Nikah itu…

April 8, 2011 § 48 Komentar

Saya pernah baca sebuah artikel di sebuah majalah, kebetulan saya lupa apa judul artikel dan sama2 lupa nama majalahnya. Yang pasti, sudah bertahun-tahun yang lalu. Tapi mengenai isi dan pesan yang ingin disampaikannya, masih tetap teringat hingga sekarang. Terutama, saat saya sudah menikah.

Jadi, di artikel tersebut diceritakan bahwa lazimnya akan terdapat perbedaan yang begitu besar dalam 2 pikiran orang yang berpasangan, yang memutuskan untuk menikah. Salah satu berpikir yang indah2 tentang pernikahan, berpikir bahwa pernikahan adalah akhir yang indah dari hubungan pacaran. Sementara yang satunya lagi, berpikir bahwa menikah adalah awalan baru dari tahapan kehidupan, kembali ke nol dengan jutaan hal yang harus dipelajari kembali – termasuk tentang keuangan.

Tak jarang, akibat perbedaan besar itulah, pasangan yang akan menikah sering bertengkar hebat seiring semakin dekatnya waktu pernikahan. Dan, sedihnya adalah pasangan tersebut akhirnya berpisah tepat menjelang pernikahan, padahal sebelum2nya begitu harmonis dan bersemangat untuk menikah. Yah, jodoh hanya Tuhan yang tahu. Tapi setidaknya ada banyak hal yang sebenarnya bisa dicari solusinya, dan juga banyak hal yang bisa dikompromikan.

Salah satu hal yang menjadi bahasan penting jelang dan setelah pernikahan, adalah keuangan. Kenapa keuangan? Karena uang selalu menjadi hal yang sangat sensitif. Baik bagi pasangan itu, masing2 individu, bahkan hingga ke keluarga dari masing2 individu dalam pasangan itu. Iya, uang bisa menjalar hingga ke mana2. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan juga kemampuan yang kuat untuk menjalani kompromi dalam hal keuangan, begitu kita berencana untuk menikah.

Berikut ini, saya berbagi pengalaman saya dalam hal keuangan, ketika saya dan istri saya memutuskan untuk menikah. Saya bagi menjadi 2 bagian, sebelum dan setelah nikah. Selamat menyimak!

Sebelum Nikah

1.      Ketika sudah memutuskan untuk menikah, rajin-rajinlah menabung. Baik itu diri sendiri, maupun pasangan. Ada baiknya jika kedua individu dalam pasangan itu sama-sama menabung. Besarannya tak perlu sama, cukup disesuaikan dengan penghasilan masing-masing. Tapi aturan resminya tentu adalah menabung untuk menikah dibedakan dengan menabung untuk diri sendiri. Menabung untuk menikah, berarti menabung untuk persiapan menikah (sebelum hari H), saat menikah (hari H), dan setelah menikah (setelah hari H).

2.      Besar tabungan yang harus dipenuhi untuk menikah, berdasar pengalaman saya adalah sebagai berikut.

a.       Sebelum menikah disesuaikan dengan pengeluaran keperluan, meliputi:

–          mas kawin,

–          pakaian pengantin (kebaya, kain, jas, kemeja, sepatu, parfum, dll),

–          barang2 seserahan,

–          biaya administrasi (mencakup pengurusan surat-surat, pendaftaran KUA, dll),

–          hingga ongkos untuk mengurus keperluan tersebut.

Tak lupa, tambahkan sekurang-kurangnya 30% dari jumlah pengeluaran keperluan tersebut. Hal ini untuk berjaga-jaga andaikata ada pos yang memerlukan kebutuhan uang di luar perkiraan.

b.      Saat menikah disesuaikan dengan pengeluaran keperluan di hari H, meliputi:

–          transportasi diri sendiri dan pasangan,

–          transportasi keluarga (2 pihak),

–          make-up dan salon,

–          fotografer,

–          makanan kecil saat sebelum akad,

–          resepsi (jika menggunakan, yang tentu akan mencakup lebih banyak hal),

–          “amplop” bagi penghulu,

–          makanan (bagi pihak yang menghadiri akad).

Untuk berjaga-jaga, tambahkan sekurang-kurangnya 30% dari total anggaran ini.

c.       Setelah menikah, keperluannya akan berbeda-beda setiap orang. Tapi berdasar pengalaman saya, keperluannya meliputi:

–          kontrakan dan listrik untuk sebulan pertama,

–          ranjang/kasur/tempat tidur,

–          kompor dan tabung gas,

–          peralatan masak (mencakup panci/wajan, sutil, pisau, piring, sendok-garpu, dll),

–          perlengkapan mandi dan mencuci (ember, gayung, deterjen, dll),

–          lemari,

–          satu stel bed cover,

–          bantal-guling (bisa dicari yang bonus dari pembelian ranjang),

–          hingga biaya hidup untuk sekurang-kurangnya 1 bulan pertama (mencakup 3 kali makan/hari dan ongkos jalan ke mana-mana selama masih cuti menikah), dll.

Nah, khusus untuk anggaran setelah menikah, tambahkan sekurang-kurangnya 50% dari total anggaran. Alasannya adalah, kebutuhan setelah menikah seringkali di luar dugaan, karena sekaligus untuk “mengisi” rumah.

3.      Honeymoon. Iya, perencanaan keuangan untuk berbulan madu dilakukan sebelum menikah. Ada banyak rencana bulan madu yang bisa dipilih, terutama setelah banyak sekali agen perjalanan dengan berbagai promo. Mau jalan-jalan sendiri, go show dengan sedikit rencana bagi para penggemar backpack juga bisa dilaksanakan. Hanya satu kunci untuk memilih bulan madu: lakukan dengan jadwal dan keuangan yang terencana, dan memiliki pos tersendiri. Jangan sampai, pos lain ikut menutupi hanya karena ingin berbulan madu. Memang, bulan madu menjadi semacam hal “wajib” setelah menikah. Tapi, juga jangan dipaksakan.

4.      Sekadar berbagi saja, anggaran saya untuk menikah pada 26 Maret 2011 lalu, sebagian besar dihabiskan untuk mas kawin, kontrakan, dan barang-barang “pengisi rumah” – kurang lebih mencakup 2/3 anggaran. Untuk pelaksanaan hari H dll, 1/3 dari anggaran. Kondisi berbeda akan terjadi pada setiap pasangan, terutama pada mereka yang memilih untuk melaksanakan resepsi.

5.      Belilah cincin kawin, mas kawin, dan seserahan dengan kualitas yang terbaik. Jangan tanggung-tanggung membeli barang-barang tersebut dengan alasan penghematan anggaran. Survei harga sebelum membeli, akan sangat membantu dalam pelaksanaan pembelian, agar tetap sesuai dengan anggaran yang sudah dibuat.

6.      Beli yang perlu untuk pernikahan. Jangan membeli barang-barang yang belum diperlukan saat menikah. Walaupun itu bagus, sedang diskon, dan bersifat “nanti bakal perlu”, tapi jika saat itu belum diperlukan, JANGAN DIBELI! Hal ini perlu dilakukan dengan sikap penuh semangat, agar tidak menjadi sekadar jargon.

7.      Mengurangi jalan-jalan, nonton bioskop, dan atau makan di luar saat pacaran. Jika semula 4-5 kali seminggu, kurangi jadi 2 kali seminggu (saat wiken:sabtu-minggu). Jika semula 2 kali seminggu, kurangi jadi 1 kali seminggu, atau jika perlu 1 kali per 2 minggu. Dan, walau jumlah jalan-jalan dan makan dikurangi, bukan berarti jumlah uangnya diakumulasikan. Justru, jumlah uangnya harus dikurangi juga, atau setidak-tidaknya tetap sama dengan sekali jalan.

Kurang lebih perencanaan keuangan seperti itu sih yang saya lakukan sebelum menikah. Nah, untuk perencanaan keuangan setelah menikah, silakan simak selanjutnya.

Setelah Menikah

Faktor paling utama setelah menikah dalam merencanakan keuangan adalah, siapa berkontribusi apa. Hal ini berlaku bagi pasangan yang keduanya bekerja, atau hanya salah satunya yang bekerja. Apapun kondisinya, pihak suami adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas  keberlangsungan biduk rumah tangga. Karena suami adalah kepala keluarga, yang tentunya memimpin keluarga tersebut. Berikut perencanaan keuangan yang saat ini saya jalani,

1.      Hitung kebutuhan konsumsi makan dikali 3 dalam sehari, dan dikali 30 untuk masing-masing orang. Jika sekali makan dihitung 10.000 rupiah (dalam hitungan beli seporsi di warung), dikali 3, lalu dikali 30, dan dikali 2, kurang lebih pengeluaran untuk konsumsi makan dalam sebulan adalah 1,8 juta rupiah. Nah, untuk menyikapinya, kurangi dengan memasak makanan di rumah, membeli beras dan menanak sendiri, dan lain-lain. Anggaran bisa hemat hingga 50% atau lebih.

2.      Kurangi makan di luar, kecuali saat benar-benar sedang bosan makan di rumah. Sesekali makan di resto/café itu perlu, cukup 1 kali seminggu, atau per 2 minggu. Tak lain untuk menambah kehangatan hubungan. 🙂

3.      Pos anggaran bayar kontrakan itu menjadi pos yang paling wajib dihitung dari rencana keuangan setiap bulan. Ga lucu kan, kalo sampe lupa bayar kontrakan. Masa’ pengantin baru tidur di jalanan? 😛

4.      Selain bayar kontrakan, pos anggaran yang paling penting juga bayar listrik, jasa sampah, sampe air. Hal ini penting supaya kehidupan di rumah tetep jalan nyaman.

5.      Beli gas elpiji dan air kemasan galon jadi pos pengeluaran yang termasuk diutamakan dalam anggaran supaya tetap bisa mendukung konsumsi murah di rumah.

6.      Cemilan, kopi, gula, teh, ini bisa dihitung sebagai pos anggaran tersendiri. Fungsinya selain untuk konsumsi pribadi, juga bisa untuk keperluan tamu kalo-kalo ada yang dateng ke rumah. Kalo udah punya kulkas, tambahin minuman soda, atau sirup.

7.      Kurangi pengeluaran dengan kartu kredit. Sebisa mungkin buatlah pengeluaran dengan kartu kredit mencapai nol rupiah setiap bulannya, atau maksimal 10% dari limit supaya mudah dibayar setiap bulannya. Kalo bisa, justru lunasi kartu kredit yang masih jalan tagihannya tanpa menambah tagihan baru supaya tidak mengganggu pos anggaran lain.

8.      Ikut asuransi atau unit link bisa jadi pilihan ketika sudah menikah. Kalo sudah ikutan sejak masih single, lebih bagus lagi. Hal ini penting supaya kita dan atau pasangan kita terjamin. Asuransi yang diikutin bisa kesehatan, jiwa, kecelakaan, dll.

9.      Uang “amplop” yang didapat dari pihak-pihak yang hadir saat hari H kita nikah, dibagi-bagi sesuai keperluan. Buat saya dan istri, kemarin kebetulan dibagi menjadi 3, yakni untuk saya & istri, untuk orangtua saya, dan untuk orangtua istri. Besarannya bebas, sesuai kebijakan masing-masing. Yang harus dipastikan adalah besaran untuk kedua orangtua harus sama, jangan dibedakan. Jika ada resepsi dan salah satu pihak keluar uang lebih banyak, maka harus bijak membaginya sesuai proporsi, namun jangan sampai terfokus sepenuhnya pada salah satu pihak keluarga.

10.  Uang “amplop” yang menjadi bagian kita dan pasangan, harus dimanfaatkan dengan baik untuk keperluan rumah dan atau masa depan. Utamakan untuk membeli barang-barang keperluan rumah tangga yang belum dimiliki, contoh kompor gas, kulkas, dan mesin cuci. Jika barang-barang keperluan rumah tangga sudah dimiliki, maka membuat deposito yang mudah dicairkan, atau membeli perhiasan emas sangat disarankan! Kalau jumlahnya cukup besar, ada baiknya jika diinvestasikan dengan cara DP rumah atau tanah, atau properti lainnya.

11.  Ga perlu belanja bulanan di supermarket atau pasar. Apalagi kalo belum punya kulkas, karena barang belanjaan seperti sayur atau daging bisa keburu busuk. Kecuali, untuk barang-barang yang bisa tahan lama seperti bumbu masak, garam, kecap, dll. Solusinya, belanja bisa 2 mingguan, mingguan, atau setiap 3 hari. Belanja harian bisa dilakukan, terutama untuk daging atau sayur yang akan dimasak hanya di hari itu.

12.  Buat rencana menu masakan selama seminggu. Nyatanya, ga perlu on track banget sih, tapi ya.. jadinya kan rencana belanja juga bakal lebih tertata. Dan, keuangan juga bakal lebih tertata. J

13.  Bikin catatan belanja untuk masak. Ini harus dipatuhi persis. Kalo sampe ada tambahan, ga boleh lebih dari 10% total anggaran dalam sekali belanja.

14.  Setiap kali cuci piring dan perlengkapan masak, teliti dan hati-hati. Kalo ada perlengkapan yang rusak atau retak, segera anggarkan untuk membeli pada bulan berikutnya atau belanja berikutnya, dan dicatat pada rencana belanja. Memang kesannya jadi boros dan terburu-buru, tapi kalo sudah berhubungan dengan makanan, ada baiknya segera dilaksanakan. Karena berkaitan dengan sistem tubuh kita, dan akan sangat berbahaya jika sampai tubuh kita teracuni atau terganggu kesehatannya karena makanan.

15.  Dari penghasilan, buatlah pos anggaran untuk bekerja. Hal ini harus mencakup anggaran transportasi (bensin jika menggunakan kendaraan), dan makan siang (jika tidak membawa bekal).

16.  Jika hanya salah satu pihak dari pasangan yang bekerja, maka penghasilan pihak tersebut harus mampu menutupi keseluruhan pengeluaran bulanan. Salah satu pos yang harus dihitung adalah transportasi pihak yang tidak bekerja.

17.  Pulsa telepon dapat menjadi pos anggaran tersendiri. Harusnya sih, pulsa telepon jadi lebih hemat karena sekarang kan bisa ketemu setiap hari dengan pasangan. Beda sama waktu pacaran dulu, yang habis karena telepon2an dan atau sms-an.

18.  Untuk pihak dari pasangan yang mampu membantu orangtuanya – terutama sejak sebelum menikah, buatlah pos tersendiri dalam anggaran. Besarannya ga musti sama dengan saat sebelum nikah. Yang terpenting dan harus dilaksanakan adalah, pos tersebut diketahui oleh pasangannya. Ga boleh maen sembunyi2 ngasih!

19.  Kalo yang beragama Islam, ada baiknya sisihkan sebagian untuk membayar zakat dari penghasilan bulanan. Kalo ga bisa dibuat pos tersendiri, bisa dibuat dengan cara disatukan dengan pos anggaran untuk bekerja. Jadi, diambil dari bagian pihak yang bekerja. Kalo masih ada lebih dari pos anggaran untuk bekerja, boleh juga untuk infak setiap kali mendatangi Masjid.

20.  Rencanakan kapan mau hamil, dan punya anak. Kebutuhan untuk ibu hamil, menyusui, dan juga anak-anak itu lebih besar ketimbang saat masih berdua aja. Kalo masih berencana untuk belum hamil, sisihkan sebagian uang bulanan untuk beli properti, atau investasi ke dalam bentuk perhiasan emas.

21.  Jangan beli barang atau jasa yang tidak urgent dan tidak sering digunakan. Kalo masih sesekali saja digunakannya, jangan tergoda untuk membeli atau menggunakan. Contohnya: saluran TV kabel. Kalo “cuma” ditonton pas malem sepulang kerja, dan atau wiken, ngapain berlangganan? Mending uangnya dipake buat nambah2 beli perhiasan.

22.  Selain bayar tagihan kartu kredit, usahakan jangan menambah terlalu banyak cicilan yang harus dibayar. Contohnya: kredit motor, kredit mobil, kredit kulkas, dll. Pilih salah satu, lunasi dan selesaikan, baru kemudian mengambil kredit lainnya. Setidaknya, ini dilakukan oleh saya dan istri, dengan tujuan agar bisa fokus melunasi cicilan tersebut.

23. Terakhir, soal tabungan. Idealnya sih, tabungan itu kan 1/3 dari penghasilan kita setiap bulannya. Tapi, karena sudah menikah, acapkali sulit buat nabung. Nah, solusinya ya.. ikut asuransi, bikin deposito setiap kali dapet lebihan, dan atau beli perhiasan emas. Kalo ga mau seperti itu, ya.. bisa dilakukan dengan cara sekurang-kurangnya 5% dari penghasilan bulanan disisihkan untuk ditabung. Kalo bisa lebih dari 5%, itu akan sangat baik. 🙂

Kurang lebih, itu sih yang saya lakukan bersama istri saat ini. Kalo nanti ada tambahan, saya apdet lagi deh..

Jadi, intinya menikah itu segalanya tentang perencanaan dan juga kompromi. Kalo saling mengerti, apalagi tentang keuangan, menikah itu akan terasa sangat nikmat dan membahagiakan. 🙂

Oiya, nikah itu nikmatnya “cuma” 5%. Sisanya yang sebanyak 95% itu… NIKMAT BANGET! :mrgreen:

NB: foto ilustrasi yang bagus itu, asalnya dari sini lho..

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 48 Responses to Nikah itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nikah itu… at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: