Mendekati Tanggal 15

Februari 2, 2017 § Tinggalkan komentar

Saya ga dibayar oleh KPU. Ga dibayar juga oleh kandidat pilkada manapun. Postingan berikut di bawah ini murni dari hati nurani saya.

Politik. Hal tersebut kayanya rame banget 2-3 bulan belakangan ini. Jelas sudah, karena ada ajang pilkada. Tepatnya, pemilihan kepala daerah serentak. Untuk tahun 2017 ini diadakan di 101 daerah/kota/kabupaten/provinsi. Salah satunya Jakarta, kota tempat domisili saya saat ini.

Terkait politik itu pula dasar saya menulis blogpost ini. Tapi lagi-lagi, ini murni dari hati nurani saya. Bukan bayaran. Bukan berharap bayaran. Bukan juga karena gemas, jengah, kesal, atau sengaja untuk mempertontonkan dan menunjukkan kandidat pilkada mana yang saya dukung. Bukan, ya.

Postingan ini lebih ke ajakan saya untuk kalian — iya kalian pembaca, yang sudah memiliki hak pilih, baik itu terdata di daftar pemilih maupun tidak, tanggal 15 Februari nanti baiknya hadiri TPS terdekat sesuai di mana hak pilih bisa digunakan. KTP Jakarta? Jelas pilkada Jakarta. KTP Bekasi, jelas pilkada Bekasi. Jangan malas. Jangan menghindar. Datang ke Tempat Pemungutan Suara, dan gunakan hak pilihnya.

Pilkada bukan sekadar prinsip kandidat mana yang lebih benar, atau lebih salah. Karena kandidat pilkada manapun pasti akan didukung oleh para pendukungnya. Meski salah, akan dimaklumi. Apalagi benar, akan dipuji-puji. Pilkada, atau politik khususnya, lebih ke penyaluran aspirasi masyarakat – rakyat, terhadap jalannya pemerintahan. Tentang kepedulian terhadap siapa yang akan menjadi pemimpin dari para pelayan masyarakat atau abdi negara.

Jadi, sebelum tanggal 15, cermati setiap program kerja yang disodorkan oleh para kandidat pilkada. Catat jika perlu. Kemudian setelah terpilih nanti, awasi pelaksanaannya. Tegur langsung jika bisa, atau melalui perwakilan rakyat di tempat masing-masing.

Dan paling penting, TANGGAL 15 DATANG KE TPS untuk MENGGUNAKAN HAK SUARA pada pilkada. Every votes counts. Every voices matters.

Udah siap jadi warga negara yang menggunakan hak suaranya, ‘kan?

NB: Saya bukan PNS – meski berharap bisa jadi PNS. Mungkin kelak, jika ada rejeki.

Jelang Imlek 2017

Januari 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Belum ujan.

Biasanya kalo mau Tahun Baru Imlek, sekitar Jakarta suka dilanda hujan. Pernah beberapa tahun yang lalu dan juga sekitar tahun 2000an, hujan besar melanda yang bikin macet dan genangan (banjir). Tapi tahun ini somehow, ujan beluman juga.

Yang saya maksud beluman juga, artinya belum ujan besar. Entah emang curah hujannya beda sama taun-taun sebelumnya, entah menunggu hari H Tahun Baru Imlek baru kemudian hujan besar. Anyway, antisipasi tetap dilakukan.

Jas hujan. Sandal. Istirahat cukup. Sampai dengan pemeriksaan prakiraan cuaca kapan dan di mana bakal hujan. Karena kalo ngeliat sejarahnya, Januari-Februari-Maret termasuk musim pancaroba. Hujan-panas ga bisa ditebak. Alhasil, jadi gampang sakit. Belum lagi meningkatnya risiko DBD — habitat nyamuk penyebabnya bertambah karena banyak air yang menggenang.

Anyway, jelang Imlek 2017 ini, sebagai salah satu pribadi dari warga keturunan — meski secara fisik udah ga keliatan, harapan saya di tahun yang baru nanti semuanya makin lancar. Dekat rejekinya. Dimudahkan usahanya. Dan paling penting makin dekat dengan Yang Maha Kuasa.

Oiya, Tahun Baru Imlek 2017 ini jatuh pada tanggal 28 Januari 2017. Nope, jangan tanya kenapa tanggalnya ga fixed setiap tahun. Beberapa tahun lalu ada di bulan Februari, kemudian Januari, etc, dll, dsb.

Somehow, sambil nulis blogpost ini saya jadi keingetan sama salah satu berita yang pernah saya lihat beberapa tahun lalu. Di Tiongkok daratan sana, jelang Imlek gini biasanya tiket kereta bakal ludes-des-des dan mahal banget. Karena seperti Lebaran di Indonesia, pada mudik gitu. Saya pribadi pernah ngalamin berada di daratan Tiongkok deketan tanggal tahun baru Imlek. Dan kereta sejenis commuter gitu, penuh aja lho.

Selamat Tahun Baru Imlek bagi kalian semua yang merayakan, ya!

Om, Telolet Om

Januari 19, 2017 § 5 Komentar

Biar ga dibilang ikut2an tren, saya baru ngepost topik ini sekarang. Udah basi sih kalo kata orang banyak. Still anyway, saya tetep pengen bahas. Secara, blognya juga saya ini yang nulis. :mrgreen:

Sebelom jadi viral sampe ke DJ kelas dunia, saya udah merhatiin asal-usulnya. Engga, saya bukan pakar marketing yang bisa menduga tren, tapi saya lebih ke (suka) neliti dari mana awal sebuah tren. Dan “Om Telolet, Om” ini saya udah pernah merhatiin darimana awalnya. Btw, tulisan soal marketing seringnya muncul di sini sih.

Alkisah (halah), jalur Pantura Jawa merupakan salah satu jalur darat terpadat dan tersibuk di dunia. Iya bener, di dunia. Arus manusia dan barang lewat jalur Pantura Jawa ini padet banget. Selain karena banyak kota persinggahan sejak jaman kesultanan/kerajaan, juga konon jalur Pantura ini udah grand-design-nya udah sejak jaman Daendels bikin jalur Anyer-Panarukan. CMIIW ya.

Nah, karena jalurnya padat dan sibuk inilah, beberapa sopir kendaraan besar – truk dan bus, bikin modifikasi sama klaksonnya. Entah apa alasan pastinya, bisa jadi biar ga bosen, bisa jadi biar langsung jadi identitas, wallahu alam. Tapi modifikasi klakson ini kemudian ditangkap oleh anak-anak penduduk sekitar jalur Pantura yang baru pada kenal hape untuk kemudian direkam. Iya, betul, direkam. Pernah baca di mana gitu, ngerekam klakson ini marak banget dan jadi ajang buat saling pamer di kalangan anak-anak tersebut.

Hal ini — anak2 ngerekam mobil lewat di jalur Pantura, udah pernah saya saksikan sendiri saat melakukan perjalanan darat ke Jawa via Pantura, pertengahan 2016 lalu. Sayangnya saya ga sempet bikin dokumentasi — secara nyetir gitu lho. Tapi beritanya pernah masuk ke beberapa portal berita, salah satunya artikel ini. Siapa sangka, hal-hal sederhana begitu bisa jadi viral sekitar 6 bulan kemudian — November, Desember 2016.

Setelah ini, apa ya yang bakal ngetren lagi sampe DJ kelas dunia ikutan?

Ideal(is)(?)

Januari 12, 2017 § 2 Komentar

Dulu saya punya cita-cita: turut serta mengubah dunia menjadi yang lebih baik. Dalam artian, tergabung dalam gerakan yang besar, global, bisa/mudah dikenali, dan suatu saat nanti menjadi salah satu garda terdepan dalam gerakan tersebut.

Tapi itu dulu…

Waktu saya masih aktif sebagai mahasiswa D3 (waktu jadi mahasiswa S1, sambil kerja, jadi ga sempet mikir yang gitu lagi :mrgreen: ) yang kerjaannya “cuma” kuliah aja. Jadi, ngisi waktu selain kuliah dan ngerjain tugas, aktiflah di kegiatan kampus, cari-cari jaringan LSM yang terkait dengan ketertarikan (interest), dan masih banyak lagi. Pokoknya menyalurkan minat. Syukur-syukur kalo dapet jaringan yang mumpuni — sayangnya (kayanya) ga dapet tuh. 😆

Sekarang?

Saya lebih cenderung mengubah sudut pandang saya. Memulai perubahan dari hal yang kecil, diri saya sendiri. Syukur-syukur kalo di kemudian hari bisa dikenali dunia. Syukur-syukur kalo kemudian perubahan diri saya bisa menular ke seluruh dunia. Ga perlu muluk-muluk gabung ke gerakan besar/global, karena sadar diri: ga punya waktu. Dan juga yang paling nyadar: saya cuma satu manusia biasa, rakyat jelata, ga punya afiliasi politik, apalagi afiliasi harta (berdasar kekeluargaan).

Intinya: saya cuma manusia biasa.

Hal itu juga yang kemudian ngubah cara saya menilai sesuatu sebagai idol ideal. Dulu, ideal menurut saya apabila tentram, tertib, sesuai peraturan, tertata, dari A-Z bisa diurut dan dikenali. Sekarang? Ideal menurut saya adalah adil — sesuai proporsinya, nyaman, berkembang, dan bisa terus-menerus — kalo bisa jadi warisan.

Secara bahasa (atau struktur kata), makna ideal bagi saya dan dulu jelas berbeda. Tapi secara makna atau pengertian, sepertinya perbedaan hanya di penerapannya dan persepsi saja. Saya lupa persisnya idealisme saya dulu didasari oleh apaan, tapi yang pasti seiring perjalanan di dunia (baca: tambah umur), ya mendewasakan idealisme tersebut.

Engga, saya ga menggurui. Postingan ini lebih ke sharing, sekaligus reminder buat saya juga suatu saat nanti. Kalo bisa malah, reminder buat penerus saya — terutama anak-anak saya. 🙂

Buat kamu, ideal itu yang seperti apa/gimana?

Pilkada DKI dan Saya

Januari 5, 2017 § 3 Komentar

Disclaimer: Bagi yang berharap saya menuliskan nama pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI yang saya dukung atau tidak dukung, silakan kecewa duluan. Postingan blog ini lebih ke hal-hal generik terkait pilkada DKI. Tapi tidak menutup kemungkinan saya sebutkan juga, suatu hari nanti. 🙂 Kalo ga ngarepin, ya nikmati aja. *berasa penting banget*

2017 ini ketiga kalinya saya mengikuti gelaran Pilkada DKI. Pertama tahun 2007. Kedua tahun 2012. Ketiga ya tahun ini.

Di 2 pilkada sebelumnya apakah mendukung calon yang sama? Jawabannya TIDAK. Lebih karena pada tahun 2007 saya memutuskan untuk tidak datang ke TPS dan memberikan suara saya. Lebih karena juga saya merasa tidak ada pasangan calon yang mewakili apa yang saya rasakan, inginkan, harapkan. Dan saya menyesal tidak memberikan suara saya. Karena bisa jadi satu suara saya juga memberikan perbedaan. Karena saya seharusnya bisa memanfaatkan hak saya sebagai warga negara untuk memilih kepala daerah di tempat saya berdomisili dan bekerja.

Beda cerita di pilkada DKI tahun 2012. Saya merasa ada pasangan calon yang mewakili apa yang saya rasakan, inginkan, dan harapkan. Oleh karena itu saya pun mendatangi TPS. Saya lupa persis apakah saya termasuk pemilih dalam daftar cadangan (menggunakan surat suara sisa) atau tidak. Tapi saya masih ingat persis mencoblos surat suara dan mencelupkan jari kelingking ke tinta sebagai tanda telah menggunakan hak suara.

Di tahun ini, pilkada DKI tahun 2017 saya berencana untuk kembali mendatangi TPS dan menggunakan hak suara saya. Lagi-lagi, dalam 5 tahun terakhir saya juga baru pindah alamat KTP lagi. Saya berharap tidak perlu menunggu waktu pemungutan suara terakhir untuk bisa memilih — seperti pada Pemilu 2014 lalu, melainkan bisa sejak dari pagi hari. Apalagi RT setempat saya sudah mendata mengenai jumlah pemilih ke rumah saya sejak akhir tahun 2016 lalu. Dan semangat saya untuk datang ke TPS lebih besar daripada 2012 lalu, juga gabungan dengan penyesalan 2007 lalu. Yakni karena saya merasa ada pasangan calon yang mewakili apa yang saya rasakan, inginkan, dan harapkan serta saya berharap hak suara saya bisa membuat perbedaan, serta memanfaatkan hak saya sebagai warga negara.

Saya melihat Pilkada (di DKI) dan juga Pemilu adalah salah satu bentuk hak dan kewajiban saya sebagai warga negara. Hak saya untuk menggunakan suara saya, serta kewajiban saya untuk turut serta menyukseskan pemilihan kepala daerah dengan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Iya, seperti jargon pemilu dari jaman orde baru yang kemudian diwariskan dan ditambahkan saat masuk orde reformasi.

Buat yang melihat bahwa saya cenderung main aman atau oportunis, saya persilakan. Saya disebut swing voters pun tidak masalah, karena faktanya memang seperti itu. Tapi secara pribadi saya punya prinsip, pandangan pribadi terkait politik yang tidak wajib saya utarakan kepada siapapun. Penyaluran melalui postingan blog ini sekalipun adalah salah satu bentuk dari rasa gemas (kalo ga dibilang kepedulian) terhadap situasi terkini.

Sebagian orang juga mungkin menilai postingan blog saya ini sebagai terlambat, dan atau ketinggalan. Apalagi mengingat saya tidak punya afiliasi politik, dan atau sejarah terkait permasalahan sosial dan politik (praktis?). Lagi-lagi saya bilang, silakan. Saya cuma berharap siapapun kepala daerah DKI yang terpilih nanti bisa bekerja dengan baik, memberikan kemajuan bagi warga DKI dan yang PP DKI, serta selaras dengan cita-cita bangsa dan negara.

2016 ini…

Desember 28, 2016 § Tinggalkan komentar

Buat saya pribadi tahun 2016 ini terasa sangat cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin saya ajak jalan keluarga kecil saya menikmati libur awal tahun, baru kemarin melakukan perjalanan darat (lagi) ke Yogyakarta, baru kemarin lebaran, lalu mendadak sudah akhir tahun saja. Benar-benar rasanya cepat.

Beberapa orang bijak berkata, jika waktu terasa cepat berlalu, bisa jadi yang dilakukan dengan waktu tersebut berguna dan menyenangkan. Mudah-mudahan benar adanya. Karena seperti keinginan pribadi saya, hendak menjadi lebih baik dan berguna setiap saatnya. Setiap berganti tahunnya. Meski memang tidak dituliskan dalam bentuk resolusi. Bahkan akhir tahun lalu saya “hanya” membuat review akhir tahun, dan bukan (lagi) resolusi untuk tahun yang baru.

Pendapat lain diungkapkan oleh orang lain yang lebih dewasa mengenai rasanya tahun cepat berlalu: yakni faktor kedewasaan. Usia mungkin termasuk ke dalam kedewasaan tersebut, karena sudah sepantasnya jika bertambahnya usia tentu menambah kedewasaan. Terkait apa yang membuat kedewasaan membuat waktu terasa lebih cepat berlalu, buat saya pribadi sepertinya lebih karena sikap “nrimo” dan sabar yang lebih banyak dipelajari dibandingkan sebelumnya. Tapi bukan berarti tidak melakukan perubahan atau menjadi yang lebih baik, hanya saja mengurangi sikap/sifat menentang dan percaya bahwa ada kekuatan yang sangat baik dan for a greater good. Iya, lebih percaya dan beriman terhadap Tuhan YME.

Berlanjut ke pencapaian dan review akhir tahun, 2016 ini bukan berarti tidak melakukan pencapaian apapun hanya karena terasa cepat berjalan. Ada kok pencapaian yang sudah dilakukan, hanya saja kali ini saya rasa cukup untuk saya sendiri saja.

Begitu. Dan Selamat menyambut Tahun yang Baru – 2017.

Gimana 2016 kamu?

Tas Gunung

November 23, 2016 § Tinggalkan komentar

Tas, kantung (lazimnya berukuran besar) yang digunakan untuk membawa barang-barang, bisa dibedakan menjadi berbagai macam nama turunan bergantung kepada jenis/model, pemakai, bentuk, sampai dengan kapan dipakenya.

Sejak kecil sampai dengan dewasa sekarang, sepertinya sudah belasan atau puluhan tas saya gunakan. Baik itu untuk keperluan sekolah, perjalanan jauh, sampai dengan bekerja. Beragam model dan ukuran pernah saya gunakan, pun juga warna dan bahan. Sedikit banyak, dari sekian banyak tas tersebut yang paling saya gemari adalah tas ransel — tas punggung berukuran cukup besar yang biasanya dirilis oleh produsen keperluan mendaki gunung.

Yep, you read that right: tas gunung, tapi bukan yang buat mendaki ya. Atau bisa juga dibilang tas buat outdoor yang ukurannya lebih kecil daripada buat mendaki.

Alasan saya memilihnya? Sepertinya sederhana, sbb:

  1. Isian/kantongnya banyak. Mulai dari yang paling kecil hingga paling besar. Mulai dari yang mudah diakses seperti di samping, sampai dengan yang kantung utamanya. Kantongnya banyak tersebut memudahkan saya untuk membawa beberapa barang dengan jenis berbeda — jika/saat diperlukan, tanpa harus membawa organizer lagi dan atau menyesuaikan tata letak di dalam lagi.
  2. (Biasanya) Bahannya tahan lama. Iya, serius. Tahan lama dalam artian bisa digunakan lebih dari 1-2 tahun. Buat saya, tas yang digunakan sehari-hari bisa berumur lebih dari 1-2 tahun itu hebat. Belum lagi kalopun rusak — biasanya, rusaknya justru di retsleting atau kaitan antara selempang dan bodi tas. Itupun masih bisa diperbaiki lagi — walau tentu kualitasnya berbeda dengan yang baru.
  3. Ringkas. Tas gunung identik dengan bentuknya yang ringkas, karena tujuannya tentu untuk memudahkan pergerakan dan tidak perlu takut nyangkut atau membuat susah berjalan.
  4. Dilengkapi tempat-tempat yang strategis untuk menambahkan aksesori. Iya, seperti gantungan kunci, pin, dan masih banyak lagi. Tapi ini sepertinya subyektif saya aja, karena mungkin saya ga tau apa fungsi aslinya jika digunakan untuk naik gunung. 😆

Beberapa merek produsen keperluan mendaki gunung yang merilis tas gunung yang saya kenal dan pernah saya gunakan antara lain Alpina, Eiger, Bodypack (ini kaya’nya bukan ya..), sampai dengan Consina. Khusus untuk merek terakhir — Consina, ini yang belakangan masih saya gunakan. Harganya juga bervariasi, namun cenderung di range 250rb-500rb. Harga-harga tersebut sudah cukup untuk mendapatkan tas gunung yang bagus dan fungsional.

Anyway, alasan saya menggunakan tas gunung juga karena belakangan modelnya makin modis — sederhananya dari warna yang lebih ngejreng dan ga kalem lagi. Lebih kekinian kalo kata anak jaman sekarang!

Kalo kamu, suka pake tas macam apa?