Day 3: The Urban Car

September 13, 2011 § 2 Komentar

Di mana mobil biasa banyak digunakan? Jawaban yang pasti, tentunya jalan raya. Tapi kalo diliat lokasi di atas peta, jalanan mana yang banyak digunakan untuk mobil? Saya pribadi akan langsung jawab: jalan raya di kota, jalan urban.

Kenapa disebut urban? Karena layaknya kota, besar atau kecil pasti penduduknya lebih banyak, terpusat, dan juga di jalanannya berseliweran banyak mobil (hampir) setiap waktunya. Ga terkecuali, Jakarta.

Dan itulah yang kejadian pas hari Senin (12/09) lalu. Setelah asik-asiknya ngendarain Nissan March pada hari wiken dan juga libur yang trafficnya ga terlalu ramai, akhirnya kejadian juga bawa mobil pas weekdays. And yes, it started at the Monday.

Setelah cukup istirahat dan juga tuntutan jam masuk kantor istri yang lebih pagi serta lokasinya yang cukup jauh, akhirnya jam 5an pagi saya pun sudah terbangun. Bersih-bersih, solat, dan kemudian siap-siap berangkat. Jam 6 kurang 10 menit, saya pun sudah ngendarain Nissan March di jalan raya menuju kantor istri di sekitaran Pulo Mas.

Berbekal pengalaman dan pengetahuan mengenai rute jalanan semasa jadi –kondektur bus- eh pekerja media dulu, saya pun tahu harus lewat mana saja untuk menuju Pulo Mas dari Lenteng Agung. Paling mudah ya, masuk tol JORR, kemudian ke Cawang-Cililitan, lalu berbelok ke Jatinegara-Tj.Priok dari sekitar Halim. Yah, kalo ada salah penulisan nama daerah, harap maklum aja.. saya lebih peduli buat merhatiin mobil-mobil di sekitar saya yang jalannya juga cepet. Singkat kata, berusaha safety driving, minimal buat diri sendiri.

Dan ya begitu, pagi harinya perjalanan pun ditempuh selama 45-50 menitan melalui jalan tol. Lagi-lagi, Nissan March yang saya kendarai luwes dalam melahap kilometer demi kilometer jalan tol. Dan, ada yang lebih menarik, yaitu pada saat melewati gerbang tol yang begitu banyak namun kemudian ada penyempitan jalan. Entah apa alasan pastinya, tapi Nissan March yang saya kendarai lebih mudah buat “ambil posisi” ke setiap celah yang ada di antrian mobil.:mrgreen:

Kelar mengantar istri, saya pun langsung berangkat ke kantor saya sendiri di kawasan Pancoran. Enggak, kali ini ga lewat jalan tol. Saya lebih prefer membelah jalanan ibukota lewat tengah-tengah, ketimbang harus memutar melalui jalan tol. Alasannya, waktu masih cukup pagi. Seharusnya lalu lintas belum sangat ramai.

Bener aja, jalanan belum rame banget. Masih bisa dibilang normal lah selama perjalanan dari Pulo Mas menuju Pancoran dengan rute melewati Pramuka, Matraman, Tambak, Manggarai, Tebet, dan lurus menuju Pancoran.

Ada satu hal yang cukup penting buat saya saat mengendarai mobil. Yaitu, soal space. Selama 2 hari sebelumnya dan juga hari Senin kemarin, saya baru ngeh kalo ternyata space buat pengemudi cukup lega buat ukuran badan saya. Maklum, tinggi saya mencapai 185 cm, dan juga kedua kaki saya cukup panjang. Jadi, agak rewel buat urusan space. Alhamdulillah, Nissan March punya space yang mumpuni buat saya supaya bisa nyetir dengan aman dan nyaman.

Sampe kantor, saya pun parkir di area yang udah disediakan. Selanjutnya, saya pun sibuk kerja di hari itu sampai dengan sore hari.

Jelang jam 4 sore, saya dapet info kalo sekitar abis Maghrib, harus hadir di salah satu kantor klien di kawasan Semanggi, Jakarta. Mikir singkat, sepertinya sulit buat sampai ke sana on time. Karena di sana kawasan 3 in 1, sementara saya belum ada barengan ke sana. Mau cari jalan tikus terdekat, saya pun ga hapal. Tapi.. ternyata setelah tanya sana-sini, akhirnya ada barengan ke sana meski 1 orang aja. Kurang sih buat melenggang di 3 in 1 dengan nyaman, tapi untungnya barengan ini tau jalan tikus terdekat. HORE!

Berangkat dari kawasan Pancoran, lewat Gatot Subroto dan belok ke arah ke Kuningan. Berbekal pengalaman dan pengetahuan orang yang barengan berangkat sama saya, ternyata memang ada jalan penghubung antara Kuningan dengan Semanggi. Kalo detilnya lewat mana, saya cuma bisa bilang kalo itu lewat Mega Kuningan. *ga tau nama daerah, tapi hapal rute*😆

Dari mulai jalan yang lebarnya cukup muat 3 mobil dengan 2 lajur, sampai kemudian jalan tikus yang cuman muat buat 2 mobil di 2 lajur dengan 2 arah. Itu dia rute saya dari Kuningan menuju Semanggi. Dan, di sinilah kemampuan sebuah driver dan juga mobilnya ditentukan di jalanan urban. And yes, buat saya Nissan March (juga) sukses menjadi urban car!

urban car itu yang cocok dibawa gimana aja di jalanan kota

Kondisi jalanan yang ga stabil, plus ukuran jalanan yang besar-kecil ga terlalu masalah buat Nissan March. Berkali-kali sudut dan lintasan yang sempit, bisa saya lahap dengan Nissan March. Belok kanan-kiri, udah lihai banget deh.. Dan akhirnya, sampailah ke tempat meeting on time. HORE!

Dan, seperti yang sudah saya sebut di postingan sebelumnya (Mobil Pasangan Muda), sekitar jam 8 malam saya pun memprioritaskan diri sebagai seorang family man. Yes, family first. Saatnya saya kembali “menyapa” jalanan urban untuk menjemput istri yang akan selesai kuliah malam di salah satu perguruan tinggi di Rawa Mangun. Setelah selesai, kita pun langsung pulang ke rumah dengan Nissan March.

Well done, March! You’re suitable to be urban!

Tagged: , , , , ,

§ 2 Responses to Day 3: The Urban Car

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Day 3: The Urban Car at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: