Pilkada DKI dan Saya

Januari 5, 2017 § 3 Komentar

Disclaimer: Bagi yang berharap saya menuliskan nama pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI yang saya dukung atau tidak dukung, silakan kecewa duluan. Postingan blog ini lebih ke hal-hal generik terkait pilkada DKI. Tapi tidak menutup kemungkinan saya sebutkan juga, suatu hari nanti. 🙂 Kalo ga ngarepin, ya nikmati aja. *berasa penting banget*

2017 ini ketiga kalinya saya mengikuti gelaran Pilkada DKI. Pertama tahun 2007. Kedua tahun 2012. Ketiga ya tahun ini.

Di 2 pilkada sebelumnya apakah mendukung calon yang sama? Jawabannya TIDAK. Lebih karena pada tahun 2007 saya memutuskan untuk tidak datang ke TPS dan memberikan suara saya. Lebih karena juga saya merasa tidak ada pasangan calon yang mewakili apa yang saya rasakan, inginkan, harapkan. Dan saya menyesal tidak memberikan suara saya. Karena bisa jadi satu suara saya juga memberikan perbedaan. Karena saya seharusnya bisa memanfaatkan hak saya sebagai warga negara untuk memilih kepala daerah di tempat saya berdomisili dan bekerja.

Beda cerita di pilkada DKI tahun 2012. Saya merasa ada pasangan calon yang mewakili apa yang saya rasakan, inginkan, dan harapkan. Oleh karena itu saya pun mendatangi TPS. Saya lupa persis apakah saya termasuk pemilih dalam daftar cadangan (menggunakan surat suara sisa) atau tidak. Tapi saya masih ingat persis mencoblos surat suara dan mencelupkan jari kelingking ke tinta sebagai tanda telah menggunakan hak suara.

Di tahun ini, pilkada DKI tahun 2017 saya berencana untuk kembali mendatangi TPS dan menggunakan hak suara saya. Lagi-lagi, dalam 5 tahun terakhir saya juga baru pindah alamat KTP lagi. Saya berharap tidak perlu menunggu waktu pemungutan suara terakhir untuk bisa memilih — seperti pada Pemilu 2014 lalu, melainkan bisa sejak dari pagi hari. Apalagi RT setempat saya sudah mendata mengenai jumlah pemilih ke rumah saya sejak akhir tahun 2016 lalu. Dan semangat saya untuk datang ke TPS lebih besar daripada 2012 lalu, juga gabungan dengan penyesalan 2007 lalu. Yakni karena saya merasa ada pasangan calon yang mewakili apa yang saya rasakan, inginkan, dan harapkan serta saya berharap hak suara saya bisa membuat perbedaan, serta memanfaatkan hak saya sebagai warga negara.

Saya melihat Pilkada (di DKI) dan juga Pemilu adalah salah satu bentuk hak dan kewajiban saya sebagai warga negara. Hak saya untuk menggunakan suara saya, serta kewajiban saya untuk turut serta menyukseskan pemilihan kepala daerah dengan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Iya, seperti jargon pemilu dari jaman orde baru yang kemudian diwariskan dan ditambahkan saat masuk orde reformasi.

Buat yang melihat bahwa saya cenderung main aman atau oportunis, saya persilakan. Saya disebut swing voters pun tidak masalah, karena faktanya memang seperti itu. Tapi secara pribadi saya punya prinsip, pandangan pribadi terkait politik yang tidak wajib saya utarakan kepada siapapun. Penyaluran melalui postingan blog ini sekalipun adalah salah satu bentuk dari rasa gemas (kalo ga dibilang kepedulian) terhadap situasi terkini.

Sebagian orang juga mungkin menilai postingan blog saya ini sebagai terlambat, dan atau ketinggalan. Apalagi mengingat saya tidak punya afiliasi politik, dan atau sejarah terkait permasalahan sosial dan politik (praktis?). Lagi-lagi saya bilang, silakan. Saya cuma berharap siapapun kepala daerah DKI yang terpilih nanti bisa bekerja dengan baik, memberikan kemajuan bagi warga DKI dan yang PP DKI, serta selaras dengan cita-cita bangsa dan negara.

Iklan

Tagged: , , , , , ,

§ 3 Responses to Pilkada DKI dan Saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pilkada DKI dan Saya at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: