Nomer Hape

Desember 9, 2015 § Tinggalkan komentar

Pertama kali pake hape kayanya sekitar tahun 2001 lalu, jaman-jaman SMA. Itupun hape-nya yang diturunkan dari punya kerabat dekat (keluarga) dengan nomer yang juga diturunkan. Oleh karena itu kadang masih dapet ditelepon dari orang kenalan keluarga dan SMS dari mereka menanyakan hal yang saya ga tau jawabannya. Pulsa 100rb pun rasanya mahal banget. Paling bisa keisi itu paling cepet sekitar 2 bulan sekali. Penggunaannya pun dihemat-hemat (kalo ga mau dibilang irit) dengan cara maks kirim SMS 1x per hari — waktu itu SMS masih 350 rupiah per sekali kirim dengan batasan karakter s.d. 140.

Berhubung SMA sempet ikutan siaran di radio lokal — aLL FM 107.2 MHz, sempet ada tambahan uang saku juga. Ga banyak sih, meski jam siarannya ga dikit juga. Lumayan, bisa buat nambah-nambah beli pulsa sendiri sampai dengan beli nomer baru. Kalo ga salah, tahun 2003 pertama kalinya ganti nomer hape. Waktu itu nomer perdana masih mahal abis. Tapi mungkin lagi hoki, bisa kebeli nomer proXL (sekarang XL) seharga 50ribuan dengan 10 digit nomer. Agak waswas juga pas punya nomer hape itu karena registrasinya atas wilayah zona Bandung — yang punya hape dari dulu pasti ngerti. Jadi, kalo mau nelepon/terima telepon bisa jadi kena roaming yang bakal potong pulsa juga. Tapi, waktu itu kalo ga salah proXL udah mulai bebas roaming ke semua zona sih.

Jelang masuk kuliah, nyatanya saya mau ga mau ya ganti nomer lagi. Kali ini ke provider Telkomsel. Sempet punya nomer IM3 sebagai nomer kedua kalo ada apa2, tapi ujung2nya ya pake Telkomsel lagi. Kalo ga salah taun 2004, dan nomer itu saya pake sampai dengan sekarang. Udah cukup lama ya, 10 taun lebih. Sempet juga punya nomer Axis, tapi kemudian terpaksa saya biarkan hangus karena agak capek juga harus hidup 2 paket internet di kedua nomernya.

Pertimbangan saya untuk memilih nomer hape, sbb:

  1. Bebas roaming antar-daerah. Sejak 2004an mulai bebas roaming ya semua nomer. Ini faktor utama sejak dulu, tapi kayanya sekarang udah ga berlaku lagi ya.
  2. Sinyal kuat. Udah jelas sih siapa providernya. Pertimbangan ini lebih karena saya mikir bakal sering travelling. Salah satu bukti nomer Telkomsel yang saya pake sekarang kuat sinyal adalah di medio 2006-2008 saya pernah ke tengah laut (Kalimantan) dan tengah hutan (Papua), dan sinyalnya beneran kuat. Bisa terima telepon dan menelepon.
  3. Ada paket internet yang variatif. Belakangan meski harga paket inet dari provider yang saya pake makin naik, tapi ya emang cocok sih pemakaiannya.
  4. Sinyal internet (pemakaian data) yang stabil. Khusus untuk ini, yang terpenting adalah kalo di permukiman/perumahan ga blankspot. Seringkali di wilayah masyarakat sinyalnya ada yang blankspot. Masalah dibawa ke gedung tinggi/parkiran gedung ilang sinyal sih, masih bisa dimaklumi lah.
  5. Variasi nomer. Bukan nomer cantik — meski beberapa kali dapet nomer cantik. Dulu saya punya patokan nomer hape jangan yang cantik, sebisa mungkin rumit supaya susah dihapalin. Kemudian, saya nemu pola ternyata nomer-nomer hape yang saya miliki ada filosofi dengan angka 9. Baik itu dijumlah, atau dikali. Tapi ga semuanya sih, cuma beberapa aja.

Nah.. itu cerita nomer hape saya. Dan berbagai pertimbangannya.

NB: Postingan ini bukan berbayar.

Kamu punya cerita juga soal nomer hape?

Internetan Mobile

Desember 2, 2015 § Tinggalkan komentar

Let say, saya termasuk generasi millenial meskipun saya lahir di tahun 80an, sempat ngalamin masa anak-anak di 90an, dan lulus kuliah di 2000an. Buat saya pribadi, generasi millenial ya yang aktifnya di 2000an akhir s.d. sekarang ini. Salah benar, lain soal. Karena ini perspektif. Lagipula, blogpost ini bukan ngomongin soal definisi generasi millenial-nya, melainkan kebiasaan/habits-nya.

Konon, salah satu habits dari generasi millenial adalah terhubung dengan mudah ke internet. Bisa di mana aja. Kapan aja. Jadinya internetan seringkali sambil mobile gitu, karena tentunya aktivitas lebih sering tidak di depan big screen (laptop/komputer).

Dan iya, saya juga sering melakukan itu. Dalam seminggu, kayanya lebih sering internetan secara mobile via handphone ketimbang dari depan laptop/komputer. Paling banyak justru di saat wiken, saat-saat yang seharusnya bisa away dari handphone sama sekali. Alasan dan pertimbangannya banyak. Ga melulu soal pelarian atau sudah kebiasaan di hari kerja, tapi bisa jadi karena cari jalan via maps, cari info tempat jalan2, dan lain sebagainya.

Dulu, sebelum tahun 2010 sepertinya internetan mobile itu cukup sulit. Kalo ga pake modem mobile, ya harus wifi, atau via kabel. Sekarang? Bisa tethering lewat handphone. Canggih dan praktis. Selain itu, dulu paket internetan ribet banget, pilihannya banyak dan harganya cukup mahal (atau mungkin sayanya aja yang ga bisa menjangkau). Tapi sejak 2010 ke sini, sepertinya pilihan internetan mobile makin banyak, dan makin murah.

Pilihan paketnya bervariasi mulai dari yang harian, mingguan, bulanan, lebih dari 1 bulan dst. Mulai dari yang di bawah 10ribu, sampai dengan jutaan. Mulai dari per kuota, sampai dengan per bandwidth. Pokoknya, banyak deh. Belum lagi ada teknologi mobile router yang ngebuat internetan mobile 1 paket di 1 nomer bisa dipake wifian beberapa device.

Nope, postingan ini ga disponsori oleh brand manapun. Ini sekadar catatan personal aja.

Kamu pake internetan secara mobile, ga?

“Tertolong” Ojek Online

November 25, 2015 § 3 Komentar

Sejak sepeda motor saya hilang, otomatis saya kembali mengandalkan angkutan umum untuk bepergian di kala sendiri. Selain karena emang belum ada budget untuk beli nyicil lagi sepeda motor untuk sendiri, juga karena memang saya mendukung niatan mulia untuk mengurangi volume kendaraan di jalan raya sehingga mengurangi kemacetan. *halah*

Kendaraan pribadi yang bisa saya gunakan masih ada sih di rumah, tapi itu bukan digunakan oleh saya sendiri. Selain itu juga ongkos harian untuk menggunakannya terbilang cukup besar untuk hitungan saya pribadi. Belum lagi macet — balik lagi ke niatan mulia itu.:mrgreen:

Akhirnya ya.. angkutan umum jadi pilihan utama. Salah satu angkutan umum yang saya pilih tentu saja ojek online. Iya, Go-Jek dan Grabbike itu.

Kenapa saya lebih memilih ojek online untuk menjadi transportasi saya pribadi? Selain karena saya ga perlu nunggu berlama-lama kehadiran angkutan umum bis/angkot, ga perlu ganti trayek, juga karena “tertolong” promonya yang masih jalan terus. Yakni tarif yang flat. Baik jam normal maupun jam sibuk. Karena dihitung-hitung, sekali jalan transportasi menggunakan angkutan umum non-ojek online, biayanya bisa jadi lebih murah sedikit atau sama, tapi waktu tempuhnya lebih cepat menggunakan ojek online.

Makanya saya bersyukur banget promo ojek online masih jalan terus. Entah kalau kelak promonya berhenti dan ga ada lagi tarif flat, mungkin saya harus kembali berhitung keras dan lebih berhemat untuk bisa mengumpulkan budget supaya bisa kembali memiliki kendaraan pribadi saya. Mungkin. Tapi ya entahlah juga.

Kalo kamu, ada ojek online ketolong ga?

Kebiasaan Lama yang Hilang

November 18, 2015 § Tinggalkan komentar

Dulu saya masih sempet dan punya waktu untuk beli dan baca buku. Minimal, sebulan sekali pasti beli buku baru ke toko buku, minimal 1 eksemplar. Buku ya, bukan komik. Dan targetnya, buku tersebut harus habis dibaca dalam jangka waktu sebulan. Itu waktu awal-awal kerja, sekitar tahun 2007.

Dua kebiasaan tersebut lama-lama berkurang, selain karena harga buku yang mulai naik karena harga kertas naik, juga karena frekuensi dan intensitas saya ke toko buku berkurang jauh. Bisa lebih dari 3 bulan baru ke toko buku lagi, itupun buka untuk lihat-lihat judul buku melainkan mencari alat tulis/peralatan elektronik, sampai dengan menemani anak.

Rindu? Jelas. Sejak kecil saya diajarkan oleh (alm) Ayah saya untuk senang membaca. Ritual berkunjung ke toko buku bersama selalu dinanti-nanti yang belum tentu sebulan sekali, dan pulang-pulang pasti membawa beberapa eksemplar buku bacaan baru. Mulai dari serial Lima Sekawan, Trio Detektif, sampai dengan Goosebumps. Sampai saya pernah daftar jadi anggota newsletter karena saking banyaknya formulir yang dimiliki dari setiap buku tersebut.

Bukan tak ingin saya untuk kembali berkunjung ke toko buku, memilih dan memilah judul buku untuk kemudian dibeli dan dinikmati. Tapi saya juga sadar diri, meskipun saya beli dan miliki buku baru, belum tentu saya bisa habis membacanya dalam periode tertentu. Bukan tak hendak menyediakan waktunya, tapi ada hal lain yang membutuhkan perhatian selain membaca buku.

Mungkin nanti. Mungkin sesaat lagi. Entah. Tapi yang pasti, dua kebiasaan tersebut lambat laun menghilang dari keseharian saya. Mudah-mudahan bisa kembali lagi, dan bisa saya bagikan kepada anak-anak saya agar juga mencintai buku dan membaca sejak awal.

Kalo kamu, punya kebiasaan apa yang lama-lama ga dilakuin lagi?

Trauma

November 11, 2015 § 6 Komentar

Kayanya baru 2x saya ngalamin kejadian yang membawa trauma cukup panjang dan ngefek pada keseharian saya. Yang pertama, pada saat Ayah saya meninggal. Yang kedua, ya kejadian kehilangan minggu lalu itu.

Keduanya sangat membekas, sekaligus juga membuat saya nyadar dan merenungi apa saja yang telah dan akan saya lakukan.

Saya jadi makin sadar kalo manusia cuma bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Saya jadi makin sadar kalo yang ada di dunia cuma sementara, bisa diambil kapan aja sama Yang Maha Kuasa. Saya juga jadi makin sadar kalo Tuhan Maha Mengatur hidup dari setiap hamba-Nya.

Tapi itu tetap dapat memunculkan trauma.

Mengenai Ayah saya, tak perlu saya tuliskan di sini. Hal tersebut bersifat privat bagi saya.

Mengenai kehilangan atas barang yang saya miliki, traumanya timbul karena saya merasakan bahwa lingkungan yang saya jalani setiap hari ternyata masih ada peluang terjadinya kejadian yang tidak aman. Berkali-kali dalam pikiran saya terngiang-ngiang, ‘kok bisa?’ sebuah penyangkalan atas kejadian karena tidak percaya. Shocking. Terkejut. Heran.

Keheranan dan keterkejutan saya itulah yang menjadi dasar trauma saya. Beberapa pendapat yang masuk seperti ‘bisa jadi sudah diincar beberapa hari’ sampai dengan ‘sudah diikuti sebelumnya’ membuat saya paranoid. Saya takut. Sungguh.

Besar keinginan saya agar kejadian tersebut segera ada solusinya dari pihak berwajib dengan adanya tindakan penghukuman, akan tetapi saya juga sadar diri bahwa tindak kejahatan yang terjadi bukan hanya saya objeknya. Masih banyak tindak kejahatan lain yang menjadi fokus mereka. Yang bisa saya lakukan hanya tetap bersikap positif, berharap semuanya berakhir baik dengan properti saya kembali dalam kondisi utuh — meski peluangnya kecil.

Hal-hal yang bisa saya lakukan selain berpikiran baik/positif, tentunya dengan mengambil pelajaran serta menyiapkan tindakan preventif. Baik itu terhadap diri saya sendiri, maupun juga properti yang saya miliki, dan tak lupa pada keluarga saya.

Sungguh, saya trauma.

Belajar Kehilangan

November 5, 2015 § Tinggalkan komentar

Things come and go. Silih berganti. Besar-kecil, sedikit-banyak. Semua hal datang dan pergi. Baik itu kita sadari, maupun tidak. Di saat sesuatu harus pergi tanpa kita sadari — baru sadar saat sudah pergi/tidak ada, maka kita otomatis merasakan kehilangan.

Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Terutama, terkait hal-hal yang diperlukan.

Saya sama seperti orang lain yang punya banyak keinginan dan juga harapan. Saya juga kadang merasa pengen untuk mewujudkan semuanya dalam waktu dekat. Tentunya dengan daya dan upaya yang saya bisa, serta sambil terus dan sebisa mungkin mempelajari semuanya.

Tapi mungkin di saat saya merasa cukup, belum tentu kata Sang Khalik. Bisa jadi kurang dan masih memerlukan yang lain, atau justru sudah kelebihan. Tapi, bisa tahu dari mana? Itu salah satu misteri kehidupan yang saya penasaran, tapi ga begitu perlu tahu detail dari jawabannya.

Nyambung dengan paragraf di awal, kehilangan sesuatu hal mungkin salah satu pertanda mengenai cukup/tidak cukupnya daya dan upaya yang saya lakukan. Jika dikaitkan sebagai sesuatu yang kurang dan masih memerlukan yang lain, bisa jadi Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagi saya. Tapi jika dikaitkan sebagai sesuatu yang kelebihan, bisa jadi Tuhan sedang mengajarkan saya untuk berbagi dan lebih ikhlas. Manapun, saya percaya bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik yang direncanakan oleh-Nya. Bahwa yang terjadi adalah hal yang memang saya perlukan.

Apa alasan saya tiba-tiba menulis post yang agak religius begini? Tak lain karena saya sedang melakukan refleksi terhadap hal-hal yang terjadi belakangan ini. Ga perlu nunggu akhir taun/ganti taun kan untuk refleksi/review? Bisa kapan aja, dan kebetulan saya sedang melakukannya sekarang.

Cukup banyak yang terjadi di dalam keseharian saya, salah satunya adalah ya, kehilangan tersebut. Materiil maupun immateriil. Sebal, jelas. Kesal, tentu saja. Tapi ya balik lagi, harus sadar dan percaya bahwa Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk saya.

Bismillah.

Berita Kehilangan

Jersey Bola

Oktober 21, 2015 § 1 Komentar

Saya gemar bola, gemar menonton bola, gemar mengikuti berita tentang bola, tapi memang sih jarang main bola.

Salah satu hal yang bikin saya gemar terhadap bola, selain karena permainannya menarik, juga memorabilia-nya menarik untuk diliat dan dikoleksi. Salah satunya jersey, atau kaus bola.

Sebagai salah satu penggemar klub bola asal Italia – AC Milan, saya tentu saja juga memiliki jersey bola AC Milan. Ga banyak sih, karena belinya mahal. Belum lagi kalo belinya asli, harganya bisa jutaan. Jadi saya cuma mampu beli yang replika aja, yang dijual untuk kawasan lokal. Itu pun belinya dengan cara nitip ke teman yang sudah biasa membeli jersey, baik untuk diri sendiri maupun juga titipan (seperti saya).

Khusus untuk AC Milan, jersey yang saya miliki anehnya cenderung adalah jersey kedua dan ketiga. Buat yang gemar bola, pasti ngerti apa itu jersey kedua dan ketiga. Alasannya sederhana: desainnya selalu berubah-ubah, meski masih ada garis merahnya. Kalo jersey pertama/utama, desain utamanya selalu sama dari taun ke taun, dengan beberapa ciri tertentu yang menandakan musimnya — biasanya sih begitu.

Nah, kalo kamu suka kumpulin jersey bola ga? Klub apa?

Where Am I?

You are currently browsing the harian category at i don't drink coffee but cappuccino.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.648 pengikut lainnya