Beli Mobil Dapat Cashback

Februari 24, 2016 § 1 Komentar

Punya rencana untuk beli mobil di tahun 2016 ini? Sebelum membeli ada baiknya intip-intip mobil123.com.

Sebagai salah satu website terdepan yang membantu pengguna untuk mencari mobil – baru/bekas sesuai keinginan, mobil123 masih di awal tahun ini membuat beberapa gebrakan yang pastinya akan menarik banget buat yang mau beli mobil. Yaitu: beli mobil dapat cashback!

img_9759-copy2

Sumber foto: mobil123.com

Seperti ditulis di sini, setiap pembelian mobil melalui website mobil123.com, setiap minggunya akan ada 1 pengguna yang beruntung buat dapetin cashback 10 juta rupiah! Periodenya berlaku selama 1-31 Maret 2016.

Berikut kutipan langsung dari laman di atas mengenai cara lengkap buat dapetin cashback-nya,

Caranya gampang sekali. Kunjungi saja Mobil123.com, lalu carilah mobil idaman Anda. Bila Anda sudah dapat, hubungi langsung sang penjual. Jangan lupa untuk copy dan simpan link URL Mobil123.com di mana mobil incaran Anda diiklankan.

Setelah itu, datangi pihak penjual dan lakukan transaksi jual-beli sampai mencapai kesepakatan.

Bila kesepakatan tercapai, langsung email customer care Mobil123.com ke alamat email marketing@mobil123.com dengan format sebagai berikut:

Lampiran/attachment yang wajib disertakan:
1. KTP Anda
2. Bukti pembayaran transaksi dari dealer bila Anda membeli mobil secara tunai
3. Bukti pembayaran transaksi dari leasing bila Anda membeli mobil secara kredit
4. Semua bukti itu di scan dan dikirim ke marketing@mobil123.com

Nantinya para pemenang mingguan akan diumumkan di fanpage resmi Mobil123.com di Facebook. Para pemenang itu nanti juga akan dihubungi oleh Mobil123.com untuk penyerahan hadiah.

 

Gimana? Menarik kan? Buat dapetin info lebih lanjut bisa langsung meluncur aja ke link di atas ya. Atau bisa juga download dulu form untuk cashback-nya di sini.

Menulis Tangan

Januari 27, 2016 § 2 Komentar

Terakhir kali saya menulis tangan yang untuk mengingat kayanya pas kuliah D3 dulu. Iya, menulis tangan dalam artian mencatat. Lalu, apakah saat kuliah lanjut S1 kemarin tidak menulis tangan? Jawabnya, tentu saja menulis tangan tapi sayangnya ga langsung mengingat, melainkan untuk kemudian meninjau kembali.

Apa bedanya mengingat dan meninjau kembali?

Buat saya, mengingat berarti memahami. Berarti saya berusaha untuk lebih mengerti apa yang saya catat, apa yang perlu saya dalami. Sementara mengenai meninjau, itu berarti saya belum tentu mengingat dan memahami pada saat itu, tetapi di lain waktu saya perlu kembali mempelajari.

Kusut? Udah biasa, bukan? πŸ˜›

Menulis tangan untuk mengingat dan meninjau merupakan salah satu cara saya untuk melatih pola pikir sekaligus juga melatih otot-otot di tubuh saya. Ga cuma otot tangan dan pendukungnya (lengan), tapi juga otot mata, pernapasan, sampai dengan otak. Menulis – buat saya, merupakan salah satu bentuk pelatihan otot selain juga pelatihan pikiran. Sehingga, dulu-dulu ketika layar ponsel belum sebesar sekarang — sekaligus lebih mudah menemukan pulpen dan kertas, saya lebih suka dan sering menulis tangan dibandingkan menulis di perangkat lunak.

Ada baik dan buruk tentunya terhadap menulis tangan ini. Salah satu keburukannya adalah catatan atau tulisan tersebut bisa terselip dan sulit untuk dicari. Paling parah: hilang. Sudah pernah terjadi kok beberapa kali untuk tulisan dan catatan saya. Menyesal? Tentu saja. Tapi jika memang saya niat menulisnya, pastinya sudah terserap dengan baik di kepala saya.

Belakangan ini, saya kembali melatih diri untuk gemar menulis tangan. Tulisan apa saja. Entah itu mengingat atau mencatat. Manapun. Yang penting menulis tangan.

Kalo kamu, kapan terakhir kali menulis dengan tangan dan menulis apa?

Pizza dan Makanan Italia

Januari 20, 2016 § Tinggalkan komentar

Personally, saya suka pizza. Baik itu suka secara penampilannya, variasinya, sampai dengan makannya. :mrgreen: Kalo diflashback ke belakang, saya suka pizza sejak pertama kali orangtua saya mengajak makan pizza di Pizza Hut di Pasaraya, Blok M.

Kenapa suka pizza? Sederhana aja sih: ada karbohidrat (roti), ada protein (daging sapi atau ikan), sampai dengan vitamin (cabe, sambal, saus, dan-lain-lainnya yang benar-benar mudah-mudahan mengandung vitamin). πŸ˜† Dan yang paling penting, makan pizza bikin kenyang.

Sejak mulai dewasa dan kemudian bekerja serta memiliki penghasilan sendiri, bisa dibilang pizza cenderung jadi pilihan utama kalo mau makan bareng atau ngerayain sesuatu. Pizza Hut, Izzi Pizza, sampai dengan Dominos. Semuanya pernah dicoba untuk dipesan dan kemudian dimakan sendiri, bedua sama pacar (sekarang istri), sampai dengan bareng temen. Entah itu di restonya atau di kantor/rumah.

Pilihan utama topping atau isian pizza juga ga pernah spesifik harus (banget) yang ada daging atau ikan. Tapi emang sih, kalo ditelisik ada beberapa pilihan topping yang sering banget dipesen, antara lain yang banyak daging sapinya, sampai dengan yang mengandung saus mayonnaise-nya. Gampang ya? :mrgreen:

Pernah makan selain pizza di resto pizza? Jelas pernah. Beberapa jenis pasta – spaghetti, macaroni, dll jelas pernah dipesan dan dimakan. Paling favorit? Ga ada kalo dari jenis, tapi kalo dari topping/isiannya, kayanya yang mengandung keju meleleh paling digemari.

Selain pizza dan teman-temannya, saya sebenernya juga penasaran banget sama makanan Italia lainnya. Pernah liat di film Malavita (The Family), katanya makanan Italia dibanding makanan Perancis, lebih tasty (berasa). Belum lagi efek nonton Masterchef edisi Australia dan US yang berulangkali pesertanya nyuguhin makanan Italia.

So, kalo suatu ketika lagi ke resto Italia atau ke resto umum yang ada menu makanan Italia-nya, saya cenderung untuk observasi menyeluruh di menunya dan caritau makanan mana yang saya belum pernah coba. Karena buat saya pribadi, makanan Italia itu enak! Banget!

Kapan-kapan harus bisa nih makan makanan Italia langsung di Italia-nya!

Musik, Antara Seni dan Relaksasi

Januari 13, 2016 § Tinggalkan komentar

Beberapa kenalan yang tau saya pernah kerja di industri (terkait) musik, suka iseng nanya soal kenapa dulu saya pernah pilih kerja di situ, dan kenapa sekarang ga balik lagi. Beberapa pertanyaan lain juga pernah muncul terkait musik apa aja yang pernah saya putarkan dan juga terkait artis-artisnya. Dan sering juga kok jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait musik tersebut dianggap kurang memuaskan. Well… gimana ya?

Musik, buat saya, adalah sebuah bentuk seni. Musik ga perlu yang ribet, bisa diciptakan dari sebuah kesederhanaan. Bahkan buat saya pribadi, vokal (suara) manusia yang menyanyi atau menciptakan suara-suara yang berirama dan nyeni adalah sebuah bentuk musik yang paling agung. Kenapa? Karena itu alami. Belum lagi kalo ditambah irama dari suara-suara alam seperti gemericik air, tumpahan air hujan, sampai dengan sahut-sahutan serangga di kala malam hari. Iya, itu musik yang paling agung – buat saya. Tapi bukan berarti saya menganggap remeh musik yang bukan alami…

Musik yang diciptakan dengan alat-alat bantu seperti gamelan – tradisional, sampai dengan gitar elektrik dan juga drumset juga kerapkali membuat saya takjub. Paling gampang dilihat adalah dari harmonisasi pada genre jazz antara drumset-gitar bas-piano-trompet, atau melodi-lead-solo gitar yang njelimet di genre metal/rock.

Tapi di atas semua itu, musik buat saya adalah sebuah seni. Dan seni pada dasarnya selain sebagai bentuk penghargaan dan ekspresi manusia, juga merupakan bentuk lain dari sebuah relaksasi. Yes, ga salah baca: RELAKSASI.

Ga sedikit dari kita – sejauh pengamatan saya, menyalakan TV/video youtube tanpa memperhatikan aksi videonya melainkan hanya menikmati (audio) musiknya saja. Ga sedikit juga kita yang menyalakan pemutar lagu (itunes/mp3 player) dengan nada suara yang cukup rendah sehingga cenderung menjadi backsound di setiap kali kita beraktivitas. Beberapa pemusik juga ketika didera kepenatan langsung saja memainkan musik-musik mereka, memainkan gitar, membuat irama ketukan, sampai dengan menyanyi hingga mereka merasa lebih baik. Contoh-contoh itu buat saya cukup mengambil kesimpulan bahwa musik adalah seni yang berbentuk relaksasi. Seni musik bisa membuat orang relaks, baik pendengar maupun juga pelaku musiknya.

Jadi, kalo ditanya lebih jauh kenapa saya ga begitu merhatiin hal-hal di luar musik yang dimainkan (milih kerja di industri itu atau tren artis terbaru), ya jelas sih karena musik itu membuat relaks. Beberapa kali saat masih ada di industri itu dulu, saat musik (lagu) sedang diputarkan adalah kesempatan untuk menjadi lebih relaks untuk kemudian melakukan pekerjaan selanjutnya.

Kalo buat kamu, musik itu apa?

Tahun Baru, Apanya yang Baru?

Januari 6, 2016 § Tinggalkan komentar

So here it is. 2016. New year – after 2015. Perlu ada yang baru? Jawabannya bisa iya – banyak, bisa juga ga sama sekali.

Buat saya pribadi, 2016 ini memerlukan cara pandang yang lebih baru – lebih dewasa, arif dan bijaksana.

2016 ini buat saya lagi, memerlukan taraf/tingkat keimanan yang baru – yang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

2016 ini, masih buat saya, memerlukan semangat dan juga dorongan yang lebih baru – lebih kuat dan lebih tinggi untuk meraih cita-cita yang saya idam-idamkan. Tak hanya sekadar meraih cita-cita, tapi kemudian bisa melampauinya. Seperti Buzz Lightyear di film Toy Story – β€œTo infinity, and beyond!”

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with #2016weeklypost at i don't drink coffee but cappuccino.