the pursuit of (my) happiness

April 29, 2009 § 29 Komentar

happiness, itulah yang jadi bahan baku dari gado2 saya di postingan saya sebelumnya. feeling yang bikin saya dengan mudahnya jadi moody, dan juga jadi orang yang ribet. padahal kan, harusnya kalo misalkan happiness alias kebahagiaan ga bikin orang sampe sedemikiannya berubah kan?

kadang saya suka tanya diri sendiri. apa sih kebahagiaan yang saya cari? yang saya mau? yang saya tuju? yang saya dapetin? yang saya lewatin? yang saya tunggu? beberapa mungkin udah ketulis di sono-sini, kaya’ yang saya tulis di resolusi saya di 2009 inih. tapi, apa bener itu yang saya mau? dalam artian, apa sih intinya yang saya mau dari kebahagiaan ituh?

aku ingin begini. aku ingin begitu. semua dikabulkan dari kantong ajaib.

sekilas,, kadang saya suka ngerasa kalo lirik lagunya doraemon itulah yang mirip sama kondisi saya… banyak kepengen saya yang kadang2 sepertinya ga mungkin atau ga realistis.. menyedihkan ya? atau malah mengagumkan?

yang saya tau, kadang2 kepengen kita ga bisa selamanya terkabulkan. yang saya tau, kadang2 rasa pas kepengen itu lebih berasa daripada rasa setelah kepengen itu terkabulkan. yang saya tau, kadang2 buat ngedapetin apa yang dipengenin, kita musti jatoh.. jatoh.. dan jatoh.. lagi, lagi, dan lagi. yang saya tau, kadang2 orang laen ga ngerti sama apa yang kita pengen, dan nyebut kita egois, padahal belum tentu begitu..

nyatanya, belakangan ini kepengen saya makin banyak sekaligus memudar (baca: ngilang –> kenapa ya, koq kata2 saya jadi puitis ginih?πŸ˜€ ) abis, karena setiap kali saya pengen sesuatu, ada rasa kepengen saya yang harus saya korbanin buat ga dijadiin nyata. dan, proses kenapa bisa sampe ke situ, ga laen karena ada beberapa hal yang saya kira biasa2 ajah, tapi ternyata jadi ‘ga biasa’ karena satu dan lain hal..

contoh paling gampangnya,, capek. itulah perasaan yang saya selalu pengen unjukin. pengen kasitau. pengen diperlihatkan. tapi, nyatanya malah pada jadi salah tafsir. jadi salah paham. jadi salah terka. jadi salah ngerti. jadi salah persepsi. jadi salah tangkep. karena emang, saya juga tau, kepala tiap orang kan beda2. tapi, kalopun misal ga sama kan, bukan berarti harus ada konfrontasi dan harus disamain, kan?

i just want to be understood. that’s all. i don’t need they to give me something physically, but just their understand. simple. i realized, i’m not perfect. i’m not the one that always there for them. but still, i’m also a human. that needed to feel like human. i need to be myself.

rasa2 kepengen ituh menurut saya emang merupakan bagian dari sebuah jalan cerita yang panjaaaannggg bangets. karena, kepengen2 ituh adalah bentuk happiness. karena, kepengen2 itulah yang ngebentuk happiness. karena, kepengen2 itulah yang ngemunculin happiness.

dan lagi2 saya kejebak, apa sih happiness saya?

Tagged: , , , , , , , , , , , , ,

§ 29 Responses to the pursuit of (my) happiness

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading the pursuit of (my) happiness at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: