Hugo, Anak Lelaki Yang “Berfungsi”

Maret 11, 2012 § 3 Komentar

Peringatan: Hati-hati terhadap spoiler film yang bertebaran di sepanjang blogpost ini!

Nama anak lelaki itu Hugo Cabret. Panggilannya Hugo. Dia yatim piatu. Ia tinggal di stasiun kereta, dan ia cukup cekatan dengan perkakas dan memperbaiki barang. Sepertinya, bakat tersebut ia warisi dari ayahnya yang telah meninggal dunia.

Hugo & Isabelle watching automaton workingIntro tersebut akan langsung didapatkan ketika menyaksikan “Hugo”, film yang mendapatkan 5 piala Oscar pada helatan ke-84 awal Februari lalu. Total 5 piala Oscar itu adalah untuk kategori Cinematography, Art Direction, Visual Effects, Sound Mixing, dan Sound Editing. Kelima piala Oscar itu pun diraih setelah sebelumnya mendapatkan 11 nominasi piala Oscar. Still anyway, yang dibahas di blogpost ini bukan tentang piala Oscar-nya, melainkan tentang filmnya.

Hugo, film ini saya tonton Sabtu ini (10/03) di blitzmegaplex GI bersama istri saya. Sengaja saya mengajak istri saya nonton film ini, karena kebetulan masih punya akses movie pass yang bisa nonton sepuasnya, dan juga ga ada film pilihan lain yang kira-kira bisa ditonton.:mrgreen: Jadilah, sejak sore jam 4 kurang nonton film ini di audi 10.

Dibuka dengan setting stasiun kereta di Paris, Prancis, tokoh utama yang juga jadi judul film ini, Hugo terlihat. Ia berada di balik jam-jam di stasiun kereta, dengan segala perihal mekanisnya. Mulai dari jam yang berada di tengah stasiun, hingga jam yang ada di menara stasiun. Dan di menara itu, Hugo biasa menatap Menara Eiffel.

Kemudian scene berlanjut ke toko mainan kecil di stasiun kereta, yang dijaga oleh seorang pria tua yang dibantu oleh seorang gadis – yang kemudian diketahui sebagai anak baptis pria tua itu. Dari balik jam dinding di stasiun, Hugo memperhatikan toko mainan itu, dan ketika ia hendak menghampirinya untuk “mengambil” barang tertentu, ia tertangkap pria tua penjaga toko. Dan, dari situasi itulah cerita utama film ini dimulai.

Berawal dari buku catatan peninggalan ayahnya yang disita oleh pria tua itu, Hugo kemudian lebih mengenal sang pria tua dan juga keluarganya. Saking tak inginnya buku catatannya dimusnahkan dan berharap agar dikembalikan, Hugo pun kemudian berinteraksi dengan pria tua tersebut, yang juga dikenal sebagai Papa George oleh si gadis – yang bernama Isabelle. Hugo kemudian bekerja di toko mainan tersebut, membantu Papa George sambil berusaha mendapatkan buku catatannya kembali.

Hugo pantas saja berharap agar buku catatan peninggalan ayahnya tidak dimusnahkan. Karena, hanya itulah satu-satunya barang peninggalan dari ayahnya, yang bisa membantunya untuk menuntaskan apa yang ia mulai bersama ayahnya. Yakni, sebuah automaton – atau juga dikenali sebagai manusia mekanik. Di tengah-tengah film, akan ada satu scene dengan alur mundur, yang menceritakan bagaimana automaton itu didapatkan, diperbaiki sedikit demi sedikit, hingga saat meninggalnya ayah dari Hugo. Oiya, ayah dari Hugo ini diperankan oleh Jude Law lho..:mrgreen:

Kembali lagi ke cerita utama film ini, Hugo kemudian hampir berhasil memperbaiki automaton. Tapi ia masih kekurangan satu komponen utama, yakni sebuah anak kunci berbentuk hati, yang kemudian dimiliki oleh Isabelle. Dari situlah, anak kunci berbentuk hati tersebut mampu membuat automaton berfungsi, mampu “menulis” sebuah pesan yang dianggap Hugo sebagai pesan terakhir dari ayahnya. Salah satu scene dari film yang diceritakan pernah ditonton oleh ayahnya, dengan sebuah nama tertera di pesan itu “George Melies”, yang ternyata nama asli dari Papa George.

O yeah, di saat ini saya pun berpikir bahwa Papa George kemungkinan besar masih memiliki kaitan keluarga dengan Hugo. Tapi ternyata salah! Karena kalo benar, film Hugo akan segera selesai.. tapi nyatanya masih ada ceritanya lagi..😆

Singkat cerita, Hugo dan Isabelle kemudian mengetahui bahwa Papa George atau George Melies adalah seorang sineas sukses pada zaman sebelum perang (dunia 1?). Banyak sekali film produksinya, dengan ketenaran yang cukup tersebar. Namun semua berubah ketika negara api menyerang terjadi perang, dan minat para penonton pun berubah. Seiring dengan pergantian zaman, perlahan tapi pasti karya-karya George Melies pun hilang, rusak, atau bahkan dijadikan benda keperluan perang. George Melies pun sedih, frustasi, dan enggan mengingat lagi masa lalu (jayanya) tersebut.

Meskipun kemudian Papa George (dan Mama Jeanne, istri Papa George) seakan kesal karena “rahasia”-nya diketahui oleh Hugo dan juga Isabelle, tapi dengan kesungguhan hati dan keinginan yang tulus, pada akhirnya Papa George mau kembali mengingat (mengenang) masa lalu (jayanya) tersebut. Hal ini takkan terwujud tanpa “bantuan” dari Rene Tabard, seorang profesor bidang film, yang semula meyakini bahwa George Melies sudah meninggal akibat perang.

And so, sesuai ucapan Papa George dan Mama Jeanne “happy ending only happens in movies”, begitupun film Hugo. Papa George mendapatkan pengakuan akan karya-karya filmnya, dikenang oleh khalayak ramai, dan Hugo mendapatkan keluarga baru yang menyayanginya, melindunginya, dan bertanggungjawab untuknya.

Ada satu adegan di film Hugo ini yang cukup mengena dan menjadi garis merah dari film ini menurut saya. Yakni, adegan di saat Hugo berbincang dengan Isabelle, mempertanyakan apa “fungsi” dari kehadiran mereka di dunia ini. Dan, Hugo membuktikan bahwa ia “berfungsi” dengan memperbaiki automaton (yang ternyata buatan dari Papa George), serta membuat Papa George dan Mama Jeanne merasakan penghargaan yang selayaknya.

Buat saya pribadi, film ini memang layak untuk mendapat nominasi 11 piala Oscar – serta memenangkan 5 piala Oscar di antaranya. Singkat kata, kelima piala Oscar yang dimenangkan memang pantas untuk film Hugo ini; Cinematography, Art Direction, Visual Effects, Sound Mixing, dan Sound Editing, karena sepanjang film ini saya terkagum-kagum dengan kelima hal tersebut. Bahkan, penyutradaraan dari Martin Scorcese pun menurut saya begitu hebat dalam mengarahkan Asa Butterfield (Hugo), Ben Kingsley (George Melies), hingga Sacha Baron Cohen (Station Inspector) dengan segenap aspek film lainnya sehingga nuansa film yang bersetting di kota Paris pada era 1920-1930an begitu terasa.

Cuman 1 “kekurangan” di film Hugo ini menurut saya pribadi. Yakni, alur dan ceritanya yang berjalan cukup lambat. Buat para penggemar film yang selama ini selalu senang dengan perubahan scene dan aksi yang begitu cepat, siap-siap saja untuk “menunggu” dan bersabar sepanjang film ini untuk mendapatkan pesan dan nilai yang disampaikan. Meski begitu, alur dan cerita yang jalannya cukup lambat ini sepertinya memang disadari oleh Martin Scorcese, sehingga ia memberi porsi yang cukup untuk tampil di layar bagi karakter-karakter “penyempurna” seperti Station Inspector, Lisette (gadis tukang bunga), Monsieur Labisse, dan masih banyak lagi.

Jadi, nilai untuk film ini dari saya adalah.. 9 dari 10.

PS:

  1. Salah satu executive producer film Hugo ini adalah salah satu aktor ternama, dan di film ini tampaknya dia tampil beberapa kali sebagai cameo tanpa dialog namun cukup sering di-shoot. Bisa tebak siapa dan sebagai cameo apa?:mrgreen:
  2. Film Hugo ini diangkat dari cerita novel ilustrasi berjudul The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick.
  3. Karakter George Melies adalah tokoh nyata, dan memang pembuat film terkenal pada zamannya.
  4. Website film Hugo ada di sini.

Tagged: , , , , ,

§ 3 Responses to Hugo, Anak Lelaki Yang “Berfungsi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hugo, Anak Lelaki Yang “Berfungsi” at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: