Gunung atau Laut?

Juli 14, 2015 § 3 Komentar

Sebagai manusia yang berkegiatan utama di kota (kerennya sih: urban creature), tentunya kalo lagi ga ada jadwal kegiatan (kerja) pengennya “kabur” ke luar kota. Bisa jadi ke kota lain yang beda sama kota asal, bisa juga ke yang bukan kota sama sekali. Alias: ke wilayah yang lebih alami. Nah, wilayah yang lebih alami itu seringkali pilihannya adalah gunung atau (tepi) laut.

Saya pribadi, lebih memilih untuk ke gunung. Pilihan tersebut dipilih karena cuacanya cenderung adem, sepi, sehingga penat dan kelelahan yang dialami karena berkegiatan urban, bisa hilang. Damai rasanya tiap kali bisa ke gunung. Seperti hendak menyepi gitu. Bukan, bukan mendaki gunung seperti ****packer gitu, tapi ya pokoknya ke area pegunungan.

Biar begitu, bukan berarti saya anti ke (tepi) laut atau pantai. (Tepi) laut atau pantai itu pilihan kedua kalo saya males “berkunjung” ke pegunungan. Pilihan ke pantai karena banyak angin yang biasanya menyapa kita — di pagi, siang, sore. Hampir setiap saat. Bedanya kalo ke pantai, bakal cenderung panas menyengat yang bisa membakar kulit. Udah saya kulitnya hitam manis (bahasa jadul ya?), kalo kebakar sinar matahari bisa makin gosong blas.

Jadi, pilihan utama seringkali ke gunung. Kalo di Jakarta sini, pilihan terdekat ya berarti ke arah Bogor-Ciawi-Puncak gitu. Paling mantap kalo sampe lewatin tol Cipularang, trus ke Purwakarta atau sekalian Bandung. Sementara kalo pantai, ga lain pilihan utama ya jelas-jelas Ancol. Geser dikit, pilihannya ya ke Muara Karang. Kalo lagi niat, bisa jadi sekalian aja ke Carita atau Anyer.

Nah.. kalo kamu lebih milih ke gunung atau laut? Trus, ke mana yang terdekat? Mumpung mau libur lebaran kan.. :mrgreen:

Tengah Tahun

Juli 7, 2015 § 1 Komentar

Pertengahan tahun kurang lebih selalu jadi periode waktu yang terbilang sepi untuk berita olahraga. Kalo lagi ga ada event olimpiade, piala dunia, piala eropa, dan atau kejuaraan-kejuaraan lainnya, maka pertengahan tahun akan sepi dari berita terkait olahraga.

Untuk adu balap jet darat Formula 1 serta adu cepat motor balap sih, lain cerita karena periodenya berbeda dengan kebanyakan musim olahraga. Pun dengan musim olahraga di negara Amerika Serikat (atau juga Indonesia?). Iya, saya lagi ngomongin berita olahraga yang kebanyakan terjadi di benua Eropa.

Seperti yang pernah saya bilang kalo saya ngefans sama klub-klub sepakbola tertentu, maka di tengah tahun gini ya beritanya lebih ke seputar transfer in dan out. Siapa pindah ke mana, berapa biayanya, dan lain-lain. Agak membosankan dibanding berita hasil pertandingan dan atau analisa pertandingan – pre-post match.

Bukan, saya bukan analis olahraga. Saya cuman lebih suka berita-berita seputar pertandingan, bukannya soal transfer pemain atau klub sepakbolanya.

Iya. Itu saya. Suka bosan dan merasa sepi kalo di pertengahan tahun seperti ini.

kalo kamu gimana?

Klub Bola Favorit

Juni 30, 2015 § 3 Komentar

AC Milan.

Kesukaan saya terhadap AC Milan sepertinya diturunkan oleh (alm) Ayah saya. Beliau suka sekali dengan trio Belanda: Van Basten – Gullit – Riijkaard yang sukses membawa AC Milan sukses pada periode 80an akhir s.d. 90an awal. Padahal saya dulu masih kecil — umur TK-SD, tapi omongan beliau perihal trio Belanda tersebut serta menyebutkan klubnya, mau tak mau kemudian saya ikut menganggap AC Milan adalah klub bola paling bagus, paling keren, paling mantap.

Jelang lulus SD hingga awal-awal masuk SMP, saya kemudian mulai membaca-baca sendiri tabloid olahraga seperti Bola dan GO. Dulu juga ada Libero, dan terbitan khusus bola di hari-hari khusus pada harian Kompas. Sedikit banyak mulai mengikuti perkembangan dan info detail dari klub AC Milan, sejarah, dan lain-lain. Juga tahu perihal trio Belanda yang tak lagi ada di AC Milan, serta bintang-bintang selanjutnya seperti Bierhoff, dan lain-lain.

Jaman 90-an akhir hingga awal tahun 2000 prestasi AC Milan tak begitu bagus — meski juga tidak jelek. Gagal scudetto dan gagal di Champions, bukan berarti saya jadi tidak suka terhadap mereka. Kecewa memang, sedih apalagi, tapi tidak lantas membuat saya lebih menyukai klub lain seperti Lazio, Juventus, atau Inter Milan — di Italia. Saya tetap suka, tapi juga tidak lantas menjelek-jelekkan klub lain. Iya, saya termasuk orang-orang dengan paham “fans klub yang ngejelek-jelekin klub lain saat terpuruk, bukanlah fans sejati.”

Walau begitu, saya tidak menutup mata terhadap perkembangan sepakbola di liga lainnya di kawasan Eropa. Seingat saya, dulu saya sempat suka dengan Liverpool. Alasannya simpel, mereka sudah lama tidak juara Liga Inggris. Tapi karena satu dan lain hal, klub kesukaan saya di Liga Inggris pun pindah ke Manchester United.

Untuk Spanyol, tak lain dan tak bukan Barcelona jadi klub favorit saya. Alasannya rumit sekaligus sederhana: saya kagum dengan semboyan “Catalan is not Spain” yang sering digembar-gemborkan oleh fans mereka di saat Barcelona bertanding.

Untuk Jerman sendiri, dulu saya sempat ikut-ikutan juga dengan kesukaan (alm) Ayah saya, yakni menyukai Borussia Dortmund. Tapi lambat laun, entah kenapa tak ada lagi klub favorit saya di liga Jerman. Iya, klub favorit saya di masing-masing liga hanya ada di Inggris, Spanyol, dan Italia. Kalo dibilang mana yang paling favorit, sudah jelas kan di awal tulisan ini?

Oiya, kalo buat Indonesia sendiri, saya sih ga fanatik amat sama klub tertentu. Semua klub bagi saya baik dan bagus. Tapi yang sudah pasti, setiap juara yang hadir setiap tahunnya selalu bisa membuat saya kagum. Karena (sepertinya) belum ada juara 2 tahun berturut-turut di Liga Indonesia — sejak Liga Dunhill 1995(?).

Kalo kamu, klub bola favoritnya siapa?

Buka Puasa di mana?

Juni 25, 2015 § Meninggalkan komentar

Di mana aja yang nyediain santapan buka puasa.

Iya, simpel kok. Kalo mau buka puasa ya di mana aja bisa, asalkan ada santapan buat buka puasa. Mau itu minuman, makanan, manis atau tidak, banyak-sedikit, kenyang atau engga, yang penting bisa buat berbuka. Dan halal tentunya. Saya sih ga ribet ya mau buka puasa di mananya, karena yang penting puasanya selesai sehari dan kemudian ditutup dengan berbuka.

Dulu-dulu jaman masih jadi mahasiswa sekarang juga masih mahasiswa sih, saya cukup sering juga buka puasa ga tentu tempatnya. Hari ini bisa jadi di kampus, besok bisa jadi lagi di jalan pulang, hari berikutnya lagi bisa jadi lagi di tempat aktivitas kegiatan kemahasiswaan, berikutnya bisa di rumah, dan masih banyak lagi. Pernah juga malah berbuka puasa bersama teman-teman mahasiswa, Maghrib & Isya, kemudian dilanjut tarawih bareng, kemudian lanjut berkegiatan hingga sahur dan solat Subuh.

Walau begitu, saya membiasakan diri untuk sebisa mungkin berbuka puasa di rumah. Iya, di rumah. Dan, seingat saya, sejak saya lebih mengerti arti puasa Ramadan, maka hari pertama puasa Ramadan ditutup dengan buka puasa di rumah.

Kenapa hari pertama buka puasa Ramadan di rumah? Karena itu hari pertama. Lebih enak dong buka puasa di rumah bersama keluarga atau kerabat dekat. Dan juga, karena bisa jadi hari-hari puasa Ramadan berikutnya dipenuhi ajakan berbuka puasa di sana-sini. Tahu sendiri kalo Ramadan, selain sebagai bagian dari ibadah Ramadan, buka puasa juga jadi ajang untuk berkumpul dan bertemu karib-kerabat.

Kalo kamu, sering buka puasa di mana?

Belajar Puasa

Juni 18, 2015 § 5 Komentar

Stay Hungry. Stay Foolish.

Kalo diartikan secara langsung, frasa pertama cocok dengan kondisi saat ini, yakni menjalani ibadah puasa Ramadan. Untuk frasa yang kedua, juga cocok dengan kondisi bahwa manusia lebih baik untuk terus belajar jadi lebih baik setiap harinya.

Iya, paragraf pertama itu berat bener. *ngaku*

Anyway, yang saya maksud dengan belajar dan puasa — seperti judul di postingan ini sebenernya dari taun ke taun saya baru nyadar bahwa sebenernya saya masih harus belajar banyak tentang puasa — selain hal-hal terkait pekerjaan atau juga akademis. Iya, belajar puasa artinya belajar supaya puasanya berkah, ga cuma dapet lapar dan dahaga, tapi juga dapet pahala yang benar-benar hanya bisa didapatkan di saat bulan Ramadan.

Salah satu hal baru yang saya pelajari antara lain baru saya tau tadi pagi, dengar dari radio Jak FM sepanjang perjalanan mengantar istri saya ke kantor, bahwa pahala puasa Ramadan hanya diketahui oleh ALLAH SWT. Iya, seperti itu yang saya dengar dari kultum di radio Jak FM. Selama ini saya mengiranya pahala puasa Ramadan juga dicatat dan diketahui oleh malaikat, tapi ternyata persisnya ga seperti itu.

Anyway, kalo bahas soal belajar puasa saya jadi keingetan waktu masih kecil dulu. Persisnya umur berapa saya ga inget, mungkin kisaran TK kecil atau SD kelas 1-2. Jadi saya masih awal-awal belajar puasa full seharian. Namanya anak kecil, biar puasa tetep aja suka main lari-lari sehingga kecapean dan haus. Jadinya, datang ke rumah lelah dan kehausan. Di tengah hari atau sekitar jam 1-2an siang, pas lagi panas-panasnya rasa haus tersebut dimengerti oleh Mama saya dengan cara memperbolehkan saya untuk minum segelas air. Tidak makan, hanya minum saja mengobati haus. Lalu setelah itu puasa lagi sampai Maghrib menyapa. Secara urutan puasa, sudah batal sih ya harusnya. Tapi secara personal saya jadi belajar bahwa puasa yang baik harusnya ga pake time-out seperti itu, melainkan menjaga diri supaya bisa terus berpuasa sampai penuh seharian.

Kalo kamu, ada cerita seru apa terkait belajar puasa?

Karakter Komik

Juni 10, 2015 § 4 Komentar

Dari kecil saya ga begitu ngikutin komik — membaca komik. Kalopun ada buku-buku yang saya baca, lebih seringnya cerita bergambar, ataupun cerita fiksi yang dihiasi gambar di beberapa halamannya. Dulu, (alm.) Ayah saya yang mengarahkan saya untuk membaca yang bukan komik. Saya lupa persis alasannya apa, tapi mungkin supaya saya lebih suka membaca kata-kata, ketimbang melihat gambar ilustrasi.

Lebih besar sedikit, kegemaran membaca buku fiksi tersebut saya sadari cukup membantu saya untuk lebih tekun dalam membaca buku yang lebih banyak teksnya ketimbang gambar. Jadi lebih tahan gitu deh, simpelnya. Tapi bukan berarti saya ga suka gambar ilustrasi atau buku komik ya, saya cuma lebih menyenangi buku dengan tulisan yang banyak dan deskriptif.

Sedikit banyak sepertinya kebiasaan dan dorongan itu yang di kemudian hari membuat saya juga suka menulis. Iya, menulis dengan tangan, menggunakan alat tulis seperti pena/pensil di atas kertas. Rasanya nyaman sekali untuk mulai menulis dan kemudian melanjutkannya. Seringkali hingga tulisan selesai, dan seringkali juga tidak selesai — seperti beberapa draft cerita fiksi saya yang tak kunjung selesai.

Balik ke soal komik, perkenalan saya pada komik sebenarnya sudah dimulai sejak kecil juga. Tapi terbatas hanya pada Donal Bebek. Titik. Dunia komik yang lebih luas daripada komik baru saya sentuh ketika SD, yakni ketika mulai membaca komik dari Elkom — Kungfu Boy, Chinmi. Iya, itu komik pertama yang saya baca. Dari situlah kemudian saya keranjingan untuk mencari awal mula seri Kungfu Boy, dan masih banyak lagi. Bahkan hingga ke komik-komik dari Amerika, yang dulu pernah didistribusikan oleh Misurind/Midas — CMIIW.

Karakter komik yang saya paling suka hingga saat ini tak lain adalah Detektif Conan. Terlepas dari nasibnya yang ironis — jadi anak kecil tapi pemikiran orang remaja (atau bahkan dewasa), dia mampu untuk memecahkan segala macam permasalahan yang terjadi. Hanya satu yang tak bisa (atau sudah) ia pecahkan, yakni bagaimana caranya menjadi bertubuh dewasa lagi. Tapi saya udah lama banget sih ga ngikutin serial ini. Secara teknis, saya berhenti mengikuti komiknya teratur sejak lulus SMA. Sejak masuk kuliah, udah ga pernah ngikutin lengkap lagi.

Kalo dari US, saya pernah suka banget sama karakter komik Cyclops yang jadi bagian dari X-Men. Iya, saya suka sama kacamatanya. Titik. Itu aja. Di film layar lebar X-Men, saya baru ngeh kalo Cyclops selain kacamatanya ya udah, biasa aja. :lol:

Kalo kamu, suka karakter komik siapa? Dan kenapa?

Mudik dengan Mobil Baru 20jutaan

Juni 5, 2015 § 2 Komentar

Mudik ga taun ini?

Hampir sejak saya remaja dan bersekolah, hingga kemudian bekerja dan sekarang memiliki keluarga kecil sendiri, pertanyaan itu selalu terlontarkan setiap kali mendekati bulan Ramadan. Dulu-dulu, saya menjawab dengan “iya mudik.” atau “engga.”, tapi setelah belajar untuk mengatur keuangan sendiri, maka jawabannya adalah “belum tahu”.

Mobil Murah Mobil123.com

Mobil Murah Mobil123.com

Jawaban terakhir saya tersebut bukan karena ga ingin mudik, tapi lebih karena saya perlu mengetahui budget yang diperlukan saat mudik tersebut. Dimulai dari ongkos transportasi pergi dan pulang, ongkos sepanjang perjalanan, sampai dengan pengeluaran pribadi sepanjang perjalanan dan mudik itu. Pertimbangannya banyak, karena sebisa mungkin mudik yang bisa jadi cuma sekali dalam setahun, harus benar-benar berkesan dan menjadi kenangan yang indah.

Mudik saat Ramadan-Lebaran intinya adalah 2 macam bagi saya, yakni menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Saat masih sendiri dan lebih mobile, saya lebih senang mudik dengan angkutan umum meski harus berebut atau menunggu di terminal/stasiun. Kenapa? Karena saya tak perlu repot menyetir. Tapi ketika kemudian anggota keluarga bertambah — juga karena berkeluarga sendiri, kendaraan pribadi tentu lebih nyaman. Kenapa? Karena meski harus menyetir sendiri, tapi seluruh anggota keluarga bisa dibawa bersama-sama, barang bawaan lebih terjaga, serta mudah jika hendak menjadi “turis” dadakan di perjalanan.

Mengemudi kendaraan pribadi juga sebelumnya hanya bisa saya lakukan dengan kendaraan rental, atau menumpang dengan kerabat terdekat. Lama-lama, impiannya pun harus bisa mudik dengan kendaraan pribadi milik sendiri. Dan untungnya, tahun ini Mobil123.com sebagai salah satu portal otomotif terpercaya, ngerilis fitur Mobil Murah dengan tawaran yang menarik berupa harga mulai dari 20jutaan — ini untuk uang muka. Angsurannya tentu disesuaikan dengan jumlah bulan cicilannya. :)

Saya coba sendiri, cukup mudah buat nyari mobil yg saya pengen dengan penawaran menarik itu. Dari halaman depan Mobil123.com trus klik gambar ‘Mobil Murah.’ Abis itu, langsung deh diarahin ke daftar mobil dengan harga terjangkau yang dijual di Indonesia. Ga perlu takut kurang info, karena kalo klik salah satu gambarnya, nanti dikasih detail keunggulan, spek, dan juga harganya.

Oiya, bisa diakses juga via mobile browser lho. Jadi ga perlu nyari desktop PC/laptop dulu buat ngecek, karena bisa langsung dari hape juga.

Jadi, mudik taun ini siap naik kendaraan pribadi? :)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.659 pengikut lainnya.