Klub Bola Favorit

Juni 30, 2015 § 3 Komentar

AC Milan.

Kesukaan saya terhadap AC Milan sepertinya diturunkan oleh (alm) Ayah saya. Beliau suka sekali dengan trio Belanda: Van Basten – Gullit – Riijkaard yang sukses membawa AC Milan sukses pada periode 80an akhir s.d. 90an awal. Padahal saya dulu masih kecil — umur TK-SD, tapi omongan beliau perihal trio Belanda tersebut serta menyebutkan klubnya, mau tak mau kemudian saya ikut menganggap AC Milan adalah klub bola paling bagus, paling keren, paling mantap.

Jelang lulus SD hingga awal-awal masuk SMP, saya kemudian mulai membaca-baca sendiri tabloid olahraga seperti Bola dan GO. Dulu juga ada Libero, dan terbitan khusus bola di hari-hari khusus pada harian Kompas. Sedikit banyak mulai mengikuti perkembangan dan info detail dari klub AC Milan, sejarah, dan lain-lain. Juga tahu perihal trio Belanda yang tak lagi ada di AC Milan, serta bintang-bintang selanjutnya seperti Bierhoff, dan lain-lain.

Jaman 90-an akhir hingga awal tahun 2000 prestasi AC Milan tak begitu bagus — meski juga tidak jelek. Gagal scudetto dan gagal di Champions, bukan berarti saya jadi tidak suka terhadap mereka. Kecewa memang, sedih apalagi, tapi tidak lantas membuat saya lebih menyukai klub lain seperti Lazio, Juventus, atau Inter Milan — di Italia. Saya tetap suka, tapi juga tidak lantas menjelek-jelekkan klub lain. Iya, saya termasuk orang-orang dengan paham “fans klub yang ngejelek-jelekin klub lain saat terpuruk, bukanlah fans sejati.”

Walau begitu, saya tidak menutup mata terhadap perkembangan sepakbola di liga lainnya di kawasan Eropa. Seingat saya, dulu saya sempat suka dengan Liverpool. Alasannya simpel, mereka sudah lama tidak juara Liga Inggris. Tapi karena satu dan lain hal, klub kesukaan saya di Liga Inggris pun pindah ke Manchester United.

Untuk Spanyol, tak lain dan tak bukan Barcelona jadi klub favorit saya. Alasannya rumit sekaligus sederhana: saya kagum dengan semboyan “Catalan is not Spain” yang sering digembar-gemborkan oleh fans mereka di saat Barcelona bertanding.

Untuk Jerman sendiri, dulu saya sempat ikut-ikutan juga dengan kesukaan (alm) Ayah saya, yakni menyukai Borussia Dortmund. Tapi lambat laun, entah kenapa tak ada lagi klub favorit saya di liga Jerman. Iya, klub favorit saya di masing-masing liga hanya ada di Inggris, Spanyol, dan Italia. Kalo dibilang mana yang paling favorit, sudah jelas kan di awal tulisan ini?

Oiya, kalo buat Indonesia sendiri, saya sih ga fanatik amat sama klub tertentu. Semua klub bagi saya baik dan bagus. Tapi yang sudah pasti, setiap juara yang hadir setiap tahunnya selalu bisa membuat saya kagum. Karena (sepertinya) belum ada juara 2 tahun berturut-turut di Liga Indonesia — sejak Liga Dunhill 1995(?).

Kalo kamu, klub bola favoritnya siapa?

Tagged: , , , ,

§ 3 Responses to Klub Bola Favorit

  • Billy Koesoemadinata mengatakan:

    Tambahan: 90an akhir AC Milan sempat jadi scudetto jelang perayaan 100tahun klub.

  • didut mengatakan:

    AC Milan, ah menjadi klub medioker sekarang gara-gara gak berani lepas dari masa lalu #ForzaMilan

  • Wasiun Mika mengatakan:

    Klub-klub italia sekarang kurang darah, penonton pun tidak seramai di Liga Inggris atau Spanyol, entah kenapa. Rasanya karena mereka kurang berani meliberalisasi kepemilikan asing. Tapi ya itu tadi, AC Milan juga pernah terkenal era Maldini, George Wah hingga Andrey Schevcenko (kalau gak salah ???). Kalau saya sekarang lebih suka klub dari liga inggris. Disamping gegap gempita, juga gaya permainan cepatnya membuat decak kagum kala menontonnya. Barvo sepakbola. PSSI ??? tidur lagi…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Klub Bola Favorit at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: