XXXI

Maret 10, 2017 § Tinggalkan komentar

Bukan, ini bukan judul film Vin Diesel apalagi film stensilan (eh, emang ada?).

Ini soal angka prima. Yeah, right.

Oke, deh. Ini soal angka romawi. Nice try.

Baiklaaaahh.. ini soal usia. Dan ditulis dalam angka romawi. Kan lumayan buat tebak-tebakan dulu berapa angka sebenernya — kalo masih inget coding angka-angka romawi. :mrgreen:

Belakangan (say, 1-2 tahun terakhir) saya mulai berhenti membuat janji dan harapan yang berupa fisik atau besar. Bukannya ga ada ambisi, melainkan mencoba realistis sekaligus juga membuat prioritas. YES, YOU READ IT RIGHT!

Dan di usia yang baru ini — sejak beberapa hari yang lalu, harapan saya sederhana aja. Hidup sehat dan pas-pasan. –> Pas mau jalan-jalan, ada rejekinya. Pas mau beli sesuatu, ada duitnya. Pas mau begini-begitu, bisa dilakukan. 😆

Duh maap, ke-garing-an dan ke-jayus-an saya entah kenapa mulai memuncak lagi soalnya nih di kehidupan sehari-hari. Betul lho, saya termasuk orang yang ga bisa ngelucu. Kalopun ngelucu, ya garing atau jayus. Padahal kan katanya orang Sunda harusnya bisa ngelucu, tapi.. kaya’nya ga berlaku di saya. Atau jangan-jangan saya bukan orang Sunda. #yagitudeh

Intinya adalah… Puji syukur Alhamdulillah masih diberikan kesempatan, dan semoga tetap sehat sambil terus menjadi manusia yang lebih baik. AMIN.

Coba tebak berapa umur saya? — Ini kuis tanpa hadiah tapi yaa…

Jelek

Februari 28, 2017 § Tinggalkan komentar

Cuma orang jelek yang ngata-ngatain orang lain jelek.

Jujur saja, kesimpulan itu ga saya dapatkan dengan mudah. Ada masa-masa penolakan, masa-masa kemarahan, sampai dengan masa-masa di mana saya menerima, menyimpulkan, lalu mengalihkan.

Kesimpulan itu juga yang menjadi salah satu kalimat yang saya ucapkan ke anak saya yang mulai sekolah.

Singkat cerita, seperti biasa saya mengantar anak saya ke sekolahnya. Dan belakangan ini sudah saya mulai tinggal sepanjang jam belajar, dan jemput kembali pada saat pulang. Tujuannya baik, antara lain membuatnya lebih mandiri saat jam belajar di sekolah dan membiarkannya lebih banyak berinteraksi dengan kegiatan dan teman-teman di sekolahnya. Tapi salah satu kejadian di pagi hari saat saya mengantar belakangan ini cukup menggugah saya.

Setelah memastikan tas sekolahnya berada di bangkunya di kelas, saya hendak berpamitan pada anak saya untuk pulang dulu. Di saat itu pula ia menarik tangan saya. Dan, seperti diajarkan oleh praktisi hubungan orangtua-anak, saya pun berlutut dan menyejajarkan mata saya dengannya.

“Pi, abang-abang yang itu bilang aku jelek.” anak saya bercerita sambil menunjuk beberapa anak lelaki yang berada di kelas di atasnya.

Sambil melihat ke arah yang ia tunjuk, saya pegang tangannya, “Kamu ga jelek. Kamu cantik.”

“Tapi abang-abang itu bilang aku jelek melulu.”

Sambil menarik napas dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk merespon, saya kemudian teringat kalimat kesimpulan yang menjadi awal postingan ini. Saya pun bilang, “Cuma orang jelek yang ngata-ngatain orang lain jelek.”

Entah langsung dimengerti atau tidak, tapi anak saya tidak merespon lagi. Meski tidak tersenyum, tapi sebagai orangtuanya saya tahu kalimat yang saya ucapkan itu sangat sederhana dan bisa dimengerti olehnya – meski mungkin tidak saat itu juga. Tapi saya lega dan bersyukur sudah mengucapkan kalimat itu.

Sambil di jalan pulang, saya pun kembali teringat beberapa peristiwa sampai akhirnya saya mendapatkan kalimat kesimpulan itu. Di beberapa fase kehidupan saya, tidak jarang saya diperdengarkan betapa saya tidak-cukup-tampan, tidak-cukup-baik, tidak-cukup-rupawan oleh orang-orang di sekitar saya. Dan seperti yang saya tuliskan di awal tulisan, ada masa-masa terkait yang akhirnya saya mendapat kesimpulan itu.

Untuk diketahui, kalimat-kalimat yang diucapkan kepada saya bisa jadi dalam konteks bercanda. Tapi kalau diucapkan lebih dari sekali, apakah masih bisa disebut sebagai bercanda? Lalu, bukankah ucapan tersebut dapat membentuk pribadi seseorang seperti yang diucapkan apabila individu tersebut tidak sadar diri dan atau mendapat bantuan/dukungan? Oleh karena itulah, saya bersyukur saya sudah mengucapkan kalimat itu pada anak saya.

Oiya, perihal “mengalihkan” yang saya sebutkan di awal postingan ini, tujuannya adalah dalam rangka melupakan. Karena (katanya) cara paling mudah untuk melupakan hal yang tidak mengenakkan adalah dengan mengalihkan energi yang semula untuk merespon kepada hal-hal lainnya. #dijelasin

Udah, gitu aja. 🙂

Anyway, postingan ini dibuat dalam rangka sesekali nyerita soal kehidupan sehari-hari saya. Tadinya mau saya buat di kamantara, tapi entah kenapa saya urungkan. Saya merasa rendah dibandingkan para penulis di sana yang tutur bahasanya lebih baik, dan penceritaannya menyentuh.

Foto: dapet bikin dari #pathdaily di Path.

Jadi kamu jelek, atau ga jelek?

Mendekati Tanggal 15

Februari 2, 2017 § 2 Komentar

Saya ga dibayar oleh KPU. Ga dibayar juga oleh kandidat pilkada manapun. Postingan berikut di bawah ini murni dari hati nurani saya.

Politik. Hal tersebut kayanya rame banget 2-3 bulan belakangan ini. Jelas sudah, karena ada ajang pilkada. Tepatnya, pemilihan kepala daerah serentak. Untuk tahun 2017 ini diadakan di 101 daerah/kota/kabupaten/provinsi. Salah satunya Jakarta, kota tempat domisili saya saat ini.

Terkait politik itu pula dasar saya menulis blogpost ini. Tapi lagi-lagi, ini murni dari hati nurani saya. Bukan bayaran. Bukan berharap bayaran. Bukan juga karena gemas, jengah, kesal, atau sengaja untuk mempertontonkan dan menunjukkan kandidat pilkada mana yang saya dukung. Bukan, ya.

Postingan ini lebih ke ajakan saya untuk kalian — iya kalian pembaca, yang sudah memiliki hak pilih, baik itu terdata di daftar pemilih maupun tidak, tanggal 15 Februari nanti baiknya hadiri TPS terdekat sesuai di mana hak pilih bisa digunakan. KTP Jakarta? Jelas pilkada Jakarta. KTP Bekasi, jelas pilkada Bekasi. Jangan malas. Jangan menghindar. Datang ke Tempat Pemungutan Suara, dan gunakan hak pilihnya.

Pilkada bukan sekadar prinsip kandidat mana yang lebih benar, atau lebih salah. Karena kandidat pilkada manapun pasti akan didukung oleh para pendukungnya. Meski salah, akan dimaklumi. Apalagi benar, akan dipuji-puji. Pilkada, atau politik khususnya, lebih ke penyaluran aspirasi masyarakat – rakyat, terhadap jalannya pemerintahan. Tentang kepedulian terhadap siapa yang akan menjadi pemimpin dari para pelayan masyarakat atau abdi negara.

Jadi, sebelum tanggal 15, cermati setiap program kerja yang disodorkan oleh para kandidat pilkada. Catat jika perlu. Kemudian setelah terpilih nanti, awasi pelaksanaannya. Tegur langsung jika bisa, atau melalui perwakilan rakyat di tempat masing-masing.

Dan paling penting, TANGGAL 15 DATANG KE TPS untuk MENGGUNAKAN HAK SUARA pada pilkada. Every votes counts. Every voices matters.

Udah siap jadi warga negara yang menggunakan hak suaranya, ‘kan?

NB: Saya bukan PNS – meski berharap bisa jadi PNS. Mungkin kelak, jika ada rejeki.

Jelang Imlek 2017

Januari 26, 2017 § Tinggalkan komentar

Belum ujan.

Biasanya kalo mau Tahun Baru Imlek, sekitar Jakarta suka dilanda hujan. Pernah beberapa tahun yang lalu dan juga sekitar tahun 2000an, hujan besar melanda yang bikin macet dan genangan (banjir). Tapi tahun ini somehow, ujan beluman juga.

Yang saya maksud beluman juga, artinya belum ujan besar. Entah emang curah hujannya beda sama taun-taun sebelumnya, entah menunggu hari H Tahun Baru Imlek baru kemudian hujan besar. Anyway, antisipasi tetap dilakukan.

Jas hujan. Sandal. Istirahat cukup. Sampai dengan pemeriksaan prakiraan cuaca kapan dan di mana bakal hujan. Karena kalo ngeliat sejarahnya, Januari-Februari-Maret termasuk musim pancaroba. Hujan-panas ga bisa ditebak. Alhasil, jadi gampang sakit. Belum lagi meningkatnya risiko DBD — habitat nyamuk penyebabnya bertambah karena banyak air yang menggenang.

Anyway, jelang Imlek 2017 ini, sebagai salah satu pribadi dari warga keturunan — meski secara fisik udah ga keliatan, harapan saya di tahun yang baru nanti semuanya makin lancar. Dekat rejekinya. Dimudahkan usahanya. Dan paling penting makin dekat dengan Yang Maha Kuasa.

Oiya, Tahun Baru Imlek 2017 ini jatuh pada tanggal 28 Januari 2017. Nope, jangan tanya kenapa tanggalnya ga fixed setiap tahun. Beberapa tahun lalu ada di bulan Februari, kemudian Januari, etc, dll, dsb.

Somehow, sambil nulis blogpost ini saya jadi keingetan sama salah satu berita yang pernah saya lihat beberapa tahun lalu. Di Tiongkok daratan sana, jelang Imlek gini biasanya tiket kereta bakal ludes-des-des dan mahal banget. Karena seperti Lebaran di Indonesia, pada mudik gitu. Saya pribadi pernah ngalamin berada di daratan Tiongkok deketan tanggal tahun baru Imlek. Dan kereta sejenis commuter gitu, penuh aja lho.

Selamat Tahun Baru Imlek bagi kalian semua yang merayakan, ya!

Om, Telolet Om

Januari 19, 2017 § 5 Komentar

Biar ga dibilang ikut2an tren, saya baru ngepost topik ini sekarang. Udah basi sih kalo kata orang banyak. Still anyway, saya tetep pengen bahas. Secara, blognya juga saya ini yang nulis. :mrgreen:

Sebelom jadi viral sampe ke DJ kelas dunia, saya udah merhatiin asal-usulnya. Engga, saya bukan pakar marketing yang bisa menduga tren, tapi saya lebih ke (suka) neliti dari mana awal sebuah tren. Dan “Om Telolet, Om” ini saya udah pernah merhatiin darimana awalnya. Btw, tulisan soal marketing seringnya muncul di sini sih.

Alkisah (halah), jalur Pantura Jawa merupakan salah satu jalur darat terpadat dan tersibuk di dunia. Iya bener, di dunia. Arus manusia dan barang lewat jalur Pantura Jawa ini padet banget. Selain karena banyak kota persinggahan sejak jaman kesultanan/kerajaan, juga konon jalur Pantura ini udah grand-design-nya udah sejak jaman Daendels bikin jalur Anyer-Panarukan. CMIIW ya.

Nah, karena jalurnya padat dan sibuk inilah, beberapa sopir kendaraan besar – truk dan bus, bikin modifikasi sama klaksonnya. Entah apa alasan pastinya, bisa jadi biar ga bosen, bisa jadi biar langsung jadi identitas, wallahu alam. Tapi modifikasi klakson ini kemudian ditangkap oleh anak-anak penduduk sekitar jalur Pantura yang baru pada kenal hape untuk kemudian direkam. Iya, betul, direkam. Pernah baca di mana gitu, ngerekam klakson ini marak banget dan jadi ajang buat saling pamer di kalangan anak-anak tersebut.

Hal ini — anak2 ngerekam mobil lewat di jalur Pantura, udah pernah saya saksikan sendiri saat melakukan perjalanan darat ke Jawa via Pantura, pertengahan 2016 lalu. Sayangnya saya ga sempet bikin dokumentasi — secara nyetir gitu lho. Tapi beritanya pernah masuk ke beberapa portal berita, salah satunya artikel ini. Siapa sangka, hal-hal sederhana begitu bisa jadi viral sekitar 6 bulan kemudian — November, Desember 2016.

Setelah ini, apa ya yang bakal ngetren lagi sampe DJ kelas dunia ikutan?

2016 ini…

Desember 28, 2016 § Tinggalkan komentar

Buat saya pribadi tahun 2016 ini terasa sangat cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin saya ajak jalan keluarga kecil saya menikmati libur awal tahun, baru kemarin melakukan perjalanan darat (lagi) ke Yogyakarta, baru kemarin lebaran, lalu mendadak sudah akhir tahun saja. Benar-benar rasanya cepat.

Beberapa orang bijak berkata, jika waktu terasa cepat berlalu, bisa jadi yang dilakukan dengan waktu tersebut berguna dan menyenangkan. Mudah-mudahan benar adanya. Karena seperti keinginan pribadi saya, hendak menjadi lebih baik dan berguna setiap saatnya. Setiap berganti tahunnya. Meski memang tidak dituliskan dalam bentuk resolusi. Bahkan akhir tahun lalu saya “hanya” membuat review akhir tahun, dan bukan (lagi) resolusi untuk tahun yang baru.

Pendapat lain diungkapkan oleh orang lain yang lebih dewasa mengenai rasanya tahun cepat berlalu: yakni faktor kedewasaan. Usia mungkin termasuk ke dalam kedewasaan tersebut, karena sudah sepantasnya jika bertambahnya usia tentu menambah kedewasaan. Terkait apa yang membuat kedewasaan membuat waktu terasa lebih cepat berlalu, buat saya pribadi sepertinya lebih karena sikap “nrimo” dan sabar yang lebih banyak dipelajari dibandingkan sebelumnya. Tapi bukan berarti tidak melakukan perubahan atau menjadi yang lebih baik, hanya saja mengurangi sikap/sifat menentang dan percaya bahwa ada kekuatan yang sangat baik dan for a greater good. Iya, lebih percaya dan beriman terhadap Tuhan YME.

Berlanjut ke pencapaian dan review akhir tahun, 2016 ini bukan berarti tidak melakukan pencapaian apapun hanya karena terasa cepat berjalan. Ada kok pencapaian yang sudah dilakukan, hanya saja kali ini saya rasa cukup untuk saya sendiri saja.

Begitu. Dan Selamat menyambut Tahun yang Baru – 2017.

Gimana 2016 kamu?

Tas Gunung

November 23, 2016 § Tinggalkan komentar

Tas, kantung (lazimnya berukuran besar) yang digunakan untuk membawa barang-barang, bisa dibedakan menjadi berbagai macam nama turunan bergantung kepada jenis/model, pemakai, bentuk, sampai dengan kapan dipakenya.

Sejak kecil sampai dengan dewasa sekarang, sepertinya sudah belasan atau puluhan tas saya gunakan. Baik itu untuk keperluan sekolah, perjalanan jauh, sampai dengan bekerja. Beragam model dan ukuran pernah saya gunakan, pun juga warna dan bahan. Sedikit banyak, dari sekian banyak tas tersebut yang paling saya gemari adalah tas ransel — tas punggung berukuran cukup besar yang biasanya dirilis oleh produsen keperluan mendaki gunung.

Yep, you read that right: tas gunung, tapi bukan yang buat mendaki ya. Atau bisa juga dibilang tas buat outdoor yang ukurannya lebih kecil daripada buat mendaki.

Alasan saya memilihnya? Sepertinya sederhana, sbb:

  1. Isian/kantongnya banyak. Mulai dari yang paling kecil hingga paling besar. Mulai dari yang mudah diakses seperti di samping, sampai dengan yang kantung utamanya. Kantongnya banyak tersebut memudahkan saya untuk membawa beberapa barang dengan jenis berbeda — jika/saat diperlukan, tanpa harus membawa organizer lagi dan atau menyesuaikan tata letak di dalam lagi.
  2. (Biasanya) Bahannya tahan lama. Iya, serius. Tahan lama dalam artian bisa digunakan lebih dari 1-2 tahun. Buat saya, tas yang digunakan sehari-hari bisa berumur lebih dari 1-2 tahun itu hebat. Belum lagi kalopun rusak — biasanya, rusaknya justru di retsleting atau kaitan antara selempang dan bodi tas. Itupun masih bisa diperbaiki lagi — walau tentu kualitasnya berbeda dengan yang baru.
  3. Ringkas. Tas gunung identik dengan bentuknya yang ringkas, karena tujuannya tentu untuk memudahkan pergerakan dan tidak perlu takut nyangkut atau membuat susah berjalan.
  4. Dilengkapi tempat-tempat yang strategis untuk menambahkan aksesori. Iya, seperti gantungan kunci, pin, dan masih banyak lagi. Tapi ini sepertinya subyektif saya aja, karena mungkin saya ga tau apa fungsi aslinya jika digunakan untuk naik gunung. 😆

Beberapa merek produsen keperluan mendaki gunung yang merilis tas gunung yang saya kenal dan pernah saya gunakan antara lain Alpina, Eiger, Bodypack (ini kaya’nya bukan ya..), sampai dengan Consina. Khusus untuk merek terakhir — Consina, ini yang belakangan masih saya gunakan. Harganya juga bervariasi, namun cenderung di range 250rb-500rb. Harga-harga tersebut sudah cukup untuk mendapatkan tas gunung yang bagus dan fungsional.

Anyway, alasan saya menggunakan tas gunung juga karena belakangan modelnya makin modis — sederhananya dari warna yang lebih ngejreng dan ga kalem lagi. Lebih kekinian kalo kata anak jaman sekarang!

Kalo kamu, suka pake tas macam apa?

Where Am I?

You are currently browsing the harian category at i don't drink coffee but cappuccino.