Jersey Bola

Oktober 21, 2015 § 1 Komentar

Saya gemar bola, gemar menonton bola, gemar mengikuti berita tentang bola, tapi memang sih jarang main bola.

Salah satu hal yang bikin saya gemar terhadap bola, selain karena permainannya menarik, juga memorabilia-nya menarik untuk diliat dan dikoleksi. Salah satunya jersey, atau kaus bola.

Sebagai salah satu penggemar klub bola asal Italia – AC Milan, saya tentu saja juga memiliki jersey bola AC Milan. Ga banyak sih, karena belinya mahal. Belum lagi kalo belinya asli, harganya bisa jutaan. Jadi saya cuma mampu beli yang replika aja, yang dijual untuk kawasan lokal. Itu pun belinya dengan cara nitip ke teman yang sudah biasa membeli jersey, baik untuk diri sendiri maupun juga titipan (seperti saya).

Khusus untuk AC Milan, jersey yang saya miliki anehnya cenderung adalah jersey kedua dan ketiga. Buat yang gemar bola, pasti ngerti apa itu jersey kedua dan ketiga. Alasannya sederhana: desainnya selalu berubah-ubah, meski masih ada garis merahnya. Kalo jersey pertama/utama, desain utamanya selalu sama dari taun ke taun, dengan beberapa ciri tertentu yang menandakan musimnya — biasanya sih begitu.

Nah, kalo kamu suka kumpulin jersey bola ga? Klub apa?

Membeli Waktu

Oktober 14, 2015 § 1 Komentar

Sok punya duit banget sih pake transportasi yang mahalan?

Tau jalanan sering macet, ya kalo pake transport sendiri harus siap capek lah.

Yaelah, baru juga jam segini, angkutan umum masih banyak kali, ga usah naik ojek.

Belum pernah mendapat/mendengar komen seperti di atas? Bersyukurlah, berarti surrounding-nya cukup pengertian dan menghargai waktu. Iya, menghargai waktu. Dan waktu itu sangat susah untuk dihargainya, karena amat-sangat relatif.

Bukan, saya ga ngebahas relativitas waktu dengan rumus yang njlimet atau secara fisika. Relativitas waktu buat saya adalah cara pandang orang yang beda-beda terhadap waktu, bagaimana mereka menganggap waktu sebagai bagian dari kesehariannya, bagaimana mereka beraktivitas dengan memanfaatkan waktu. Oleh karena itu, waktu sangat berharga.

Buat saya pribadi, waktu menjadi sangat berharga sejak saya mulai nyadar kalo saya punya banyak rasa kepengen buat ngewujudin sesuatu. Banyak. Banget. Dan itu semua butuh waktu — kalo ga butuh modal berupa uang. Karena udah jelas sih, waktu adalah satu-satunya hal yang dipunya dan dimiliki secara dasar dengan gratis — tapi justru itu sangat berharga.

Kusut? Oke. Simak berikut ini.

Buat sebagian orang, pulang ke rumah/kediaman bisa jam berapa saja tanpa mempedulikan hal selain dirinya. Cukup dirinya yang tahu kapan harus pulang, kenapa harus pulang jam segitu, dan kapan harus keluar lagi. Tapi, buat sebagian orang lainnya, kapan pulang ke rumah dan kenapa harus pulang jam segitu, benar-benar menentukan dan berefek pada dirinya. Contoh sederhananya: seseorang yang masih lajang dan tinggal sendirian (di kost/apartemen/rumah sendiri), jam pulang ya sesuai keperluan dirinya SAJA; tapi ketika orang tersebut sudah memiliki pasangan atau anak, jam pulang disesuaikan dengan kebutuhan dirinya DAN kebutuhan perkembangan keluarganya.

Sudah cukup terurai kusutnya? Oke, lanjut.

Orang yang sudah berkeluarga dan memiliki anak cenderung lebih gemar untuk cepat pulang ke rumah, untuk bisa bercengkrama dengan keluarga — utamanya dengan anak. Kenapa? Karena setiap saatnya sangat berharga dan takkan terulang kembali. Karena itulah sangat berharga. Dan, jadinya banyak orang yang berusaha untuk cepat pulang ke rumah, dengan berbagai cara yang mereka bisa, dengan selamat tentunya.

Segala daya dan upaya itu bisa dibilang sebagai membeli waktu. Pilihannya banyak waktu habis di jalan dengan moda transportasi biasa namun tetap hemat, atau waktu yang habis lebih sedikit dengan transportasi yang lebih tinggi tarifnya. Buat beberapa orang, pilihan itu sulit untuk dilakukan. Tapi buat yang lain, pengorbanan memang harus dilakukan untuk mendapatkan salah satu yang menjadi prioritas.

Kalo kamu, punya budget berapa buat membeli waktu?

Jam Biologis

Oktober 7, 2015 § Tinggalkan komentar

Secara normal, jam biologis seseorang mengikuti jam berkegiatan orang tersebut. Yang otomatis juga jamnya disesuaikan dengan posisi geografisnya. Contoh: jam biologis kebanyakan orang Indonesia tentunya berbeda dengan jam biologis kebanyakan orang di Eropa.

Oiya, sebelum lebih lanjut: jam biologis itu sederhananya adalah jam tubuh. Kapan tubuh memerlukan istirahat, kapan tubuh siap untuk bangun dan mulai beraktivitas, kapan tubuh membutuhkan asupan makanan, dan lain-lain.

Perubahan jam biologis amat-sangat-mungkin terjadi. Penyebabnya banyak mulai dari perubahan lokasi tempat tinggal, perubahan pola aktivitas, sampai dengan perubahan pola istirahat atau metabolisme tubuh. Nah… belakangan juga jam biologis saya berubah karena saya pindah lokasi tempat tinggal perubahan pola aktivitas karena bertambahnya anggota baru keluarga saya.

Sebelumnya, jam biologis saya cukup teratur dengan tidur di malam hari & berkegiatan di pagi-petang hari. Sekarang? Malam hari bisa jadi bertambah kegiatannya. Menyesal? Tidak. Tapi memang memerlukan semangat tambahan dan juga penyesuaian berkelanjutan atas perubahan jam biologis tersebut.

Kalo sampe salah mengatasi jam biologis, bukan ga mungkin semua rutinitas jadi berantakan dan ujung2nya jadi dijauhi kerabat. Tapi ya memang mengatasinya ga mudah sih dan butuh pemahaman sendiri juga lingkungan. Kecuali ya… Bruce Wayne yang jadi Batman. Jam biologisnya berubah karena ngalong di malam hari, siang hari tetep jadi milyuner, dan buat nutupin efek dari perubahan jam biologisnya ya menjalani kehidupan (ala) jetset — seperti disaranin Alfred di trilogi The Dark Knight (the movie).

Kalo kamu, jam biologis pernah berubah ga?

Kepala Dua Ekor Dua

Oktober 3, 2015 § 2 Komentar

Belakangan, saya makin ngerti arti dari istilah “age is just numbers”. Iya, umur hanyalah angka. Karena apapun bisa terjadi di umur berapapun. Secara sederhana nyambung sama istilah “lahir, jodoh, rezeki, dan mati yang tahu hanya Tuhan. Itu juga jadi misteri dari salah satu hal yang diatur oleh Tuhan.”

Ga ngerti? Ya gapapa sih.😛

Salah satu kejadian yang saya alami terkait dengan istilah di awal adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi sekitar setahun terakhir. Yang mendapatkan update dari saya, tentunya pernah membaca post mengenai saya lulus kuliah, ‘kan? Nah itu. Saat saya lulus kuliah D3 di tahun 2007 lalu (iya, udah lama ya?😆 ), saya pernah memberi target pada diri saya sendiri agar maks 5 tahun dari lulus D3 sudah memiliki gelar S1. Ketika kemudian itu tidak tercapai, saya sempat kecil hati memang. Karena buat saya, ketika usia bertambah pasti waktu dan kesempatan untuk belajar lagi di bangku kuliah tak lebih banyak ketika masih muda. Tapi, semuanya patah ketika saya – Alhamdulillah – bisa melanjutkan dan menyelesaikan kuliah di usia menjelang kepala tiga, pada tahun 2015 ini.

Peristiwa lainnya adalah yang terjadi di hari ini. Yakni kelahiran dari anak kedua saya bersama istri, 3 Oktober 2015 jam 20:35 WIB. Tak perlulah saya detailkan nama, jenis kelamin, dan lain-lain. Bagi yang berteman dengan saya di jejaring sosial, pastinya sudah tahu. Yang pasti, saya bahagia anggota keluarga kecil saya bertambah. Tangisan bayi akan kembali menghiasi rumah, tak lupa juga terbangun di jam-jam kalong. Semua dilakukan dengan semangat untuk bisa menjadi orangtua terbaik serta memberikan yang terbaik bagi sang anak. Saya juga bersyukur, karena proses kelahirannya lancar, sang bayi dan ibunya sehat serta selamat. Sah sudah memiliki ekor dua di saat usia masih kepala dua.:) Yang belum sah tinggal disematkan sebagai hot daddy, kayanya sih.😆

Alhamdulillah.:)

Pengetahuan Umum

September 23, 2015 § Tinggalkan komentar

RPUL = google Cari apa? Google aja.

Percakapan dan kalimat itu sekarang lazim. Bahkan variasinya sekarang bertambah jadi “Google Now” aja. Coba, siapa yang belum pernah ngelakuin googling dulu baru ngomong untuk nanya?

Anyway, images yang saya preview di sini, kalo ada yang pernah liat dan pernah ngalamin nyari hal-hal umum di situ, berarti kalian termasuk generasi-generasi yang merasakan main-main di luar rumah, petak umpet non digital, dan masih banyak lagi. Iya. Begitu.

RPUL = Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap, adalah salah satu buku sakti pada jamannya. Beragam pengetahuan populer lengkap ada di situ, setara dengan ensiklopedia pengetahuan umum/populer. Mulai dari tanggal bersejarah nasional dan dunia, sampai dengan peserta Piala Dunia sepakbola edisi terdekat.

Saya masih ingat, pada saat saya SD punya buku RPUL ini kaya’nya sakti banget. Tau hampir segala macam pengetahuan. Pertanyaan-pertanyaan latihan/tugas mata pelajaran PMP/PPKn, IPS, dan bahkan IPA/Bahasa Indonesia, bisa didapatkan dari buku ini. Buku ini populer untuk pengetahuan populer.

Sekarang, buku ini kayanya ga gitu populer di kalangan siswa/pelajar. Karena mereka lebih mudah untuk mengakses Google dari ponsel atau komputer masing-masing. Karena membeli buku itu susah harus ke toko buku dulu. Karena informasi yang didapatkan via Google selalu apdet, dan banyak pilihannya isi atau sumbernya.

Dulu selain mendapatkan pengetahuan umum via buku RPUL, saya juga mengikuti informasi terkini via membaca koran. Beberapa bahkan saya kliping — yang tentunya sekarang entah di mana koleksi-koleksi tersebut.

Kalo kamu, dapetin pengetahuan umum gimana?

Merindu Hujan

September 16, 2015 § 1 Komentar

Bulan berakhiran -ber, pasti lagi musim hujan.

Anggapan itu kayanya berlaku sampai akhir 90an saja, atau bahkan sebelum tahun 1997. Setelah tahun 1997, sampai dengan ke sini, bulan-bulan berakhiran -ber belumlah juga mengalami musim hujan. Setidaknya, di bulan September ini.

Saya rindu hujan. Saya tahu banyak orang juga yang rindu akan hujan. Terutama teman-teman yang sudah kewalahan dengan asap dari pembakaran hutan, yang berada di wilayah rentan titik panas dan kebakaran hutan, juga teman-teman yang mulai kesusahan stok air di rumahnya.

Saya rindu hujan. Saya rindu suara gemericik air menerpa genting dan teras rumah saya. Setiap tetesnya membawa kesejukan ke sekitar rumah, dan juga otomatis membersihkan debu-debu yang menempel di sekitarnya.

Saya rindu hujan. Saya rindu aroma basah pada tanah, jalanan, dan juga sekitar saya. Segar sekaligus menyegarkan rasanya.

Saya rindu hujan. Meski saya tahu saat musim hujan kehati-hatian dalam berkendara dan perjalanan pulang-pergi bekerja lebih bertambah. Harus bersabar jika mendadak harus meneduh karena hujan dan tidak membawa jas hujan. Atau justru menikmati setiap terpaan air hujan pada sekujur badan dan muka karena seringkali saya lebih memilih lekas tiba di rumah meski dengan pakaian basah, ketimbang menunggu hingga hujan reda.

Saya rindu hujan. Saya rindu ademnya hawa di kota, yang setidaknya saat dan setelah hujan mengingatkan saya pada suasana pegunungan dan atau kampung halaman yang suhunya lebih dingin.

Saya rindu hujan.

Nonton Film di Mana?

September 10, 2015 § 3 Komentar

Bioskop? TV berbayar? TV FTA? Pesawat? Atau di gadget?

Terakhir kali saya nonton film di bioskop, kaya’nya udah lama banget. Bukan karena ga minat, tapi ya emang karena ga sempet aja. Begitu ada waktu untuk sempet, filmnya udah keburu ga diputer di bioskop atau filmnya yang diputer bukan yang diminati. Jadinya, belakangan — atau tepatnya setaun terakhir saya lebih sering nonton film-film Hollywood di TV berbayar (langganan). Karena selain siklusnya yang cukup cepet — taun ini rilis, taun depan udah tayang, juga karena bisa nonton lebih santai sih di rumah. Walau gitu, saya tetep lebih prefer nonton di bioskop sih.

Nonton di bioskop itu lebih ke pengalamannya. Bukan sekadar film yang ditonton aja. Pengalaman nonton di sebuah teater/studio dengan dukungan suara yang keren punya. Belum lagi kalo nontonnya film 3D atau 4D, pasti lebih seru kan pengalamannya. Cuman ya gitu, nonton di bioskop itu susah waktunya.

Nonton film di TV FTA udah jarang banget saya lakuin. Selain karena udah ada TV berbayar itu, juga karena film-film di TV FTA seringkali pengulangan dalam waktu dekat. Contoh: film populer A di bulan 1, eh.. di bulan ketiga diputer lagi. Ya terlepas dari resource di stasiun TV itu yang emang belom ada tambahan, juga bisa jadi karena memang di masyarakat luas film tersebut masih populer.

Salah satu pengalaman unik yang kadang saya dapetin adalah nonton film di pesawat. Periode 2013 lalu sampai dengan 2014 awal, saya cukup sering naik pesawat dengan durasi waktu yang cukup lama — jaraknya juga jauh. Sekitar 5-8 jam perjalanan. Alhasil, di pesawat ya kalo ga tidur, jadinya nonton film deh. Khusus tahun ini, saat kemarin mudik dengan pesawat sekitar 2 jam perjalanan, sempat nonton film “Stand By Me” (Doraemon) yang udah tayang beberapa waktu lalu di bioskop, dan memang kok filmnya bagus meski di luar alur dari serial Doraemon. Entah ini termasuk alternate universe atau bukan.:mrgreen:

Nah, kalo kamu seringnya nonton film di mana?

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.681 pengikut lainnya