Ampas Kopi

April 11, 2017 § Tinggalkan komentar

Konon, kopi yang dijual secara eceran bungkusan di Indonesia itu adalah kopi grade kesekian. Kopi dengan grade terbaik, diekspor/dijual di luar negeri dan atau hanya dijual di coffee shop.

Tapi itu kan konon.

Buat orang awam seperti saya, yang penting sudah bisa menikmati kopi — pas lagi pengen, sudah cukup senang. Beda sih kalo emang addicted sama kopi. Pun kalo sok-sokan ngerti kopi hanya karena baca buku atau nonton film terkait. Saya yang minum kopi sejak lama (mulai sejak SMA), berbagai jenis — sachet maupun bukan, pun di dalam dan luar negeri, biasa aja. :mrgreen: Dan untuk lebih jelasnya, kayanya saya belom baca atau nonton apapun yang terkait kopi — meski pengen.

Dari sekian banyak kopi yang pernah saya minum, baik itu menyeduh sendiri atau diseduhkan (seperti di coffee shop), entah kenapa saya lebih memilih minum kopi yang menyisakan ampas. Biasanya kopi yang begitu adalah black coffee. Tapi bukan berarti saya ga minum kopi tanpa ampas ya.

Kopi yang menyisakan ampas setelah diseduh biasa & bisa saya dapatkan dengan menyeduh kopi sachet atau disendokin dari kopi instan. Entah, tapi ada semacam rasa yang berbeda ketika ada ampasnya yang tersesap di mulut ketimbang tanpa ampas. Dan entah kebetulan atau tidak, untuk kopi yang tak menyisakan ampas cenderung cukup kuat efeknya terhadap perut saya ketimbang kopi yang menyisakan ampas. Makanya kalo kopi yang tak menyisakan ampas, saya lebih memilih yang disajikan di coffee shop ketimbang menyeduh sendiri — karena kayanya komposisinya lebih pas.

Kalo kamu lebih suka kopi yang menyisakan ampas atau tidak?

XXXI

Maret 10, 2017 § Tinggalkan komentar

Bukan, ini bukan judul film Vin Diesel apalagi film stensilan (eh, emang ada?).

Ini soal angka prima. Yeah, right.

Oke, deh. Ini soal angka romawi. Nice try.

Baiklaaaahh.. ini soal usia. Dan ditulis dalam angka romawi. Kan lumayan buat tebak-tebakan dulu berapa angka sebenernya — kalo masih inget coding angka-angka romawi. :mrgreen:

Belakangan (say, 1-2 tahun terakhir) saya mulai berhenti membuat janji dan harapan yang berupa fisik atau besar. Bukannya ga ada ambisi, melainkan mencoba realistis sekaligus juga membuat prioritas. YES, YOU READ IT RIGHT!

Dan di usia yang baru ini — sejak beberapa hari yang lalu, harapan saya sederhana aja. Hidup sehat dan pas-pasan. –> Pas mau jalan-jalan, ada rejekinya. Pas mau beli sesuatu, ada duitnya. Pas mau begini-begitu, bisa dilakukan. 😆

Duh maap, ke-garing-an dan ke-jayus-an saya entah kenapa mulai memuncak lagi soalnya nih di kehidupan sehari-hari. Betul lho, saya termasuk orang yang ga bisa ngelucu. Kalopun ngelucu, ya garing atau jayus. Padahal kan katanya orang Sunda harusnya bisa ngelucu, tapi.. kaya’nya ga berlaku di saya. Atau jangan-jangan saya bukan orang Sunda. #yagitudeh

Intinya adalah… Puji syukur Alhamdulillah masih diberikan kesempatan, dan semoga tetap sehat sambil terus menjadi manusia yang lebih baik. AMIN.

Coba tebak berapa umur saya? — Ini kuis tanpa hadiah tapi yaa…

Mendekati Tanggal 15

Februari 2, 2017 § 2 Komentar

Saya ga dibayar oleh KPU. Ga dibayar juga oleh kandidat pilkada manapun. Postingan berikut di bawah ini murni dari hati nurani saya.

Politik. Hal tersebut kayanya rame banget 2-3 bulan belakangan ini. Jelas sudah, karena ada ajang pilkada. Tepatnya, pemilihan kepala daerah serentak. Untuk tahun 2017 ini diadakan di 101 daerah/kota/kabupaten/provinsi. Salah satunya Jakarta, kota tempat domisili saya saat ini.

Terkait politik itu pula dasar saya menulis blogpost ini. Tapi lagi-lagi, ini murni dari hati nurani saya. Bukan bayaran. Bukan berharap bayaran. Bukan juga karena gemas, jengah, kesal, atau sengaja untuk mempertontonkan dan menunjukkan kandidat pilkada mana yang saya dukung. Bukan, ya.

Postingan ini lebih ke ajakan saya untuk kalian — iya kalian pembaca, yang sudah memiliki hak pilih, baik itu terdata di daftar pemilih maupun tidak, tanggal 15 Februari nanti baiknya hadiri TPS terdekat sesuai di mana hak pilih bisa digunakan. KTP Jakarta? Jelas pilkada Jakarta. KTP Bekasi, jelas pilkada Bekasi. Jangan malas. Jangan menghindar. Datang ke Tempat Pemungutan Suara, dan gunakan hak pilihnya.

Pilkada bukan sekadar prinsip kandidat mana yang lebih benar, atau lebih salah. Karena kandidat pilkada manapun pasti akan didukung oleh para pendukungnya. Meski salah, akan dimaklumi. Apalagi benar, akan dipuji-puji. Pilkada, atau politik khususnya, lebih ke penyaluran aspirasi masyarakat – rakyat, terhadap jalannya pemerintahan. Tentang kepedulian terhadap siapa yang akan menjadi pemimpin dari para pelayan masyarakat atau abdi negara.

Jadi, sebelum tanggal 15, cermati setiap program kerja yang disodorkan oleh para kandidat pilkada. Catat jika perlu. Kemudian setelah terpilih nanti, awasi pelaksanaannya. Tegur langsung jika bisa, atau melalui perwakilan rakyat di tempat masing-masing.

Dan paling penting, TANGGAL 15 DATANG KE TPS untuk MENGGUNAKAN HAK SUARA pada pilkada. Every votes counts. Every voices matters.

Udah siap jadi warga negara yang menggunakan hak suaranya, ‘kan?

NB: Saya bukan PNS – meski berharap bisa jadi PNS. Mungkin kelak, jika ada rejeki.

Nge-sosmed

November 16, 2016 § Tinggalkan komentar

Friendster. Social media pertama yang saya kenal dan saya pake. Kalo ga salah sejak jaman SMA sampe dengan masa-masa akhirnya saya masih pake. Dulu fitur di dalamnya yang biasa dipake udah jelas testi dan juga buletin. Trus kemudian ada blognya. Kurang lebih, di FS (singkatan populernya dulu) saya jadi belajar nulis dan juga belajar cara komunikasi via tulisan yang baik dengan orang lain.

Lanjut kuliah, Facebook mulai rame dipake banyak orang. Meski masih susah pindah platform, akhirnya punya akun juga di sana. Dan makin kepake banget waktu mulai kerja di grup Gramedia — lebih karena ngelola komunitas kerjaan waktu itu dan juga facebook page. Tapi masih berasa ada yang kurang, alhasil blog yg di friendster dimatikan dan pindah ke blogspot trus pindah ke sini — ke wordpress ini.

Setelah itu, tinggal sejarah karena kemudian berbagai channel social media dicoba-coba dan punya akunnya. Sebutlah twitter, plurk, koprol (waktu itu), dan masih banyak lagi.

Dulu saya awal-awal aktif di social media (nge-sosmed) ga lain buat jaga komunikasi dan hubungan dengan teman-teman lama (halah). Maklum lah, SMP dan SMA di kota mana, kuliah dan kerja di kota mana. Jadi udah hampir pasti jarang ketemu — kalo ga dibilang ga pernah ketemu (lagi). Pun waktu dulu kaya’nya pemikirannya masih sederhana, nge-sosmed ya macam ngobrol online meski ga live chat (mIRC dan aplikasi lainnya).

Makin ke sini, disebabkan oleh “booming”-nya tata cara pemasaran (marketing) yang baru via digital, social media pun kemudian dikenal dan dipake banyak orang. Juga kemudian dipake sama banyak merek/produk terkenal buat nyampein materi promosi/pesan-pesannya. Yang juga jadi salah satu pekerjaan saya — nge-sosmed.

Dulu-dulu waktu masih awal nge-sosmed, beberapa temen seangkatan saya bingung dan bertanya-tanya: ngapain sih kerjaannya internetan dan aktif di social media mulu — kaya’ ga ada kerjaan yang lebih produktif aja. Tapi kemudian mereka juga tau sendiri kalo ternyata social media channel itu bisa banget dipake buat banyak hal. Pun juga banyak orang yang lebih memilih untuk dihubungi via social media-nya — kalo ga tau kontak langsung buat japri.

Belakangan apakah masih nge-sosmed? Jelas masih. Tapi cara makenya ga sama lagi seperti di awal-awal dulu. Bandinginnya gini: dulu login paling banter seminggu 3-4x, sementara sekarang bisa tiap hari. Eh, salah ya? 😛 Oke, diulang.. Dulu pake sosmed sering banget ngepos apapun, di-share ke publik pula. Sekarang? Masih ngepos, tapi publish cukup buat diri sendiri. Dulu asik banget diskusi di sana-sini, sekarang? Sesekali aja, seperlunya aja. Dulu ngepromoin akun social media buat nambah temen/followers/dikenal banyak orang. Sekarang? Biarlah organik aja. Bahkan bisa dibilang lebih selektif lagi buat approve jadi temen — kalo pake sistem approval.

Berubahnya cara pake social media itu ga serta-merta, tapi bertahap kok. Perlu beberapa bulan sampai dengan setahun. Pun dengan sebab yang kebanyakan eksternal: BISING. Yep, you read that right. Social media cenderung bising karena seperti yang banyak orang tau, masing-masing orang ibarat pake toa ngumumin hal-hal individu-nya.

Engga, saya ga ngenilai yang suka koar-koar atau publish terus ke khalayak ramai itu salah. Engga ya. Itu hal personal, dan layak untuk dimaklumi saja. Karena dasarnya karakter tiap orang kan beda-beda. Pun dengan proses belajarnya. Begitu juga dengan fase perubahannya. Saya juga ga ngajakin supaya semuanya sama seperti saya. Saya cuma ngasitau fakta aja — meski kebacanya seperti komen. That’s it.

Kamu masih nge-sosmed di mana aja?

Coolpad Sky 3: Lengkap dan Melengkapi

Oktober 14, 2016 § 9 Komentar

Awal taun lalu, saya pernah ngepost kalo hape yang pernah nemenin saya cukup lama dan jalan ke sana-sini rusak. Aktivitas sempat terganggu, karena beberapa keperluan saya bisa dipenuhi oleh hape tersebut. Foto-foto, musik, internetan, sampai dengan catatan yang muncul di kepala. Alhamdulillah, pertengahan tahun istri tersayang ada rejeki lebih untuk beliin pengganti yang sepadan — secara fungsi sudah terpenuhi meski speknya beda. Tapi tetep, dalam hati bedoa khusyuk supaya suatu saat nanti punya rejeki lain, kali-kali dapet yang speknya setara juga. Kan kaya’ generasi langgas (millenials) lainnya yang ga cukup punya hape 1 aja. 😛

Fast forward sedikit, saya pun ketemu dengan Coolpad Sky 3. Hape yang di pasaran berharga Rp 2.399.000 ini menarik perhatian saya banget, apalagi beberapa speknya kayanya cocok sama keperluan saya: RAM 2GB, dual camera masing-masing 8MP, dan ukuran layar yang cukup gede, seperti yang dilansir Tabloid Pulsa. Terlebih ketika tau OS-nya yang udah Marshmallow dan secara fisik ramping pula. Udah deh, ngebet banget. Dan namanya rejeki ya, sampailah ke tangan saya. :mrgreen:

img_20161012_124318

Daily Companion. Originally posted on Instagram @billykoesoemadinata


foto di atas diambil menggunakan hape lain dan dipost di instagram saya menggunakan filter.

Udah sekitar seminggu lebih saya pake hape Coolpad Sky 3 ini — meski tanggal di foto di atas tanggal 11 Okt. Satu kata awal untuk hape ini adalah LENGKAP. Sesuai dengan speknya, hape ini melengkapi kebutuhan saya mulai dari foto-foto, internetan, musik, sampai dengan bikin catetan. Layarnya lebar, cukup buat jari-jari saya yang panjang dan gede untuk ngetap (ngetik) dengan nyaman. Meski begitu, tetep masuk ke dalam kantong saya, jaket maupun juga celana panjang.

img_20161011_094237

Fit for my pocket. Originally posted on instagram @billykoesoemadinata


foto diambil menggunakan kamera dslr

Selain nyaman untuk ngetik, saya belum ngalamin namanya ngelag pas lagi pake hape Coolpad Sky 3 ini. Mungkin karena masih baru, mungkin juga karena RAM-nya yang 2GB, mungkin juga karena prosesornya yang mumpuni, atau mungkin karena hapenya belom (dan mudah-mudahan ga bakal) saya installin banyak aplikasi. Manapun alasan aslinya, yang penting nyaman untuk digunakan — karena kalo udah nyaman, pasti bakal nempel terus bukan? :p

Meski begitu, saya sebagai pengguna hape sejak lama *halah*, pas awal-awal pake agak bingung juga karena ga ada kontainer untuk menu. Jadi langsung via desktop gitu. Usut punya usut, ternyata hape jaman sekarang rata-rata begitu sih ya. Jadi ya saya yang harus menyesuaikan. Pertama-tama agak bingung emang — ga biasa, tapi lama-lama kok ya rasanya lebih praktis. Tinggal buka kunci dan bisa langsung pake aplikasi yang dibutuhin. Lagipula, ada opsi folder untuk nampung aplikasi-aplikasi yang dibutuhin kalo emang berasa penuh banget layarnya atau kebanyakan page.

Salah satu fitur bawaan yang sekarang cukup bikin saya nyaman juga adalah “Theme”, “Rock Wallpaper”, dan “c” button yang bisa dipindah-pindah. Theme nyaman karena saya bisa pilih theme yang cocok buat Coolpad Sky 3 saya tanpa harus takut ga compatible — seperti kalo download terpisah di google playstore. Rock wallpaper juga bikin nyaman karena saya gampang buat ganti wallpaper hape tanpa harus buka folder image. Dan “c” button jelas bikin nyaman karena jadi shortcut buat beberapa task yang sebelumnya mungkin harus bikin saya pegang hape dengan 2 tangan — contohnya bikin skrinsut.

Secara fisik juga hape ini bisa bikin orang penasaran dan nanya lebih jauh. Ga sekali-dua kali rekan kerja maupun juga kerabat nanya: “Hape apaan tuh? Warnanya bagus. Pasti mahal, ya?”

img_20161006_204134

Perfect for tonight: frappe coffee & Coolpad Sky 3


foto diambil menggunakan kamera dslr

Tapi yang paling saya suka dan MELENGKAPI saya dari Coolpad Sky 3 ini adalah kameranya. Singkatnya udah tau kan kamera depan dan belakang masing-masing 8MP? Nah, ternyata ada fitur untuk beauty shot & juga gif maker. Mayan, kalo selfie-selfie bisa keliatan lebih cakep (dan lebih muda?). 😆

img_20161013_144415

Tadi pagi selagi ngantri lampu merah, sekali2 selfie. Mumpung ada fitur beauty di kamera depan #coolpadsky3. Difoto menggunakan coolpad sky 3 dari @coolpadindonesia. #coolforlife #coolpadindonesia | Originally posted on instagram @billykoesoemadinata


difoto menggunakan kamera depan Coolpad Sky 3

Kalo mau tau gimana hasil foto-foto dari kamera belakangnya dan foto-foto lain untuk Coolpad Sky 3 ini, silakan cek aja instagram saya. 🙂

Jadi, kalo buat saya sih Coolpad Sky 3 ini LENGKAP fiturnya dan juga MELENGKAPI kebutuhan saya. Mudah-mudahan awet. :mrgreen:

DISCLAIMER: Tanpa mengurangi kandungan isi, postingan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba ngeblog yang diselenggarakan oleh Coolpad kepada blogger terpilih. Informasi lebih lanjut bisa diliat di sini.

Pilkada

Oktober 6, 2016 § 1 Komentar

Ngomongin yang terkait politik dikit ya. Sekali-sekali. 🙂

Sebulan terakhir saya termasuk yang kurang nyaman dengan berita di sana-sini terkait politik, ga lain karena ada proses pilkada di wilayah yang jadi tempat tinggal saya saat ini. Diperjelas dikit: bukan ga nyaman dengan pilkada-nya, atau prosesnya, melainkan ga nyaman dengan berita serta sharing beritanya. Rasanya riuh bin berisik banget jalur komunikasi dan sosialisasi yang saya gunakan dengan berita terkait pilkada. Makanya, belakangan ini saya mengaktifkan lagi upaya untuk menyaring informasi.

Menyaring informasi yang saya lakukan bukan yang ribet atau dengan bantuan intelegensi pintar, cukup dengan memilih siapa/apa yang hendak saya baca/ikuti dan juga siapa/apa yang perlu saya share mengenai pandangan saya. Termasuk di blog ini. Karena blogpost ini menurut saya termasuk sarana saya untuk aspirasi terkait politik, tapi tidak langsung menjurus ke paham tertentu — setidaknya menurut saya.

Soal paham politik, azas, aliran, partai, sampai dengan kandidat mana yang saya dukung, orang-orang terdekat saya lebih tahu. Kalo mau nebak, silakan. Belum tentu saya jawab atau saya iyakan. 🙂 Tapi satu hal yang jelas adalah: (sepertinya) saya tidak termasuk golongan grass-root, bukan pula termasuk golongan aktif berpolitik dan bergolongan. Saya hanya berharap saya cukup disebut melek politik.

Anyway, karena judulnya udah kadung pilkada, maka sudah selazimnya saya bahas juga terkait itu. Dan itu berarti bukan melulu kandidat atau kampanyenya, melainkan juga proses dan harapan-harapan terkait. Untuk prosesnya sendiri, saya cukup senang dengan yang dilakukan oleh KPUD. Antara lain promosi mengenai kepastian penduduk terdaftar sebagai pemilih dilakukan dengan cara jemput bola — setidaknya itu yang saya rasakan di sekitar tempat tinggal saya. Harapannya tentu adalah ketika proses awalnya saja sudah aktif dan jemput bola, maka setelah kandidat terpilih nanti juga aktif dan jemput bola terkait hal-hal yang bisa diputuskan oleh pejabat kepala daerah.

Jika postingan ini terasa rumit, maka sudah jelas dan sesuai tujuannya. Karena politik itu memang rumit, dan ga semua orang mengerti. Saya yang sudah mulai belajar berpolitik dari SMP (pemilihan ketua OSIS) saja masih merasa rumit, apalagi yang baru mengikuti belakangan ini?

DISCLAIMER: Blogpost ini bukan bentuk dukungan terhadap salah satu bakal calon atau calon kepala daerah dan atau wakilnya. Bukan pula bentuk dukungan terhadap organisasi atau massa pendukungnya. 

Kenapa (Tidak) Nonton Film Indonesia?

September 13, 2016 § Tinggalkan komentar

Seingat saya, pertama kali menonton film Indonesia (di bioskop) adalah Saur Sepuh, diajak oleh (alm.) Ayah saya. Kalo ga salah, waktu itu di Blok A, Jakarta. Semasa kecil, film Saur Sepuh itu memukau banget. Apalagi ada adegan kolosal berupa perang di tanah terbuka yang melibatkan banyak orang. Belum lagi adu ajian antara para patih dan panglima. Pokoknya memukau, deh.

Kemudian ketika TV swasta mulai siaran lebih sering, seingat saya juga (pada masih kecil itu) ada satu lagi film Indonesia tayang di TV yang memukau yakni film Cut Nyak Dien. Di kemudian hari saya baru tau kalo film tersebut menang Piala Citra (dari FFI), dan pemeran Cut Nyak Dien adalah Christine Hakim. Dan juga baru tau kalo aslinya film itu adalah tayang di bioskop. Maklum, masih kecil ga tau apa bedanya film TV dan bioskop.

Film-film Indonesia lain yang saya tonton juga di kala masih kecil antara lain Wolter Monginsidi (pemerannya Roy Marten, nonton di TV), Warkop DKI (seringkali di TV), dan beberapa film Kabayan (kebanyakan juga nontonnya di TV). Salah satu film Kabayan yang paling saya ingat adalah Kabayan Saba Kota dan juga Kabayan dan Anak Jin. Dan betul, saya waktu itu ga tau ada film Catatan Si Boy atau yang lain-lain. Pilihan film Indonesia bagi saya pada saat masih kecil ga jauh dari Kabayan, Warkop DKI, atau film kepahlawanan.

Oiya, film soal G30S/PKI sih ga pernah saya nonton ya — untungnya.

Back to topic…

Apa kaitan postingan dengan judulnya adalah saya lagi pengen nemu alasan untuk menonton film Indonesia seperti kala saya kecil itu. Saya ingin terpukau dengan film-film Indonesia. Saya ingin menonton dengan rasa penasaran sekaligus berharap yang tinggi terhadap film tersebut. Ga boleh sih emang, karena bisa jadi kecewa. Tapi itu yang amat sangat saya cari terhadap film-film Indonesia. Saya ingin dibuat terkesima.

Sepertinya sulit untuk mewujudkan hal itu. Bukan karena film Indonesia-nya ga bermutu, tapi lebih karena saya-nya yang ‘keterlaluan’ — alias terlalu berharap. :mrgreen: Belum lagi masa tayang film Indonesia di bioskop lebih cepat ketimbang film non-Indonesia, juga udah setahun lebih saya amat-sangat-mengurangi menonton TV siaran stasiun Indonesia.

Anyways, hal ini bukan berarti saya ga nonton film Indonesia sama sekali, ya. AADC (yang pertama) saya sempat nonton di awal-awal tayangnya, bahkan sampe 2-3x — kebetulan saat itu saya masih SMA seperti setting filmnya. Film-film Shandy Aulia & Samuel Rizal juga saya tonton. Jelangkung dan sekuelnya juga. Rumah Dara, dan yang terbaru adalah film Garuda 19 di tahun lalu. Itu semua beberapa film Indonesia yang saya (sempat) tonton di bioskop. Lain-lainnya seperti Janji Joni, Gie, Ungu Violet, Kunti….. (duh saya ga berani untuk nulis lengkap) dan sekuelnya, sampai Biarkan Bintang Menari, sempat saya tonton di luar bioskop — kalo ga di komputer teman ya di TV.

Untuk film-film keluaran 5-6 tahun terakhir yang saya punya harapan cukup tinggi antara lain Habibie & Ainun (karena saya sudah baca bukunya), tapi kemudian…. #yagitudeh. Juga ada Di Bawah Lindungan Kabah, yang kemudian rada kecele (dan iya, saya pernah baca bukunya waktu sekolah dulu).  Selain itu ada film-film lain yang saya belum nonton sama sekali seperti Pendekar Tongkat Emas, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk — ini saya penasaran banget, Rudy Habibie (bukunya saya udah baca), Sabtu Bersama Bapak, dan terakhir adalah 3 Srikandi. Nope, ini bukan kode untuk minta undangan atau dikasih screening khusus. Karena biar gimanapun, saya hampir pasti ga bakal bisa nonton di bioskop — karena 1 dan lain hal, kecuali midnite.

Mudah-mudahan suatu ketika nanti saya bisa terkesima sama salah satu film Indonesia yang saya tonton di bioskop sebelum habis masa tayangnya.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with harian at i don't drink coffee but cappuccino.