Chinese New Year 2015

Februari 19, 2015 § Tinggalkan komentar

2015: Year of the Goat

2015: Year of the Goat

Tahun baru berdasarkan penanggalan Tiongkok atau biasa juga disebut Imlek, tahun 2015 ini jatuh pada tanggal 19 Februari 2015. Dari tahun ke tahun, tahun baruan ini cenderung berubah tanggal. Saya pribadi, ga gitu ngerti kenapa bisa beda-beda tanggalnya — beda sama Hijriah yang kurang lebih tiap tahunnya maju 11 hari.

Anyway, saya ga mau bahas soal penanggalan atau kapan tanggalnya sih. Personally, saya senang dengan adanya hari libur pada Imlek. Kalo ga salah, sejak jaman pemerintahan Gus Dur, maka tahun baru ini jadi tanggal merah. Sebelumnya, tahun baru Imlek ga merah — cmiiw. Apalagi, libur di tahun ini ngepas banget deket-deket wiken, jadinya kalo satu hari kejepitnya cuti/libur juga, bisa long wiken sejak hari Kamis.

Sebagai seorang individu yang masih punya garis keturunan China (Tiongkok) dari pihak Ayah, sejauh yang saya ingat memang di tahun baru Imlek ini keluarga besar pasti berkumpul. Family gathering kalo bahasa kerennya. Kegiatannya sederhana aja, makan bareng, ketemu sodara sepupu-om tante yang jarang ketemu, dan juga lain-lainnya.

Oiya, masih berkaitan dengan Imlek juga, ada berbagai images dan juga ucapan berseliweran sana-sini. Tapi satu yang jadi favorit saya yang dibuat oleh @kapkap ini.

 

 

Lucu nan menggemaskan.

Happy Chinese New Year 2015 buat kalian yang merayakan!

Permainan Tradisional (?)

Februari 11, 2015 § Tinggalkan komentar

Congklak

Congklak

Dari sekian banyak permainan tradisional (?), mana yang paling jadi favorit? Saya sih congklak — yang ada di gambar itu. Iya, beda daerah beda juga nama dan pengucapannya.

Ada sekitar 7 lubang, dengan 1 yang paling besar di ujung. Ada 2 baris, jadi total 14 lubang. Yang harus diisi, tentunya lubang paling ujung, dengan setiap kali lewat dijatuhkan 1 biji dari lubang tempat bermulai. Agak ribet memang kalo dijelaskan via kata-kata (ironis karena saya pribadi gemar bermain kata-kata :mrgreen: ), tapi tentu bakal lebih asyik ketika bisa dimainkan dan langsung dicontohkan.

Oiya, ini permainan untuk 2 orang.

Seingat saya, ibu saya dulu yang mengajarkan saya bermain permainan tradisional (?) congklak ini. Pengennya juga sih, kelak ketika anak saya sudah cukup besar dan mengerti, mau saya ajarkan dan ajak main ini juga — kalo perlengkapannya masih mudah dicari.

Walau tampaknya sederhana dan cenderung untuk menghabiskan waktu, permainan tradisional (?) congklak ini juga membutuhkan strategi dan konsistensi, lho. Gimana caranya supaya bisa mengumpulkan biji terbanyak dibandingkan lawan kita. Walau kadang, faktor luck juga berperan. :lol:

Anyway, perihal judul post yang saya kasih tanda tanya di belakangnya, itu lebih karena apakah layak permainan ini disebut tradisional? Karena, dulu saat card board (monopoli, ular tangga, dll) booming aja, congklak sudah disebut tradisional. Nah, jaman sekarang di mana game/permainan banyak yang digital berbasis multilayar, bisa-bisa cardboard disebut tradisional, dan sejenis congklak disebut mainan nenek moyang — kalo ga disebut tradisional kuadrat. *halah*

Personally, saya pernah ada ide sedikit ngawur sih, gimana kalo permainan yang biasa dimainkan orang-orang Indonesia ini secara turun-temurun dipromosikan atau dipertandingkan di sebuah ajang resmi macam PON/SEA Games gitu. Pasti lucu dan seru. Jadi, nasibnya ga kaya’ balap karung yang “hanya” dipertandingkan kala tujuhbelasan atau event camping aja.

kalo kamu, suka permainan tradisional apa?

NB: foto dari sini –> photo credit: Picking Up The Pieces via photopin (license)

Pesan Tersembunyi di Lagu Indonesia Pusaka

Februari 3, 2015 § 1 Komentar

Old school. (Oldskul)

Begitu mungkin istilah jaman sekarang (atau pada jamannya) buat yang suka hal-hal berbau jaman dulu atau jadul. Dulu, saya pernah ngerasa istilah itu sebagai salah satu bentuk merendahkan, atau meremehkan karena ga apdet atau ga kekinian. *halah* Lama kemudian baru saya sadari, ga ada masalahnya juga kalo ga apdet. Biarin aja dibilang ga muvon, yang penting saya tau identitas saya sendiri.

Oke, daripada ngawur lebih jauh perihal identitas dan lain-lain, balik lagi ke topiknya yang terkait old school, adalah mengenai lagu-lagu ciptaan masa-masa perang kemerdekaan atau awal-awal kemerdekaan. Dari berbagai lagu wajib dan juga lagu nasional, ada salah satu lagu yang belakangan ini terngiang-ngiang di benak saya. Yakni, Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki (cmiiw).

Hasil embed dari soundcloud itu hasil iseng saya yang lagi nyari gubahan lagu tersebut versi kekinian. Dan itu salah satu contoh yang menurut saya enak didengar. Ada juga versi lainnya seperti paduan suara dan lain-lain.

Lirik lagunya sendiri sbb:

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Dipikirin sekilas dari liriknya, selain mengedepankan betapa Indonesia sebagai sebuah negeri yang indah dan juga menjadi kebanggaan yang harus dibanggakan setiap warga/penduduknya, juga ada pesan tersembunyi di lagu tersebut. Udah bisa nebak?

Yep, pesan tersembunyi berupa untuk berkarya di masa produktif tidak di tanah air Indonesia. Diaspora — mungkin itu istilah yang paling dekat kaitannya. Bisa saja berada di penjuru dunia manapun, bisa saja sudah menjadi warga negara manapun dan berkarya di bidang atau bagian apapun, namun Indonesia tetaplah menjadi negeri yang menjadi awal dan juga akhir dari perjalanan hidup. Atau mungkin hanya tempat lahir saja, atau tempat menikmati masa tua saja.

Saya bisa bilang begitu, karena di liriknya tertera jelas mengenai Indonesia sebagai tempat lahir dan juga tempat masa tua. Ga ada sama sekali perihal masa berkarya — yang berarti bisa dan boleh atau didorong untuk melakukan di mana saja selain di Indonesia.

Ya mungkin itu hanya anggapan saya aja sih, bisa jadi memang Ismail Marzuki ketika menciptakan lagu tersebut dulu memang menyisipkan pesan itu karena di masa-masa perang dan awal kemerdekaan anak-anak negeri haruslah berbaur dan menjadi bagian dari masyarakat internasional sebagai bagian dari negeri yang masih sangat muda. Mungkin ya. Mungkin.

Jadi penasaran, di lagu-lagu wajib/nasional lain ada pesan tersembunyi juga ga ya?

Obat Terbaik untuk Ngantuk?

Januari 27, 2015 § 4 Komentar

diambil dari shutterstock – tanpa direkayasa

Kopi?

Buat saya pribadi, obat terbaik buat ngantuk bukanlah ngopi atau ngeteh. Bukan konsumsi minuman/makanan dengan kafein. Tapi ya.. tidur. Bener-bener istirahat. Mau itu sekejap atau sampai berjam-jam, yang pasti ya tidur itu harus kalo emang udah ngantuk. Apalagi kalo udah banget-banget.

Saya pernah baca di mana gitu, ngantuk itu selain sebagai tanda kurang oksigen atau apalah, juga berarti tubuh sudah lelah. Ngantuk itu salah satu tanda alami bahwa badan kita butuh istirahat. Dan, tidur adalah solusinya.

Tapi ga bisa juga sih sembarangan tidur. Ga mungkin juga lagi bawa kendaraan dan ngantuk, ndadak harus langsung tidur. Menepi dulu, trus cari posisi yang aman — ga bakal kena kecelakaan/ditilang, dan beneran tidur. Buat pemotor, mungkin pernah juga ngalamin lagi di jalan, panas banget, dan ngantuk banget trus akhirnya menepi ke bawah yang rindang dan tidur di atas setang. 5-10 menit saja mungkin, tapi powerful buat ngilangin ngantuk dan bisa bantu buat lanjutin perjalanan.

Konsep tidur sejenak itu juga yang (mungkin) dikenal sebagai powernap. Apa artinya, coba digugling aja ya. *males jelasin* :P

Nah, kalo buat kamu, obat mujarab ngilangin ngantuk apaan?

NB: foto diambil dari shutterstock tanpa direkayasa

Hape Rusak

Januari 21, 2015 § 1 Komentar

Entah berkaitan apa engga sama postingan saya sebelumnya soal hape qwerty, yang pasti sih per jumat lalu gadget gnote 2 yang udah nemenin saya hampir 2 taun rusak.

Kerusakannya juga bukan rusak perangkat lunak atau internal sistemnya — yang menurut saya lebih “mudah” penanganannya, melainkan rusak di perangkat kerasnya. Yang mau ga mau bakal ganggu banget penggunaannya.

Bisa ganggu banget karena rusaknya persis di layar sentuhnya. Padahal sepanjang sejarahnya gnote ini udah pernah jatuh di segala sudut sampe baret dan hardcase pelindungnya mulai rusak, nyungsep ke dalam salju, kena paparan angin musim dingin & badai salju, tergenang air kopi, dan lain-lain. Sekalinya jatoh pas kena layarnya duluan, langsung retak deh. :(

Sedih, jelas. Tapi ya… masih bisa dipake sih walau ganggu banget. Pengennya langsung ganti sparepart layarnya, tapi harganya lumayan. Hampir setara hape android baru low end dari merek bonafid lainnya. Dilema — kalo ga dibilang galau. *halah*

Soal foto gimana kerusakannya, ntar aja deh kalo sempet difoto. Secara saya sering moto ya pake gnote ini. Begitu dia rusak, ya ga tau pake apa buat moto kerusakannya.

Penghargaan Film

Januari 14, 2015 § 4 Komentar

The Oscar — from Shutterstock

Ngikutin atau engga, awal taun biasanya selalu rame dengan yang namanya penghargaan film — khususnya dari Hollywood. Ga lain ga bukan, ya Golden Globe dan Academy Awards (Oscar). Personally, saya ga gitu ngikutin sampe detail, karena saya cukup ngikutin di permukaan aja — Oh, ada awardingnya, trus penasaran aja yang menang siapa aja.

Mulanya, saya berpendapat film (serial, TV, atau layar lebar) yang menang di penghargaan itu pasti yang bagus dari sisi produksi dan juga komersil. Turns out, ga semuanya begitu. Ada kalanya filmnya sukses secara komersil, tapi ga menang penghargaan. Ada juga yang menang banyak penghargaan, tapi ga begitu sukses secara komersil — tapi minimal bisa balik modal dan tutup produksi. Contohnya apa ya? Banyak deh kayanya — sayangnya saya ga hapal karena saya ga gitu merhatiin detail soal film (keseluruhan). *ga bakat jadi pemerhati film nih* :lol:

Walau begitu, ada juga kok film-film yang sukses secara komersil dan masih masuk nominasi penghargaan di posisi terhormat. Contohlah Inception dan juga Crouching Tiger Hidden Dragon. — Yes, kalo yang ini saya inget. :P

Oiya, sedikit lompat-lompat, saking ga bakatnya saya jadi pemerhati film, saya ga hapal lho yang menang Golden Globe kemarin siapa/apa aja. Bahkan, aktor-aktris yang film-filmnya jadi favorit saya sekalipun, saya ga hapal apa udah pernah menang penghargaan tersebut atau engga. Palingan cuma Russell Crowe yang saya tau pernah menang Academy Award (Oscar) karena film Gladiator dan A Beautiful Mind. *yep, keduanya film favorit saya dari banyak lainnya*

Anyway, back to topic soal penghargaan film, saya kadang penasaran (banget) kenapa kok film produksi Indonesia (atau menceritakan soal Indonesia) belom pernah menang di penghargaan film tersebut? CMIIW yaaa..

Apa mungkin karena kualitasnya beda? Beda objektif? Beda juri? Atau kenapa? Pertanyaan ini karena saya awam aja sih, bukan berarti saya nuduh atau mau memancing kontroversi. *halah*

Menurut kamu kenapa film Indonesia (produksi ataupun cerita Indonesia) belom pernah menang di Golden Globe/Academy Award?

NB: foto dari shutterstock, saya comot buat tampil aja dengan kredit (watermark) yang masih jelas terlihat.

Hape Qwerty atau Touchscreen?

Januari 7, 2015 § 4 Komentar

Hape numpad aja, gimana?

Saya merasa beruntung jadi bagian dari generasi yang pernah tahu telepon koin pinggir jalan, telepon koin yang dipasang di rumah, telepon radio, telepon kabel dengan tombol pencet, sampai kemudian muncul telepon portabel, telepon seluler, handphone numpad, keypad, qwerty, sampai kemudian hape touchscreen. Saya juga pernah tau hape dengan tombol putar, walau tak pernah mengoperasikannya.

Telepon Koin

Telepon Koin

Sebagian besar telepon itu, kini mungkin cuma bisa diliat di museum atau gudang. Terutama karena layanan seluler semakin luas penggunaannya, juga karena sudah awam untuk setiap orang memiliki hape sendiri. Bahkan, mungkin satu orang punya beberapa hape sekaligus.

Personally, dari sekian banyak telepon dan hape tersebut, saya paling nyaman penggunaannya adalah telepon kabel. Alasannya sederhana sih, ga perlu takut ilang sinyal, ga perlu takut lowbat, udah pasti nyambung — sepanjang tagihan selalu terbayar. Sayangnya, telepon kabel itu harus benar-benar dijaga pemakaiannya, karena bisa-bisa menjebol anggaran bulanan.

Dan juga karena dihadapkan dengan betapa besarnya kemungkinan saya untuk berpindah tempat, telepon kabel pun jadi kurang praktis. Jadinya, hape atau telepon seluler menjadi pilihan utama.

Seiring kemajuan teknologi dan juga perkembangan jaman pun, telepon seluler yang mulanya hanya menyediakan layanan suara, dilengkapi dengan teks dan internet. Dan hape-hape canggih pun mulai bermunculan sampai yang mutakhir adalah touchscreen dengan ketebalan yang sangat tipis.

Tapi saya sih kurang tertarik — saat ini, untuk menggunakan hape canggih seperti itu. Karena satu; takut nyelip dan gampang hilang, dan yang kedua; saya ga bisa beli karena harganya udah pasti mahal. :mrgreen:

Jadi kalo disuruh milih dan emang saat ini juga lagi saya pake, saya suka ponsel dengan keypad qwerty. Sayangnya sih, ponsel keypad qwerty ga secanggih ponsel touchscreen — atau sayanya aja yang ga nemu. :P

NB: telepon koin photo credit: erwinabdulrahman via photopin cc
NB lagi: postingan ini terinspirasi dari postingan salah satu teman di path, soal betapa anak remaja jaman sekarang belom tentu tau pernah ada yang namanya telepon koin.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.290 pengikut lainnya.