#menujugelarST

Agustus 26, 2015 § 1 Komentar

Buat yang berteman dengan saya di Path, facebook, atau juga mengikuti twit saya, mungkin pernah melihat sebuah apdet dengan tagar #menujugelarST. Oiya, di profil twitter saya juga bisa diliat sih. Kenapa saya ngapdet dengan tagar tersebut? Karena kurang lebih sejak 2013 lalu, saya sedang melanjutkan kuliah lagi untuk mencapai gelar ST — Sarjana Teknik.

Dasarnya, saya sudah memiliki ijazah Diploma 3. Ga perlu saya jelasin panjang lebar ya, ijazahnya di program studi apa. Yang pasti, ijazah tersebut jadi bekal saya untuk melanjutkan ekstensi S1 Teknik di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Kalo dibandingkan teman-teman kuliah D3 saya, agak telat memang pemilihan waktunya. Udah lebih dari 5 taun sejak saya lulus. Tapi ya… ga pernah ada yang namanya terlambat untuk menuntut ilmu dan belajar.

Singkat cerita, saya lolos tes masuk, dan mulai kuliah sejak 2013 lalu dengan teman-teman seangkatan yang juga kebanyakan lulusan D3 pada taun yang masih terhitung baru/dekat dibandingkan saya. PR terbesar untuk kuliah lagi adalah pembagian waktu, dan juga pembagian konsentrasi. Tak perlu dijelaskan detail, saya cukup kewalahan dengan materi, tugas, dan ujian kuliah. Tapi karena sudah niat, jadi ya… harus serius dong. :)

Jadi, setelah berjibaku selama 2 semester awal dengan mata kuliah yang baru, mata kuliah yang jadi “pencuci” mata kuliah D3, dan lain-lain, start semester ketiga saya mulai mengajukan skripsi dan dikerjakan. Sayangnya, karena satu dan lain hal, semester 3 yang jadi target saya untuk lulus kuliah dan juga skripsi, harus diperpanjang. Iya, saya perpanjang 1 semester ke semester 4 dengan fokus hanya untuk skripsi — mata kuliah sudah selesai semua.

Beberapa rekan kuliah sudah mengingatkan, bahwa jika perpanjang skripsi pasti lebih malas ketimbang saat pertama kali mengajukan skripsi. Benar memang adanya. Saya sempat kewalahan untuk mengatur tempo yang seimbang antara mengerjakan skripsi yang membutuhkan pengetikan dan penelitian yang mendetail, pekerjaan, dan juga berkeluarga. Tapi pada akhirnya, didukung oleh keluarga, teman sekelas kuliah, dan juga dosen-dosen yang aspiratif, akhirnya tahapan saya untuk menjadi Sarjana Teknik sudah sampai ke babak final. Iya, sampai ke tahapan sidang skripsi.

Hari ini, Rabu, 26 Agustus 2015 menjadi waktu yang ditentukan oleh panitia tugas akhir untuk pengujian skripsi yang saya susun. Giliran saya adalah siang ke sore. Bersama-sama dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang juga dibagi 2 kloter: pagi ke siang, dan siang ke sore. Harapan dan impian saya terkait sidang skripsi ini sederhana saja: LULUS. Sehingga saya berhak untuk menyandang gelar S.T. atau Insinyur, yang mungkin kelak ada rezekinya, bisa jadi landasan saya untuk melanjutkan ke tingkatan Strata 2 (S2) menjadi Master, atau bahkan S3 menjadi Doktor/Ph.D.

Bismillah. Mohon bantuan doanya agar saya dapat menjawab seluruh pertanyaan penguji yang akhirnya akan menyimpulkan bahwa saya lulus.

Amin. Terima kasih.

*ditulis di sela-sela menunggu giliran ujian sidang skripsi*

—update jam 18:00—

Alhamdulillah, sidang selesai. Masih ada revisi, tapi yang pasti pertanyaan-pertanyaan dosen penguji bisa dijawab dengan baik. Semoga nilai akhirnya sesuai dengan usaha dan harapan. Dan yang paling penting, semoga statusnya LULUS.

Nulis Fiksi

Juli 21, 2015 § 1 Komentar

Fiksi itu membuat sebuah kenyataan (realita).

Begitu prinsip saya tentang kegemaran saya menulis cerita fiksi. Untuk diketahui, cerita fiksi adalah salah satu genre dalam penulisan yang berarti ceritanya tidak riil (tidak nyata). Meski begitu, cerita fiksi seringkali berdasarkan berdasarkan pada kisah nyata yang kemudian diceritakan ulang (atau disadur) dan diganti nama, pengaturan waktu, serta dikembangkan sehingga kemudian menjadi cerita yang benar-benar baru dan berbeda daripada kisah aslinya. Atau bahasa kerennya, menciptakan alternative/parallel world.

Saya gemar menulis cerita fiksi ya kurang lebih karena alasan di paragraf sebelumnya itu. Saya senang berkhayal menentukan jalan cerita (hidup) seorang tokoh/sesuatu, serta elemen-elemen pendukung di dalam cerita tersebut. Semacam playing god tapi dalam konteks yang bukan soal agama.

Awal-awal menulis cerita fiksi kalo ga salah sejak jaman sekolah dulu. Akhir-akhir sekolah SD atau awal sekolah SMP. Tepatnya saya tidak ingat. Tapi yang pasti, salah satu cerita fiksinya adalah mengenai serbuan alien ke bumi. Inspirasinya datang dari film Independence Day, serta beberapa film jadul lainnya seperti Body Snatchers, dan lain-lain. Kemudian berkembang ke cerita sehari-hari seperti cinta remaja hingga dinamika young adults.

Dulu saya menulis cerita fiksi cenderung panjang-panjang, bersambung, hingga bahkan bisa dinovelkan. Intermezzo dikit: udah tau kan saya pernah nerbitin novel? Kalo belum, klik di sini ya. :mrgreen: Iya, novel itu ga begitu sukses. Kalo sukses, tentunya saya udah nerbitin novel-novel lainnya yang dicetak oleh penerbit ternama.

Sekarang, penulisan cerita fiksi saya cenderung pendek-pendek — kalo ga mau disebut singkat. Masing-masing cerita fiksi yang dibuat lepas dari cerita fiksi lainnya. Masing-masing cerita berdiri sendiri dengan konflik atau topik masing-masing, serta karakter masing-masing pula.

Engga, ini bukan karena saya males ngembangin karakter dalam cerita atau ngerangkai alur/plot di dalam novel, kok. Tapi lebih karena waktu yang saya punya untuk membuat sebuah cerita panjang udah dikit banget. Untuk diketahui aja, ada sekitar 5 project novel yang belum juga selesai sejak taun 2000an di data harddisk komputer saya. Iya, 5. Semuanya belum selesai karena menulis cerita fiksi yang panjang itu membutuhkan komitmen yang lebih banyak ketimbang membuat cerita fiksi yang pendek.

Anyway, balik lagi ke cerita fiksi yang pendek, saat ini sih lagi saya kumpulin ke dalam blog dotkom saya di sini (http://ss.billykoesoemadinata.com). Kurang lebih udah ada sekitar 280an cerita fiksi pendek dengan format yang sama yakni “habis dibaca sekali duduk”. Bahkan mungkin belum juga duduk, udah habis bacanya. :lol: Saat ini lagi saya coba untuk menerbitkan cerita-ceritanya secara rutin seminggu sekali, sih.

Kalo ada waktu senggang, cobalah berkunjung dan membaca. Siapa tau ada cerita fiksi yang menarik hati, atau justru ngerasa “lho, kok ini mirip sama cerita gue?”. Iya, sekumpulan cerita fiksi pendek yang saya buat itu cara pembuatannya seperti saya buat di awal tulisan ini, yakni dari kisah nyata kemudian dikembangkan sehingga menjadi parallel/alternative world.

Kamu suka cerita fiksi ga?

Gunung atau Laut?

Juli 14, 2015 § 4 Komentar

Sebagai manusia yang berkegiatan utama di kota (kerennya sih: urban creature), tentunya kalo lagi ga ada jadwal kegiatan (kerja) pengennya “kabur” ke luar kota. Bisa jadi ke kota lain yang beda sama kota asal, bisa juga ke yang bukan kota sama sekali. Alias: ke wilayah yang lebih alami. Nah, wilayah yang lebih alami itu seringkali pilihannya adalah gunung atau (tepi) laut.

Saya pribadi, lebih memilih untuk ke gunung. Pilihan tersebut dipilih karena cuacanya cenderung adem, sepi, sehingga penat dan kelelahan yang dialami karena berkegiatan urban, bisa hilang. Damai rasanya tiap kali bisa ke gunung. Seperti hendak menyepi gitu. Bukan, bukan mendaki gunung seperti ****packer gitu, tapi ya pokoknya ke area pegunungan.

Biar begitu, bukan berarti saya anti ke (tepi) laut atau pantai. (Tepi) laut atau pantai itu pilihan kedua kalo saya males “berkunjung” ke pegunungan. Pilihan ke pantai karena banyak angin yang biasanya menyapa kita — di pagi, siang, sore. Hampir setiap saat. Bedanya kalo ke pantai, bakal cenderung panas menyengat yang bisa membakar kulit. Udah saya kulitnya hitam manis (bahasa jadul ya?), kalo kebakar sinar matahari bisa makin gosong blas.

Jadi, pilihan utama seringkali ke gunung. Kalo di Jakarta sini, pilihan terdekat ya berarti ke arah Bogor-Ciawi-Puncak gitu. Paling mantap kalo sampe lewatin tol Cipularang, trus ke Purwakarta atau sekalian Bandung. Sementara kalo pantai, ga lain pilihan utama ya jelas-jelas Ancol. Geser dikit, pilihannya ya ke Muara Karang. Kalo lagi niat, bisa jadi sekalian aja ke Carita atau Anyer.

Nah.. kalo kamu lebih milih ke gunung atau laut? Trus, ke mana yang terdekat? Mumpung mau libur lebaran kan.. :mrgreen:

Tengah Tahun

Juli 7, 2015 § 2 Komentar

Pertengahan tahun kurang lebih selalu jadi periode waktu yang terbilang sepi untuk berita olahraga. Kalo lagi ga ada event olimpiade, piala dunia, piala eropa, dan atau kejuaraan-kejuaraan lainnya, maka pertengahan tahun akan sepi dari berita terkait olahraga.

Untuk adu balap jet darat Formula 1 serta adu cepat motor balap sih, lain cerita karena periodenya berbeda dengan kebanyakan musim olahraga. Pun dengan musim olahraga di negara Amerika Serikat (atau juga Indonesia?). Iya, saya lagi ngomongin berita olahraga yang kebanyakan terjadi di benua Eropa.

Seperti yang pernah saya bilang kalo saya ngefans sama klub-klub sepakbola tertentu, maka di tengah tahun gini ya beritanya lebih ke seputar transfer in dan out. Siapa pindah ke mana, berapa biayanya, dan lain-lain. Agak membosankan dibanding berita hasil pertandingan dan atau analisa pertandingan – pre-post match.

Bukan, saya bukan analis olahraga. Saya cuman lebih suka berita-berita seputar pertandingan, bukannya soal transfer pemain atau klub sepakbolanya.

Iya. Itu saya. Suka bosan dan merasa sepi kalo di pertengahan tahun seperti ini.

kalo kamu gimana?

Klub Bola Favorit

Juni 30, 2015 § 3 Komentar

AC Milan.

Kesukaan saya terhadap AC Milan sepertinya diturunkan oleh (alm) Ayah saya. Beliau suka sekali dengan trio Belanda: Van Basten – Gullit – Riijkaard yang sukses membawa AC Milan sukses pada periode 80an akhir s.d. 90an awal. Padahal saya dulu masih kecil — umur TK-SD, tapi omongan beliau perihal trio Belanda tersebut serta menyebutkan klubnya, mau tak mau kemudian saya ikut menganggap AC Milan adalah klub bola paling bagus, paling keren, paling mantap.

Jelang lulus SD hingga awal-awal masuk SMP, saya kemudian mulai membaca-baca sendiri tabloid olahraga seperti Bola dan GO. Dulu juga ada Libero, dan terbitan khusus bola di hari-hari khusus pada harian Kompas. Sedikit banyak mulai mengikuti perkembangan dan info detail dari klub AC Milan, sejarah, dan lain-lain. Juga tahu perihal trio Belanda yang tak lagi ada di AC Milan, serta bintang-bintang selanjutnya seperti Bierhoff, dan lain-lain.

Jaman 90-an akhir hingga awal tahun 2000 prestasi AC Milan tak begitu bagus — meski juga tidak jelek. Gagal scudetto dan gagal di Champions, bukan berarti saya jadi tidak suka terhadap mereka. Kecewa memang, sedih apalagi, tapi tidak lantas membuat saya lebih menyukai klub lain seperti Lazio, Juventus, atau Inter Milan — di Italia. Saya tetap suka, tapi juga tidak lantas menjelek-jelekkan klub lain. Iya, saya termasuk orang-orang dengan paham “fans klub yang ngejelek-jelekin klub lain saat terpuruk, bukanlah fans sejati.”

Walau begitu, saya tidak menutup mata terhadap perkembangan sepakbola di liga lainnya di kawasan Eropa. Seingat saya, dulu saya sempat suka dengan Liverpool. Alasannya simpel, mereka sudah lama tidak juara Liga Inggris. Tapi karena satu dan lain hal, klub kesukaan saya di Liga Inggris pun pindah ke Manchester United.

Untuk Spanyol, tak lain dan tak bukan Barcelona jadi klub favorit saya. Alasannya rumit sekaligus sederhana: saya kagum dengan semboyan “Catalan is not Spain” yang sering digembar-gemborkan oleh fans mereka di saat Barcelona bertanding.

Untuk Jerman sendiri, dulu saya sempat ikut-ikutan juga dengan kesukaan (alm) Ayah saya, yakni menyukai Borussia Dortmund. Tapi lambat laun, entah kenapa tak ada lagi klub favorit saya di liga Jerman. Iya, klub favorit saya di masing-masing liga hanya ada di Inggris, Spanyol, dan Italia. Kalo dibilang mana yang paling favorit, sudah jelas kan di awal tulisan ini?

Oiya, kalo buat Indonesia sendiri, saya sih ga fanatik amat sama klub tertentu. Semua klub bagi saya baik dan bagus. Tapi yang sudah pasti, setiap juara yang hadir setiap tahunnya selalu bisa membuat saya kagum. Karena (sepertinya) belum ada juara 2 tahun berturut-turut di Liga Indonesia — sejak Liga Dunhill 1995(?).

Kalo kamu, klub bola favoritnya siapa?

Buka Puasa di mana?

Juni 25, 2015 § Meninggalkan komentar

Di mana aja yang nyediain santapan buka puasa.

Iya, simpel kok. Kalo mau buka puasa ya di mana aja bisa, asalkan ada santapan buat buka puasa. Mau itu minuman, makanan, manis atau tidak, banyak-sedikit, kenyang atau engga, yang penting bisa buat berbuka. Dan halal tentunya. Saya sih ga ribet ya mau buka puasa di mananya, karena yang penting puasanya selesai sehari dan kemudian ditutup dengan berbuka.

Dulu-dulu jaman masih jadi mahasiswa sekarang juga masih mahasiswa sih, saya cukup sering juga buka puasa ga tentu tempatnya. Hari ini bisa jadi di kampus, besok bisa jadi lagi di jalan pulang, hari berikutnya lagi bisa jadi lagi di tempat aktivitas kegiatan kemahasiswaan, berikutnya bisa di rumah, dan masih banyak lagi. Pernah juga malah berbuka puasa bersama teman-teman mahasiswa, Maghrib & Isya, kemudian dilanjut tarawih bareng, kemudian lanjut berkegiatan hingga sahur dan solat Subuh.

Walau begitu, saya membiasakan diri untuk sebisa mungkin berbuka puasa di rumah. Iya, di rumah. Dan, seingat saya, sejak saya lebih mengerti arti puasa Ramadan, maka hari pertama puasa Ramadan ditutup dengan buka puasa di rumah.

Kenapa hari pertama buka puasa Ramadan di rumah? Karena itu hari pertama. Lebih enak dong buka puasa di rumah bersama keluarga atau kerabat dekat. Dan juga, karena bisa jadi hari-hari puasa Ramadan berikutnya dipenuhi ajakan berbuka puasa di sana-sini. Tahu sendiri kalo Ramadan, selain sebagai bagian dari ibadah Ramadan, buka puasa juga jadi ajang untuk berkumpul dan bertemu karib-kerabat.

Kalo kamu, sering buka puasa di mana?

Belajar Puasa

Juni 18, 2015 § 5 Komentar

Stay Hungry. Stay Foolish.

Kalo diartikan secara langsung, frasa pertama cocok dengan kondisi saat ini, yakni menjalani ibadah puasa Ramadan. Untuk frasa yang kedua, juga cocok dengan kondisi bahwa manusia lebih baik untuk terus belajar jadi lebih baik setiap harinya.

Iya, paragraf pertama itu berat bener. *ngaku*

Anyway, yang saya maksud dengan belajar dan puasa — seperti judul di postingan ini sebenernya dari taun ke taun saya baru nyadar bahwa sebenernya saya masih harus belajar banyak tentang puasa — selain hal-hal terkait pekerjaan atau juga akademis. Iya, belajar puasa artinya belajar supaya puasanya berkah, ga cuma dapet lapar dan dahaga, tapi juga dapet pahala yang benar-benar hanya bisa didapatkan di saat bulan Ramadan.

Salah satu hal baru yang saya pelajari antara lain baru saya tau tadi pagi, dengar dari radio Jak FM sepanjang perjalanan mengantar istri saya ke kantor, bahwa pahala puasa Ramadan hanya diketahui oleh ALLAH SWT. Iya, seperti itu yang saya dengar dari kultum di radio Jak FM. Selama ini saya mengiranya pahala puasa Ramadan juga dicatat dan diketahui oleh malaikat, tapi ternyata persisnya ga seperti itu.

Anyway, kalo bahas soal belajar puasa saya jadi keingetan waktu masih kecil dulu. Persisnya umur berapa saya ga inget, mungkin kisaran TK kecil atau SD kelas 1-2. Jadi saya masih awal-awal belajar puasa full seharian. Namanya anak kecil, biar puasa tetep aja suka main lari-lari sehingga kecapean dan haus. Jadinya, datang ke rumah lelah dan kehausan. Di tengah hari atau sekitar jam 1-2an siang, pas lagi panas-panasnya rasa haus tersebut dimengerti oleh Mama saya dengan cara memperbolehkan saya untuk minum segelas air. Tidak makan, hanya minum saja mengobati haus. Lalu setelah itu puasa lagi sampai Maghrib menyapa. Secara urutan puasa, sudah batal sih ya harusnya. Tapi secara personal saya jadi belajar bahwa puasa yang baik harusnya ga pake time-out seperti itu, melainkan menjaga diri supaya bisa terus berpuasa sampai penuh seharian.

Kalo kamu, ada cerita seru apa terkait belajar puasa?

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.662 pengikut lainnya.