Taksi Tarif Atas-Bawah? Sama Aja Tuh..

April 5, 2012 § 19 Komentar

Meskipun saya mengutamakan angkutan umum untuk transportasi ke mana-mana, tapi taksi adalah pilihan terakhir yang akan saya gunakan dari beragam jenis angkutan umum. Alasannya klise, harga yang harus dibayar bisa jadi berkali-kali lipat daripada jenis angkutan umum lainnya. Tapi tentu, taksi pun memiliki kelebihan lain, antara lain lebih nyaman dan pasti terlindung dari terpaan angin, panas, dan hujan.

Tapi, saya juga punya dua alasan yang menjadikan taksi sebagai angkutan umum utama yang saya gunakan untuk bepergian. Yaitu, apabila sedang dalam kondisi darurat atau menjaga keamanan saya. Alias: kepepet dan butuh cepet!:mrgreen: Lalu, kalo udah gitu pilih taksi yang mana? Saya pribadi punya 2 preferensi merek taksi yang digunakan – khusus untuk wilayah Jakarta. Tapi, kalo udah kepepet dan butuh cepet banget, kadang taksi yang lewat pun langsung aja saya setop, dan gunakan – tapi yang pasti bukan taksi yang eksklusif itu, melainkan taksi yang “biasa”.

Buat yang “suka” merhatiin taksi, para taksi yang “biasa” itu ada 2 macam. Yakni yang pasang tulisan “tarif bawah”, dan yang ga pasang. Awalnya, saya kira kalo taksi yang “tarif bawah” itu akumulasi argonya bakal lebih murah, dll. Tapi ya.. setelah dibuktikan sendiri, nyatanya sama aja dengan taksi yang ga pasang tulisan itu.

Saya bisa bilang sama aja, ga lain karena pengalaman saya sendiri. Beberapa kali saya naik taksi – baik itu yang tarif bawah maupun yang bukan tarif bawah, di jam dan hari yang sama (tapi pastinya beda tanggal), total argo yang harus saya bayar sama aja untuk jarak tempuh yang sama. Meski, kalo ditanya soal traffic-nya sendiri, saya kurang tau sama atau enggaknya, tapi ya.. argonya kok ya bisa sama gitu.

Contohnya ya.. misalkan Blok M-Grand Indonesia, di hari Senin sore. Kalo pake taksi “tarif bawah”, argo yang harus dibayar adalah sekitar 45ribu. Dan, di minggu depannya, saya pake taksi “non-tarif bawah”, argo yang harus dibayar pun ya.. segitu itu. Sekitaran 45ribu. Pertamanya aneh.. tapi, di kesempatan lain saya naik taksi “tarif bawah” dan yang bukan dengan jarak yang sama, iseng-iseng aja saya perhatiin.

Nyatanya, taksi “tarif bawah” meskipun argo mulai dan per 100 meternya lebih murah, tapi ia lebih cepat bertambahnya. Sementara itu, taksi “non-tarif bawah” meski argo mulai dan per 100 meternya lebih mahal, tapi bertambahnya lebih perlahan. Jadilah, totalnya pun sama.

So.. Kalo ditanya taksi “tarif bawah” atau bukan, saya ya.. agak lebih pilih taksi yang “non-tarif bawah”. Alesannya sederhana aja sih, prinsip keamanan. Meski memang – lagi-lagi, kalo kepepet dan butuh cepet, ya.. semua taksi yang duluan lewat pasti saya setop dan gunakan.:mrgreen:

Kalo kamu, milih taksi yang gimana?

Tagged: , , , ,

§ 19 Responses to Taksi Tarif Atas-Bawah? Sama Aja Tuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Taksi Tarif Atas-Bawah? Sama Aja Tuh.. at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: