Badai Salju di Tokyo

Februari 21, 2014 § 7 Komentar

Badai Salju di Tokyo

Sejak akhir November lalu mendapat penugasan keluar negeri mulai dari Seoul, Korea serta kali ini ke Tokyo, Jepang, saya sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi winter atau musim dingin. Salju, angina kencang, suhu mendekati nol derajat atau bahkan di bawah nol, hingga rendahnya kelembapan adalah hal-hal yang harus diatasi sepanjang penugasan tersebut.

Syukurnya, kali ini akses informasi serta jaringan keuangan internasional sudah lebih baik dibanding saat saya pertama kalinya menghadapi musim dingin bersalju di negeri orang – 2007 lalu. Jadi, cara-cara untuk mengantisipasi musim dingin di Seoul, Korea dan Tokyo, Jepang pun sudah cukup siap. Mulai dari pakaian, sepatu, hingga makanan. Tapi, ada satu hal yang belum bisa diatasi, yaitu badai salju atau snowstorm.

Sebagai makhluk tropis, “bertemu” dengan salju itu adalah hal yang amat sangat disyukuri. Tapi, bagaimana dengan badai salju? Tentu sebagai makhluk yang terbiasa dengan suhu hangat, kelembapan tinggi, badai salju adalah hal terakhir yang saya harapkan akan saya temui dalam penugasan keluar negeri ini. Dan, “beruntungnya” hal terakhir yang saya harapkan tersebut menjadi kenyataan.

Pada periode penugasan ke Tokyo pada pertengahan Januari hingga awal Februari lalu, sekali dan mungkin pertama kalinya dalam hidup, saya “menghadapi” badai salju atau snowstorm. Untungnya, berbekal prakiraan cuaca yang bisa diikuti via internet dan juga TV lokal (walau berbahasa Jepang), saya sudah bisa memperkirakan kapan badai salju akan datang. Dan, tepat sehari sebelumnya sudah mulai mengumpulkan beberapa bahan makanan dan minuman di penginapan.

Jumat malam hari, 7 Februari, saya baru saja pulang dari membeli beberapa bahan makanan di Ameyoko, Ueno-Okachimachi bersama rekan-rekan setim dalam penugasan. Langit cerah. Angin bertiup lemah. Bahkan bulan pun terlihat jelas. Cuaca tidak menunjukkan bahwa keesokan harinya badai salju akan menghantam Tokyo.

Sekitar jam 2 dini hari Sabtu 8 Februari ketika saya tidur, saya masih sempat mengecek suasana luar melalui jendela di penginapan, dan semuanya masih sama seperti ketika saya pulang tadi. Ketika akhirnya terlelap jam 3 dini hari dan terbangun sekitar 5 jam kemudian, pemandangan di luar jendela sudah silau karena penuh dengan warna-warna putih. Salju sudah datang, dan hampir seluruh bangunan yang terlihat melalui jendela penginapan sudah diliputi salju.

Iseng, saya buka jendela dan kemudian memeriksa apa benar salju tersebut turun dan selesai atau memang ada badai seperti prakiraan cuaca. Hasilnya? Angin bertiup kencang. Dan iya, badai salju atau snowstorm datang sesuai prakiraan cuaca.

Pertanda lain bahwa badai salju datang adalah jalan kecil yang biasanya digunakan untuk akses depan penginapan dan bisa dilintasi oleh kendaraan roda 4, mendadak seakan-akan ditimbun oleh salju tebal. Beberapa warga sekitar penginapan bekerja gotong royong membersihkan tumpukan salju tersebut.

Jam 10, jam 11, jam 12, jam 1, hingga akhirnya jam menunjukkan sekitar jam 2 siang, saya pun memutuskan untuk keluar dari penginapan. Tujuannya: hendak mengambil refund uang tur yang sudah dibayarkan untuk jadwal hari Sabtu tersebut, namun dibatalkan karena cuaca. Cukup besar juga perjuangan untuk keluar dari penginapan hingga ke stasiun subway terdekat, karena benar saja salju tebal hampir di mana-mana, sehingga harus ekstra hati-hati agar tidak terpleset. Belum lagi terpaan angin kencang dan juga salju yang masih turun deras.

Sekitar 30 menit perjalanan dengan kereta, uang tur pun sudah bisa di-refund. Setelahnya? Karena sudah berada di pusat kota, sekalian saja cari makanan jadi dulu sebelum pulang ke penginapan yang terletak di lokasi residensial. Hasilnya? “Mendapatkan” pemandangan badai salju di mana-mana. Walau angin kencang, salju yang turun begitu banyak, namun masih banyak penduduk Tokyo yang pulang pergi entah itu ke pusat perbelanjaan, bekerja, dan lain-lain.

Sekitar 3 jam kemudian, setelah selesai makan dan juga mencaritahu sebesar apa dampak dari badai saljunya, pulang pun menjadi pilihan utama. Karena dikabarkan bahwa beberapa line subway dibatalkan karena relnya tertutup salju, serta ada isu bahwa subway di hari tersebut akan tutup lebih awal – biasa last track jam 12an lewat, tapi karena badai salju maka jam 7an malam beberapa line akan mengakhiri layanan di hari tersebut.

Beruntung, subway line ke arah penginapan masih tetap beroperasi walau memang jam-jam 6an sore itu begitu banyak orang-orang yang mengantri di berbagai stasiun subway. Kalau di hari biasa, jam-jam ramai dengan antrian orang di subway station itu sekitar jam 7 malam lewat.

Alhamdulillah, walau menghadapi berbagai jalanan licin, angin kencang, salju turun yang begitu deras, akhirnya sampai dengan selamat di penginapan. Dan, setelah membaca beberapa berita, ternyata badai salju di hari Sabtu 8 Februari tersebut adalah salah satu badai salju terparah sepanjang sejarah Tokyo dengan beberapa korban yang jatuh dan subway banyak yang delay. Penerbangan di Tokyo pun terganggu di hari tersebut, dengan begitu banyak penerbangan yang delay dan penumpang menumpuk di bandara karena tak bisa terbang, namun juga kesulitan akses untuk pulang/keluar dari bandara. Beritanya bisa diliat di sini, di sini, atau di sini.

Alhamdulillah, saya selamat dari badai tersebut.

NB: Foto ilustrasi adalah milik AFP dan yang aslinya dimuat di artikel di sini.

Tagged: , , , ,

§ 7 Responses to Badai Salju di Tokyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Badai Salju di Tokyo at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: