Karakter Komik

Juni 10, 2015 § 5 Komentar

Dari kecil saya ga begitu ngikutin komik — membaca komik. Kalopun ada buku-buku yang saya baca, lebih seringnya cerita bergambar, ataupun cerita fiksi yang dihiasi gambar di beberapa halamannya. Dulu, (alm.) Ayah saya yang mengarahkan saya untuk membaca yang bukan komik. Saya lupa persis alasannya apa, tapi mungkin supaya saya lebih suka membaca kata-kata, ketimbang melihat gambar ilustrasi.

Lebih besar sedikit, kegemaran membaca buku fiksi tersebut saya sadari cukup membantu saya untuk lebih tekun dalam membaca buku yang lebih banyak teksnya ketimbang gambar. Jadi lebih tahan gitu deh, simpelnya. Tapi bukan berarti saya ga suka gambar ilustrasi atau buku komik ya, saya cuma lebih menyenangi buku dengan tulisan yang banyak dan deskriptif.

Sedikit banyak sepertinya kebiasaan dan dorongan itu yang di kemudian hari membuat saya juga suka menulis. Iya, menulis dengan tangan, menggunakan alat tulis seperti pena/pensil di atas kertas. Rasanya nyaman sekali untuk mulai menulis dan kemudian melanjutkannya. Seringkali hingga tulisan selesai, dan seringkali juga tidak selesai — seperti beberapa draft cerita fiksi saya yang tak kunjung selesai.

Balik ke soal komik, perkenalan saya pada komik sebenarnya sudah dimulai sejak kecil juga. Tapi terbatas hanya pada Donal Bebek. Titik. Dunia komik yang lebih luas daripada komik baru saya sentuh ketika SD, yakni ketika mulai membaca komik dari Elkom — Kungfu Boy, Chinmi. Iya, itu komik pertama yang saya baca. Dari situlah kemudian saya keranjingan untuk mencari awal mula seri Kungfu Boy, dan masih banyak lagi. Bahkan hingga ke komik-komik dari Amerika, yang dulu pernah didistribusikan oleh Misurind/Midas — CMIIW.

Karakter komik yang saya paling suka hingga saat ini tak lain adalah Detektif Conan. Terlepas dari nasibnya yang ironis — jadi anak kecil tapi pemikiran orang remaja (atau bahkan dewasa), dia mampu untuk memecahkan segala macam permasalahan yang terjadi. Hanya satu yang tak bisa (atau sudah) ia pecahkan, yakni bagaimana caranya menjadi bertubuh dewasa lagi. Tapi saya udah lama banget sih ga ngikutin serial ini. Secara teknis, saya berhenti mengikuti komiknya teratur sejak lulus SMA. Sejak masuk kuliah, udah ga pernah ngikutin lengkap lagi.

Kalo dari US, saya pernah suka banget sama karakter komik Cyclops yang jadi bagian dari X-Men. Iya, saya suka sama kacamatanya. Titik. Itu aja. Di film layar lebar X-Men, saya baru ngeh kalo Cyclops selain kacamatanya ya udah, biasa aja.😆

Kalo kamu, suka karakter komik siapa? Dan kenapa?

Tagged: ,

§ 5 Responses to Karakter Komik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Karakter Komik at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: