Mampu yang Bagaimana?

Desember 7, 2012 § 16 Komentar

“Kenapa nikah muda?”

Entah sudah berapa kali saya ditanyakan pertanyaan begitu dari orang-orang sebaya ataupun dari yang tidak kenal saya cukup dekat. Sepertinya, setiap kali pula jawaban saya selalu sama.

“Karena saya mau dan mampu. Selain dari himbauan agama, rencana hidup, dan doa restu.”

Sederhana dan mungkin polos, tapi memang gitu adanya, kok. Yang bisa jadi membedakan antara saya dan orang lain adalah proses menujunya. Selebihnya, alasan kenapa nikah muda saya dan orang lain yang juga melakukannya, sepertinya sama.

Kalo soal mau, kaya’nya hampir setiap orang mau nikah. Kapan dan bagaimana aja yang membedakan. Siapa sih yang ga pengen menjalin hubungan serius sama orang yang dicinta? Bisa menghabiskan waktu setiap saat, dan dijamin secara hukum dan agama? Trus, kalo soal mampu? Buat saya kaya’nya ada yang perlu diperjelas.

Mampu nikah itu, bukan cuman mampu melaksanakan acara hari H pernikahan. Mampu nikah itu, juga mencakup mampu menjalani pernikahan. Jadi, ga melulu tentang uang tapi juga soal kesiapan. Iya, kesiapan fisik dan juga rohani. Ada kok, orang yang secara fisik mampu, tapi rohaninya belum mampu. Begitupun sebaliknya.

Bukan, ini bukan soal perasaan yang bernama cinta. Mampu menjalani pernikahan itu lebih ke soal kondisi kedewasaan seseorang. Kenapa? Karena menikah itu kan menyatukan 2 individu yang berbeda. Karena berbeda itulah, memerlukan kondisi-kondisi kedewasaan tertentu. Dan, itulah yang disebut mampu menjalani pernikahan.

Kenapa bukan soal cinta? Karena cinta itu membutakan, dan jika sudah demikian kadang semuanya ga bakal keliatan jelas. Trus, kalo ga dewasa, ga boleh nikah? Lho, bukan gitu.. kondisi kedewasaan setiap orang kan beda-beda, begitupun caranya melihat dan menyikapi hal-hal yang terjadi selama menjalani pernikahan.

Tenang..tenang.. saya ga bermaksud menggurui. Saya cuman berbagi aja. Jarang-jarang kan saya ngeblog yang (agak) serius gini? 😛 #mencaripembenaran

Anyway, lanjut lagi, mampu menikah itu juga berarti siap dengan segala konsekuensi yang terjadi setiap kali membuat sebuah keputusan. Engga, saya ga nakut-nakutin.. ini lebih ke soal pertanggungjawaban sebagai orang yang sudah menikah. Karena suami dan istri akan saling bertanggungjawab kepada masing-masing pasangannya, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.

Eng.. kaya’nya blogpost serius ini saya stop sampe di sini aja deh ya. Sebelom nanti malah jadi pada takut buat nikah.. 😆 Intinya, kalo emang udah mau dan mampu buat nikah, ya nikah aja. ^^

Dan, 3 bulan telah berlalu…

Agustus 14, 2012 § 6 Komentar

Masih teringat di benak saya, ketika pulang kerja dan mendapatkan istri saya tengah berusaha untuk menidurkan anak kami yang baru berusia beberapa hari. Walau terasa lelah dan letih, namun semuanya hilang melihat keduanya dalam keadaan sehat dan (mudah-mudahan) tak kekurangan suatupun.

Ketika kemudian istri saya mulai lelah setelah menjagai dan mengasuh anak kami seharian, setelah pulang kerja pun “giliran”saya untuk tetap siaga dan menjagai dan mengasuh anak kami. Tak lupa pula mengingatkan istri agar tak telat makan, tidur dan istirahat yang cukup, dan lain-lain.

Terbangun tiba-tiba tengah malam menjadi hal yang lazim. Tak lain terbangun karena tangisan anak bayi yang ternyata popoknya basah dan harus diganti, tangisan anak bayi yang (mungkin) terbangun karena mimpi, hingga tangisan anak bayi yang ingin disusui. Semuanya menjadi biasa, dan kemudian terbiasa.

Tapi, itu 3 bulan yang lalu….

Kini, 3 bulan kemudian, begitu banyak pembelajaran dan juga hal-hal “baru” yang didapatkan dari anak bayi, maupun dalam hubungan pernikahan (baik sebagai suami istri maupun sebagai orangtua). 3 bulan yang dilewati terasa begitu cepat. Dan saya sekarang tahu apa artinya ungkapan.. “Jangan lekas-lekas besar ya, Nak..” :’)

Anak bayi saya dan istri kini usianya sudah menjelang 4 bulan. Selain ukuran badannya yang bertambah, ia pun makin cerdas dan kian gemar berceloteh! Guling-guling ketika tidur, “protes” ketika saya ayun gendong, hingga kemudian “bercakap-cakap” dengan kosakatanya yang masih sangat sederhana, adalah beberapa hal yang saya dapatkan belakangan ini.

Sungguh.. demikian lucu ia.. demikian menakjubkan ia.. demikian mengagumkan…

Seiring waktu, semoga ke depannya saya bisa terus memberikan yang terbaik yang bisa saya lakukan dan berikan untuk anak saya yang masih bayi, serta untuk istri saya. Seiring itu juga saya akan terus berusaha agar tidak kehilangan suatu momen sedikitpun.

“Rekap” Sebulan Kemarin

Juni 6, 2012 § 8 Komentar

Ada yang pernah bilang ke saya, masa-masa awal bayi lahir itu masa-masa paling melelahkan. Buat saya, ucapan tersebut ada benarnya, meski akan lebih benar kalau disebut masa-masa awal dari pengalaman menakjubkan! 🙂

Karena belakangan ini sepertinya saya sulit menemukan waktu untuk ngeblog, jadilah satu blogpost ini saya buat sebagai “rekap” kejadian sebulan kemarin. Yang akan menjadi inti ceritanya tentu saja adalah mengenai kehadiran putri saya.

Oiya, sebelum lebih jauh, sudah tau kan anak saya bersama istri adalah bayi perempuan? Nama panjangnya tak perlu tau ya.. cukup perlu tau nama panggilannya aja ya.. yaitu, Cissy. 🙂

Jadi, sebulan kemarin saya dan istri menyesuaikan dengan kehadiran Cissy di tengah-tengah kami. Yang semula tidur berdua aja, sekarang tidurnya bertiga. Yang semula bangun dan tidur bisa di jam berapa saja, sekarang justru bisa terbangun dan tertidur di jam berapa saja. 😆 dan masih banyak lagi.. Tapi, itu semua seru kok! 🙂

Bagi-bagi tugas pekerjaan rumah tangga, bagi-bagi waktu dan giliran untuk ngasuh/jagain Cissy, sampai kemudian mulai ngajak Cissy untuk keluar rumah, imunisasi, gantiin baju, dll. Semuanya jadi pengalaman seru di sebulan kemarin. Apalagi, Cissy juga makin bertambah usianya, makin menggemaskan. Yang semula jarang tersenyum, hingga sering tersenyum kala tidur, dan kemudian tersenyum saat sedang bangun. :’)

Oiya, saya pribadi punya satu proyek pribadi yang saya lakukan sejak hari pertama Cissy hadir di tengah-tengah keluarga kecil saya. Yakni, proyek untuk 1 hari (minimal) 1 foto Cissy. Entah itu sedang tidur, sedang bangun, sedang di kasur, sedang digendong, pokoknya saya mengabadikan (minimal) 1 foto setiap harinya. Alasannya? Ya.. yang pasti supaya saya bisa tau perkembangan Cissy setiap harinya, serta ga ketinggalan satu momen pun. Mudah-mudahaaaaannn… 🙂

Anyway, kalo ada yang pengen tau dan liat foto-fotonya Cissy, maaf aja sementara ini ga selalu saya share. Kalopun saya share, ga saya share semuanya. Tapi ya.. beberapa kali foto Cissy muncul kok di timeline twitter saya. 🙂

Simpulannya.. jadi seorang Ayah itu SERU BANGETS!

Ketika Bayi di Kandungan Diajak “Mengobrol”

Desember 28, 2011 § 18 Komentar

Bulan Desember ini, bayi dalam kandungan istri saya sudah masuk lima bulan. Dan, minggu ini kurang lebih usia bayi dalam kandungan tersebut adalah 23-24 minggu. Tepatnya, saya kurang tahu. Tapi kalau menghitung dari terakhir kali menstruasi, ya kurang lebih sebegitu itulah angkanya.

Anyway, yang mau saya tulis di blogpost ini bukan soal usia kandungan tersebut – meski mungkin ada kaitannya. Melainkan, tentang “kebiasaan” baru saya dengan bayi dalam kandungan tersebut. J

Yah, bisa dibilang sejak masuk usia kandungan 18 minggu pada bulan November lalu, istri saya mulai merasakan denyutan-denyutan di perutnya, di sekitar kandungannya. Dan, ketika kontrol kandungan ke dokter, baru diketahui bahwa denyutan-denyutan itu adalah tanda bahwa sang bayi mulai aktif, dengan cara “menendang” perut ibunya (yang tentunya istri saya) dari dalam kandungan.

Tendangan-tendangan bayi dari dalam perut, sudah berkali-kali saya baca dan ketahui dari berbagai tulisan, bacaan, hingga cerita dari teman, keluarga besar, serta orangtua saya sendiri. Tapi, mengalaminya sendiri sebagai seorang Ayah, baru sekarang. Dan, rasanya benar-benar luar biasa, menakjubkan, ajaib, dan terkadang membuat dada saya sesak karena terharu.

Oke, silakan sebut saya lebay, tapi kalo ada yang menjadi Ayah, pasti tahu rasanya. Kalo belum, jangan mudah tertawa, rasakan saja sensasinya sendiri saat nanti. J

Lanjut cerita ke tendangan dari sang bayi, entah kenapa rasa excited itu selalu muncul kalo sang bayi nendang di saat saya lagi megang perutnya. Iya, senang rasanya “ditendang” sama sang bayi saat kebetulan kita memegang perut ibunya, dan atau tahu saat sang bayi nendang. Dan yang lebih seru lagi adalah, ketika sang bayi nendang setelah kita bicara. Entah itu karena dia mengerti dari ucapan kita, atau dia merespon secara acak.

Jadi, kini sebisa mungkin setiap malam sepulang kerja setiba di rumah, setelah cuci tangan-kaki-muka dan mungkin ganti baju, pokoknya sebersih dan senyaman mungkin, saya mengajak sang bayi yang masih di perut istri saya untuk mengobrol. Mulai dari bertanya apa saja yang sudah ia “alami” bersama istri saya di hari itu, apakah ia lapar atau tidak, sudah belajar apa saja, dan masih banyak lagi. Pokoknya, apapun yang bisa saya tanyakan. Dan responnya juga seru, mulai dari tentangan-tendangan kencang-kecil, teratur-tak teratur, hingga bergerak-gerak di dalam perut istri saya. Menakjubkan.

Oiya, selain “mengobrol” sepulang kerja di malam hari, pagi harinya pun kadang saya “menyapa”-nya untuk bangun pagi, mengajaknya solat (sekaligus juga mengajak istri saya tentunya), hingga mengajaknya bangun pagi. Saat wiken pun demikian adanya, bahkan bisa jadi lebih sering karena saya lebih sering bersama istri saya ketimbang hari kerja.

Senang ya rasanya menjadi seorang suami-dan sekaligus calon Ayah. Mudah-mudahan, istri dan bayi di dalam kandungannya sehat dan normal, persalinannya nanti lancar,serta selamat. Amiin..

I may not the best man ever, but I’m doing the best as a man for my wife and the baby, at the moment.

Percaya ga percaya, mata saya berkaca-kaca lho pas nulis blogpost ini.

giliran

Juni 30, 2009 § 28 Komentar

kemaren sore, saya dapet notifikasi di email saya, undangan acara di facebook dari temen sekampus saya dulu. dan, sekilas dari subject-nya aja udah kebaca, pasti bukan sembarang undangan acara. tapi lebih ke acara yang resmi dan serius.

apalagi kalo bukan undangan nikah?

nah, kemudian notifikasi itu saya kirim ke milis alumni. kebetulan, saya, dia, dan beberapa teman-teman lain ngebuat milis. saya tanya ke milis, apa bener itu dia. dan, dibaleslah sama dia, kalo emang bener itu dia. syukurlah.. alhamdulillah.. saya ikut seneng dapet undangan ituh.. tapi, ada kejadian berikutnya yang bikin saya lumayan terganggu.. 😛

« Read the rest of this entry »

undangan

Mei 20, 2009 § 36 Komentar

mungkin masih pada inget, dulu saya sempet bikin postingan soal betapa saya makin sering dapet undangan dari temen2 saya yang nikah, dan juga yang paling baru adalah nikahnya teh noy – mentor saya waktu di balikpapan dulu. tapi, kalo misal ga inget juga gapapa. toh, itu kan postingan udah lewat juga. yang penting sih, postingan yang paling baru ini. 😀

saya nyinggung2 dikit soal temen2 dan juga meritnya, karena ga laen ga bukan belakangan ini juga makin sering lagi saya dapet undangan merit, maupun juga yang bukan undangan merit. tapi semua itu justru bikin saya pusing.
loh? koq bisa?

ya jelas aja bisa.. wong saya seleb.. jadinya, kalo ada yang pernah dikait2in sama saya, dan kemudian merit, pasti kalo ga jadi berita, ya jadi bahan celaan yang diarahin ke saya. secara, tinggal saya dan satu orang lagi di kantor saya yang masih single, dan rencana meritnya masih agak lama – kalo ga dibilang belum ada sih.. 😀

« Read the rest of this entry »

teh noy

Maret 4, 2009 § 22 Komentar

Teh Noy & Yogi, the happy couple - courtesy of tentangkita-yogininoy.blogspot.com

Teh Noy & Yogi, the happy couple - courtesy of tentangkita-yogininoy.blogspot.com

kemaren malem, pas gue baru sampe rumah, gue ngeliat ada sebuah kiriman berwarna biru di atas meja yang biasa gue pake buat nyimpen barang2 gue. dan, dari bentuknya sih, gue udah curiga kalo itu undangan. tapi, dari sapa-nya, kapan-nya, dll, gue belum begitu tau. jadi, gue ga begitu yakin.

saking penasarannya, gue jadi bukannya buru2 ganti baju-cuci kaki-cuci tangan-cuci muka-dll, tapi malah langsung ngambil tu kiriman. dan, bener aja, begitu gue buka isinya beneran undangan. dan tu undangan dari teh noy, alias ninoy, alias ratna dewanda – mentor gue pas di balikpapan dulu waktu gue masih ‘tercemar’ minyak 😛

di undangannya, teh noy bilang kalo dia bakal merit, tanggal 9 maret ntar, di bogor sana, the city of rain. kota asalnya, pastinya. kota tempat keluarga besarnya. dan, dengan undangan itu, secara ga langsung gue didaulat buat dateng. 😀 secara, temen2 balikpapan belum tentu bisa dateng, karena banyaaaaakkk haaaallll…!!!

sambil ngebaca undangannya, gue pun mutusin buat nelepon teh noy. yah, mau ngasitau kalo undangannya udah sampe dan juga sekalian iseng aja denger suaranya – secara, udah lama banget ga ketemuan.
« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with nikah at i don't drink coffee but cappuccino.