Kami Ingin Jakarta Aman!

Juni 22, 2012 § 23 Komentar

Ada premis umum yang bilang… “Ga ke Jakarta namanya, kalo ga ke Monas.” Oke, premis itu ga salah, tapi juga ga langsung berarti benar. Karena, masih ada premis lainnya, yang sepertinya lebih tepat dan sesuai dengan kenyataan. Mau tau? Nih, di bawah..

Ga di Jakarta namanya, kalo ga pernah kena tindak kejahatan (atau yang menjurus tindak kejahatan).

Pesimis? Berpikir negatif? Mengundang keresahan? Hmm.. ga juga. Buat saya pribadi, yang pernah kena tindak kejahatan, dan beberapa kali menyaksikan tindak kejahatan di Jakarta, hal seperti ini menjadi benar adanya. Ini benar-benar riil. Nyata. Dan ada di kehidupan kita sehari-hari.

Saya ga berniat menyebarkan aroma pesimisme atau negatif dari postingan ini, karena ini sekadar share saja. Dan, mau tau apa tindak kejahatan yang pernah terjadi ke saya? Salah satunya adalah dicopet.

Jadi, ceritanya gini.. dulu, waktu saya baru (balik lagi) ke Jakarta untuk kuliah selepas lulus SMA, saya melakukan perjalanan bersama seorang teman menggunakan kereta api KRL Jabodetabek. Berbekal pengetahuan seadanya tentang trayek KRL dan transportasi alternatif lainnya, naiklah saya bersama teman saya di suatu sore jelang Maghrib. Dan sekarang, saya bisa bilang kalo pilihan waktu tersebut adalah salah karena gerbong KRL penuh sesak dengan penumpang. Walau begitu, saat itu karena butuh jadi tetap saja naik.

Beberapa stasiun terlewati, dan kepadatan dalam gerbong seakan-akan tidak berkurang sama sekali walau ada penumpang naik dan turun. Sesak, bau asam, dan lelah bercampur jadi satu. Saya dan teman saya berusaha untuk saling menjaga, tapi yah.. namanya juga lagi apes (atau emang sudah jalannya), tindak kejahatan pun terjadi juga.

Di gerbong KRL yang penuh sesak, entah gimana ceritanya saya terdorong ke bagian yang agak gelap karena lampunya mati. Di situlah, saya mulai merasakan saku celana depan dan belakang saya mulai diraba-raba. Mulanya saya pikir itu orang iseng, semacam PK, jadi saya coba abaikan (sambil berdoa mudah-mudahan tidak terjadi pelecehan). Tapi nyatanya, rabaan tersebut mulai terasa hendak mengambil dompet! Saat itulah saya pun langsung menahan dompet saya dengan tangan kanan yang sedari awal sudah saya simpan di dekat saku, sementara tangan kiri saya mencoba bertahan di KRL dengan meraih apapun yang bisa digapai. Sesal pun timbul, karena saya sama sekali tak membawa tas atau kantong yang bisa saya simpan di dada untuk menyimpan dompet. Tak lama, tangan itu pun pergi.

Dalam penuh sesaknya gerbong KRL, saya menerka-nerka tangan siapa tadi yang hendak mengambil dompet saya. Saya pun berharap agar tidak ada lagi percobaan pencopetan itu, tapi harapan tinggallah harapan. Beberapa saat kemudian kembali lagi saya diraba-raba, kali ini dari 2 arah dengan 2 tangan yang berbeda.

Sambil mengumpat dalam hati, saya memaksakan diri untuk menurunkan tangan kiri saya untuk menahan kedua usaha copet tersebut. Tapi usaha mereka terus dilakukan, seraya memaksa untuk mengambil sudut dompet saya dari sela-sela tangan saya. Sedikit putus asa, saya kemudian sedikit berteriak di tengah riuhnya gerbong KRL ke teman saya, mengajaknya turun di stasiun terdekat. Syukurnya, teman saya mengiyakan walau ia tahu stasiun tujuan masih jauh.

Sambil terus menahan agar dompet saya tak berpindah tangan, dan anehnya gerilya copet tersebut masih berlangsung, saya bergeser dan mendorong-dorong kerumunan penumpang agar bisa mendekati pintu keluar. Walau tak persis, namun saya berhasil mendekati pintu keluar dan dompet masih di saku celana sementara gerilya si copet sudah berhenti. Tapi, itu sepertinya tak menghabiskan akal si copet.

Beberapa menit setelah saya berhasil pindah ke dekat pintu keluar bersama teman saya, stasiun terdekat pun segera tiba. Lagi-lagi, turun dari gerbang KRL pun harus ekstra kerja keras, karena didesak sana-sini. Dan di situlah terjadi tindak kejahatan berupa pencopetan!

Karena dompet saya tak berhasil dicopet, si copet yang sepertinya sekomplotan ini, mengincar jam tangan saya. Saat saya mendesak-desak kerumunan orang di pintu KRL untuk turun, tangan kiri saya, yang terpasang arloji, yang sedang memegang pegangan agar tidak jatuh, tiba-tiba saja didekati oleh sebuah tangan yang dengan lihainya menarik arloji saya hingga putus dan diambil. Ingin mulut untuk berteriak, tapi entah kenapa hati mengikhlaskan saja. Segera setelah selamat keluar dari KRL, dan berada di peron, saya pun mencari duduk sambil mengecek dompet, uang, dan ponsel di saku. Semuanya utuh.

Teman saya yang kemudian berada di samping saya di peron, kemudian bertanya apakah sedari tadi ada yang berusaha untuk mencopet. Saya jawab ada, bahkan arloji saya jadi korban. Dan, dia juga memberitahu bahwa sedari tadi ia merasakan tasnya, serta saku celananya diraba-raba. Makanya, saat saya mengajaknya turun di stasiun terdekat, ia pun langsung mengiyakan.

Sedih rasanya kehilangan arloji itu. Tapi ya, kadang-kadang harus dilihat sisi positifnya, setidaknya dompet, uang, dan ponsel saya masih utuh. Dan paling penting adalah, tidak ada pisau yang menodong, atau saya tidak didorong keluar gerbong KRL saat kereta berjalan. Membayangkannya saja sudah ngeri.. – walau kemudian, bertahun-tahun setelahnya saya menyaksikan sendiri todongan dengan pisau, atau usaha mendorong penumpang keluar KRL.

Sejak peristiwa pencopetan itulah, saya pun menjadi lebih berhati-hati. Lebih waspada. Dan paling penting, melatih diri untuk lebih cerdas memilih waktu dan moda transportasi. Membaca situasi pun lama kelamaan menjadi sebuah “keahlian” yang hadir dengan sendirinya. Karena, kejahatan di Jakarta ini bisa terjadi kapan saja, di mana saja, terhadap siapa saja, dan dengan modus apa saja. Oiya, selain dicopet, saya juga pernah “dipojokin” preman kala di bus kota, “diancam” pengamen, dipalak, hingga hampir dicelakakan di jalan raya saat menggunakan alat transportasi pribadi.

Duh Jakarta, penduduknya ini yang setiap hari harus bergelut mencari sesuap nasi, juga harus bergelut dengan kondisi keamanan yang tidak terjamin… 😦

22 Juni ini Jakarta ulang tahun, dan sudah seharusnya dilantangkan “Kami Ingin Jakarta Aman!”

NB: blogpost ini bukan dalam rangka dukungan terhadap calon gubernur/wakil gubernur tertentu, bukan dalam rangka pilkada DKI, juga bukan tanda ketidaksetujuan terhadap pejabat tertentu.

Iklan

Tagged: , , ,

§ 23 Responses to Kami Ingin Jakarta Aman!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kami Ingin Jakarta Aman! at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: