Kenapa (Tidak) Nonton Film Indonesia?

September 13, 2016 § Tinggalkan komentar

Seingat saya, pertama kali menonton film Indonesia (di bioskop) adalah Saur Sepuh, diajak oleh (alm.) Ayah saya. Kalo ga salah, waktu itu di Blok A, Jakarta. Semasa kecil, film Saur Sepuh itu memukau banget. Apalagi ada adegan kolosal berupa perang di tanah terbuka yang melibatkan banyak orang. Belum lagi adu ajian antara para patih dan panglima. Pokoknya memukau, deh.

Kemudian ketika TV swasta mulai siaran lebih sering, seingat saya juga (pada masih kecil itu) ada satu lagi film Indonesia tayang di TV yang memukau yakni film Cut Nyak Dien. Di kemudian hari saya baru tau kalo film tersebut menang Piala Citra (dari FFI), dan pemeran Cut Nyak Dien adalah Christine Hakim. Dan juga baru tau kalo aslinya film itu adalah tayang di bioskop. Maklum, masih kecil ga tau apa bedanya film TV dan bioskop.

Film-film Indonesia lain yang saya tonton juga di kala masih kecil antara lain Wolter Monginsidi (pemerannya Roy Marten, nonton di TV), Warkop DKI (seringkali di TV), dan beberapa film Kabayan (kebanyakan juga nontonnya di TV). Salah satu film Kabayan yang paling saya ingat adalah Kabayan Saba Kota dan juga Kabayan dan Anak Jin. Dan betul, saya waktu itu ga tau ada film Catatan Si Boy atau yang lain-lain. Pilihan film Indonesia bagi saya pada saat masih kecil ga jauh dari Kabayan, Warkop DKI, atau film kepahlawanan.

Oiya, film soal G30S/PKI sih ga pernah saya nonton ya — untungnya.

Back to topic…

Apa kaitan postingan dengan judulnya adalah saya lagi pengen nemu alasan untuk menonton film Indonesia seperti kala saya kecil itu. Saya ingin terpukau dengan film-film Indonesia. Saya ingin menonton dengan rasa penasaran sekaligus berharap yang tinggi terhadap film tersebut. Ga boleh sih emang, karena bisa jadi kecewa. Tapi itu yang amat sangat saya cari terhadap film-film Indonesia. Saya ingin dibuat terkesima.

Sepertinya sulit untuk mewujudkan hal itu. Bukan karena film Indonesia-nya ga bermutu, tapi lebih karena saya-nya yang ‘keterlaluan’ — alias terlalu berharap. :mrgreen: Belum lagi masa tayang film Indonesia di bioskop lebih cepat ketimbang film non-Indonesia, juga udah setahun lebih saya amat-sangat-mengurangi menonton TV siaran stasiun Indonesia.

Anyways, hal ini bukan berarti saya ga nonton film Indonesia sama sekali, ya. AADC (yang pertama) saya sempat nonton di awal-awal tayangnya, bahkan sampe 2-3x — kebetulan saat itu saya masih SMA seperti setting filmnya. Film-film Shandy Aulia & Samuel Rizal juga saya tonton. Jelangkung dan sekuelnya juga. Rumah Dara, dan yang terbaru adalah film Garuda 19 di tahun lalu. Itu semua beberapa film Indonesia yang saya (sempat) tonton di bioskop. Lain-lainnya seperti Janji Joni, Gie, Ungu Violet, Kunti….. (duh saya ga berani untuk nulis lengkap) dan sekuelnya, sampai Biarkan Bintang Menari, sempat saya tonton di luar bioskop — kalo ga di komputer teman ya di TV.

Untuk film-film keluaran 5-6 tahun terakhir yang saya punya harapan cukup tinggi antara lain Habibie & Ainun (karena saya sudah baca bukunya), tapi kemudian…. #yagitudeh. Juga ada Di Bawah Lindungan Kabah, yang kemudian rada kecele (dan iya, saya pernah baca bukunya waktu sekolah dulu).  Selain itu ada film-film lain yang saya belum nonton sama sekali seperti Pendekar Tongkat Emas, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk — ini saya penasaran banget, Rudy Habibie (bukunya saya udah baca), Sabtu Bersama Bapak, dan terakhir adalah 3 Srikandi. Nope, ini bukan kode untuk minta undangan atau dikasih screening khusus. Karena biar gimanapun, saya hampir pasti ga bakal bisa nonton di bioskop — karena 1 dan lain hal, kecuali midnite.

Mudah-mudahan suatu ketika nanti saya bisa terkesima sama salah satu film Indonesia yang saya tonton di bioskop sebelum habis masa tayangnya.

Nonton Film di Mana?

September 10, 2015 § 3 Komentar

Bioskop? TV berbayar? TV FTA? Pesawat? Atau di gadget?

Terakhir kali saya nonton film di bioskop, kaya’nya udah lama banget. Bukan karena ga minat, tapi ya emang karena ga sempet aja. Begitu ada waktu untuk sempet, filmnya udah keburu ga diputer di bioskop atau filmnya yang diputer bukan yang diminati. Jadinya, belakangan — atau tepatnya setaun terakhir saya lebih sering nonton film-film Hollywood di TV berbayar (langganan). Karena selain siklusnya yang cukup cepet — taun ini rilis, taun depan udah tayang, juga karena bisa nonton lebih santai sih di rumah. Walau gitu, saya tetep lebih prefer nonton di bioskop sih.

Nonton di bioskop itu lebih ke pengalamannya. Bukan sekadar film yang ditonton aja. Pengalaman nonton di sebuah teater/studio dengan dukungan suara yang keren punya. Belum lagi kalo nontonnya film 3D atau 4D, pasti lebih seru kan pengalamannya. Cuman ya gitu, nonton di bioskop itu susah waktunya.

Nonton film di TV FTA udah jarang banget saya lakuin. Selain karena udah ada TV berbayar itu, juga karena film-film di TV FTA seringkali pengulangan dalam waktu dekat. Contoh: film populer A di bulan 1, eh.. di bulan ketiga diputer lagi. Ya terlepas dari resource di stasiun TV itu yang emang belom ada tambahan, juga bisa jadi karena memang di masyarakat luas film tersebut masih populer.

Salah satu pengalaman unik yang kadang saya dapetin adalah nonton film di pesawat. Periode 2013 lalu sampai dengan 2014 awal, saya cukup sering naik pesawat dengan durasi waktu yang cukup lama — jaraknya juga jauh. Sekitar 5-8 jam perjalanan. Alhasil, di pesawat ya kalo ga tidur, jadinya nonton film deh. Khusus tahun ini, saat kemarin mudik dengan pesawat sekitar 2 jam perjalanan, sempat nonton film “Stand By Me” (Doraemon) yang udah tayang beberapa waktu lalu di bioskop, dan memang kok filmnya bagus meski di luar alur dari serial Doraemon. Entah ini termasuk alternate universe atau bukan. :mrgreen:

Nah, kalo kamu seringnya nonton film di mana?

Penghargaan Film

Januari 14, 2015 § 4 Komentar

The Oscar — from Shutterstock

Ngikutin atau engga, awal taun biasanya selalu rame dengan yang namanya penghargaan film — khususnya dari Hollywood. Ga lain ga bukan, ya Golden Globe dan Academy Awards (Oscar). Personally, saya ga gitu ngikutin sampe detail, karena saya cukup ngikutin di permukaan aja — Oh, ada awardingnya, trus penasaran aja yang menang siapa aja.

Mulanya, saya berpendapat film (serial, TV, atau layar lebar) yang menang di penghargaan itu pasti yang bagus dari sisi produksi dan juga komersil. Turns out, ga semuanya begitu. Ada kalanya filmnya sukses secara komersil, tapi ga menang penghargaan. Ada juga yang menang banyak penghargaan, tapi ga begitu sukses secara komersil — tapi minimal bisa balik modal dan tutup produksi. Contohnya apa ya? Banyak deh kayanya — sayangnya saya ga hapal karena saya ga gitu merhatiin detail soal film (keseluruhan). *ga bakat jadi pemerhati film nih* 😆

Walau begitu, ada juga kok film-film yang sukses secara komersil dan masih masuk nominasi penghargaan di posisi terhormat. Contohlah Inception dan juga Crouching Tiger Hidden Dragon. — Yes, kalo yang ini saya inget. 😛

Oiya, sedikit lompat-lompat, saking ga bakatnya saya jadi pemerhati film, saya ga hapal lho yang menang Golden Globe kemarin siapa/apa aja. Bahkan, aktor-aktris yang film-filmnya jadi favorit saya sekalipun, saya ga hapal apa udah pernah menang penghargaan tersebut atau engga. Palingan cuma Russell Crowe yang saya tau pernah menang Academy Award (Oscar) karena film Gladiator dan A Beautiful Mind. *yep, keduanya film favorit saya dari banyak lainnya*

Anyway, back to topic soal penghargaan film, saya kadang penasaran (banget) kenapa kok film produksi Indonesia (atau menceritakan soal Indonesia) belom pernah menang di penghargaan film tersebut? CMIIW yaaa..

Apa mungkin karena kualitasnya beda? Beda objektif? Beda juri? Atau kenapa? Pertanyaan ini karena saya awam aja sih, bukan berarti saya nuduh atau mau memancing kontroversi. *halah*

Menurut kamu kenapa film Indonesia (produksi ataupun cerita Indonesia) belom pernah menang di Golden Globe/Academy Award?

NB: foto dari shutterstock, saya comot buat tampil aja dengan kredit (watermark) yang masih jelas terlihat.

Real Steel: Kemauan yang Keras

Juli 28, 2012 § 18 Komentar

Harusnya saya nonton film Real Steel ini saat masih tayang di bioskop, tapi ya.. karena satu dan lain hal, akhirnya ga sempat saya nonton di bioskop sampai masa tayangnya habis. Ujung-ujungnya, cari DVD, dan nontonlah di rumah.

Memang, film ini bagus… banget! 😄

Sebagai sebuah film yang “dipenuhi” dengan robot, film ini menawarkan cerita yang kuat. Cerita mengenai hubungan ayah-anak, mengenai masa lalu-masa kini, dan paling penting.. cerita mengenai kemauan, keinginan, perjuangan. Real Steel.

Berawal dari kisah Charlie Kenton, seorang petinju yang sudah “pensiun”, film Real Steel ini dimulai. Dibelit hutang, mencari keuntungan sana-sini, hingga kemudian ia diberitahu bahwa ibu dari anaknya meninggal. Ia pun harus segera mengurus hak asuhnya – yang dengan mudah ia pikir untuk menyerahkannya ke keluarga terdekat selain dirinya.  Namun, tak dinyana, anak lelakinya yang bernama Max Kenton ini diserahkan padanya selama 2 bulan – dengan bayaran, sebelum kemudian diserahkan kepada pemilik hak asuhnya.

Dari situ kemudian cerita berkembang menjadi perjuangan Charlie untuk menghasilkan uang untuk membayar hutang, perjalanan ke beberapa tempat untuk mendapatkan pertarungan, hingga kemudian hubungan ayah dan anak yang telah hilang selama bertahun-tahun. Di situlah Charlie mendapatkan pelajaran dari Max, begitupun Max mendapatkan pelajaran dari Charlie. Pelajaran tentang kemauan yang keras.

Dan, sesuai judulnya serta “tawaran” utama berupa robot-robot petarung, Real Steel pun dilengkapi dengan adegan-adegan pertarungan robot petinju berbagai ukuran, bentuk, hingga tempat. Semuanya disajikan dengan menarik dan terlihat apik. Kekerasan yang disajikan dari pertarungan antar-robot pun terlihat dikemas menjadi sebuah pertunjukkan yang memukau mata.

Berhubung saya tipikal orang yang suka dengan karakter robot, jadilah saking penasarannya saya pun nyari lebih lanjut soal film ini di internet, siapa tau ada website resmi yang punya berbagai sumber daya. Untungnya ketemu di sini. Dan, nemulah salah satu linknya memuat cara untuk membuat robot kertas. Yay!

Anyway.. back to the film itself, unik rasanya melihat seorang Hugh Jackman bermain di film futuristik sekaligus banyak berinteraksi dengan karakter anak. Memang, ia juga pernah melakukan akting yang banyak berinteraksi dengan anak di film Australia (dan bukan di film Swordfish), tapi ya… tetap saja. Image-nya sebagai Wolverine yang beringas sudah begitu melekat. Makanya menonton dia bisa berakting seperti di film Real Steel, seperti menemukan sisi lain dari seorang Hugh Jackman. A family man.

Oiya, di tiap film saya biasanya punya adegan favorit.. dan, inilah adegan favorit saya di film Real Steel.

Kamu udah nonton Real Steel belum?

Hugo, Anak Lelaki Yang “Berfungsi”

Maret 11, 2012 § 3 Komentar

Peringatan: Hati-hati terhadap spoiler film yang bertebaran di sepanjang blogpost ini!

Nama anak lelaki itu Hugo Cabret. Panggilannya Hugo. Dia yatim piatu. Ia tinggal di stasiun kereta, dan ia cukup cekatan dengan perkakas dan memperbaiki barang. Sepertinya, bakat tersebut ia warisi dari ayahnya yang telah meninggal dunia.

Hugo & Isabelle watching automaton workingIntro tersebut akan langsung didapatkan ketika menyaksikan “Hugo”, film yang mendapatkan 5 piala Oscar pada helatan ke-84 awal Februari lalu. Total 5 piala Oscar itu adalah untuk kategori Cinematography, Art Direction, Visual Effects, Sound Mixing, dan Sound Editing. Kelima piala Oscar itu pun diraih setelah sebelumnya mendapatkan 11 nominasi piala Oscar. Still anyway, yang dibahas di blogpost ini bukan tentang piala Oscar-nya, melainkan tentang filmnya.

« Read the rest of this entry »

nobar Robin Hood bisa ke Bali? MAU!!

Mei 6, 2010 § 11 Komentar

apa hubungannya Robin Hood dan Bali atau Singapore? yang pasti, Robin Hood belom pernah ke Bali ataupun Singapore. secara, beda jaman gitu lho.. tapi e tapi, nyatanya kalo ‘ketemu’ sama Robin Hood, bisa bikin kita ke Bali atau Singapore lho!

heran? penasaran? nih.. baca yang lengkap! 😉

jadi, simPATI sang produk dari Telkomsel lagi mau bikin event nobar pelem Robin Hood yang paling baru. saya tau bakal ada pelem Robin Hood paling baru, sejak saya dapet berita dari pemeran utamanya. dan, tau ga sih siapa pemeran utamanya? itu lho.. Russell Crowe, yang jadi Jenderal Maximus di Gladiator.. hihi.. nggaya, ya? 😛

« Read the rest of this entry »

zombie dan segala macamnya

April 27, 2010 § 9 Komentar

okay, mungkin agak aneh dan freak.. but hey, i want to admit, i always enjoy zombie movies.. :mrgreen:

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with film at i don't drink coffee but cappuccino.