Ideal(is)(?)

Januari 12, 2017 § 2 Komentar

Dulu saya punya cita-cita: turut serta mengubah dunia menjadi yang lebih baik. Dalam artian, tergabung dalam gerakan yang besar, global, bisa/mudah dikenali, dan suatu saat nanti menjadi salah satu garda terdepan dalam gerakan tersebut.

Tapi itu dulu…

Waktu saya masih aktif sebagai mahasiswa D3 (waktu jadi mahasiswa S1, sambil kerja, jadi ga sempet mikir yang gitu lagi :mrgreen: ) yang kerjaannya “cuma” kuliah aja. Jadi, ngisi waktu selain kuliah dan ngerjain tugas, aktiflah di kegiatan kampus, cari-cari jaringan LSM yang terkait dengan ketertarikan (interest), dan masih banyak lagi. Pokoknya menyalurkan minat. Syukur-syukur kalo dapet jaringan yang mumpuni — sayangnya (kayanya) ga dapet tuh. 😆

Sekarang?

Saya lebih cenderung mengubah sudut pandang saya. Memulai perubahan dari hal yang kecil, diri saya sendiri. Syukur-syukur kalo di kemudian hari bisa dikenali dunia. Syukur-syukur kalo kemudian perubahan diri saya bisa menular ke seluruh dunia. Ga perlu muluk-muluk gabung ke gerakan besar/global, karena sadar diri: ga punya waktu. Dan juga yang paling nyadar: saya cuma satu manusia biasa, rakyat jelata, ga punya afiliasi politik, apalagi afiliasi harta (berdasar kekeluargaan).

Intinya: saya cuma manusia biasa.

Hal itu juga yang kemudian ngubah cara saya menilai sesuatu sebagai idol ideal. Dulu, ideal menurut saya apabila tentram, tertib, sesuai peraturan, tertata, dari A-Z bisa diurut dan dikenali. Sekarang? Ideal menurut saya adalah adil — sesuai proporsinya, nyaman, berkembang, dan bisa terus-menerus — kalo bisa jadi warisan.

Secara bahasa (atau struktur kata), makna ideal bagi saya dan dulu jelas berbeda. Tapi secara makna atau pengertian, sepertinya perbedaan hanya di penerapannya dan persepsi saja. Saya lupa persisnya idealisme saya dulu didasari oleh apaan, tapi yang pasti seiring perjalanan di dunia (baca: tambah umur), ya mendewasakan idealisme tersebut.

Engga, saya ga menggurui. Postingan ini lebih ke sharing, sekaligus reminder buat saya juga suatu saat nanti. Kalo bisa malah, reminder buat penerus saya — terutama anak-anak saya. 🙂

Buat kamu, ideal itu yang seperti apa/gimana?

Pilkada DKI dan Saya

Januari 5, 2017 § 3 Komentar

Disclaimer: Bagi yang berharap saya menuliskan nama pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI yang saya dukung atau tidak dukung, silakan kecewa duluan. Postingan blog ini lebih ke hal-hal generik terkait pilkada DKI. Tapi tidak menutup kemungkinan saya sebutkan juga, suatu hari nanti. 🙂 Kalo ga ngarepin, ya nikmati aja. *berasa penting banget*

2017 ini ketiga kalinya saya mengikuti gelaran Pilkada DKI. Pertama tahun 2007. Kedua tahun 2012. Ketiga ya tahun ini.

Di 2 pilkada sebelumnya apakah mendukung calon yang sama? Jawabannya TIDAK. Lebih karena pada tahun 2007 saya memutuskan untuk tidak datang ke TPS dan memberikan suara saya. Lebih karena juga saya merasa tidak ada pasangan calon yang mewakili apa yang saya rasakan, inginkan, harapkan. Dan saya menyesal tidak memberikan suara saya. Karena bisa jadi satu suara saya juga memberikan perbedaan. Karena saya seharusnya bisa memanfaatkan hak saya sebagai warga negara untuk memilih kepala daerah di tempat saya berdomisili dan bekerja.

Beda cerita di pilkada DKI tahun 2012. Saya merasa ada pasangan calon yang mewakili apa yang saya rasakan, inginkan, dan harapkan. Oleh karena itu saya pun mendatangi TPS. Saya lupa persis apakah saya termasuk pemilih dalam daftar cadangan (menggunakan surat suara sisa) atau tidak. Tapi saya masih ingat persis mencoblos surat suara dan mencelupkan jari kelingking ke tinta sebagai tanda telah menggunakan hak suara.

Di tahun ini, pilkada DKI tahun 2017 saya berencana untuk kembali mendatangi TPS dan menggunakan hak suara saya. Lagi-lagi, dalam 5 tahun terakhir saya juga baru pindah alamat KTP lagi. Saya berharap tidak perlu menunggu waktu pemungutan suara terakhir untuk bisa memilih — seperti pada Pemilu 2014 lalu, melainkan bisa sejak dari pagi hari. Apalagi RT setempat saya sudah mendata mengenai jumlah pemilih ke rumah saya sejak akhir tahun 2016 lalu. Dan semangat saya untuk datang ke TPS lebih besar daripada 2012 lalu, juga gabungan dengan penyesalan 2007 lalu. Yakni karena saya merasa ada pasangan calon yang mewakili apa yang saya rasakan, inginkan, dan harapkan serta saya berharap hak suara saya bisa membuat perbedaan, serta memanfaatkan hak saya sebagai warga negara.

Saya melihat Pilkada (di DKI) dan juga Pemilu adalah salah satu bentuk hak dan kewajiban saya sebagai warga negara. Hak saya untuk menggunakan suara saya, serta kewajiban saya untuk turut serta menyukseskan pemilihan kepala daerah dengan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Iya, seperti jargon pemilu dari jaman orde baru yang kemudian diwariskan dan ditambahkan saat masuk orde reformasi.

Buat yang melihat bahwa saya cenderung main aman atau oportunis, saya persilakan. Saya disebut swing voters pun tidak masalah, karena faktanya memang seperti itu. Tapi secara pribadi saya punya prinsip, pandangan pribadi terkait politik yang tidak wajib saya utarakan kepada siapapun. Penyaluran melalui postingan blog ini sekalipun adalah salah satu bentuk dari rasa gemas (kalo ga dibilang kepedulian) terhadap situasi terkini.

Sebagian orang juga mungkin menilai postingan blog saya ini sebagai terlambat, dan atau ketinggalan. Apalagi mengingat saya tidak punya afiliasi politik, dan atau sejarah terkait permasalahan sosial dan politik (praktis?). Lagi-lagi saya bilang, silakan. Saya cuma berharap siapapun kepala daerah DKI yang terpilih nanti bisa bekerja dengan baik, memberikan kemajuan bagi warga DKI dan yang PP DKI, serta selaras dengan cita-cita bangsa dan negara.

2016 ini…

Desember 28, 2016 § Tinggalkan komentar

Buat saya pribadi tahun 2016 ini terasa sangat cepat berlalu. Sepertinya baru kemarin saya ajak jalan keluarga kecil saya menikmati libur awal tahun, baru kemarin melakukan perjalanan darat (lagi) ke Yogyakarta, baru kemarin lebaran, lalu mendadak sudah akhir tahun saja. Benar-benar rasanya cepat.

Beberapa orang bijak berkata, jika waktu terasa cepat berlalu, bisa jadi yang dilakukan dengan waktu tersebut berguna dan menyenangkan. Mudah-mudahan benar adanya. Karena seperti keinginan pribadi saya, hendak menjadi lebih baik dan berguna setiap saatnya. Setiap berganti tahunnya. Meski memang tidak dituliskan dalam bentuk resolusi. Bahkan akhir tahun lalu saya “hanya” membuat review akhir tahun, dan bukan (lagi) resolusi untuk tahun yang baru.

Pendapat lain diungkapkan oleh orang lain yang lebih dewasa mengenai rasanya tahun cepat berlalu: yakni faktor kedewasaan. Usia mungkin termasuk ke dalam kedewasaan tersebut, karena sudah sepantasnya jika bertambahnya usia tentu menambah kedewasaan. Terkait apa yang membuat kedewasaan membuat waktu terasa lebih cepat berlalu, buat saya pribadi sepertinya lebih karena sikap “nrimo” dan sabar yang lebih banyak dipelajari dibandingkan sebelumnya. Tapi bukan berarti tidak melakukan perubahan atau menjadi yang lebih baik, hanya saja mengurangi sikap/sifat menentang dan percaya bahwa ada kekuatan yang sangat baik dan for a greater good. Iya, lebih percaya dan beriman terhadap Tuhan YME.

Berlanjut ke pencapaian dan review akhir tahun, 2016 ini bukan berarti tidak melakukan pencapaian apapun hanya karena terasa cepat berjalan. Ada kok pencapaian yang sudah dilakukan, hanya saja kali ini saya rasa cukup untuk saya sendiri saja.

Begitu. Dan Selamat menyambut Tahun yang Baru – 2017.

Gimana 2016 kamu?

Tas Gunung

November 23, 2016 § Tinggalkan komentar

Tas, kantung (lazimnya berukuran besar) yang digunakan untuk membawa barang-barang, bisa dibedakan menjadi berbagai macam nama turunan bergantung kepada jenis/model, pemakai, bentuk, sampai dengan kapan dipakenya.

Sejak kecil sampai dengan dewasa sekarang, sepertinya sudah belasan atau puluhan tas saya gunakan. Baik itu untuk keperluan sekolah, perjalanan jauh, sampai dengan bekerja. Beragam model dan ukuran pernah saya gunakan, pun juga warna dan bahan. Sedikit banyak, dari sekian banyak tas tersebut yang paling saya gemari adalah tas ransel — tas punggung berukuran cukup besar yang biasanya dirilis oleh produsen keperluan mendaki gunung.

Yep, you read that right: tas gunung, tapi bukan yang buat mendaki ya. Atau bisa juga dibilang tas buat outdoor yang ukurannya lebih kecil daripada buat mendaki.

Alasan saya memilihnya? Sepertinya sederhana, sbb:

  1. Isian/kantongnya banyak. Mulai dari yang paling kecil hingga paling besar. Mulai dari yang mudah diakses seperti di samping, sampai dengan yang kantung utamanya. Kantongnya banyak tersebut memudahkan saya untuk membawa beberapa barang dengan jenis berbeda — jika/saat diperlukan, tanpa harus membawa organizer lagi dan atau menyesuaikan tata letak di dalam lagi.
  2. (Biasanya) Bahannya tahan lama. Iya, serius. Tahan lama dalam artian bisa digunakan lebih dari 1-2 tahun. Buat saya, tas yang digunakan sehari-hari bisa berumur lebih dari 1-2 tahun itu hebat. Belum lagi kalopun rusak — biasanya, rusaknya justru di retsleting atau kaitan antara selempang dan bodi tas. Itupun masih bisa diperbaiki lagi — walau tentu kualitasnya berbeda dengan yang baru.
  3. Ringkas. Tas gunung identik dengan bentuknya yang ringkas, karena tujuannya tentu untuk memudahkan pergerakan dan tidak perlu takut nyangkut atau membuat susah berjalan.
  4. Dilengkapi tempat-tempat yang strategis untuk menambahkan aksesori. Iya, seperti gantungan kunci, pin, dan masih banyak lagi. Tapi ini sepertinya subyektif saya aja, karena mungkin saya ga tau apa fungsi aslinya jika digunakan untuk naik gunung. 😆

Beberapa merek produsen keperluan mendaki gunung yang merilis tas gunung yang saya kenal dan pernah saya gunakan antara lain Alpina, Eiger, Bodypack (ini kaya’nya bukan ya..), sampai dengan Consina. Khusus untuk merek terakhir — Consina, ini yang belakangan masih saya gunakan. Harganya juga bervariasi, namun cenderung di range 250rb-500rb. Harga-harga tersebut sudah cukup untuk mendapatkan tas gunung yang bagus dan fungsional.

Anyway, alasan saya menggunakan tas gunung juga karena belakangan modelnya makin modis — sederhananya dari warna yang lebih ngejreng dan ga kalem lagi. Lebih kekinian kalo kata anak jaman sekarang!

Kalo kamu, suka pake tas macam apa?

Nge-sosmed

November 16, 2016 § Tinggalkan komentar

Friendster. Social media pertama yang saya kenal dan saya pake. Kalo ga salah sejak jaman SMA sampe dengan masa-masa akhirnya saya masih pake. Dulu fitur di dalamnya yang biasa dipake udah jelas testi dan juga buletin. Trus kemudian ada blognya. Kurang lebih, di FS (singkatan populernya dulu) saya jadi belajar nulis dan juga belajar cara komunikasi via tulisan yang baik dengan orang lain.

Lanjut kuliah, Facebook mulai rame dipake banyak orang. Meski masih susah pindah platform, akhirnya punya akun juga di sana. Dan makin kepake banget waktu mulai kerja di grup Gramedia — lebih karena ngelola komunitas kerjaan waktu itu dan juga facebook page. Tapi masih berasa ada yang kurang, alhasil blog yg di friendster dimatikan dan pindah ke blogspot trus pindah ke sini — ke wordpress ini.

Setelah itu, tinggal sejarah karena kemudian berbagai channel social media dicoba-coba dan punya akunnya. Sebutlah twitter, plurk, koprol (waktu itu), dan masih banyak lagi.

Dulu saya awal-awal aktif di social media (nge-sosmed) ga lain buat jaga komunikasi dan hubungan dengan teman-teman lama (halah). Maklum lah, SMP dan SMA di kota mana, kuliah dan kerja di kota mana. Jadi udah hampir pasti jarang ketemu — kalo ga dibilang ga pernah ketemu (lagi). Pun waktu dulu kaya’nya pemikirannya masih sederhana, nge-sosmed ya macam ngobrol online meski ga live chat (mIRC dan aplikasi lainnya).

Makin ke sini, disebabkan oleh “booming”-nya tata cara pemasaran (marketing) yang baru via digital, social media pun kemudian dikenal dan dipake banyak orang. Juga kemudian dipake sama banyak merek/produk terkenal buat nyampein materi promosi/pesan-pesannya. Yang juga jadi salah satu pekerjaan saya — nge-sosmed.

Dulu-dulu waktu masih awal nge-sosmed, beberapa temen seangkatan saya bingung dan bertanya-tanya: ngapain sih kerjaannya internetan dan aktif di social media mulu — kaya’ ga ada kerjaan yang lebih produktif aja. Tapi kemudian mereka juga tau sendiri kalo ternyata social media channel itu bisa banget dipake buat banyak hal. Pun juga banyak orang yang lebih memilih untuk dihubungi via social media-nya — kalo ga tau kontak langsung buat japri.

Belakangan apakah masih nge-sosmed? Jelas masih. Tapi cara makenya ga sama lagi seperti di awal-awal dulu. Bandinginnya gini: dulu login paling banter seminggu 3-4x, sementara sekarang bisa tiap hari. Eh, salah ya? 😛 Oke, diulang.. Dulu pake sosmed sering banget ngepos apapun, di-share ke publik pula. Sekarang? Masih ngepos, tapi publish cukup buat diri sendiri. Dulu asik banget diskusi di sana-sini, sekarang? Sesekali aja, seperlunya aja. Dulu ngepromoin akun social media buat nambah temen/followers/dikenal banyak orang. Sekarang? Biarlah organik aja. Bahkan bisa dibilang lebih selektif lagi buat approve jadi temen — kalo pake sistem approval.

Berubahnya cara pake social media itu ga serta-merta, tapi bertahap kok. Perlu beberapa bulan sampai dengan setahun. Pun dengan sebab yang kebanyakan eksternal: BISING. Yep, you read that right. Social media cenderung bising karena seperti yang banyak orang tau, masing-masing orang ibarat pake toa ngumumin hal-hal individu-nya.

Engga, saya ga ngenilai yang suka koar-koar atau publish terus ke khalayak ramai itu salah. Engga ya. Itu hal personal, dan layak untuk dimaklumi saja. Karena dasarnya karakter tiap orang kan beda-beda. Pun dengan proses belajarnya. Begitu juga dengan fase perubahannya. Saya juga ga ngajakin supaya semuanya sama seperti saya. Saya cuma ngasitau fakta aja — meski kebacanya seperti komen. That’s it.

Kamu masih nge-sosmed di mana aja?

