Investasi Buku

Agustus 23, 2016 § Tinggalkan komentar

Iya, judulnya ga salah tulis. Memang investasi buku — tepatnya investasi melalui buku, dan bukannya buku mengenai investasi.

spend on books

Seperti pernah saya bilang sebelumnya, buku menjadi salah satu bagian dari kebiasaan saya yang hilang. Atau berangsur-angsur tidak saya lakukan lagi. Tapi meski begitu, sekitar 1-2 bulan terakhir ini saya berusaha keras untuk bisa membaca dan mengoleksi buku lagi. Diawali dari nyadar kalo Jakarta Book Fair taun ini ga ada, kemudian dateng ke beberapa tempat yang lagi obral buku — ini tanpa niatan sebelumnya.

Obral buku atau jualan buku bekas menjadi salah satu hal yang saya gemari. Bukan hanya karena harganya murah, melainkan juga ajang tersebut bisa jadi sebuah pencarian harta karun. Karena ga jarang para penjualnya mengobral/menjual buku-buku yang sudah lama saya incar pada saat harganya masih mahal, atau bukunya keburu ditarik dari peredaran. Entah karena dilarang, atau memang eksemplarnya habis lalu penerbitnya belum sempat mencetak lagi.

Memang saya akui, masih saja buku-buku tersebut bisa jadi akan teronggok tanpa tahu kapan akan saya baca (atau selesaikan membaca). Tapi setidaknya, dengan memilikinya membuat saya merasa lebih baik. Bukankah memiliki itu memang membuat kita terasa lebih baik?😛

Anyway, memiliki buku – baru ataupun bekas, sebenarnya juga bagian dari investasi. Minimal, investasi pengetahuan/pendidikan. Selain dari itu, jika kemudian buku tersebut dicari oleh orang lain karena langka, nilainya bisa lebih. Tapi itu jarang banget sih. Buat saya pribadi, selain investasi pengetahuan/pendidikan, buku juga merupakan investasi yang akan saya wariskan — jika bisa pada anak-anak saya. Saya tak ingin anak-anak saya mengenal saya dari keseharian saja, tapi juga apa minat, pemikiran, serta pengetahuan yang saya tahu. Dan, selain dari membuat jurnal (seperti blog ini), ya jelas dari (koleksi) buku.:)

8 tahun

Agustus 12, 2016 § 2 Komentar

Setidaknya 4 bulan sudah saya belum ngeblog lagi. Pun dengan menulis cerpen lagi. Ga ada alasan khusus atau spesial, saya memang belum ngelakuin itu lagi aja. Ga ada momentum, ga ada dorongan lain. Emang lagi belum ada keinginan untuk lanjutin aja. Di masa-masa ini saya jadi agak paham alasan atau perasaan orang yang tiba2 saja memutuskan off-the-grid. Hilang. Begitu saja.

To be exact, saya sebenarnya ga ilang gitu aja. Masih ada channel lain di ranah digital yang saya apdet & bisa ditemukan untuk mencari tahu saya lagi ngapain. Ga perlu disebut lah ya, tinggal di-google aja.:) Tapi khusus yang posting panjang begini, emang belum lanjut aja.

Beberapa kenalan (dan atau teman) menanyakan kenapa saya belum ngapdet lagi. Saya pun jawab hal yang sama: emang belum aja. Alhamdulillah, masih ada yang penasaran sama tulisan-tulisan saya yang (lebih sering) ga penting gini. Ga sedikit juga yang spekulasi kenapa saya belom ngapdet lagi: mungkin sibuk kerja, mungkin waktunya ditambah ke untuk keluarga, mungkin digunakan untuk levelling Ingress dan atau ngejar Pokemon, dan banyak lagi. Manapun, benar-tidaknya, saya juga belum review sih.:mrgreen:

Tapi sekarang saya ngapdet. Minimal, ngeblog di sini. Kalo kali ini beneran ada momen sih. Atau tepatnya reminder. Beberapa hari yang lalu — masih di minggu ini, saya diberikan notifikasi oleh WordPress bahwa sudah 8 tahun sejak saya terdaftar di WordPress.com. Kurang lebih, 8 tahun itu kurun waktu otentik sudah berapa lama dan berapa banyak tulisan saya di dunia maya. Karena sebelum itu, beberapa tulisan tersebar di milis (yang sudah tidak lagi saya akses, baik karena di-ban atau exit), di blog lama (yang sudah saya hapus), dan lain-lain.

Mudah-mudahan, kali ini bisa bikin saya ngapdet lagi. Setidaknya, seminggu sekali seperti tahun 2015 lalu. Mudah-mudahan.

Media Cetak, Satu dan Beberapa Hal..

April 7, 2016 § Tinggalkan komentar

Seumur hidup sampai dengan sekarang, saya selalu kagum dengan media cetak, baik itu bentukannya (majalah, surat kabar/koran, tabloid, dan lain-lain), maupun juga orang-orang yang berada di belakangnya – wartawan, penulis, redaksi/editor, percetakan, sampai dengan distributor.

Pertama kali saya mengenal media cetak adalah masa-masa kecil, sebelum menginjak bangku sekolah — TK sekalipun, yakni dalam bentuk majalah. Majalah Bobo adalah bentukan media cetak yang pertama-tama saya kenal dan mengisi hari-hari saya. Betapa saya senang melihat gambar-gambar yang berada di halaman-halamannya, sampai dengan huruf-huruf besar yang membantu saya belajar membaca. Cinta pertama saya terhadap menulis dan membaca, adalah ya dari media cetak itu.

Berkembang dari majalah, kemudian bertambah album Donal Bebek mingguan/dwimingguan. Dulu orangtua saya berlangganan terhadap tukang koran yang rutin lewat rumah. Setiap kali ada edisi baru majalah dan album tersebut, selalu saya dan kakak saya berebut untuk membaca lebih dulu. Di saat senggang pun, hampir sering berebut untuk menikmati media tersebut.

Meski kemudian ada serial kartun yang legendaris (Saint Seiya, Doraemon yang masih ada sampai dengan sekarang, dan lain-lain) di saluran TV yang bukan TVRI — begitu saya menyebutnya ketika kecil dulu, tapi media cetak langganan tersebut tetap tak hilang dari keseharian. Bahkan menginjak sekolah SD, media cetak yang saya kenal bertambah kepada surat kabar/koran yang menjadi sumber untuk tugas-tugas kliping mengenai topik-topik tertentu. Dari situ kemudian saya mengenal istilah wartawan, jurnalis, sampai dengan reportase.

Menginjak usia remaja, perasaan saya terhadap media cetak tak berubah. Bahkan bertambah dengan majalah-majalah dan tabloid-tabloid feature selayaknya remaja lainnya. Majalah gaya hidup untuk cowok, majalah musik, sampai dengan tabloid olahraga menjadi konsumsi rutin. Jika tak bisa beli, bisa dengan meminjam pada teman. Maklum, uang saku saya tak cukup untuk membeli sendiri dengan rutin. Meski begitu, dari beragamnya media cetak yang saya konsumsi, saya jadi tahu banyak hal yang tak selalu saya dapatkan di TV.

Setelah selesai kuliah, passion saya untuk bekerja sempat menarik saya untuk kemudian bergabung ke dalam sebuah media cetak di sebuah grup besar. Bangga, jelas. Senang, sudah tentu. Cukup lama saya bergabung di sana — 3 tahun, sebelum kemudian beralih ke pekerjaan lain yang masih terkait dengan media.

Kini, mendengar dan membaca berita bahwa media cetak sudah mulai beranjak ke fase senjakala atau juga menghadapi kondisi yang cukup membuat ketar-ketir, jelas membuat saya sedih. Meski memang harus diakui, media cetak harus mau untuk berubah dengan pola konsumsi para pembacanya. Saya pribadi memang sudah lama sekali tidak mengonsumsi media cetak secara langsung, meski begitu saya masih senang untuk melihat betapa media cetak masih tersedia di pinggir-pinggir jalan dijajakan oleh para pengecer.

Sedikit banyak, saya pun berpikir apakah yang membuat saya menyenangi media cetak:

  1. Tulisan yang dimuat adalah tulisan yang paripurna. Hasil buah pemikiran dari jurnalis/reporter/wartawan dengan pemilihan kata (diksi) yang hati-hati, dengan tetap memperhatikan gaya bahasa khas individu yang sejalan dengan media yang menaunginya.
  2. Gambar yang dimuat adalah gambar yang terbaik. Baik dari sisi kualitas, momen, sampai dengan nilai berita. Saya cukup tahu bagaimana sulitnya untuk membuat dan memilih foto atau gambar terbaik untuk dimuat ke dalam sebuah media cetak, dengan memperhatikan kualitas percetakan, kemungkinan kesalahan cetak, sampai dengan pengelolaan media gambar tersebut.
  3. Topik atau berita yang disampaikan di media cetak adalah yang terkini dengan porsi yang berimbang. Narasumber peristiwa, narasumber ahli, sampai dengan narasumber pemerintahan menjadi sumber sebuah tulisan untuk menyampaikan berita. Memang, beberapa media cetak memiliki paham-paham tertentu — tapi lagi-lagi, bukankah itu sudah ada sejak jaman perjuangan dan kemerdekaan dulu?
  4. Bagian dari sejarah. Segala yang tercetak dan disampaikan melalui media cetak adalah bagian dan bukti dari sejarah. Tahapan kehidupan dan perkembangan jaman bisa ditemui dengan catatan yang telah disampaikan melalui media cetak. Meski memang harus menghadapi kenyataan bahwa hanya pemenang yang berhak menentukan sejarah.

Dari keempat poin tersebut, maka saya setuju jika media cetak harus berubah. Harus berevolusi menjadi sebuah produk yang lebih baik agar lebih tahan terhadap perkembangan jaman, terhadap pergerakan teknologi, terhadap hempasan ekonomi. Seperti yang terjadi di beberapa media cetak di grup besar, salah satunya seperti yang ditulis di sini.

Satu dan lain hal, saya benar-benar mengharapkan media cetak untuk bertahan. Bagaimanapun, media cetak telah melahirkan jurnalis-jurnalis kawakan yang kini mengadaptasi teknologi serta para penulis-penulis hebat. Dan saya akan menjadi bagian dari orang-orang yang bersedih jika kemudian media cetak berhenti untuk beredar…

Beli Mobil Dapat Cashback

Februari 24, 2016 § Tinggalkan komentar

Punya rencana untuk beli mobil di tahun 2016 ini? Sebelum membeli ada baiknya intip-intip mobil123.com.

Sebagai salah satu website terdepan yang membantu pengguna untuk mencari mobil – baru/bekas sesuai keinginan, mobil123 masih di awal tahun ini membuat beberapa gebrakan yang pastinya akan menarik banget buat yang mau beli mobil. Yaitu: beli mobil dapat cashback!

img_9759-copy2

Sumber foto: mobil123.com

Seperti ditulis di sini, setiap pembelian mobil melalui website mobil123.com, setiap minggunya akan ada 1 pengguna yang beruntung buat dapetin cashback 10 juta rupiah! Periodenya berlaku selama 1-31 Maret 2016.

Berikut kutipan langsung dari laman di atas mengenai cara lengkap buat dapetin cashback-nya,

Caranya gampang sekali. Kunjungi saja Mobil123.com, lalu carilah mobil idaman Anda. Bila Anda sudah dapat, hubungi langsung sang penjual. Jangan lupa untuk copy dan simpan link URL Mobil123.com di mana mobil incaran Anda diiklankan.

Setelah itu, datangi pihak penjual dan lakukan transaksi jual-beli sampai mencapai kesepakatan.

Bila kesepakatan tercapai, langsung email customer care Mobil123.com ke alamat email marketing@mobil123.com dengan format sebagai berikut:

Lampiran/attachment yang wajib disertakan:
1. KTP Anda
2. Bukti pembayaran transaksi dari dealer bila Anda membeli mobil secara tunai
3. Bukti pembayaran transaksi dari leasing bila Anda membeli mobil secara kredit
4. Semua bukti itu di scan dan dikirim ke marketing@mobil123.com

Nantinya para pemenang mingguan akan diumumkan di fanpage resmi Mobil123.com di Facebook. Para pemenang itu nanti juga akan dihubungi oleh Mobil123.com untuk penyerahan hadiah.

 

Gimana? Menarik kan? Buat dapetin info lebih lanjut bisa langsung meluncur aja ke link di atas ya. Atau bisa juga download dulu form untuk cashback-nya di sini.

Menulis Tangan

Januari 27, 2016 § Tinggalkan komentar

Terakhir kali saya menulis tangan yang untuk mengingat kayanya pas kuliah D3 dulu. Iya, menulis tangan dalam artian mencatat. Lalu, apakah saat kuliah lanjut S1 kemarin tidak menulis tangan? Jawabnya, tentu saja menulis tangan tapi sayangnya ga langsung mengingat, melainkan untuk kemudian meninjau kembali.

Apa bedanya mengingat dan meninjau kembali?

Buat saya, mengingat berarti memahami. Berarti saya berusaha untuk lebih mengerti apa yang saya catat, apa yang perlu saya dalami. Sementara mengenai meninjau, itu berarti saya belum tentu mengingat dan memahami pada saat itu, tetapi di lain waktu saya perlu kembali mempelajari.

Kusut? Udah biasa, bukan?😛

Menulis tangan untuk mengingat dan meninjau merupakan salah satu cara saya untuk melatih pola pikir sekaligus juga melatih otot-otot di tubuh saya. Ga cuma otot tangan dan pendukungnya (lengan), tapi juga otot mata, pernapasan, sampai dengan otak. Menulis – buat saya, merupakan salah satu bentuk pelatihan otot selain juga pelatihan pikiran. Sehingga, dulu-dulu ketika layar ponsel belum sebesar sekarang — sekaligus lebih mudah menemukan pulpen dan kertas, saya lebih suka dan sering menulis tangan dibandingkan menulis di perangkat lunak.

Ada baik dan buruk tentunya terhadap menulis tangan ini. Salah satu keburukannya adalah catatan atau tulisan tersebut bisa terselip dan sulit untuk dicari. Paling parah: hilang. Sudah pernah terjadi kok beberapa kali untuk tulisan dan catatan saya. Menyesal? Tentu saja. Tapi jika memang saya niat menulisnya, pastinya sudah terserap dengan baik di kepala saya.

Belakangan ini, saya kembali melatih diri untuk gemar menulis tangan. Tulisan apa saja. Entah itu mengingat atau mencatat. Manapun. Yang penting menulis tangan.

Kalo kamu, kapan terakhir kali menulis dengan tangan dan menulis apa?

Pizza dan Makanan Italia

Januari 20, 2016 § Tinggalkan komentar

Personally, saya suka pizza. Baik itu suka secara penampilannya, variasinya, sampai dengan makannya.:mrgreen: Kalo diflashback ke belakang, saya suka pizza sejak pertama kali orangtua saya mengajak makan pizza di Pizza Hut di Pasaraya, Blok M.

Kenapa suka pizza? Sederhana aja sih: ada karbohidrat (roti), ada protein (daging sapi atau ikan), sampai dengan vitamin (cabe, sambal, saus, dan-lain-lainnya yang benar-benar mudah-mudahan mengandung vitamin).😆 Dan yang paling penting, makan pizza bikin kenyang.

Sejak mulai dewasa dan kemudian bekerja serta memiliki penghasilan sendiri, bisa dibilang pizza cenderung jadi pilihan utama kalo mau makan bareng atau ngerayain sesuatu. Pizza Hut, Izzi Pizza, sampai dengan Dominos. Semuanya pernah dicoba untuk dipesan dan kemudian dimakan sendiri, bedua sama pacar (sekarang istri), sampai dengan bareng temen. Entah itu di restonya atau di kantor/rumah.

Pilihan utama topping atau isian pizza juga ga pernah spesifik harus (banget) yang ada daging atau ikan. Tapi emang sih, kalo ditelisik ada beberapa pilihan topping yang sering banget dipesen, antara lain yang banyak daging sapinya, sampai dengan yang mengandung saus mayonnaise-nya. Gampang ya?:mrgreen:

Pernah makan selain pizza di resto pizza? Jelas pernah. Beberapa jenis pasta – spaghetti, macaroni, dll jelas pernah dipesan dan dimakan. Paling favorit? Ga ada kalo dari jenis, tapi kalo dari topping/isiannya, kayanya yang mengandung keju meleleh paling digemari.

Selain pizza dan teman-temannya, saya sebenernya juga penasaran banget sama makanan Italia lainnya. Pernah liat di film Malavita (The Family), katanya makanan Italia dibanding makanan Perancis, lebih tasty (berasa). Belum lagi efek nonton Masterchef edisi Australia dan US yang berulangkali pesertanya nyuguhin makanan Italia.

So, kalo suatu ketika lagi ke resto Italia atau ke resto umum yang ada menu makanan Italia-nya, saya cenderung untuk observasi menyeluruh di menunya dan caritau makanan mana yang saya belum pernah coba. Karena buat saya pribadi, makanan Italia itu enak! Banget!

Kapan-kapan harus bisa nih makan makanan Italia langsung di Italia-nya!

Musik, Antara Seni dan Relaksasi

Januari 13, 2016 § Tinggalkan komentar

Beberapa kenalan yang tau saya pernah kerja di industri (terkait) musik, suka iseng nanya soal kenapa dulu saya pernah pilih kerja di situ, dan kenapa sekarang ga balik lagi. Beberapa pertanyaan lain juga pernah muncul terkait musik apa aja yang pernah saya putarkan dan juga terkait artis-artisnya. Dan sering juga kok jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait musik tersebut dianggap kurang memuaskan. Well… gimana ya?

Musik, buat saya, adalah sebuah bentuk seni. Musik ga perlu yang ribet, bisa diciptakan dari sebuah kesederhanaan. Bahkan buat saya pribadi, vokal (suara) manusia yang menyanyi atau menciptakan suara-suara yang berirama dan nyeni adalah sebuah bentuk musik yang paling agung. Kenapa? Karena itu alami. Belum lagi kalo ditambah irama dari suara-suara alam seperti gemericik air, tumpahan air hujan, sampai dengan sahut-sahutan serangga di kala malam hari. Iya, itu musik yang paling agung – buat saya. Tapi bukan berarti saya menganggap remeh musik yang bukan alami…

Musik yang diciptakan dengan alat-alat bantu seperti gamelan – tradisional, sampai dengan gitar elektrik dan juga drumset juga kerapkali membuat saya takjub. Paling gampang dilihat adalah dari harmonisasi pada genre jazz antara drumset-gitar bas-piano-trompet, atau melodi-lead-solo gitar yang njelimet di genre metal/rock.

Tapi di atas semua itu, musik buat saya adalah sebuah seni. Dan seni pada dasarnya selain sebagai bentuk penghargaan dan ekspresi manusia, juga merupakan bentuk lain dari sebuah relaksasi. Yes, ga salah baca: RELAKSASI.

Ga sedikit dari kita – sejauh pengamatan saya, menyalakan TV/video youtube tanpa memperhatikan aksi videonya melainkan hanya menikmati (audio) musiknya saja. Ga sedikit juga kita yang menyalakan pemutar lagu (itunes/mp3 player) dengan nada suara yang cukup rendah sehingga cenderung menjadi backsound di setiap kali kita beraktivitas. Beberapa pemusik juga ketika didera kepenatan langsung saja memainkan musik-musik mereka, memainkan gitar, membuat irama ketukan, sampai dengan menyanyi hingga mereka merasa lebih baik. Contoh-contoh itu buat saya cukup mengambil kesimpulan bahwa musik adalah seni yang berbentuk relaksasi. Seni musik bisa membuat orang relaks, baik pendengar maupun juga pelaku musiknya.

Jadi, kalo ditanya lebih jauh kenapa saya ga begitu merhatiin hal-hal di luar musik yang dimainkan (milih kerja di industri itu atau tren artis terbaru), ya jelas sih karena musik itu membuat relaks. Beberapa kali saat masih ada di industri itu dulu, saat musik (lagu) sedang diputarkan adalah kesempatan untuk menjadi lebih relaks untuk kemudian melakukan pekerjaan selanjutnya.

Kalo buat kamu, musik itu apa?

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.648 pengikut lainnya