Media Cetak, Satu dan Beberapa Hal..

April 7, 2016 § Tinggalkan komentar

Seumur hidup sampai dengan sekarang, saya selalu kagum dengan media cetak, baik itu bentukannya (majalah, surat kabar/koran, tabloid, dan lain-lain), maupun juga orang-orang yang berada di belakangnya – wartawan, penulis, redaksi/editor, percetakan, sampai dengan distributor.

Pertama kali saya mengenal media cetak adalah masa-masa kecil, sebelum menginjak bangku sekolah — TK sekalipun, yakni dalam bentuk majalah. Majalah Bobo adalah bentukan media cetak yang pertama-tama saya kenal dan mengisi hari-hari saya. Betapa saya senang melihat gambar-gambar yang berada di halaman-halamannya, sampai dengan huruf-huruf besar yang membantu saya belajar membaca. Cinta pertama saya terhadap menulis dan membaca, adalah ya dari media cetak itu.

Berkembang dari majalah, kemudian bertambah album Donal Bebek mingguan/dwimingguan. Dulu orangtua saya berlangganan terhadap tukang koran yang rutin lewat rumah. Setiap kali ada edisi baru majalah dan album tersebut, selalu saya dan kakak saya berebut untuk membaca lebih dulu. Di saat senggang pun, hampir sering berebut untuk menikmati media tersebut.

Meski kemudian ada serial kartun yang legendaris (Saint Seiya, Doraemon yang masih ada sampai dengan sekarang, dan lain-lain) di saluran TV yang bukan TVRI — begitu saya menyebutnya ketika kecil dulu, tapi media cetak langganan tersebut tetap tak hilang dari keseharian. Bahkan menginjak sekolah SD, media cetak yang saya kenal bertambah kepada surat kabar/koran yang menjadi sumber untuk tugas-tugas kliping mengenai topik-topik tertentu. Dari situ kemudian saya mengenal istilah wartawan, jurnalis, sampai dengan reportase.

Menginjak usia remaja, perasaan saya terhadap media cetak tak berubah. Bahkan bertambah dengan majalah-majalah dan tabloid-tabloid feature selayaknya remaja lainnya. Majalah gaya hidup untuk cowok, majalah musik, sampai dengan tabloid olahraga menjadi konsumsi rutin. Jika tak bisa beli, bisa dengan meminjam pada teman. Maklum, uang saku saya tak cukup untuk membeli sendiri dengan rutin. Meski begitu, dari beragamnya media cetak yang saya konsumsi, saya jadi tahu banyak hal yang tak selalu saya dapatkan di TV.

Setelah selesai kuliah, passion saya untuk bekerja sempat menarik saya untuk kemudian bergabung ke dalam sebuah media cetak di sebuah grup besar. Bangga, jelas. Senang, sudah tentu. Cukup lama saya bergabung di sana — 3 tahun, sebelum kemudian beralih ke pekerjaan lain yang masih terkait dengan media.

Kini, mendengar dan membaca berita bahwa media cetak sudah mulai beranjak ke fase senjakala atau juga menghadapi kondisi yang cukup membuat ketar-ketir, jelas membuat saya sedih. Meski memang harus diakui, media cetak harus mau untuk berubah dengan pola konsumsi para pembacanya. Saya pribadi memang sudah lama sekali tidak mengonsumsi media cetak secara langsung, meski begitu saya masih senang untuk melihat betapa media cetak masih tersedia di pinggir-pinggir jalan dijajakan oleh para pengecer.

Sedikit banyak, saya pun berpikir apakah yang membuat saya menyenangi media cetak:

  1. Tulisan yang dimuat adalah tulisan yang paripurna. Hasil buah pemikiran dari jurnalis/reporter/wartawan dengan pemilihan kata (diksi) yang hati-hati, dengan tetap memperhatikan gaya bahasa khas individu yang sejalan dengan media yang menaunginya.
  2. Gambar yang dimuat adalah gambar yang terbaik. Baik dari sisi kualitas, momen, sampai dengan nilai berita. Saya cukup tahu bagaimana sulitnya untuk membuat dan memilih foto atau gambar terbaik untuk dimuat ke dalam sebuah media cetak, dengan memperhatikan kualitas percetakan, kemungkinan kesalahan cetak, sampai dengan pengelolaan media gambar tersebut.
  3. Topik atau berita yang disampaikan di media cetak adalah yang terkini dengan porsi yang berimbang. Narasumber peristiwa, narasumber ahli, sampai dengan narasumber pemerintahan menjadi sumber sebuah tulisan untuk menyampaikan berita. Memang, beberapa media cetak memiliki paham-paham tertentu — tapi lagi-lagi, bukankah itu sudah ada sejak jaman perjuangan dan kemerdekaan dulu?
  4. Bagian dari sejarah. Segala yang tercetak dan disampaikan melalui media cetak adalah bagian dan bukti dari sejarah. Tahapan kehidupan dan perkembangan jaman bisa ditemui dengan catatan yang telah disampaikan melalui media cetak. Meski memang harus menghadapi kenyataan bahwa hanya pemenang yang berhak menentukan sejarah.

Dari keempat poin tersebut, maka saya setuju jika media cetak harus berubah. Harus berevolusi menjadi sebuah produk yang lebih baik agar lebih tahan terhadap perkembangan jaman, terhadap pergerakan teknologi, terhadap hempasan ekonomi. Seperti yang terjadi di beberapa media cetak di grup besar, salah satunya seperti yang ditulis di sini.

Satu dan lain hal, saya benar-benar mengharapkan media cetak untuk bertahan. Bagaimanapun, media cetak telah melahirkan jurnalis-jurnalis kawakan yang kini mengadaptasi teknologi serta para penulis-penulis hebat. Dan saya akan menjadi bagian dari orang-orang yang bersedih jika kemudian media cetak berhenti untuk beredar…

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Media Cetak, Satu dan Beberapa Hal.. at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: