Jelek

Februari 28, 2017 § Tinggalkan komentar

Cuma orang jelek yang ngata-ngatain orang lain jelek.

Jujur saja, kesimpulan itu ga saya dapatkan dengan mudah. Ada masa-masa penolakan, masa-masa kemarahan, sampai dengan masa-masa di mana saya menerima, menyimpulkan, lalu mengalihkan.

Kesimpulan itu juga yang menjadi salah satu kalimat yang saya ucapkan ke anak saya yang mulai sekolah.

Singkat cerita, seperti biasa saya mengantar anak saya ke sekolahnya. Dan belakangan ini sudah saya mulai tinggal sepanjang jam belajar, dan jemput kembali pada saat pulang. Tujuannya baik, antara lain membuatnya lebih mandiri saat jam belajar di sekolah dan membiarkannya lebih banyak berinteraksi dengan kegiatan dan teman-teman di sekolahnya. Tapi salah satu kejadian di pagi hari saat saya mengantar belakangan ini cukup menggugah saya.

Setelah memastikan tas sekolahnya berada di bangkunya di kelas, saya hendak berpamitan pada anak saya untuk pulang dulu. Di saat itu pula ia menarik tangan saya. Dan, seperti diajarkan oleh praktisi hubungan orangtua-anak, saya pun berlutut dan menyejajarkan mata saya dengannya.

“Pi, abang-abang yang itu bilang aku jelek.” anak saya bercerita sambil menunjuk beberapa anak lelaki yang berada di kelas di atasnya.

Sambil melihat ke arah yang ia tunjuk, saya pegang tangannya, “Kamu ga jelek. Kamu cantik.”

“Tapi abang-abang itu bilang aku jelek melulu.”

Sambil menarik napas dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk merespon, saya kemudian teringat kalimat kesimpulan yang menjadi awal postingan ini. Saya pun bilang, “Cuma orang jelek yang ngata-ngatain orang lain jelek.”

Entah langsung dimengerti atau tidak, tapi anak saya tidak merespon lagi. Meski tidak tersenyum, tapi sebagai orangtuanya saya tahu kalimat yang saya ucapkan itu sangat sederhana dan bisa dimengerti olehnya – meski mungkin tidak saat itu juga. Tapi saya lega dan bersyukur sudah mengucapkan kalimat itu.

Sambil di jalan pulang, saya pun kembali teringat beberapa peristiwa sampai akhirnya saya mendapatkan kalimat kesimpulan itu. Di beberapa fase kehidupan saya, tidak jarang saya diperdengarkan betapa saya tidak-cukup-tampan, tidak-cukup-baik, tidak-cukup-rupawan oleh orang-orang di sekitar saya. Dan seperti yang saya tuliskan di awal tulisan, ada masa-masa terkait yang akhirnya saya mendapat kesimpulan itu.

Untuk diketahui, kalimat-kalimat yang diucapkan kepada saya bisa jadi dalam konteks bercanda. Tapi kalau diucapkan lebih dari sekali, apakah masih bisa disebut sebagai bercanda? Lalu, bukankah ucapan tersebut dapat membentuk pribadi seseorang seperti yang diucapkan apabila individu tersebut tidak sadar diri dan atau mendapat bantuan/dukungan? Oleh karena itulah, saya bersyukur saya sudah mengucapkan kalimat itu pada anak saya.

Oiya, perihal “mengalihkan” yang saya sebutkan di awal postingan ini, tujuannya adalah dalam rangka melupakan. Karena (katanya) cara paling mudah untuk melupakan hal yang tidak mengenakkan adalah dengan mengalihkan energi yang semula untuk merespon kepada hal-hal lainnya. #dijelasin

Udah, gitu aja. 🙂

Anyway, postingan ini dibuat dalam rangka sesekali nyerita soal kehidupan sehari-hari saya. Tadinya mau saya buat di kamantara, tapi entah kenapa saya urungkan. Saya merasa rendah dibandingkan para penulis di sana yang tutur bahasanya lebih baik, dan penceritaannya menyentuh.

Foto: dapet bikin dari #pathdaily di Path.

Jadi kamu jelek, atau ga jelek?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Jelek at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: