“Rekap” Sebulan Kemarin

Juni 6, 2012 § 8 Komentar

Ada yang pernah bilang ke saya, masa-masa awal bayi lahir itu masa-masa paling melelahkan. Buat saya, ucapan tersebut ada benarnya, meski akan lebih benar kalau disebut masa-masa awal dari pengalaman menakjubkan! 🙂

Karena belakangan ini sepertinya saya sulit menemukan waktu untuk ngeblog, jadilah satu blogpost ini saya buat sebagai “rekap” kejadian sebulan kemarin. Yang akan menjadi inti ceritanya tentu saja adalah mengenai kehadiran putri saya.

Oiya, sebelum lebih jauh, sudah tau kan anak saya bersama istri adalah bayi perempuan? Nama panjangnya tak perlu tau ya.. cukup perlu tau nama panggilannya aja ya.. yaitu, Cissy. 🙂

Jadi, sebulan kemarin saya dan istri menyesuaikan dengan kehadiran Cissy di tengah-tengah kami. Yang semula tidur berdua aja, sekarang tidurnya bertiga. Yang semula bangun dan tidur bisa di jam berapa saja, sekarang justru bisa terbangun dan tertidur di jam berapa saja. 😆 dan masih banyak lagi.. Tapi, itu semua seru kok! 🙂

Bagi-bagi tugas pekerjaan rumah tangga, bagi-bagi waktu dan giliran untuk ngasuh/jagain Cissy, sampai kemudian mulai ngajak Cissy untuk keluar rumah, imunisasi, gantiin baju, dll. Semuanya jadi pengalaman seru di sebulan kemarin. Apalagi, Cissy juga makin bertambah usianya, makin menggemaskan. Yang semula jarang tersenyum, hingga sering tersenyum kala tidur, dan kemudian tersenyum saat sedang bangun. :’)

Oiya, saya pribadi punya satu proyek pribadi yang saya lakukan sejak hari pertama Cissy hadir di tengah-tengah keluarga kecil saya. Yakni, proyek untuk 1 hari (minimal) 1 foto Cissy. Entah itu sedang tidur, sedang bangun, sedang di kasur, sedang digendong, pokoknya saya mengabadikan (minimal) 1 foto setiap harinya. Alasannya? Ya.. yang pasti supaya saya bisa tau perkembangan Cissy setiap harinya, serta ga ketinggalan satu momen pun. Mudah-mudahaaaaannn… 🙂

Anyway, kalo ada yang pengen tau dan liat foto-fotonya Cissy, maaf aja sementara ini ga selalu saya share. Kalopun saya share, ga saya share semuanya. Tapi ya.. beberapa kali foto Cissy muncul kok di timeline twitter saya. 🙂

Simpulannya.. jadi seorang Ayah itu SERU BANGETS!

Some of Best Moments in Life…

Mei 3, 2012 § 17 Komentar

Kapan aja momen-momen terbaik dalam hidup kamu? Atau, jangan-jangan kamu ga tau kalo kamu udah ngalamin momen-momen terbaik itu? Ga nyadar gitu? Well.. itu ga salah. Karena, kadang kita baru ngeh sebuah momen itu terbaik atau paling super, ya.. setelah kelewat dan atau diingetin sama orang lain.

Tapi, ada caranya supaya nyadar sendiri tentang momen-momen terbaik itu? Jelas ada. Yakni, dengan “sedikit” menikmati setiap saat dalam hidup, dan juga mungkin dengan merenung. Buat saya pribadi, cara yang pertama lebih ampuh dan lebih sering saya lakukan, karena efeknya bisa sangat membantu dan membangkitkan semangat. Meski ga menutup kemungkinan saya juga perlu merenung dan baru kemudian menyadari, “Oh, itu tadi momen terbaik ya..” 🙂

Beberapa momen terbaik dalam hidup saya antara lain:

  1. Bisa ranking 1 (meski cuman waktu SD), dan bikin orangtua saya senang.
  2. Bisa masuk sekolah unggulan.
  3. Lulus SMA dengan nilai kelulusan cukup bagus.
  4. Wisuda dan dapat gelar Ahli Madya.
  5. Foto bareng orangtua, dan saudara kandung saya.
  6. Menikah.
  7. Kelahiran anak saya.
  8. Dan masih banyak lagi momen-momen lainnya…

Khusus untuk nomer 7, kelahiran seorang anak menjadi istimewa karena ia adalah keturunan saya dan istri, serta sekaligus merupakan pengalaman yang benar-benar mendebarkan. Anyway.. setelah proses kelahiran, juga terdapat momen terbaik lainnya dengan sang anak. Terutama, setiap pagi sebelum berangkat kerja, dan malam setelah saya pulang kerja.

Setiap pagi sebelum kerja, salah satu momen terbaiknya adalah ketika memandikan anak saya. Begitu terlihat bahwa ia adalah bayi yang mungil, dan harus dilindungi dengan telaten sampai seterusnya. Mengajaknya berbincang agar ia mau mandi, sampai kemudian memakaikan pakaian untuknya.

Sementara itu, sepulang kerja salah satu momen terbaiknya adalah ketika selesai bersih-bersih, kemudian menggendong sang anak. Rasanya segala perasaan rindu begitu tercurah dan terlepaskan begitu anak saya yang masih bayi tersebut berada dalam pelukan gendongan saya..

Alhamdulillah.. :’)

Ketika Bayi di Kandungan Diajak “Mengobrol”

Desember 28, 2011 § 18 Komentar

Bulan Desember ini, bayi dalam kandungan istri saya sudah masuk lima bulan. Dan, minggu ini kurang lebih usia bayi dalam kandungan tersebut adalah 23-24 minggu. Tepatnya, saya kurang tahu. Tapi kalau menghitung dari terakhir kali menstruasi, ya kurang lebih sebegitu itulah angkanya.

Anyway, yang mau saya tulis di blogpost ini bukan soal usia kandungan tersebut – meski mungkin ada kaitannya. Melainkan, tentang “kebiasaan” baru saya dengan bayi dalam kandungan tersebut. J

Yah, bisa dibilang sejak masuk usia kandungan 18 minggu pada bulan November lalu, istri saya mulai merasakan denyutan-denyutan di perutnya, di sekitar kandungannya. Dan, ketika kontrol kandungan ke dokter, baru diketahui bahwa denyutan-denyutan itu adalah tanda bahwa sang bayi mulai aktif, dengan cara “menendang” perut ibunya (yang tentunya istri saya) dari dalam kandungan.

Tendangan-tendangan bayi dari dalam perut, sudah berkali-kali saya baca dan ketahui dari berbagai tulisan, bacaan, hingga cerita dari teman, keluarga besar, serta orangtua saya sendiri. Tapi, mengalaminya sendiri sebagai seorang Ayah, baru sekarang. Dan, rasanya benar-benar luar biasa, menakjubkan, ajaib, dan terkadang membuat dada saya sesak karena terharu.

Oke, silakan sebut saya lebay, tapi kalo ada yang menjadi Ayah, pasti tahu rasanya. Kalo belum, jangan mudah tertawa, rasakan saja sensasinya sendiri saat nanti. J

Lanjut cerita ke tendangan dari sang bayi, entah kenapa rasa excited itu selalu muncul kalo sang bayi nendang di saat saya lagi megang perutnya. Iya, senang rasanya “ditendang” sama sang bayi saat kebetulan kita memegang perut ibunya, dan atau tahu saat sang bayi nendang. Dan yang lebih seru lagi adalah, ketika sang bayi nendang setelah kita bicara. Entah itu karena dia mengerti dari ucapan kita, atau dia merespon secara acak.

Jadi, kini sebisa mungkin setiap malam sepulang kerja setiba di rumah, setelah cuci tangan-kaki-muka dan mungkin ganti baju, pokoknya sebersih dan senyaman mungkin, saya mengajak sang bayi yang masih di perut istri saya untuk mengobrol. Mulai dari bertanya apa saja yang sudah ia “alami” bersama istri saya di hari itu, apakah ia lapar atau tidak, sudah belajar apa saja, dan masih banyak lagi. Pokoknya, apapun yang bisa saya tanyakan. Dan responnya juga seru, mulai dari tentangan-tendangan kencang-kecil, teratur-tak teratur, hingga bergerak-gerak di dalam perut istri saya. Menakjubkan.

Oiya, selain “mengobrol” sepulang kerja di malam hari, pagi harinya pun kadang saya “menyapa”-nya untuk bangun pagi, mengajaknya solat (sekaligus juga mengajak istri saya tentunya), hingga mengajaknya bangun pagi. Saat wiken pun demikian adanya, bahkan bisa jadi lebih sering karena saya lebih sering bersama istri saya ketimbang hari kerja.

Senang ya rasanya menjadi seorang suami-dan sekaligus calon Ayah. Mudah-mudahan, istri dan bayi di dalam kandungannya sehat dan normal, persalinannya nanti lancar,serta selamat. Amiin..

I may not the best man ever, but I’m doing the best as a man for my wife and the baby, at the moment.

Percaya ga percaya, mata saya berkaca-kaca lho pas nulis blogpost ini.

Demi Istri dan Calon Bayi :)

September 6, 2011 § 9 Komentar

Kalo diinget-inget, sepertinya saya belum pernah bikin blogpost tentang kehidupan saya setelah menikah. Tapi ya, setelah didesek diminta sanasini, akhirnya ya.. saya coba deh bikin lewat satu postingan ini.

Jadi, setelah menikah pada bulan Maret lalu, saya pun menjalani kehidupan yang baru sebagai suami sekaligus kepala keluarga. Banyak hal baru yang dipelajari, dilaksanakan, dan juga dicari penyelesaiannya – apabila menjadi sebuah permasalahan. Dan ya, seperti kebanyakan orang bilang, menikah itu 5%-nya aja yang enak, 95% sisanya ENAK BANGET! :mrgreen:

Sebenernya, sejak menginjak jam pertama sampai saat postingan ini ditulis, banyak banget hal-hal seru yang udah kejadian. Walau pada saat terjadinya bisa jadi sebel bin kesel, tapi ya.. kalo diinget-inget sekarang, rasanya geli sendiri gitu. Contoh paling gampangnya adalah, mobil yang saya sewa dan pake buat transportasi utama dari dan ke KUA, mengalami masalah starter sehingga gak bisa nyala saat mau pulang setelah selesai akad nikah! 😆

Dan, yang paling apdet adalah kemarin sore, tepatnya Senin sore (5 September 2011) lalu..

Jadi ceritanya, syukur Alhamdulillah sejak bulan Agustus lalu istri saya sudah menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dan, setelah berkali-kali tes menggunakan testpack yang dibeli dari apotik, pada akhir Agustus lalu saya pun mengantar istri untuk cek ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit. Hasilnya sama, positif hamil beberapa minggu.

Rasa senang tentu langsung menyelimuti. Namun kemudian, perasaan sedikit khawatir pun timbul karena berarti istri (calon ibu) harus benar-benar dijaga, terutama kesehatannya. Harus benar-benar mengonsumsi makanan yang bergizi, serta tak boleh terlalu lelah beraktivitas. Alhasil, tambahan gizi seperti susu dan juga buah-buahan pun sedikit ditambah, selain menu karbohidrat, protein, dan vitamin yang sehari-hari telah dimakan. Dan yang ga kalah penting, menuruti ngidamnya istri.

Singkat cerita, setelah beberapa kali ngidam, Senin kemarin pun istri ngidam. Sekitar jam 4.30 sore, istri menelepon saya, meminta untuk dibelikan gado-gado lengkap dengan telor, dan tanpa lontong. Alhasil, saya pun menyanggupi untuk membelikan sepulang kerja pada jam 5 sore.

Telepon ditutup, dan saya langsung mikir keras. Di mana kira-kira bisa beli makanan gado-gado lengkap dengan telor di hari yang sudah sore seperti itu? Apalagi, di jam-jam pulang kantor, yang sepertinya sulit untuk menjangkau daerah-daerah yang jauh. Pastinya, saya cuma bisa menjangkau daerah dekat-dekat kantor, sepanjang jalan menuju rumah, serta daerah dekat rumah, ‘kan? Alhasil, setelah bertanya lewat twitter, koprol, serta beberapa teman sekantor, akhirnya dapat bayangan harus ke mana saja mencarinya. Yakni Pancoran Barat, Perdatam, Kalibata, Pejaten, Pasar Minggu, Rancho, hingga Lenteng Agung.

Kira-kira jam 5 lewat, dengan penuh semangat saya pun pulang kantor. Kalibata menjadi tujuan utama saya. Pancoran Barat dan Perdatam saya lewatkan, karena selain saya tidak menguasai jalanan daerah sana, juga karena saya berpendapat bahwa jika di Kalibata tidak ada, saya bisa segera mengejar ke tempat lain yang searah pulang lebih cepat.

15 menitan perjalanan saya dari kantor di sekitar Pancoran, sampai di Kalibata. Engga, ga ngebut. Itu perjalanan standar dengan kecepatan rata-rata 30-50 km/jam dengan motor. Sedikit terbantu juga dengan jalanan yang belum begitu ramai. Dan, begitu sampai di Kalibata, saya langsung menuju pusat jajanan yang ada di parkiran seberang TMP. Sedikit celingak-celinguk, ternyata ga ada tukang jualan gado-gado. Ga pake lama, saya langsung tancap gas buat ke lokasi berikutnya: Pasar Minggu.

Lokasi Pasar Minggu seputaran Universitas Nasional, jadi tujuan saya buat cari tukang gado-gado. Alesannya, karena ada kampus/tempat kuliah, pasti ada mahasiswa, dan pasti ada tukang jual makanan yang cukup banyak. Di salah satu belokan, ada satu warung yang di kacanya bertuliskan “Gado-Gado”. Dari jauh, saya sudah melihat dan langsung menuju ke sana. Nyatanya, pintunya tutup dan digembok. Selidik bertanya ke warung sebelahnya, ternyata pemilik warung belum buka karena -sepertinya- belum kembali dari pulang mudik. Jam sudah menunjukkan lewat dari 5:30 sore. Saya pun langsung pergi ke Pejaten.

Lokasi tepat di Pejaten adalah sepanjang jalan menuju Pejaten Village dari arah Universitas Nasional. Pilih lokasi itu, ga laen karena saya takkan terkena macet – karena melawan arus pulang orang-orang, serta banyak pemukiman di sana. Sambil berharap, saya harus ekstra hati-hati mengendarai motor sambil melihat-lihat tukang jualan di sekitar. Hasilnya, nihil. Sampai akhirnya saya pun tiba di dekat jalan masuk Pejaten Village, dan akhirnya saya memutuskan untuk singgah di sana. Waktu sudah menunjukkan jam 5:45 sore.

Setengah berlari, saya segera menuju lantai lower ground Pejaten Village. Seingat saya, dulu pernah ada wilayah dekat akses menuju mushola yang ditempati oleh beberapa “pedagang kaki lima” yang dibentuk seperti cafeteria. Sesampainya di sana, ternyata area tersebut sudah bersih. Tak ada lagi tukang jualan “pedagang kaki lima” itu. Tapi, saya ga habis akal. Karena saya ga mau sampai mengecewakan istri yang tengah ngidam, saya pun menjejakkan kaki ke dalam lift. Lantai 3 jadi tujuan saya.

Kemiri, resto yang memiliki beragam pilihan makanan Indonesia jadi tujuan akhir di lantai 3. Sempet ga pede juga mau ke sana, tapi ya ternyata setelah tanya ke pramusaji di sana, ternyata memang mereka sedia menu gado-gado. Alhamdulillah, pesen satu bungkus, lengkap dengan telor, dan lontongnya dipisah – karena sudah satu paket, untuk dibawa pulang. Kurang lebih sudah Maghrib pada saat saya selesai memesan dan mulai nunggu.

Kira-kira sepuluh menit, gado-gado pesenan selesai dibungkus, dan saya pun langsung beranjak pulang. Ga lupa, sebelumnya kasih kabar ke istri kalo pesenannya udah dapet.

Sekitar 20 menitan di jalan, dan sampe juga ke rumah. Lagi-lagi, ini ga ngebut (banget), 40-60 km/jam di antara lalu lintas yang cukup lancar. Sampe rumah, langsung disambut istri, dan kemudian cuci kaki-tangan-muka, wudlu dan shalat Maghrib.

Senangnya bisa memenuhi keinginan istri, walau harus berusaha mencari ke sana-sini. Ada kepuasan tersendiri saat kita bisa memenuhi keinginan tersebut. Salah satu priceless moment. 🙂

Anyway, jangan tanya harganya yak! :mrgreen:

Nikah itu…

April 8, 2011 § 48 Komentar

Saya pernah baca sebuah artikel di sebuah majalah, kebetulan saya lupa apa judul artikel dan sama2 lupa nama majalahnya. Yang pasti, sudah bertahun-tahun yang lalu. Tapi mengenai isi dan pesan yang ingin disampaikannya, masih tetap teringat hingga sekarang. Terutama, saat saya sudah menikah.

Jadi, di artikel tersebut diceritakan bahwa lazimnya akan terdapat perbedaan yang begitu besar dalam 2 pikiran orang yang berpasangan, yang memutuskan untuk menikah. Salah satu berpikir yang indah2 tentang pernikahan, berpikir bahwa pernikahan adalah akhir yang indah dari hubungan pacaran. Sementara yang satunya lagi, berpikir bahwa menikah adalah awalan baru dari tahapan kehidupan, kembali ke nol dengan jutaan hal yang harus dipelajari kembali – termasuk tentang keuangan.

Tak jarang, akibat perbedaan besar itulah, pasangan yang akan menikah sering bertengkar hebat seiring semakin dekatnya waktu pernikahan. Dan, sedihnya adalah pasangan tersebut akhirnya berpisah tepat menjelang pernikahan, padahal sebelum2nya begitu harmonis dan bersemangat untuk menikah. Yah, jodoh hanya Tuhan yang tahu. Tapi setidaknya ada banyak hal yang sebenarnya bisa dicari solusinya, dan juga banyak hal yang bisa dikompromikan.

Salah satu hal yang menjadi bahasan penting jelang dan setelah pernikahan, adalah keuangan. Kenapa keuangan? Karena uang selalu menjadi hal yang sangat sensitif. Baik bagi pasangan itu, masing2 individu, bahkan hingga ke keluarga dari masing2 individu dalam pasangan itu. Iya, uang bisa menjalar hingga ke mana2. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan juga kemampuan yang kuat untuk menjalani kompromi dalam hal keuangan, begitu kita berencana untuk menikah.

Berikut ini, saya berbagi pengalaman saya dalam hal keuangan, ketika saya dan istri saya memutuskan untuk menikah. Saya bagi menjadi 2 bagian, sebelum dan setelah nikah. Selamat menyimak!

Sebelum Nikah

1.      Ketika sudah memutuskan untuk menikah, rajin-rajinlah menabung. Baik itu diri sendiri, maupun pasangan. Ada baiknya jika kedua individu dalam pasangan itu sama-sama menabung. Besarannya tak perlu sama, cukup disesuaikan dengan penghasilan masing-masing. Tapi aturan resminya tentu adalah menabung untuk menikah dibedakan dengan menabung untuk diri sendiri. Menabung untuk menikah, berarti menabung untuk persiapan menikah (sebelum hari H), saat menikah (hari H), dan setelah menikah (setelah hari H).

2.      Besar tabungan yang harus dipenuhi untuk menikah, berdasar pengalaman saya adalah sebagai berikut.

a.       Sebelum menikah disesuaikan dengan pengeluaran keperluan, meliputi:

–          mas kawin,

–          pakaian pengantin (kebaya, kain, jas, kemeja, sepatu, parfum, dll),

–          barang2 seserahan,

–          biaya administrasi (mencakup pengurusan surat-surat, pendaftaran KUA, dll),

–          hingga ongkos untuk mengurus keperluan tersebut.

Tak lupa, tambahkan sekurang-kurangnya 30% dari jumlah pengeluaran keperluan tersebut. Hal ini untuk berjaga-jaga andaikata ada pos yang memerlukan kebutuhan uang di luar perkiraan.

b.      Saat menikah disesuaikan dengan pengeluaran keperluan di hari H, meliputi:

–          transportasi diri sendiri dan pasangan,

–          transportasi keluarga (2 pihak),

–          make-up dan salon,

–          fotografer,

–          makanan kecil saat sebelum akad,

–          resepsi (jika menggunakan, yang tentu akan mencakup lebih banyak hal),

–          “amplop” bagi penghulu,

–          makanan (bagi pihak yang menghadiri akad).

Untuk berjaga-jaga, tambahkan sekurang-kurangnya 30% dari total anggaran ini.

c.       Setelah menikah, keperluannya akan berbeda-beda setiap orang. Tapi berdasar pengalaman saya, keperluannya meliputi:

–          kontrakan dan listrik untuk sebulan pertama,

–          ranjang/kasur/tempat tidur,

–          kompor dan tabung gas,

–          peralatan masak (mencakup panci/wajan, sutil, pisau, piring, sendok-garpu, dll),

–          perlengkapan mandi dan mencuci (ember, gayung, deterjen, dll),

–          lemari,

–          satu stel bed cover,

–          bantal-guling (bisa dicari yang bonus dari pembelian ranjang),

–          hingga biaya hidup untuk sekurang-kurangnya 1 bulan pertama (mencakup 3 kali makan/hari dan ongkos jalan ke mana-mana selama masih cuti menikah), dll.

Nah, khusus untuk anggaran setelah menikah, tambahkan sekurang-kurangnya 50% dari total anggaran. Alasannya adalah, kebutuhan setelah menikah seringkali di luar dugaan, karena sekaligus untuk “mengisi” rumah.

3.      Honeymoon. Iya, perencanaan keuangan untuk berbulan madu dilakukan sebelum menikah. Ada banyak rencana bulan madu yang bisa dipilih, terutama setelah banyak sekali agen perjalanan dengan berbagai promo. Mau jalan-jalan sendiri, go show dengan sedikit rencana bagi para penggemar backpack juga bisa dilaksanakan. Hanya satu kunci untuk memilih bulan madu: lakukan dengan jadwal dan keuangan yang terencana, dan memiliki pos tersendiri. Jangan sampai, pos lain ikut menutupi hanya karena ingin berbulan madu. Memang, bulan madu menjadi semacam hal “wajib” setelah menikah. Tapi, juga jangan dipaksakan.

4.      Sekadar berbagi saja, anggaran saya untuk menikah pada 26 Maret 2011 lalu, sebagian besar dihabiskan untuk mas kawin, kontrakan, dan barang-barang “pengisi rumah” – kurang lebih mencakup 2/3 anggaran. Untuk pelaksanaan hari H dll, 1/3 dari anggaran. Kondisi berbeda akan terjadi pada setiap pasangan, terutama pada mereka yang memilih untuk melaksanakan resepsi.

5.      Belilah cincin kawin, mas kawin, dan seserahan dengan kualitas yang terbaik. Jangan tanggung-tanggung membeli barang-barang tersebut dengan alasan penghematan anggaran. Survei harga sebelum membeli, akan sangat membantu dalam pelaksanaan pembelian, agar tetap sesuai dengan anggaran yang sudah dibuat.

6.      Beli yang perlu untuk pernikahan. Jangan membeli barang-barang yang belum diperlukan saat menikah. Walaupun itu bagus, sedang diskon, dan bersifat “nanti bakal perlu”, tapi jika saat itu belum diperlukan, JANGAN DIBELI! Hal ini perlu dilakukan dengan sikap penuh semangat, agar tidak menjadi sekadar jargon.

7.      Mengurangi jalan-jalan, nonton bioskop, dan atau makan di luar saat pacaran. Jika semula 4-5 kali seminggu, kurangi jadi 2 kali seminggu (saat wiken:sabtu-minggu). Jika semula 2 kali seminggu, kurangi jadi 1 kali seminggu, atau jika perlu 1 kali per 2 minggu. Dan, walau jumlah jalan-jalan dan makan dikurangi, bukan berarti jumlah uangnya diakumulasikan. Justru, jumlah uangnya harus dikurangi juga, atau setidak-tidaknya tetap sama dengan sekali jalan.

Kurang lebih perencanaan keuangan seperti itu sih yang saya lakukan sebelum menikah. Nah, untuk perencanaan keuangan setelah menikah, silakan simak selanjutnya.

Setelah Menikah

Faktor paling utama setelah menikah dalam merencanakan keuangan adalah, siapa berkontribusi apa. Hal ini berlaku bagi pasangan yang keduanya bekerja, atau hanya salah satunya yang bekerja. Apapun kondisinya, pihak suami adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas  keberlangsungan biduk rumah tangga. Karena suami adalah kepala keluarga, yang tentunya memimpin keluarga tersebut. Berikut perencanaan keuangan yang saat ini saya jalani,

1.      Hitung kebutuhan konsumsi makan dikali 3 dalam sehari, dan dikali 30 untuk masing-masing orang. Jika sekali makan dihitung 10.000 rupiah (dalam hitungan beli seporsi di warung), dikali 3, lalu dikali 30, dan dikali 2, kurang lebih pengeluaran untuk konsumsi makan dalam sebulan adalah 1,8 juta rupiah. Nah, untuk menyikapinya, kurangi dengan memasak makanan di rumah, membeli beras dan menanak sendiri, dan lain-lain. Anggaran bisa hemat hingga 50% atau lebih.

2.      Kurangi makan di luar, kecuali saat benar-benar sedang bosan makan di rumah. Sesekali makan di resto/café itu perlu, cukup 1 kali seminggu, atau per 2 minggu. Tak lain untuk menambah kehangatan hubungan. 🙂

3.      Pos anggaran bayar kontrakan itu menjadi pos yang paling wajib dihitung dari rencana keuangan setiap bulan. Ga lucu kan, kalo sampe lupa bayar kontrakan. Masa’ pengantin baru tidur di jalanan? 😛

4.      Selain bayar kontrakan, pos anggaran yang paling penting juga bayar listrik, jasa sampah, sampe air. Hal ini penting supaya kehidupan di rumah tetep jalan nyaman.

5.      Beli gas elpiji dan air kemasan galon jadi pos pengeluaran yang termasuk diutamakan dalam anggaran supaya tetap bisa mendukung konsumsi murah di rumah.

6.      Cemilan, kopi, gula, teh, ini bisa dihitung sebagai pos anggaran tersendiri. Fungsinya selain untuk konsumsi pribadi, juga bisa untuk keperluan tamu kalo-kalo ada yang dateng ke rumah. Kalo udah punya kulkas, tambahin minuman soda, atau sirup.

7.      Kurangi pengeluaran dengan kartu kredit. Sebisa mungkin buatlah pengeluaran dengan kartu kredit mencapai nol rupiah setiap bulannya, atau maksimal 10% dari limit supaya mudah dibayar setiap bulannya. Kalo bisa, justru lunasi kartu kredit yang masih jalan tagihannya tanpa menambah tagihan baru supaya tidak mengganggu pos anggaran lain.

8.      Ikut asuransi atau unit link bisa jadi pilihan ketika sudah menikah. Kalo sudah ikutan sejak masih single, lebih bagus lagi. Hal ini penting supaya kita dan atau pasangan kita terjamin. Asuransi yang diikutin bisa kesehatan, jiwa, kecelakaan, dll.

9.      Uang “amplop” yang didapat dari pihak-pihak yang hadir saat hari H kita nikah, dibagi-bagi sesuai keperluan. Buat saya dan istri, kemarin kebetulan dibagi menjadi 3, yakni untuk saya & istri, untuk orangtua saya, dan untuk orangtua istri. Besarannya bebas, sesuai kebijakan masing-masing. Yang harus dipastikan adalah besaran untuk kedua orangtua harus sama, jangan dibedakan. Jika ada resepsi dan salah satu pihak keluar uang lebih banyak, maka harus bijak membaginya sesuai proporsi, namun jangan sampai terfokus sepenuhnya pada salah satu pihak keluarga.

10.  Uang “amplop” yang menjadi bagian kita dan pasangan, harus dimanfaatkan dengan baik untuk keperluan rumah dan atau masa depan. Utamakan untuk membeli barang-barang keperluan rumah tangga yang belum dimiliki, contoh kompor gas, kulkas, dan mesin cuci. Jika barang-barang keperluan rumah tangga sudah dimiliki, maka membuat deposito yang mudah dicairkan, atau membeli perhiasan emas sangat disarankan! Kalau jumlahnya cukup besar, ada baiknya jika diinvestasikan dengan cara DP rumah atau tanah, atau properti lainnya.

11.  Ga perlu belanja bulanan di supermarket atau pasar. Apalagi kalo belum punya kulkas, karena barang belanjaan seperti sayur atau daging bisa keburu busuk. Kecuali, untuk barang-barang yang bisa tahan lama seperti bumbu masak, garam, kecap, dll. Solusinya, belanja bisa 2 mingguan, mingguan, atau setiap 3 hari. Belanja harian bisa dilakukan, terutama untuk daging atau sayur yang akan dimasak hanya di hari itu.

12.  Buat rencana menu masakan selama seminggu. Nyatanya, ga perlu on track banget sih, tapi ya.. jadinya kan rencana belanja juga bakal lebih tertata. Dan, keuangan juga bakal lebih tertata. J

13.  Bikin catatan belanja untuk masak. Ini harus dipatuhi persis. Kalo sampe ada tambahan, ga boleh lebih dari 10% total anggaran dalam sekali belanja.

14.  Setiap kali cuci piring dan perlengkapan masak, teliti dan hati-hati. Kalo ada perlengkapan yang rusak atau retak, segera anggarkan untuk membeli pada bulan berikutnya atau belanja berikutnya, dan dicatat pada rencana belanja. Memang kesannya jadi boros dan terburu-buru, tapi kalo sudah berhubungan dengan makanan, ada baiknya segera dilaksanakan. Karena berkaitan dengan sistem tubuh kita, dan akan sangat berbahaya jika sampai tubuh kita teracuni atau terganggu kesehatannya karena makanan.

15.  Dari penghasilan, buatlah pos anggaran untuk bekerja. Hal ini harus mencakup anggaran transportasi (bensin jika menggunakan kendaraan), dan makan siang (jika tidak membawa bekal).

16.  Jika hanya salah satu pihak dari pasangan yang bekerja, maka penghasilan pihak tersebut harus mampu menutupi keseluruhan pengeluaran bulanan. Salah satu pos yang harus dihitung adalah transportasi pihak yang tidak bekerja.

17.  Pulsa telepon dapat menjadi pos anggaran tersendiri. Harusnya sih, pulsa telepon jadi lebih hemat karena sekarang kan bisa ketemu setiap hari dengan pasangan. Beda sama waktu pacaran dulu, yang habis karena telepon2an dan atau sms-an.

18.  Untuk pihak dari pasangan yang mampu membantu orangtuanya – terutama sejak sebelum menikah, buatlah pos tersendiri dalam anggaran. Besarannya ga musti sama dengan saat sebelum nikah. Yang terpenting dan harus dilaksanakan adalah, pos tersebut diketahui oleh pasangannya. Ga boleh maen sembunyi2 ngasih!

19.  Kalo yang beragama Islam, ada baiknya sisihkan sebagian untuk membayar zakat dari penghasilan bulanan. Kalo ga bisa dibuat pos tersendiri, bisa dibuat dengan cara disatukan dengan pos anggaran untuk bekerja. Jadi, diambil dari bagian pihak yang bekerja. Kalo masih ada lebih dari pos anggaran untuk bekerja, boleh juga untuk infak setiap kali mendatangi Masjid.

20.  Rencanakan kapan mau hamil, dan punya anak. Kebutuhan untuk ibu hamil, menyusui, dan juga anak-anak itu lebih besar ketimbang saat masih berdua aja. Kalo masih berencana untuk belum hamil, sisihkan sebagian uang bulanan untuk beli properti, atau investasi ke dalam bentuk perhiasan emas.

21.  Jangan beli barang atau jasa yang tidak urgent dan tidak sering digunakan. Kalo masih sesekali saja digunakannya, jangan tergoda untuk membeli atau menggunakan. Contohnya: saluran TV kabel. Kalo “cuma” ditonton pas malem sepulang kerja, dan atau wiken, ngapain berlangganan? Mending uangnya dipake buat nambah2 beli perhiasan.

22.  Selain bayar tagihan kartu kredit, usahakan jangan menambah terlalu banyak cicilan yang harus dibayar. Contohnya: kredit motor, kredit mobil, kredit kulkas, dll. Pilih salah satu, lunasi dan selesaikan, baru kemudian mengambil kredit lainnya. Setidaknya, ini dilakukan oleh saya dan istri, dengan tujuan agar bisa fokus melunasi cicilan tersebut.

23. Terakhir, soal tabungan. Idealnya sih, tabungan itu kan 1/3 dari penghasilan kita setiap bulannya. Tapi, karena sudah menikah, acapkali sulit buat nabung. Nah, solusinya ya.. ikut asuransi, bikin deposito setiap kali dapet lebihan, dan atau beli perhiasan emas. Kalo ga mau seperti itu, ya.. bisa dilakukan dengan cara sekurang-kurangnya 5% dari penghasilan bulanan disisihkan untuk ditabung. Kalo bisa lebih dari 5%, itu akan sangat baik. 🙂

Kurang lebih, itu sih yang saya lakukan bersama istri saat ini. Kalo nanti ada tambahan, saya apdet lagi deh..

Jadi, intinya menikah itu segalanya tentang perencanaan dan juga kompromi. Kalo saling mengerti, apalagi tentang keuangan, menikah itu akan terasa sangat nikmat dan membahagiakan. 🙂

Oiya, nikah itu nikmatnya “cuma” 5%. Sisanya yang sebanyak 95% itu… NIKMAT BANGET! :mrgreen:

NB: foto ilustrasi yang bagus itu, asalnya dari sini lho..

25 setelah 25

April 1, 2011 § 26 Komentar

let say, saya udah ganti status. ini bukan status twitter, plurk, atau facebook ya.. tapi lebih ke status hubungan saya di dunia nyata. buat yang udah tau, baguslah. buat yang belom, ya gapapa — karena emang saya juga ga gembar-gembor. kalo emang penasaran status apa, yah.. saya sudah menikah.

yes, saya sudah menikah, dengan Yulian Anita yang kini menjadi istri saya. saat ini, saya tidak lagi berstatus single-but-not-available, melainkan double married (already) 🙂 . dan, soal kapan saya mulai ganti status itu, bisa dibilang 25 hari setelah saya berumur 25 tahun. yep, tepatnya sejak 26 Maret 2011 lalu. dan hari ini, pernikahan saya sudah berjalan beberapa hari.

beberapa mungkin udah bisa nebak, apalagi sejak saya posting di blog ini tentang pertunangan (lamaran) saya di bulan Agustus 2010 lalu. tapi sepertinya cuma sedikit orang aja yang bisa nebak kapan saya menikah, apalagi buat mereka yang ga begitu tau kapan saya ultah, atau ga ngefollow akun twitter atau berteman dengan saya di facebook.

kalo misal pengen tau kenapa saya ga gembar-gembor atau ngasitau secara eksplisit sebelum saya nikah, yah.. let say, saya ingin bisa fokus pada proses pernikahan itu. saya ingin agar hari pernikahan saya khidmat, khusyuk, dan tak begitu menguras energi. karena jujur saja, persiapan menjelang pernikahan saya itu, begitu banyak yang harus diurus dan juga dilengkapi. mulai dari surat-surat administrasi, menghubungi keluarga, hingga persiapan pengantin itu.

dan hari pernikahan saya pun berlangsung dengan sederhana. dengan dihadiri oleh keluarga dari pihak saya dan juga istri saya, serta beberapa teman dekat, saya dan istri saya melaksanakan ijab kabul di depan penghulu. setelah selesai, saya pun tak mengadakan acara lanjutan. prosesi pernikahan yang sederhana itu sudah cukup bagi saya dan istri, serta keluarga. Alhamdulillah..

saya memohon maaf jika ada beberapa kenalan ataupun teman yang tidak sempat saya beritahukan atau undang untuk hadir. sudi kiranya sebuah doa dari teman-teman, kenalan semua kepada saya dan istri agar menjadi keluarga yang selalu dilimpahi berkah, rahmat, dan perlindungan dari ALLAH SWT, serta menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Amiiin..

terima kasih ya..

NB: ini bukan april mop! *foto2 belom sempet diaplod*

undangan

Mei 20, 2009 § 36 Komentar

mungkin masih pada inget, dulu saya sempet bikin postingan soal betapa saya makin sering dapet undangan dari temen2 saya yang nikah, dan juga yang paling baru adalah nikahnya teh noy – mentor saya waktu di balikpapan dulu. tapi, kalo misal ga inget juga gapapa. toh, itu kan postingan udah lewat juga. yang penting sih, postingan yang paling baru ini. 😀

saya nyinggung2 dikit soal temen2 dan juga meritnya, karena ga laen ga bukan belakangan ini juga makin sering lagi saya dapet undangan merit, maupun juga yang bukan undangan merit. tapi semua itu justru bikin saya pusing.
loh? koq bisa?

ya jelas aja bisa.. wong saya seleb.. jadinya, kalo ada yang pernah dikait2in sama saya, dan kemudian merit, pasti kalo ga jadi berita, ya jadi bahan celaan yang diarahin ke saya. secara, tinggal saya dan satu orang lagi di kantor saya yang masih single, dan rencana meritnya masih agak lama – kalo ga dibilang belum ada sih.. 😀

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with menikah at i don't drink coffee but cappuccino.