Equilibrium

Januari 25, 2011 § 3 Komentar

Sesungguhnya, hidup itu benar-benar dalam keadaan kesetimbangan.

Iya, setimbang. Saya dengan kesadaran penuh menulis kata setimbang, yang dalam bahasa Inggris juga ditulis sebagai equilibrate. Dan, kesetimbangan ini sendiri, bernama asli dalam bahasa Inggris, equilibrium.

Konsep dan juga kata kesetimbangan atau equilibrium itu, muncul dalam benak saya untuk kemudian dibuat ke dalam sebuah blog post, tak lain karena percakapan dengan seorang teman melalui YM. Kurang lebih diawali dengan sebuah informasi standar, kemudian curhat, dan kemudian muncul beberapa petuah dan nasihat. Dan, salah satunya adalah mengenai sebuah kesetimbangan. Mengapa bisa? Karena hidup, butuh kesetimbangan. Apa yang kita terima, butuh kita keluarkan kembali, baik itu dalam bentuk yang sama, atau berbeda. Baik itu dalam cara yang sama, ataupun berbeda. Intinya, harus terjadi sebuah proses yang saling timbal-balik, aksi-reaksi.

Dalam percakapan yang terselenggara melalui YM tersebut, konsep kesetimbangan yang muncul tak lain terjadi dalam konteks dunia kerja. Iya, saya akui saya bukan seorang konsultan Sumber Daya Manusia (SDM), bukan pula seorang lulusan sarjana Psikologi atau Antropologi, bukan pula seorang pemerhati SDM. Saya hanya kebetulan saja, senang untuk memperhatikan konsep pekerjaan sebagai sebuah proses dan sekaligus juga sebuah produk. Bingung? Oke, secara sederhana sebagai berikut.

Untuk saya, proses pekerjaan itu merupakan salah satu anugerah dari Tuhan kepada manusia, untuk mempelajari kehidupan. Bekerja merupakan salah satu alternatif pembelajaran hidup. Dan, bekerja itu sendiri buat saya terbagi menjadi 4 bagian, yakni: Merencanakan (Planning), Melaksanakan (Eksekusi), Mengulas (Evaluasi), dan Membagi (Sharing).

Berencana merupakan tahapan yang paling penting sebagai awal bekerja. Dengan perencanaan yang baik dan bagus, sudah hampir dapat dipastikan, pekerjaan yang dilakukan akan sukses. Karena, gagal berencana, berarti berencana untuk gagal. Tapi, berencana pun haruslah jeli dan lihai. Kita harus membuat beberapa rencana yang saling mendukung, saling terkait, dan saling mengenai. Sehingga, dikenallah plan A, plan B, dll. Sesungguhnya, menurut saya itu bukanlah pilihan darurat, melainkan seharusnya menjadi rencana pendukung. Demikian.

Pada prosesnya, rencana itu sendiri juga boleh untuk berubah. Tapi, bukan berarti diganti secara total. Rencana haruslah tetap berjalan, sesuai tujuan semula. Sehingga, proses pelaksanaan (eksekusi) dapat berlangsung. Karena eksekusi itu penting adanya, agar kita bisa mengetahui bagaimana kualitas dari rencana kita. Dengan eksekusi, kita dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya praktik dari rencana itu.

Selesai? Belum! Masih ada pengulasan atau review, atau evaluasi. Selesai mengeksekusi, jangan langsung lari dan menyatakan diri bebas. Justru, pekerjaan tersebut memasuki tahapan yang cukup berat. Dengan evaluasi, atau mengulas, kita harus bisa lebih teliti dalam melihat kilasan-kilasan kejadian eksekusi. Kita harus tahu detil, dan juga kekurangan dan kelebihan dari eksekusi yang sudah kita rencanakan di awal. Fungsi dari ulasan atau evaluasi ini, untuk menentukan rencana selanjutnya dan juga untuk membuat sebuah analisa dan strategi. Intinya sih, sebuah pembelajaran atau ilmu baru.

Nah, untuk melengkapinya, perlulah dibuat sebuah proses berbagi tentang pekerjaan tersebut, yang dimulai dari rencana-eksekusi-evaluasi. Kenapa? Karena sadar atau tidak, dari 3 tahapan itu saja, sudah begitu banyak ilmu yang kita dapatkan. Jeli atau tidak, detil atau tidak, begitu banyak ilmu yang kita serap dan atau ingat. Nah, ilmu itulah yang harus kita bagikan kepada khalayak ramai. Bagaimanapun caranya, siapapun penerimanya, seperti apapun durasinya, ilmu tersebut harus kita bagi. Karena dengan berbagi, gelas yang ada di dalam diri kita takkan terlalu penuh, dan dalam kondisi yang ideal. Karena sebagian isinya sudah kita tumpahkan sebagian pada mereka yang (siapa tahu) memerlukan.

Dan, sebenarnya berbagi itu juga bisa memberikan kita ilmu yang baru. Yakni, ilmu berbagi. Dalam berbagi, kita dituntut untuk bisa berkomunikasi yang baik, bisa menyampaikan dengan tepat, dan tidak menyebabkan kesalahpahaman (misleading). Sehingga, lebih banyak keahlian (skill) yang akan kita asah, dan kembali ilmu tersebut akan kembali terisi kembali.

Konsep ini yang sedikit-sedikit, saya  coba untuk laksanakan. Memang, belum sebanyak teman-teman di sini, tapi setidaknya saya berharap di akun twit saya, ada beberapa ilmu yang bisa saya bagikan. Dan, mudah-mudahan ketika saya sudah selesai membagi ilmu tersebut, saya juga ingat untuk kemudian mengumpulkannya dan membuatnya menjadi sebuah dokumentasi yang tertata, dan kalau bisa jadi sebuah blog post.:mrgreen:

Secara ga langsung, dengan berbagi itulah hidup dapat menjadi setimbang. Karena, kita mendapatkan dari sebuah sumber, kemudian kita proses sesuai kebutuhan, menikmati hasilnya, dan kemudian berbagi sebagian dengan orang lain. Sungguh, hidup akan sangat indah jika begitu banyak orang mau berbagi, dan jadilah dunia ini setimbang!

Hidup kamu udah setimbang, belum?

Tagged: , , , , , , ,

§ 3 Responses to Equilibrium

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Equilibrium at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: