Pizza dan Makanan Italia

Januari 20, 2016 § Tinggalkan komentar

Personally, saya suka pizza. Baik itu suka secara penampilannya, variasinya, sampai dengan makannya.:mrgreen: Kalo diflashback ke belakang, saya suka pizza sejak pertama kali orangtua saya mengajak makan pizza di Pizza Hut di Pasaraya, Blok M.

Kenapa suka pizza? Sederhana aja sih: ada karbohidrat (roti), ada protein (daging sapi atau ikan), sampai dengan vitamin (cabe, sambal, saus, dan-lain-lainnya yang benar-benar mudah-mudahan mengandung vitamin).😆 Dan yang paling penting, makan pizza bikin kenyang.

Sejak mulai dewasa dan kemudian bekerja serta memiliki penghasilan sendiri, bisa dibilang pizza cenderung jadi pilihan utama kalo mau makan bareng atau ngerayain sesuatu. Pizza Hut, Izzi Pizza, sampai dengan Dominos. Semuanya pernah dicoba untuk dipesan dan kemudian dimakan sendiri, bedua sama pacar (sekarang istri), sampai dengan bareng temen. Entah itu di restonya atau di kantor/rumah.

Pilihan utama topping atau isian pizza juga ga pernah spesifik harus (banget) yang ada daging atau ikan. Tapi emang sih, kalo ditelisik ada beberapa pilihan topping yang sering banget dipesen, antara lain yang banyak daging sapinya, sampai dengan yang mengandung saus mayonnaise-nya. Gampang ya?:mrgreen:

Pernah makan selain pizza di resto pizza? Jelas pernah. Beberapa jenis pasta – spaghetti, macaroni, dll jelas pernah dipesan dan dimakan. Paling favorit? Ga ada kalo dari jenis, tapi kalo dari topping/isiannya, kayanya yang mengandung keju meleleh paling digemari.

Selain pizza dan teman-temannya, saya sebenernya juga penasaran banget sama makanan Italia lainnya. Pernah liat di film Malavita (The Family), katanya makanan Italia dibanding makanan Perancis, lebih tasty (berasa). Belum lagi efek nonton Masterchef edisi Australia dan US yang berulangkali pesertanya nyuguhin makanan Italia.

So, kalo suatu ketika lagi ke resto Italia atau ke resto umum yang ada menu makanan Italia-nya, saya cenderung untuk observasi menyeluruh di menunya dan caritau makanan mana yang saya belum pernah coba. Karena buat saya pribadi, makanan Italia itu enak! Banget!

Kapan-kapan harus bisa nih makan makanan Italia langsung di Italia-nya!

Musik, Antara Seni dan Relaksasi

Januari 13, 2016 § Tinggalkan komentar

Beberapa kenalan yang tau saya pernah kerja di industri (terkait) musik, suka iseng nanya soal kenapa dulu saya pernah pilih kerja di situ, dan kenapa sekarang ga balik lagi. Beberapa pertanyaan lain juga pernah muncul terkait musik apa aja yang pernah saya putarkan dan juga terkait artis-artisnya. Dan sering juga kok jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait musik tersebut dianggap kurang memuaskan. Well… gimana ya?

Musik, buat saya, adalah sebuah bentuk seni. Musik ga perlu yang ribet, bisa diciptakan dari sebuah kesederhanaan. Bahkan buat saya pribadi, vokal (suara) manusia yang menyanyi atau menciptakan suara-suara yang berirama dan nyeni adalah sebuah bentuk musik yang paling agung. Kenapa? Karena itu alami. Belum lagi kalo ditambah irama dari suara-suara alam seperti gemericik air, tumpahan air hujan, sampai dengan sahut-sahutan serangga di kala malam hari. Iya, itu musik yang paling agung – buat saya. Tapi bukan berarti saya menganggap remeh musik yang bukan alami…

Musik yang diciptakan dengan alat-alat bantu seperti gamelan – tradisional, sampai dengan gitar elektrik dan juga drumset juga kerapkali membuat saya takjub. Paling gampang dilihat adalah dari harmonisasi pada genre jazz antara drumset-gitar bas-piano-trompet, atau melodi-lead-solo gitar yang njelimet di genre metal/rock.

Tapi di atas semua itu, musik buat saya adalah sebuah seni. Dan seni pada dasarnya selain sebagai bentuk penghargaan dan ekspresi manusia, juga merupakan bentuk lain dari sebuah relaksasi. Yes, ga salah baca: RELAKSASI.

Ga sedikit dari kita – sejauh pengamatan saya, menyalakan TV/video youtube tanpa memperhatikan aksi videonya melainkan hanya menikmati (audio) musiknya saja. Ga sedikit juga kita yang menyalakan pemutar lagu (itunes/mp3 player) dengan nada suara yang cukup rendah sehingga cenderung menjadi backsound di setiap kali kita beraktivitas. Beberapa pemusik juga ketika didera kepenatan langsung saja memainkan musik-musik mereka, memainkan gitar, membuat irama ketukan, sampai dengan menyanyi hingga mereka merasa lebih baik. Contoh-contoh itu buat saya cukup mengambil kesimpulan bahwa musik adalah seni yang berbentuk relaksasi. Seni musik bisa membuat orang relaks, baik pendengar maupun juga pelaku musiknya.

Jadi, kalo ditanya lebih jauh kenapa saya ga begitu merhatiin hal-hal di luar musik yang dimainkan (milih kerja di industri itu atau tren artis terbaru), ya jelas sih karena musik itu membuat relaks. Beberapa kali saat masih ada di industri itu dulu, saat musik (lagu) sedang diputarkan adalah kesempatan untuk menjadi lebih relaks untuk kemudian melakukan pekerjaan selanjutnya.

Kalo buat kamu, musik itu apa?

Tahun Baru, Apanya yang Baru?

Januari 6, 2016 § Tinggalkan komentar

So here it is. 2016. New year – after 2015. Perlu ada yang baru? Jawabannya bisa iya – banyak, bisa juga ga sama sekali.

Buat saya pribadi, 2016 ini memerlukan cara pandang yang lebih baru – lebih dewasa, arif dan bijaksana.

2016 ini buat saya lagi, memerlukan taraf/tingkat keimanan yang baru – yang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

2016 ini, masih buat saya, memerlukan semangat dan juga dorongan yang lebih baru – lebih kuat dan lebih tinggi untuk meraih cita-cita yang saya idam-idamkan. Tak hanya sekadar meraih cita-cita, tapi kemudian bisa melampauinya. Seperti Buzz Lightyear di film Toy Story – “To infinity, and beyond!”

Mitsubishi Delica Royal: Temen Touring Keluarga

Desember 30, 2015 § 4 Komentar

Sejak masih pacaran dulu, saya dan mantan pacar (sekarang istri) terbilang gemar untuk jalan-jalan dengan jalan darat. Mengunjungi satu tempat dan lainnya menggunakan kendaraan umum atau bahkan sepeda motor. Setelah kemudian berkeluarga dan masih berdua saja, jalan-jalan atau juga disebut touring itu bukannya mengendur, tapi justru jadi lebih sering. Yang semula pada saat pacaran paling 1x tiap 3 bulan, menjadi hampir tiap bulan. Lagi-lagi, masih dengan menggunakan sepeda motor. Tapi, semua berubah ketika negara api menyerang anak pertama lahir, dan kemudian ada yang kedua. Bukannya mengendur, kami malah mencari tahu bagaimana caranya agar tetap bisa touring tapi tetap nyaman. Alhasil, memiliki kendaraan roda empat menjadi pilihan utama. Tentunya dengan pertimbangan keuangan yang sudah direncanakan baik-baik.

Setelah cari info ke sana-sini, untuk tetap bisa touring dengan keluarga ternyata ada banyak tipsnya. Salah satunya menggunakan kendaraan roda empat untuk touring yang harus nyaman untuk anak-anak, memiliki ruang yang cukup untuk beristirahat di perjalanan, serta tetap memuat barang yang cukup banyak. Namanya juga keluarga dengan anak-anak kecil, pasti banyak segala printilan kecil yang harus dibawa. Mulai dari mainan, sampai dengan makanan. Dan menurut kami, salah satu pilihan yang cocok dengan syarat tadi adalah Delica Royal dari Mitsubishi.

Mitsubishi Delica Royal

Review Singkat

Berdasarkan pengamatan saya pribadi, mobil yang dijuluki Sport Utility MPV ini memiliki ruang dalam yang cukup luas. Cukup lah untuk keluarga kecil dengan anak-anak yang aktif seperti saya. Jadi, selama perjalanan bisa menikmati dengan nyaman dan juga beristirahat dengan tenang di row belakang sementara saya menyetir dengan nyaman. Selain itu juga desainnya didukung untuk touring jalan darat karena banyak part buat nyimpen barang seperti koin, soft drink, sampai dengan kamera. Nah itu dia, kamera! Alat penting untuk mengabadikan perjalanan. Oh iya, omong-omong desain touring, Mitsubishi Delica ini konon satu-satunya MPV yang ikut Rally Dakar!

Mitsubishi Delica Royal

Mitsubishi Delica Royal

Unsur safety dan kemudahan menyetir juga tampaknya diperhatikan dengan baik di Mitsubishi Delica Royal ini. Ada fitur ASC (Active Stability Control) yang membuat kendaraan tetap stabil saat manuver atau jalan licin dan juga suspensi tinggi yang membuat berkendara lebih nyaman di jalan yang bergelombang.

Belum lagi Hill Start Assist teknologi yang bisa nahan mobil beberapa detik saat pedal rem dilepas dilepas saat nanjak bagian dari Smart Driving Experience.

Fitur-fitur itu tentunya membantu istri saya ketika harus bergantian menyetir jika saya lelah di perjalanan. Maklum, jumlah kilo meter dan jam “terbang” menyetir istri saya belum sebanyak saya.🙂

Mitsubishi Delica Royal Mitsubishi Delica Royal

Lanjut ke sisi penampilan dan fungsi non berkendara, saya tertarik dengan powerful sliding door-nya. Jarang-jarang mobil yang ada di kategori Sport Utility pintunya bisa digeser. Selain itu, grill depannya lebih terkesan Sporty meski mobilnya berkategori MPV. Gagah lah! Kabinnya sendiri selain nyaman dan luas seperti disebutkan di awal, juga dibalut dengan premium leather asli dan dashboard yang ciamik. Otomatis kalo ada makanan tumpah atau kotoran-kotoran mainan dari anak-anak ga perlu khawatir karena interiornya lebih mudah dibersihkan.

Mitsubishi Delica Royal Mitsubishi Delica Royal

Di Pasaran

Dapet informasi kalo Mitsubishi Delica Royal ini dilepas di pasaran dengan kisaran harga Rp 450.000.000,-. Sebanding lah dengan fitur dan penampilannya yang oke punya. Kayanya perlu test drive nih biar makin sahih memilih Mitsubishi Delica Royal buat temenin touring jalan darat dengan keluarga.

Refleksi 2015

Desember 23, 2015 § Tinggalkan komentar

Jelang pergantian tahun, banyak sekali yang nyebar harapan dan tujuan untuk tahun berikutnya. Disebut-sebut sebagai resolusi. Saya sendiri, pernah bikin resolusi di setiap pergantian tahun. Tapi lama-lama, kayanya capek juga karena dari tahun ke tahun harus bikin baru, dan atau ngulang hal yang sama kalo belum kesampean. Akhirnya, lama-lama saya pun mikir kayanya lebih cocok kalo nulis refleksi aja, nge-review setahun yang udah dijalanin ke belakang.

Dan kali ini, refleksi tahun 2015.

Singkat cerita, banyak kejadian di tahun ini. Ups and downs. Rugi dan untung. Highlight-nya kurang lebih seperti di bawah ini (repost sebagian dari Path):

  1. Istri hamil sejak awal tahun. Kehamilan lancar, sehat, aman, begitupun proses lahiran. Alhamdulillah.
  2. Anak kedua lahir. Lancar, selamat, sehat. Alhamdulillah. Otomatis jadi hot daddy. #selfproclaim #iyainaja #biarcepet
  3. Kesehatan g abegitu terganggu sampai harus dirawat di RS. Baik pribadi maupun orang terdekat. Alhamdulillah.
  4. Skripsi selesai setelah ketunda 1 semester. Alhamdulillah. Kalo sesuai jadwal, harusnya Q1 selesai, tapi ya Q3 pun tak apa. Masih di 2015 ini.🙂
  5. Wisuda. Alhamdulillah. #menujugelarST berubah #sahjadiST.
  6. Gnote2 yang udah nemenin jalan2, kerja, dan hobi trus masuk taun ketiga, pecah layarnya. Mau ganti layar, sayang karena budgetnya hampir sama kaya beli baru — selain emang kudu nabung dulu. Alhamdulillah, istri beliin baru gantinya yang speknya cukup mendekati. I do love her so much karena ngertiin banget.❤
  7. Kerjaan lancar. Few ups & downs yang terjadi udah biasa dan termasuk risiko bekerja, toh. Banyak belajar hal baru dan pendalaman materi terutama management: team, people, talent, project/jobs, schedule, sampai dengan analysis, dan ergonomi/UX/creative directing. Alhamdulillah masih bisa profesional, no heart feelings involved (mudah2an ya).
  8. Roadtrip pertama bareng keluarga kecil, PP Jakarta-Yogyakarta. Alhamdulillah lancar.
  9. Mudik lebaran ke Aceh. Alhamdulillah lancar, dan sempet kunjungi berbagai spot wisata di sana.
  10. Sepeda motor hilang. Otomatis, start November lalu PP kantor-rumah seringkali naik angkum. Alhamdulillah masih ketolong ojek online yang masih harga promo, jadi ga rugi waktu, dan masih masuk budget transportasi bulanan.

Itu poin-poin besarnya aja, karena masih banyak poin-poin kecil lainnya yang ga tercatat di sini, yang bisa jadi lupa kejadian persisnya, dan atau emang cukup buat saya pribadi aja.🙂

Kalo kamu gimana refleksi tahun 2015-nya?

Nomer Hape

Desember 9, 2015 § Tinggalkan komentar

Pertama kali pake hape kayanya sekitar tahun 2001 lalu, jaman-jaman SMA. Itupun hape-nya yang diturunkan dari punya kerabat dekat (keluarga) dengan nomer yang juga diturunkan. Oleh karena itu kadang masih dapet ditelepon dari orang kenalan keluarga dan SMS dari mereka menanyakan hal yang saya ga tau jawabannya. Pulsa 100rb pun rasanya mahal banget. Paling bisa keisi itu paling cepet sekitar 2 bulan sekali. Penggunaannya pun dihemat-hemat (kalo ga mau dibilang irit) dengan cara maks kirim SMS 1x per hari — waktu itu SMS masih 350 rupiah per sekali kirim dengan batasan karakter s.d. 140.

Berhubung SMA sempet ikutan siaran di radio lokal — aLL FM 107.2 MHz, sempet ada tambahan uang saku juga. Ga banyak sih, meski jam siarannya ga dikit juga. Lumayan, bisa buat nambah-nambah beli pulsa sendiri sampai dengan beli nomer baru. Kalo ga salah, tahun 2003 pertama kalinya ganti nomer hape. Waktu itu nomer perdana masih mahal abis. Tapi mungkin lagi hoki, bisa kebeli nomer proXL (sekarang XL) seharga 50ribuan dengan 10 digit nomer. Agak waswas juga pas punya nomer hape itu karena registrasinya atas wilayah zona Bandung — yang punya hape dari dulu pasti ngerti. Jadi, kalo mau nelepon/terima telepon bisa jadi kena roaming yang bakal potong pulsa juga. Tapi, waktu itu kalo ga salah proXL udah mulai bebas roaming ke semua zona sih.

Jelang masuk kuliah, nyatanya saya mau ga mau ya ganti nomer lagi. Kali ini ke provider Telkomsel. Sempet punya nomer IM3 sebagai nomer kedua kalo ada apa2, tapi ujung2nya ya pake Telkomsel lagi. Kalo ga salah taun 2004, dan nomer itu saya pake sampai dengan sekarang. Udah cukup lama ya, 10 taun lebih. Sempet juga punya nomer Axis, tapi kemudian terpaksa saya biarkan hangus karena agak capek juga harus hidup 2 paket internet di kedua nomernya.

Pertimbangan saya untuk memilih nomer hape, sbb:

  1. Bebas roaming antar-daerah. Sejak 2004an mulai bebas roaming ya semua nomer. Ini faktor utama sejak dulu, tapi kayanya sekarang udah ga berlaku lagi ya.
  2. Sinyal kuat. Udah jelas sih siapa providernya. Pertimbangan ini lebih karena saya mikir bakal sering travelling. Salah satu bukti nomer Telkomsel yang saya pake sekarang kuat sinyal adalah di medio 2006-2008 saya pernah ke tengah laut (Kalimantan) dan tengah hutan (Papua), dan sinyalnya beneran kuat. Bisa terima telepon dan menelepon.
  3. Ada paket internet yang variatif. Belakangan meski harga paket inet dari provider yang saya pake makin naik, tapi ya emang cocok sih pemakaiannya.
  4. Sinyal internet (pemakaian data) yang stabil. Khusus untuk ini, yang terpenting adalah kalo di permukiman/perumahan ga blankspot. Seringkali di wilayah masyarakat sinyalnya ada yang blankspot. Masalah dibawa ke gedung tinggi/parkiran gedung ilang sinyal sih, masih bisa dimaklumi lah.
  5. Variasi nomer. Bukan nomer cantik — meski beberapa kali dapet nomer cantik. Dulu saya punya patokan nomer hape jangan yang cantik, sebisa mungkin rumit supaya susah dihapalin. Kemudian, saya nemu pola ternyata nomer-nomer hape yang saya miliki ada filosofi dengan angka 9. Baik itu dijumlah, atau dikali. Tapi ga semuanya sih, cuma beberapa aja.

Nah.. itu cerita nomer hape saya. Dan berbagai pertimbangannya.

NB: Postingan ini bukan berbayar.

Kamu punya cerita juga soal nomer hape?

Internetan Mobile

Desember 2, 2015 § Tinggalkan komentar

Let say, saya termasuk generasi millenial meskipun saya lahir di tahun 80an, sempat ngalamin masa anak-anak di 90an, dan lulus kuliah di 2000an. Buat saya pribadi, generasi millenial ya yang aktifnya di 2000an akhir s.d. sekarang ini. Salah benar, lain soal. Karena ini perspektif. Lagipula, blogpost ini bukan ngomongin soal definisi generasi millenial-nya, melainkan kebiasaan/habits-nya.

Konon, salah satu habits dari generasi millenial adalah terhubung dengan mudah ke internet. Bisa di mana aja. Kapan aja. Jadinya internetan seringkali sambil mobile gitu, karena tentunya aktivitas lebih sering tidak di depan big screen (laptop/komputer).

Dan iya, saya juga sering melakukan itu. Dalam seminggu, kayanya lebih sering internetan secara mobile via handphone ketimbang dari depan laptop/komputer. Paling banyak justru di saat wiken, saat-saat yang seharusnya bisa away dari handphone sama sekali. Alasan dan pertimbangannya banyak. Ga melulu soal pelarian atau sudah kebiasaan di hari kerja, tapi bisa jadi karena cari jalan via maps, cari info tempat jalan2, dan lain sebagainya.

Dulu, sebelum tahun 2010 sepertinya internetan mobile itu cukup sulit. Kalo ga pake modem mobile, ya harus wifi, atau via kabel. Sekarang? Bisa tethering lewat handphone. Canggih dan praktis. Selain itu, dulu paket internetan ribet banget, pilihannya banyak dan harganya cukup mahal (atau mungkin sayanya aja yang ga bisa menjangkau). Tapi sejak 2010 ke sini, sepertinya pilihan internetan mobile makin banyak, dan makin murah.

Pilihan paketnya bervariasi mulai dari yang harian, mingguan, bulanan, lebih dari 1 bulan dst. Mulai dari yang di bawah 10ribu, sampai dengan jutaan. Mulai dari per kuota, sampai dengan per bandwidth. Pokoknya, banyak deh. Belum lagi ada teknologi mobile router yang ngebuat internetan mobile 1 paket di 1 nomer bisa dipake wifian beberapa device.

Nope, postingan ini ga disponsori oleh brand manapun. Ini sekadar catatan personal aja.

Kamu pake internetan secara mobile, ga?