Hape Rusak

Januari 21, 2015 § 1 Komentar

Entah berkaitan apa engga sama postingan saya sebelumnya soal hape qwerty, yang pasti sih per jumat lalu gadget gnote 2 yang udah nemenin saya hampir 2 taun rusak.

Kerusakannya juga bukan rusak perangkat lunak atau internal sistemnya — yang menurut saya lebih “mudah” penanganannya, melainkan rusak di perangkat kerasnya. Yang mau ga mau bakal ganggu banget penggunaannya.

Bisa ganggu banget karena rusaknya persis di layar sentuhnya. Padahal sepanjang sejarahnya gnote ini udah pernah jatuh di segala sudut sampe baret dan hardcase pelindungnya mulai rusak, nyungsep ke dalam salju, kena paparan angin musim dingin & badai salju, tergenang air kopi, dan lain-lain. Sekalinya jatoh pas kena layarnya duluan, langsung retak deh. :(

Sedih, jelas. Tapi ya… masih bisa dipake sih walau ganggu banget. Pengennya langsung ganti sparepart layarnya, tapi harganya lumayan. Hampir setara hape android baru low end dari merek bonafid lainnya. Dilema — kalo ga dibilang galau. *halah*

Soal foto gimana kerusakannya, ntar aja deh kalo sempet difoto. Secara saya sering moto ya pake gnote ini. Begitu dia rusak, ya ga tau pake apa buat moto kerusakannya.

Penghargaan Film

Januari 14, 2015 § 4 Komentar

The Oscar — from Shutterstock

Ngikutin atau engga, awal taun biasanya selalu rame dengan yang namanya penghargaan film — khususnya dari Hollywood. Ga lain ga bukan, ya Golden Globe dan Academy Awards (Oscar). Personally, saya ga gitu ngikutin sampe detail, karena saya cukup ngikutin di permukaan aja — Oh, ada awardingnya, trus penasaran aja yang menang siapa aja.

Mulanya, saya berpendapat film (serial, TV, atau layar lebar) yang menang di penghargaan itu pasti yang bagus dari sisi produksi dan juga komersil. Turns out, ga semuanya begitu. Ada kalanya filmnya sukses secara komersil, tapi ga menang penghargaan. Ada juga yang menang banyak penghargaan, tapi ga begitu sukses secara komersil — tapi minimal bisa balik modal dan tutup produksi. Contohnya apa ya? Banyak deh kayanya — sayangnya saya ga hapal karena saya ga gitu merhatiin detail soal film (keseluruhan). *ga bakat jadi pemerhati film nih* :lol:

Walau begitu, ada juga kok film-film yang sukses secara komersil dan masih masuk nominasi penghargaan di posisi terhormat. Contohlah Inception dan juga Crouching Tiger Hidden Dragon. — Yes, kalo yang ini saya inget. :P

Oiya, sedikit lompat-lompat, saking ga bakatnya saya jadi pemerhati film, saya ga hapal lho yang menang Golden Globe kemarin siapa/apa aja. Bahkan, aktor-aktris yang film-filmnya jadi favorit saya sekalipun, saya ga hapal apa udah pernah menang penghargaan tersebut atau engga. Palingan cuma Russell Crowe yang saya tau pernah menang Academy Award (Oscar) karena film Gladiator dan A Beautiful Mind. *yep, keduanya film favorit saya dari banyak lainnya*

Anyway, back to topic soal penghargaan film, saya kadang penasaran (banget) kenapa kok film produksi Indonesia (atau menceritakan soal Indonesia) belom pernah menang di penghargaan film tersebut? CMIIW yaaa..

Apa mungkin karena kualitasnya beda? Beda objektif? Beda juri? Atau kenapa? Pertanyaan ini karena saya awam aja sih, bukan berarti saya nuduh atau mau memancing kontroversi. *halah*

Menurut kamu kenapa film Indonesia (produksi ataupun cerita Indonesia) belom pernah menang di Golden Globe/Academy Award?

