“Tertolong” Ojek Online

November 25, 2015 § 3 Komentar

Sejak sepeda motor saya hilang, otomatis saya kembali mengandalkan angkutan umum untuk bepergian di kala sendiri. Selain karena emang belum ada budget untuk beli nyicil lagi sepeda motor untuk sendiri, juga karena memang saya mendukung niatan mulia untuk mengurangi volume kendaraan di jalan raya sehingga mengurangi kemacetan. *halah*

Kendaraan pribadi yang bisa saya gunakan masih ada sih di rumah, tapi itu bukan digunakan oleh saya sendiri. Selain itu juga ongkos harian untuk menggunakannya terbilang cukup besar untuk hitungan saya pribadi. Belum lagi macet — balik lagi ke niatan mulia itu.:mrgreen:

Akhirnya ya.. angkutan umum jadi pilihan utama. Salah satu angkutan umum yang saya pilih tentu saja ojek online. Iya, Go-Jek dan Grabbike itu.

Kenapa saya lebih memilih ojek online untuk menjadi transportasi saya pribadi? Selain karena saya ga perlu nunggu berlama-lama kehadiran angkutan umum bis/angkot, ga perlu ganti trayek, juga karena “tertolong” promonya yang masih jalan terus. Yakni tarif yang flat. Baik jam normal maupun jam sibuk. Karena dihitung-hitung, sekali jalan transportasi menggunakan angkutan umum non-ojek online, biayanya bisa jadi lebih murah sedikit atau sama, tapi waktu tempuhnya lebih cepat menggunakan ojek online.

Makanya saya bersyukur banget promo ojek online masih jalan terus. Entah kalau kelak promonya berhenti dan ga ada lagi tarif flat, mungkin saya harus kembali berhitung keras dan lebih berhemat untuk bisa mengumpulkan budget supaya bisa kembali memiliki kendaraan pribadi saya. Mungkin. Tapi ya entahlah juga.

Kalo kamu, ada ojek online ketolong ga?

Kebiasaan Lama yang Hilang

November 18, 2015 § Tinggalkan komentar

Dulu saya masih sempet dan punya waktu untuk beli dan baca buku. Minimal, sebulan sekali pasti beli buku baru ke toko buku, minimal 1 eksemplar. Buku ya, bukan komik. Dan targetnya, buku tersebut harus habis dibaca dalam jangka waktu sebulan. Itu waktu awal-awal kerja, sekitar tahun 2007.

Dua kebiasaan tersebut lama-lama berkurang, selain karena harga buku yang mulai naik karena harga kertas naik, juga karena frekuensi dan intensitas saya ke toko buku berkurang jauh. Bisa lebih dari 3 bulan baru ke toko buku lagi, itupun buka untuk lihat-lihat judul buku melainkan mencari alat tulis/peralatan elektronik, sampai dengan menemani anak.

Rindu? Jelas. Sejak kecil saya diajarkan oleh (alm) Ayah saya untuk senang membaca. Ritual berkunjung ke toko buku bersama selalu dinanti-nanti yang belum tentu sebulan sekali, dan pulang-pulang pasti membawa beberapa eksemplar buku bacaan baru. Mulai dari serial Lima Sekawan, Trio Detektif, sampai dengan Goosebumps. Sampai saya pernah daftar jadi anggota newsletter karena saking banyaknya formulir yang dimiliki dari setiap buku tersebut.

Bukan tak ingin saya untuk kembali berkunjung ke toko buku, memilih dan memilah judul buku untuk kemudian dibeli dan dinikmati. Tapi saya juga sadar diri, meskipun saya beli dan miliki buku baru, belum tentu saya bisa habis membacanya dalam periode tertentu. Bukan tak hendak menyediakan waktunya, tapi ada hal lain yang membutuhkan perhatian selain membaca buku.

Mungkin nanti. Mungkin sesaat lagi. Entah. Tapi yang pasti, dua kebiasaan tersebut lambat laun menghilang dari keseharian saya. Mudah-mudahan bisa kembali lagi, dan bisa saya bagikan kepada anak-anak saya agar juga mencintai buku dan membaca sejak awal.

Kalo kamu, punya kebiasaan apa yang lama-lama ga dilakuin lagi?

Trauma

November 11, 2015 § 6 Komentar

Kayanya baru 2x saya ngalamin kejadian yang membawa trauma cukup panjang dan ngefek pada keseharian saya. Yang pertama, pada saat Ayah saya meninggal. Yang kedua, ya kejadian kehilangan minggu lalu itu.

Keduanya sangat membekas, sekaligus juga membuat saya nyadar dan merenungi apa saja yang telah dan akan saya lakukan.

Saya jadi makin sadar kalo manusia cuma bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Saya jadi makin sadar kalo yang ada di dunia cuma sementara, bisa diambil kapan aja sama Yang Maha Kuasa. Saya juga jadi makin sadar kalo Tuhan Maha Mengatur hidup dari setiap hamba-Nya.

Tapi itu tetap dapat memunculkan trauma.

Mengenai Ayah saya, tak perlu saya tuliskan di sini. Hal tersebut bersifat privat bagi saya.

Mengenai kehilangan atas barang yang saya miliki, traumanya timbul karena saya merasakan bahwa lingkungan yang saya jalani setiap hari ternyata masih ada peluang terjadinya kejadian yang tidak aman. Berkali-kali dalam pikiran saya terngiang-ngiang, ‘kok bisa?’ sebuah penyangkalan atas kejadian karena tidak percaya. Shocking. Terkejut. Heran.

Keheranan dan keterkejutan saya itulah yang menjadi dasar trauma saya. Beberapa pendapat yang masuk seperti ‘bisa jadi sudah diincar beberapa hari’ sampai dengan ‘sudah diikuti sebelumnya’ membuat saya paranoid. Saya takut. Sungguh.

Besar keinginan saya agar kejadian tersebut segera ada solusinya dari pihak berwajib dengan adanya tindakan penghukuman, akan tetapi saya juga sadar diri bahwa tindak kejahatan yang terjadi bukan hanya saya objeknya. Masih banyak tindak kejahatan lain yang menjadi fokus mereka. Yang bisa saya lakukan hanya tetap bersikap positif, berharap semuanya berakhir baik dengan properti saya kembali dalam kondisi utuh — meski peluangnya kecil.

Hal-hal yang bisa saya lakukan selain berpikiran baik/positif, tentunya dengan mengambil pelajaran serta menyiapkan tindakan preventif. Baik itu terhadap diri saya sendiri, maupun juga properti yang saya miliki, dan tak lupa pada keluarga saya.

Sungguh, saya trauma.

Belajar Kehilangan

November 5, 2015 § Tinggalkan komentar

Things come and go. Silih berganti. Besar-kecil, sedikit-banyak. Semua hal datang dan pergi. Baik itu kita sadari, maupun tidak. Di saat sesuatu harus pergi tanpa kita sadari — baru sadar saat sudah pergi/tidak ada, maka kita otomatis merasakan kehilangan.

Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Terutama, terkait hal-hal yang diperlukan.

Saya sama seperti orang lain yang punya banyak keinginan dan juga harapan. Saya juga kadang merasa pengen untuk mewujudkan semuanya dalam waktu dekat. Tentunya dengan daya dan upaya yang saya bisa, serta sambil terus dan sebisa mungkin mempelajari semuanya.

Tapi mungkin di saat saya merasa cukup, belum tentu kata Sang Khalik. Bisa jadi kurang dan masih memerlukan yang lain, atau justru sudah kelebihan. Tapi, bisa tahu dari mana? Itu salah satu misteri kehidupan yang saya penasaran, tapi ga begitu perlu tahu detail dari jawabannya.

Nyambung dengan paragraf di awal, kehilangan sesuatu hal mungkin salah satu pertanda mengenai cukup/tidak cukupnya daya dan upaya yang saya lakukan. Jika dikaitkan sebagai sesuatu yang kurang dan masih memerlukan yang lain, bisa jadi Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagi saya. Tapi jika dikaitkan sebagai sesuatu yang kelebihan, bisa jadi Tuhan sedang mengajarkan saya untuk berbagi dan lebih ikhlas. Manapun, saya percaya bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik yang direncanakan oleh-Nya. Bahwa yang terjadi adalah hal yang memang saya perlukan.

Apa alasan saya tiba-tiba menulis post yang agak religius begini? Tak lain karena saya sedang melakukan refleksi terhadap hal-hal yang terjadi belakangan ini. Ga perlu nunggu akhir taun/ganti taun kan untuk refleksi/review? Bisa kapan aja, dan kebetulan saya sedang melakukannya sekarang.

Cukup banyak yang terjadi di dalam keseharian saya, salah satunya adalah ya, kehilangan tersebut. Materiil maupun immateriil. Sebal, jelas. Kesal, tentu saja. Tapi ya balik lagi, harus sadar dan percaya bahwa Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk saya.

Bismillah.

Berita Kehilangan

Jersey Bola

Oktober 21, 2015 § 1 Komentar

Saya gemar bola, gemar menonton bola, gemar mengikuti berita tentang bola, tapi memang sih jarang main bola.

Salah satu hal yang bikin saya gemar terhadap bola, selain karena permainannya menarik, juga memorabilia-nya menarik untuk diliat dan dikoleksi. Salah satunya jersey, atau kaus bola.

Sebagai salah satu penggemar klub bola asal Italia – AC Milan, saya tentu saja juga memiliki jersey bola AC Milan. Ga banyak sih, karena belinya mahal. Belum lagi kalo belinya asli, harganya bisa jutaan. Jadi saya cuma mampu beli yang replika aja, yang dijual untuk kawasan lokal. Itu pun belinya dengan cara nitip ke teman yang sudah biasa membeli jersey, baik untuk diri sendiri maupun juga titipan (seperti saya).

Khusus untuk AC Milan, jersey yang saya miliki anehnya cenderung adalah jersey kedua dan ketiga. Buat yang gemar bola, pasti ngerti apa itu jersey kedua dan ketiga. Alasannya sederhana: desainnya selalu berubah-ubah, meski masih ada garis merahnya. Kalo jersey pertama/utama, desain utamanya selalu sama dari taun ke taun, dengan beberapa ciri tertentu yang menandakan musimnya — biasanya sih begitu.

Nah, kalo kamu suka kumpulin jersey bola ga? Klub apa?

Membeli Waktu

Oktober 14, 2015 § 1 Komentar

Sok punya duit banget sih pake transportasi yang mahalan?

Tau jalanan sering macet, ya kalo pake transport sendiri harus siap capek lah.

Yaelah, baru juga jam segini, angkutan umum masih banyak kali, ga usah naik ojek.

Belum pernah mendapat/mendengar komen seperti di atas? Bersyukurlah, berarti surrounding-nya cukup pengertian dan menghargai waktu. Iya, menghargai waktu. Dan waktu itu sangat susah untuk dihargainya, karena amat-sangat relatif.

Bukan, saya ga ngebahas relativitas waktu dengan rumus yang njlimet atau secara fisika. Relativitas waktu buat saya adalah cara pandang orang yang beda-beda terhadap waktu, bagaimana mereka menganggap waktu sebagai bagian dari kesehariannya, bagaimana mereka beraktivitas dengan memanfaatkan waktu. Oleh karena itu, waktu sangat berharga.

Buat saya pribadi, waktu menjadi sangat berharga sejak saya mulai nyadar kalo saya punya banyak rasa kepengen buat ngewujudin sesuatu. Banyak. Banget. Dan itu semua butuh waktu — kalo ga butuh modal berupa uang. Karena udah jelas sih, waktu adalah satu-satunya hal yang dipunya dan dimiliki secara dasar dengan gratis — tapi justru itu sangat berharga.

Kusut? Oke. Simak berikut ini.

Buat sebagian orang, pulang ke rumah/kediaman bisa jam berapa saja tanpa mempedulikan hal selain dirinya. Cukup dirinya yang tahu kapan harus pulang, kenapa harus pulang jam segitu, dan kapan harus keluar lagi. Tapi, buat sebagian orang lainnya, kapan pulang ke rumah dan kenapa harus pulang jam segitu, benar-benar menentukan dan berefek pada dirinya. Contoh sederhananya: seseorang yang masih lajang dan tinggal sendirian (di kost/apartemen/rumah sendiri), jam pulang ya sesuai keperluan dirinya SAJA; tapi ketika orang tersebut sudah memiliki pasangan atau anak, jam pulang disesuaikan dengan kebutuhan dirinya DAN kebutuhan perkembangan keluarganya.

Sudah cukup terurai kusutnya? Oke, lanjut.

Orang yang sudah berkeluarga dan memiliki anak cenderung lebih gemar untuk cepat pulang ke rumah, untuk bisa bercengkrama dengan keluarga — utamanya dengan anak. Kenapa? Karena setiap saatnya sangat berharga dan takkan terulang kembali. Karena itulah sangat berharga. Dan, jadinya banyak orang yang berusaha untuk cepat pulang ke rumah, dengan berbagai cara yang mereka bisa, dengan selamat tentunya.

Segala daya dan upaya itu bisa dibilang sebagai membeli waktu. Pilihannya banyak waktu habis di jalan dengan moda transportasi biasa namun tetap hemat, atau waktu yang habis lebih sedikit dengan transportasi yang lebih tinggi tarifnya. Buat beberapa orang, pilihan itu sulit untuk dilakukan. Tapi buat yang lain, pengorbanan memang harus dilakukan untuk mendapatkan salah satu yang menjadi prioritas.

Kalo kamu, punya budget berapa buat membeli waktu?

Jam Biologis

Oktober 7, 2015 § Tinggalkan komentar

Secara normal, jam biologis seseorang mengikuti jam berkegiatan orang tersebut. Yang otomatis juga jamnya disesuaikan dengan posisi geografisnya. Contoh: jam biologis kebanyakan orang Indonesia tentunya berbeda dengan jam biologis kebanyakan orang di Eropa.

Oiya, sebelum lebih lanjut: jam biologis itu sederhananya adalah jam tubuh. Kapan tubuh memerlukan istirahat, kapan tubuh siap untuk bangun dan mulai beraktivitas, kapan tubuh membutuhkan asupan makanan, dan lain-lain.

Perubahan jam biologis amat-sangat-mungkin terjadi. Penyebabnya banyak mulai dari perubahan lokasi tempat tinggal, perubahan pola aktivitas, sampai dengan perubahan pola istirahat atau metabolisme tubuh. Nah… belakangan juga jam biologis saya berubah karena saya pindah lokasi tempat tinggal perubahan pola aktivitas karena bertambahnya anggota baru keluarga saya.

Sebelumnya, jam biologis saya cukup teratur dengan tidur di malam hari & berkegiatan di pagi-petang hari. Sekarang? Malam hari bisa jadi bertambah kegiatannya. Menyesal? Tidak. Tapi memang memerlukan semangat tambahan dan juga penyesuaian berkelanjutan atas perubahan jam biologis tersebut.

Kalo sampe salah mengatasi jam biologis, bukan ga mungkin semua rutinitas jadi berantakan dan ujung2nya jadi dijauhi kerabat. Tapi ya memang mengatasinya ga mudah sih dan butuh pemahaman sendiri juga lingkungan. Kecuali ya… Bruce Wayne yang jadi Batman. Jam biologisnya berubah karena ngalong di malam hari, siang hari tetep jadi milyuner, dan buat nutupin efek dari perubahan jam biologisnya ya menjalani kehidupan (ala) jetset — seperti disaranin Alfred di trilogi The Dark Knight (the movie).

Kalo kamu, jam biologis pernah berubah ga?

Where Am I?

You are currently browsing the harian category at i don't drink coffee but cappuccino.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.677 pengikut lainnya