang satu gagal untuk daftar 😆 , satunya lagi gagal di fase ketiga – esai), jadinya capcipcup ke 3 pilihan itu.

Untuk diketahui 3 pilihan itu terdiri dari 3 program studi yang berbeda-beda dari 2 universitas yang berbeda.

Sebagai seseorang yang pernah dikategorikan sebagai pemikir dan (penuh) perhitungan — berdasar psikotes, maka saya pun melakukan beberapa pertimbangan, antara lain:

  • kecenderungan minat,
  • keterkaitan dengan pekerjaan,
  • perkiraan pengerjaan tugas akhir tesis,
  • prospek lulusan,
  • ilmu yang kira-kira bisa dimanfaatkan langsung maupun untuk pengembangan selanjutnya (baca: S3 — iya, beneran S3),
  • sampai dengan proyeksi pendanaan yang dibutuhkan untuk pembiayaan kuliah,

maka segala daya dan upaya akhirnya mengerucut ke 2 pilihan di 2 universitas yang berbeda. Sebut saja pilihan 1 di universitas negeri, dan pilihan 2 di universitas swasta. Untungnya, periode pendaftaran dan proses tesnya lumayan beda jauh pun juga dengan timeline-nya. Sehingga, saya bisa fokus dulu ke pilihan 1 baru kemudian kalo kurang beruntung, ya coba ke pilihan 2.

Alhamdulillah, fokusnya berbuah hasil dapet di pilihan 1. 🙂

Mohon bantu doain saya supaya dapat kuliah dengan lancar, sesuai jadwal normal (ga molor), dapat nilai yang cukup stabil dan oke, sampai dengan tetap semangat untuk sekolah, belajar, dan menyelesaikannya #menujugelarMaster. 🙂

Kalo kamu, pengen sekolah lagi ga?

Pusaka

April 18, 2017 § Tinggalkan komentar

Salah satu peribahasa yang cukup terpatri di benak saya adalah tentang gajah dan harimau. Sebagai berikut,

gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya

Pengertian yang beredar kebanyakan, kurang lebih sebagai berikut “orang baik akan meninggalkan nama baik, sementara orang yang tidak baik akan meninggalkan nama tidak baik pula.”

Namun, sebagai orang yang suka dengan bahasa-kata, dan belakangan juga bekerja terkait dengan bahasa-kata dan penulisan, saya suka iseng meneliti lebih jauh apa arti sebenarnya. Baik itu per kata/tulisan, sampai dengan apakah ada makna yang lebih mendalam dari sebuah tulisan.

Keisengan ini, kalo diseriusin, bisa disebut sebagai tafsir. Tapi, saya ga mau disebut sebagai ahli tafsir. Cukup disebut sebagai orang iseng aja. Kenapa? Karena buat yang emang kenal dekat dengan saya, keisengan saya ini seringkali menyebalkan karena sering membuat orang lain keki dengan pilihan bahasa/kata/tulisan yang saya sampaikan. :mrgreen: Ga ngerti? Ya gapapa. 🙂

Balik lagi ke soal peribahasa tadi, salah satu keisengan saya membuahkan salah satu makna mendalam yang saya dapatkan. Yakni tentang warisan. Tepatnya peninggalan atau pusaka. Kenapa ga serta-merta disebut ‘warisan’ aja sebagai kata yang umum/gampang dimengerti? Kenapa ada yang lebih tepat daripada ‘warisan’? Karena bagi orang dewasa, kata ‘warisan’ identik dengan harta dari orangtua atau yang diamanatkan. Sementara peninggalan atau pusaka, lebih spesifik dan tidak serta-merta sebagai harta.

Sebelum lanjut, paragraf di atas salah satu bentuk keisengan saya tentang kata/bahasa/tulisan. Masih mau ngikutin? Oke, lanjut.

Kenapa saya sebut sebagai pusaka atau peninggalan, karena peribahasa tersebut ada kata kuncinya yakni “meninggalkan”. Sesuai struktur kalimat yang benar di Indonesia, S(ubjek) + P(redikat) + O(bjek), maka peribahasa tersebut sudah benar. Dan kata kunci sebagai predikat, memberikan pengertian objek yang ditinggalkan adalah sesuatu yang berharga dan atau sesuatu yang identik dengan subjeknya.

Intinya, pemahaman saya buah dari keisengan, pengertian sebenarnya dari peribahasa tersebut bukan serta-merta mengenai orang baik dan orang tidak baik. Melainkan sesuatu yang ditinggalkan, yang sesuatu tersebut adalah sesuatu yang berharga dan atau identik.

Berangkat dari pemahaman itu, saya kemudian bercermin. Apa ya peninggalan atau pusaka yang sudah saya siapkan? Bukan berarti saya sudah siap atau merasa bekal saya sudah cukup untuk kehidupan berikutnya sesuai dengan ajaran agama saya, bukan itu. Melainkan, saya merasa masih kurang membuat sesuatu yang berarti selama saya dewasa dan sadar diri ini.

Mungkin hanya perasaan, tapi itu yang saya rasakan.

Lalu seperti apa peninggalan atau pusaka yang pengennya saya berikan? Kalo ngomongin idealisme, saya juga pengen seperti para pahlawan nasional dan atau pemenang penghargaan. Dedikasi terhadap bangsa-negara, atau teori dan penemuan yang kemudian berguna bagi banyak orang. Tapi saya juga sadar diri, saya bukan mereka. At least, belom. 🙂

Kira-kira, apa & harus bagaimana ya? Baik itu terkait peninggalan/pusaka, atau apakah sudah ada?

pusaka/pu·sa·ka/n1 harta benda peninggalan orang yang telah meninggal; warisan: — yang ditinggalkan kepada anaknya hanya berupa sawah lima petak;2 barang yang diturunkan dari nenek moyang: keris –;

— gantung harta pusaka yang tidak terang siapa yang berhak mewarisinya;
— rendah harta pusaka yang diterima dari perseorangan (seperti kain, cincin);
— tinggi harta pusaka milik kaum (tanah, sawah, atau tanah adat);
sumber: KBBI.

Kalo kamu, udah punya ide buat bikin peninggalan/pusaka apa?

Ampas Kopi

April 11, 2017 § 3 Komentar

Konon, kopi yang dijual secara eceran bungkusan di Indonesia itu adalah kopi grade kesekian. Kopi dengan grade terbaik, diekspor/dijual di luar negeri dan atau hanya dijual di coffee shop.

Tapi itu kan konon.

Buat orang awam seperti saya, yang penting sudah bisa menikmati kopi — pas lagi pengen, sudah cukup senang. Beda sih kalo emang addicted sama kopi. Pun kalo sok-sokan ngerti kopi hanya karena baca buku atau nonton film terkait. Saya yang minum kopi sejak lama (mulai sejak SMA), berbagai jenis — sachet maupun bukan, pun di dalam dan luar negeri, biasa aja. :mrgreen: Dan untuk lebih jelasnya, kayanya saya belom baca atau nonton apapun yang terkait kopi — meski pengen.

Dari sekian banyak kopi yang pernah saya minum, baik itu menyeduh sendiri atau diseduhkan (seperti di coffee shop), entah kenapa saya lebih memilih minum kopi yang menyisakan ampas. Biasanya kopi yang begitu adalah black coffee. Tapi bukan berarti saya ga minum kopi tanpa ampas ya.

Kopi yang menyisakan ampas setelah diseduh biasa & bisa saya dapatkan dengan menyeduh kopi sachet atau disendokin dari kopi instan. Entah, tapi ada semacam rasa yang berbeda ketika ada ampasnya yang tersesap di mulut ketimbang tanpa ampas. Dan entah kebetulan atau tidak, untuk kopi yang tak menyisakan ampas cenderung cukup kuat efeknya terhadap perut saya ketimbang kopi yang menyisakan ampas. Makanya kalo kopi yang tak menyisakan ampas, saya lebih memilih yang disajikan di coffee shop ketimbang menyeduh sendiri — karena kayanya komposisinya lebih pas.

Kalo kamu lebih suka kopi yang menyisakan ampas atau tidak?