Connecting People

Maret 31, 2015 § Meninggalkan komentar

Nokia. Connecting People.

Personally, saya suka dengan tagline dari Nokia itu. Connecting People. Susunan katanya sederhana — terdiri dari 2 kata, arti katanya tidak perlu konotasi, dan langsung mengena. Selain itu juga sesuai dengan fungsi dari produk yang menggunakan brand-nya, yakni telepon genggam.

Sama halnya dengan brand-nya yang sempat jaya (Nokia), tagline itu sendiri kini statusnya juga “sempat jaya”. Padahal, kalo dipikir-pikir, tagline itu kini cocok dengan semua layanan digital dan bahkan jejaring digital atau internet itu sendiri. Mungkin kalo kelak dihidupkan lagi (revival), maka tagline itu cocok sbb:

Internet. Connecting People.

Hampir semua hal bisa dan telah dilakukan menggunakan internet. Belanja. Baca berita. Baca peta. Ngehubungin orang. Bersilaturahim. Dan masih banyak lagi. Hanya yang sifatnya fisik serta secara tradisional membutuhkan komunikasi fisik/temu muka, belum lazim menggunakan internet. Walau begitu, teknologi internet dan atau digital kini semakin dikembangkan, dan diadaptasi hampir di segala bidang.

Iya, tumben saya ngepost begini. Ngomentarin tagline atau brand. Sebenernya ini ga lain karena pekerjaan dan juga interest saya sih, yang berkutat di seputar bidang internet/digital dan juga penulisan. Maunya ngepost di blog sebelah, tapi kalo di sana saya nulisnya harus lebih resmi karena di sana buat branding. Sementara di sini? Ya… saya komennya lebih santai aja. :mrgreen:

Akun Digital

Maret 24, 2015 § Meninggalkan komentar

Digital presence (kehadiran digital) saya bisa dirunut sejak taun 2000an awal — kalo ga dibilang 1990an akhir. Kalo ga salah, jejaknya bisa diliat dari salah satu akun email yang masih aktif saya gunakan hingga saat ini. Yakni email yahoo saya: naga_tasik. Kalo ga salah ingat, saya buatnya pas masih jaman SMP. Dulu tujuannya sebagai akun alternatif dari email utama saya — yang sekarang sudah nonaktif karena yahoo pernah bersih-bersih akun itu.

Beberapa peristiwa mulai dari jadi bancet (korban ceting) di mIRC, join milis ini-itu — hingga sempat dikucilkan karena mengepos email yang menyinggung member milis (yang tak sedikit), sampai dengan social network dan juga domain personal sudah saya alami. Hingga kemudian adaptasi saat ini, seperti ngegame di perangkat bergerak (mobile) dan juga yang-kerennya-disebut personal branding dengan akun digital.

Sedikit napak tilas, akun digital saya sejak pertama kali mengenal ranah internet hingga saat ini utamanya berkisar di beberapa kata kunci, antara lain:
– nama saya
– nama panggilan/alias
– taun lahir

Sepertinya tak perlu saya sebutkan satu-persatu — karena variasinya cukup banyak. Tujuan lain dari banyaknya variasi akun digital tersebut, di antaranya akuisisi username, alias untuk anonim, dan beberapa hal lainnya. Tapi saat ini, bisa dibilang saya mengalihkan fokus ke beberapa akun saja. Iya, beberapa. Tentunya fokus utama ada di akun utama — yang kurang lebih mengandung nama saya.

Kenapa sih akunnya ga disebut atau dikasih link buat dicek?

Jawabannya sederhana: kehadiran digital saya sudah cukup banyak. Kalo di-gugling saja “billy koesoemadinata” tentu akan menemukan sendiri jawaban akun-akun digital tersebut. Tentunya, akun atau properti digital yang open for public dan bisa diakses oleh google. Kalo masih bingung juga, mungkin bisa akses ke about.me/bil.

Bukan, postingan ini bukan promo. Saya bikin postingan ini sebagai reminder bahwa ada masanya saya bikin akun digital dengan username yang 4L4y, sulit ditebak, mengandung anonim, hingga akhirnya memutuskan untuk aktif di akun yang benar-benar mewakili diri saya — nama. Mungkin, udah masanya kali ya. Mengingat umur juga. *eh*

Kalo kamu, pernah bikin akun digital dengan username 4L4y, ga?

#SerenaBestMPV: Kemewahan yang Terjangkau

Maret 17, 2015 § 1 Komentar

Beli sesuatu kalo butuh, jangan hanya karena pengen.

Petuah itu lebih kurang sering saya coba terapkan ke diri saya pribadi. Sebisa mungkin, hal-hal yang saya punya dan saya beli, adalah yang benar-benar saya perluin. Bukan sekadar pengen punya atau pengen pake aja, tapi harus bener-bener menunjang keperluan/kebutuhan saya. Mulai dari kebutuhan primer – sandang pangan papan, sampai dengan sekunder, tersier, ataupun kebutuhan mewah.

Iya sih, kadang beli/punya sesuatu yang dilandasi rasa pengen itu sebenernya salah satu bentuk aktualisasi diri, atau pemenuhan kebutuhan diri sendiri untuk membuktikan sesuatu atau supaya ga penasaran. Tapi ya, ada kalanya kita pribadi juga harus tahu diri, tahu batasan dan kemampuan. Sejauh, setinggi, atau semampu apa yang bisa dijangkau.

Salah satu kebutuhan yang berkaitan erat dengan kemampuan adalah kendaraan. Personally, saya berpendapat untuk di Jakarta ini, sudah cukuplah saya ditunjang dengan kendaraan roda dua untuk transportasi pribadi. Selain karena perawatan lebih hemat, harga yang bersahabat, juga konsumsi BBM lebih sedikit. Perihal risiko keujanan atau kepanasan, kurang lebih prinsipnya sama seperti berikut,

Naik motor itu, kalo panas ga keujanan, kalo ujan ga kepanasan.

Tapi prinsip itu cuma berlaku buat saya pribadi. Sendiri. Ga berlaku kalo lagi sama istri, apalagi kalo jalan-jalan bareng anak atau keluarga lainnya. Karena naik motor itu idealnya buat sendirian, yang ga gitu ribet. Lain halnya kalo udah berkeluarga, atau punya anak, atau mau ajak keluarga besar.

Maka pencarian untuk kendaraan yang bisa memenuhi kebutuhan untuk bisa digunakan bersama istri, anak, dan juga keluarga lainnya. Daftar kebutuhan dan penggunaan pun dibuat, jangan sampe dipake karena sekadar pengen, tapi juga karena butuh atau perlu. Singkat cerita, pilihan kendaraan pun jatuh kepada roda 4 atau mobil.

Berbagai merek dan juga tipe kendaraan roda 4 pun disaring lalu ditimbang baik-buruknya. Mulai dari faktor eksternal seperti bengkel dan juga spare part, sampai dengan internalnya seperti spek kendaraan dan juga merek. Yang keseluruhannya kemudian diperbandingkan terhadap harganya dan kemudahan proses pembeliannya (kredit angsuran, jangka waktu, DP, dll). Ya… value for money gitu deh.

Salah satu yang menarik perhatian adalah merek Nissan. Beberapa tipe yang available di Indonesia antara lain March dan juga Serena. Sehubungan saya suka tipe kendaraan roda 4 yang besar — karena biar bisa muat banyak, maka Serena sepertinya lebih layak dipilih. Kebetulan, hari Jumat minggu lalu (13 Maret 2015) saya berkesempatan buat hadir ke press conference-nya Nissan di bilangan Pondok Indah, Jaksel.

Nissan New Serena, on the road

Nissan New Serena, on the road

Di press conference itu, Nissan nge-launch Serena baru (New Nissan Serena) yang antara lain refreshment di eksterior maupun juga interior. Berdasar rilis yang saya terima, penyegaran itu bertujuan untuk memberikan sentuhan lebih merah, elegan dan prestise untuk menjawab kebutuhan keluarga Indonesia yang mendambakan kendaraan MPV yang merefleksikan kesuksesan dan gaya pribadi miliknya. Trus, saya juga baru tau dari rilis itu kalo ternyata Nissan Serena udah jadi market leader di segmen High MPV di Indonesia sejak taun 2007. Pantes lah kalo disebut sebagai Best MPV — #SerenaBestMPV. Keren juga ya.

Overall, penyegaran di Nissan New Serena antara lain bemper depan, grille, desain hood (atap), pelek (wheel), lampu utama LED (headlamp) yang dilengkapi day time running light dan juga fog lamp finisher, lampu belakang (rear lamp), sampai aero side guard. Itu buat eksterior-nya yang langsung keliatan dari luar. Nah, kalo masuk ke interior, yang baru antara lain Audio Steering Switch, panel instrumen dengan warna baru dan juga motif yang keliatan lebih mewah pada kursi.

interior Nissan New Serena

interior Nissan New Serena

Ada banyak warna yang dirilis di Nissan New Serena ini, antara lain scarlet red, floral white, diamond silver metallic, smokey grey metallic, light steel blue, dan phantom black. Personally, saya lebih suka warna hitam. Kesannya lebih berkelas gitu deh. Selain itu, perawatannya saya anggap lebih mudah, jadi kalo ada apa-apa sama bodi, bisa lebih tersamarkan dibanding warna-warna yang lebih terang. Ke-6 pilihan warna itu juga dibagi ke 3 tipe antara lain Type X, Type Highway Star, dan Type Autech.

Nah, sekarang soal harga: Nissan New Serena ini dibandrol mulai dari 364juta sampai dengan 441juta. Saya belum liat detail harga tersebut kalo dipecah ke skema kredit mobil, DP dan cicilannya jadi berapa. Tapi buat bayangan aja ya, merek mobil lainnya dengan tipe di harga serupa, kurang lebih DP-nya variatif mulai dari 70an juta sampai dengan 100an juta dengan cicilan-nya sekitar 3-4 jutaan/bulan selama 4-5 taun. Buat saya pribadi, skema cicilan tersebut masih bisa dijangkau (kalo ga dibilang terjangkau). Kenapa? Karena saya berpendapat, target pasar dari Nissan New Serena adalah diutamakan untuk yang sudah berkeluarga. Dan yang sudah berkeluarga tersebut, tentunya penghasilannya diperkirakan di level 10an juta ke atas, dengan daya beli yang sudah cukup kuat. Intinya, profiling dari target untuk Nissan New Serena ini seharusnya mampu untuk menjangkau harga beli Nissan New Serena untuk mendapatkan kelebihan dan fitur sesuai kebutuhan — dan juga kemewahannya. :)

Itulah alasan kenapa saya membuat postingan ini dengan judul demikian. Untuk target kelas pembelinya, kemewahan yang ditawarkan dari Nissan New Serena ini bukanlah mimpi, bukanlah sesuatu yang tidak bisa diraih, melainkan mampu dijangkau — dan juga kelak mampu ditunjukkan sebagai bagian dari aktualisasi diri. *halah*

Oiya, jangan lupa kalo mau beli mobil, pertimbangkan juga di mana nanti nyimpennya ya. Jangan sampe, beli mobilnya bisa, bisa pakenya juga, tapi bingung mau simpen di mana mobilnya. :P

Kira-kira, kamu termasuk target pembeli Nissan New Serena ga?

NB: images saya ambil dari website-nya Nissan Indonesia.
NB lagi: saat ini saya udah ada kendaraan roda 4 — Alhamdulillah.

Lalu-Lalang di Jakarta

Maret 10, 2015 § 4 Komentar

Being mobile in Jakarta

Kalo di-English-kan, begitu maksudnya judul postingan ini. Keliatannya memang lebih keren pake bahasa Inggris sih, tapi karena saya orang Indonesia & berusaha supaya bisa menggunakan bahasa Indonesia yang kosakata-nya (sebenernya amat sangat) kaya, jadilah judulnya seperti itu.