Coolpad Sky 3: Lengkap dan Melengkapi

Oktober 14, 2016 § 9 Komentar

Awal taun lalu, saya pernah ngepost kalo hape yang pernah nemenin saya cukup lama dan jalan ke sana-sini rusak. Aktivitas sempat terganggu, karena beberapa keperluan saya bisa dipenuhi oleh hape tersebut. Foto-foto, musik, internetan, sampai dengan catatan yang muncul di kepala. Alhamdulillah, pertengahan tahun istri tersayang ada rejeki lebih untuk beliin pengganti yang sepadan — secara fungsi sudah terpenuhi meski speknya beda. Tapi tetep, dalam hati bedoa khusyuk supaya suatu saat nanti punya rejeki lain, kali-kali dapet yang speknya setara juga. Kan kaya’ generasi langgas (millenials) lainnya yang ga cukup punya hape 1 aja. 😛

Fast forward sedikit, saya pun ketemu dengan Coolpad Sky 3. Hape yang di pasaran berharga Rp 2.399.000 ini menarik perhatian saya banget, apalagi beberapa speknya kayanya cocok sama keperluan saya: RAM 2GB, dual camera masing-masing 8MP, dan ukuran layar yang cukup gede, seperti yang dilansir Tabloid Pulsa. Terlebih ketika tau OS-nya yang udah Marshmallow dan secara fisik ramping pula. Udah deh, ngebet banget. Dan namanya rejeki ya, sampailah ke tangan saya. :mrgreen:

img_20161012_124318

Daily Companion. Originally posted on Instagram @billykoesoemadinata


foto di atas diambil menggunakan hape lain dan dipost di instagram saya menggunakan filter.

Udah sekitar seminggu lebih saya pake hape Coolpad Sky 3 ini — meski tanggal di foto di atas tanggal 11 Okt. Satu kata awal untuk hape ini adalah LENGKAP. Sesuai dengan speknya, hape ini melengkapi kebutuhan saya mulai dari foto-foto, internetan, musik, sampai dengan bikin catetan. Layarnya lebar, cukup buat jari-jari saya yang panjang dan gede untuk ngetap (ngetik) dengan nyaman. Meski begitu, tetep masuk ke dalam kantong saya, jaket maupun juga celana panjang.

img_20161011_094237

Fit for my pocket. Originally posted on instagram @billykoesoemadinata


foto diambil menggunakan kamera dslr

Selain nyaman untuk ngetik, saya belum ngalamin namanya ngelag pas lagi pake hape Coolpad Sky 3 ini. Mungkin karena masih baru, mungkin juga karena RAM-nya yang 2GB, mungkin juga karena prosesornya yang mumpuni, atau mungkin karena hapenya belom (dan mudah-mudahan ga bakal) saya installin banyak aplikasi. Manapun alasan aslinya, yang penting nyaman untuk digunakan — karena kalo udah nyaman, pasti bakal nempel terus bukan? :p

Meski begitu, saya sebagai pengguna hape sejak lama *halah*, pas awal-awal pake agak bingung juga karena ga ada kontainer untuk menu. Jadi langsung via desktop gitu. Usut punya usut, ternyata hape jaman sekarang rata-rata begitu sih ya. Jadi ya saya yang harus menyesuaikan. Pertama-tama agak bingung emang — ga biasa, tapi lama-lama kok ya rasanya lebih praktis. Tinggal buka kunci dan bisa langsung pake aplikasi yang dibutuhin. Lagipula, ada opsi folder untuk nampung aplikasi-aplikasi yang dibutuhin kalo emang berasa penuh banget layarnya atau kebanyakan page.

Salah satu fitur bawaan yang sekarang cukup bikin saya nyaman juga adalah “Theme”, “Rock Wallpaper”, dan “c” button yang bisa dipindah-pindah. Theme nyaman karena saya bisa pilih theme yang cocok buat Coolpad Sky 3 saya tanpa harus takut ga compatible — seperti kalo download terpisah di google playstore. Rock wallpaper juga bikin nyaman karena saya gampang buat ganti wallpaper hape tanpa harus buka folder image. Dan “c” button jelas bikin nyaman karena jadi shortcut buat beberapa task yang sebelumnya mungkin harus bikin saya pegang hape dengan 2 tangan — contohnya bikin skrinsut.

Secara fisik juga hape ini bisa bikin orang penasaran dan nanya lebih jauh. Ga sekali-dua kali rekan kerja maupun juga kerabat nanya: “Hape apaan tuh? Warnanya bagus. Pasti mahal, ya?”

img_20161006_204134

Perfect for tonight: frappe coffee & Coolpad Sky 3


foto diambil menggunakan kamera dslr

Tapi yang paling saya suka dan MELENGKAPI saya dari Coolpad Sky 3 ini adalah kameranya. Singkatnya udah tau kan kamera depan dan belakang masing-masing 8MP? Nah, ternyata ada fitur untuk beauty shot & juga gif maker. Mayan, kalo selfie-selfie bisa keliatan lebih cakep (dan lebih muda?). 😆

img_20161013_144415

Tadi pagi selagi ngantri lampu merah, sekali2 selfie. Mumpung ada fitur beauty di kamera depan #coolpadsky3. Difoto menggunakan coolpad sky 3 dari @coolpadindonesia. #coolforlife #coolpadindonesia | Originally posted on instagram @billykoesoemadinata


difoto menggunakan kamera depan Coolpad Sky 3

Kalo mau tau gimana hasil foto-foto dari kamera belakangnya dan foto-foto lain untuk Coolpad Sky 3 ini, silakan cek aja instagram saya. 🙂

Jadi, kalo buat saya sih Coolpad Sky 3 ini LENGKAP fiturnya dan juga MELENGKAPI kebutuhan saya. Mudah-mudahan awet. :mrgreen:

DISCLAIMER: Tanpa mengurangi kandungan isi, postingan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba ngeblog yang diselenggarakan oleh Coolpad kepada blogger terpilih. Informasi lebih lanjut bisa diliat di sini.

Pilkada

Oktober 6, 2016 § 1 Komentar

Ngomongin yang terkait politik dikit ya. Sekali-sekali. 🙂

Sebulan terakhir saya termasuk yang kurang nyaman dengan berita di sana-sini terkait politik, ga lain karena ada proses pilkada di wilayah yang jadi tempat tinggal saya saat ini. Diperjelas dikit: bukan ga nyaman dengan pilkada-nya, atau prosesnya, melainkan ga nyaman dengan berita serta sharing beritanya. Rasanya riuh bin berisik banget jalur komunikasi dan sosialisasi yang saya gunakan dengan berita terkait pilkada. Makanya, belakangan ini saya mengaktifkan lagi upaya untuk menyaring informasi.

Menyaring informasi yang saya lakukan bukan yang ribet atau dengan bantuan intelegensi pintar, cukup dengan memilih siapa/apa yang hendak saya baca/ikuti dan juga siapa/apa yang perlu saya share mengenai pandangan saya. Termasuk di blog ini. Karena blogpost ini menurut saya termasuk sarana saya untuk aspirasi terkait politik, tapi tidak langsung menjurus ke paham tertentu — setidaknya menurut saya.

Soal paham politik, azas, aliran, partai, sampai dengan kandidat mana yang saya dukung, orang-orang terdekat saya lebih tahu. Kalo mau nebak, silakan. Belum tentu saya jawab atau saya iyakan. 🙂 Tapi satu hal yang jelas adalah: (sepertinya) saya tidak termasuk golongan grass-root, bukan pula termasuk golongan aktif berpolitik dan bergolongan. Saya hanya berharap saya cukup disebut melek politik.

Anyway, karena judulnya udah kadung pilkada, maka sudah selazimnya saya bahas juga terkait itu. Dan itu berarti bukan melulu kandidat atau kampanyenya, melainkan juga proses dan harapan-harapan terkait. Untuk prosesnya sendiri, saya cukup senang dengan yang dilakukan oleh KPUD. Antara lain promosi mengenai kepastian penduduk terdaftar sebagai pemilih dilakukan dengan cara jemput bola — setidaknya itu yang saya rasakan di sekitar tempat tinggal saya. Harapannya tentu adalah ketika proses awalnya saja sudah aktif dan jemput bola, maka setelah kandidat terpilih nanti juga aktif dan jemput bola terkait hal-hal yang bisa diputuskan oleh pejabat kepala daerah.

Jika postingan ini terasa rumit, maka sudah jelas dan sesuai tujuannya. Karena politik itu memang rumit, dan ga semua orang mengerti. Saya yang sudah mulai belajar berpolitik dari SMP (pemilihan ketua OSIS) saja masih merasa rumit, apalagi yang baru mengikuti belakangan ini?

DISCLAIMER: Blogpost ini bukan bentuk dukungan terhadap salah satu bakal calon atau calon kepala daerah dan atau wakilnya. Bukan pula bentuk dukungan terhadap organisasi atau massa pendukungnya.