Nyeduh Kopi: Air dulu atau Kopi dulu?

April 22, 2015 § 2 Komentar

Tergantung.

Iya, saya kalo nyeduh kopi ya tergantung pengennya saat itu air dulu atau kopi dulu. Kadang saya siapin dulu kopinya ke gelas, baru dituang air panas. Bisa juga sebaliknya, air panasnya dulu baru kemudian masukin kopinya lalu gula.

Saya pernah ngobrol sama salah satu kenalan yang cinta banget sama ngopi/nyeduh kopi, buat dia air dulu baru kemudian kopi dan gula itu penting. Katanya, nyeduh kopi itu ibarat memasak. Jadi penting harus siapin dulu air panas (atau mendidih) baru kemudian masukin kopinya, tunggu sampai beraroma, baru kemudian masukan tambahan berupa gula. Bener ‘kan, seperti memasak?

Di lain waktu, saya juga pernah ngobrol sama penikmat kopi. Buat dia lebih penting kopi dulu siap ke dalam gelas. Mau itu kopinya aja, atau sekalian campur sama gula atau bubuk krim/susu, baru kemudian air panas (atau mendidih). Buat dia, kenapa kopi dan semuanya duluan baru kemudian air, karena supaya seluruh bahan dasarnya udah siap dan air panas (atau mendidih) sebagai penyempurna.

Sempet gugling juga apa kata orang lain di internet, trus nemu link ini. Kurleb (kurang lebih) dari link itu cara nyeduh kopi yang paling dipilih sbb:

1. Sediakan dahulu kopi hitamnya.
2. Gunakan cangkir atau mug dari keramik, bukan dari kaca. Alasannya lebih bisa menyimpan panas lebih lama. Jangan lupa tutupnya sekalian.
3. Gunakan air yang mendidih ya…Sebelum cangkir di beri kopi, tuang sedikit air panas ke dalam cangkir, lalu buang air panasnya. Tujuannya agar cangkirnya panas terlebih dahulu sehingga panas air untuk menyeduh kopi tidak terbagi juga untuk memanaskan cangkir.
4. Tuang kopi bubuk item ke dalam cangkir yang telah panas tadi sesuai selera. Kalau aku 2 sendok teh dah pas bagi lidahku.
5. Tuangkan air panas agak jauh dari atas cangkir, kira-kira sejengkal dari atas cangkir. Tujuannya agar kopi tidak usah diaduk lagi sudah tercampur dengan air. Jangan sampai kepenuhan ya…
6. Jangan diaduk, dan segera tutup rapat.
7. Biarkan sekira 5 menitan agar kopi jadi dahulu, sampai bagian yang mengambang sudah tenggelam sendiri.
8. Nikmati kopi anda sesuai selera, mau tambah gula juga boleh, gula plus susu juga tidak ada yang ngelarang.
Kalau aku, kopi paling nikmat dinikmati tanpa tambahan apapun…khasiatnya dapat dan juga katanya mencegah diabetes serta memperkuat jantung.

Jadi, yang paling bener airnya dulu baru kopinya?

Omong-omong, pertanyaan ini sebenernya — menurut saya, bergantung sama persepsi dan selera masing-masing sih. Sama seperti pertanyaan makan bubur: diaduk atau ga diaduk?

Kalo kata kamu gimana?

Pajak dan Segala yang Terkait

April 15, 2015 § 2 Komentar

Pertama kali saya “kenal” pajak secara mendetail itu di sekitar tahun 2008-2009. Waktu itu pertama kalinya saya punya NPWP karena waktu itu kalo ga salah lagi ada sunset policy, dan kebetulan tempat bekerja saya di periode itu menganjurkan (dengan sedikit nada wajib) seluruh pekerjanya untuk melaporkan NPWP (nomer pokok wajib pajak). Alhasil, sejak periode 2008-2009 saya terdaftar sebagai wajib pajak yang sah dan tercatat di keuangan negara. *halah*

Omong-0mong soal wajib pajak sendiri, pertama kalinya saya denger istilah ini periode akhir 1990-an. Waktu itu saya masih tinggal di Tasikmalaya, dan tau istilah itu karena (alm.) Ayah saya pertama kalinya punya NPWP dan coba membuat usaha sendiri untuk menghidupi keluarga. Waktu itu saya liat kartu NPWP yang dimiliki olehnya, merasa kagum sekaligus bangga bahwa beliau menjadi warga negara yang baik — yang di kemudian hari, saya sadar kalo jadi warga negara yang baik itu banyak caranya, ga cuman taat peraturan dan pajak aja.

Balik ke kejadian yang dialami (alm.) Ayah, saya pikir juga dengan terdaftar udah cukup. Nyatanya engga, karena beberapa tahun kemudian, beliau dipanggil untuk menghadap ke kantor pajak terdekat untuk mengurus laporan dan lain-lain. Detailnya saya kurang tau persis, tapi singkat cerita akhirnya selesai dan itu jadi salah satu pengalaman yang kurang nyaman bagi beliau.

Makanya, pada saat tahun 2008-2009 saat saya bilang hendak daftar NPWP dan lain-lain, beliau sempat melarang. Alasan persisnya saya kurang ingat, tapi sepertinya sih karena pengalaman beliau itu. Tapi ya karena dorongan agar potongan bulanan dari penghasilan tidak lebih besar dari rata-rata, dan juga terdorong untuk menjadi warga negara yang baik, singkat cerita saya pun punya NPWP.

Repot atau engga, untung atau engga, punya NPWP setidaknya cukup membuat saya nyaman di kebanyakan hari-hari sepanjang tahun. Ga nyamannya cukup 1-10 hari aja dalam setahun. Itupun ga nyamannya karena harus mengumpulkan bukti potong pajak penghasilan/pendapatan (atau bukti potong pajak sesuai peraturan) lalu dilaporkan ke kantor pajak terdekat. Iya, proses ngumpulin dan mengisi SPT itu kurang nyaman, karena jika salah mengisi bisa jadi wajib pajak yang semula tagihan pajaknya nihil — karena sudah dibayarkan otomatis secara bulanan karena dipotong dari penghasilan, bisa muncul tiba-tiba karena salah perhitungan.

Bukan, saya bukan ga setuju atau ngajarin untuk mengakali potongan pajak, melainkan sekadar himbauan untuk lebih berhati-hati saat mengisi SPT dan melaporkan pajak yang sudah dibayarkan/dipotong. Dan tentunya, pengisian SPT juga disesuaikan dengan jenis pajak yang dibayar — sebagai pemilik usaha kah, penghasilan lebih dari 1 pemberi kerja kah, dan lain-lain.

Dan karena postingan ini topiknya soal pajak, sama seperti pembayar pajak (dengan NPWP atau tidak) lainnya yang mayoritas warga negara Indonesia, saya penasaran aja sih total pengumpulan pajaknya itu disalurkan ke mana aja ya? Ke pembangunannya sih jelas, yang saya maksud itu transparansi biaya pembangunan dan juga pajak yang dibayarkan. Selama ini kan masyarakat (dan juga saya) disodorinnya berita atau kabar soal kondisi makro aja — total pajak, tapi detailnya ke mana aja ga tau. Atau mungkin, sebenarnya udah ada laporannya cuman bukan buat konsumsi publik.

Well.. manapun, saya sih berharapnya pajak dan juga laporan pajak yang dilakukan secara rutin itu benar-benar digunakan untuk kemaslahatan umat. :mrgreen:

1 April

April 8, 2015 § Meninggalkan komentar

Engga, postingan ini ga salah tanggal publish-nya. Emang sengaja dipublish sekarang buat bahas tanggal 1 April — yang juga sering dikenal sebagai April Mop (di Indonesia) atau April Fools (di luar negeri).

1 April sendiri buat saya pribadi udah sering saya alami, tapi syukurnya ga selalu saya anggap serius. Cuma ada beberapa kejadian aja yang saya anggap serius di tanggal 1 April itu. Salah satunya di tahun 2012, saat istri saya tengah mengandung anak pertama, di sore hari itu istri saya ngasitau kalo air seninya berwarna. Karena hitungan kandungannya udah masuk masa-masa akhir kehamilan, jadinya langsung bawa ke rumah sakit dengan taksi di tengah hujan deras. Dan, sampe RS setelah dimonitor, nyatanya belum saatnya lahir. Semacam false alarm gitu deh.

Saya sendiri di tanggal 1 April pernah beberapa kali coba bikin lelucon atau coba becanda. Tapi ya, mungkin karena dasarnya memang saya garing dan ga jago ngelawak apalagi ngartis, jadinya lelucon & candaan saya di 1 April ya berlalu gitu aja. Buat yang temenan atau ada di circle akun social media saya, mungkin pernah baca kalo saya mau tutup akun dll, dsb. Pengumuman doang di pagi hari, trus ga aktif seharian sampe besoknya — padahal aktif di akun nama lainnya. :mrgreen:

Karena tanggal 1 April juga, makin ke sini saya makin hati-hati baca berita/publikasi/informasi yang disebarkan di tanggal tersebut. Apalagi di saat semuanya sudah terhubung ke digital/internet gini. Walau gitu, ada beberapa hal yang buat saya cukup berkesan yang kejadian di tanggal 1 April itu, antara lain:

  1. Waktu “flickr” ngumumin dia ganti nama jadi “flicker”. Kalo ga salah, jauh sebelum mbak Mayer join jadi CEO-nya grup Yahoo!.
  2. Waktu temen-temen di Path saya rame-rame ganti nama jadi nama artis terkenal, begitupun juga ganti profil picture-nya. CMIIW, kejadiannya di 1 April, tapi entah tahun berapa.

Mungkin itu aja sih beberapa catatan terkait tanggal 1 April itu.

Kalo kamu pernah ngalamin apa aja di tanggal 1 April?

Connecting People

Maret 31, 2015 § Meninggalkan komentar

Nokia. Connecting People.

Personally, saya suka dengan tagline dari Nokia itu. Connecting People. Susunan katanya sederhana — terdiri dari 2 kata, arti katanya tidak perlu konotasi, dan langsung mengena. Selain itu juga sesuai dengan fungsi dari produk yang menggunakan brand-nya, yakni telepon genggam.

Sama halnya dengan brand-nya yang sempat jaya (Nokia), tagline itu sendiri kini statusnya juga “sempat jaya”. Padahal, kalo dipikir-pikir, tagline itu kini cocok dengan semua layanan digital dan bahkan jejaring digital atau internet itu sendiri. Mungkin kalo kelak dihidupkan lagi (revival), maka tagline itu cocok sbb:

Internet. Connecting People.

Hampir semua hal bisa dan telah dilakukan menggunakan internet. Belanja. Baca berita. Baca peta. Ngehubungin orang. Bersilaturahim. Dan masih banyak lagi. Hanya yang sifatnya fisik serta secara tradisional membutuhkan komunikasi fisik/temu muka, belum lazim menggunakan internet. Walau begitu, teknologi internet dan atau digital kini semakin dikembangkan, dan diadaptasi hampir di segala bidang.

Iya, tumben saya ngepost begini. Ngomentarin tagline atau brand. Sebenernya ini ga lain karena pekerjaan dan juga interest saya sih, yang berkutat di seputar bidang internet/digital dan juga penulisan. Maunya ngepost di blog sebelah, tapi kalo di sana saya nulisnya harus lebih resmi karena di sana buat branding. Sementara di sini? Ya… saya komennya lebih santai aja. :mrgreen:

Akun Digital

Maret 24, 2015 § Meninggalkan komentar

Digital presence (kehadiran digital) saya bisa dirunut sejak taun 2000an awal — kalo ga dibilang 1990an akhir. Kalo ga salah, jejaknya bisa diliat dari salah satu akun email yang masih aktif saya gunakan hingga saat ini. Yakni email yahoo saya: naga_tasik. Kalo ga salah ingat, saya buatnya pas masih jaman SMP. Dulu tujuannya sebagai akun alternatif dari email utama saya — yang sekarang sudah nonaktif karena yahoo pernah bersih-bersih akun itu.

Beberapa peristiwa mulai dari jadi bancet (korban ceting) di mIRC, join milis ini-itu — hingga sempat dikucilkan karena mengepos email yang menyinggung member milis (yang tak sedikit), sampai dengan social network dan juga domain personal sudah saya alami. Hingga kemudian adaptasi saat ini, seperti ngegame di perangkat bergerak (mobile) dan juga yang-kerennya-disebut personal branding dengan akun digital.

Sedikit napak tilas, akun digital saya sejak pertama kali mengenal ranah internet hingga saat ini utamanya berkisar di beberapa kata kunci, antara lain:
– nama saya
– nama panggilan/alias
– taun lahir

Sepertinya tak perlu saya sebutkan satu-persatu — karena variasinya cukup banyak. Tujuan lain dari banyaknya variasi akun digital tersebut, di antaranya akuisisi username, alias untuk anonim, dan beberapa hal lainnya. Tapi saat ini, bisa dibilang saya mengalihkan fokus ke beberapa akun saja. Iya, beberapa. Tentunya fokus utama ada di akun utama — yang kurang lebih mengandung nama saya.

Kenapa sih akunnya ga disebut atau dikasih link buat dicek?

Jawabannya sederhana: kehadiran digital saya sudah cukup banyak. Kalo di-gugling saja “billy koesoemadinata” tentu akan menemukan sendiri jawaban akun-akun digital tersebut. Tentunya, akun atau properti digital yang open for public dan bisa diakses oleh google. Kalo masih bingung juga, mungkin bisa akses ke about.me/bil.

Bukan, postingan ini bukan promo. Saya bikin postingan ini sebagai reminder bahwa ada masanya saya bikin akun digital dengan username yang 4L4y, sulit ditebak, mengandung anonim, hingga akhirnya memutuskan untuk aktif di akun yang benar-benar mewakili diri saya — nama. Mungkin, udah masanya kali ya. Mengingat umur juga. *eh*

Kalo kamu, pernah bikin akun digital dengan username 4L4y, ga?

#SerenaBestMPV: Kemewahan yang Terjangkau

Maret 17, 2015 § 1 Komentar

Beli sesuatu kalo butuh, jangan hanya karena pengen.

Petuah itu lebih kurang sering saya coba terapkan ke diri saya pribadi. Sebisa mungkin, hal-hal yang saya punya dan saya beli, adalah yang benar-benar saya perluin. Bukan sekadar pengen punya atau pengen pake aja, tapi harus bener-bener menunjang keperluan/kebutuhan saya. Mulai dari kebutuhan primer – sandang pangan papan, sampai dengan sekunder, tersier, ataupun kebutuhan mewah.

Iya sih, kadang beli/punya sesuatu yang dilandasi rasa pengen itu sebenernya salah satu bentuk aktualisasi diri, atau pemenuhan kebutuhan diri sendiri untuk membuktikan sesuatu atau supaya ga penasaran. Tapi ya, ada kalanya kita pribadi juga harus tahu diri, tahu batasan dan kemampuan. Sejauh, setinggi, atau semampu apa yang bisa dijangkau.

Salah satu kebutuhan yang berkaitan erat dengan kemampuan adalah kendaraan. Personally, saya berpendapat untuk di Jakarta ini, sudah cukuplah saya ditunjang dengan kendaraan roda dua untuk transportasi pribadi. Selain karena perawatan lebih hemat, harga yang bersahabat, juga konsumsi BBM lebih sedikit. Perihal risiko keujanan atau kepanasan, kurang lebih prinsipnya sama seperti berikut,

Naik motor itu, kalo panas ga keujanan, kalo ujan ga kepanasan.

Tapi prinsip itu cuma berlaku buat saya pribadi. Sendiri. Ga berlaku kalo lagi sama istri, apalagi kalo jalan-jalan bareng anak atau keluarga lainnya. Karena naik motor itu idealnya buat sendirian, yang ga gitu ribet. Lain halnya kalo udah berkeluarga, atau punya anak, atau mau ajak keluarga besar.

Maka pencarian untuk kendaraan yang bisa memenuhi kebutuhan untuk bisa digunakan bersama istri, anak, dan juga keluarga lainnya. Daftar kebutuhan dan penggunaan pun dibuat, jangan sampe dipake karena sekadar pengen, tapi juga karena butuh atau perlu. Singkat cerita, pilihan kendaraan pun jatuh kepada roda 4 atau mobil.

Berbagai merek dan juga tipe kendaraan roda 4 pun disaring lalu ditimbang baik-buruknya. Mulai dari faktor eksternal seperti bengkel dan juga spare part, sampai dengan internalnya seperti spek kendaraan dan juga merek. Yang keseluruhannya kemudian diperbandingkan terhadap harganya dan kemudahan proses pembeliannya (kredit angsuran, jangka waktu, DP, dll). Ya… value for money gitu deh.

Salah satu yang menarik perhatian adalah merek Nissan. Beberapa tipe yang available di Indonesia antara lain March dan juga Serena. Sehubungan saya suka tipe kendaraan roda 4 yang besar — karena biar bisa muat banyak, maka Serena sepertinya lebih layak dipilih. Kebetulan, hari Jumat minggu lalu (13 Maret 2015) saya berkesempatan buat hadir ke press conference-nya Nissan di bilangan Pondok Indah, Jaksel.

Nissan New Serena, on the road

Nissan New Serena, on the road

Di press conference itu, Nissan nge-launch Serena baru (New Nissan Serena) yang antara lain refreshment di eksterior maupun juga interior. Berdasar rilis yang saya terima, penyegaran itu bertujuan untuk memberikan sentuhan lebih merah, elegan dan prestise untuk menjawab kebutuhan keluarga Indonesia yang mendambakan kendaraan MPV yang merefleksikan kesuksesan dan gaya pribadi miliknya. Trus, saya juga baru tau dari rilis itu kalo ternyata Nissan Serena udah jadi market leader di segmen High MPV di Indonesia sejak taun 2007. Pantes lah kalo disebut sebagai Best MPV — #SerenaBestMPV. Keren juga ya.

Overall, penyegaran di Nissan New Serena antara lain bemper depan, grille, desain hood (atap), pelek (wheel), lampu utama LED (headlamp) yang dilengkapi day time running light dan juga fog lamp finisher, lampu belakang (rear lamp), sampai aero side guard. Itu buat eksterior-nya yang langsung keliatan dari luar. Nah, kalo masuk ke interior, yang baru antara lain Audio Steering Switch, panel instrumen dengan warna baru dan juga motif yang keliatan lebih mewah pada kursi.

interior Nissan New Serena

interior Nissan New Serena

Ada banyak warna yang dirilis di Nissan New Serena ini, antara lain scarlet red, floral white, diamond silver metallic, smokey grey metallic, light steel blue, dan phantom black. Personally, saya lebih suka warna hitam. Kesannya lebih berkelas gitu deh. Selain itu, perawatannya saya anggap lebih mudah, jadi kalo ada apa-apa sama bodi, bisa lebih tersamarkan dibanding warna-warna yang lebih terang. Ke-6 pilihan warna itu juga dibagi ke 3 tipe antara lain Type X, Type Highway Star, dan Type Autech.

Nah, sekarang soal harga: Nissan New Serena ini dibandrol mulai dari 364juta sampai dengan 441juta. Saya belum liat detail harga tersebut kalo dipecah ke skema kredit mobil, DP dan cicilannya jadi berapa. Tapi buat bayangan aja ya, merek mobil lainnya dengan tipe di harga serupa, kurang lebih DP-nya variatif mulai dari 70an juta sampai dengan 100an juta dengan cicilan-nya sekitar 3-4 jutaan/bulan selama 4-5 taun. Buat saya pribadi, skema cicilan tersebut masih bisa dijangkau (kalo ga dibilang terjangkau). Kenapa? Karena saya berpendapat, target pasar dari Nissan New Serena adalah diutamakan untuk yang sudah berkeluarga. Dan yang sudah berkeluarga tersebut, tentunya penghasilannya diperkirakan di level 10an juta ke atas, dengan daya beli yang sudah cukup kuat. Intinya, profiling dari target untuk Nissan New Serena ini seharusnya mampu untuk menjangkau harga beli Nissan New Serena untuk mendapatkan kelebihan dan fitur sesuai kebutuhan — dan juga kemewahannya. :)

Itulah alasan kenapa saya membuat postingan ini dengan judul demikian. Untuk target kelas pembelinya, kemewahan yang ditawarkan dari Nissan New Serena ini bukanlah mimpi, bukanlah sesuatu yang tidak bisa diraih, melainkan mampu dijangkau — dan juga kelak mampu ditunjukkan sebagai bagian dari aktualisasi diri. *halah*

Oiya, jangan lupa kalo mau beli mobil, pertimbangkan juga di mana nanti nyimpennya ya. Jangan sampe, beli mobilnya bisa, bisa pakenya juga, tapi bingung mau simpen di mana mobilnya. :P

Kira-kira, kamu termasuk target pembeli Nissan New Serena ga?

NB: images saya ambil dari website-nya Nissan Indonesia.
NB lagi: saat ini saya udah ada kendaraan roda 4 — Alhamdulillah.

Lalu-Lalang di Jakarta

Maret 10, 2015 § 4 Komentar

Being mobile in Jakarta

Kalo di-English-kan, begitu maksudnya judul postingan ini. Keliatannya memang lebih keren pake bahasa Inggris sih, tapi karena saya orang Indonesia & berusaha supaya bisa menggunakan bahasa Indonesia yang kosakata-nya (sebenernya amat sangat) kaya, jadilah judulnya seperti itu.

Back to topic sesuai judul lah malah ga konsisten pake bahasa Indonesia :mrgreen: , berlalu-lalang di Jakarta itu butuh tekad yang kuat. Bayangin aja, kondisi macet pada jam sibuk (rush hour) yang dulu maksimal bikin perjalanan molor jadi 1 jam, sekarang bisa jadi berjam-jam. Contohnya gampang aja: beberapa tahun yang lalu, dari seputaran Tanjung Barat Jaksel ke arah Prapanca Jaksel, kalo naik angkutan umum maksimal 1 jam — itu 30 menit perjalanannya, dan 30 menit rata-rata waktu menunggu angkutannya. Sekarang? Perjalanannya sendiri bisa 1 jam, menunggunya bisa 1 jam juga. Padahal, Prapanca dan Tanjung Barat itu hitungannya deket dalam jarak.

Kebayang kan kalo perjalanannya dari ujung ke ujung seperti Tangerang ke Jakarta Timur, atau Depok ke Jakarta Utara, dan lain-lain. 2 jam itu bisa perjalanannya sendiri. Waktu menunggu angkutan umumnya bisa lebih lama lagi.

Sebagai solusi, jadilah banyak yang menggunakan kendaraan pribadi. Mobil, ataupun motor. Mobil jelas, bisa pake jalan tol pinggir kota dan dalam kota. Motor juga jelas, untuk urusan selip-menyelip di antara keramaian lalu lintas ibukota lebih mudah digunakan. Tapi, solusi tersebut jadi mandeg kadang-kadang ketika mobil harus lewat jalan protokol/biasa non-tol, dan gunakan motor kemudian hujan.

Personally, sejak bulan Desember lalu saya jadi lebih banyak lalu-lalang di Jakarta. Anter-jemput & meeting, jadi alasan utama kenapa saya jadi lebih banyak lalu-lalang (mobile). Dan rata-rata waktu yang saya habiskan di jalanan ketika hari kerja, 5-6 jam sehari. Sekitar 1/4 bagian dalam waktu hari kerja saya sudah habis buat di perjalanan. Walau kesal, sebal, dan kadang-kadang bikin penampilan jadi lusuh, ya mau ga mau itu harus saya terima, sih karena tinggal dan bekerja di Jakarta.

Kalo kamu, rata-rata berapa jam sehari yang kamu habiskan di perjalanan untuk lalu-lalang (mobile) di Jakarta?

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 3.659 pengikut lainnya.