Back to topic sesuai judul lah malah ga konsisten pake bahasa Indonesia :mrgreen: , berlalu-lalang di Jakarta itu butuh tekad yang kuat. Bayangin aja, kondisi macet pada jam sibuk (rush hour) yang dulu maksimal bikin perjalanan molor jadi 1 jam, sekarang bisa jadi berjam-jam. Contohnya gampang aja: beberapa tahun yang lalu, dari seputaran Tanjung Barat Jaksel ke arah Prapanca Jaksel, kalo naik angkutan umum maksimal 1 jam — itu 30 menit perjalanannya, dan 30 menit rata-rata waktu menunggu angkutannya. Sekarang? Perjalanannya sendiri bisa 1 jam, menunggunya bisa 1 jam juga. Padahal, Prapanca dan Tanjung Barat itu hitungannya deket dalam jarak.

Kebayang kan kalo perjalanannya dari ujung ke ujung seperti Tangerang ke Jakarta Timur, atau Depok ke Jakarta Utara, dan lain-lain. 2 jam itu bisa perjalanannya sendiri. Waktu menunggu angkutan umumnya bisa lebih lama lagi.

Sebagai solusi, jadilah banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. Mobil, ataupun motor. Mobil jelas, bisa pake jalan tol pinggir kota dan dalam kota. Motor juga jelas, untuk urusan selip-menyelip di antara keramaian lalu lintas ibukota lebih mudah digunakan. Tapi, solusi tersebut jadi mandeg kadang-kadang ketika mobil harus lewat jalan protokol/biasa non-tol, dan gunakan motor kemudian hujan.

Personally, sejak bulan Desember lalu saya jadi lebih banyak lalu-lalang di Jakarta. Anter-jemput & meeting, jadi alasan utama kenapa saya jadi lebih banyak lalu-lalang (mobile). Dan rata-rata waktu yang saya habiskan di jalanan ketika hari kerja, 5-6 jam sehari. Sekitar 1/4 bagian dalam waktu hari kerja saya sudah habis buat di perjalanan. Walau kesal, sebal, dan kadang-kadang bikin penampilan jadi lusuh, ya mau ga mau itu harus saya terima, sih karena tinggal dan bekerja di Jakarta.

Kalo kamu, rata-rata berapa jam sehari yang kamu habiskan di perjalanan untuk lalu-lalang (mobile) di Jakarta?

Angka Prima

Maret 1, 2015 § 3 Komentar

Waktu kecil, saya ga gitu suka dengan matematika. Tapi bukan berarti benci ya. Ga suka aja. Cukup.

Buat saya — dulu, angka itu ya sudah angka. Ga perlu lah dihitung dengan berbagai rumus dan lain-lainnya. Bangun ruang, bangun datar, pecahan, nominal, integral, matriks, dan lain-lain itu cukup menyiksa saya yang kurang begitu kuat dengan hapalan rumus apa yang harus digunakan, dan bagaimana cara mengerjakannya.

Tapi bedanya, ketika saya menghadapi mata pelajaran/kuliah lain yang menggunakan dasar-dasar matematika, saya justru lebih mudah memahami. Fisika contohnya. Optimasi (Operation Research) contohnya. Dan masih banyak lagi. — Oiya, please exclude Kimia.

Hubungan saya dengan matematika jadi seperti hubungan cinta tapi benci — atau benci tapi cinta. Ya dibolak-balik yang penting artinya sama gitu deh.

Dan, walaupun ga gitu suka serta terkadang membingungkan, ada beberapa komponen pelajaran matematika yang teramat sangat membekas dalam pikiran saya. Salah satunya angka prima — angka yang hanya habis dibagi angka tersebut dan angka 1. Contohnya: 2, 3, 5, 7, 11, 13, dst.

Hubungannya dengan judul postingan ini apa? Well, singkat cerita persis hari ini saya mendapat angka prima. Tepatnya, angka prima kedua di 20-an.

Buat yang bisa nebak, selamat. Tapi saya ga ada reward apa-apa. Buat yang ga bisa nebak, silakan dipikir-pikir sendiri apa kaitannya angka prima di 20-an dengan diri saya. :)

Chinese New Year 2015

Februari 19, 2015 § 4 Komentar

2015: Year of the Goat

2015: Year of the Goat

Tahun baru berdasarkan penanggalan Tiongkok atau biasa juga disebut Imlek, tahun 2015 ini jatuh pada tanggal 19 Februari 2015. Dari tahun ke tahun, tahun baruan ini cenderung berubah tanggal. Saya pribadi, ga gitu ngerti kenapa bisa beda-beda tanggalnya — beda sama Hijriah yang kurang lebih tiap tahunnya maju 11 hari.

Anyway, saya ga mau bahas soal penanggalan atau kapan tanggalnya sih. Personally, saya senang dengan adanya hari libur pada Imlek. Kalo ga salah, sejak jaman pemerintahan Gus Dur, maka tahun baru ini jadi tanggal merah. Sebelumnya, tahun baru Imlek ga merah — cmiiw. Apalagi, libur di tahun ini ngepas banget deket-deket wiken, jadinya kalo satu hari kejepitnya cuti/libur juga, bisa long wiken sejak hari Kamis.

Sebagai seorang individu yang masih punya garis keturunan China (Tiongkok) dari pihak Ayah, sejauh yang saya ingat memang di tahun baru Imlek ini keluarga besar pasti berkumpul. Family gathering kalo bahasa kerennya. Kegiatannya sederhana aja, makan bareng, ketemu sodara sepupu-om tante yang jarang ketemu, dan juga lain-lainnya.

Oiya, masih berkaitan dengan Imlek juga, ada berbagai images dan juga ucapan berseliweran sana-sini. Tapi satu yang jadi favorit saya yang dibuat oleh @kapkap ini.

 

 

Lucu nan menggemaskan.

Happy Chinese New Year 2015 buat kalian yang merayakan!

Permainan Tradisional (?)

Februari 11, 2015 § Meninggalkan komentar

Congklak

Congklak

Dari sekian banyak permainan tradisional (?), mana yang paling jadi favorit? Saya sih congklak — yang ada di gambar itu. Iya, beda daerah beda juga nama dan pengucapannya.

Ada sekitar 7 lubang, dengan 1 yang paling besar di ujung. Ada 2 baris, jadi total 14 lubang. Yang harus diisi, tentunya lubang paling ujung, dengan setiap kali lewat dijatuhkan 1 biji dari lubang tempat bermulai. Agak ribet memang kalo dijelaskan via kata-kata (ironis karena saya pribadi gemar bermain kata-kata :mrgreen: ), tapi tentu bakal lebih asyik ketika bisa dimainkan dan langsung dicontohkan.

Oiya, ini permainan untuk 2 orang.

Seingat saya, ibu saya dulu yang mengajarkan saya bermain permainan tradisional (?) congklak ini. Pengennya juga sih, kelak ketika anak saya sudah cukup besar dan mengerti, mau saya ajarkan dan ajak main ini juga — kalo perlengkapannya masih mudah dicari.

Walau tampaknya sederhana dan cenderung untuk menghabiskan waktu, permainan tradisional (?) congklak ini juga membutuhkan strategi dan konsistensi, lho. Gimana caranya supaya bisa mengumpulkan biji terbanyak dibandingkan lawan kita. Walau kadang, faktor luck juga berperan. :lol:

Anyway, perihal judul post yang saya kasih tanda tanya di belakangnya, itu lebih karena apakah layak permainan ini disebut tradisional? Karena, dulu saat card board (monopoli, ular tangga, dll) booming aja, congklak sudah disebut tradisional. Nah, jaman sekarang di mana game/permainan banyak yang digital berbasis multilayar, bisa-bisa cardboard disebut tradisional, dan sejenis congklak disebut mainan nenek moyang — kalo ga disebut tradisional kuadrat. *halah*

Personally, saya pernah ada ide sedikit ngawur sih, gimana kalo permainan yang biasa dimainkan orang-orang Indonesia ini secara turun-temurun dipromosikan atau dipertandingkan di sebuah ajang resmi macam PON/SEA Games gitu. Pasti lucu dan seru. Jadi, nasibnya ga kaya’ balap karung yang “hanya” dipertandingkan kala tujuhbelasan atau event camping aja.

kalo kamu, suka permainan tradisional apa?

NB: foto dari sini –> photo credit: Picking Up The Pieces via photopin (license)

Where Am I?

You are currently browsing the harian category at i don't drink coffee but cappuccino.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.659 pengikut lainnya.