NB: foto dari shutterstock, saya comot buat tampil aja dengan kredit (watermark) yang masih jelas terlihat.

Hape Qwerty atau Touchscreen?

Januari 7, 2015 § 4 Komentar

Hape numpad aja, gimana?

Saya merasa beruntung jadi bagian dari generasi yang pernah tahu telepon koin pinggir jalan, telepon koin yang dipasang di rumah, telepon radio, telepon kabel dengan tombol pencet, sampai kemudian muncul telepon portabel, telepon seluler, handphone numpad, keypad, qwerty, sampai kemudian hape touchscreen. Saya juga pernah tau hape dengan tombol putar, walau tak pernah mengoperasikannya.

Telepon Koin

Telepon Koin

Sebagian besar telepon itu, kini mungkin cuma bisa diliat di museum atau gudang. Terutama karena layanan seluler semakin luas penggunaannya, juga karena sudah awam untuk setiap orang memiliki hape sendiri. Bahkan, mungkin satu orang punya beberapa hape sekaligus.

Personally, dari sekian banyak telepon dan hape tersebut, saya paling nyaman penggunaannya adalah telepon kabel. Alasannya sederhana sih, ga perlu takut ilang sinyal, ga perlu takut lowbat, udah pasti nyambung — sepanjang tagihan selalu terbayar. Sayangnya, telepon kabel itu harus benar-benar dijaga pemakaiannya, karena bisa-bisa menjebol anggaran bulanan.

Dan juga karena dihadapkan dengan betapa besarnya kemungkinan saya untuk berpindah tempat, telepon kabel pun jadi kurang praktis. Jadinya, hape atau telepon seluler menjadi pilihan utama.

Seiring kemajuan teknologi dan juga perkembangan jaman pun, telepon seluler yang mulanya hanya menyediakan layanan suara, dilengkapi dengan teks dan internet. Dan hape-hape canggih pun mulai bermunculan sampai yang mutakhir adalah touchscreen dengan ketebalan yang sangat tipis.

Tapi saya sih kurang tertarik — saat ini, untuk menggunakan hape canggih seperti itu. Karena satu; takut nyelip dan gampang hilang, dan yang kedua; saya ga bisa beli karena harganya udah pasti mahal. :mrgreen:

Jadi kalo disuruh milih dan emang saat ini juga lagi saya pake, saya suka ponsel dengan keypad qwerty. Sayangnya sih, ponsel keypad qwerty ga secanggih ponsel touchscreen — atau sayanya aja yang ga nemu. :P

NB: telepon koin photo credit: erwinabdulrahman via photopin cc
NB lagi: postingan ini terinspirasi dari postingan salah satu teman di path, soal betapa anak remaja jaman sekarang belom tentu tau pernah ada yang namanya telepon koin.

Mau Nikmati Awal Tahun Baru di Mana?

November 26, 2014 § 8 Komentar

Bali.

Yes, pulau Bali adalah jawaban saya untuk tempat utama yang pengen saya kunjungi buat nikmati awal tahun baru. Dan iya, bukan akhir tahun yang saya tuju, melainkan awal tahun karena melihat sinar matahari pertama di tahun yang baru, semacam bisa meningkatkan gairah saya untuk menjalani sebuah tahun yang baru. Apalagi kalo liatnya di Bali. Pulau dewata.

Personally, saya baru sekali ke Bali. Itu pun ga sengaja, karena harusnya “hanya” transit beberapa jam, tapi kemudian harus menginap semalam (12 jam) karena penundaan penerbangan. Seharusnya 12 jam tersebut bisa dipergunakan untuk eksplorasi Bali, tapi karena waktu itu sudah malam dan saya sudah lelah, jadinya langsung menuju penginapan yang disediakan dan terlelap. Paginya pun sudah buru-buru diangkut ke bandara untuk melanjutkan perjalanan.

Kenapa pengen ke Bali? Karena saya pengen. Polos memang. :P Karena jika dijabarkan, ada berbagai macam alasan kenapa saya pengen ke Bali. Antara lain di bawah ini…

Tanah Lot

Tanah Lot

Tanah lot. Kawasan yang terdapat pura dengan nama yang sama ini, merupakan salah satu destinasi wisata terkenal di Bali. Saya pengen banget bisa ke sana, melihat dengan mata saya sendiri sebuah bangunan yang tak ada duanya ini.

Tari Kecak

Tari Kecak

Tari Kecak. Tari asli Bali yang dipertontonkan oleh banyak orang ini adalah salah satu atraksi yang ingin saya saksikan secara langsung juga. Belum lagi, dengar cerita dari teman-teman dan juga kerabat, Tari Kecak paling pol kalo ditonton di saat matahari terbenam. Dengerin ceritanya aja saya udah terkagum-kagum..

Ubud. Salah satu kawasan di pulau Bali ini menjadi salah satu tujuan di Bali yang paling pengen saya kunjungi karena ia kerap menjadi lokasi UBF atau Ubud Writers Festival. Saya sendiri senang menulis, dan sepertinya adem rasanya untuk bisa membuat sebuah karya tulis di tengah-tengah asrinya alam Ubud.

Lumba-lumba di Pantai Lovina

Lumba-lumba di Pantai Lovina

Pantai. Bali adalah sebuah pulau yang memiliki begitu banyak pilihan pantai. Salah satu yang terkenal antara lain adalah Kuta. Tapi sebenarnya saya paling pengen adalah ke pantai Lovina. Karena di sana dikenal dengan mudahnya untuk menemui lumba-lumba di perairan bebas. Seru rasanya apabila bisa menyaksikan semuanya secara langsung.

Trus, kalo sempet ke Bali apa mau sendirian? Jelas engga. Tentu akan lebih seru dengan teman seperjalanan. Buat saya sendiri, jelas saya akan mengajak istri saya. Akan menyenangkan rasanya untuk menikmati travelling yang takkan terlupakan dengan pasangan hidup. :”>

Oiya, selain banyak tempat wisata buat dikunjungi, Bali juga ga kekurangan pilihan cenderamata yang bisa dibawa pulang kembali ke kota asal. Mulai dari pia legong, pia susu, hingga kacang bali untuk makanan asli Bali. Atau bahkan membeli kaos Joger yang hanya dijual di Bali dengan penampilan yang unik.

Travelling itu seru. Apalagi kalo travelling ke destinasi impian bersama orang yang kita sayang. Trus, gampang juga kan buat booking tiket pesawat dan lain-lain via Traveloka.

Kalo kamu, pengen nikmati tahun baru ke mana sama siapa?

NB:
foto tanah lot photo credit: alex hanoko via photopin cc
foto Tari Kecak photo credit: riosundoro via photopin cc
foto Lumba-lumba di pantai Lovina photo credit: Songkran via photopin cc

12 tahun pun berlalu…

November 17, 2014 § 13 Komentar

Udah nonton lanjutan AADC di atas? Kalo belom, nonton dulu deh. Tepatnya bukan lanjutan sih, karena itu “cuman” mini drama. Kalo lanjutan kan, harus dibuat di format film layar lebar juga. *halah*

Anyway, karena mini drama yang dipublish oleh LINE itu, saya jadi nyadar kalo film layar lebar AADC pertama kali edar ya 12 taun yang lalu. Udah lebih dari 1 dekade gitu.. Dan kemudian (iseng) kepikiran… selama 12 tahun terakhir, udah kejadian apa aja ya?

  1. Lulus SMA & lulus kuliah, trus sambung kuliah (lagi)
    Iya, periode 12 taun kemarin saya udah lulus SMA, udah lulus kuliah D3, dan sambung kuliah ke jenjang S1 — yang sekarang berjibaku nyusun skripsi supaya lulus on time. Kalo dibanding Rangga sama Cinta, ya… mereka ga ketauan juga sih lulus SMA-nya kapan, apalagi lulus kuliah.
  2. Udah pernah ke 3 pulau besar di Indonesia — selain Jawa
    Sumatera-Kalimantan-Papua udah pernah semuaaaaaa… Jawa ya jelas aja udah pernah kan tinggal di sana. Kalo Rangga sama Cinta, pernah ke mana aja? Ga tau kan. :P
  3. (Alhamdulillah) udah nikah dan punya anak
    Rangga sama Cinta selama 12 taun sama-sama nungguin apa gimana sih itu, kok ya statusnya ga jelas. Masih galau mikirin satu sama lain — ya sekarang juga saya masih sama sih, tapi kan status PTKP-nya beda. :mrgreen:
  4. Ke negeri 4 musim
    Buat urusan ini, saya sama Rangga ga kalah lah. Dia bisa ke New York, saya bisa ke Jepang-Korea-Australia-Tiongkok. Hehehe..

4 poin dulu kali ya. Lumayan lah, ga kalah-kalah amat dibanding Rangga yang tinggal di New York dan Cinta yang tinggal di Jakarta selama 12 taun terakhir. Dan yang pasti, saya ga nanyain soal satu purnama New York dan Jakarta sih, karena jawabannya udah fix bulannya sama meski mungkin penampilannya beda.

Kalo kamu setelah 12 tahun berlalu sejak AADC dirilis, udah ngapain aja?

#KnowledgeIsPower: Baca Banyak – Banyak Baca di Satu Tempat with Kurio

November 10, 2014 § 12 Komentar

Ada berapa website berita atau favorite-based yang kamu ikutin? Saya pribadi, ada banyak. Hampir semua website berita nasional (di Indonesia dan berbahasa Indonesia) saya ikutin dan baca hampir setiap harinya. Ga cuman baca di website langsung via desktop, tapi juga via aplikasi yang diinstal di ponsel cerdas saya. Selain itu website favorite-based berdasar topik atau interest yang saya ikutin ga sedikit, yang saya umumnya ikutin apdetannya via publikasi konten mereka di RSS feed atau timeline twitter-facebook-google+ saya.

Singkat kata: banyak (banget). Silakan komentar

Kenapa saya baca banyak banget seperti itu? Karena siapa tau ada info yang berguna. Siapa tau info tersebut bakal kepake suatu hari nanti. Siapa tau, info tersebut bakal saya perluin suatu saat nanti. Siapa tau juga, bisa bikin saya keliatan lebih keren karena berwawasan luas. *halah* :mrgreen: Anyway, landasannya sebenernya pemahaman saya betapa pengetahuan yang luas itu bisa menjadi sebuah kekuatan tersembunyi. :)

Back to topic, sehubungan dengan banyaknya website yang saya baca/ikutin, kadang saya suka lupa waktu. Udah waktunya tidur malam, eh masih aja baca-baca. Kadang udah waktunya siap-siap berangkat kantor, eh ya masih aja baca-baca. Dan, waktu yang kepake buat baca-baca itu lebih karena susahnya pindah dari satu website ke website lainnya. Karena kepisah-pisah gitu deh. Kadang walau udah bookmark, jadi lupa juga websitenya yang mana. :lol:

Nah, buat ngurangin waktu yang kebuang karena pindah-pindah itu, akhirnya saya nyadar kalo saya butuh aplikasi atau reader yang bener-bener sesuai sama saya. Ga melulu harus saya yang nge-add website berita/konten yang saya suka, tapi juga nawarin sesuatu yang baru buat saya sebagai pembaca dan penggunanya. Syukurnya, saya pake ponsel pintar yang artinya saya bisa punya banyak pilihan aplikasi buat kebutuhan itu. Salah satunya adalah Kurio.

Kurio homepage

Kurio homepage

Yep, Kurio. Smart news app. Discover, explore, and read the content you care about all in a single app. ~ begitu tulisan di websitenya.

Sejak nginstal Kurio di ponsel cerdas saya sekitar sebulan yang lalu, lumayan lah saya kebantu buat baca-baca banyak website dan konten yang saya suka. Kenapa? Karena hampir semuanya tersedia di Kurio. Bahkan sesuai yang saya bilang sebelomnya, Kurio juga nawarin konten di topik yang baru buat saya sebagai pembacanya. Trus kalo ga suka, ya tinggal diilangin aja. Simpel. Bisa diatur di setting kok.

Contoh penggunaan Kurio di gadget saya

Contoh penggunaan Kurio di gadget saya

Dan, berkat Kurio-lah pengetahuan saya jadi lebih banyak. Karena saya baca banyak, dan banyak baca di satu tempat. Karena waktu yang semula habis buat ganti-ganti aplikasi atau pindah browser/URL, jadi ilang kan? :)

NB: soal review penggunaan aplikasi, bakal saya muat (kalo ga lupa) di postingan lain.

Tampan(g)

November 5, 2014 § 2 Komentar

Saya bersyukur punya tampang tampan. Engga, bukan nyombong atau ga sadar diri. Saya beneran bersyukur saya tampan. Jelas kan, sebagai lelaki ya saya tampan, masa’ iya saya cantik?

Anyway, berkaitan dengan tampan(g) itu ada beberapa cerita yang sering saya jalani hampir setiap hari – ya, minimal seminggu sekali pasti kejadian walau ga pernah saya rencanain. Yaitu, betapa hampir seringnya saya dijadiin patokan orang buat nanya alamat atau petunjuk arah.

Iya, ga salah baca kok: ditanya orang soal alamat jalan atau petunjuk arah. Frekuensinya pun lebih banyak dilakukan sama orang yang ga kenal atau di tengah jalan gitu.

Gimana caranya kok bisa ditanyain mulu sama orang yang emang ga kenal perihal alamat atau petunjuk arah? Saya sendiri penasaran. Ga pernah tau kok mereka yang nanya itu lebih milih buat nanya ke saya ketimbang ke orang lain yang sama-sama ada di tempat. Seringkali pula nanyanya di jalan – pas lagi nunggu lampu merah, lagi di jalan bawa motor, sampai dengan lagi di angkutan umum. Padahal saya ga ada tampang Polisi, lho. Apa jangan-jangan tampang peta atau buku alamat ya? :lol:

Untungnya sih, saya hampir selalu bisa jawab. Mungkin ga detail sampe ke alamat yang beneran dituju, tapi seenggaknya saya bisa jawab patokan yang harus dilewati sampai dengan yang nanya deket ke arah alamat yang dituju. Kalopun ga bisa jawab atau yang nanya ga nangkep yang petunjuk arah yang saya maksud, saya arahin aja ke titik yang dia kenal. Intinya sih, mempermudah biar ga blank amat.

Emang sih, Jakarta itu gede. Banget. Pinggirannya pun sama besarnya. Wajar aja kalo banyak orang ga tau alamat detail. Tapi kadang kepikiran aja, kenapa ga coba cari alamat via gugel maps gitu? Atau mungkin udah nyari, tapi ga pede, jadinya lebih pede kalo nanya ke orang langsung. Manapun yang ditempuh (atau mungkin udah keduanya), saya usahain sebisa mungkin petunjuk arah yang ditanya tersebut.

Kadang suka kepikiran juga, apa isengin aja kali ya yang nanya arah itu? Jadi, kasih arahan yang salah gitu. Tapi, langsung kepikir gimana kalo saya ada di posisi dia. Pasti bakal mangkel abis pas tau arahan yang dikasih salah.

Btw, iseng-iseng saya pernah kepikiran: ini yang nanya kenapa ga ada reality show yang berhadiah itu sih? :P

Oiya, kalo pengen tau tampang yang tampan itu kaya’ gimana, liat aja di sini ya. Ga usah saya aplod di sini. :mrgreen:

Kamu pernah nanya alamat ga ke orang yang ga kamu kenal di jalan?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.290 pengikut lainnya.