Lalu-Lalang di Jakarta

Maret 10, 2015 § 4 Komentar

Being mobile in Jakarta

Kalo di-English-kan, begitu maksudnya judul postingan ini. Keliatannya memang lebih keren pake bahasa Inggris sih, tapi karena saya orang Indonesia & berusaha supaya bisa menggunakan bahasa Indonesia yang kosakata-nya (sebenernya amat sangat) kaya, jadilah judulnya seperti itu.

Back to topic sesuai judul lah malah ga konsisten pake bahasa Indonesia :mrgreen: , berlalu-lalang di Jakarta itu butuh tekad yang kuat. Bayangin aja, kondisi macet pada jam sibuk (rush hour) yang dulu maksimal bikin perjalanan molor jadi 1 jam, sekarang bisa jadi berjam-jam. Contohnya gampang aja: beberapa tahun yang lalu, dari seputaran Tanjung Barat Jaksel ke arah Prapanca Jaksel, kalo naik angkutan umum maksimal 1 jam — itu 30 menit perjalanannya, dan 30 menit rata-rata waktu menunggu angkutannya. Sekarang? Perjalanannya sendiri bisa 1 jam, menunggunya bisa 1 jam juga. Padahal, Prapanca dan Tanjung Barat itu hitungannya deket dalam jarak.

Kebayang kan kalo perjalanannya dari ujung ke ujung seperti Tangerang ke Jakarta Timur, atau Depok ke Jakarta Utara, dan lain-lain. 2 jam itu bisa perjalanannya sendiri. Waktu menunggu angkutan umumnya bisa lebih lama lagi.

Sebagai solusi, jadilah banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. Mobil, ataupun motor. Mobil jelas, bisa pake jalan tol pinggir kota dan dalam kota. Motor juga jelas, untuk urusan selip-menyelip di antara keramaian lalu lintas ibukota lebih mudah digunakan. Tapi, solusi tersebut jadi mandeg kadang-kadang ketika mobil harus lewat jalan protokol/biasa non-tol, dan gunakan motor kemudian hujan.

Personally, sejak bulan Desember lalu saya jadi lebih banyak lalu-lalang di Jakarta. Anter-jemput & meeting, jadi alasan utama kenapa saya jadi lebih banyak lalu-lalang (mobile). Dan rata-rata waktu yang saya habiskan di jalanan ketika hari kerja, 5-6 jam sehari. Sekitar 1/4 bagian dalam waktu hari kerja saya sudah habis buat di perjalanan. Walau kesal, sebal, dan kadang-kadang bikin penampilan jadi lusuh, ya mau ga mau itu harus saya terima, sih karena tinggal dan bekerja di Jakarta.

Kalo kamu, rata-rata berapa jam sehari yang kamu habiskan di perjalanan untuk lalu-lalang (mobile) di Jakarta?

Iklan

Tagged: , , ,

§ 4 Responses to Lalu-Lalang di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Lalu-Lalang di Jakarta at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: