Hoax, Berita Palsu(?)

Juli 13, 2017 § 2 Komentar

Berita palsu atau salah (karena bukan memberitakan fakta), belakangan makin banyak muncul dan tersebar. Konon karena kemudahan penyebaran melalui ponsel dan atau saluran digital/internet. Sehingga tak jarang berita tersebut seakan-akan menjadi fakta, padahal bukan.

Hoax. Demikian berita palsu atau salah tersebut disebut. Kalo kata salah satu kamus (dictionary), hoax diartikan sebagai berikut,

to trick into believing or accepting as genuine something false and often preposterous – Merriam-Webster

Nyambung kan sama paragraf pertama blogpost ini?

Dulu-dulu, hoax muncul dalam skala yang kecil meski penyebarannya bisa jadi luas juga. Bingung? Oke, maksudnya adalah beritanya terkait keseharian tapi ga langsung berdampak, lalu nyebar ke beberapa circle atau lingkungan, tapi tidak sekaligus, melainkan bertahap. Nah, karena itu dulu-dulu hoax gampang buat ditanggulangi, karena bagi yang skeptis (anggap aja begitu), pasti akan langsung mencari fakta terkait lalu di-counter. Tapi sekarang? karena adanya ponsel dan digital, kadangkala hoax lebih langsung menyebar dan penanggulangannya baru lama kemudian.

Kenapa hoax bisa nyebar? Ya itu tadi: karena terkait keseharian. Dan anehnya, fakta yang merupakan penanggulangan hoax, justru lebih sulit diterima karena ga mutlak ada di keseharian.

Contoh hoax yang pernah terjadi — sejauh pengalaman saya: penyanyi cilik meninggal karena kesetrum. Hoax ini terjadi jaman 90an dulu, sebelum internet mudah diakses dan ponsel hanya dimiliki segelintir orang mampu. Masuk akal karena nyambung dengan keseharian — kesetrum dan siapa penyanyi ciliknya. Tapi ketika fakta disodorkan bahwa penyanyi cilik itu masih hidup dan sehat wal afiat, kadang sulit diterima karena kita ga liat secara langsung penyanyi cilik tersebut di keseharian — kecuali melalui media TV, itu juga kalo dia manggung atau video klipnya aja.

Hoax juga belakangan ini mudah menyebar karena diperhalus dengan istilah “kenyataan alternatif” — seperti yang digaung-gaungkan oleh presiden negara adikuasa. Bahkan dia terang-terangan mengambil sikap berseberangan dengan beberapa media besar — meski di sisi lain, dia juga memiliki grup media yang menjadi saingan media besar tersebut. Terkait hal ini, saya masih melihatnya dari sisi bisnis, bahwa media dan konten memang ada persaingan terkait produksi konten.

Hal yang cukup fatal dari hoax (mengabaikan sisi bisnisnya) adalah terkait kepercayaan. Media-media besar yang mengedepankan jurnalisme berimbang dan memiliki tradisi yang kuat tentang netralitas bisa jadi mulai kehilangan kepercayaan karena lebih banyak media-media kecil dengan framing dan sudut pandang tertentu yang menyebarkan berita palsu atau salah yang lebih dipercaya oleh banyak orang.

Terkait hoax ini sikap terbaik memang balik lagi ke pengguna atau konsumen: mau baca berita yang seperti apa, kapan, dan gimana menyikapinya. Tapi bukan berarti berdiam diri ketika menemukan hoax, apalagi di jejaring yang lebih kecil seperti grup whatsapp, facebook post, dan lain-lain.

Pernah nemu hoax apa?

Iklan

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Hoax, Berita Palsu(?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hoax, Berita Palsu(?) at i don't drink coffee but cappuccino.

meta

%d blogger menyukai ini: