tinggal di jakarta itu, harus “berani”

November 1, 2011 § 20 Komentar

Keberanian itu perlu, apalagi kalo mau tinggal di Jakarta, dan menjadi warga Jakarta.

Sepertinya, cuma orang-orang yang punya cukup nyali yang mau pergi ke Jakarta, dan tinggal di Jakarta. Anggapan itu udah jamak, dan biasa diucapkan kalo ada orang yang mau ke Jakarta selalu bilang, “mau mengadu nasib”. Berarti butuh keberanian, kan? Dan, ternyata kalo tinggal di Jakarta pun harus berani. Termasuk, berani menegur kalo ada yang salah dan membahayakan.

Sekadar pemberitahuan dan pengingat, saya pernah kerja di bidang oilfield services, background saya juga diploma teknik. Dua hal itu menurut saya cukup membuat saya peduli dengan masalah keselamatan dan juga kesehatan. Safety itu penting. Bahkan, ada salah satu semboyan salah satu perusahaan teknik yang begitu mengutamakan keselamatan — First, Safety First. Kepedulian akan keselamatan dan juga kesehatan itulah, yang kemudian terbawa ke kehidupan sehari-hari. Seenggaknya, saya begitu, dan berusaha untuk begitu. Berusaha untuk tetap selamat dan sehat (mengutamakan safety) itu jadi salah satu perhatian yang cukup penting bagi saya, kalo saya melakukan aktivitas, apapun bentuknya.

Dan, semalam (Senin, 31 Oktober 2011), kejadian yang berkaitan dengan safety ini saya alami lagi. Tepatnya, di jalan raya. Di kisaran jalan raya antara kalibata dan pasar minggu, Jakarta.

Singkat cerita, saya punya kebiasaan yang cukup “ngeselin”, yakni ngingetin orang yang menurut saya bisa membahayakan dirinya, dan atau orang lain saat di jalan raya, atau tempat-tempat umum lainnya. Dan, kali ini di jalan raya. Perilaku yang bisa membahayakan di jalan raya antara lain menelepon/SMS-an sambil mengendarai motor. Menurut saya, perilaku itu sangat berisiko untuk membahayakan dirinya dan juga orang lain. Kenapa? Karena menelepon/SMS-an sambil mengendarai motor, perhatiannya tentu akan terpecah, dan respon dari tangannya akan kurang dalam mengendarai motor tersebut.

Dan, semalam saat arah pulang setelah menjemput istri, saya menuju rumah melalui jalan raya pasar minggu. Selepas lampu merah kalibata, saya mengendarai motor saya bersama istri di boncengan. Dan, sekitar di depan Carrefour Pasar Minggu, saya sedang berada di sisi kiri jalan dan hendak lurus terus, di sisi kanan jalan sedang ada beberapa kendaraan lain. Di depan saya persis, ada seorang pria, mengendarai motor, tanpa jaket, tanpa helm, tanpa sepatu. Alias, “hanya” mengenakan kaos oblong, celana pendek, sandal jepit, dan “lucunya” adalah tangan kirinya memegang handphone yang sedang menyala, sementara tangan kanannya memegang stang motor yang sedang dikendarainya sambil melaju.

Biasanya, kalo si pengendara “hanya” ga pake helm/jaket/sepatu, saya masih oke dan bisa cuek. Tapi, semalam itu pengendara itu juga memegang handphone sambil matanya beberapa kali tertuju ke handphone tersebut, dan bukannya jalan raya di depannya. Sambil melaju pula. Rasa “kebiasaan ngeselin” saya pun timbul. Sambil terus melaju, saya ikuti pengendara tersebut, sambil menunggu sisi kanan jalan agak lowong. Begitu agak lowong, saya pun sedikit menyusul pria tersebut lewat sisi kanan, dan menegurnya (mungkin dengan sedikit berteriak), “Mas, kalo pake handphone nepi dulu.” Dalam sekelebat pandangan mata, saya bisa lihat bahwa pria tersebut sedikit kaget karena saya tegur. Dan, karena saya merasa maksud saya adalah baik, saya pun melaju meninggalkan pria itu — yang saya kira menepi.

Ternyata, sekitar 50 meter ke depan, dari kaca spion saya lihat ada sebuah motor yang mengikuti saya, dan menyalakan lampu sorotnya. Saat itu, saya sudah ke sisi kiri jalan kembali. Dan, saya pikir motor tersebut mau buru-buru dengan mengambil jalan saya. Jadi, saya pun lebih ke kiri dan memelankan motor. Eh, ga taunya pria tadi -yang ga pake helm/jaket/sepatu dan megang handphone itu- tiba-tiba muncul di sisi kanan saya sambil berkata (mungkin sedikit berteriak juga), “Terus kenapa, Mas?”

Secara cepat, saya langsung berpikir kalau pria ini tidak terima saya tegur. Ya oke, saya ladeni saja pertanyaannya. Saya pun jawab, “Kalo pegang handphone sambil bawa motor, nepi dulu Mas.”

Dan, dia dengan cepat menjawab lagi, “Iya, terus kenapa kalo saya pegang handphone, Mas?” — suaranya mungkin sedikit naik volumenya, tapi ya bisa jadi itu hanya perasaan saya saja.

Sambil masih terus berkendara dan hati-hati, saya jawab lagi. “Pegang handphone sambil bawa motor itu bahaya, Mas. Bisa celaka. Di belakang Mas bisa celaka.”

Setelah saya jawab begitu, saya masih tetap berkendara maju menuju jalan pulang. Dan, pria itu entah bagaimana, tiba-tiba sudah tidak ada lagi di sisi kanan saya. Mungkin menepi, mungkin melambat. Saya tidak tahu. Yang saya tahu, saya benar menegur pria itu. Dan, syukurnya saya cukup berani untuk menegurnya dan juga meladeni pertanyaan pria itu.

Beneran, tinggal di Jakarta itu harus “berani”.

Jangan tanya gimana caranya saya bisa tau pria itu lagi megang handphone sambil bawa motor, yak! Yang pasti, jawabannya bukan karena saya pernah seperti itu. :mrgreen:

Iklan

Tagged: , , , , , ,

§ 20 Responses to tinggal di jakarta itu, harus “berani”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading tinggal di jakarta itu, harus “berani” at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: