Pusaka

April 18, 2017 § Tinggalkan komentar

Salah satu peribahasa yang cukup terpatri di benak saya adalah tentang gajah dan harimau. Sebagai berikut,

gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya

Pengertian yang beredar kebanyakan, kurang lebih sebagai berikut “orang baik akan meninggalkan nama baik, sementara orang yang tidak baik akan meninggalkan nama tidak baik pula.”

Namun, sebagai orang yang suka dengan bahasa-kata, dan belakangan juga bekerja terkait dengan bahasa-kata dan penulisan, saya suka iseng meneliti lebih jauh apa arti sebenarnya. Baik itu per kata/tulisan, sampai dengan apakah ada makna yang lebih mendalam dari sebuah tulisan.

Keisengan ini, kalo diseriusin, bisa disebut sebagai tafsir. Tapi, saya ga mau disebut sebagai ahli tafsir. Cukup disebut sebagai orang iseng aja. Kenapa? Karena buat yang emang kenal dekat dengan saya, keisengan saya ini seringkali menyebalkan karena sering membuat orang lain keki dengan pilihan bahasa/kata/tulisan yang saya sampaikan. :mrgreen: Ga ngerti? Ya gapapa. 🙂

Balik lagi ke soal peribahasa tadi, salah satu keisengan saya membuahkan salah satu makna mendalam yang saya dapatkan. Yakni tentang warisan. Tepatnya peninggalan atau pusaka. Kenapa ga serta-merta disebut ‘warisan’ aja sebagai kata yang umum/gampang dimengerti? Kenapa ada yang lebih tepat daripada ‘warisan’? Karena bagi orang dewasa, kata ‘warisan’ identik dengan harta dari orangtua atau yang diamanatkan. Sementara peninggalan atau pusaka, lebih spesifik dan tidak serta-merta sebagai harta.

Sebelum lanjut, paragraf di atas salah satu bentuk keisengan saya tentang kata/bahasa/tulisan. Masih mau ngikutin? Oke, lanjut.

Kenapa saya sebut sebagai pusaka atau peninggalan, karena peribahasa tersebut ada kata kuncinya yakni “meninggalkan”. Sesuai struktur kalimat yang benar di Indonesia, S(ubjek) + P(redikat) + O(bjek), maka peribahasa tersebut sudah benar. Dan kata kunci sebagai predikat, memberikan pengertian objek yang ditinggalkan adalah sesuatu yang berharga dan atau sesuatu yang identik dengan subjeknya.

Intinya, pemahaman saya buah dari keisengan, pengertian sebenarnya dari peribahasa tersebut bukan serta-merta mengenai orang baik dan orang tidak baik. Melainkan sesuatu yang ditinggalkan, yang sesuatu tersebut adalah sesuatu yang berharga dan atau identik.

Berangkat dari pemahaman itu, saya kemudian bercermin. Apa ya peninggalan atau pusaka yang sudah saya siapkan? Bukan berarti saya sudah siap atau merasa bekal saya sudah cukup untuk kehidupan berikutnya sesuai dengan ajaran agama saya, bukan itu. Melainkan, saya merasa masih kurang membuat sesuatu yang berarti selama saya dewasa dan sadar diri ini.

Mungkin hanya perasaan, tapi itu yang saya rasakan.

Lalu seperti apa peninggalan atau pusaka yang pengennya saya berikan? Kalo ngomongin idealisme, saya juga pengen seperti para pahlawan nasional dan atau pemenang penghargaan. Dedikasi terhadap bangsa-negara, atau teori dan penemuan yang kemudian berguna bagi banyak orang. Tapi saya juga sadar diri, saya bukan mereka. At least, belom. 🙂

Kira-kira, apa & harus bagaimana ya? Baik itu terkait peninggalan/pusaka, atau apakah sudah ada?

pusaka/pu·sa·ka/n1 harta benda peninggalan orang yang telah meninggal; warisan: — yang ditinggalkan kepada anaknya hanya berupa sawah lima petak;2 barang yang diturunkan dari nenek moyang: keris –;

— gantung harta pusaka yang tidak terang siapa yang berhak mewarisinya;
— rendah harta pusaka yang diterima dari perseorangan (seperti kain, cincin);
— tinggi harta pusaka milik kaum (tanah, sawah, atau tanah adat);
sumber: KBBI.

Kalo kamu, udah punya ide buat bikin peninggalan/pusaka apa?

Ampas Kopi

April 11, 2017 § Tinggalkan komentar

Konon, kopi yang dijual secara eceran bungkusan di Indonesia itu adalah kopi grade kesekian. Kopi dengan grade terbaik, diekspor/dijual di luar negeri dan atau hanya dijual di coffee shop.

Tapi itu kan konon.

Buat orang awam seperti saya, yang penting sudah bisa menikmati kopi — pas lagi pengen, sudah cukup senang. Beda sih kalo emang addicted sama kopi. Pun kalo sok-sokan ngerti kopi hanya karena baca buku atau nonton film terkait. Saya yang minum kopi sejak lama (mulai sejak SMA), berbagai jenis — sachet maupun bukan, pun di dalam dan luar negeri, biasa aja. :mrgreen: Dan untuk lebih jelasnya, kayanya saya belom baca atau nonton apapun yang terkait kopi — meski pengen.

Dari sekian banyak kopi yang pernah saya minum, baik itu menyeduh sendiri atau diseduhkan (seperti di coffee shop), entah kenapa saya lebih memilih minum kopi yang menyisakan ampas. Biasanya kopi yang begitu adalah black coffee. Tapi bukan berarti saya ga minum kopi tanpa ampas ya.

Kopi yang menyisakan ampas setelah diseduh biasa & bisa saya dapatkan dengan menyeduh kopi sachet atau disendokin dari kopi instan. Entah, tapi ada semacam rasa yang berbeda ketika ada ampasnya yang tersesap di mulut ketimbang tanpa ampas. Dan entah kebetulan atau tidak, untuk kopi yang tak menyisakan ampas cenderung cukup kuat efeknya terhadap perut saya ketimbang kopi yang menyisakan ampas. Makanya kalo kopi yang tak menyisakan ampas, saya lebih memilih yang disajikan di coffee shop ketimbang menyeduh sendiri — karena kayanya komposisinya lebih pas.

Kalo kamu lebih suka kopi yang menyisakan ampas atau tidak?

XXXI

Maret 10, 2017 § Tinggalkan komentar

Bukan, ini bukan judul film Vin Diesel apalagi film stensilan (eh, emang ada?).

Ini soal angka prima. Yeah, right.

Oke, deh. Ini soal angka romawi. Nice try.

Baiklaaaahh.. ini soal usia. Dan ditulis dalam angka romawi. Kan lumayan buat tebak-tebakan dulu berapa angka sebenernya — kalo masih inget coding angka-angka romawi. :mrgreen:

Belakangan (say, 1-2 tahun terakhir) saya mulai berhenti membuat janji dan harapan yang berupa fisik atau besar. Bukannya ga ada ambisi, melainkan mencoba realistis sekaligus juga membuat prioritas. YES, YOU READ IT RIGHT!

Dan di usia yang baru ini — sejak beberapa hari yang lalu, harapan saya sederhana aja. Hidup sehat dan pas-pasan. –> Pas mau jalan-jalan, ada rejekinya. Pas mau beli sesuatu, ada duitnya. Pas mau begini-begitu, bisa dilakukan. 😆

Duh maap, ke-garing-an dan ke-jayus-an saya entah kenapa mulai memuncak lagi soalnya nih di kehidupan sehari-hari. Betul lho, saya termasuk orang yang ga bisa ngelucu. Kalopun ngelucu, ya garing atau jayus. Padahal kan katanya orang Sunda harusnya bisa ngelucu, tapi.. kaya’nya ga berlaku di saya. Atau jangan-jangan saya bukan orang Sunda. #yagitudeh

Intinya adalah… Puji syukur Alhamdulillah masih diberikan kesempatan, dan semoga tetap sehat sambil terus menjadi manusia yang lebih baik. AMIN.

Coba tebak berapa umur saya? — Ini kuis tanpa hadiah tapi yaa…

Jelek

Februari 28, 2017 § Tinggalkan komentar

Cuma orang jelek yang ngata-ngatain orang lain jelek.

Jujur saja, kesimpulan itu ga saya dapatkan dengan mudah. Ada masa-masa penolakan, masa-masa kemarahan, sampai dengan masa-masa di mana saya menerima, menyimpulkan, lalu mengalihkan.

Kesimpulan itu juga yang menjadi salah satu kalimat yang saya ucapkan ke anak saya yang mulai sekolah.

Singkat cerita, seperti biasa saya mengantar anak saya ke sekolahnya. Dan belakangan ini sudah saya mulai tinggal sepanjang jam belajar, dan jemput kembali pada saat pulang. Tujuannya baik, antara lain membuatnya lebih mandiri saat jam belajar di sekolah dan membiarkannya lebih banyak berinteraksi dengan kegiatan dan teman-teman di sekolahnya. Tapi salah satu kejadian di pagi hari saat saya mengantar belakangan ini cukup menggugah saya.

Setelah memastikan tas sekolahnya berada di bangkunya di kelas, saya hendak berpamitan pada anak saya untuk pulang dulu. Di saat itu pula ia menarik tangan saya. Dan, seperti diajarkan oleh praktisi hubungan orangtua-anak, saya pun berlutut dan menyejajarkan mata saya dengannya.

“Pi, abang-abang yang itu bilang aku jelek.” anak saya bercerita sambil menunjuk beberapa anak lelaki yang berada di kelas di atasnya.

Sambil melihat ke arah yang ia tunjuk, saya pegang tangannya, “Kamu ga jelek. Kamu cantik.”

“Tapi abang-abang itu bilang aku jelek melulu.”

Sambil menarik napas dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk merespon, saya kemudian teringat kalimat kesimpulan yang menjadi awal postingan ini. Saya pun bilang, “Cuma orang jelek yang ngata-ngatain orang lain jelek.”

Entah langsung dimengerti atau tidak, tapi anak saya tidak merespon lagi. Meski tidak tersenyum, tapi sebagai orangtuanya saya tahu kalimat yang saya ucapkan itu sangat sederhana dan bisa dimengerti olehnya – meski mungkin tidak saat itu juga. Tapi saya lega dan bersyukur sudah mengucapkan kalimat itu.

Sambil di jalan pulang, saya pun kembali teringat beberapa peristiwa sampai akhirnya saya mendapatkan kalimat kesimpulan itu. Di beberapa fase kehidupan saya, tidak jarang saya diperdengarkan betapa saya tidak-cukup-tampan, tidak-cukup-baik, tidak-cukup-rupawan oleh orang-orang di sekitar saya. Dan seperti yang saya tuliskan di awal tulisan, ada masa-masa terkait yang akhirnya saya mendapat kesimpulan itu.

Untuk diketahui, kalimat-kalimat yang diucapkan kepada saya bisa jadi dalam konteks bercanda. Tapi kalau diucapkan lebih dari sekali, apakah masih bisa disebut sebagai bercanda? Lalu, bukankah ucapan tersebut dapat membentuk pribadi seseorang seperti yang diucapkan apabila individu tersebut tidak sadar diri dan atau mendapat bantuan/dukungan? Oleh karena itulah, saya bersyukur saya sudah mengucapkan kalimat itu pada anak saya.

Oiya, perihal “mengalihkan” yang saya sebutkan di awal postingan ini, tujuannya adalah dalam rangka melupakan. Karena (katanya) cara paling mudah untuk melupakan hal yang tidak mengenakkan adalah dengan mengalihkan energi yang semula untuk merespon kepada hal-hal lainnya. #dijelasin

Udah, gitu aja. 🙂

Anyway, postingan ini dibuat dalam rangka sesekali nyerita soal kehidupan sehari-hari saya. Tadinya mau saya buat di kamantara, tapi entah kenapa saya urungkan. Saya merasa rendah dibandingkan para penulis di sana yang tutur bahasanya lebih baik, dan penceritaannya menyentuh.

Foto: dapet bikin dari #pathdaily di Path.

Jadi kamu jelek, atau ga jelek?

Mendekati Tanggal 15

Februari 2, 2017 § 2 Komentar

Saya ga dibayar oleh KPU. Ga dibayar juga oleh kandidat pilkada manapun. Postingan berikut di bawah ini murni dari hati nurani saya.

Politik. Hal tersebut kayanya rame banget 2-3 bulan belakangan ini. Jelas sudah, karena ada ajang pilkada. Tepatnya, pemilihan kepala daerah serentak. Untuk tahun 2017 ini diadakan di 101 daerah/kota/kabupaten/provinsi. Salah satunya Jakarta, kota tempat domisili saya saat ini.

Terkait politik itu pula dasar saya menulis blogpost ini. Tapi lagi-lagi, ini murni dari hati nurani saya. Bukan bayaran. Bukan berharap bayaran. Bukan juga karena gemas, jengah, kesal, atau sengaja untuk mempertontonkan dan menunjukkan kandidat pilkada mana yang saya dukung. Bukan, ya.

Postingan ini lebih ke ajakan saya untuk kalian — iya kalian pembaca, yang sudah memiliki hak pilih, baik itu terdata di daftar pemilih maupun tidak, tanggal 15 Februari nanti baiknya hadiri TPS terdekat sesuai di mana hak pilih bisa digunakan. KTP Jakarta? Jelas pilkada Jakarta. KTP Bekasi, jelas pilkada Bekasi. Jangan malas. Jangan menghindar. Datang ke Tempat Pemungutan Suara, dan gunakan hak pilihnya.

Pilkada bukan sekadar prinsip kandidat mana yang lebih benar, atau lebih salah. Karena kandidat pilkada manapun pasti akan didukung oleh para pendukungnya. Meski salah, akan dimaklumi. Apalagi benar, akan dipuji-puji. Pilkada, atau politik khususnya, lebih ke penyaluran aspirasi masyarakat – rakyat, terhadap jalannya pemerintahan. Tentang kepedulian terhadap siapa yang akan menjadi pemimpin dari para pelayan masyarakat atau abdi negara.

Jadi, sebelum tanggal 15, cermati setiap program kerja yang disodorkan oleh para kandidat pilkada. Catat jika perlu. Kemudian setelah terpilih nanti, awasi pelaksanaannya. Tegur langsung jika bisa, atau melalui perwakilan rakyat di tempat masing-masing.

Dan paling penting, TANGGAL 15 DATANG KE TPS untuk MENGGUNAKAN HAK SUARA pada pilkada. Every votes counts. Every voices matters.

Udah siap jadi warga negara yang menggunakan hak suaranya, ‘kan?

NB: Saya bukan PNS – meski berharap bisa jadi PNS. Mungkin kelak, jika ada rejeki.

Jelang Imlek 2017

Januari 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Belum ujan.

Biasanya kalo mau Tahun Baru Imlek, sekitar Jakarta suka dilanda hujan. Pernah beberapa tahun yang lalu dan juga sekitar tahun 2000an, hujan besar melanda yang bikin macet dan genangan (banjir). Tapi tahun ini somehow, ujan beluman juga.

Yang saya maksud beluman juga, artinya belum ujan besar. Entah emang curah hujannya beda sama taun-taun sebelumnya, entah menunggu hari H Tahun Baru Imlek baru kemudian hujan besar. Anyway, antisipasi tetap dilakukan.

Jas hujan. Sandal. Istirahat cukup. Sampai dengan pemeriksaan prakiraan cuaca kapan dan di mana bakal hujan. Karena kalo ngeliat sejarahnya, Januari-Februari-Maret termasuk musim pancaroba. Hujan-panas ga bisa ditebak. Alhasil, jadi gampang sakit. Belum lagi meningkatnya risiko DBD — habitat nyamuk penyebabnya bertambah karena banyak air yang menggenang.

Anyway, jelang Imlek 2017 ini, sebagai salah satu pribadi dari warga keturunan — meski secara fisik udah ga keliatan, harapan saya di tahun yang baru nanti semuanya makin lancar. Dekat rejekinya. Dimudahkan usahanya. Dan paling penting makin dekat dengan Yang Maha Kuasa.

Oiya, Tahun Baru Imlek 2017 ini jatuh pada tanggal 28 Januari 2017. Nope, jangan tanya kenapa tanggalnya ga fixed setiap tahun. Beberapa tahun lalu ada di bulan Februari, kemudian Januari, etc, dll, dsb.

Somehow, sambil nulis blogpost ini saya jadi keingetan sama salah satu berita yang pernah saya lihat beberapa tahun lalu. Di Tiongkok daratan sana, jelang Imlek gini biasanya tiket kereta bakal ludes-des-des dan mahal banget. Karena seperti Lebaran di Indonesia, pada mudik gitu. Saya pribadi pernah ngalamin berada di daratan Tiongkok deketan tanggal tahun baru Imlek. Dan kereta sejenis commuter gitu, penuh aja lho.

Selamat Tahun Baru Imlek bagi kalian semua yang merayakan, ya!

Om, Telolet Om

Januari 19, 2017 § 5 Komentar

Biar ga dibilang ikut2an tren, saya baru ngepost topik ini sekarang. Udah basi sih kalo kata orang banyak. Still anyway, saya tetep pengen bahas. Secara, blognya juga saya ini yang nulis. :mrgreen:

Sebelom jadi viral sampe ke DJ kelas dunia, saya udah merhatiin asal-usulnya. Engga, saya bukan pakar marketing yang bisa menduga tren, tapi saya lebih ke (suka) neliti dari mana awal sebuah tren. Dan “Om Telolet, Om” ini saya udah pernah merhatiin darimana awalnya. Btw, tulisan soal marketing seringnya muncul di sini sih.

Alkisah (halah), jalur Pantura Jawa merupakan salah satu jalur darat terpadat dan tersibuk di dunia. Iya bener, di dunia. Arus manusia dan barang lewat jalur Pantura Jawa ini padet banget. Selain karena banyak kota persinggahan sejak jaman kesultanan/kerajaan, juga konon jalur Pantura ini udah grand-design-nya udah sejak jaman Daendels bikin jalur Anyer-Panarukan. CMIIW ya.

Nah, karena jalurnya padat dan sibuk inilah, beberapa sopir kendaraan besar – truk dan bus, bikin modifikasi sama klaksonnya. Entah apa alasan pastinya, bisa jadi biar ga bosen, bisa jadi biar langsung jadi identitas, wallahu alam. Tapi modifikasi klakson ini kemudian ditangkap oleh anak-anak penduduk sekitar jalur Pantura yang baru pada kenal hape untuk kemudian direkam. Iya, betul, direkam. Pernah baca di mana gitu, ngerekam klakson ini marak banget dan jadi ajang buat saling pamer di kalangan anak-anak tersebut.

Hal ini — anak2 ngerekam mobil lewat di jalur Pantura, udah pernah saya saksikan sendiri saat melakukan perjalanan darat ke Jawa via Pantura, pertengahan 2016 lalu. Sayangnya saya ga sempet bikin dokumentasi — secara nyetir gitu lho. Tapi beritanya pernah masuk ke beberapa portal berita, salah satunya artikel ini. Siapa sangka, hal-hal sederhana begitu bisa jadi viral sekitar 6 bulan kemudian — November, Desember 2016.

Setelah ini, apa ya yang bakal ngetren lagi sampe DJ kelas dunia ikutan?