Keganggu Jerawat

September 7, 2016 § Tinggalkan komentar

Pertama kali kenal jerawat, karena iklan TV. Dulu masih ga ngerti jerawat itu apaan, sampai kemudian ngalamin sendiri “terkena” jerawat di muka. Kalo ga salah sih pas SMP pertama kalinya. Dan rasanya emang annoying meski jerawatnya masih dalam kategori “biasa”.

Iya, jerawat biasa. Yang muncul di beberapa bagian muka antara lain jidat, pipi, dan hidung. Pernah juga muncul di deket-deket dagu, dan atau di atas bibir (tempat kumis). Tunggu 1-2 hari untuk mateng, kemudian bisa deh dipecahin dan atau pecah sendiri. Sakit? Jelas. Tapi lega. Soalnya annoying itu lhoo.. Duh.

Pas masih remaja dulu sekarang juga masih remaja sih, ga pernah tau kapan dan gimana kok bisa jerawatan. Paling bisa ditebak ya kalo keseringan main di luar dan atau keringetan sambil panas-debuan, pasti 2-3 hari kemudian jerawatan. Pake obat jerawat? Jelas pernah, tapi ga ampuh. Lebih ampuh kalo sering cuci muka — awal-awal masih rajin pake sabun pembersih muka, lama-lama cukup air biasa aja. Hemat. padahal pelit

Anyway, setelah beranjak (lebih) dewasa jerawat ternyata ga serta-merta berhenti. Kalo masih sering keluar rumah pas lagi panas-debu, masih aja kena jerawat. Apalagi makin sering naik motor, otomatis harus pinter-pinter buka-tutup kaca helm supaya ga jerawatan. Apalagi setelah nikah, jerawat kadang muncul juga dan bahkan dikaitkan dengan psikis-biologis. #ifyouknowwhatimean

Yang paling annoying dari berjerawat sekarang (saat sudah lebih dewasa) ini adalah posisi jerawat. Seringkali bukan lagi di muka (aja), melainkan juga di sekitar muka, yakni di telinga dan atau di deket telinga. Frankly, di dagu aja udah annoying banget, apalagi di telinga. Rasanya bikin sakit kepalaaaaaa banget. Apalagi jadi susah buat tidur miring — padahal kan enak tidur miring ya.

Sebelnya, udah jerawatan di muka bisa lama sembuhnya, nah di telinga ternyata lebih lama lagi sembuhnya. Kalo lupa lagi pengen garuk juga bisa bikin dug-dug-ser ga jelas jadinya. Dan ini lagi-lagi ga tau sih kenapa/gimana bisa jerawatan. Padahal tiap kali abis mandi pasti telinga (dan sekitarnya) diandukin sampe kering. Masa’ iya karena sering dengerin hal-hal yang kotor? #eh

Kalo kamu, pernah jerawatan kaya’ gimana (aja)?

Kalo Keujanan di Jalan, Musti Ngapain?

Agustus 30, 2016 § 6 Komentar

Neduh.

Jelas lah ya, kalo keujanan di jalan ya mendingan neduh. Selain menghindari air hujan yang bikin basah pakaian dan barang bawaan, juga ya mencari biar perjalanan ga musti was-was karena jalanan basah. Tapi kalo buru-buru, nanggung di perjalanan, dan atau pake kendaraan roda empat (mobil), jelas pilihannya lain lagi.

Kalo buru-buru di perjalanan kemudian keujanan, pilihan buat saya ada 2: lanjutin dengan berbasah-basahan, atau sejenak berhenti untuk kemudian menggunakan jas hujan & memastikan semua barang bawaan tidak akan diterpa air hujan. Pilihan pertama – lanjutin dengan berbasah-basahan biasanya saya pilih kalo tinggal pulang ke rumah dan atau pakaian sudah kepalang tanggung basah karena hujan mendadak besar tanpa sempat menggunakan jas hujan. Sering kejadian kalo lagi macet, atau tanpa ba-bi-bu air hujan turun deras dari langit.

Kalo nanggung di perjalanan, pilihan saya ga bakal neduh. Kalo pake angkutan umum biasanya saya akan berhenti sampai dengan tempat perhentian tertentu. Kadang saya terusin aja perjalanan sampai dengan akhir trayek karena sudah pasti ke tempat yang lebih aman dari hujan. Kalo pake kendaraan pribadi – motor, pun jelas saya akan tetap melanjutkan perjalanan sampai dengan ketemu tempat yang luas untuk berteduh dengan aman — rumah makan, cafe, mini market dengan teras, dan lain-lain. Bukan sembarang neduh di pinggir jalan. Kecuali, saya ga sendirian, biasanya berteduh menjadi pilihan utama — tentunya syaratnya adalah tidak sembarang di pinggir jalan/di bawah jembatan/underpass/flyover.

Kalo pake kendaraan roda empat (mobil), pilihannya biasanya sih terusin perjalanan. Tapi dengan syarat menurunkan laju kendaraan sampai dengan batas aman. Kalo ujannya deras, juga dengan menyalakan lampu rem/depan untuk memberitahu bahwa ada kendaraan saya yang lewat.

Postingan ini saya tulis karena belakangan Jakarta lagi dilanda hujan yang cukup deras bahkan sampai bisa membuat banjir — karena tanggul sungainya jebol sih.

Investasi Buku

Agustus 23, 2016 § Tinggalkan komentar

Iya, judulnya ga salah tulis. Memang investasi buku — tepatnya investasi melalui buku, dan bukannya buku mengenai investasi.

spend on books

Seperti pernah saya bilang sebelumnya, buku menjadi salah satu bagian dari kebiasaan saya yang hilang. Atau berangsur-angsur tidak saya lakukan lagi. Tapi meski begitu, sekitar 1-2 bulan terakhir ini saya berusaha keras untuk bisa membaca dan mengoleksi buku lagi. Diawali dari nyadar kalo Jakarta Book Fair taun ini ga ada, kemudian dateng ke beberapa tempat yang lagi obral buku — ini tanpa niatan sebelumnya.

Obral buku atau jualan buku bekas menjadi salah satu hal yang saya gemari. Bukan hanya karena harganya murah, melainkan juga ajang tersebut bisa jadi sebuah pencarian harta karun. Karena ga jarang para penjualnya mengobral/menjual buku-buku yang sudah lama saya incar pada saat harganya masih mahal, atau bukunya keburu ditarik dari peredaran. Entah karena dilarang, atau memang eksemplarnya habis lalu penerbitnya belum sempat mencetak lagi.

Memang saya akui, masih saja buku-buku tersebut bisa jadi akan teronggok tanpa tahu kapan akan saya baca (atau selesaikan membaca). Tapi setidaknya, dengan memilikinya membuat saya merasa lebih baik. Bukankah memiliki itu memang membuat kita terasa lebih baik?😛

Anyway, memiliki buku – baru ataupun bekas, sebenarnya juga bagian dari investasi. Minimal, investasi pengetahuan/pendidikan. Selain dari itu, jika kemudian buku tersebut dicari oleh orang lain karena langka, nilainya bisa lebih. Tapi itu jarang banget sih. Buat saya pribadi, selain investasi pengetahuan/pendidikan, buku juga merupakan investasi yang akan saya wariskan — jika bisa pada anak-anak saya. Saya tak ingin anak-anak saya mengenal saya dari keseharian saja, tapi juga apa minat, pemikiran, serta pengetahuan yang saya tahu. Dan, selain dari membuat jurnal (seperti blog ini), ya jelas dari (koleksi) buku.🙂

8 tahun

Agustus 12, 2016 § 2 Komentar

Setidaknya 4 bulan sudah saya belum ngeblog lagi. Pun dengan menulis cerpen lagi. Ga ada alasan khusus atau spesial, saya memang belum ngelakuin itu lagi aja. Ga ada momentum, ga ada dorongan lain. Emang lagi belum ada keinginan untuk lanjutin aja. Di masa-masa ini saya jadi agak paham alasan atau perasaan orang yang tiba2 saja memutuskan off-the-grid. Hilang. Begitu saja.

To be exact, saya sebenarnya ga ilang gitu aja. Masih ada channel lain di ranah digital yang saya apdet & bisa ditemukan untuk mencari tahu saya lagi ngapain. Ga perlu disebut lah ya, tinggal di-google aja.🙂 Tapi khusus yang posting panjang begini, emang belum lanjut aja.

Beberapa kenalan (dan atau teman) menanyakan kenapa saya belum ngapdet lagi. Saya pun jawab hal yang sama: emang belum aja. Alhamdulillah, masih ada yang penasaran sama tulisan-tulisan saya yang (lebih sering) ga penting gini. Ga sedikit juga yang spekulasi kenapa saya belom ngapdet lagi: mungkin sibuk kerja, mungkin waktunya ditambah ke untuk keluarga, mungkin digunakan untuk levelling Ingress dan atau ngejar Pokemon, dan banyak lagi. Manapun, benar-tidaknya, saya juga belum review sih.:mrgreen:

Tapi sekarang saya ngapdet. Minimal, ngeblog di sini. Kalo kali ini beneran ada momen sih. Atau tepatnya reminder. Beberapa hari yang lalu — masih di minggu ini, saya diberikan notifikasi oleh WordPress bahwa sudah 8 tahun sejak saya terdaftar di WordPress.com. Kurang lebih, 8 tahun itu kurun waktu otentik sudah berapa lama dan berapa banyak tulisan saya di dunia maya. Karena sebelum itu, beberapa tulisan tersebar di milis (yang sudah tidak lagi saya akses, baik karena di-ban atau exit), di blog lama (yang sudah saya hapus), dan lain-lain.

Mudah-mudahan, kali ini bisa bikin saya ngapdet lagi. Setidaknya, seminggu sekali seperti tahun 2015 lalu. Mudah-mudahan.

Menulis Tangan

Januari 27, 2016 § Tinggalkan komentar

Terakhir kali saya menulis tangan yang untuk mengingat kayanya pas kuliah D3 dulu. Iya, menulis tangan dalam artian mencatat. Lalu, apakah saat kuliah lanjut S1 kemarin tidak menulis tangan? Jawabnya, tentu saja menulis tangan tapi sayangnya ga langsung mengingat, melainkan untuk kemudian meninjau kembali.

Apa bedanya mengingat dan meninjau kembali?

Buat saya, mengingat berarti memahami. Berarti saya berusaha untuk lebih mengerti apa yang saya catat, apa yang perlu saya dalami. Sementara mengenai meninjau, itu berarti saya belum tentu mengingat dan memahami pada saat itu, tetapi di lain waktu saya perlu kembali mempelajari.

Kusut? Udah biasa, bukan?😛

Menulis tangan untuk mengingat dan meninjau merupakan salah satu cara saya untuk melatih pola pikir sekaligus juga melatih otot-otot di tubuh saya. Ga cuma otot tangan dan pendukungnya (lengan), tapi juga otot mata, pernapasan, sampai dengan otak. Menulis – buat saya, merupakan salah satu bentuk pelatihan otot selain juga pelatihan pikiran. Sehingga, dulu-dulu ketika layar ponsel belum sebesar sekarang — sekaligus lebih mudah menemukan pulpen dan kertas, saya lebih suka dan sering menulis tangan dibandingkan menulis di perangkat lunak.

Ada baik dan buruk tentunya terhadap menulis tangan ini. Salah satu keburukannya adalah catatan atau tulisan tersebut bisa terselip dan sulit untuk dicari. Paling parah: hilang. Sudah pernah terjadi kok beberapa kali untuk tulisan dan catatan saya. Menyesal? Tentu saja. Tapi jika memang saya niat menulisnya, pastinya sudah terserap dengan baik di kepala saya.

Belakangan ini, saya kembali melatih diri untuk gemar menulis tangan. Tulisan apa saja. Entah itu mengingat atau mencatat. Manapun. Yang penting menulis tangan.

Kalo kamu, kapan terakhir kali menulis dengan tangan dan menulis apa?

Pizza dan Makanan Italia

Januari 20, 2016 § Tinggalkan komentar

Personally, saya suka pizza. Baik itu suka secara penampilannya, variasinya, sampai dengan makannya.:mrgreen: Kalo diflashback ke belakang, saya suka pizza sejak pertama kali orangtua saya mengajak makan pizza di Pizza Hut di Pasaraya, Blok M.

Kenapa suka pizza? Sederhana aja sih: ada karbohidrat (roti), ada protein (daging sapi atau ikan), sampai dengan vitamin (cabe, sambal, saus, dan-lain-lainnya yang benar-benar mudah-mudahan mengandung vitamin).😆 Dan yang paling penting, makan pizza bikin kenyang.

Sejak mulai dewasa dan kemudian bekerja serta memiliki penghasilan sendiri, bisa dibilang pizza cenderung jadi pilihan utama kalo mau makan bareng atau ngerayain sesuatu. Pizza Hut, Izzi Pizza, sampai dengan Dominos. Semuanya pernah dicoba untuk dipesan dan kemudian dimakan sendiri, bedua sama pacar (sekarang istri), sampai dengan bareng temen. Entah itu di restonya atau di kantor/rumah.

Pilihan utama topping atau isian pizza juga ga pernah spesifik harus (banget) yang ada daging atau ikan. Tapi emang sih, kalo ditelisik ada beberapa pilihan topping yang sering banget dipesen, antara lain yang banyak daging sapinya, sampai dengan yang mengandung saus mayonnaise-nya. Gampang ya?:mrgreen:

Pernah makan selain pizza di resto pizza? Jelas pernah. Beberapa jenis pasta – spaghetti, macaroni, dll jelas pernah dipesan dan dimakan. Paling favorit? Ga ada kalo dari jenis, tapi kalo dari topping/isiannya, kayanya yang mengandung keju meleleh paling digemari.

Selain pizza dan teman-temannya, saya sebenernya juga penasaran banget sama makanan Italia lainnya. Pernah liat di film Malavita (The Family), katanya makanan Italia dibanding makanan Perancis, lebih tasty (berasa). Belum lagi efek nonton Masterchef edisi Australia dan US yang berulangkali pesertanya nyuguhin makanan Italia.

So, kalo suatu ketika lagi ke resto Italia atau ke resto umum yang ada menu makanan Italia-nya, saya cenderung untuk observasi menyeluruh di menunya dan caritau makanan mana yang saya belum pernah coba. Karena buat saya pribadi, makanan Italia itu enak! Banget!

Kapan-kapan harus bisa nih makan makanan Italia langsung di Italia-nya!

Musik, Antara Seni dan Relaksasi

Januari 13, 2016 § Tinggalkan komentar

Beberapa kenalan yang tau saya pernah kerja di industri (terkait) musik, suka iseng nanya soal kenapa dulu saya pernah pilih kerja di situ, dan kenapa sekarang ga balik lagi. Beberapa pertanyaan lain juga pernah muncul terkait musik apa aja yang pernah saya putarkan dan juga terkait artis-artisnya. Dan sering juga kok jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait musik tersebut dianggap kurang memuaskan. Well… gimana ya?

Musik, buat saya, adalah sebuah bentuk seni. Musik ga perlu yang ribet, bisa diciptakan dari sebuah kesederhanaan. Bahkan buat saya pribadi, vokal (suara) manusia yang menyanyi atau menciptakan suara-suara yang berirama dan nyeni adalah sebuah bentuk musik yang paling agung. Kenapa? Karena itu alami. Belum lagi kalo ditambah irama dari suara-suara alam seperti gemericik air, tumpahan air hujan, sampai dengan sahut-sahutan serangga di kala malam hari. Iya, itu musik yang paling agung – buat saya. Tapi bukan berarti saya menganggap remeh musik yang bukan alami…

Musik yang diciptakan dengan alat-alat bantu seperti gamelan – tradisional, sampai dengan gitar elektrik dan juga drumset juga kerapkali membuat saya takjub. Paling gampang dilihat adalah dari harmonisasi pada genre jazz antara drumset-gitar bas-piano-trompet, atau melodi-lead-solo gitar yang njelimet di genre metal/rock.

Tapi di atas semua itu, musik buat saya adalah sebuah seni. Dan seni pada dasarnya selain sebagai bentuk penghargaan dan ekspresi manusia, juga merupakan bentuk lain dari sebuah relaksasi. Yes, ga salah baca: RELAKSASI.

Ga sedikit dari kita – sejauh pengamatan saya, menyalakan TV/video youtube tanpa memperhatikan aksi videonya melainkan hanya menikmati (audio) musiknya saja. Ga sedikit juga kita yang menyalakan pemutar lagu (itunes/mp3 player) dengan nada suara yang cukup rendah sehingga cenderung menjadi backsound di setiap kali kita beraktivitas. Beberapa pemusik juga ketika didera kepenatan langsung saja memainkan musik-musik mereka, memainkan gitar, membuat irama ketukan, sampai dengan menyanyi hingga mereka merasa lebih baik. Contoh-contoh itu buat saya cukup mengambil kesimpulan bahwa musik adalah seni yang berbentuk relaksasi. Seni musik bisa membuat orang relaks, baik pendengar maupun juga pelaku musiknya.

Jadi, kalo ditanya lebih jauh kenapa saya ga begitu merhatiin hal-hal di luar musik yang dimainkan (milih kerja di industri itu atau tren artis terbaru), ya jelas sih karena musik itu membuat relaks. Beberapa kali saat masih ada di industri itu dulu, saat musik (lagu) sedang diputarkan adalah kesempatan untuk menjadi lebih relaks untuk kemudian melakukan pekerjaan selanjutnya.

Kalo buat kamu, musik itu apa?

Where Am I?

You are currently browsing the harian category at i don't drink coffee but cappuccino.