Sehat Itu Mahal(?)

September 28, 2016 § 1 Komentar

Kalo dijaga baik atau lagi ga sakit, kesehatan ga berasa mahalnya. Baru berasa mahalnya ketika harus dirawat, baik itu ke dokter aja atau dirawat di RS.

Seumur-umur dan seingat saya bisa mengingat, saya belum pernah dirawat di RS. Bukannya saya sombong, saya justru bersyukur banget bisa (cukup) menjaga kesehatan. Caranya sederhana, mulai dari mengenali tubuh sendiri & sinyal-sinyal yg timbul ketika tidak enak badan, sampai dengan menjaga pola hidup — makan, istirahat, aktivitas.

Tapi, itu bukan berarti saya ga pernah sakit..

Sakit yang cukup bikin ga enak sama sekali pernah saya alamin juga. Mulai dari penyakit kulit yang seperti cacar/bruntusan (atau emang cacar beneran bisa jadi), gejala tipes, sampai dengan sakit gigi. Sakit-sakit tersebut pernah bikin saya drop & harus istirahat minimal 3 hari sampai dengan maksimal seminggu. Harusnya sih, istirahatnya sampai lebih dari seminggu, tapi saya menolak untuk terus sakit & atau merasakan sakit. I mean, ketika sakit itu berarti peluang untuk lebih mengenali badan dan juga tau kapan badan udah siap untuk “dipaksakan” sehat lagi.

Balik lagi ke judul postingan, sehat itu mahal — dengan tanda tanya, karena menjaga kesehatan ga akan berasa mahalnya apabila dipelihara dengan cara yang tepat. Contohnya gini: udah tau punya sakit maag, ya makanan dan juga pola makan dibuat teratur dan dipilih yang tidak menimbulkan potensi maag. Ga perlu/harus makanan yang menyehatkan banget seperti 4 sehat 5 sempurna setiap saat, tapi bisa dimulai dengan tidak mengonsumsi yang bisa menyebabkan penyakit. Sederhananya, sakit selama 3 hari akibat sakit maag bisa jadi menghabiskan Rp 300,000 untuk ke dokter dan obat-obatan. Coba kalo selama setahun dijaga sama sekali, Rp 300,000 dibagi 365 hari itu setara dengan 800-900 perak per hari untuk mencegah sakit maag.

Murah apa mahal, tuh?

Contoh lainnya, adalah sakit gigi. Dulu awal-awal jadi dewasa, saya suka ga ngerti kenapa tarif dokter gigi bisa beda banget sama dokter umum biasa. Udah gitu, dianjurkan untuk rutin. Begitu saya sakit gigi, dan beneran harus ke dokter gigi, baru deh ngerti kenapa tarifnya begitu dan juga anjuran untuk rutin. Karena gigi termasuk bagian tubuh yang bekerja hampir ga henti selama sadar (ga tidur), sejak kecil. Selain itu, terpapar oleh berbagai macam zat dan perilaku. Otomatis, perawatannya beda dibandingkan bagian tubuh lainnya. Dan, pencegahan untuk sakitnya bisa dilakukan lebih murah lagi dan lebih sederhana lagi.

So, balik lagi ke kalimat pertama, sehat itu ga (berasa) mahalnya kalo dirawat pada saat ga sakit. Makanya beberapa tahun belakangan ini, doa yang saya panjatkan ke Tuhan bertambah satu lagi: memohon kesehatan dan sanggup tetap berada di jalan-NYA.

Kamu pernah ngabisin biaya berapa untuk tetap sehat?

§ One Response to Sehat Itu Mahal(?)

  • nengbiker mengatakan:

    5juta sekian (yg kemudian diganti kantor). sakit: maag akut, perutnya kaget gara2 lebaran makanannya santen semua :)). padal pas puasanya malah gapapa.

    yg perlu dijaga itu terus sih sampai sekarang. oya, akhir2 ini repots sama gigi juga. yg satu berlubang, yg satu lagi masi dicari penyebabnya. tapi gpp sih bolak balik ke dokter gigi yg ini. orangnya nyenengin :)) #alasanapapulaini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sehat Itu Mahal(?) at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: