Pajak dan Segala yang Terkait

April 15, 2015 § 2 Komentar

Pertama kali saya “kenal” pajak secara mendetail itu di sekitar tahun 2008-2009. Waktu itu pertama kalinya saya punya NPWP karena waktu itu kalo ga salah lagi ada sunset policy, dan kebetulan tempat bekerja saya di periode itu menganjurkan (dengan sedikit nada wajib) seluruh pekerjanya untuk melaporkan NPWP (nomer pokok wajib pajak). Alhasil, sejak periode 2008-2009 saya terdaftar sebagai wajib pajak yang sah dan tercatat di keuangan negara. *halah*

Omong-0mong soal wajib pajak sendiri, pertama kalinya saya denger istilah ini periode akhir 1990-an. Waktu itu saya masih tinggal di Tasikmalaya, dan tau istilah itu karena (alm.) Ayah saya pertama kalinya punya NPWP dan coba membuat usaha sendiri untuk menghidupi keluarga. Waktu itu saya liat kartu NPWP yang dimiliki olehnya, merasa kagum sekaligus bangga bahwa beliau menjadi warga negara yang baik — yang di kemudian hari, saya sadar kalo jadi warga negara yang baik itu banyak caranya, ga cuman taat peraturan dan pajak aja.

Balik ke kejadian yang dialami (alm.) Ayah, saya pikir juga dengan terdaftar udah cukup. Nyatanya engga, karena beberapa tahun kemudian, beliau dipanggil untuk menghadap ke kantor pajak terdekat untuk mengurus laporan dan lain-lain. Detailnya saya kurang tau persis, tapi singkat cerita akhirnya selesai dan itu jadi salah satu pengalaman yang kurang nyaman bagi beliau.

Makanya, pada saat tahun 2008-2009 saat saya bilang hendak daftar NPWP dan lain-lain, beliau sempat melarang. Alasan persisnya saya kurang ingat, tapi sepertinya sih karena pengalaman beliau itu. Tapi ya karena dorongan agar potongan bulanan dari penghasilan tidak lebih besar dari rata-rata, dan juga terdorong untuk menjadi warga negara yang baik, singkat cerita saya pun punya NPWP.

Repot atau engga, untung atau engga, punya NPWP setidaknya cukup membuat saya nyaman di kebanyakan hari-hari sepanjang tahun. Ga nyamannya cukup 1-10 hari aja dalam setahun. Itupun ga nyamannya karena harus mengumpulkan bukti potong pajak penghasilan/pendapatan (atau bukti potong pajak sesuai peraturan) lalu dilaporkan ke kantor pajak terdekat. Iya, proses ngumpulin dan mengisi SPT itu kurang nyaman, karena jika salah mengisi bisa jadi wajib pajak yang semula tagihan pajaknya nihil — karena sudah dibayarkan otomatis secara bulanan karena dipotong dari penghasilan, bisa muncul tiba-tiba karena salah perhitungan.

Bukan, saya bukan ga setuju atau ngajarin untuk mengakali potongan pajak, melainkan sekadar himbauan untuk lebih berhati-hati saat mengisi SPT dan melaporkan pajak yang sudah dibayarkan/dipotong. Dan tentunya, pengisian SPT juga disesuaikan dengan jenis pajak yang dibayar — sebagai pemilik usaha kah, penghasilan lebih dari 1 pemberi kerja kah, dan lain-lain.

Dan karena postingan ini topiknya soal pajak, sama seperti pembayar pajak (dengan NPWP atau tidak) lainnya yang mayoritas warga negara Indonesia, saya penasaran aja sih total pengumpulan pajaknya itu disalurkan ke mana aja ya? Ke pembangunannya sih jelas, yang saya maksud itu transparansi biaya pembangunan dan juga pajak yang dibayarkan. Selama ini kan masyarakat (dan juga saya) disodorinnya berita atau kabar soal kondisi makro aja — total pajak, tapi detailnya ke mana aja ga tau. Atau mungkin, sebenarnya udah ada laporannya cuman bukan buat konsumsi publik.

Well.. manapun, saya sih berharapnya pajak dan juga laporan pajak yang dilakukan secara rutin itu benar-benar digunakan untuk kemaslahatan umat.:mrgreen:

Tagged: , , ,

§ 2 Responses to Pajak dan Segala yang Terkait

  • ibnuhabibi mengatakan:

    Penyalurannya bisa dilihat di laporan APBN-P produksi kementerian keuangan, mas. Sila di-google saja dan masuk ke website mereka.

  • Michael Su mengatakan:

    Paling pusingg soal pajak-pajakan gini, apalagi kalau sudah memasuki bulan Maret.. makin pusingg.. Untungnya aset juga ga banyak hanya rumah 1, mobil kebetulan blm beli memang..

    Thanks God, di usia saya yang 26 tahun ini saya sudah bsa mulai mencicil rumah walau ga begitu besar dengan type 40, paling tidak saya bisa punya rumah masa depan..

    Berikut ini contoh type rumah saya, DPnya murah banget hanya Rp 20jtaan aja, sangat meringankan banget memang hehehe..
    http://www.citragrandcity.com/promotion/tropicalvalley/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pajak dan Segala yang Terkait at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: