XXXI

Maret 10, 2017 § Tinggalkan komentar

Bukan, ini bukan judul film Vin Diesel apalagi film stensilan (eh, emang ada?).

Ini soal angka prima. Yeah, right.

Oke, deh. Ini soal angka romawi. Nice try.

Baiklaaaahh.. ini soal usia. Dan ditulis dalam angka romawi. Kan lumayan buat tebak-tebakan dulu berapa angka sebenernya — kalo masih inget coding angka-angka romawi. :mrgreen:

Belakangan (say, 1-2 tahun terakhir) saya mulai berhenti membuat janji dan harapan yang berupa fisik atau besar. Bukannya ga ada ambisi, melainkan mencoba realistis sekaligus juga membuat prioritas. YES, YOU READ IT RIGHT!

Dan di usia yang baru ini — sejak beberapa hari yang lalu, harapan saya sederhana aja. Hidup sehat dan pas-pasan. –> Pas mau jalan-jalan, ada rejekinya. Pas mau beli sesuatu, ada duitnya. Pas mau begini-begitu, bisa dilakukan. 😆

Duh maap, ke-garing-an dan ke-jayus-an saya entah kenapa mulai memuncak lagi soalnya nih di kehidupan sehari-hari. Betul lho, saya termasuk orang yang ga bisa ngelucu. Kalopun ngelucu, ya garing atau jayus. Padahal kan katanya orang Sunda harusnya bisa ngelucu, tapi.. kaya’nya ga berlaku di saya. Atau jangan-jangan saya bukan orang Sunda. #yagitudeh

Intinya adalah… Puji syukur Alhamdulillah masih diberikan kesempatan, dan semoga tetap sehat sambil terus menjadi manusia yang lebih baik. AMIN.

Coba tebak berapa umur saya? — Ini kuis tanpa hadiah tapi yaa…

Coolpad Sky 3: Lengkap dan Melengkapi

Oktober 14, 2016 § 9 Komentar

Awal taun lalu, saya pernah ngepost kalo hape yang pernah nemenin saya cukup lama dan jalan ke sana-sini rusak. Aktivitas sempat terganggu, karena beberapa keperluan saya bisa dipenuhi oleh hape tersebut. Foto-foto, musik, internetan, sampai dengan catatan yang muncul di kepala. Alhamdulillah, pertengahan tahun istri tersayang ada rejeki lebih untuk beliin pengganti yang sepadan — secara fungsi sudah terpenuhi meski speknya beda. Tapi tetep, dalam hati bedoa khusyuk supaya suatu saat nanti punya rejeki lain, kali-kali dapet yang speknya setara juga. Kan kaya’ generasi langgas (millenials) lainnya yang ga cukup punya hape 1 aja. 😛

Fast forward sedikit, saya pun ketemu dengan Coolpad Sky 3. Hape yang di pasaran berharga Rp 2.399.000 ini menarik perhatian saya banget, apalagi beberapa speknya kayanya cocok sama keperluan saya: RAM 2GB, dual camera masing-masing 8MP, dan ukuran layar yang cukup gede, seperti yang dilansir Tabloid Pulsa. Terlebih ketika tau OS-nya yang udah Marshmallow dan secara fisik ramping pula. Udah deh, ngebet banget. Dan namanya rejeki ya, sampailah ke tangan saya. :mrgreen:

img_20161012_124318

Daily Companion. Originally posted on Instagram @billykoesoemadinata


foto di atas diambil menggunakan hape lain dan dipost di instagram saya menggunakan filter.

Udah sekitar seminggu lebih saya pake hape Coolpad Sky 3 ini — meski tanggal di foto di atas tanggal 11 Okt. Satu kata awal untuk hape ini adalah LENGKAP. Sesuai dengan speknya, hape ini melengkapi kebutuhan saya mulai dari foto-foto, internetan, musik, sampai dengan bikin catetan. Layarnya lebar, cukup buat jari-jari saya yang panjang dan gede untuk ngetap (ngetik) dengan nyaman. Meski begitu, tetep masuk ke dalam kantong saya, jaket maupun juga celana panjang.

img_20161011_094237

Fit for my pocket. Originally posted on instagram @billykoesoemadinata


foto diambil menggunakan kamera dslr

Selain nyaman untuk ngetik, saya belum ngalamin namanya ngelag pas lagi pake hape Coolpad Sky 3 ini. Mungkin karena masih baru, mungkin juga karena RAM-nya yang 2GB, mungkin juga karena prosesornya yang mumpuni, atau mungkin karena hapenya belom (dan mudah-mudahan ga bakal) saya installin banyak aplikasi. Manapun alasan aslinya, yang penting nyaman untuk digunakan — karena kalo udah nyaman, pasti bakal nempel terus bukan? :p

Meski begitu, saya sebagai pengguna hape sejak lama *halah*, pas awal-awal pake agak bingung juga karena ga ada kontainer untuk menu. Jadi langsung via desktop gitu. Usut punya usut, ternyata hape jaman sekarang rata-rata begitu sih ya. Jadi ya saya yang harus menyesuaikan. Pertama-tama agak bingung emang — ga biasa, tapi lama-lama kok ya rasanya lebih praktis. Tinggal buka kunci dan bisa langsung pake aplikasi yang dibutuhin. Lagipula, ada opsi folder untuk nampung aplikasi-aplikasi yang dibutuhin kalo emang berasa penuh banget layarnya atau kebanyakan page.

Salah satu fitur bawaan yang sekarang cukup bikin saya nyaman juga adalah “Theme”, “Rock Wallpaper”, dan “c” button yang bisa dipindah-pindah. Theme nyaman karena saya bisa pilih theme yang cocok buat Coolpad Sky 3 saya tanpa harus takut ga compatible — seperti kalo download terpisah di google playstore. Rock wallpaper juga bikin nyaman karena saya gampang buat ganti wallpaper hape tanpa harus buka folder image. Dan “c” button jelas bikin nyaman karena jadi shortcut buat beberapa task yang sebelumnya mungkin harus bikin saya pegang hape dengan 2 tangan — contohnya bikin skrinsut.

Secara fisik juga hape ini bisa bikin orang penasaran dan nanya lebih jauh. Ga sekali-dua kali rekan kerja maupun juga kerabat nanya: “Hape apaan tuh? Warnanya bagus. Pasti mahal, ya?”

img_20161006_204134

Perfect for tonight: frappe coffee & Coolpad Sky 3


foto diambil menggunakan kamera dslr

Tapi yang paling saya suka dan MELENGKAPI saya dari Coolpad Sky 3 ini adalah kameranya. Singkatnya udah tau kan kamera depan dan belakang masing-masing 8MP? Nah, ternyata ada fitur untuk beauty shot & juga gif maker. Mayan, kalo selfie-selfie bisa keliatan lebih cakep (dan lebih muda?). 😆

img_20161013_144415

Tadi pagi selagi ngantri lampu merah, sekali2 selfie. Mumpung ada fitur beauty di kamera depan #coolpadsky3. Difoto menggunakan coolpad sky 3 dari @coolpadindonesia. #coolforlife #coolpadindonesia | Originally posted on instagram @billykoesoemadinata


difoto menggunakan kamera depan Coolpad Sky 3

Kalo mau tau gimana hasil foto-foto dari kamera belakangnya dan foto-foto lain untuk Coolpad Sky 3 ini, silakan cek aja instagram saya. 🙂

Jadi, kalo buat saya sih Coolpad Sky 3 ini LENGKAP fiturnya dan juga MELENGKAPI kebutuhan saya. Mudah-mudahan awet. :mrgreen:

DISCLAIMER: Tanpa mengurangi kandungan isi, postingan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba ngeblog yang diselenggarakan oleh Coolpad kepada blogger terpilih. Informasi lebih lanjut bisa diliat di sini.

Pilkada

Oktober 6, 2016 § 1 Komentar

Ngomongin yang terkait politik dikit ya. Sekali-sekali. 🙂

Sebulan terakhir saya termasuk yang kurang nyaman dengan berita di sana-sini terkait politik, ga lain karena ada proses pilkada di wilayah yang jadi tempat tinggal saya saat ini. Diperjelas dikit: bukan ga nyaman dengan pilkada-nya, atau prosesnya, melainkan ga nyaman dengan berita serta sharing beritanya. Rasanya riuh bin berisik banget jalur komunikasi dan sosialisasi yang saya gunakan dengan berita terkait pilkada. Makanya, belakangan ini saya mengaktifkan lagi upaya untuk menyaring informasi.

Menyaring informasi yang saya lakukan bukan yang ribet atau dengan bantuan intelegensi pintar, cukup dengan memilih siapa/apa yang hendak saya baca/ikuti dan juga siapa/apa yang perlu saya share mengenai pandangan saya. Termasuk di blog ini. Karena blogpost ini menurut saya termasuk sarana saya untuk aspirasi terkait politik, tapi tidak langsung menjurus ke paham tertentu — setidaknya menurut saya.

Soal paham politik, azas, aliran, partai, sampai dengan kandidat mana yang saya dukung, orang-orang terdekat saya lebih tahu. Kalo mau nebak, silakan. Belum tentu saya jawab atau saya iyakan. 🙂 Tapi satu hal yang jelas adalah: (sepertinya) saya tidak termasuk golongan grass-root, bukan pula termasuk golongan aktif berpolitik dan bergolongan. Saya hanya berharap saya cukup disebut melek politik.

Anyway, karena judulnya udah kadung pilkada, maka sudah selazimnya saya bahas juga terkait itu. Dan itu berarti bukan melulu kandidat atau kampanyenya, melainkan juga proses dan harapan-harapan terkait. Untuk prosesnya sendiri, saya cukup senang dengan yang dilakukan oleh KPUD. Antara lain promosi mengenai kepastian penduduk terdaftar sebagai pemilih dilakukan dengan cara jemput bola — setidaknya itu yang saya rasakan di sekitar tempat tinggal saya. Harapannya tentu adalah ketika proses awalnya saja sudah aktif dan jemput bola, maka setelah kandidat terpilih nanti juga aktif dan jemput bola terkait hal-hal yang bisa diputuskan oleh pejabat kepala daerah.

Jika postingan ini terasa rumit, maka sudah jelas dan sesuai tujuannya. Karena politik itu memang rumit, dan ga semua orang mengerti. Saya yang sudah mulai belajar berpolitik dari SMP (pemilihan ketua OSIS) saja masih merasa rumit, apalagi yang baru mengikuti belakangan ini?

DISCLAIMER: Blogpost ini bukan bentuk dukungan terhadap salah satu bakal calon atau calon kepala daerah dan atau wakilnya. Bukan pula bentuk dukungan terhadap organisasi atau massa pendukungnya. 

Kenapa (Tidak) Nonton Film Indonesia?

September 13, 2016 § Tinggalkan komentar

Seingat saya, pertama kali menonton film Indonesia (di bioskop) adalah Saur Sepuh, diajak oleh (alm.) Ayah saya. Kalo ga salah, waktu itu di Blok A, Jakarta. Semasa kecil, film Saur Sepuh itu memukau banget. Apalagi ada adegan kolosal berupa perang di tanah terbuka yang melibatkan banyak orang. Belum lagi adu ajian antara para patih dan panglima. Pokoknya memukau, deh.

Kemudian ketika TV swasta mulai siaran lebih sering, seingat saya juga (pada masih kecil itu) ada satu lagi film Indonesia tayang di TV yang memukau yakni film Cut Nyak Dien. Di kemudian hari saya baru tau kalo film tersebut menang Piala Citra (dari FFI), dan pemeran Cut Nyak Dien adalah Christine Hakim. Dan juga baru tau kalo aslinya film itu adalah tayang di bioskop. Maklum, masih kecil ga tau apa bedanya film TV dan bioskop.

Film-film Indonesia lain yang saya tonton juga di kala masih kecil antara lain Wolter Monginsidi (pemerannya Roy Marten, nonton di TV), Warkop DKI (seringkali di TV), dan beberapa film Kabayan (kebanyakan juga nontonnya di TV). Salah satu film Kabayan yang paling saya ingat adalah Kabayan Saba Kota dan juga Kabayan dan Anak Jin. Dan betul, saya waktu itu ga tau ada film Catatan Si Boy atau yang lain-lain. Pilihan film Indonesia bagi saya pada saat masih kecil ga jauh dari Kabayan, Warkop DKI, atau film kepahlawanan.

Oiya, film soal G30S/PKI sih ga pernah saya nonton ya — untungnya.

Back to topic…

Apa kaitan postingan dengan judulnya adalah saya lagi pengen nemu alasan untuk menonton film Indonesia seperti kala saya kecil itu. Saya ingin terpukau dengan film-film Indonesia. Saya ingin menonton dengan rasa penasaran sekaligus berharap yang tinggi terhadap film tersebut. Ga boleh sih emang, karena bisa jadi kecewa. Tapi itu yang amat sangat saya cari terhadap film-film Indonesia. Saya ingin dibuat terkesima.

Sepertinya sulit untuk mewujudkan hal itu. Bukan karena film Indonesia-nya ga bermutu, tapi lebih karena saya-nya yang ‘keterlaluan’ — alias terlalu berharap. :mrgreen: Belum lagi masa tayang film Indonesia di bioskop lebih cepat ketimbang film non-Indonesia, juga udah setahun lebih saya amat-sangat-mengurangi menonton TV siaran stasiun Indonesia.

Anyways, hal ini bukan berarti saya ga nonton film Indonesia sama sekali, ya. AADC (yang pertama) saya sempat nonton di awal-awal tayangnya, bahkan sampe 2-3x — kebetulan saat itu saya masih SMA seperti setting filmnya. Film-film Shandy Aulia & Samuel Rizal juga saya tonton. Jelangkung dan sekuelnya juga. Rumah Dara, dan yang terbaru adalah film Garuda 19 di tahun lalu. Itu semua beberapa film Indonesia yang saya (sempat) tonton di bioskop. Lain-lainnya seperti Janji Joni, Gie, Ungu Violet, Kunti….. (duh saya ga berani untuk nulis lengkap) dan sekuelnya, sampai Biarkan Bintang Menari, sempat saya tonton di luar bioskop — kalo ga di komputer teman ya di TV.

Untuk film-film keluaran 5-6 tahun terakhir yang saya punya harapan cukup tinggi antara lain Habibie & Ainun (karena saya sudah baca bukunya), tapi kemudian…. #yagitudeh. Juga ada Di Bawah Lindungan Kabah, yang kemudian rada kecele (dan iya, saya pernah baca bukunya waktu sekolah dulu).  Selain itu ada film-film lain yang saya belum nonton sama sekali seperti Pendekar Tongkat Emas, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk — ini saya penasaran banget, Rudy Habibie (bukunya saya udah baca), Sabtu Bersama Bapak, dan terakhir adalah 3 Srikandi. Nope, ini bukan kode untuk minta undangan atau dikasih screening khusus. Karena biar gimanapun, saya hampir pasti ga bakal bisa nonton di bioskop — karena 1 dan lain hal, kecuali midnite.

Mudah-mudahan suatu ketika nanti saya bisa terkesima sama salah satu film Indonesia yang saya tonton di bioskop sebelum habis masa tayangnya.

Keganggu Jerawat

September 7, 2016 § Tinggalkan komentar

Pertama kali kenal jerawat, karena iklan TV. Dulu masih ga ngerti jerawat itu apaan, sampai kemudian ngalamin sendiri “terkena” jerawat di muka. Kalo ga salah sih pas SMP pertama kalinya. Dan rasanya emang annoying meski jerawatnya masih dalam kategori “biasa”.

Iya, jerawat biasa. Yang muncul di beberapa bagian muka antara lain jidat, pipi, dan hidung. Pernah juga muncul di deket-deket dagu, dan atau di atas bibir (tempat kumis). Tunggu 1-2 hari untuk mateng, kemudian bisa deh dipecahin dan atau pecah sendiri. Sakit? Jelas. Tapi lega. Soalnya annoying itu lhoo.. Duh.

Pas masih remaja dulu sekarang juga masih remaja sih, ga pernah tau kapan dan gimana kok bisa jerawatan. Paling bisa ditebak ya kalo keseringan main di luar dan atau keringetan sambil panas-debuan, pasti 2-3 hari kemudian jerawatan. Pake obat jerawat? Jelas pernah, tapi ga ampuh. Lebih ampuh kalo sering cuci muka — awal-awal masih rajin pake sabun pembersih muka, lama-lama cukup air biasa aja. Hemat. padahal pelit

Anyway, setelah beranjak (lebih) dewasa jerawat ternyata ga serta-merta berhenti. Kalo masih sering keluar rumah pas lagi panas-debu, masih aja kena jerawat. Apalagi makin sering naik motor, otomatis harus pinter-pinter buka-tutup kaca helm supaya ga jerawatan. Apalagi setelah nikah, jerawat kadang muncul juga dan bahkan dikaitkan dengan psikis-biologis. #ifyouknowwhatimean

Yang paling annoying dari berjerawat sekarang (saat sudah lebih dewasa) ini adalah posisi jerawat. Seringkali bukan lagi di muka (aja), melainkan juga di sekitar muka, yakni di telinga dan atau di deket telinga. Frankly, di dagu aja udah annoying banget, apalagi di telinga. Rasanya bikin sakit kepalaaaaaa banget. Apalagi jadi susah buat tidur miring — padahal kan enak tidur miring ya.

Sebelnya, udah jerawatan di muka bisa lama sembuhnya, nah di telinga ternyata lebih lama lagi sembuhnya. Kalo lupa lagi pengen garuk juga bisa bikin dug-dug-ser ga jelas jadinya. Dan ini lagi-lagi ga tau sih kenapa/gimana bisa jerawatan. Padahal tiap kali abis mandi pasti telinga (dan sekitarnya) diandukin sampe kering. Masa’ iya karena sering dengerin hal-hal yang kotor? #eh

Kalo kamu, pernah jerawatan kaya’ gimana (aja)?

Media Cetak, Satu dan Beberapa Hal..

April 7, 2016 § 10 Komentar

Seumur hidup sampai dengan sekarang, saya selalu kagum dengan media cetak, baik itu bentukannya (majalah, surat kabar/koran, tabloid, dan lain-lain), maupun juga orang-orang yang berada di belakangnya – wartawan, penulis, redaksi/editor, percetakan, sampai dengan distributor.

Pertama kali saya mengenal media cetak adalah masa-masa kecil, sebelum menginjak bangku sekolah — TK sekalipun, yakni dalam bentuk majalah. Majalah Bobo adalah bentukan media cetak yang pertama-tama saya kenal dan mengisi hari-hari saya. Betapa saya senang melihat gambar-gambar yang berada di halaman-halamannya, sampai dengan huruf-huruf besar yang membantu saya belajar membaca. Cinta pertama saya terhadap menulis dan membaca, adalah ya dari media cetak itu.

Berkembang dari majalah, kemudian bertambah album Donal Bebek mingguan/dwimingguan. Dulu orangtua saya berlangganan terhadap tukang koran yang rutin lewat rumah. Setiap kali ada edisi baru majalah dan album tersebut, selalu saya dan kakak saya berebut untuk membaca lebih dulu. Di saat senggang pun, hampir sering berebut untuk menikmati media tersebut.

Meski kemudian ada serial kartun yang legendaris (Saint Seiya, Doraemon yang masih ada sampai dengan sekarang, dan lain-lain) di saluran TV yang bukan TVRI — begitu saya menyebutnya ketika kecil dulu, tapi media cetak langganan tersebut tetap tak hilang dari keseharian. Bahkan menginjak sekolah SD, media cetak yang saya kenal bertambah kepada surat kabar/koran yang menjadi sumber untuk tugas-tugas kliping mengenai topik-topik tertentu. Dari situ kemudian saya mengenal istilah wartawan, jurnalis, sampai dengan reportase.

Menginjak usia remaja, perasaan saya terhadap media cetak tak berubah. Bahkan bertambah dengan majalah-majalah dan tabloid-tabloid feature selayaknya remaja lainnya. Majalah gaya hidup untuk cowok, majalah musik, sampai dengan tabloid olahraga menjadi konsumsi rutin. Jika tak bisa beli, bisa dengan meminjam pada teman. Maklum, uang saku saya tak cukup untuk membeli sendiri dengan rutin. Meski begitu, dari beragamnya media cetak yang saya konsumsi, saya jadi tahu banyak hal yang tak selalu saya dapatkan di TV.

Setelah selesai kuliah, passion saya untuk bekerja sempat menarik saya untuk kemudian bergabung ke dalam sebuah media cetak di sebuah grup besar. Bangga, jelas. Senang, sudah tentu. Cukup lama saya bergabung di sana — 3 tahun, sebelum kemudian beralih ke pekerjaan lain yang masih terkait dengan media.

Kini, mendengar dan membaca berita bahwa media cetak sudah mulai beranjak ke fase senjakala atau juga menghadapi kondisi yang cukup membuat ketar-ketir, jelas membuat saya sedih. Meski memang harus diakui, media cetak harus mau untuk berubah dengan pola konsumsi para pembacanya. Saya pribadi memang sudah lama sekali tidak mengonsumsi media cetak secara langsung, meski begitu saya masih senang untuk melihat betapa media cetak masih tersedia di pinggir-pinggir jalan dijajakan oleh para pengecer.

Sedikit banyak, saya pun berpikir apakah yang membuat saya menyenangi media cetak:

  1. Tulisan yang dimuat adalah tulisan yang paripurna. Hasil buah pemikiran dari jurnalis/reporter/wartawan dengan pemilihan kata (diksi) yang hati-hati, dengan tetap memperhatikan gaya bahasa khas individu yang sejalan dengan media yang menaunginya.
  2. Gambar yang dimuat adalah gambar yang terbaik. Baik dari sisi kualitas, momen, sampai dengan nilai berita. Saya cukup tahu bagaimana sulitnya untuk membuat dan memilih foto atau gambar terbaik untuk dimuat ke dalam sebuah media cetak, dengan memperhatikan kualitas percetakan, kemungkinan kesalahan cetak, sampai dengan pengelolaan media gambar tersebut.
  3. Topik atau berita yang disampaikan di media cetak adalah yang terkini dengan porsi yang berimbang. Narasumber peristiwa, narasumber ahli, sampai dengan narasumber pemerintahan menjadi sumber sebuah tulisan untuk menyampaikan berita. Memang, beberapa media cetak memiliki paham-paham tertentu — tapi lagi-lagi, bukankah itu sudah ada sejak jaman perjuangan dan kemerdekaan dulu?
  4. Bagian dari sejarah. Segala yang tercetak dan disampaikan melalui media cetak adalah bagian dan bukti dari sejarah. Tahapan kehidupan dan perkembangan jaman bisa ditemui dengan catatan yang telah disampaikan melalui media cetak. Meski memang harus menghadapi kenyataan bahwa hanya pemenang yang berhak menentukan sejarah.

Dari keempat poin tersebut, maka saya setuju jika media cetak harus berubah. Harus berevolusi menjadi sebuah produk yang lebih baik agar lebih tahan terhadap perkembangan jaman, terhadap pergerakan teknologi, terhadap hempasan ekonomi. Seperti yang terjadi di beberapa media cetak di grup besar, salah satunya seperti yang ditulis di sini.

Satu dan lain hal, saya benar-benar mengharapkan media cetak untuk bertahan. Bagaimanapun, media cetak telah melahirkan jurnalis-jurnalis kawakan yang kini mengadaptasi teknologi serta para penulis-penulis hebat. Dan saya akan menjadi bagian dari orang-orang yang bersedih jika kemudian media cetak berhenti untuk beredar…

Refleksi 2015

Desember 23, 2015 § 1 Komentar

Jelang pergantian tahun, banyak sekali yang nyebar harapan dan tujuan untuk tahun berikutnya. Disebut-sebut sebagai resolusi. Saya sendiri, pernah bikin resolusi di setiap pergantian tahun. Tapi lama-lama, kayanya capek juga karena dari tahun ke tahun harus bikin baru, dan atau ngulang hal yang sama kalo belum kesampean. Akhirnya, lama-lama saya pun mikir kayanya lebih cocok kalo nulis refleksi aja, nge-review setahun yang udah dijalanin ke belakang.

Dan kali ini, refleksi tahun 2015.

Singkat cerita, banyak kejadian di tahun ini. Ups and downs. Rugi dan untung. Highlight-nya kurang lebih seperti di bawah ini (repost sebagian dari Path):

  1. Istri hamil sejak awal tahun. Kehamilan lancar, sehat, aman, begitupun proses lahiran. Alhamdulillah.
  2. Anak kedua lahir. Lancar, selamat, sehat. Alhamdulillah. Otomatis jadi hot daddy. #selfproclaim #iyainaja #biarcepet
  3. Kesehatan g abegitu terganggu sampai harus dirawat di RS. Baik pribadi maupun orang terdekat. Alhamdulillah.
  4. Skripsi selesai setelah ketunda 1 semester. Alhamdulillah. Kalo sesuai jadwal, harusnya Q1 selesai, tapi ya Q3 pun tak apa. Masih di 2015 ini. 🙂
  5. Wisuda. Alhamdulillah. #menujugelarST berubah #sahjadiST.
  6. Gnote2 yang udah nemenin jalan2, kerja, dan hobi trus masuk taun ketiga, pecah layarnya. Mau ganti layar, sayang karena budgetnya hampir sama kaya beli baru — selain emang kudu nabung dulu. Alhamdulillah, istri beliin baru gantinya yang speknya cukup mendekati. I do love her so much karena ngertiin banget. ❤
  7. Kerjaan lancar. Few ups & downs yang terjadi udah biasa dan termasuk risiko bekerja, toh. Banyak belajar hal baru dan pendalaman materi terutama management: team, people, talent, project/jobs, schedule, sampai dengan analysis, dan ergonomi/UX/creative directing. Alhamdulillah masih bisa profesional, no heart feelings involved (mudah2an ya).
  8. Roadtrip pertama bareng keluarga kecil, PP Jakarta-Yogyakarta. Alhamdulillah lancar.
  9. Mudik lebaran ke Aceh. Alhamdulillah lancar, dan sempet kunjungi berbagai spot wisata di sana.
  10. Sepeda motor hilang. Otomatis, start November lalu PP kantor-rumah seringkali naik angkum. Alhamdulillah masih ketolong ojek online yang masih harga promo, jadi ga rugi waktu, dan masih masuk budget transportasi bulanan.

Itu poin-poin besarnya aja, karena masih banyak poin-poin kecil lainnya yang ga tercatat di sini, yang bisa jadi lupa kejadian persisnya, dan atau emang cukup buat saya pribadi aja. 🙂

Kalo kamu gimana refleksi tahun 2015-nya?

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Billy Koesoemadinata at i don't drink coffee but cappuccino.