Nonton Film di Mana?

September 10, 2015 § 3 Komentar

Bioskop? TV berbayar? TV FTA? Pesawat? Atau di gadget?

Terakhir kali saya nonton film di bioskop, kaya’nya udah lama banget. Bukan karena ga minat, tapi ya emang karena ga sempet aja. Begitu ada waktu untuk sempet, filmnya udah keburu ga diputer di bioskop atau filmnya yang diputer bukan yang diminati. Jadinya, belakangan — atau tepatnya setaun terakhir saya lebih sering nonton film-film Hollywood di TV berbayar (langganan). Karena selain siklusnya yang cukup cepet — taun ini rilis, taun depan udah tayang, juga karena bisa nonton lebih santai sih di rumah. Walau gitu, saya tetep lebih prefer nonton di bioskop sih.

Nonton di bioskop itu lebih ke pengalamannya. Bukan sekadar film yang ditonton aja. Pengalaman nonton di sebuah teater/studio dengan dukungan suara yang keren punya. Belum lagi kalo nontonnya film 3D atau 4D, pasti lebih seru kan pengalamannya. Cuman ya gitu, nonton di bioskop itu susah waktunya.

Nonton film di TV FTA udah jarang banget saya lakuin. Selain karena udah ada TV berbayar itu, juga karena film-film di TV FTA seringkali pengulangan dalam waktu dekat. Contoh: film populer A di bulan 1, eh.. di bulan ketiga diputer lagi. Ya terlepas dari resource di stasiun TV itu yang emang belom ada tambahan, juga bisa jadi karena memang di masyarakat luas film tersebut masih populer.

Salah satu pengalaman unik yang kadang saya dapetin adalah nonton film di pesawat. Periode 2013 lalu sampai dengan 2014 awal, saya cukup sering naik pesawat dengan durasi waktu yang cukup lama — jaraknya juga jauh. Sekitar 5-8 jam perjalanan. Alhasil, di pesawat ya kalo ga tidur, jadinya nonton film deh. Khusus tahun ini, saat kemarin mudik dengan pesawat sekitar 2 jam perjalanan, sempat nonton film “Stand By Me” (Doraemon) yang udah tayang beberapa waktu lalu di bioskop, dan memang kok filmnya bagus meski di luar alur dari serial Doraemon. Entah ini termasuk alternate universe atau bukan. :mrgreen:

Nah, kalo kamu seringnya nonton film di mana?

(Sulitnya) Membangun Kebiasaan

September 3, 2015 § 8 Komentar

enaknya tengah malam ngapain hayo?

enaknya tengah malam ngapain hayo?

Untuk kesekian kalinya, saya memang harus mengakui membangun kebiasaan itu sulit. Terutama kebiasaan yang maksudnya baik.

Pernah saya baca, saking sulitnya membangun kebiasaan, sampai-sampai harus 21 hari terus-menerus melakukan hal yang sama, sehingga kemudian akan menjadi kebiasaan. Kalo lewat 1 hari aja, harus ngulang dari hari pertama lagi hitungannya. Ekstrim memang.

Salah satu kebiasaan yang belakangan saya bangun – tanpa sengaja, adalah bangun tengah malam atau dini hari. Bukan bangun sekitar waktu Subuh ya, tapi beberapa jam sebelumnya atau sekitar tengah malam, kemudian tetap terjaga sampai pagi tiba lalu menjalankan kegiatan sehari-hari. Jangan ditanya soal rasa kurang tidur atau kantuknya, karena itu sudah jelas. Tapi ya, tergantung pengelolaan waktu di siang harinya aja, apakah sempat untuk istirahat singkat atau tidak.

Bukan tanpa alasan saya bangun malam/dini hari sampai pagi itu. Seperti sudah diketahui, minggu lalu saya menghadapi sidang skripsi kuliah S1 saya. Dan kurang lebih, selama 3 minggu belakangan, hanya di waktu tengah malam/dini hari sampai pagi itulah saya punya waktu untuk belajar, menyiapkan dokumen dan menyelesaikan penelitian dan tulisan, sampai dengan mencari-cari lampiran atau data pendukung. Maklum, dari pagi sampai malam (waktu normal) sudah –habis- diseimbangkan antara menjadi pekerja dan berkeluarga.

Hasilnya? Setelah lewat masa-masa genting untuk sidang – ditambah revisi dan finalisasi draft skripsi untuk kemudian dijilid, bangun tengah malam/dini hari pun menjadi kebiasaan. Minimal, 1 jam saya tidak bisa memejamkan mata kembali. Alhasil, terkadang saya gunakan untuk mengulas jadwal pekerjaan, mencari-cari informasi menarik, sampai dengan mencari acara yang menarik – untungnya ada TV berbayar di rumah.

Ya, mudah-mudahan kebiasaan ini ga bawa dampak negatif seperti masuk angin, mata panda, dll. Berharapnya sih, kebiasaan ini bisa bawa dampak positif baik itu yang sifatnya rohani maupun juga jasmani. :)

Kalo kamu, punya kebiasaan apa? Susah ga ngebangunnya?

NB: photo credit: The Leixlip Midnight Marathon 2012 via photopin (license)

#menujugelarST

Agustus 26, 2015 § 8 Komentar

Buat yang berteman dengan saya di Path, facebook, atau juga mengikuti twit saya, mungkin pernah melihat sebuah apdet dengan tagar #menujugelarST. Oiya, di profil twitter saya juga bisa diliat sih. Kenapa saya ngapdet dengan tagar tersebut? Karena kurang lebih sejak 2013 lalu, saya sedang melanjutkan kuliah lagi untuk mencapai gelar ST — Sarjana Teknik.

Dasarnya, saya sudah memiliki ijazah Diploma 3. Ga perlu saya jelasin panjang lebar ya, ijazahnya di program studi apa. Yang pasti, ijazah tersebut jadi bekal saya untuk melanjutkan ekstensi S1 Teknik di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Kalo dibandingkan teman-teman kuliah D3 saya, agak telat memang pemilihan waktunya. Udah lebih dari 5 taun sejak saya lulus. Tapi ya… ga pernah ada yang namanya terlambat untuk menuntut ilmu dan belajar.

Singkat cerita, saya lolos tes masuk, dan mulai kuliah sejak 2013 lalu dengan teman-teman seangkatan yang juga kebanyakan lulusan D3 pada taun yang masih terhitung baru/dekat dibandingkan saya. PR terbesar untuk kuliah lagi adalah pembagian waktu, dan juga pembagian konsentrasi. Tak perlu dijelaskan detail, saya cukup kewalahan dengan materi, tugas, dan ujian kuliah. Tapi karena sudah niat, jadi ya… harus serius dong. :)

Jadi, setelah berjibaku selama 2 semester awal dengan mata kuliah yang baru, mata kuliah yang jadi “pencuci” mata kuliah D3, dan lain-lain, start semester ketiga saya mulai mengajukan skripsi dan dikerjakan. Sayangnya, karena satu dan lain hal, semester 3 yang jadi target saya untuk lulus kuliah dan juga skripsi, harus diperpanjang. Iya, saya perpanjang 1 semester ke semester 4 dengan fokus hanya untuk skripsi — mata kuliah sudah selesai semua.

Beberapa rekan kuliah sudah mengingatkan, bahwa jika perpanjang skripsi pasti lebih malas ketimbang saat pertama kali mengajukan skripsi. Benar memang adanya. Saya sempat kewalahan untuk mengatur tempo yang seimbang antara mengerjakan skripsi yang membutuhkan pengetikan dan penelitian yang mendetail, pekerjaan, dan juga berkeluarga. Tapi pada akhirnya, didukung oleh keluarga, teman sekelas kuliah, dan juga dosen-dosen yang aspiratif, akhirnya tahapan saya untuk menjadi Sarjana Teknik sudah sampai ke babak final. Iya, sampai ke tahapan sidang skripsi.

Hari ini, Rabu, 26 Agustus 2015 menjadi waktu yang ditentukan oleh panitia tugas akhir untuk pengujian skripsi yang saya susun. Giliran saya adalah siang ke sore. Bersama-sama dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang juga dibagi 2 kloter: pagi ke siang, dan siang ke sore. Harapan dan impian saya terkait sidang skripsi ini sederhana saja: LULUS. Sehingga saya berhak untuk menyandang gelar S.T. atau Insinyur, yang mungkin kelak ada rezekinya, bisa jadi landasan saya untuk melanjutkan ke tingkatan Strata 2 (S2) menjadi Master, atau bahkan S3 menjadi Doktor/Ph.D.

Bismillah. Mohon bantuan doanya agar saya dapat menjawab seluruh pertanyaan penguji yang akhirnya akan menyimpulkan bahwa saya lulus.

Amin. Terima kasih.

*ditulis di sela-sela menunggu giliran ujian sidang skripsi*

—update jam 18:00—

Alhamdulillah, sidang selesai. Masih ada revisi, tapi yang pasti pertanyaan-pertanyaan dosen penguji bisa dijawab dengan baik. Semoga nilai akhirnya sesuai dengan usaha dan harapan. Dan yang paling penting, semoga statusnya LULUS.

Jam Tangan

Agustus 19, 2015 § 2 Komentar

Dulu, saya pake jam tangan seringnya untuk ngecek waktu. Karena lebih gampang untuk ngeliat ke pergelangan tangan, ketimbang nanya ke orang dan atau curi-curi liat jam di manapun itu. Kecuali, emang niatnya mau nanya waktu ke orang buat kenalan, sih.

Sekarang, saya seringnya pake jam tangan fungsi utamanya lebih untuk jadi aksesori penampilan. Iya, fungsi ngecek waktunya udah bergeser ke ponsel sejak hampir semua orang punya ponsel — jadi ga takut untuk ngeluarin ponsel lagi walau sekadar ngecek waktu jam berapa.

Tipe jam tangan yang saya suka sebenernya yang strap-nya adalah karet atau kulit. Kenapa? Karena kesannya lebih orisinil. Tapi somehow, belakangan saya lebih sering pake strap logam. Simpel aja sih, karena yang strapnya kulit/karet udah lama ga punya, sementara yang terbaru ya strapnya logam. Terakhir jam tangan dengan strap karet/kulit yang saya punya, udah dituker-tambah supaya dapat jam tangan strap logam yang sekarang saya pake. Dituker-tambahnya juga lebih karena usia sih, kalo ga salah udah berumur 5-7 taunan, dan mesinnya udah ga mau nyala. Pas datang ke toko jam, katanya untuk reparasi harganya hampir setengah dengan beli baru. Yaudah, begitu ditawarin untuk tuker tambah strap logam dengan harga yang lebih murah daripada setengah harga tersebut, otomatis saya lepas deh.

Sedikit banyak, saya termasuk orang yang sentimentil. Jadi hampir setiap barang (dan orang) yang jadi hak milik saya, pasti selalu ada cerita tersendiri yang setidaknya saya tau detailnya. Termasuk jam tangan strap kulit/karet tsb. Tapi ya, dengan jam tangan logam yang baru ini pun otomatis saya jadi punya cerita baru sih.

Soal tampilannya sendiri, saya termasuk yang suka dengan tampilan analog. Jadi ada jarum dan angkanya gitu. Buat saya, itu lebih berkelas. Walau begitu, saya juga punya kok jam digital — walau mungkin tetap dipadu dengan analog juga. Alasan lain kenapa ga milih jam tangan digital adalah, karena kalo korslet yaudah mati. Ga bisa diutak-atik lagi mesinnya. Kalo jam tangan analog, masih bisa diutak-atik mesinnya.

Perihal merek? Saya ga brand-minded, tapi sebisa mungkin yang mereknya udah dikenal untuk merek jam tangan dengan banyak variasi, dengan harga yang terjangkau untuk dibeli juga. Nanti aja kali, kalo saya udah berlebih rezekinya, baru deh belinya pake brand-minded. Intinya buat saya jam tangan itu satu: fungsi — walau sekarang bergeser jadi aksesori. :mrgreen:

Kalo kamu lebih suka jam tangan strap kulit/karet atau logam? Trus, analog apa digital?

Berhak (Bukan) Berarti Harus

Agustus 12, 2015 § Tinggalkan komentar

Hak adalah segala sesuatu yang harus di dapatkan oleh setiap orang yang telah ada sejak lahir bahkan sebelum lahir. – wikipedia

Hak adalah kekuasaan untuk berbuat sesuatu (krn telah ditentukan oleh undang-undang, aturan, dsb). – KBBI

Jadi, kalo berhak artinya kurang lebih memiliki hak. Memiliki kekuasaan. Memiliki hal yang boleh dan bisa didapatkan. Banyak hal yang bisa dikategorikan sebagai hak seseorang. Begitupun sebaliknya, yang tidak dikategorikan sebagai hak seseorang.

Contoh sederhana: setelah lulus dari sekolah, seseorang berhak untuk mendapatkan ijazah. Kalo ijazah ga didapat, tentunya pelanggaran terhadap hak orang tersebut. Tentunya, hal ini disesuaikan dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Setiap orang cenderung untuk memenuhi haknya masing-masing. Kadang sesuai dengan peraturan yang berlaku, kadang mendobrak peraturan, kadang dengan melanggar peraturan. Khusus untuk yang melanggar peraturan, itu namanya perampasan hak dari orang lain. Untuk itulah adanya hukum dan juga norma di masyarakat.

iya, paragraf di atas cenderung berat bahasannya.

Lantas, apakah kalo berhak berarti otomatis harus dituntut? Harus dimiliki? Harus dipenuhi? Belum tentu.

Ada beberapa kondisi istimewa di mana berhak atau memiliki hak akan sesuatu, belum tentu harus dipenuhi meski sesuai dengan peraturan yang berlaku. Iya, karena bergantung dengan beberapa faktor antara lain waktu, kemampuan yang bersangkutan, sampai dengan kemungkinan untuk mendapatkan pemenuhan hak tersebut.

Contoh sederhana: setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih anggota perwakilan di lembaga legislatif. Berkaitan dengan waktu, sumber daya yang dimiliki, sampai dengan kemampuan dari warga negara tersebut, hak untuk dipilih dan memilih kadang tidak diklaim. Tapi hal ini berbeda dengan status pelepasan hak karena hukuman atau perundang-undangan ya.

Iya, saya tau postingan ini berat. Tumben memang. Postingan ini sebenernya lebih sebagai uneg-uneg saya sebagai pengguna jalan yang telah menggunakan jalan sesuai dengan peraturan yang berlaku, serta (merasa) berhak untuk aman berkendara, tapi terkadang dilanggar oleh pengguna jalan lain yang kadang tidak sesuai peraturan.

Iya, ini postingan curhat. :p

Cokelat=Komplit

Agustus 5, 2015 § Tinggalkan komentar

Pahit. Manis. Sepat.

Warna putih. Warna cokelat. Warna hitam.

Murni. Bercampur.

Dimasak. Dikonsumsi gitu aja.

Wajar kalo banyak orang suka cokelat. Karena ya itu, semuanya ada di dalam cokelat. Rasanya ada manisnya, ada pahitnya, ada sedikit sepatnya. Warnanya juga beragam aslinya — cokelat, ada yang putih, hitam, atau warna lain. Selain itu ada makanan yang cokelat aja, ada juga yang dicampur bahan lain. Juga bisa dimasak, bisa juga murni.

Intinya, cokelat itu komplit.

Saya pribadi, termasuk penggemar cokelat. Baik itu cokelat manis, pahit, warna cokelat-putih-hitam, dimasak atau tidak, dan lain-lain. Kaya’nya udah dari kecil banget saya gemar dengan cokelat. Bahkan, ibu saya suka bercanda bahwa salah satu alasan gigi saya kurang bagus komposisinya ya karena saya gemar cokelat, baik itu cokelat batang maupun juga es krim.

Akan susah juga rasanya untuk nemuin orang yang ga suka cokelat. Bisa jadi persentasenya 0.01% dari populasi. Tapi ya, gapapa juga sih ga suka cokelat. Kan pilihan.

Yang pasti, ada salah satu kutipan soal cokelat yang mengena banget, yaitu kutipan dari salah satu film favorit saya “Forrest Gump”.

Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.

Kalo buat saya sih, cokelat itu komplit. Karena ada semuanya.

Kalo kamu suka cokelat ga?

Vine

Juli 28, 2015 § Tinggalkan komentar

Saya kenal dan tau vine udah sejak taun lalu, tapi baru aktif lagi pas libur Lebaran kali ini. Itupun karena kemarin ngincer buat ikutan lomba liputan mudik/libur Lebaran. Buat yang ga tau vine, mungkin bisa cek aja ke website-nya di sini atau kalo mau liat vine hasil saya, bisa liat di sini.

Saya pake vine lebih ke buat sharing video-video singkat aja. Agak ribet kan kalo mau sharing sesuatu pake video, tapi kalo via youtube. Ribetnya lebih karena harus 2x proses: aplod dulu ke youtube, baru kemudian share ke social media. Kalo pake vine, lebih simpel karena cukup aplod ke vine nanti bisa pilih opsi crosspost ke social media pilihan yang udah disambungin.

Oiya, ada alasan lain kenapa saya baru aktif lagi pake vine belakangan ini dan ga dilanjutin dari dulu-dulu. Pertama-tama, karena saya anggap rekam video pake vine lebih ribet ketimbang pesaingnya — instagram video. Pengalaman saya pake vine pertama-tama dulu adalah, rekamnya harus via aplikasinya. Sementara kalo instagram video bisa rekam videonya dulu, baru kemudian di-share. Tapi setelah setaun ga pake, saya baru tau kalo vine pun bisa rekam video dulu baru kemudian dishare.

Soal durasinya yang singkat, sepertinya emang itu tujuan utamanya. Informasi yang disampein emang ga perlu panjang-panjang, cukup beberapa detik aja. Bahkan bisa jadi beberapa detik itulah yang bikin sebuah video jadi unik. Jadi ada content-anchor gitu. Semacam yang ngegantung. *halah*

Anyway, dari sekian vine yang saya buat medio libur lebaran lalu, yang paling saya suka yang ini nih… *ga bisa embed di sini karena dibatasin sama wp-nya*

 

Kamu pernah bikin dan ngeshare video pendek juga ga? Pake apa?

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.672 pengikut lainnya