Menikmati Hening

September 25, 2013 § 8 Komentar

“The Stupas of Borobudur” photo by Prihanda Muhardika di website Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. – klik foto buat info lebih lanjut

Suara, sebuah objek yang bisa dirasakan oleh indra pendengar manusia. Sebuah objek yang lazimnya diciptakan oleh benda-benda yang beradu, ataupun mengisi kekosongan. Sebuah objek yang bisa menjadi sebuah kerinduan di dalam kesepian, maupun juga sebuah pengganggu jika terlalu banyak yang didengarkan.

Lazimnya, manusia hidup dengan selalu dikelilingi suara, karena fitrahnya manusia adalah untuk mendengar, sebagai salah satu bagian dalam menggunakan panca indra. Namun, ada beberapa waktu yang justru butuh kondisi di mana suara-suara dikesampingkan. Hening. Untuk kemudian dinikmati. Atau mungkin juga, menjalani hening agar dapat berpikir lebih jernih. Tentang hidup, tentang sehari-hari, tentang ciptaan Tuhan, tentang bersyukur.

Buat saya pribadi, konsep menikmati hening perlu diterapkan dalam sehari-hari. Setidaknya, sebagai penyeimbang. Tujuannya? Sudah jelas, supaya dapat berpikir lebih jernih, supaya lebih cermat terhadap sebuah perihal, supaya lebih fokus. Pelaksanaannya sendiri, bisa setiap saat dan tak perlu lama. Walau begitu, waktu yang paling pas buat menikmati hening bagi saya adalah ketika malam menjelang pagi.

Ketika sebagian besar makhluk hidup masih beristirahat, dan sebagian lagi sedang bersiap-siap untuk menyongsong hari dengan kesibukan di tempat masing-masing, saat itulah – bagi saya – keheningan yang paling nikmat. Saat itu pula sepertinya tepat bagi saya untuk mencari pemecahan berbagai tantangan yang sedang saya jalani, membuat beberapa rencana, hingga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dan, bagi saya pribadi pula, konsep menikmati hening ternyata telah mengakar di dalam sejarah dan budaya Indonesia – terlepas dari agama, kepercayaan, dan atau sikap politik. Menikmati hening yang juga bisa diartikan sebagai bentukan meditasi, telah tercermin melalui patung dalam stupa-stupa di Candi Borobudur di Jawa Tengah, Indonesia. Dengan posisi mengelilingi candi di setiap lantai, patung-patung tersebut menghadap ke lingkungan sekitar, dalam posisi duduk yang bisa dianggap sebagai meditasi. Yang ketika dipikirkan lebih jauh, patung tersebut sedang dalam posisi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dalam hening, dengan mengamati lingkungan sekitar.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, foto diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Dari Candi Borobudur itulah, saya belajar bahwa pencapaian terbesar bagi seorang manusia bukanlah tentang memiliki kekuatan yang mendekati atau lebih besar daripada Penciptanya. Pencapaian terbesar manusia, adalah tentang mengakui kebesaran Sang Pencipta yang salah satu perwujudannya adalah membuat mahakarya yang mencerminkan keagungan Tuhan.

Menurut kamu, gimana?

NB: Tanpa mengurangi kandungan isi, blogpost ini tengah diikutsertakan dalam blogging competition yang menjadi bagian dari Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

Tagged: , , ,

§ 8 Responses to Menikmati Hening

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menikmati Hening at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: