Belanda, Sang Penakluk Air

April 14, 2010 § 44 Komentar


Anna memegang erat tangan ibunya. Untuk tetap menjaga dirinya tetap hangat, Anna terus merapatkan diri ke ibunya. Musim dingin tahun 1953 sama seperti tahun-tahun sebelumnya, dingin dengan salju yang sesekali turun. Tapi, ada yang berbeda tahun itu.

Pergi meninggalkan kota tempatnya lahir sepuluh tahun yang lalu di Zeeland, adalah hal terakhir yang ia pikirkan. Tapi empasan gelombang air setinggi 30 meter yang menerjang daerah di Belanda Selatan itu memaksanya untuk mengungsi. Apalagi, ribuan orang telah menjadi korban jiwa akibat sergapan air yang hampir membeku dari Laut Utara.

“Ibu, apa kita akan kembali ke tanah yang sudah dikuasai oleh air ini?” tanya Anna perlahan.

Sambil tetap mengeratkan genggaman tangan anaknya, ibunya tersenyum kecil. “Pasti anakku, dan suatu saat tak hanya Zeeland, tapi seluruh Netherland (Belanda) akan menjadi daerah yang takkan dikuasai oleh air lagi.”

Tanpa menjawab, Anna mengencangkan mantelnya. Sesekali, ia sesenggukan. Ia pun menelan bulat-bulat ucapan ibunya, mempercayai setiap kata, dan berharap itu menjadi nyata.

Kini, lebih dari setengah abad kemudian, Zeeland tak hanya menjadi tempat Anna untuk kembali, tapi juga tinggal beserta warga lainnya dengan jumlah yang terus bertambah. Bagaimana bisa? Jawabnya adalah dengan teknologi bendungan, dam, dan pengeringan daratan dari air yang menggenang baik berasal dari air darat ataupun air laut.

Bendungan Raksasa

Bendungan di Belanda

Maeslantkering image from Kompas Images

Bencana air bandang dari Laut Utara pada 1953 membuat banyak warga Belanda memikirkan jalan keluar yang paling tepat agar tetap bisa tinggal di tanah air mereka. Daerah yang sebagian daratannya lebih rendah daripada permukaan air laut, dan memiliki Netherland sebagai nama lain negeri mereka.

Pilihan jalan keluar yang dilaksanakan kemudian antara lain 13 bendungan raksasa yang dibangun secara bertahap. Mulai dari bendungan di Sungai The Hollandse Ijssel di timur Rotterdam, The Ooster Dam di Zeeland, hingga The Maeslantkering di Niuwe Waterweg, Rotterdam.

Ke-13 bendungan raksasa tersebut adalah bukti bahwa Belanda benar-benar bertekad untuk bisa menaklukkan air. Komponen alam yang dapat menyerang tiba-tiba dengan volume yang besar dan menghanyutkan apa saja itu dikendalikan melalui bendungan tersebut. Dan diharapkan, setiap warganya pun menjadi lebih aman dan tentram.

Bendungan-bendungan tersebut tak hanya berfungsi untuk menahan terjangan air yang melanda ke daratan. Mereka dijadikan pula tempat penelitian, serta menjadi panutan akan teknologi bendungan yang kemudian dipelajari dan diadopsi di seluruh dunia. Fungsinya pun tak berkutat pada air laut saja, tapi juga terpaan air daratan dan lainnya.

Dunia pun Mengadopsi Bendungan Belanda

New York City

New York City from greenwichmeantime.com

Bendungan yang mampu menahan terjangan air serta dapat melindungi warga di baliknya memang menjadi nilai lebih dari teknologi yang dikembangkan Belanda. Kenyataan tersebut membuat bendungan buatan Belanda coba untuk diterapkan di beberapa tempat. New York City di Amerika Serikat adalah salah satunya.

Setelah terpaan badai Katrina yang meluluhlantakkan kawasan New Jersey yang letaknya berdekatan, pemerintah New York City pun tersengat akan kenyataan betapa kota mereka bisa menjadi korban selanjutnya. Kondisi geografis yang berlokasi dekat dengan lepas pantai yang menghadap langsung ke Samudera Atlantik, memiliki potensi besar akan terjangan badai yang serupa dengan Katrina, atau bahkan lebih. Beberapa film bencana besar produksi Hollywood seperti Deep Impact atau The Day After Tomorrow sudah memberikan contoh akan kehancuran yang dapat terjadi pada kota New York City akibat terjangan air.

Untuk mencegah bencana dan korban jiwa yang cukup besar di masa yang akan datang, maka rancangan khusus untuk New York City dengan garis pantai yang cukup panjang pun dibuat. Yakni dengan membuat bendungan penyanggah air badai, seperti yang diusulkan oleh Jeroen Aearts dari Lembaga Problematik Lingkungan Free University di Amsterdam. Konsep ini dibuat dengan memadukan bendungan Oosterschelde dan Maeslant di negeri Belanda.

Konsep yang demikian serius ini tentunya semakin menahbiskan jika kemudian Belanda disebut sebagai Penakluk Air.

Belajarnya Di Mana?

Mau tahu bagaimana Belanda bisa membuat bendungan yang benar-benar canggih itu? Pilihannya banyak lho, yang beberapa contohnya adalah mempelajari Civil Engineering (Teknik Sipil) di Delft University of Technology (TU Delft), University of Twente, dan juga Hanze University Groningen. Plus, kalau butuh informasi lebih lengkap bisa bertanya-tanya ke studidibelanda.com.

NB: terima kasih pada

  1. http://nasional.kompas.com/read/2008/11/29/10323720/belanda.pun.membendung.laut
  2. http://static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/arsipaktua/belanda/NewYork_20009_04_11-redirected
  3. http://wwp.greenwichmeantime.com/time-zone/usa/new-york/new-york-city/

yang menjadi sumber gambar dan posting ini. oiya, postingannya juga ditulis di facebook notes lho buat baca2 di sana.

Mau jadi penakluk air juga? Belajar ke Belanda, yuk!

Tagged: , , , , , , , , , , ,

§ 44 Responses to Belanda, Sang Penakluk Air

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Belanda, Sang Penakluk Air at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: