Demi Istri dan Calon Bayi :)

September 6, 2011 § 9 Komentar

Kalo diinget-inget, sepertinya saya belum pernah bikin blogpost tentang kehidupan saya setelah menikah. Tapi ya, setelah didesek diminta sanasini, akhirnya ya.. saya coba deh bikin lewat satu postingan ini.

Jadi, setelah menikah pada bulan Maret lalu, saya pun menjalani kehidupan yang baru sebagai suami sekaligus kepala keluarga. Banyak hal baru yang dipelajari, dilaksanakan, dan juga dicari penyelesaiannya – apabila menjadi sebuah permasalahan. Dan ya, seperti kebanyakan orang bilang, menikah itu 5%-nya aja yang enak, 95% sisanya ENAK BANGET!:mrgreen:

Sebenernya, sejak menginjak jam pertama sampai saat postingan ini ditulis, banyak banget hal-hal seru yang udah kejadian. Walau pada saat terjadinya bisa jadi sebel bin kesel, tapi ya.. kalo diinget-inget sekarang, rasanya geli sendiri gitu. Contoh paling gampangnya adalah, mobil yang saya sewa dan pake buat transportasi utama dari dan ke KUA, mengalami masalah starter sehingga gak bisa nyala saat mau pulang setelah selesai akad nikah!😆

Dan, yang paling apdet adalah kemarin sore, tepatnya Senin sore (5 September 2011) lalu..

Jadi ceritanya, syukur Alhamdulillah sejak bulan Agustus lalu istri saya sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dan, setelah berkali-kali tes menggunakan testpack yang dibeli dari apotik, pada akhir Agustus lalu saya pun mengantar istri untuk cek ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit. Hasilnya sama, positif hamil beberapa minggu.

Rasa senang tentu langsung menyelimuti. Namun kemudian, perasaan sedikit khawatir pun timbul karena berarti istri (calon ibu) harus benar-benar dijaga, terutama kesehatannya. Harus benar-benar mengonsumsi makanan yang bergizi, serta tak boleh terlalu lelah beraktivitas. Alhasil, tambahan gizi seperti susu dan juga buah-buahan pun sedikit ditambah, selain menu karbohidrat, protein, dan vitamin yang sehari-hari telah dimakan. Dan yang ga kalah penting, menuruti ngidamnya istri.

Singkat cerita, setelah beberapa kali ngidam, Senin kemarin pun istri ngidam. Sekitar jam 4.30 sore, istri menelepon saya, meminta untuk dibelikan gado-gado lengkap dengan telor, dan tanpa lontong. Alhasil, saya pun menyanggupi untuk membelikan sepulang kerja pada jam 5 sore.

Telepon ditutup, dan saya langsung mikir keras. Di mana kira-kira bisa beli makanan gado-gado lengkap dengan telor di hari yang sudah sore seperti itu? Apalagi, di jam-jam pulang kantor, yang sepertinya sulit untuk menjangkau daerah-daerah yang jauh. Pastinya, saya cuma bisa menjangkau daerah dekat-dekat kantor, sepanjang jalan menuju rumah, serta daerah dekat rumah, ‘kan? Alhasil, setelah bertanya lewat twitter, koprol, serta beberapa teman sekantor, akhirnya dapat bayangan harus ke mana saja mencarinya. Yakni Pancoran Barat, Perdatam, Kalibata, Pejaten, Pasar Minggu, Rancho, hingga Lenteng Agung.

Kira-kira jam 5 lewat, dengan penuh semangat saya pun pulang kantor. Kalibata menjadi tujuan utama saya. Pancoran Barat dan Perdatam saya lewatkan, karena selain saya tidak menguasai jalanan daerah sana, juga karena saya berpendapat bahwa jika di Kalibata tidak ada, saya bisa segera mengejar ke tempat lain yang searah pulang lebih cepat.

15 menitan perjalanan saya dari kantor di sekitar Pancoran, sampai di Kalibata. Engga, ga ngebut. Itu perjalanan standar dengan kecepatan rata-rata 30-50 km/jam dengan motor. Sedikit terbantu juga dengan jalanan yang belum begitu ramai. Dan, begitu sampai di Kalibata, saya langsung menuju pusat jajanan yang ada di parkiran seberang TMP. Sedikit celingak-celinguk, ternyata ga ada tukang jualan gado-gado. Ga pake lama, saya langsung tancap gas buat ke lokasi berikutnya: Pasar Minggu.

Lokasi Pasar Minggu seputaran Universitas Nasional, jadi tujuan saya buat cari tukang gado-gado. Alesannya, karena ada kampus/tempat kuliah, pasti ada mahasiswa, dan pasti ada tukang jual makanan yang cukup banyak. Di salah satu belokan, ada satu warung yang di kacanya bertuliskan “Gado-Gado”. Dari jauh, saya sudah melihat dan langsung menuju ke sana. Nyatanya, pintunya tutup dan digembok. Selidik bertanya ke warung sebelahnya, ternyata pemilik warung belum buka karena -sepertinya- belum kembali dari pulang mudik. Jam sudah menunjukkan lewat dari 5:30 sore. Saya pun langsung pergi ke Pejaten.

Lokasi tepat di Pejaten adalah sepanjang jalan menuju Pejaten Village dari arah Universitas Nasional. Pilih lokasi itu, ga laen karena saya takkan terkena macet – karena melawan arus pulang orang-orang, serta banyak pemukiman di sana. Sambil berharap, saya harus ekstra hati-hati mengendarai motor sambil melihat-lihat tukang jualan di sekitar. Hasilnya, nihil. Sampai akhirnya saya pun tiba di dekat jalan masuk Pejaten Village, dan akhirnya saya memutuskan untuk singgah di sana. Waktu sudah menunjukkan jam 5:45 sore.

Setengah berlari, saya segera menuju lantai lower ground Pejaten Village. Seingat saya, dulu pernah ada wilayah dekat akses menuju mushola yang ditempati oleh beberapa “pedagang kaki lima” yang dibentuk seperti cafeteria. Sesampainya di sana, ternyata area tersebut sudah bersih. Tak ada lagi tukang jualan “pedagang kaki lima” itu. Tapi, saya ga habis akal. Karena saya ga mau sampai mengecewakan istri yang tengah ngidam, saya pun menjejakkan kaki ke dalam lift. Lantai 3 jadi tujuan saya.

Kemiri, resto yang memiliki beragam pilihan makanan Indonesia jadi tujuan akhir di lantai 3. Sempet ga pede juga mau ke sana, tapi ya ternyata setelah tanya ke pramusaji di sana, ternyata memang mereka sedia menu gado-gado. Alhamdulillah, pesen satu bungkus, lengkap dengan telor, dan lontongnya dipisah – karena sudah satu paket, untuk dibawa pulang. Kurang lebih sudah Maghrib pada saat saya selesai memesan dan mulai nunggu.

Kira-kira sepuluh menit, gado-gado pesenan selesai dibungkus, dan saya pun langsung beranjak pulang. Ga lupa, sebelumnya kasih kabar ke istri kalo pesenannya udah dapet.

Sekitar 20 menitan di jalan, dan sampe juga ke rumah. Lagi-lagi, ini ga ngebut (banget), 40-60 km/jam di antara lalu lintas yang cukup lancar. Sampe rumah, langsung disambut istri, dan kemudian cuci kaki-tangan-muka, wudlu dan shalat Maghrib.

Senangnya bisa memenuhi keinginan istri, walau harus berusaha mencari ke sana-sini. Ada kepuasan tersendiri saat kita bisa memenuhi keinginan tersebut. Salah satu priceless moment.🙂

Anyway, jangan tanya harganya yak!:mrgreen:

Tagged: , , , , , ,

§ 9 Responses to Demi Istri dan Calon Bayi :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Demi Istri dan Calon Bayi :) at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: