Ayah

Oktober 22, 2013 § 5 Komentar

“Sesulit apapun kondisi kamu, jangan pernah minta-minta pada orang lain…” – Ayah.

Begitu yang diingatkan Ayah pada saya. Kalimat itu ia sampaikan secara langsung pada saya, bulan lalu – September 2013.

Ayah atau Papa, begitulah anak-anaknya memanggilnya, adalah seorang yang menjadi role model dan telah mengajarkan pada saya banyak hal. Mulai dari bagaimana bertanggungjawab sebagai pria, tentang prinsip-prinsip keluarga, pentingnya berbagi, hingga sifat lembut yang harus dimiliki.

Ayah mengajari saya pentingnya bangga untuk menjadi seorang warga dari Indonesia. Ayah mungkin tak pernah berkecimpung secara langsung dalam dunia politik praktis, tapi darinya-lah saya belajar mengenai sikap kritis, berpartisipasi pada pembangunan negeri, hingga kepekaan sosial.

Ayah juga mendidik anak-anaknya mengenai pentingnya pendidikan, pemahaman dari materi yang diajarkan di lembaga pendidikan, formal ataupun non-formal. Ayah mungkin tak pernah memiliki gelar sarjana apapun, tapi ia beserta Mama selalu menyemangati semua anak-anaknya agar tak hanya berhasil meraih gelar akademis, melainkan juga memiliki pemahaman baik akan ilmu yang dipelajari.

Ayah pun menanamkan pada anak-anaknya pentingnya beribadah, beriman pada Tuhan Yang Maha Esa. Bersedekah, berinfak, mengaji, berkurban (saat mampu), hingga bersikap sabar dan ikhlas adalah hal yang tak jarang ia ajarkan – baik melalui ucapan, maupun contoh perilaku.

Benar seperti yang pernah dibilang dr. Nino – seorang dokter yang pernah saya temui di RS Tebet, “Seorang Ayah lebih baik dari puluhan, bahkan ratusan guru atau pengajar bagi anaknya.” Dan, itulah gambaran yang tepat untuk Ayah.

“Ga ada yang namanya bekas atau mantan dalam hubungan keluarga. Ga ada yang namanya mantan ayah, mantan ibu, mantan anak, atau mantan saudara. Berikan perhatian utama untuk keluargamu (pasanganmu), anak-anakmu, orangtuamu (dibandingkan kepentinganmu yang lain).” – Ayah.

Foto keluarga yang diambil pada 2 Desember 2007 lalu.

Foto keluarga yang diambil pada 2 Desember 2007 lalu.
atas (ki-ka): saya-Non (adik saya)-Aa
bawah (ki-ka): Mama-Non Lisa (adik saya terkecil)-Ayah

Selamat jalan Ayah…

In memoriam: Yulius Hiongko Koesoemadinata, 2 Juli 1955 – 5 Oktober 2013.

Belajar “Bareng” di Gymboree

Juli 8, 2013 § 13 Komentar

Akhir pekan yang lalu – setelah pulang dari Solo, saya dapet undangan ke salah satu acara yang berkaitan sama keluarga/parenting. Acaranya dihelat oleh Great Eastern – salah satu perusahaan asuransi, bekerjasama dengan Gymboree – salah satu lembaga pendidikan usia dini. Tempatnya? Jelas di Gymboree, tepatnya di Gymboree Kemang.

Saya tertarik dateng ke undangan tersebut karena 2 hal. Satu: nambah-nambah informasi soal kekeluargaan, pendidikan, pendidikan anak usia dini, sampai dengan cara-cara pengasuhan/parenting yang terkait dengan keluarga. Dua: sekalian mau ajak main anak saya yang makin aktif aja setiap harinya – ke Gymboree. Sekali dateng, dapet deh 2 tujuan.. :mrgreen:

Nyatanya, di acara yang dihelat pagi sampe siang ini, emang banyak kok info yang bisa didapet. Seperti antara lain anak itu perlu diberi semangat, perlu diberi encouragement agar dia bisa dan berani melakukan sesuatu. Contohnya? Waktu seorang anak belajar untuk merangkak melalui sebuah pipa mainan seukuran tubuhnya. Di awal-awal, mungkin dia masih takut karena akan melalui sebuah “wilayah” yang tak pernah ia lewati, tapi kalo disemangati? Pasti dia bisa. Semacam menanamkan pikiran dan semangat positif. 🙂

Selain itu, ada juga info-info yang begitu fungsional seperti pengulangan minimal agar bayi/anak mengerti apa yang dimaksudkan dari kedua orangtuanya. Ada yang bisa nebak berapa kali? Di acara ini, jawabannya adalah 16x. Tentunya, itu juga berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan. Eh btw, info-info ini disampeinnya sama Mbak Linda, dari Gymboree Indonesia.

Segitu aja infonya? Iya, kurang lebih sih segitu yang saya ikutin. Soalnya setelahnya, anak saya minta gantian ditemenin main di arena bermainnya Gymboree. Mau tau serunya? Liat aja beberapa foto di bawah ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Seru, ya? Eiya, aktivitas yang dilakuin di Gymboree itu juga ternyata bisa merangsang keberanian dan juga inisiatif anak-anak yang ikutan lho. Buktinya? Anak saya, sekarang di rumah udah mulai bisa ngeberesin mainan-mainannya sendiri dan mulai masukin ke dalam kotak mainannya, sama seperti yang udah dia “pelajari” di Gymboree. Senangnya.. sekali dateng, orangtuanya dapet ilmu, anaknya juga. 🙂

Teman Terbaik Masa Kecil

Desember 12, 2012 § 14 Komentar

Apa ingatan yang masih bisa dikenang saat masih kecil? Permainan? Jalan-jalan? Atau apa? Buat saya, salah satu ingatan/kenangan yang masih bisa diingat saat masih kecil adalah teman terbaik saya.

Biasanya, orang akan menjawab teman terbaik saat masih kecil adalah teman main sebaya. Bisa jadi tetangga, bisa jadi teman sekolah, bisa jadi teman sepermainan. Kalo buat saya, teman terbaik saat masih kecil adalah kakak saya. Yep, my brother Gerald Audy Koesoemadinata.

Aa, begitu saya biasa memanggilnya, memiliki perbedaan umur 4 tahun lebih tua dengan saya. Tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat. Sejak kecil, selain kedua orangtua saya, ialah yang sering mengajak saya bermain. Mulai dari permainan sederhana yang bisa dimainkan di dalam rumah, hingga bermain di luar rumah.

Saya masih ingat, dulu entah umur berapa, ada masanya saya sempat aktif sekali apabila mengetahui akan diajak berjalan-jalan oleh kedua orangtua saya. Saking aktifnya, saya gemar lompat-lompat girang. Dan, entah gimana ceritanya, saya kerap mengajak Aa untuk ikut melompat-lompat yang langsung ia turuti. 😆

Aa juga teman iseng saya. Dulu saat masih di rumah kontrakan yang lebih kecil, saat sore hari biasanya ada 1 orang tukang jualan abu gosok yang lewat depan gang rumah. Setiap kali dia lewat, dia menawarkan dagangannya dengan cara meneriakkan “Abu….” dan, saya beserta Aa akan menjawab “Geseeeekkk…” sambil kemudian tertawa cekikikan bareng dan bersembunyi di bawah jendela.

Salah satu momen lain yang takkan terlupa adalah ketika saya dan Aa berebut majalah untuk dibaca. Jadi, dulu Ayah kami berdua berlangganan majalah Bobo dan Donal Bebek yang dikirim mingguan oleh tukang koran. Seringkali, karena saya pulang duluan dari sekolah maka saya pun baca majalah tersebut lebih dulu. Tapi tak jarang pula, saya lupa untuk membacanya, hingga kemudian saat Aa pulang dan dia teringat untuk membaca, saya dan dia pun berebut. Ada kalanya Aa mengalah untuk membiarkan saya membaca, ada kalanya pula ia membaca duluan, tapi ada kalanya pula ia mengajak saya membaca majalah tersebut bersama-sama.

Selain bermain, Aa juga teman yang bisa berbagi ilmu. Hampir sering sepertinya, saya menanyakan istilah yang saya dapatkan setelah menonton film kepadanya, baru kemudian kepada kedua orangtua saya apabila ia tak dapat menjawabnya. Iya, dulu saat saya masih kecil belum ada Google.

Saya dan Aa juga pernah beberapa kali membuat hasta karya. Salah satu yang saya masih ingat adalah menyusun bangunan dari kartu hingga 5-6 tingkat. Seru rasanya membangun kartu agar tidak rubuh, hingga tingkat tertinggi yang bisa dilakukan. Dan, lebih seru lagi ketika kemudian merubuhkannya.. 😛 hihihi..

My brother is the best childhood friend I’ve ever had. 🙂

Kalo kamu, siapa teman terbaik saat masa kecil?

Senangnya ke #MandiriKarnaval

Oktober 9, 2012 § 9 Komentar

Event besar yang ramai dengan makanan, pasti selalu bisa menarik semut – eh, orang banyak, seperti saya. :mrgreen: Dan, itu pula yang saya lakukan hari Minggu (7 Oktober) kemarin ke acaranya #MandiriKarnaval Nusantara yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri di Parkir Timur, Komplek Olahraga Senayan, Jakarta.

#MandiriKarnaval sendiri dilaksanakan dalam rangka ulang tahun ke-14 Bank Mandiri tanggal 2 Oktober 2012 lalu. Saya pun tahu ada event ini, setelah “diberitahu” oleh Mbak Eny Firsa. 🙂 Yasudah, kebetulan untungnya itu week end, dan saya juga emang ga ada agenda lain, datanglah saya ke sana, mengajak istri dan baby saya, plus mertua.

To be honest, booth makanan yang begitu banyak dengan harga yang 50% lebih murah adalah daya tarik utama saya pergi ke #MandiriKarnaval. Kapan lagi coba, bisa dapetin begitu banyak booth makanan “bermerek” yang bisa dinikmati di satu tempat, ditambah lagi diiringi musik-musik seru dari beberapa band top macam Nidji dan Maliq and d’Essentials? Itulah yang saya lakukan sejak datang #MandiriKarnaval sekitar jam 10an pagi lewat kemarin ituh.

Cissy – baby saya, begitu turun dari taksi di tempat #MandiriKarnaval langsung bangun setelah tertidur di taksi. Suara-suara gaduh dari panggung dan juga perubahan suasana dari dalam taksi dengan kondisi luar yang bikin dia kebangun. Liat-liat bentar beberapa booth di depan, saya pun langsung cari meja sementara istri sambil gendong baby keliling liat-liat beberapa booth makanan bersama mertua dengan membawa e-toll card yang sudah berisikan saldo lebih dari cukup. Eiya, semua transaksi di #MandiriKarnaval itu, pake e-toll card Mandiri dan juga Kartu Mandiri.

Nah, sambil cari meja dan kursi kosong, ga taunya ketemu @Rhesya yang lagi ke #MandiriKarnaval juga sama Joe. Di dekatnya juga kebetulan ada meja kosong, jadilah saya pun nunggu istri-baby dan mertua di meja situ.

Di sekitar meja makan yang penuh ada LCD gitu buat nonton penampilan di panggung

Sekitar beberapa menit kemudian, istri-baby dan mertua saya pun datang sambil bawa makanan yang udah dibeli. Pempek Abing, itu makanan pertama yang saya icip di #MandiriKarnaval. Rasanya? ENAAAAAKKK!!! Akhirnya, saya bisa makan pempek lagi setelah sejak 2-3 bulan sebelumnya kepengen banget makan pempek (tapi ga dapet-dapet). Harganya? Udah pasti dong, 50% lebih murah! (tapi saya lupa berapa saking senengnya bisa makan pempek)

Pempek Abing

Dan ternyata, Pempek Abing itu baru pembukaan doang. Setelahnya makan Sate Ayam RSPP! Seporsinya kalo ga salah 9ribu doang deh. Dan, itu tuh ENAK! Tapi saya cuman ngicip aja sih, karena strategi saya kalo di event macam #MandiriKarnaval itu ya… makan jangan buru-buru banyak. Kan, pilihannya banyak. :mrgreen:

Sate RSPP

Setelahnya, saya pun cari makanan lain. Yakni Sate Padang Ajo Ramon! Harganya “cuma” 8500 doang seporsinya. Enak juga ini sate padangnya! Kali ini, sate padangnya saya abisin dan ga cuman icip-icip. 😛

Sate Padang Ajo Ramon

Oiya, berhubung saya ke sana bareng istri-baby dan juga mertua, tentunya makannya pun harus gantian belinya karena seleranya beda-beda. Tapi ya… sepanjang di sana sih, saya perhatiin istri dan mertua saya senangnya bukan main. Gimana enggak, wong bisa makan dengan begitu banyak pilihan di satu tempat! Oiya, baby saya pun keliatannya senang dibawa ke #MandiriKarnaval itu. Keliatan aja dari perilaku dia yang selalu pengen digendong berdiri supaya bisa tolah-toleh sana-sini – banyak yang diliat, senyum-senyum, plus lagi dia juga ga berhenti ngoceeehhh.. :’)

Cissy just can’t stop smiling.. :’)

Ah, senangnya ke #MandiriKarnaval ini. Selain banyak makanan, juga ada atraksi musik di panggung dari band-band ternama, plus yang bawa anak-anak pun ada tempat buat main-mainnya. Pokoknya, yang ke #MandiriKarnaval bareng keluarga pasti seneng deh semua anggota keluarganya! Soalnya seru!

Btw, selain ada #MandiriKarnaval di Parkir Timur Senayan, di dekatnya juga ada #PasarIndonesia (masih dari Bank Mandiri) di JCC lho. Seru banget deh..

Kapan ya, bakal ada #MandiriKarnaval lagi? *mendadak lapar karena kebayang sate padang ajo ramon lagi*

aku dan keluargaku

September 14, 2009 § 21 Komentar

*postingan ini ga bermaksud SARA. saya cuman mau unjukin soal saya, dan keluarga saya.*

cuman sedikit orang yang tau, kalo saya masih punya darah keturunan orang daratan tionghoa. ga bermaksud sombong ya, tapi emang gitulah kenyataannya. bahkan, kalo denger dari ceritanya orangtua dan juga nenek dari ayah saya, katanya kakek atau mungkin ayahnya kakek saya dari pihak ayah, masih orang asli daratan sana. dan, dulu juga namanya masih nama2 asli tionghoa, yang ada marganya, dan bukannya nama naturalisasi.

nah, kalo yang merhatiin fisik sih, mungkin bakal bisa nebak. yah, meski warna kulit saya gelap seperti orang2 Indonesia kebanyakan, tapi ada beberapa ciri fisik yang ga bakal ilang karena faktor keturunan tionghoa ituh. hihi.. saya geli banget, coz banyak orang yang percaya jadinya.. berasa aneh.. tapi yah, emang itulah kenyataannya.. 😀

ciri fisik yang masih keliatan jelas adalah, mata saya yang sipit. kecil. kalo lagi ketawa, bisa jadi keliatannya lagi merem. beberapa orang bahkan bilang kalo saya ga bisa melotot. karena, kalo saya melotot sama aja kaya’ meleknya orang2 umum. huahahaha.. geli sangat dah poko’e!

nah, itu soal saya. beda lagi sama keluarga saya. yang dimaksud di sini adalah, keluarga besar saya dari pihak ayah saya ituh. yang masih ada keturunan tionghoa itu loh – keluarga besar Koesoemadinata. 😉 yah, bisa dibilang keluarga besar Koesoemadinata adalah keluarga yang unik dan kaya’ nano-nano, penuh warna-warni yang Indonesia banget deh! kenapa? ikutin secara lengkap postingan ini ya.. 😉

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with keluarga at i don't drink coffee but cappuccino.