5 Hal yang Sulit Saya Temukan di Jakarta (dan sekitarnya)

September 10, 2013 § 12 Komentar

Sebagai seorang warga Negara Indonesia yang berasal dari keluarga multikultur (ayah saya keturunan Jawa, ibu saya keturunan Sunda), dan sempat tinggal di beberapa tempat berbeda (paling lama tinggal di tanah Sunda, kini tinggal di Jakarta, tapi sempat “jalan-jalan” ke Kalimantan dan Papua), ada beberapa hal yang sulit saya temukan di Jakarta (dan sekitarnya).

Hal-hal yang sulit itu bervariasi, mulai dari makanan, tempat, hingga kebiasaan. Kebanyakan, tentunya yang saya temukan di kota/tempat lain, tapi tidak saya temukan di Jakarta (dan sekitarnya). Apa aja? Ini dia..

      1. Nasi Tutug Oncom – Nasi TO
        Buat kebanyakan orang Sunda – atau lama tinggal di ranah Sunda, tentu (harusnya) tahu apa itu nasi TO. Nasi bercampur oncom yang dibuat tutug (saya belum nemu padanan katanya di bahasa Indonesia), dengan rasa yang sedikit gurih, asin, dan pedas yang bukan pedas seperti sambal. Sampai saat ini, saya belum nemu tempat atau orang yang jualan itu. Jadi, kalo lagi kangen dan pengen, paling minta tolong sama ibu saya untuk bikin, atau minta tolong kenalan yang lagi pulang kampung ke Tasikmalaya (salah satu kota di Jawa Barat), agar pada saat balik lagi ke Jakarta bawa seporsi nasi TO. Tentunya, nasi TO yang dibawakan harus langsung dimakan setelah tiba, agar tidak basi.

        Nasi TO. Foto dari laman InfoTasik. Klik foto buat laman lengkap.

        Nasi TO. Foto dari laman InfoTasik. Klik foto buat laman lengkap.

      2. Sambal terasi – di warung makanan kecil
        Walau di Jakarta begitu mudah terasi bisa dijumpai di pasar, tapi jarang dan sulit rasanya nemuin sambal terasi di warung makanan kecil. Entah, apa karena ga doyan terasi atau malas “ditempeli” aroma terasi, tapi yang pasti sulit menemukan sambal terasi. Padahal, sambal terasi itu enak dimakan sama nasi putih panas, sama nasi TO juga enak, atau dimakan dengan gorengan panas. YUM!
      3. Pantai yang bersih, dengan akses mudah dan gratis
        Coba, di Jakarta (dan sekitarnya) ada ga pantai yang bersih dan mudah diakses plus gratis pula? Kaya’nya ga ada ya. Ke tepi laut aja harus bayar minimal retribusi, ke pasar ikan juga gitu.
      4. Mie ayam (yamin) dan bakso plus daging giling/cincang
        Rata-rata, mie ayam atau mie bakso di Jakarta ya pasti berkuah. Kalopun ga berkuah, bisa diyamin gitu, pasti macam mie ayam. Dan, kalo ada tambahan daging, itu bukan daging giling atau cincang, melainkan daging ala mie ayam. Kenapa saya pengen mie ayam (yamin) dan bakso plus daging giling/cincang? Karena rasanya enaaaakkk.. Coba itu para penjual di Tasikmalaya buka cabang di Jakarta ya, pasti enak deh..:mrgreen:

        Mie Bakso Laksana, Tasikmalaya

        Mie Bakso Laksana, Tasikmalaya. Foto dari flickr-nya “nitrorexic”. Klik foto buat laman flickr-nya.

      5. Bubur ayam lengkap dengan cakwe!
        Nah, di Jakarta kaya’nya belom nemu deh bubur ayam yang dilengkapi dengan cakwe. Jangankan cakwe, kadang kerupuk aja ga dikasih. Udah gitu kecap manis pun perlu minta dulu. Haduh, padahal kan bubur ayam campur cakwe, tambah emping, plus kecap manis itu ENAAAAKKK… *jadi laper*

Kadang suka mikir, kalo bikin/buka usaha makanan yang saya sebutin di atas di Jakarta, laku kali ya? Secara, yang pengen pasti ga cuman saya.. *tapi bingung mau buka di mana, dan belum tau modalnya harus berapa*

Kalo kamu, apa sih yang kamu pengen banget tapi sulit ditemukan di Jakarta?

Tagged: , , , , ,

§ 12 Responses to 5 Hal yang Sulit Saya Temukan di Jakarta (dan sekitarnya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 5 Hal yang Sulit Saya Temukan di Jakarta (dan sekitarnya) at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: