#NekadTraveler: One Day Trip to Beijing

Agustus 28, 2013 § 15 Komentar

Pepatah bilang, “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China.” Buat saya pribadi, tampaknya pepatah tersebut lebih sesuai “Jalan-jalanlah (kalo perlu nekad) hingga ke negeri China.” Sebuah pengalaman pribadi yang mengesankan – kalo ga dibilang NEKAD, dan terjadi pada periode Desember 2007 hingga Januari 2008 lalu. :mrgreen:

Singkat cerita, awal Desember 2007 saya berangkat ke China karena penugasan dari tempat bekerja saya sebelumnya dari Balikpapan, Indonesia buat kerja. Jadi semacam TKI gitu deh.. *eh* Jam kerja dan hari kerja dijalani dengan beraktivitas di kantor operasional di Tanggu, Tianjin – sekitar 2-3 jam perjalanan dari Beijing. Tapi, kalo di luar jam kerja dan hari kerja? Tentu saja, melakukan eksplorasi (baca: jalan-jalan) di negeri tirai bambu tersebut, kebetulan emang menginap di Golden Sail Hotel, yang berlokasi di Tanggu, Tianjin juga. Minimal eksplorasinya di sekeliling Tanggu & TEDA, distrik di dalam Tianjin. Padahal, pada saat itu lagi winter alias musim dingin dan bersalju di sana.

Hotel tempat menginap di Tanggu, Tianjin

Hotel tempat menginap di Tanggu, Tianjin

Ga Dingin? Udah pasti dingin, dong. Dingin banget, malah. Udah pake jaket tebal khusus winter yang dibeli di sana, pake apparel panjang & celana panjang, ditambah lagi pake longjohn – daleman ngepres yang (katanya) bisa nahan panas supaya ga keluar tubuh, tetep aja dinginnya berasa sampe ke tulang. Apalagi saya berasal dari Indonesia, negeri tropis yang terbiasa dengan hangat (kalo ga disebut panas). Tapi ya, kondisi cuaca yang kadang bersalju, waktu siang yang pendek, dan suhu harian yang ga pernah lebih dari 10 derajat Celcius – dan bahkan sempet minus, ga menghalangi saya buat jalan-jalan. 🙂 Nekad lah, demi pengalaman sekali seumur hidup! *lebay dikit*

Cukup 2 minggu – kurang lebih 4 hari full yang efektif buat jalan-jalan, Tanggu-TEDA udah khatam dikelilingi –ke wilayah-wilayah utamanya macam pusat perbelanjaan, pusat olahraga, beberapa rumah orang Indonesia, hingga pusat bisnis. Padahal, ga semua orang China yang saya temui di sana fasih berbahasa Inggris – bahkan di kantor operasional, dan ga semua marka jalan ataupun tulisan reklame ditulis dalam huruf latin. Namanya udah niat, ya jelas lah jalan-jalan.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pencapaian paling keren selama jalan-jalan di Tanggu-TEDA? Jelas dong, dapetin restoran makanan halal, yang pengelolanya Muslim setelah ditunjukkin sama beberapa rekan kerja. Caranya bisa tau kalo itu halal? Pertama kali dateng, samperin ke area belakang kasir, kebetulan ada salah satu juru masaknya. Beliau ga bisa berbahasa Inggris sih, tapi begitu bilang kata “Muslim”, “halal”, dan juga peragaan gerakan solat, baru deh dijawab dengan anggukan. Trus, buat lebih yakin lagi, ngajakin salah satu rekan kerja dari Singapore yang fasih bahasa Inggris, Melayu, dan Chinese buat makan di situ. Rekan kerja itu ngobrol dan nanya-nanya dalam bahasa China ke crew dari restoran itu soal halal apa enggaknya makanan, dan dijawab IYA. Senengnya bukan main. Soalnya konon, jarang-jarang ada yang nanya soal halal apa engga-nya makanan. :mrgreen:

Makan malam di restoran Muslim di Tanggu, Tianjin

Makan malam di restoran Muslim di Tanggu, Tianjin

Cukup di situ aja? Engga dong. Saking penasarannya sama negeri tirai bambu, direncanakanlah sebuah perjalanan yang lebih nekad ketimbang sekadar jalan-jalan di sekitar kota Tanggu-TEDA doang. Yakni, jalan-jalan ke lain kota, yang lebih besar, dan lebih banyak objek buat dikunjunginya. Target utamanya? Beijing. Yep, Beijing yang terkenal dengan Forbidden City, Lapangan Tiananmen, dan lain-lain itu. Beijing, the City of Emperors *semena-mena bikin julukan nama kota*. 🙂

Pada sebuah hari Minggu, di awal bulan Januari 2008, saya berangkat dari hotel tempat menginap di kawasan Tanggu, Tianjin. Tadinya, perjalanan ke Beijing itu direncanain bareng dua-tiga rekan kerja. Tapi ya, mungkin udah suratan takdir *halah*, jadilah berangkat ke Beijing-nya SENDIRIAN. Yes, you get that right. Nekad jalan-jalan sendirian ke Beijing, buat one day trip.

Waktu itu, social media belom ngehits seperti sekarang. Dan, koneksi internet di hotel juga ga gitu bebas – kalo ga mau disebut dibatasin sih. Jadilah, perjalanan ke Beijing diawali dengan selembar kertas bertuliskan Beijing, Forbidden City, Train Station, Taxi, Tianjin, TEDA dalam huruf latin dan juga huruf China. Lembaran kertas itu hasil minta tolong sama resepsionis hotel tempat menginap sebelom berangkat. Jam 7 lewat berangkat dari lobby hotel naik taksi menuju stasiun kereta Tanggu.

tulisan china

Dagdigdug? Jelas. Perjalanan yang semula direncanain bertiga-berempat, nyatanya dilakuin sendirian. Solo travelling istilah kerennya. Takut nyasar? Jelas. Takut terasing? Tentu. Dan masih banyak lagi ketakutan-ketakutan lain yang dirasain selama perjalanan naik taksi dari hotel menuju stasiun kereta Tianjin. Tapi ya, kadang kalo udah di negeri asing, kemudian menyelami negeri itu dengan mengasingkan diri, harusnya sih jadi lebih mengenal negeri itu. Well, I said that based on this experience.

Sampe di stasiun kereta Tanggu (Tanggu Railway Station) sekitar jam 8 kurang, trus sedikit bengong karena ternyata di sana sepi. Pas ngirain belom buka dan udah mau minta balik lagi ke hotel, si sopir taksi yang nganterin justru bilang “Go. Go. They open.” Kaya’nya dia bisa baca raut muka saya yang kebingungan pengen nanya, tapi ga tau mau nanya ke siapa. 😆 Alhasil, nekadlah masuk ke stasiun kereta. Dan ternyata loketnya emang buka, cuman kebetulan aja itu hari Minggu dan musim dingin, jadilah keliatannya sepi.

Sampe di loket, sedikit amazed karena bersih banget. Percobaan pertama buat beli tiket kereta dengan nyebutin tujuan “Beijing”, berakhir gagal. Kemungkinan besar, penjaga loketnya ga nangkep maksud saya. Jadilah, kertas bertuliskan Beijing dalam huruf latin dan huruf China pun diunjukkin. Sambil angguk-angguk, dapetlah satu tiket single trip Tanggu ke Beijing. Dan syukurnya, walau penjaga loketnya sepertinya ga ngerti bahasa Inggris, tapi tulisan di tiketnya ada huruf latinnya! Yay, jadinya ga nyasar buat nyari peron, keretanya, dan gerbongnya. Ternyata, pada saat saya ke peron dan kemudian naik ke kereta, ternyata kereta itu UDAH MAU BERANGKAT! Pantesan aja stasiunnya sepi, batin saya.

Harga tiket single tripnya? Saya lupa-lupa ingat, tapi sepertinya di kisaran 20-30 RMB (Ren Min Bi, mata uang China yang kadang disebut juga Yuan) – kurs pada saat itu 1 RMB = Rp 1.300.

Keretanya sendiri ga spesial-spesial amat. Kalo di Indonesia, mungkin bisa dikategorikan sebagai kereta ekonomi jarak jauh. Yes, kursi keras, lantai logam, ga ada AC/penghangat, plus kaca jendela yang standar. Yang spesial dari kereta dan perjalanan Tianjin-Beijing? Petugas keretanya. Yang di gerbong saya sih, petugas kondektur dan juga petugas kebersihannya adalah perempuan. DAN SEMUANYA BERSERAGAM saat melakukan tugas mereka. Saya sempet minta foto, tapi dengan bahasa Inggris yang sederhana, mereka bilang bahwa hal itu tidak boleh walau untuk turis.

Sekitar 2-3 jam perjalanan dilalui dengan kedinginan – walau ga membeku. Tapi, begitu keliatan beberapa gedung dan juga instalasi kereta yang begitu ramai, perasaan saya mulai bersemangat! Hasil nanya penumpang segerbong yang kursinya berdekatan, saya jadi tau kalo sebentar lagi sampe di Beijing.

Sampe di stasiun kereta Beijing, jam udah nunjukin jam 10:30an. Udah cukup siang dan matahari udah naik, tapi tetep aja dingin. Hal pertama yang dilakukan begitu keluar dari gerbong dan peron sebelom keluar stasiun kereta? Cari peta. Di salah satu eskalator naik dari peron, dapetlah peta kota Beijing yang ada tulisan China dan latinnya dalam bahasa Inggris. Setelahnya? Cari tempat makan! LAPER CUY! Kedai fastfood jadi pilihan utama.

Setelah makan di kedai fastfood terdekat dan sambil liat-liat situasi, naiklah taksi menuju Forbidden City, tempat pertama yang dituju. Forbidden City ini, dulunya jadi komplek kediaman kaisar China. Kalo di Indonesia, mungkin bisa disebut sebagai Keraton.

Sesampainya di belokan deket Forbidden City, rasanya lemes. Bukan lemes ga ada tenaga, melainkan lemes karena takjub dan juga ngerasain “AKHIRNYA!” :mrgreen: Biasanya “cuman” bisa liat Forbidden City dari film-film kung fu atau film Mandarin, sementara pada saat itu bisa langsung liat dengan mata sendiri. Mau masuk pula! Yay!

Gerbang Masuk Forbidden City - Imperial Palace

Gerbang Masuk Forbidden City – Imperial Palace

Sambil berjalan di trotoar yang lebar banget – pokoknya asik deh buat pedestrian, mendekatlah ke pintu gerbang utama. Foto Mao Tse Dong – pemimpin revolusi China terlihat jelas. Walau berusaha sebisa mungkin buat ga keliatan seperti turis (yang kebingungan), tetep aja ada gitu yang nyamperin dan nawarin jasa guide Forbidden City begitu masuk ke gerbang utama. Pengen sih dipandu, apalagi bahasa Inggris dari yang nawarin juga fasih, tapi… karena budget terbatas – dan takut harus bayar mahal guide itu, jadinya nolak deh.

Dugaan pertama saya, begitu masuk ke dalam gerbang utama, bakal langsung keliatan seperti apa bangunan tempat tinggal kaisar China. Nyatanya, dugaan saya meleset! Hampir sama seperti kompleks Keraton Yogyakarta, ternyata Forbidden City punya tahapan-tahapan sampai bisa masuk ke Istana Utama – Main Palace. Dan, gerbang utama itu cuman satu dari sekitar 7 gerbang yang harus dilewati!

Karena udah kadung masuk gerbang utama, jadilah jalan lebih ke dalam lagi. Niatnya tentu saja ke Main Palace. Tapi, setelah ngelewatin 3 gerbang, akhirnya mengurungkan niat. Soalnya buat masuk ke Main Palace itu harus bayar tiket. Pengen sih beli dan masuk, tapi.. lagi-lagi, budget terbatas, jadilah ga beli tiketnya. Takut ga bisa pulang, soalnya. 😆

Liat sana-sini di dalam 3 gerbang komplek, lama-lama bikin capek juga. Akhirnya ke deket gerbang pertama, dan liat-liat kios cenderamata. Ada beberapa gelang giok bagus dan juga hiasan giok. Nanya harganya, ternyata mulai dari 5 RMB. Cara taunya? As before, nanya pake bahasa Inggris dan dijawab dengan ngeliatin angka pake sejumlah jari di tangan, atau unjukin kalkulator. :mrgreen:

Selesai beli beberapa gelang giok buat dibawa pulang kembali ke Indonesia, saya pun menuju keluar dari kompleks Forbidden City. Sambil jalan kaki agak cepat karena ternyata udah jam 1 siang lewat, trus mampir bentar di lapangan Tiananamen yang legendaris itu. Di situ ada Mauseloum Mao Tse Dong, dan juga berbagai monumen penting bagi sejarah RRC.

Salah satu sudut Lapangan Tiananmen

Salah satu sudut Lapangan Tiananmen

Kelar di situ, langsung cari stasiun subway terdekat. Naiklah subway yang jurusan ke Temple of Heaven. Pede aja naik subway, soalnya beda sama Tanggu-Tianjin, stasiun subway atau keretanya ada huruf latin dan tulisan bahasa Inggris juga. Tiketnya? Murah. Waktu itu sekitar 2,5-3,5 RMB sekali jalan. Bisa sih sebenernya buat naik bus dalam kota, yang harga tiketnya lebih murah – 2 RMB, tapi ya, ga pede soalnya takut ga ada ketemu orang yang bisa berbahasa Inggris, secara tulisan di bisnya tulisan China gitu.

Setelah sampe di stasiun subway terdekat sama Temple of Heaven, naik ke atas dan masuk Temple of Heaven lalu beli tiket. Pas masuk ke dalam, adem rasanya ngeliat pemandangan lingkungan yang dijaga baik. Di salah satu sisi komplek, bahkan ada yang lagi main dansa dan musik tradisional China. Foto-foto bentar, lalu menuju Temple of Heaven itu deh. BAGUS banget tempatnya.

Ga berasa, ternyata setelah keliling komplek Temple of Heaven, waktu udah nunjukin jam 3.30an sore. Sekitar sejam setengah lagi, matahari bakal tenggelam. Alhasil, langsung balik lagi naik subway menuju Beijing Railway Station.

Hampir jam 4 sampailah di Beijing Railway Station. Di situ, langsung beli tiket menuju Tianjin Railway Station – dan bukannya Tanggu Railway Station, karena rute menuju ke sana udah ga ada yang sore ataupun malam. Ya gapapalah ya, masih di satu kota, dan nanti bisa naik taksi pula dari Tianjin ke Tanggu. Keretanya juga agak bagusan, beda sama yang pagi tadi. Harga tiketnya sekitar 50-60 RMB.

Kelar beli tiket, menuju peron sambil desek-desekan. Iya, rame banget. Paspor, dompet, dan uang tunai dijaga baik-baik supaya ga kena copet. Sambil ngantri menuju peron gitu, ketemu deh satu pemuda China yang bisa bahasa Inggris. Seneng deh, jadi ada yang bisa ditanya-tanya dan jawab. :mrgreen: Kebetulan juga, pemuda itu bakal naik kereta yang sama dengan saya ke Tianjin. HORE!

Nunggu kereta dari Beijing menuju Tianjin, ngobrol-ngobrollah sama pemuda itu. Dia ternyata kerja di salah satu  perusahaan klien dari kantor operasional yang saya kunjungi di Tanggu, makanya cukup fasih berbahasa Inggris. Ngobrolnya bukan yang banyak dan sering ya, tapi ada jeda-jeda gitu. Gapapa deh, yang penting ada temen ngobrol. 🙂

Sekitar jam 6an sore – yang udah gelap karena matahari udah tenggelam, kereta pun berangkat dari Beijing Railway Station. Perjalanan sekitar 2 jam berasa lamaaaaa banget soalnya di gerbong kereta itu berdiri. Emang sih, keretanya setara eksekutif, tapi ya saking penuhnya, jadi ga berasa eksekutif. Tau naik kereta kalo pas musim mudik di Indonesia? Nah, kurang lebih sama. Ada yang berdiri di lorong, duduk-duduk di tangan kursi, bersandar di lorong, duduk di lantai, dan lain-lain. POKOKNYA SESAK banget. Demi sampai kembali ke hotel dan beristirahat, nekad aja deh lanjut terus.

Perjalanan yang ditempuh dari Beijing menuju Tianjin sekitar sejam. Tapi, karena penuh banget, rasanya dua atau tiga jam. 😦 Sesampainya di Tianjin Railway Station, langsung aja keluar stasiun dan naik ke taksi. Berbekal kartu nama hotel sebagai penunjuk alamat, diantarlah dengan selamat ke hotel lalu istirahat. Fiuh.. Sebuah perjalanan nekad di negeri asing. Untungnya selamat.. :mrgreen:

Eiya, sekarang pun lagi ada yang ngelakuin perjalanan nekad lho. Yaitu, duo NEKAD Traveler – @pergijauh dan @nilatanzil menuju pulau Komodo. Kalo mau tau info lengkapnya bisa diliat di http://telkomsel.com/nekadtraveler . Bisa support mereka juga lho di website itu. Yang penasaran senekad apa mereka? Cek juga videonya di tsel.me/TVCNekadTraveler atau liat di bawah ini,

Nah, kalo kamu pernah ngelakuin traveling senekad apa?

Tanpa mengurangi nilai dan maksud dari isi, blogpost ini tengah diikutsertakan dalam NEKAD blog competition by Telkomsel Flash.

get a blog will ya!

Mei 3, 2011 § 22 Komentar

Get a blog will ya!

Saya kurang tau persis nulisnya gimana, tapi kurang lebih emang seperti itu bukannya kalo kita pengen nyuruh seseorang buat ngelakuin sesuatu, tapi dalam bahasa Inggris, dan sifatnya suruhan tersebut semacam “paksaan” gitu deh..

Bukan tanpa alasan saya nulis hal itu, dan juga bukan tanpa alasan kenapa “suruhan” itu jadi judul postingan saya kali ini. Saya gatel aja sih sebenernya, sama perilaku beberapa orang yang saking aktifnya di dunia daring (online) sampe-sampe bikin postingan bersambung berpanjang-panjang. Iya, yang saya bicarain ini adalah kultwit atau “kuliah di twitter” yang belakangan ini makin menjamur karena kegiatan berbagai orang.

Dulu, saya “cuma” nemuin beberapa orang (baca: akun twitter) yang bikin kultwit berpanjang-panjang. Biasanya sih, pas lagi mau ngebahas sesuatu hal yang diketahui dan pengen dishare ke orang laen, secara cepat pula. Pas lagi ada event atau kejadian tertentu aja tu kultwit terjadi. Ada juga sebagian yang emang dijadwal gitu, jadi pas hari dan jam tertentu ada kultwit yang bahas soal tertentu. Tapi, belakangan ini perilaku kultwit itu makin menjamur!

Ga liat waktu, ga liat hari, ga liat event apa, tiba2 aja kultwit sampe berpuluh2 twit dengan periode waktu yang kontinyu. Kalo misal cerita soal kejadian pribadi, atau personal daily activity, ya saya mungkin bisa maklum karena bisa jadi yang punya akun tersebut pengen bagi2 cerita dan pengalaman. Tapi kalo sampe ngebagi pengetahuan — yang sebenernya cukup umum, melalui kultwit sampe berpanjang-panjang segala? OMG! Mengganggu!

Kemaren – Senin 2 Mei 2011 tuh, sekitar jam 3an sore, ada 3 akun twitter yang secara “sukacita” bikin kultwit. Entah karena teman-teman yang saya follow lagi kurang aktif, atau emang 3 akun twitter yang kultwit itu sangat aktif, jadilah timeline twitter saya banjir! Sempet saya kira akun twitter saya lagi bermasalah gitu, eh tapi ga koq. Dan, karena saya pikir ganggu kestabilan timeline saya, jadilah ada yang saya unfollow. Iya, saya unfollow. Ga pake ngasitau ke yang bersangkutan pula. Buat apa? Toh, itu hak saya koq buat unfollow. Setidaknya sementara aja sih, sampe itu kultwit yang banjir kelar.

Sekitar 1 jam kemudian, saya iseng ngecek profil yang bersangkutan, dan ternyata masih aja kultwit lho! Dalam hati, saya kagum setengah mati. Tapi saya jadinya males buat follow lagi, karena kultwit yang masih jalan itu pastinya bakal kejadian lagi suatu saat nanti dan bakal banjirin timeline saya.

Saking gatelnya, saya pun sampe ngetwit begini,

Dan, langsung direspon dengan Retweet, mention, sampe ada yang bilang kalo bikin kultwit itu buat naekin skor klout — buat bikin profil yang makin oke, dan bisa dianggap sebagai influencer. Yah, kurang lebih gitu deh maksudnya skor klout itu.

Tapi tetep aja sih, menurut saya sia-sia aja gitu kalo udah capek2 bikin kultwit cuma buat naekin skor klout. Kenapa? Karena informasi yang dibikin di kultwit itu nantinya akan hilang karena ga semua twit di twitter disimpen. Database twitter kan terbatas, lagipula, kalopun masih disimpen pasti bakal susah dicari udah pernah ngetwit apa aja. Mending ditulis aja dalam bentuk blog, udah jelas2 longlasting, dan bisa unjukin kemampuan secara tertulis atau tercetak malah.

Dan, kenapa saya ngetwit begitu ga pake mention? Sengaja.. Karena saya tau yang bikin kultwit juga ngefollow saya, dan juga biar bisa dibaca juga sama followers saya yang lainnya. Lagipula, saya ga mau ngemention akun yang dimaksud, biar ga ada adu debat berkepanjangan. Lah saya ngetwit soal “get a blog will ya” aja udah banyak yang mention dan ngedebat.. 😆

Intinya gini, saya ga ngelarang ya buat kultwit. Silakan saja. Tapi, akan lebih baik kalo itu kultwit dibikin postingan blog karena lebih tahan lama. Ga usah mikirin faktor skor dan skala deh.. Yang penting itu gimana kita bisa dikenal dengan lebih lama.. 🙂 No offense yaa.. 🙂

*mendadak keingetan blog post request yang belom dibikin* :mrgreen:

blogger ?

Juli 15, 2010 § 21 Komentar

ga berasa umur blog yang ini udah hampir 2 taun. tepatnya 31 juli nanti sih, blog ini bakal berusia 2 taun tepat ~ kalo dihitung dari postingan pertama kali. dan, berarti official sudah saya jadi blogger selama 2 taun. meski bisa jadi non-officialnya udah sejak bertaun-taun sebelumnya.. 😀

blogger. berkata dasar blog dan imbuhan -er yang menandakan pelaku. padanan kata dalam bahasa Indonesia disebut sebagai narablog. sebuah kata yang juga dipake sebagai nama layanan penyedia blog, yang dimiliki sebagian sahamnya oleh google — blogger.com.

dulu2 saya ga pernah kepikir kalo saya bisa jadi seorang blogger. iyah, blog aja dulu ga ngerti apaan. masih inget dulu pertama kali punya blog di friendster – yang sekarang pun sudah lupa namanya. trus, berpindah ke blogger.com (blogspot.com) dan sempat mengalami masa-masa sulit dengan diflag karena bermuatan isu2 politik yang kurang disenangi oleh beberapa orang. lalu berpindah ke wordpress, dan sempat mengalami naik-turun, sampe sempet ‘ditutup’ sementara oleh Matt dkk, karena menyalahi TOS. apapun, semuanya menjadikan saya sebagai seorang blogger seperti sekarang ini.

jadi blogger buat saya sekarang ini sangat-sangat berguna. kenapa? karena saya bisa melatih untuk menuangkan hampir segalanya ke dalam bentuk tulisan, mempublikasikan, dan mendapatkan respon, serta menghadapi respon tersebut. selain itu, jadi blogger juga berguna untuk lebih membuat diri saya dikenal oleh orang banyak, melalui tulisan, foto2 yang saya pasang, serta hasil crawl dari mesin pencari (google).

tapi, satu hal yang paling penting dari jadi blogger buat saya, adalah saya bisa mendapatkan hal2 baru yang sebelumnya belum tentu bisa saya bayangkan. mulai dari kenalan baru, teman, sahabat, perjalanan, hingga barang dan beberapa hadiah. tentunya hal-hal tersebut didapatkan dari postingan yang saya buat di blog, sebagai seorang blogger.

oleh karena itulah saya bangga menjadi seorang blogger. karena dengan menjadi blogger, saya bisa menjadi seperti ini. membuat postingan, berinteraksi dengan banyak orang, dan masih banyak lagi. meski, buat beberapa orang, kata2 blogger bisa jadi membuat dahi mengernyit.

blogger ?

iya, blogger. terus kenapa? memang sih, di Indonesia belom ada blogger murni yang hidupnya dari ngeblog terus2an. tapi (hei!) jadi blogger itu bisa jadi penyeimbang kehidupan lho.. *sok bijak* dan, ngeblog itu bisa nambah2 penghidupan.. *eh* 😛

yuk ah.. ngeblog lagi..

kamu ngeblog dari kapan?

Kontes gantibaju: Antara Desain dan De-Sign

April 20, 2010 § 44 Komentar

DISCLAIMER: postingan berikut ini terinspirasi dari beberapa hal yang terjadi belakangan ini di ranah daring (online). Baik yang sifatnya bersinggungan langsung dengan saya, ataupun juga tidak secara langsung. Yang pasti, dampaknya cukup mengena pada beberapa orang (kalau tak disebutkan semuanya), termasuk saya pribadi.

Social media kini makin menjamur penggunaannya di tengah masyarakat. Sebut saja, facebook, twitter, plurk, hingga koprol. Dan, untuk semakin menyemarakkan penggunaan social media, tak jarang berbagai kontes dilaksanakan melalui social media tersebut. Kerjasama secara resmi atau tidak, kontes selalu menyedot banyak orang untuk mengikutinya. Tak ayal, merek yang berada di belakang kontes akan terkerek naik popularitasnya.

Langkah publikasi kontes di social media memang membuat banyak orang merasa diuntungkan karena telah menjadi pengguna di social media tersebut. Baru ataupun lama, setiap pengguna tentunya mendapatkan informasi yang lebih aktual dan juga tepat di social media tersebut. Apalagi jika kemudian bisa mengikuti kontes tersebut, dan mendapatkan hadiah. Wah.. sudah pasti pengguna pun menjadi semakin loyal terhadap social media itu.

Pada praktiknya, keuntungan dari kontes memang terjadi. Bahkan terkadang efeknya bisa hingga berkali-kali lipat. Tapi, layaknya dua sisi mata uang, kontes pun bisa memberikan dampak yang kurang baik. Baik itu bagi social media, ataupun bagi merek (brand) yang melaksanakan kontes itu. Apa sebab? Oh, banyak hal tentu. Tapi merujuk pada kontes yang baru saja berakhir di sebuah social media, saya koq ya jadi ‘gatel’ untuk mengomentarinya melalui postingan ini. « Read the rest of this entry »

eksis = bakat ngartis?

November 17, 2009 § 33 Komentar

ternyata oh ternyata, jadi seorang warga dunia maya yang cukup aktif itu bener-bener punya sisi baik dan buruk. bagaikan pisau yang bermata dua, aktif di dunia maya bener-bener nguntungin sekaligus juga bisa ngerugiin.

loh? emang kenapa?

hmm.. karena dengan aktif dunia maya alias eksis, secara ga langsung berarti kita bakat ngartis. hihi…

oke, STOP dulu sekian pertanyaan2 keheranan dan juga keterkejutan yang tiba2 muncul itu. baca yang lengkap postingan ini, dan pertanyaan2 itu bakalan kejawab bin ketawa-ketiwi ~ mudah2an.. 😛

« Read the rest of this entry »

blog action day 2008

September 26, 2008 § Tinggalkan komentar

Blog Action Day 2008

Blog Action Day 2008

buat beberapa orang, mungkin kata2 ‘blog action day’ punya makna tersendiri. yeah, blog action day – satu hari di mana banyak orang ngeblogs bareng dan bikin postingan dalam satu tema. satu hari yang cukup berarti, dan bikin perubahan. one day to change the  conversation – itu slogannya, kalo ga salah.

taun ini, tema untuk blog action day adalah soal poverty, alias kemiskinan. ga sembarangan tema poverty itu dipilih, coz belakangan ini emang banyak banget orang2 yang miskin, dan makin miskin. kenapa koq bisa? karena dunia – meski lagi demam globalisasi, tapi sebenernya ada kaum2 kecil yang termarginalkan – tersingkirkan. kaum yang ga bisa nikmatin globalisasi. kaum yang miskin, dan makin miskin.

miskin di sini, pastinya udah jelas miskin dalam materi. miskin yang susah banget buat nyukupin sandang-pangan-(apalagi) papan. miskin yang bener2 bikin pusing tujuh keliling buat sekedar hidup sehari-hari. miskin, yang suka bikin kita miris buat sekedar ngeliat mereka yang miskin. miskin yang bikin mereka yang miskin & makin miskin, suka ngiri sama orang yang ga miskin. miskin yang bikin orang misking & makin miskin, kadang berpikiran berbuat gila, dan ngelakuin tindakan kriminal.

udah saatnya memang, poverty alias kemiskinan diberantas. ga musti ilang – karena itu bakalan susah banget buat dilakuin,, cuman.. dibikin berkurang, dan makin berkurang aja. jangan lagi ada kata2 miskin dan poverty. yang ada, cuman kata2 orang berkecukupan. well-finance, atau well-manage. itulah makanya, semangat buat ngerubah percakapan dunia diperlukan. semangat buat ngubah cara pandang dunia tentang kemiskinan.

jangan tunda. kalo emang niat buat ngebantu ngilangin kemiskinan, gabung aja. di blogs ini ada beberapa link yang nyambung ke blogactionday.org. gabung, dan bersama kita ubah percakapan dunia. together, we change the conversation of the world about poverty.

log on to http://blogactionday.org

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with blog at i don't drink coffee but cappuccino.