Living Smart & Enjoying Pure Sound

April 25, 2015 § Tinggalkan komentar

Dulu, definisi hidup yang cerdas buat saya adalah yang bisa bedain antara kerjaan dan bukan kerjaan. Iya, jadi udah disekat masing-masing. Kerjaan ada waktu dan tempatnya, bukan kerjaan — keluarga, kuliah atau hobi, ya ada waktu dan tempatnya juga. Masing-masing. Spesifik.

Tapi seiring perkembangan jaman, hidup cerdas kayanya ga lagi soal bagi-bagi dan punya sekat masing-masing. Karena justru hidup kerjaan dan bukan kerjaan makin melebur. Ga lain ga bukan karena hadirnya teknologi. Salah satunya lewat smartphone android.

Smartphone android atau android smartphone kurang lebih membantu meleburkan batasan antara kerjaan dan bukan kerjaa. Bahkan, meleburkan setiap aspek kehidupan. Lagi di rumah, bisa aja ngurusin kerjaan atau hobi. Lagi di hobi, bisa jadi menjalin komunikasi dengan teman lama. Dan banyak lagi contohnya. Makanya, saya butuh smartphone yang mumpuni. Dan kaya’nya vivo X3S bisa menjawab kebutuhan itu.

Dengan layar yang lebar dan FuntouchOS — pengembangan khusus dari OS android, vivo X3S saya yakin dapat membantu saya dalam mengelola hidup saya yang makin melebur batasan-batasannya. Yang paling keliatan dari fitur utamanya dulu: yakni Hi-Fi audio. Dengan fitur itu, sambil kerja atau di jalan menuju pekerjaan, saya bisa menikmati musik yang saya setel dari device dengan kualitas yang keren. Hi-Fi sendiri adalah singkatan dari High Fidelity yang kurang lebih berarti kualitas audionya mendekati sempurna. Para audiophile mungkin lebih paham soal Hi-Fi ini.

Selain itu, kameranya yang ada 2: depan 5 MP dan belakang 13 MP juga bakal ngebantu saya jalanin hobi buat ambil foto snapshot atau foto candid gitu setiap saat. Anti lemot juga pastinya, karena prosesornya udah 1.7GHz octa core. Jadi selain gampang ambil foto dan proses foto pake aplikasi yang didownload dari google playstore, pastinya kekuatan prosesor segitu bisa bantu saya juga buat ngecek kerjaan. Baik itu pake aplikasi tambahan ataupun online.

Kalo mau tau lebih jauh soal produknya, bisa dicek aja ke sini. Keren ya? Kalo punya pasti saya bisa living smart karena dibantu gadget yang cerdas juga bisa lebih menikmati keseharian ditemani musik dan audio yang mumpuni.

*mudah-mudahan bisa punya suatu saat nanti*

NB: Kalo mau tau lebih banyak soal vivo, mereka lagi bikin lomba blog berhadiah vivo X3S lho. Cara ikutannya bikin blogpost seperti yang saya buat ini. Cek infonya lebih lengkap di sini.

#KnowledgeIsPower: Baca Banyak – Banyak Baca di Satu Tempat with Kurio

November 10, 2014 § 12 Komentar

Ada berapa website berita atau favorite-based yang kamu ikutin? Saya pribadi, ada banyak. Hampir semua website berita nasional (di Indonesia dan berbahasa Indonesia) saya ikutin dan baca hampir setiap harinya. Ga cuman baca di website langsung via desktop, tapi juga via aplikasi yang diinstal di ponsel cerdas saya. Selain itu website favorite-based berdasar topik atau interest yang saya ikutin ga sedikit, yang saya umumnya ikutin apdetannya via publikasi konten mereka di RSS feed atau timeline twitter-facebook-google+ saya.

Singkat kata: banyak (banget). Silakan komentar

Kenapa saya baca banyak banget seperti itu? Karena siapa tau ada info yang berguna. Siapa tau info tersebut bakal kepake suatu hari nanti. Siapa tau, info tersebut bakal saya perluin suatu saat nanti. Siapa tau juga, bisa bikin saya keliatan lebih keren karena berwawasan luas. *halah* :mrgreen: Anyway, landasannya sebenernya pemahaman saya betapa pengetahuan yang luas itu bisa menjadi sebuah kekuatan tersembunyi. 🙂

Back to topic, sehubungan dengan banyaknya website yang saya baca/ikutin, kadang saya suka lupa waktu. Udah waktunya tidur malam, eh masih aja baca-baca. Kadang udah waktunya siap-siap berangkat kantor, eh ya masih aja baca-baca. Dan, waktu yang kepake buat baca-baca itu lebih karena susahnya pindah dari satu website ke website lainnya. Karena kepisah-pisah gitu deh. Kadang walau udah bookmark, jadi lupa juga websitenya yang mana. 😆

Nah, buat ngurangin waktu yang kebuang karena pindah-pindah itu, akhirnya saya nyadar kalo saya butuh aplikasi atau reader yang bener-bener sesuai sama saya. Ga melulu harus saya yang nge-add website berita/konten yang saya suka, tapi juga nawarin sesuatu yang baru buat saya sebagai pembaca dan penggunanya. Syukurnya, saya pake ponsel pintar yang artinya saya bisa punya banyak pilihan aplikasi buat kebutuhan itu. Salah satunya adalah Kurio.

Kurio homepage

Kurio homepage

Yep, Kurio. Smart news app. Discover, explore, and read the content you care about all in a single app. ~ begitu tulisan di websitenya.

Sejak nginstal Kurio di ponsel cerdas saya sekitar sebulan yang lalu, lumayan lah saya kebantu buat baca-baca banyak website dan konten yang saya suka. Kenapa? Karena hampir semuanya tersedia di Kurio. Bahkan sesuai yang saya bilang sebelomnya, Kurio juga nawarin konten di topik yang baru buat saya sebagai pembacanya. Trus kalo ga suka, ya tinggal diilangin aja. Simpel. Bisa diatur di setting kok.

Contoh penggunaan Kurio di gadget saya

Contoh penggunaan Kurio di gadget saya

Dan, berkat Kurio-lah pengetahuan saya jadi lebih banyak. Karena saya baca banyak, dan banyak baca di satu tempat. Karena waktu yang semula habis buat ganti-ganti aplikasi atau pindah browser/URL, jadi ilang kan? 🙂

NB: soal review penggunaan aplikasi, bakal saya muat (kalo ga lupa) di postingan lain.

Tempat Kopdar Paling Seru di Jakarta: Menurut Gue

Desember 10, 2013 § 12 Komentar

Planetarium! *nyebut Planetarium buat jawab judul 😛 *

Gedung Planetarium Jakarta (dilihat dari sisi barat)

Gedung Planetarium Jakarta (dilihat dari sisi barat)

Sebagai salah satu lokasi yang jadi lokasi wajib kunjung buat para penggemar langit – astronomi, ilmu bintang, atau bahkan edukasi mengenai luar angkasa, Planetarium juga cocok buat jadi tempat kopi darat (kopdar) yang seru! Ralat, khusus buat blogpost ini, Planetarium itu tempat kopdar PALING SERU di Jakarta. :mrgreen:

Kenapa? Nih.. begini ya.. « Read the rest of this entry »

Siapa Mau Tinggal di Sinar Mas Land?

November 26, 2013 § 7 Komentar

Pertengahan tahun 2004 saya hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Di saat itu saya masih “hijau” akan Jakarta dan sekitarnya. Bisa dibilang, salah naik bus atau baru pertama kali naik bus ke jurusan yang baru saja, saya akan ketakutan setengah mati akan nyasar dan ga bisa pulang. Maklum, ada semacam “culture shock” yang saya alami dengan perpindahan dari sebuah kota madya ke kota metropolitan.

Berkat pindah ke Jakarta pula saya mulai sering mendengar mengenai Sinar Mas Land. Pada waktu itu, beberapa teman kampus saya ada yang tinggal di Serpong, Tangerang, Depok, Bogor, dan Bekasi. Saya sendiri yang masih “hijau” akan Jakarta, hanya bisa manggut-manggut ketika mereka berbicara mengenai kawasan-kawasan seperti BSD City, Grand Wisata, Legenda Wisata, dan lain-lain yang menjadi proyek hunian dari Sinar Mas Land.

Moda transportasi yang beragam, kawasan perumahan yang tertata, kawasan pelayanan terpadu, adalah sebagian dari konsep kawasan yang jadi salah satu model hunian impian saya. Dan itulah gambaran yang saya dapatkan dari cerita-cerita mengenai Sinar Mas Land.

Berkat penasaran dan ingin tahu lebih jauh, saya pun coba mengunjungi sendiri kawasan terpadu yang masih grup dari Sinar Mas Land. Saya mengunjungi BSD City & Legenda Wisata sebagai dua dari sekian banyak proyek hunian yang dikembangkan oleh Sinar Mas Land. Ternyata benar seperti cerita yang telah saya dengar, kawasan-kawasan tersebut merupakan kawasan terpadu: ada hunian, tempat belanja kebutuhan sehari-hari, akses transportasi (jalan raya, jalan perumahan, maupun juga shuttle bus), hingga sekolah, taman bermain, dan area terbuka hijau.

Peta BSD City - contoh pengembangan kawasan hunian terpadu milik Sinar Mas Land

Peta BSD City – contoh pengembangan kawasan hunian terpadu milik Sinar Mas Land

Kota satelit – kalo merujuk istilah yang saya pelajari sewaktu sekolah dulu. Adalah sebuah kota yang berada di sekitar kota utama, namun memiliki fasilitas-fasilitas mandiri yang membuat warganya tak selalu tergantung kepada kota utama. Proyek-proyek hunian: residensial maupun kawasan dari Sinar Mas Land menurut saya berjenis kota satelit ini.

Salah satu hal yang patut dicermati dari kota satelit – kawasan terpadu di Sinar Mas Land ini adalah.. kualitas kehidupan dari para penduduknya. Seperti sudah diketahui, masih di dalam satu kawasan hunian saja, seluruh kebutuhan dapat terpenuhi. Sudah hampir dapat dipastikan, warganya akan lebih kecil risiko dari stress, terhindar dari kemacetan tak perlu, serta diliputi rasa aman.

Bisa dibayangkan jika menjadi penduduk dari kawasan terpadu Sinar Mas Land itu, kegiatan hariannya apabila tak ke kota utama adalah bangun pagi disuguhi matahari cerah dan kawasan terbuka, lalu ke pusat perbelanjaan atau mengajak main keluarga, atau mengantar ke pusat pendidikan seperti sekolah dan universitas. Ga perlu takut nyasar karena salah bis. Ga perlu juga bermacet-macet ria di perjalanan jauh. Hidup rasanya lebih tentram.

Saya sendiri, sebagai warga ibukota Jakarta punya mimpi untuk memiliki properti di kawasan terpadu Sinar Mas Land. Bukan sekadar untuk “menyingkir” dari ibukota, melainkan juga untuk mendapatkan best living moment bersama keluarga. Jadi, kalo ditanya “Siapa mau tinggal di proyek huniannya Sinar Mas Land?” Saya pasti bakal (ikutan) jawab “SAYA MAU!”

Kalo kamu, mau ga tinggal di proyeknya Sinar Mas Land?

NB: blogpost ini tengah saya ikutsertakan di Sinar Mas Land Writing & Photo Contest 2013.

Geocell: Si Tangguh Penahan Beban

November 17, 2013 § 1 Komentar

Minggu yang lalu saya melakukan kurang lebih 4 kali perjalanan jarak jauh dari Jakarta. Bandung dan Tasikmalaya, adalah kota-kota yang saya kunjungi. Mau tak mau, karena saya bukan konglomerat yang punya pesawat pribadi, alhasil saya pun menggunakan jalan darat melalui jalan raya dan jalan tol, karena mau naik kereta api, agak khawatir sama jadwalnya yang bisa mendadak ngaret.

Sepanjang 4 kali perjalanan jarak jauh itu, mau tak mau saya merasakan berbagai macam kondisi jalanan. Dari jalan lurus, berkelok, mulus, hingga berlubang-lubang, dan perbaikan! Bayangkan, di saat musim hujan seperti ini, masih saja ada perbaikan jalan yang memakan beberapa ruas jalan sehingga mengakibatkan perjalanan sedikit terhambat. Belum lagi, jalan berlubang yang cukup berbahaya apabila dalam atau pengemudi kendaraan kurang lihai sehingga terjerembap yang bisa menyebabkan kerusakan minor pada kendaraan.

Perbaikan pada jalan raya, maupun juga jalan bebas hambatan (jalan tol) menurut saya pribadi bisa dikurangi frekuensinya atau bahkan dihindari sama sekali. Nah, salah satunya pasti dengan menggunakan produk teknologi terkini. Salah satunya adalah geocell – seperti yang pernah saya sebutkan di blogpost saya sebelumnya.

Yups, di salah satu paragraf saya sebutkan bahwa Geocell lebih sering digunakan dalam pembuatan lapisan jalan raya. Berhubung saya penasaran, maka saya pun cari tahu lebih banyak soal ini. Berdasar info dari salah satu kenalan saya – David Mulyono, Geocell ini bisa nambah dan bikin stabil daya dukung pada struktur tanah yang lemah, secara efektif dan long term. Selain itu, Geocell juga bisa mendistribusikan beban lateral secara merata pada tanah yang daya dukungnya rendah. Sederhananya, beban terbagi rata, sehingga tidak ada potensi amblas pada salah satu titik. Kebayang dong, jalan raya atau jalan tol dilewatin mobil truk angkut, trus macet. Kalo udah gitu dan sering, titik-titik tertentu di jalan raya bisa amblas atau rusak. Atau lapangan parkir terbuka tuh, kadang suka ketemu kan titik-titik yang mulai amblas ke dalam tanah karena keseringan jadi tumpuan ban mobil. Nah, kalo pake Geocell tentunya areal parkir lebih rata dan ga bakal amblas.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Lebih lanjut, saya kemudian jadi tahu kalo Geocell juga bisa ngejaga pergerakan tanah secara horizontal maupun juga vertikal. Hal ini tentu berguna banget pada aplikasi Geocell di pembuatan lapisan jalan raya, maupun juga buat dinding sungai penahan erosi seperti yang udah saya tulis di blogpost sebelumnya. Dipikir-pikir, seru juga teknologi Geocell ini kalo diterapkan di seluruh aspek pekerjaan umum seperti pembangunan jalan raya – terutama pembangunan jalan raya baru, jalan tol baru, atau perbaikan jalan yang sudah rusak. Tentunya, bikin sekali bagus di awal dan kemudian awet, bakal lebih mempermudah pekerjaan selanjutnya kan karena maintenance untuk merawat agar tetap berfungsi baik tentunya lebih murah ketimbang tambal sulam – berkali-kali secara berkala. (perbaikan jalan rutin itu ya aneh menurut saya sih)

Geocell sebagai salah satu inovasi ilmu pengetahuan teknologi terkini, sudah seharusnya jadi jalan keluar bagi perihal pekerjaan umum. Bukan cuman pekerjaan perbaikan, melainkan juga permulaan untuk pekerjaan umum yang baru. Karena aplikasi dari Geocell ini tak hanya bisa diterapkan pada jalan raya, tapi juga bisa diterapkan pada pondasi jalur kereta api, pondasi jalur pipa, dan lain-lain. Ga salah kan kalo kemudian Geocell ini disebut sebagai si tangguh yang dapat menahan beban.

Kalo penasaran sama Geocell ini, selain bisa ditanya-tanya lebih jauh sama Litbang Kementerian PU, juga bisa sama David Mulyono ini lho..

Jadi penasaran, Geocell ini bisa diterapkan buat pekerjaan pembangunan kompleks hunian gitu juga ga ya?

NB: Blogpost ini tengah saya ikutsertakan pada Sayembara Penulisan Blog 2013 Balitbang PU, Kementerian Pekerjaan Umum, Republik Indonesia.

Totalitas Dimulai Sejak Awal

Oktober 1, 2013 § 11 Komentar

Jelang Pentas oleh Albertus Widi di Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. klik untuk info lebih lanjut

Jelang Pentas oleh Albertus Widi di Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. klik untuk info lebih lanjut

Salah satu ajaran yang cukup saya ingat dari Ayah saya adalah, perlunya totalitas dalam melakukan sesuatu. Singkatnya, jangan tanggung. Kalo sudah niat buat melakukan sesuatu, ya lakukan sepenuh hati dari awal sampe akhir.

Salah satu hal yang perlu dilakukan dengan totalitas adalah persiapan yang mencakup perencanaan. Perencanaan yang baik, tentu akan membuat kita lebih yakin dan sepenuh hati – total dalam menjalankan sesuatu, sehingga tak ada keraguan.

Gagal dalam perencanaan sama artinya dengan berencana untuk gagal.

Sebagian orang mungkin akan memandang skeptis tentang totalitas, terutama sejak awal. Buat apa total sejak awal, toh nanti pada pelaksanaan pasti ada faktor X yang mempengaruhi. Yep, pendapat seperti itu tak jarang saya temui.

Totalitas sejak awal buat saya sama artinya dengan membangun fondasi yang kuat untuk melakukan sesuatu. Ibarat sebuah rumah, fondasi yang terencana dengan baik karena totalitas, akan membuat rumah tersebut tahan lama. Kelak, jika diperlukan beberapa penyesuaian terhadap rumah tersebut, maka fondasi tersebut takkan perlu diubah banyak karena sudah tentu menjadi penyokong yang kuat.

Lain lagi jika diibaratkan sebuah pertunjukan, maka totalitas sejak awal dapat dicontohkan pada memperhatikan detail hingga membuat beberapa pilihan skenario jalannya acara. Pada pertunjukan seperti wayang orang dan juga teater, totalitas sejak awal dapat dilihat secara jelas pada persiapan kostum, make up, hingga konfirmasi ulang mengenai susunan kemunculan seorang tokoh atau pergantian babak.

Mungkin susah untuk memulai totalitas sejak awal, namun itu bukan berarti hal yang mustahil dilakukan. Apabila dilatih untuk dijalankan berkali-kali, maka kelak sikap tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan. Sebuah sikap yang menunjang proses pembangunan karakter untuk menjadi lebih baik.

Menurut kamu gimana?

NB: Blogpost ini tengah saya ikutsertakan pada Blogging Competition Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

Menikmati Hening

September 25, 2013 § 8 Komentar

“The Stupas of Borobudur” photo by Prihanda Muhardika di website Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. – klik foto buat info lebih lanjut

Suara, sebuah objek yang bisa dirasakan oleh indra pendengar manusia. Sebuah objek yang lazimnya diciptakan oleh benda-benda yang beradu, ataupun mengisi kekosongan. Sebuah objek yang bisa menjadi sebuah kerinduan di dalam kesepian, maupun juga sebuah pengganggu jika terlalu banyak yang didengarkan.

Lazimnya, manusia hidup dengan selalu dikelilingi suara, karena fitrahnya manusia adalah untuk mendengar, sebagai salah satu bagian dalam menggunakan panca indra. Namun, ada beberapa waktu yang justru butuh kondisi di mana suara-suara dikesampingkan. Hening. Untuk kemudian dinikmati. Atau mungkin juga, menjalani hening agar dapat berpikir lebih jernih. Tentang hidup, tentang sehari-hari, tentang ciptaan Tuhan, tentang bersyukur.

Buat saya pribadi, konsep menikmati hening perlu diterapkan dalam sehari-hari. Setidaknya, sebagai penyeimbang. Tujuannya? Sudah jelas, supaya dapat berpikir lebih jernih, supaya lebih cermat terhadap sebuah perihal, supaya lebih fokus. Pelaksanaannya sendiri, bisa setiap saat dan tak perlu lama. Walau begitu, waktu yang paling pas buat menikmati hening bagi saya adalah ketika malam menjelang pagi.

Ketika sebagian besar makhluk hidup masih beristirahat, dan sebagian lagi sedang bersiap-siap untuk menyongsong hari dengan kesibukan di tempat masing-masing, saat itulah – bagi saya – keheningan yang paling nikmat. Saat itu pula sepertinya tepat bagi saya untuk mencari pemecahan berbagai tantangan yang sedang saya jalani, membuat beberapa rencana, hingga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dan, bagi saya pribadi pula, konsep menikmati hening ternyata telah mengakar di dalam sejarah dan budaya Indonesia – terlepas dari agama, kepercayaan, dan atau sikap politik. Menikmati hening yang juga bisa diartikan sebagai bentukan meditasi, telah tercermin melalui patung dalam stupa-stupa di Candi Borobudur di Jawa Tengah, Indonesia. Dengan posisi mengelilingi candi di setiap lantai, patung-patung tersebut menghadap ke lingkungan sekitar, dalam posisi duduk yang bisa dianggap sebagai meditasi. Yang ketika dipikirkan lebih jauh, patung tersebut sedang dalam posisi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dalam hening, dengan mengamati lingkungan sekitar.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Salah satu patung di deretan stupa di Candi Borobudur, foto diambil oleh saya sendiri pada periode Februari 2008.

Dari Candi Borobudur itulah, saya belajar bahwa pencapaian terbesar bagi seorang manusia bukanlah tentang memiliki kekuatan yang mendekati atau lebih besar daripada Penciptanya. Pencapaian terbesar manusia, adalah tentang mengakui kebesaran Sang Pencipta yang salah satu perwujudannya adalah membuat mahakarya yang mencerminkan keagungan Tuhan.

Menurut kamu, gimana?

NB: Tanpa mengurangi kandungan isi, blogpost ini tengah diikutsertakan dalam blogging competition yang menjadi bagian dari Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with lomba at i don't drink coffee but cappuccino.