Tempat Kopdar Paling Seru di Jakarta: Menurut Gue

Desember 10, 2013 § 11 Komentar

Planetarium! *nyebut Planetarium buat jawab judul :P *

Gedung Planetarium Jakarta (dilihat dari sisi barat)

Gedung Planetarium Jakarta (dilihat dari sisi barat)

Sebagai salah satu lokasi yang jadi lokasi wajib kunjung buat para penggemar langit – astronomi, ilmu bintang, atau bahkan edukasi mengenai luar angkasa, Planetarium juga cocok buat jadi tempat kopi darat (kopdar) yang seru! Ralat, khusus buat blogpost ini, Planetarium itu tempat kopdar PALING SERU di Jakarta. :mrgreen:

Kenapa? Nih.. begini ya.. « Read the rest of this entry »

Siapa Mau Tinggal di Sinar Mas Land?

November 26, 2013 § 7 Komentar

Pertengahan tahun 2004 saya hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Di saat itu saya masih “hijau” akan Jakarta dan sekitarnya. Bisa dibilang, salah naik bus atau baru pertama kali naik bus ke jurusan yang baru saja, saya akan ketakutan setengah mati akan nyasar dan ga bisa pulang. Maklum, ada semacam “culture shock” yang saya alami dengan perpindahan dari sebuah kota madya ke kota metropolitan.

Berkat pindah ke Jakarta pula saya mulai sering mendengar mengenai Sinar Mas Land. Pada waktu itu, beberapa teman kampus saya ada yang tinggal di Serpong, Tangerang, Depok, Bogor, dan Bekasi. Saya sendiri yang masih “hijau” akan Jakarta, hanya bisa manggut-manggut ketika mereka berbicara mengenai kawasan-kawasan seperti BSD City, Grand Wisata, Legenda Wisata, dan lain-lain yang menjadi proyek hunian dari Sinar Mas Land.

Moda transportasi yang beragam, kawasan perumahan yang tertata, kawasan pelayanan terpadu, adalah sebagian dari konsep kawasan yang jadi salah satu model hunian impian saya. Dan itulah gambaran yang saya dapatkan dari cerita-cerita mengenai Sinar Mas Land.

Berkat penasaran dan ingin tahu lebih jauh, saya pun coba mengunjungi sendiri kawasan terpadu yang masih grup dari Sinar Mas Land. Saya mengunjungi BSD City & Legenda Wisata sebagai dua dari sekian banyak proyek hunian yang dikembangkan oleh Sinar Mas Land. Ternyata benar seperti cerita yang telah saya dengar, kawasan-kawasan tersebut merupakan kawasan terpadu: ada hunian, tempat belanja kebutuhan sehari-hari, akses transportasi (jalan raya, jalan perumahan, maupun juga shuttle bus), hingga sekolah, taman bermain, dan area terbuka hijau.

Peta BSD City - contoh pengembangan kawasan hunian terpadu milik Sinar Mas Land

Peta BSD City – contoh pengembangan kawasan hunian terpadu milik Sinar Mas Land

Kota satelit – kalo merujuk istilah yang saya pelajari sewaktu sekolah dulu. Adalah sebuah kota yang berada di sekitar kota utama, namun memiliki fasilitas-fasilitas mandiri yang membuat warganya tak selalu tergantung kepada kota utama. Proyek-proyek hunian: residensial maupun kawasan dari Sinar Mas Land menurut saya berjenis kota satelit ini.

Salah satu hal yang patut dicermati dari kota satelit – kawasan terpadu di Sinar Mas Land ini adalah.. kualitas kehidupan dari para penduduknya. Seperti sudah diketahui, masih di dalam satu kawasan hunian saja, seluruh kebutuhan dapat terpenuhi. Sudah hampir dapat dipastikan, warganya akan lebih kecil risiko dari stress, terhindar dari kemacetan tak perlu, serta diliputi rasa aman.

Bisa dibayangkan jika menjadi penduduk dari kawasan terpadu Sinar Mas Land itu, kegiatan hariannya apabila tak ke kota utama adalah bangun pagi disuguhi matahari cerah dan kawasan terbuka, lalu ke pusat perbelanjaan atau mengajak main keluarga, atau mengantar ke pusat pendidikan seperti sekolah dan universitas. Ga perlu takut nyasar karena salah bis. Ga perlu juga bermacet-macet ria di perjalanan jauh. Hidup rasanya lebih tentram.

Saya sendiri, sebagai warga ibukota Jakarta punya mimpi untuk memiliki properti di kawasan terpadu Sinar Mas Land. Bukan sekadar untuk “menyingkir” dari ibukota, melainkan juga untuk mendapatkan best living moment bersama keluarga. Jadi, kalo ditanya “Siapa mau tinggal di proyek huniannya Sinar Mas Land?” Saya pasti bakal (ikutan) jawab “SAYA MAU!”

Kalo kamu, mau ga tinggal di proyeknya Sinar Mas Land?

NB: blogpost ini tengah saya ikutsertakan di Sinar Mas Land Writing & Photo Contest 2013.

Geocell: Si Tangguh Penahan Beban

November 17, 2013 § 1 Komentar

Minggu yang lalu saya melakukan kurang lebih 4 kali perjalanan jarak jauh dari Jakarta. Bandung dan Tasikmalaya, adalah kota-kota yang saya kunjungi. Mau tak mau, karena saya bukan konglomerat yang punya pesawat pribadi, alhasil saya pun menggunakan jalan darat melalui jalan raya dan jalan tol, karena mau naik kereta api, agak khawatir sama jadwalnya yang bisa mendadak ngaret.

Sepanjang 4 kali perjalanan jarak jauh itu, mau tak mau saya merasakan berbagai macam kondisi jalanan. Dari jalan lurus, berkelok, mulus, hingga berlubang-lubang, dan perbaikan! Bayangkan, di saat musim hujan seperti ini, masih saja ada perbaikan jalan yang memakan beberapa ruas jalan sehingga mengakibatkan perjalanan sedikit terhambat. Belum lagi, jalan berlubang yang cukup berbahaya apabila dalam atau pengemudi kendaraan kurang lihai sehingga terjerembap yang bisa menyebabkan kerusakan minor pada kendaraan.

Perbaikan pada jalan raya, maupun juga jalan bebas hambatan (jalan tol) menurut saya pribadi bisa dikurangi frekuensinya atau bahkan dihindari sama sekali. Nah, salah satunya pasti dengan menggunakan produk teknologi terkini. Salah satunya adalah geocell – seperti yang pernah saya sebutkan di blogpost saya sebelumnya.

Yups, di salah satu paragraf saya sebutkan bahwa Geocell lebih sering digunakan dalam pembuatan lapisan jalan raya. Berhubung saya penasaran, maka saya pun cari tahu lebih banyak soal ini. Berdasar info dari salah satu kenalan saya – David Mulyono, Geocell ini bisa nambah dan bikin stabil daya dukung pada struktur tanah yang lemah, secara efektif dan long term. Selain itu, Geocell juga bisa mendistribusikan beban lateral secara merata pada tanah yang daya dukungnya rendah. Sederhananya, beban terbagi rata, sehingga tidak ada potensi amblas pada salah satu titik. Kebayang dong, jalan raya atau jalan tol dilewatin mobil truk angkut, trus macet. Kalo udah gitu dan sering, titik-titik tertentu di jalan raya bisa amblas atau rusak. Atau lapangan parkir terbuka tuh, kadang suka ketemu kan titik-titik yang mulai amblas ke dalam tanah karena keseringan jadi tumpuan ban mobil. Nah, kalo pake Geocell tentunya areal parkir lebih rata dan ga bakal amblas.

This slideshow requires JavaScript.

Lebih lanjut, saya kemudian jadi tahu kalo Geocell juga bisa ngejaga pergerakan tanah secara horizontal maupun juga vertikal. Hal ini tentu berguna banget pada aplikasi Geocell di pembuatan lapisan jalan raya, maupun juga buat dinding sungai penahan erosi seperti yang udah saya tulis di blogpost sebelumnya. Dipikir-pikir, seru juga teknologi Geocell ini kalo diterapkan di seluruh aspek pekerjaan umum seperti pembangunan jalan raya – terutama pembangunan jalan raya baru, jalan tol baru, atau perbaikan jalan yang sudah rusak. Tentunya, bikin sekali bagus di awal dan kemudian awet, bakal lebih mempermudah pekerjaan selanjutnya kan karena maintenance untuk merawat agar tetap berfungsi baik tentunya lebih murah ketimbang tambal sulam – berkali-kali secara berkala. (perbaikan jalan rutin itu ya aneh menurut saya sih)

Geocell sebagai salah satu inovasi ilmu pengetahuan teknologi terkini, sudah seharusnya jadi jalan keluar bagi perihal pekerjaan umum. Bukan cuman pekerjaan perbaikan, melainkan juga permulaan untuk pekerjaan umum yang baru. Karena aplikasi dari Geocell ini tak hanya bisa diterapkan pada jalan raya, tapi juga bisa diterapkan pada pondasi jalur kereta api, pondasi jalur pipa, dan lain-lain. Ga salah kan kalo kemudian Geocell ini disebut sebagai si tangguh yang dapat menahan beban.

Kalo penasaran sama Geocell ini, selain bisa ditanya-tanya lebih jauh sama Litbang Kementerian PU, juga bisa sama David Mulyono ini lho..

Jadi penasaran, Geocell ini bisa diterapkan buat pekerjaan pembangunan kompleks hunian gitu juga ga ya?

NB: Blogpost ini tengah saya ikutsertakan pada Sayembara Penulisan Blog 2013 Balitbang PU, Kementerian Pekerjaan Umum, Republik Indonesia.

Menanggulangi Erosi Sungai dengan Geocell

November 11, 2013 § 3 Komentar

Indonesia adalah sebuah negara yang akrab dengan air. Laut, danau, dan sungai, adalah berbagai bentukan air yang berada di wilayah Indonesia. Keberadaan bentukan air tersebut berkaitan dengan kehidupan manusia, karena air adalah salah satu kebutuhan pokok manusia sehari-hari.

Banyaknya bentukan air yang ada tersebut tak lepas dari potensi-potensi yang dapat merugikan manusia. Abrasi ataupun erosi dapat terjadi akibat kehendak alam, maupun juga akibat dari perilaku manusia yang tak bertanggungjawab. Saya pribadi merasa sebal sekaligus prihatin, ketika tahu bahwa tanah di sekitar sungai di Indonesia mengalami erosi yang dapat menimbulkan bahaya bagi penduduk sekitar.

Sebagai makhluk yang memiliki akal dan budi, manusia kemudian mencari cara untuk menanggulangi potensi kerugian tersebut sambil tetap menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan. Ilmu pengetahuan pun diberdayakan melalui penelitian, serta metode trial-error untuk menghasilkan sebuah produk dan cara penanggulangan terbaik. Salah satunya adalah dengan menggunakan Geocell, solusi bagi erosi sungai.

Berdasarkan artikel yang saya baca di webnya Balitbang PU di sini,

Geocell merupakan salah satu jenis bahan geosintetis yang terbuat dari HDPE (High Density PolyEthylene) atau salah satu senyawa plastik. Secara fisik, Geocell memiliki bentuk seperti sarang tawon – hexagon (segi enam) yang saling bertumpuk. Penampang tersebut diperkirakan cukup efektif untuk bangunan pelindung tebing terhadap adanya erosi.

 

Contoh Penerapan Geocell

Contoh Penerapan Geocell. Klik pada gambar untuk mengetahui sumber.

Ketika kemudian saya iseng googling untuk Geocell, saya pun menemukan berbagai informasi bahwa di luar negeri teknologi tersebut sudah cukup banyak diterapkan. Salah satunya diterapkan oleh Terram dengan produk Geocell-nya, yang berfungsi untuk meng-stabil-kan tanah dan pengendalian erosi. Selidik punya selidik di artikel awal yang saya baca tadi, ternyata sudah disebutkan pula beberapa produsen Geocell, yakni Presto Products Company, serta US Products Inc.

Beberapa keunggulan Geocell sebagai solusi bagi erosi antara lain,

  • Usia pakai yang lama di lereng yang stabil
  • Mudah dibawa dan dipasang di lokasi
  • Pemasangan cepat dan sederhana
  • Mudah dibongkar dan dapat digunakan kembali
  • Tahan terhadap unsur biologis dan kimiawi dari tanah

Keunggulan-keunggulan tersebut tentunya sesuai dengan kebutuhan untuk menanggulangi erosi, serta menahan laju hilangnya lahan/tanah akibat gerusan air. Selain itu, juga sesuai dengan concern akan produk yang awet dan ramah lingkungan. Walau begitu, Geocell masih harus diimpor dari luar negeri karena belum ada pabrik yang memproduksi di Indonesia. Sehingga sudah hampir pasti harganya ya mahal.

Oiya, sebagai pembuktian Geocell sebagai solusi bagi erosi, Balitbang PU (sesuai artikel yang saya baca tadi), udah ngelakuin pemasangan Geocell  di K. Mungkung yaitu di Desa Patihan Kelurahan Karang Tengah Kabupaten Sragen. Penelitian ini adalah penerapan pertama geocell sebagai pelindung tebing terhadap erosi, karena sebelumnya geocell lebih sering digunakan sebagai lapisan jalan raya.

Dari penelitian Balitbang PU yang kemudian dipublikasi ini, saya jadi belajar kalo ilmu pengetahuan yang ditelaah oleh manusia bisa memberikan solusi bagi berbagai permasalahan masyarakat – atau pekerjaan umum. Mudah-mudahan sih, hasil penelitian ini kelak diterapkan juga secara menyeluruh. Amin!

Menurut kamu gimana?

NB: Blogpost ini tengah saya ikutsertakan pada Sayembara Penulisan Blog Balitbang PU, Kementerian Pekerjaan Umum, Republik Indonesia.

Menikmati Hening

September 25, 2013 § 8 Komentar

“The Stupas of Borobudur” photo by Prihanda Muhardika di website Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. – klik foto buat info lebih lanjut

Suara, sebuah objek yang bisa dirasakan oleh indra pendengar manusia. Sebuah objek yang lazimnya diciptakan oleh benda-benda yang beradu, ataupun mengisi kekosongan. Sebuah objek yang bisa menjadi sebuah kerinduan di dalam kesepian, maupun juga sebuah pengganggu jika terlalu banyak yang didengarkan.

Lazimnya, manusia hidup dengan selalu dikelilingi suara, karena fitrahnya manusia adalah untuk mendengar, sebagai salah satu bagian dalam menggunakan panca indra. Namun, ada beberapa waktu yang justru butuh kondisi di mana suara-suara dikesampingkan. Hening. Untuk kemudian dinikmati. Atau mungkin juga, menjalani hening agar dapat berpikir lebih jernih. Tentang hidup, tentang sehari-hari, tentang ciptaan Tuhan, tentang bersyukur.

Buat saya pribadi, konsep menikmati hening perlu diterapkan dalam sehari-hari. Setidaknya, sebagai penyeimbang. Tujuannya? Sudah jelas, supaya dapat berpikir lebih jernih, supaya lebih cermat terhadap sebuah perihal, supaya lebih fokus. Pelaksanaannya sendiri, bisa setiap saat dan tak perlu lama. Walau begitu, waktu yang paling pas buat menikmati hening bagi saya adalah ketika malam menjelang pagi.

Ketika sebagian besar makhluk hidup masih beristirahat, dan sebagian lagi sedang bersiap-siap untuk menyongsong hari dengan kesibukan di tempat masing-masing, saat itulah – bagi saya – keheningan yang paling nikmat. Saat itu pula sepertinya tepat bagi saya untuk mencari pemecahan berbagai tantangan yang sedang saya jalani, membuat beberapa rencana, hingga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dan, bagi saya pribadi pula, konsep menikmati hening ternyata telah mengakar di dalam sejarah dan budaya Indonesia – terlepas dari agama, kepercayaan, dan atau sikap politik. Menikmati hening yang juga bisa diartikan sebagai bentukan meditasi, telah tercermin melalui patung dalam stupa-stupa di Candi Borobudur di Jawa Tengah, Indonesia. Dengan posisi mengelilingi candi di setiap lantai, patung-patung tersebut menghadap ke lingkungan sekitar, dalam posisi duduk yang bisa dianggap sebagai meditasi. Yang ketika dipikirkan lebih jauh, patung tersebut sedang dalam posisi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dalam hening, dengan mengamati lingkungan sekitar.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, foto diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Dari Candi Borobudur itulah, saya belajar bahwa pencapaian terbesar bagi seorang manusia bukanlah tentang memiliki kekuatan yang mendekati atau lebih besar daripada Penciptanya. Pencapaian terbesar manusia, adalah tentang mengakui kebesaran Sang Pencipta yang salah satu perwujudannya adalah membuat mahakarya yang mencerminkan keagungan Tuhan.

Menurut kamu, gimana?

NB: Tanpa mengurangi kandungan isi, blogpost ini tengah diikutsertakan dalam blogging competition yang menjadi bagian dari Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

Di mana saya?

Anda sedang menelusuri kategori lomba pada i don't drink coffee but cappuccino.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.109 pengikut lainnya.