Gunung atau Laut?

Juli 14, 2015 § 4 Komentar

Sebagai manusia yang berkegiatan utama di kota (kerennya sih: urban creature), tentunya kalo lagi ga ada jadwal kegiatan (kerja) pengennya “kabur” ke luar kota. Bisa jadi ke kota lain yang beda sama kota asal, bisa juga ke yang bukan kota sama sekali. Alias: ke wilayah yang lebih alami. Nah, wilayah yang lebih alami itu seringkali pilihannya adalah gunung atau (tepi) laut.

Saya pribadi, lebih memilih untuk ke gunung. Pilihan tersebut dipilih karena cuacanya cenderung adem, sepi, sehingga penat dan kelelahan yang dialami karena berkegiatan urban, bisa hilang. Damai rasanya tiap kali bisa ke gunung. Seperti hendak menyepi gitu. Bukan, bukan mendaki gunung seperti ****packer gitu, tapi ya pokoknya ke area pegunungan.

Biar begitu, bukan berarti saya anti ke (tepi) laut atau pantai. (Tepi) laut atau pantai itu pilihan kedua kalo saya males “berkunjung” ke pegunungan. Pilihan ke pantai karena banyak angin yang biasanya menyapa kita — di pagi, siang, sore. Hampir setiap saat. Bedanya kalo ke pantai, bakal cenderung panas menyengat yang bisa membakar kulit. Udah saya kulitnya hitam manis (bahasa jadul ya?), kalo kebakar sinar matahari bisa makin gosong blas.

Jadi, pilihan utama seringkali ke gunung. Kalo di Jakarta sini, pilihan terdekat ya berarti ke arah Bogor-Ciawi-Puncak gitu. Paling mantap kalo sampe lewatin tol Cipularang, trus ke Purwakarta atau sekalian Bandung. Sementara kalo pantai, ga lain pilihan utama ya jelas-jelas Ancol. Geser dikit, pilihannya ya ke Muara Karang. Kalo lagi niat, bisa jadi sekalian aja ke Carita atau Anyer.

Nah.. kalo kamu lebih milih ke gunung atau laut? Trus, ke mana yang terdekat? Mumpung mau libur lebaran kan.. :mrgreen:

Mau Nikmati Awal Tahun Baru di Mana?

November 26, 2014 § 8 Komentar

Bali.

Yes, pulau Bali adalah jawaban saya untuk tempat utama yang pengen saya kunjungi buat nikmati awal tahun baru. Dan iya, bukan akhir tahun yang saya tuju, melainkan awal tahun karena melihat sinar matahari pertama di tahun yang baru, semacam bisa meningkatkan gairah saya untuk menjalani sebuah tahun yang baru. Apalagi kalo liatnya di Bali. Pulau dewata.

Personally, saya baru sekali ke Bali. Itu pun ga sengaja, karena harusnya β€œhanya” transit beberapa jam, tapi kemudian harus menginap semalam (12 jam) karena penundaan penerbangan. Seharusnya 12 jam tersebut bisa dipergunakan untuk eksplorasi Bali, tapi karena waktu itu sudah malam dan saya sudah lelah, jadinya langsung menuju penginapan yang disediakan dan terlelap. Paginya pun sudah buru-buru diangkut ke bandara untuk melanjutkan perjalanan.

Kenapa pengen ke Bali? Karena saya pengen. Polos memang. πŸ˜› Karena jika dijabarkan, ada berbagai macam alasan kenapa saya pengen ke Bali. Antara lain di bawah ini…

Tanah Lot

Tanah Lot

Tanah lot. Kawasan yang terdapat pura dengan nama yang sama ini, merupakan salah satu destinasi wisata terkenal di Bali. Saya pengen banget bisa ke sana, melihat dengan mata saya sendiri sebuah bangunan yang tak ada duanya ini.

Tari Kecak

Tari Kecak

Tari Kecak. Tari asli Bali yang dipertontonkan oleh banyak orang ini adalah salah satu atraksi yang ingin saya saksikan secara langsung juga. Belum lagi, dengar cerita dari teman-teman dan juga kerabat, Tari Kecak paling pol kalo ditonton di saat matahari terbenam. Dengerin ceritanya aja saya udah terkagum-kagum..

Ubud. Salah satu kawasan di pulau Bali ini menjadi salah satu tujuan di Bali yang paling pengen saya kunjungi karena ia kerap menjadi lokasi UBF atau Ubud Writers Festival. Saya sendiri senang menulis, dan sepertinya adem rasanya untuk bisa membuat sebuah karya tulis di tengah-tengah asrinya alam Ubud.

Lumba-lumba di Pantai Lovina

Lumba-lumba di Pantai Lovina

Pantai. Bali adalah sebuah pulau yang memiliki begitu banyak pilihan pantai. Salah satu yang terkenal antara lain adalah Kuta. Tapi sebenarnya saya paling pengen adalah ke pantai Lovina. Karena di sana dikenal dengan mudahnya untuk menemui lumba-lumba di perairan bebas. Seru rasanya apabila bisa menyaksikan semuanya secara langsung.

Trus, kalo sempet ke Bali apa mau sendirian? Jelas engga. Tentu akan lebih seru dengan teman seperjalanan. Buat saya sendiri, jelas saya akan mengajak istri saya. Akan menyenangkan rasanya untuk menikmati travelling yang takkan terlupakan dengan pasangan hidup. :”>

Oiya, selain banyak tempat wisata buat dikunjungi, Bali juga ga kekurangan pilihan cenderamata yang bisa dibawa pulang kembali ke kota asal. Mulai dari pia legong, pia susu, hingga kacang bali untuk makanan asli Bali. Atau bahkan membeli kaos Joger yang hanya dijual di Bali dengan penampilan yang unik.

Travelling itu seru. Apalagi kalo travelling ke destinasi impian bersama orang yang kita sayang. Trus, gampang juga kan buat booking tiket pesawat dan lain-lain via Traveloka.

Kalo kamu, pengen nikmati tahun baru ke mana sama siapa?

NB:
foto tanah lot photo credit: alex hanoko via photopin cc
foto Tari Kecak photo credit: riosundoro via photopin cc
foto Lumba-lumba di pantai Lovina photo credit: Songkran via photopin cc

Ciwidey, tahun lalu

Mei 27, 2013 § 2 Komentar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Eiya, karena ngepost ini minggu lalu, trus keingetan kalo belom sempet cerita soal Ciwidey, kawah putih di Bandung itu.

Iya, tahun lalu sempat ke sana. Sama anak dan istri. Cuman kebetulan yang difoto bareng di sini ya sama istri aja, soalnya anak masih kecil banget waktu itu. Dan, ga dibawa Β ke dekat kawah — dan nunggu aja di parkiran sama mertua. Soalnya, bau belerangnya amat sangat menyengat.

Beberapa catatan penting kalo mau ke Ciwidey itu sbb:

  1. Usahakan di musim kering/kemarau. Soalnya supaya bisa masuk ke dalam kawah dan ga usah takut kehujanan. Kalo sampe hujan, tanah/wilayah sekitar kawahnya ga bisa/ga enak buat dikunjungi.
  2. Perjalanan dari tengah kota Bandung ataupun dari jalan tol sampe ke sini, cukup sulit dan lewat jalan pelosok-pelosok/non jalan besar. Kategori jalannya: jalan provinsi, dipadu jalan kabupaten, dan jalan desa. Jadi ya, siap-siap agak mabok darat kalo ga biasa.
  3. Siapin hape dengan sinyal kuat dan ada aplikasi google maps buat dukungan petunjuk arah. Soalnya petunjuk jalan dari tengah kota menuju ke sana agak minim. Tapi, akan lebih afdol kalo selalu siaga buat tanya arah sama penduduk/orang di warung/pinggir jalan menuju ke sana. Mereka cenderung tahu arahnya, dan helpful.
  4. Kalo naik mobil pribadi, ada baiknya ajak orang Bandung atau driver yang tahu daerah Bandung. Jadi, kalo lebih hapal sama kondisi jalanan.
  5. Bawa jaket tebal — di Ciwidey itu walaupun dia kawah dan sampe sana siang dengan sinar matahari terik, tapi anginnya DINGIN! bukan adem lagi ya, melainkan DINGIN! itu saya di foto kebetulan cuacanya agak hangat aja, tapi anginnya tetep DINGIN dan kencang pula.
  6. Jangan berlama-lama di dalam kawah — walau sekadar berfoto-foto. Di sekitar kawah itu masih ada beberapa sumber belerang yang aktif. Kalo kelamaan, bisa keracunan yang diawali dengan perasaan pusing dan lemas. Kategori 20 menit sekalipun, hitungannya udah lama lho.
  7. Ikuti seluruh peraturan keamanan dan petunjuk yang tertera yang disediakan oleh pengelola Ciwidey.

Soal harga tiket sendiri, lupa. Soalnya udah tahun lalu.

Trus, kalo ada kesempatan lagi, ya jelas mau ke sana lagi lah.. :mrgreen:

Tangkuban Parahu, the experience

Mei 20, 2013 § 16 Komentar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Akhirnya seumur-umur sempet juga dateng ke Tangkuban Parahu di Bandung. Ternyata kalo dari tengah kota, perjalanan darat pake mobil kalo masih pagi banget berangkatnya, ditempuh sekitar 1 jam perjalanan — padahal pas wiken. Entahlah kalo udah siang atau pas wiken siang.

Sampe sana masih sepi, kebanyakan kios-kios juga belom buka, tapi itulah serunya. Jadi bisa lebih menikmati pemandangan di Tangkuban Parahu, salah satu gunung di Jawa Barat yang punya beberapa legenda — salah satunya legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Waktu ke sana kemaren pas lagi 2 minggu di Bandung itu, dan sekalian sama Dean & Danielle. Tiketnya juga hitungannya murah, 10ribu buat mobil, 13ribu buat turis lokal, dan 50ribu buat turis mancanegara. Murah, banget.

Oiya, di sana ada beberapa objek buat dikunjungin mulai dari Kawah Ratu — yang paling besar dan utama, trus ada Kawah Upas — kemaren pas ke sana sayangnya masih tutup karena kepagian, trus ada Mata Air Cikahuripan (CMIIW namanya) dan gua peninggalan (entah jaman kapan) — yang lagi-lagi masih tutup karena kepagian.

Kapan-kapan ke sana lagi ah, sama istri dan juga anak. πŸ™‚

Paskal Food Market: Good Food, Good Place, Good Price

Mei 3, 2013 § 3 Komentar

Semua berawal dari permintaan Dean & Danielle – dua orang Australia yang sedang bekerjasama dengan saya di sebuah proyek di Bandung, meminta untuk ditunjukkan sebuah tempat yang banyak memiliki makanan/jajanan. Semacam street food, atau kawasan yang dipenuhi dengan food stall – tukang jualan makanan. Tentunya di Bandung, karena memang sekaligus untuk mencari makan malam setelah bekerja seharian.

Sempet nanya sana-sini via SMS dan juga googling, akhirnya ketemulah tempatnya. Tempat di mana banyak pilihan makanan berkumpul, dengan suasana (ambience) yang oke punya, plus harga yang (masih) masuk akal: Paskal Food Market, yang jadi bagian dari Paskal Hyper Square.

Engga, saya ga dibayar atau diminta secara khusus buat ngepromosiin Paskal. Ini lebih ke saya berbagi pengalaman aja. πŸ™‚

Satu kata utama yang bisa mewakili pengalaman saya di Paskal adalah… SUKA! Iya, saya suka suasananya, saya suka banyak opsi dari makanannya, saya suka tempatnya, pokoknya SUKA! Open space, variatif, dan kursinya banyak!

Ada makanan yang dibakar, sop, digoreng, sate, dan masih banyak lagi. Pempek, sate, otak-otak, nasi goreng, sampai dengan bebek dan juga konro! It’s like a heaven of food.. :mrgreen: Tapi saya ga sempet foto-foto ya, soalnya saya beneran enjoy banget sama tempat dan makan di sananya. Semua foto yang ada di sini, pinjem sana-sini. πŸ˜›

Oiya, Dean & Danielle sendiri berkomentar kalo tempat Paskal Food Market ini oke punya. Menakjubkan soalnya banyak variasi makanan di sana, dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada kali sekitar 5-6 menu yang mereka pesan, dan dimakan bareng-bareng.

Oiya, satu-satunya foto yang saya buat adalah foto kolam buat mengabulkan keinginan di bawah ini:

 

Paskal

Jadi, katanya kalo kepengen keinginannya dikabulkan, lempar koin ke arah lingkaran yang dipegang patungnya. Soal koinnya, itu sih terserah. Trus, saya baru berhasil masukin koinnya ke lingkaran pas lemparan yang kedua. Hihihi.. seru juga tempatnya ini.

Kalo kamu, udah pernah ke Paskal Food Market belum?

jalan untuk makan, makan untuk jalan

Desember 17, 2010 § 21 Komentar

jadi ceritanya, wiken minggu kemaren — tanggal 11-12 desember 2010, ceritanya saya ke bandung. nginep gitu deh di salah satu hotel berbintang dengan memanfaatkan fasilitas voucher menginap yang pernah saya dapetin dari sebuah kompetisi yang udah jalan hampir setaun berselang.

well, ga usah cerita proses nginep atau hotelnya ya. langsung aja saya mau berbagi soal makanan di bandung! yay! *jadi laper*

singkat cerita, saya sampe di bandung udah sabtu sore dari jakarta. setelah cek in di hotel dan istirahat bentar, agak maleman gitu saya kelaperan. mau makan, tapi bosen ke mal. bosen pula makan fast food. ngapain jauh2 ke bandung, kalo makannya fast food atau di mal, yang di jakarta juga ada. akhirnya, sambil iseng2 ngapdet twitter dan koprol, saya pun nanya mau makan apa enaknya di bandung pas malming itu. eh, ga taunya yang nyaut malah temen jauh saya di balikpapan — Indra Nugroho, yang notabene warga bandung, tapi lagi gawe di balikpapan. dia nyaranin buat nyobain Iga Bakar Si Jangkung.

jadilah, setelah nanya naek angkutan umum apa dari daerah dago ke tempat iga bakar si jangkung — yang berlokasi di sekitaran cipaganti/cihampelas, akhirnya didapatkan informasi yang sahih dan akurat dari Fajar @themagoos. ga pake 20 menit, saya udah sampe di sebelah masjid Cipaganti, yang sekaligus juga jadi tempat jualan iga bakar si jangkung.

sempet ragu buat masuk ke iga bakar si jangkung itu, secara tempatnya sedikit “biasa” macam warung2 sate gitu. tapi, berhubung perut udah masang orkes keroncong dan males nyari tempat laen, akhirnya “maksa” buat ambil salah satu spot di kursi dan meja. ternyata, emang konsepnya iga bakar si jangkung ya gitu itu, satu meja dibagi2 buat beberapa orang, ga ada konsep table set, yang penting datang untuk makan. πŸ˜›

udah duduk, langsung dikasih menu makanan sama salah satu pelayannya. sempet bingung mau makan apa, coz pilihannya ada iga bakar sapi, iga bakar kambing, sate sapi, sate kambing, dan beberapa nasi dan sop. karena udah kadung penasaran sama nama “iga bakar” akhirnya milih menu iga bakar kambing ditambah nasi sepiring, dan minumnya teh manis anget.

ga sampe 20 menit semenjak pesen & dikasih nomer pesenan, iga bakar kambing & nasi dateng. ga lupa juga teh manisnya.

iga bakar & nasi putih sepiring

ternyata, rasanya emang yahud! apalagi, iga bakarnya itu disajiin di tempat yang masih panas ala hot plate gitu. jadi kudu ati2 kalo mau motong atau ngambil potongan buat disuap. belom lagi ditambah bumbunya yang dicampur potongan cabe dan kecap. jadi, agak2 pedes manis gitu deh.. dan, dagingnya itu lho.. biarpun daging kambing — yang terkenal liat & susah dipotong, ternyata malah “renyah” dan enak dikunyah! pokoke, MANTAB!

entah karena emang udah laper banget atau rasanya yang nikmat, seporsi iga bakar & nasi sepiring itu ludes ga lewat dari 20 menit ajah.. *sepertinya emang laper dan doyan pula* πŸ˜† kelar, bayar.. total biaya, ga lebih dari 30ribu rupiah aja dongs.. *ngiler bayangin pengen makan lagi*

kelar makan iga bakar, mampir bentar jalan2 ke CiWalk, trus pulang ke hotel & tidur.

besok paginya, setelah sarapan & sedikit jalan2 sekitar dago, akhirnya check out dan langsung menuju S28 yang letaknya di jalan sulanjana. ke sana, tujuan utamanya karena mau dateng kopdar #BandungBermain-nya @b_kops sih.. tapi ternyata, dapet voucher makan juga. sayang dong kalo ga dipake buat makan. apalagi, siangnya mau langsung back to Jakarta.

akhirnya, setelah say hi sana-sini sama kru @b_kops, saya pun naek ke lantai 2 S28. berbekal voucher 30ribu, langsung milih tempat berupa sofa dan meja yang nyaman banget. setelah liat2 daftar menu, akhirnya pilihan buat makan siang adalah “Queen Elizabeth Steak”. kalo liat di gambar buku menu sih, steak sapinya ditambah mashed potatoes, dan juga beberapa sayur & saus khas. pas lagi pesen, pelayan S28-nya nanya: “mau mateng atau setengah mateng?” dan, saya pun jawab: “setengah mateng”

ada alesannya kenapa saya pilih setengah mateng. bukan karena saya sok, atau malah kanibal, tapi karena saya “kemakan” pendapat kalo steak yang setengah mateng lebih nikmat buat dimakan. dagingnya agak kenyal dan ga keras, trus rasanya lebih tasty. hmm.. beberapa kali makan steak, ya emang bener sih pendapat itu. dan, di S28 ini jadi pengen ngebuktiin lagi. XD *sok enggres*

dan dalam hitungan beberapa menit aja, pesenan saya — Queen Elizabeth Steak itu dateng. ditemenin sama peach tea sebagai minumannya, saya pun mulai menyantap steak setengah mateng itu.

queen elizabeth steak

pas motong pertama kali steak itu, langsung keliatan kalo saya ga salah pilih buat setengah mateng. pas masuk mulut, makin ga salah lagi. ternyata STEAK-NYA ENAK!!! selaen agak kenyal, ternyata rasanya juga meresap banget.. ditambah lagi mashed potato-nya yang lembut, tapi tetep blended. ga lupa juga saus steaknya, asoy benerrrr… sekali motong & suapin ke mulut, bikin pengen motong & suapin steaknya lagi, lagi, dan lagi. sampe2 ga sadar kalo udah abis.. πŸ˜› total biaya buat steak asoy & peach tea-nya, ga lebih dari 50ribu. dan, karena dapet voucher, jadilah cuma bayar 20ribu saja.. :mrgreen:

kelar makan, langsung back to Jakarta.

hmm.. kapan lagi ya jalan2 buat makan gitu? ada yang mau rekomendasi tempat atau mau nemenin? boleh lhooo.. I’M READY TO EAT!! –> tapi yang halal yaaa.. πŸ˜‰

mari kita makan!

mudik 2010, the (short) story part 2 – Mie Bakso Laksana & Hujan

September 17, 2010 § 6 Komentar

biarpun Tasik jauh dari Bogor, tapi karena cuacanya lagi ga stabil, jadilah hampir setiap saat dilingkupi sama hawa dingin dan juga HUJAN! iya, ujan.. bukan sekadar gerimis atau rintik2, tapi beneran guyuran air yang banyak bener dari langit ke bumi.. hii.. dingiinn..

tanda2 hujan yang terus2an berada di langit Tasik udah saya perkirakan semenjak dateng pas dini hari itu. gimana ga? wong jalanan basah bener.. begitu juga tanah di pinggiran jalanan, becek gitu deh.. — untung Cinta Laura ga tau Tasik yah.. *eh*

anyway, lanjut cerita setelah kedatangan dini hari dan juga tidur sampe pagi itu, tiba2 sekitar jam 6-7an saya dibangunin sama calon istri. ahem, banguninnya ga laen karena dia pengen diajak jalan2 pagi.. mau liat kota Tasikmalaya katanya sih.. jadi, dengan muka bantal dan pikiran yang masih ngantuk, saya pun cuci muka, ganti kaos, dan -tanpa mandi karena males dan dingin– saya pun udah siap nganter ngajak jalan2 calon istri di pagi2 itu.

berbekal motor pinjeman punya sepupu, saya pun nelusurin jalanan pagi kota Tasikmalaya. anginnya dingin.. eh, maksudnya udaranya.. πŸ˜› dan, sambil keliling2 kota Tasikmalaya, ngunjungin beberapa titik yang pernah jadi tempat saya beraktivitas dulu (baca: maen dan nongkrong :mrgreen: ) saya pun ngajak calon istri makan bubur di salah satu langganan pas masih di Tasik dulu. enak lho makan pagi bubur itu.. –> FYI: nama lokasi persisnya saya kurang tau, tapi kalo ga salah sih deket Toko Buku Remaja, di jalan tentara pelajar, dan tukang buburnya namanya: Mang Ade.

setelah makan bubur ayam pagi2, pulanglah lagi ke rumah.. ketemu sodara dan yang belom maaf2an.. plus, mandi dan makan (lagi).. iya, saya emang gembul — suka makan.. πŸ˜› apalagi, kalo cuacanya lagi dingin, atau di tasik.. tempat makanan yang kalo di jakarta susah dicari, kaya’ nasi tutug oncom, bubur ayam mang ade, sea food pinggir jalan, dan masih banyak lagi..

jelang siang, hawanya masih aja dingin.. dan, berhubung calon istri pengen tau kelom geulis — sandal asli Tasik yang dibuat dari bahan kayu dan model2nya cakep2, akhirnya saya pun ngajak dia ke daerah Gobras. kali ini ga bedua, tapi juga segambreng sama adik2 dan juga sepupu. kurang lebih berlima, naek angkot dari rumah ke daerah Gobras. dan, karena saya lupa2 inget sama jalanan, akhirnya berhentilah di toko kelom geulis yang pertama kali ketemu — padahal, ke dalem2nya Gobras masih banyak lagi toko kelom geulis, tapi masih pada tutup gara2 masih lebaran.

sempet liat2, akhirnya males beli gara2 harganya ga rasional. 80ribu ‘cuma’ buat sepasang kelom geulis! agak pantes mungkin, tapi dipikir2 sepertinya itu taktik penjualnya aja buat jualan pas lagi lebaran — naekin harga, karena tau bakal banyak yang nyari. dan, karena ga jadi beli sementara jalan ke arah Gobras cukup jauh buat nemuin toko berikutnya — karena masih pada tutup, akhirnya pun diputusin buat pergi aja ke tengah kota. dan, tujuan berikutnya adalah makan siang di Mie Bakso Laksana! –> FYI: Mie Bakso Laksana lokasinya di Jalan Pemuda, belakang komplek Pemerintah Daerah, gedung kantor DPRD (lama) Kabupaten Tasikmalaya dan Kantor (lama) Bupati.

Mie Bakso Laksana, salah satu wisata kuliner di Tasikmalaya yang udah ada dari jaman saya kecil dulu. iya, sejak saya masih anak2 kecil SD gitu, sampe sekarang udah kuliah dan kerja. dan, lokasinya tetep sama, ga pindah2 dan ga buka cabang di luar kota. ga laen, alesannya kaya’nya sih supaya mutunya tetep kejaga, rahasianya ga bocor, dan rasanya tetep nikmat! –> FYI: bakso dan juga bakmie-nya dibuat sendiri.. ga beli jadi.. – berdasar info yang beredar.

di hari kedua lebaran itu, syukurnya Mie Bakso Laksana tempatnya buka dan jualan. tapi ya ampun.. dari luar aja udah keliatan kalo banyak mobil parkir, yang artinya banyak orang yang dateng.. pas masuk, bener aja gitu. lantai 1 penuuuhhh.. dan, akhirnya musti ke lantai 2 yang sebenernya juga penuuhhh.. musti bener2 lihai nyari meja dan kursi yang kosong, dan setelah ada pengunjung yang mau pulang, akhirnya dapet 2 meja buat berlima.

menu kesukaan saya di Mie Bakso Laksana adalah Yamien Manis Baso Urat. jadi, bakminya setelah direbus disajiin kering ditambah bumbu kecap manis, dan kuahnya dipisah. ga lupa juga di bakminya ditambah suiran daging ayam dan sapi plus tulang bunyi. dan, di mangkok terpisah ada bakso, urat, plus kuah yang nikmat. sluurrpp.. nikmat bener dah.. sampe2 calon istri pun ikutan mesen yang sama, sementara adik2 dan sepupu saya mesennya Bakmi Baso Lengkap. — ceritanya lain kali aja ya.. πŸ˜€

kelar makan bakso, pulanglah kita semua ke rumah. sempet mau jalan2 lagi ke masjid Agung di daerah kaum, tapi ga jadi — karena keburu capek. dan, sampe rumah pun istirahat lagi.. nonton tipi, dll.. tidur siang pula.. intinya sih males2an.. πŸ˜€

pas sore2, niatnya sih mau keluar lagi.. jalan2 lagi gitu.. tapi eh, ga taunya ujan.. deres pula.. semenjak ashar, sampe kemudian Maghrib, dan berlanjut ke Isya sampe waktu tidur malam.. alhasil, ga bisa ke mana2.. dan, ga bisa ngajak calon istri jalan2 lagi deh..

tapi.. besoknya bisa koq! *masih bersambung*

NEXT: part 3 – Deket dan Jauh..

kalo ke tasik, jangan lupa mampir Mie Bakso Laksana ya.. asli, enak lho.. *bukan post berbayar*

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with jalan jalan at i don't drink coffee but cappuccino.